Follow Us @farahzu

Friday, May 29, 2020

Review Exfoliating Toner Lokal: Wardah White Secret Exfoliating Lotion

5:07 PM 0 Comments

Halo! Assalamualaikum Beauties!

Sudah hampir 1 bulan ini saya merasa bosaaan sekali dengan produk-produk skincare yang biasa saya pakai. Tepat saat mereka banyak yang hampir habis, perpaduan yang cucok dengan kebosanan kan, untuk ganti dan mencoba produk baru? 😏Apalagi produk skincare yang bulky, guedde dan lamaaa habisnya, bikin worry kalau ga berhasil menghabiskannya. Malah takut jadi mubazir kan. Salah satunya adalah exfoliating toner favorit saya dari The Ordinary Glycolyc Acid. Mau repurchase, ya ampun 240ml, malah jadi ragu sendiri hihihi…

Akhirnya saya browsing dan kaget lah bahwa ternyata produk lokal ada yang punya exfoliating toner juga, sudah lama pula! Ke mana aja Faaar? Dia adalah Wardah White Secret Exfoliating Lotion. Uullalaaa… Sejak dengerin ceritanya Pak Jo Astra (VP IT PT. Paragon) saat jadi keynote speaker di salah satu workshopnya CIAS, saya baru menyadari bahwa isi pouch make up saya 80%-nya adalah produknya Paragon (Make Over, Wardah, dan Emina). Tapi untuk skincare-nya baru 1-2 produk saja. Sejak itu pula saya jadi lebih tertarik mengeksplor produk-produknya Paragon yang sudah menguasai 30% pasar kecantikan di Indonesia saat ini. Ketjeh kaan.. Nah, udah kepanjangan nih intronya, hihi.. Sekarang kita simak review jujur produk ini ya!

wardah exfoliating lotion
Wardah White Secret Exfoliating Lotion

Penjelasan Produk

Produk ini masuk dalam kategori chemical exfoliant, yang saya simpulkan sebagai exfoliating toner. Sebagaimana yang pernah saya bahas di sini, exfoliating toner ini fungsinya untuk mengikis atau mengangkat sel kulit mati dengan cara yang lembut (menggunakan acid), bukan dengan menggosok kulit seperti scrub (physical exfoliation). Dengan mengangkat sel kulit mati, kulit akan nampak lebih cerah dan bebas kusam.

exfoliating toner

Wardah Exfoliating Lotion ini mengandung AHA (Alpha Hydroxy Acid) namun dalam kadar yang tidak diinformasikan berapa persennya. AHA ini secara teori sih cocok untuk kulit kering maupun berminyak. Apalagi normal ya, hahah… Karena pH-nya asam, maka setelah menggunakannya harus diseimbangkan lagi pHnya. Pakai apa? Baca terus dengan seksama ya, hehehe… Nanti juga saya akan bandingkan dengan beberapa exfoliant yang pernah saya coba.

Kemasan

Dikarenakan produk ini termasuk dalam rangkaian White Secret-nya Wardah, jadi kemasannya juga didominasi warna putih dan abu sebagaimana produk lain dalam rangkaian yang sama. Botolnya tinggi dan ramping, dari plastik, dengan tutup ulir yang kokoh. Lubang untuk mengeluarkan cairannya menurut saya cukup, ga bakal kebanyakan ketika menuang produknya, in sya Allah.

Klaim, Komposisi, dan Cara Pakai

Di bagian belakang kemasannya, terdapat penjelasan serta klaim produk ini. Kandungan lengkapnya juga bisa dilihat di gambar di bawah ini ya. Selain itu ada keterangan produk dan cara penggunaannya juga, serta peringatan penting dalam penggunaan produk ini karena mengandung AHA. Tentu saja, ada label halalnya di sudut kanan bawah.  

