Follow Us @farahzu

Monday, May 30, 2022

Pachinko (Book Review)

11:56 AM 0 Comments

Judul Buku: Pachinko

Penulis: Min Jin Lee

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman: 576 halaman

Tahun terbit: 2019

Pachinko
dok: pribadi
 
Pachinko Review
kiri: cover lama ; kanan: cover baru


Hello Readers, Assalamualaikum!

Saya baru saja menamatkan sebuah buku fiksi sejarah yang sangat menarik dan berkesan buat saya. Saya membaca e-book Pachinko ini dari aplikasi Gramedia Digital; jadi resmi ya, no nyolong-nyolong. Novel ini menceritakan tentang kehidupan sebuah keluarga Korea selama 80 tahun dan 4 generasi. Dimulai pada masa kolonisasi Jepang atas Korea hingga tahun 1989. Ringkasnya, kehidupan sebuah keluarga Korea di Jepang pada masanya.

Tokoh utama dalam novel ini bernama Kim Sunja, perempuan Korea, pada saat di muka bumi ini hanya ada 1 Korea. Lalu ia pindah ke Jepang dan meneruskan hidupnya melalui semua masa sulit dan (akhirnya mulai) lapang di negara itu.

Baca Juga: Kim Ji Yeong; Lahir Tahun 1982

Novel ini banyak mengangkat tentang diskriminasi dan prasangka buruk yang dialami oleh warga Korea di Jepang. Beberapa bertahan dan nampak baik-baik saja, tetap menerima kehidupan yang keras sebagai makanan sehari-hari yang mau tidak mau harus mereka telan. Noa, anak pertama Sunja menekankan pada dirinya dan adiknya, “Orang Korea tidak boleh berbuat kesalahan”, karena orang Korea yang baik saja sudah dianggap buruk, apalagi yang tidak baik. Tapi menurut tokoh yang lain, “Tidak penting menjadi Orang Korea yang baik, karena sama saja akan dianggap buruk juga”. Syedih ya Gais…

Selain diskriminasi dan prasangka, saya juga menggarisbawahi tentang identitas dan penerimaan diri. Bagi orang-orang tertentu, memiliki identitas yang jelas dan tidak membawa aib nampaknya sangat menjadi isu, sehingga ia tidak takut menghilangkan nyawanya hanya karena tidak mendapatkannya. Namun bagi sebagian yang lain, yang pasrah menerima dirinya, latar belakangnya yang tidak bisa ia ubah sebagai takdir yang harus diterima, bisa hidup dengan lebih baik. Orang golongan kedua ini fokus membangun masa depannya dan tutup kuping pada omongan orang-orang yang tidak perlu. Dia hanya perlu membuktikan dirinya berhasil, bisa mengangkat kehidupan keluarganya, dan membangun masa depan yang cerah untuk anak keturunannya.  

Menurut saya novel ini sangat kaya. Mulai dari alur dan tokohnya yang saya ga bisa nebak bakal gimana, juga kaya secara emosional; saya bisa merasa degdegan, happy, sedih, haru, kecewa, penasaran, marah, sakit hati, ga bisa terima, dan pasrah—selama membaca buku ini. Warbyasa kan? Selain itu, buku ini juga sangat kaya informasi, baik fakta sejarah yang objektif maupun subjektif berdasarkan persepsi para tokohnya. Ternyata dalam pembuatan novel ini, penulis memang melibatkan riset panjang yang tidak main-main lho. Sebagai penggemar bacaan sejarah, buat saya buku ini jempol banget!

Bahasa novel ini kaku menurut saya, mungkin karena ini terjemahan, meskipun banyak juga karya terjemahan yang tidak kaku sih. Tapi karena ceritanya menarik, saya suka sekali membacanya, apalagi ketika baru menyadari di tengah cerita, kalau buku ini tebalnya lebih dari 500 halaman. Hepi banget, berarti selesainya masih lama wkwkwkwk…

Penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga, alias penulis sebagai ‘tuhan’ yang mengetahui segalanya, bahkan isi hati semua tokohnya. Buat saya cerita setebal ini isinya daging semua. Semua tokohnya penting, sedikit sekali nama yang jadi ‘figuran’ sepanjang kisah ini. Sebelum menyelesaikan membaca, saya sudah merasa puas, dan alhamdulillah tetap puas sampai menemukan ending cerita ini. Selamat Min Jin Lee! (sok kenal)  

Wednesday, May 25, 2022

Book Review: Bekisar Merah – Ahmad Tohari

6:48 AM 0 Comments

Judul: Bekisar Merah

Genre: Fiksi

Author: Ahmad Tohari, 1993

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman: 360 halaman


Assalamualaikum! Apa kabar Readers?