AHA

Tekstur, Aroma, dan Cara Pakai

Produk ini mirip dengan golongan toner pada umumnya, yaitu encer seperti air. Warna cairannya agak butek sedikit dibanding The Ordinary maupun Pixi Glow Tonic. Tapi kalau dituang di tangan dan difoto gak terlalu kelihatan buteknya sih. Lalu, berbeda dengan The Ordinary yang hampir tidak ada aroma yang menonjol, Wardah Exfoliating Lotion ini memiliki aroma yang enaaaaak banget. Menenangkan gitu lho, aku ga tau sih itu wangi dari bahan apanya.


encheeerr

Cara pemakaiannya sama seperti exfoliant umumnya, dituang ke kapas lalu diusap ke wajah yang sudah dibersihkan, tidak perlu dibilas, eh, tak perlu digosok maksudnya. Kemudian didiamkan beberapa saat, kalau teori saya sih minimal 5 menit dan (benar ternyata), tidak perlu dibilas. Setelah itu, jangan lupa gunakan hydrating toner untuk mengembalikan keseimbangan pH kulit ya! Kudu! Jangan lupa. Karena pH tidak seimbang itu bisa menyebabkan banyak sekali masalah kulit seperti kering, terlalu berminyak, jerawatan, beruntusan, kzl, dan sebagainya.

Baca Juga: Night Skincare Routine

Penting: jangan menggunakan hydrating toner mengandung retinol dan turunannya setelah menggunakan produk ini, karena bisa terjadi over exfoliation (pengelupasan berlebih) yang berbahaya untuk kulit.

Bagi teman-teman yang sudah terbiasa dengan AHA, produk ini sangat bisa dipakai setiap malam setelah membersihkan wajah. Namun bagi yang belum, sebaiknya pakai dulu 1-2x seminggu ya, karena kulit juga perlu adaptasi. Kalau tidak menimbulkan gejala negatif, bisa ditingkatkan pelan-pelan intensitas pemakaiannya sampai nanti bisa dipakai setiap hari. Saat itu terjadi, percayalah, kulitmu in sya Allah akan sudah lebih cerah ehehehe…💖

Kesan Saat dan Setelah Pemakaian

Saya pribadi menduga kandungan AHA dalam produk Wardah White Secret ini cukup mild, lebih kecil daripada The Ordinary Glycolic Acid (7%) dan Pixi Glow Tonic (5%). Tapi yang jelas lebih banyak dibanding CosRX AHA/BHA Clarifying Treatment Toner (yang hanya 0,5%) hehehe... Di wajah saya yang terbiasa dengan 7% AHA dari TO, Wardah Exfoliating Lotion ini masih bekerja cukup efektif untuk mengangkat sel kulit mati, meskipun tentu saja terasa lebih ringan. Dia masih membantu mencegah kulit dari kekusaman akibat penumpukan sel kulit mati. Jelas Ini kabar baik banget sih buat kamu yang baru mau coba pakai acid tapi pengen ada hasil yang cukup cepat dan signifikan.

Kalau saya pribadi merasa, 1-2 minggu sekali masih perlu eksfoliasi tambahan sih, mungkin dengan scrub atau The Ordinary lagi, hehehe. Tapi catat ya, itu untuk kulit saya yang sudah sangat terbiasa dengan acid. Tidak semua kulit. 

Kekurangan Produk

Untuk produk ini sendiri saya belum nemu kekurangannya sih. Paling kurang menonjol aja, saya sama sekali gak tau kalau produk lokal ada yang punya exfo toner, hihihi… nyalahin orang aja lu Far >.<

Harga

Harganya 60 ribuan untuk isi 150ml. Ini worth to buy banget sih apalagi kalau dibandingin dengan exfoliating toner lain yang merek luar. Karena diaaa baguuss, cukup efektif. 

Repurchase?

Iya kayaknya 😊

Okeeee alhamdulillaah. Sekian dulu ya review exfoliating toner lokal dari Wardah White Secret ini. Semoga bermanfaat. Kalau ada yang perlu ditanyakan, bisa komen di bawah atau hubungi melalui sosial media yah. Eh japri kalau punya nomor saya juga boleh. My Pleasure!

Assalamualaikum!


Wednesday, April 8, 2020

Book Review: Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982

12:11 PM 0 Comments
Judul                     : Kim ji-yeong, Lahir Tahun 1982
Penulis                  : Cho Nam-joo
Penerbit                : PT. Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman  : 192 halaman
Tahun terbit         : 2019
novel gramedia
e-book resmi dari Gramedia Digital dengan Subscribe Premium Fictions (bulanan) 
Buku ini adalah sebuah novel yang jadi Karya Fiksi Terlaris 2019 di Gramedia, bahkan mengalahkan novel-novelnya Tere Liye (sumber). Ini adalah novel terjemahan dengan judul yang saya tidak bisa membacanya hehehe, pakai huruf dan bahasa Korea soalnya.

Novel ini bercerita tentang seorang perempuan di Korea Selatan yang mengalami gangguan psikologis, di mana gejalanya baru muncul setelah ia dewasa, menikah, dan melahirkan anak. Pembaca dibawa untuk mengikuti masa perkembangannya dari kecil hingga menjadi seorang ibu, yaitu pada saat gangguan psikologis itu muncul. Kim Ji-yeong tumbuh dan besar di lingkungan yang sangat patriarki. Patriarki di sini bukan hanya soal masalah nasab yang juga lazim di dunia ini, melainkan sebuah budaya yang sangat mengutamakan laki-laki. Dari pekerjaan, pendidikan, bahkan di keluarga. Jika seorang perempuan melahirkan anak perempuan, ibu dan ibu mertuanya akan berusaha menghiburnya, ‘tidak apa-apa’, atau ‘anak berikutnya mungkin laki-laki’. Seolah melahirkan anak perempuan adalah sebuah aib atau kesalahan. Jaman jahiliyah banget ga sik...

Anak perempuan juga bekerja keras untuk menyekolahkan kakak atau adik laki-lakinya, tapi tidak untuk diri mereka sendiri. Kzl yak. Cukup mencengangkan buat saya terutama ketika mengingat kelahiran si tokoh ini adalah tahun 1982, berarti saat ini ia baru berusia 38 tahun, which is masa hidupnya tidak jauh berbeda dengan saya, masih di dekade yang sama. Artinya, cerita ini bukan terjadi di masa lalu yang jauh, melainkan masa-masa yang dekat dengan sekarang, di negara yang cukup maju, namun kenyataannya masih seperti itu. Sebagai perempuan, gue sedih guys. Sekaligus bersyukur sih, hidup di negara ini dengan memegang agama ini sebagai jalan hidup mati gue, yang juga didukung oleh lingkungan yang memegang nilai-nilai yang sama. Alhamdulillahilladzii bi ni’matihi tatimmushshaalihat. Ternyata di luaran sana di dunia ini ada banyak sekali yang tidak seberuntung kita.

Buku ini menarik untuk dibaca bahkan bagi orang-orang yang bukan penggemar Korea seperti saya. Banyak pengetahuan dan pembelajaran yang baru saya dapat ketika membaca buku ini. Salah satunya adalah bahwa kita sebagai pribadi, sebagai teman, saudara, dan orang tua, perlu mengontrol lisan kita, karena kita sering kali tidak sadar ucapan kita yang bagaimana yang bisa melukai hati orang lain. Dan berhubung orang itu memiliki masa lalu dan preferensi yang berbeda-beda, bisa jadi luka kecil itu terbawa hingga dia dewasa dan menyebabkan keburukan baginya. Na’udzubillah, semoga kita dihindarkan dari menjadi sebab keburukan bagi orang lain. Aamiin…




Monday, March 23, 2020

Book Review: Sang Pangeran dan Janissary Terakhir – Salim A. Fillah

7:11 PM 0 Comments

Judul            : Sang Pangeran dan Janissary Terakhir; Kisah, Kasih, dan Selisih dalam Perang Diponegoro
Genre          : Fiksi Sejarah
Author         : Salim A. Fillah, 2019
Penerbit      : Pro-U Media
Jumlah halaman: 632 halaman

Janissary

Beberapa waktu sebelum membeli buku ini, saya sudah menyimak potongan-potongan ceramah Ustadz Salim A. Fillah mengenai sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro. Bukan hanya dalam mengusir penjajah, namun ternyata yang utama adalah beliau memperjuangkan Islam agar dapat tegak kembali di tanah Jawa, yang telah banyak direndahkan setelah kedatangan penjajah Belanda itu. Jadi begitu lho, hubungannya *eeh.