Ada masanya, saya mengisi waktu dengan menikmati karya-karya sastrawan angkatan lalu. Salah satunya Ahmad Tohari dengan novel Bekisar Merahnya.

Bekisar adalah jenis ayam hasil persilangan yang berharga mahal dan sering dikonteskan.


Novel ini berlatar tahun-tahun awal kemerdekaan Indonesia, saat masih dipimpin oleh Presiden Soekarno. Isinya bercerita tentang seorang gadis desa yang berperawakan mirip Jepang, karena ayahnya memang tentara Jepang. Dia cantik dan kecantikannya sangat menonjol. Namanya Lasi.


Awalnya ia seorang istri dari pemuda kampung yang miskin dan biasa saja, hidup dengan bersahaja dan setia. Namun ia harus menelan kecewa karena kekhilafan suaminya yang tak termaafkan. Lasi pun kabur ke Jakarta, dan terjerumus pada ‘bisnis’ yang tak pernah dipahaminya dengan kepolosan pandangannya. Ia menjadi wanita simpanan pejabat dan sempat dipindahtangankan kepada pejabat lain yang menginginkannya, yang lebih berkuasa daripada pejabat sebelumnya. Lasi yang cantik berdarah Jepang ini menjadi ‘incaran’ di kalangan pejabat, terkait dengan pemimpin negara yang belum lama menikahi seorang wanita Jepang (hayooo siapa yang jadi auto-browsing??).


Singkat cerita, ia menemukan cinta sejatinya (bernama Kanjat) di desa kelahirannya, lalu menikah. Ia sempat diculik kembali ke Jakarta dan pada akhirnya sang suami berhasil membebaskannya. 


Novel ini menceritakan kenyataan hidup yang sangat susah bagi rakyat kecil, di tengah alam yang terbatas dan hasilnya hanya dihargai dengan sangat murah.  Karangsoga, desa tempat Lasi tumbuh, menikah pertama kali, dan kembali ketika menemukan cintanya, adalah sebuah desa penghasil gula kelapa (gula merah). Para penyadap nira kelapa harus naik ke pohon-pohon kelapa yang sangat tinggi, mempertaruhkan nyawa, dan membawa nira yang diolah para istri di rumah sehingga bisa dijual pada tengkulak, yang sesukanya menetapkan dan menaik-turunkan harga gula. Namun mereka, masyarakat penyadap itu tidak punya pilihan lain. Tanah mereka tidak cukup subur untuk ditanami padi atau komoditas lainnya. Mata pencaharian lainnya sangat sulit ditemukan di sana.


Berbeda dengan kehidupan Lasi ketika di Jakarta, fasilitas yang dinikmatinya bagaikan langit dan bumi dengan apa yang bisa dinikmatinya di Karangsoga. Betapa mewah dan seperti tak terbatas.


Orang-orang kaya seperti tengkulak dan jaringannya hingga kota besar seperti Jakarta, sesungguhnya berhutang pada orang-orang terpinggirkan seperti masyarakat penyadap di Karangsoga. Mereka menikmati hasil melimpah (membeli gula dengan harga rendah) dari usaha sangat tinggi resiko yang dilakukan para penyadap, kemudian dapat menjualnya dengan harga tinggi di kota besar. Demikian yang mengganggu pikiran Kanjat, putra tengkulak yang kelak menjadi suami Lasi.


Novel ini menceritakan kehidupan lain para pejabat pada masa itu (entah sekarang) yang sebelumnya tidak banyak saya tahu, terutama yang berkaitan dengan “wanita”. Dengan alur maju, kehidupan tokoh utama diceritakan dengan detail dan cukup rumit, sehingga saya cukup menikmati membacanya. Sayangnya, konflik utama yang saya tunggu-tunggu menurut saya kurang seru. Konflik selesai dan melandai sebelum klimaks sehingga saya sudah degdegan eh ga jadi seru, hihi...


Baca Juga: Men are from Mars, Women are from Venus


Menurut saya, buku ini (beserta karya-karya Ahmad Tohari lainnya) sangat layak untuk dibaca. Buku ini membuka wawasan dan dengan mudah membawa pembaca seperti melihat dan mengalami langsung kejadian demi kejadian dalam ceritanya. Penggambaran latarnya cukup detail namun tidak berlebihan, sehingga saya merasa sayang kalau tidak membacanya secara utuh. 

Terima kasih sudah membaca ya! Wassalamu'alaikum :)

Thursday, May 12, 2022

Review 4 Bahan Ring Sling (Linen, Katun Bambu, Katun, Kaos)

5:43 AM 0 Comments

 Halo Buibuk! Assalamualaikum!