Di Jawa itu, ternyata dahulu islami sekali lho. Iya sih, kan Kerajaan Mataram ya hehehe… Ada banyak simbol-simbol di Kraton, rumah warga, dan tentu saja masjid, yang kental sekali dengan pesan-pesan agama. Di antaranya seperti ukiran buah nanas di tiang Masjid Gedhe Keraton, yang mengingatkan kodrat manusia (An-Naas) agar tidak sombong. Buah/pohon salak juga, yang berasal dari nama surah dalam Alquran, Al-Falaq, mengingatkan akan godaan setan yang akan selalu menyertai, maka perkuatlah benteng keimanan. Juga, sebagai penanda rumah pejuang, di halamannya selalu ada pohon sawo berjajar, diambil dari pesan imam ketika akan shalat berjamaah: sawwuu shufuufakum, agar senantiasa meluruskan dan merapatkan barisan, baik dalam shalat maupun dalam perjuangan. Demikian pula, Pangeran Diponegoro memilih nama gelar beliau Sultan Abdul Hamid Diponegoro, yang merujuk pada Sultan Turki Utsmani ketika beliau lahir, Sultan Abdul Hamid I. Kalau lidah orang Jawa, beberapa bisanya menyebut Ngabdul Kamit, itu maksudnya sama 😊

Buku ini berlatar Perang Diponegoro yang dikenal juga dengan Perang Sabil (1825-1830). Yang dimaksud adalah perang melawan penjajah Belanda yang kafir, yang menginjak-injak Islam di tanah Jawa, jihad fi sabilillah, berjuang di jalan Allah. Disingkat Perang Sabil. Di buku sejarah sekolah dulu, kita taunya hanya Perang Diponegoro saja kan. Nah, di buku ini lebih lengkap dan fair sejarahnya.  

Di buku tebal ini, penulis banyak menyiratkan pesan kesetiaan; pada cita-cita yang mulia, pada pemimpin, dan pada saudara-saudara seperjuangan. Selain itu juga tentang keteguhan tekad dan idealisme, yang ditunjukkan oleh Sang Pangeran dan sahabat-sahabatnya. Ada banyak tokoh yang tadinya tergabung di barisan beliau, akhirnya keluar dan memilih berdamai dengan penjajah. Alasannya banyak. Ada yang memang tergoda dengan iming-iming penjajah hingga tak malu berkhianat, ada juga yang memilih menyerah karena melihat kesengsaraan rakyat yang ditimbulkan oleh perang yang berkepanjangan ini. Padahal sih, Belanda melobi dan merayu habis-habisan para tokoh untuk sesegera mungkin menghentikan perang, dikarenakan VOC, korporasi dengan valuasi terbesar itu, bangkrut gara-gara membiayai perang ini. Namun, masih banyak pula orang-orang yang istiqomah di samping beliau, serta rakyat yang setia membersamai beliau dengan pengorbanan sepenuh jiwa dan raganya.

Kemudian pelajaran yang juga saya dapatkan dari buku ini, di antaranya tentang kekuatan. Pangeran Diponegoro sering diceritakan memimpin perang gerilya di hutan-hutan sambil ditandu karena sakit. Saking seringnya diceritakan begitu, sampai waktu sekolah dulu saya hanya tahu beliau ketika lemah dan sakitnya saja. Beliau memimpin perang meskipun sedang sakit memang fakta, hanya saja dipaparkan juga dalam buku ini, bahwa di luar keadaan sakitnya, beliau adalah seorang yang sangat kuat. Ia bisa mendobrak tembok yang tebal, tinggi, dan besar ketika dikepung tiba-tiba, tanpa peralatan, sehingga ia dan pasukannya bisa menyelamatkan diri. Ketika ditangkap karena pengkhianatan, beliau menahan marahnya dengan meremas pegangan kursinya, yang terbuat dari kayu, sampai hancur. Makjaaaang. Eh, maa syaa Allaah!