Kali ini saya mau bahas salah satu jenis gendongan ergonomis (M-Shape support), yaitu ring sling. Apa itu ring sling?

Kalau menurut saya ring sling ini seperti jarik modern, karena berupa kain panjang dengan ring tanpa celah untuk menyatukan dan mengunci kainnya, sehingga lebih kencang dan aman dibanding kain jarik kalau cara pakainya masih tradisional alias diuwel-uwel di pundak. Ring sling ini menggunakan ring tanpa celah sehingga tidak akan terbuka dan membahayakan bayi ketika digendong.

Saya pribadi suka sekali menggendong dengan ring sling karena praktiiiisss sekali. Yah meskipun hanya bertumpu pada 1 bahu. Kalau saya perlu menggendong cepat, saya pakai ring sling. Tapi kalau mau menggendong lama, ya saya pakai SSC hehehe…

Banyak sekali produsen yang memproduksi ring sling ini, dengan bahan yang berbeda-beda. Review saya ini berdasarkan bahan dan contoh merek yang saya punya ya. Check it out!


    a. Ring Sling Bahan Linen (Harga: 180-190ribu)

RS berbahan linen ini paling umum dan paling banyak diproduksi. Kalau yang saya punya ini merek MyBabyPouch. Karena bahan linen, agak kasar, jadi terasa mengunci dan sangat ajeg ketika membawa berat beban bayi. Kencang, tapi menurut saya agak “nglekeb” gitu, gimana ya jelasinnya. Yah intinya bayi menempel sempurna seperti nyaris gak gerak ke badan kita. Tapi kalau anak sudah berat, ring sling bahan linen ini terasa yang paling ajeg sih untuk menggendong.


    b. Ring Sling Bahan Katun Bambu (Harga: 110ribu)

Merek yang paling umum untuk rs katun bamboo ini adalah Cuddle Me, seperti yang saya punya. Alhamdulillah dapet dikasih hihi… Bahannya lembut, gak gerah, agak tricky pakainya. Kalau belum jago, mesti latihan cara menggunakan ring sling yang benar. Pokoknya kalau gak benar cara pakainya, banyak yang ga berhasil pakai ini, merosot lah, licin, dan sebagainya. Tapi kalau sudah benar cara pakainya, ini gendongan enak banget. Bahkan sempat jadi gendongan favorit saya. Sempat? Iya, menurut saya bahan ini nyaman banget sampai waktu tertentu, yaitu ketika BB anak belum terlalu berat. Kalau sudah di atas 10kg, menurut saya mulai terasa tidak ajeg dan kurang mendekap. Meskipun klaimnya sih bisa dipakai sampai BB anak 15-20kg.



    c. Ring Sling Bahan Katun (Harga: 100ribuan)

Yang saya punya ini dari merek Petite Mimi. Ring sling pertama saya, dapat dari kado Alhamdulillah. Ring sling ini rasanya ajeg dan anak bisa mendekap sempurna ke kita. Bahannya agak tebal, aman tapi bisa jadi agak gerah dipakainya. Kekurangannya, ukuran ring Petite Mimi kekecilan untuk bahan setebal itu, jadi susah untuk “menyisir” kain dan meng-adjust ukuran kekencangan gendongannya.


    d. Ring Sling Bahan Kaos (Harga: 100ribu)

Nah ini nih, ring sling yang GaTot menurut saya. Not recommended. Saya beli yang merek Malilkids. Kesan awal sih kainnya enakeun, tapi ternyata ga bisa dipakai gendong. Entah karena kainnya ketipisan, atau licin, atau karena kombinasi bahan kain dan ringnya tidak cocok. Saya penasaran sampai mengirim gendongan ini ke teman yang Certified Baby Wearing Consultant. Menurutnya ringnya yang tidak cocok, hanya ring logam tanpa polesan apapun sehingga licin kalau dipasangkan dengan kain apapun. Awalnya enak banget pakai ini. Tapi tunggu semenit, dua menit, mulai melorot. Bukan merosot ya, tapi melorot. Jadi anak di gendongan turun pelan-pelan. Gendongan ini tidak bisa menopang dengan baik, padahal waktu itu BB anakku baru 7kg. Failed lah.

Baca Juga: (Sharing) Tips Mengatasi Heartburn pada Ibu Hamil 

Nah. Itu tadi review 4 bahan ring sling dari saya. Mana yang paling saya suka? Untuk BB bayi di bawah 10kg, saya lebih nyaman pakai katun bamboo, tapi setelah 10kg ke atas, linen juaranyaaaaa… harga gak bohong yee… wkwkwkwk…

Semoga manfaat ya Buibuk!