Seorang muslim bukan hanya dituntut untuk soleh dan taat beribadah, namun juga harus memiliki kekuatan dan keterampilan yang bisa digunakan untuk membela agama Allah. Tidak harus menunggu ada perang, namun kita harus melatih diri baik meskipun keadaan sedang damai, sehingga kita siap kapanpun diperlukan. Lalu insight lainnya, maaf tidak saya tuliskan semua hehe…

Selain itu tentunya ada juga kisah cinta yang bikin hati meleleh dan penasaran ingin tahu lanjutannya. Kalau kisah cinta mah emang gak pernah ada basinya ya? Selalu haneut, hihihi…

Tokoh-tokoh dalam buku ini, ada Sang Pangeran sendiri dan para panglima serta pengawal-pengawal setianya. Janissary, fyi, adalah kesatuan elit pasukan Turki Utsmani, seperti Kopassus-nya kita. Nah, di dalam buku ini juga ada kisah tentang ahli waris seorang Wazir (perdana menteri) Turki Utsmani beserta juru tulis/sekretaris kepercayaan sang Wazir tersebut, keduanya memegang peran sentral di sepanjang buku ini. Bagaimana ceritanya mereka bisa sampai terlibat dalam perjuangan pasukan Sang Pangeran dalam perang sabil di tanah yang sangat jauh ini? Baca aja ya.. in sya Allah ada banyak ilmu dan wawasan yang bisa didapatkan dari buku ini.

Selain itu, dari sisi antagonis ada para pejabat Hindia Belanda dan VOC, serta para pejabat Keraton yang telah hilang harga dirinya karena membelot mendukung penjajah. Ada juga yang seperti duri dalam daging, terlihat membantu perjuangan namun ternyata mata-mata musuh. Seru Guys!

Ternyata manusia sekompleks itu ya. Ada yang dengan cita mulianya untuk agama menjaga idealismenya mati-matian, bahkan tak takut mati sama sekali. Ada juga yang ketamakannya na’udzubillah, sampai benar-benar rela mengorbankan iman, harga diri, dan rakyatnya, hanya demi uang dan jabatan, mendukung para penjajah.

Cerita dalam buku ini ditulis dengan alur maju-mundur, sehingga cukup perlu konsentrasi untuk melihat keterangan tahun di setiap awal babnya, terutama di awal-awal cerita. Di sini ada banyak fakta sejarah yang menyertakan tahun-tahun dan kejadian, yang menambah informasi pada pembaca, diselipkan dalam perkataan tokoh-tokoh di dalam cerita. Namun saya pribadi melewatkan beberapanya karena kepanjangan hehehe… ‘afwan Ustadz.

Kalau menurut saya, cara latar belakang cerita dibawakan itu agak kelamaan, atau sayanya yang lama ngerti baru bisa menikmati ya? Fyi, Buku ini sudah dicetak ulang bahkan sebelum resmi launching lho! Selaris dan sebagus itu memang!
Salim a Fillah
Saya merekomendasikan buku ini buat kamu yang muda, atau yang merasa muda, dan yang ingin selalu berjiwa muda. Buku ini bernas, ma sya Allah. Ada banyak pembelajaran dan ghirah (semangat) yang terbangkitkan sejak memulai hingga menyelesaikan membaca kisah ini. Karena sejatinya mempelajari sejarah bukan hanya mendapatkan informasi kejadian, tanggal, tempat, dan tokoh, melainkan mengambil hikmah, melestarikan kebaikan dan kebijaksanaan para pendahulu, serta belajar dari kelengahan atau kesalahan yang pernah ada agar tidak kita ulangi di masa sekarang dan yang akan datang.

Jazakumullah khayran Ustadz Salim.

“Katanya, cinta seorang lelaki seperti matahari. Semua orang tahu kapan ia terbit dan kapan waktunya terbenam. Bahkan banyak yang akan menyadari pula ketika takdir gerhana menggelapkannya. Tapi cinta seorang perempuan seperti kuku-kuku jari. Ia tumbuh perlahan, tapi pasti; meski dipotong berulang kali. Kuku sudah ada sejak janin tumbuh dalam rahim. Tapi kesadaran untuk merawat dan mempercantiknya hadir seiring meremajanya usia.” (Salim A. Fillah, dalam Sang Pangeran dan Janissary Terakhir)

Wednesday, March 18, 2020

Menghambat Penuaan; Orang yang Tidak Akan Tua

12:20 PM 0 Comments

Zaman sekarang ini, lazim sekali ya kalau orang berusaha menghambat penuaan dirinya, baik penuaan dini maupun penuaan yang wajar bila dia sehat. Tidak sedikit yang dilakukan, seperti rajin berolah raga untuk kesehatan jantung dan organ-organ tubuh, memakan makanan sehat dan menerapkan pola hidup sehat, atau menggunakan skincare dengan kandungan anti-aging agent bagi kaum hawa.

Tapi tetap saja ada yang keukeuh banget bilang, “Yah, tua mah tua aja. Karena tua itu pasti.”

Tua itu pasti, dewasa itu pilihan

Klise ya? Meskipun ada benarnya sih. Dewasa itu ga sepenuhnya juga pilihan, bisa juga terpaksa karena keadaan. IMHO.
Eh. Kata siapa tua itu pasti?
Ada kok orang yang gak bakal mengalami penuaan. Meskipun makanannya tidak sehat, tidak rajin berolahraga, tidak merawat kulit, merokok, dan sebagainya. Siapa?

Orang yang tak mengalami penuaan itu adalah orang yang mati muda. Mati sebelum dia tua. Maka dia tidak menua kan?

Bisa jadi dia tetap muda bila jasadnya utuh di dalam kubur karena kesolihannya. Tapi bisa jadi juga langsung hancur bila disiksa malaikat kubur. Na’udzubillah min dzaalik. Maka Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihu wa sallam mengajarkan kita agar membaca doa ini di pagi dan petang hari,

”Allaahumma innii a’uudzubika minal kufri wal faqr, wa a’uudzubika min ‘adzaabil qabri, laa ilaaha illaa anta.
Ya Allah. Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur. Tidak ada Tuhan selain Engkau.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Boleh-boleh aja sih merawat diri agar awet muda. Tapi jangan lupa ya kalau mati itu lebih dekat daripada tali sandal kita (Abu Bakr Ash-Shiddiq, sumber: link).
Mati itu nunggu ajal kan, bukan nunggu tua? 
sumber: sebuah whatsapp group

Tuesday, March 17, 2020

Night Skincare Routine

5:24 PM 2 Comments
Assalamualaikum!
Daripada mantengin berita tentang corona terus yang bikin tambah khawatir, baca artikel tentang beauty yuk biar santuy. Hehehe…

Kali ini saya mau sharing tentang night skincare routine saya, produk-produk perawatan apa saja yang rutin saya tempelin ke muka ketika malam hari atau sebelum tidur. Apakah semua produk yang ada di foto di bawah ini saya pakai semua? Wow, emang beneran rajin deh lo Far, hihihi…
cetaphil gentle skin
Sayangnya tidak tuh. Fyi, malam hari saya bervariasi, kadang memang sedang di rumah dan sedang ingin, kadang di rumah dan sedang tidak ingin, atau malah baru pulang malam dan sudah ngantuk sekali. Nah, di sini akan dijabarkan produk apa yang dipakai dan pada saat seperti apa. Baca sampai selesai ya.

Oh ya, tidak semua produk yang terpajang di sini dari fungsi yang berbeda. Ada yang fungsinya sama (cuman 2 sih), jadi saya memakainya juga bergantian.
Produknya apa saja? Sebagian sudah saya pernah bahas di blog ini, nanti saya cantumkan linknya ya biar bisa dibaca juga.

a.   Cleanser
1. Nivea MicellAIR Skin Breathe Micellar Water: Hydration
First cleanser ini puenting sekali ya Guys. Fungsinya untuk mengangkat kotoran dan debu yang menempel di wajah setelah beraktivitas seharian, baik di luar maupun di dalam rumah. Sebenarnya tidak harus micellar water jenis ini sih, tapi so far yang paling saya suka ya si Nivea ini. Buat yang mau baca reviewnya, klik di sini ya!

2. Cetaphil Gentle Skin Cleanser
Kalau yang ini biasanya saya pakai sambil mandi, atau wudhu dan sikat gigi kalau mau tidur. Sering juga cetaphil ini saya pakai sebagai first cleanser, baru disempurnakan dengan micellar water setelahnya. Selama ini sih gak ada masalah dengan urutan begini. Yang penting bersihin mukanya 2x ye kan.. Ulasan produk ini di sini ya.

b.   Toner
1. The Ordinary Glycolic Acid
Hampir setiap malam saya menggunakan exfoliating toner ini, kecuali kalau lagi bosan. Fungsinya untuk mengangkat sel kulit mati, mempercepat penyembuhan jerawat, merangsang kolagen dan mendorong pertumbuhan sel kulit yang baru, dan tentunya kulit tetap cerah. Toner ini juga sudah saya review, ada di sini.

2. Hatomugi Skin Conditioner
Ini produk yang paling biasa aja kalau di kulit saya, tapi yang paling selalu saya pakai. Maksudnya biasa, efeknya yang saya rasakan sudah tidak wow lagi terhadap kulit. Namun, pernah saya absen cukup lama gak pakai ini, baru deh kerasa bahwa kulitku membutuhkannya, hahaha! Hatomugi ini sebagai hydrating toner ya, terutama untuk menyeimbangkan kembali pH kulit setelah aplikasi exfoliant atau pembersih wajah sebelumnya. Klik di sini untuk baca reviewnya.

3. Hada Labo Ultimate Anti-Aging Lotion
Sebagaimana yang pernah saya jelaskan di sini kalau produk Jepang menggunakan kata lotion untuk produk sejenis tonernya, jadi ini sebenarnya masuk dalam klasifikasi hydrating toner, sama dengan Hatomugi. Yang terpenting, dia mengandung Retinol, yaitu derivat vitamin A yang bisa menghambat tanda penuaan, merangsang regenerasi sel kulit dan pembentukan kolagen (sumber).
Agak mirip memang dengan AHA yang ada di exfoliating toner. Jadi, saya pakai toner ini biasanya untuk meringkas step skincare di malam hari. Hanya menggunakan produk ini setelah cleanser, terus selesai. Praktisss.. Oh iya, caranya bukan dioles ke wajah ya, melainkan dituang ke telapak tangan, lalu gosok sebentar dengan tangan satunya, lalu tepuk-tepuk di wajah. Salah cara, gak berfungsi soalnya. Oh iya, di usia 30an awal ini saya mulai pakai produk anti-aging btw, hehehe.

c.   Serum
Nacific Fresh Herb Origin Serum
fresh herb serum

serum korea
Waktu baru beli, saya semangat sekali memakai serum ini. Wanginya citrus segar, agak lengket di kulit. Harus dikocok dulu karena terdiri dari 2 jenis cairan yang berbeda. Setelah pakai serum ini, biasanya besoknya kulit terlihat lebih sehat dan glowing. Tapi lama-lama saya bosan, memang bosan dengan skincare routine secara umum, terutama waktu saya benar-benar jaga makan sehingga kulit lagi sehat-sehatnya. Berhubung ini bukan step dasar dalam perawatan, jadi sering saya skip deh. Tapi akhir-akhir ini dia sedang sering saya lirik, karena takut kadaluarsa dan mubazir, hehe…

d.   Moisturizer
SNP Pomegranate Soothing Gel 92%
Ini mirip seperti aloe vera soothing gel yang sebelumnya marak di seluruh belahan bumi ini, sampai semua produsen skincare ikut bikin *wkwkwk lebay. Bedanya, produk ini bahan dasarnya dari buah delima (pomegranate), bukan aloe vera. Tapi tetap ada kandungan aloe vera dan beberapa herba lainnya.
soothing gel pomegranate
SNP ini brand dari Korea, tapi tersedia di Guardian dengan beberapa variannya yang lain. SNP Pomegranate Soothing Gel 92% ini diklaim bisa melembabkan, membuat kulit bersinar sehat dan meningkatkan vitalitas kulit. Sebagaimana yang tertera di kemasannya: Moist Radiance & Skin Vitality.
Teksturnya bening seperti gel aloe vera umumnya, namun terasa lebih creamy, dan ada wanginya yang menenangkan. Ketika dikenakan ke kulit, rasanya adem kayak biasa, terus besoknya memang kulit terasa lebih lembuuuutt…  Owiya, harganya 99ribu dan isinya 300gr.

Okei, jadi di atas tadi adalah penjabaran produk-produk yang saya pakai di malam hari ya. Seperti penjelasan di awal, saya tidak menggunakan semuanya setiap malam. Perpaduannya seperti ini. 
1. 
night skincare
Cleanser (micellar water Nivea dan Cetaphil) - Exfoliating Toner (The Ordinary) - Hydrating Toner (Hatomugi) - Serum (Fresh Herb)
Perpaduan seperti ini cukup ideal buat saya. Dipakai ketika sedang ingin, sedang punya waktu. Which is, jarang. Hehehe... 
2. 
the ordinary glycolic
Cleanser (micellar water Nivea dan Cetaphil) - Exfoliating Toner (The Ordinary) - Hydrating Toner (Hatomugi) - Pelembab (Soothing Gel)
Perpaduan seperti ini juga cukup ideal buat saya. Dipakai ketika sedang ingin, sedang punya waktu. Which is, jarang juga. Hehehe... 
Kenapa gak digabung antara serum dan moisturizer? Pada prinsipnya sih boleh saja, tapi saya merasa kulit saya sudah cukup lembab hanya dengan salah satunya. Kalau ditambah takutnya over dan malah jerawatan. Gitcuw. 
3. 
hatomugi
 Cleanser (micellar water Nivea dan Cetaphil) - Exfoliating Toner (The Ordinary) - Hydrating Toner (Hatomugi)
Perpaduan seperti inilah yang paling sering saya pakai. Paaaaling sering, paling biasa. Dilakukan ketika sedang biasa-biasa saja, punya waktu cukup, serta tenaga dan minat yang cukup, mendekati habis sih, hihihi...  
4. 
gokujyun
Cleanser (micellar water Nivea dan Cetaphil) - Exfoliating Toner (The Ordinary) - Hydrating Toner (Hada Labo)
Naaah kalau perpaduan yang ini, yang paling ringkas di sisa energi malam hari saya. Dipakai kalau pulang kerja masih punya tenaga (dan minat). 
Kalau engga ada sisa sama sekali gimana Far?
5.
Langsung blek bobok. Biasanya terbangun tengah malam, baru deh bersih-bersih, ganti baju. Hehehe... Maapin, jangan dicontoh yang ini ya 😁

Nah, demikianlah night skincare routine yang tidak routine saya ini, hehehe.. 
Pesannya adalah, merawat wajah itu biasa aja lah, gak usah kaku dengan yang dihimbau oleh para influencer, harus pakai ini dan itu. Sesuaikan dengan kebutuhan kulit dan ketersediaan sumber daya yang ada, seperti tenaga, waktu, uang, dan, minat. 
Yang penting dibersihkan dan dijaga pH-nya. Ingat gimana cara paling simpel? Baca ini lah: Basic Skincare untuk Pemula . 😍

Terima kasih sudah membaca sampai habis ya! Semoga tetap sehat dan bahagia, dalam lindungan dan berkah Allah semuanya. Aamiinn.. 


Monday, March 16, 2020

Lockdown Imbas Corona Belum Diberlakukan di Indonesia; Bagaimana Kita Bersikap

3:49 PM 0 Comments
Terkait dengan merebaknya virus Covid-19 atau yang lebih dikenal dengan virus Corona, beberapa negara telah memberlakukan aturan lockdown di negaranya. Di Indonesia sendiri, pemerintah belum menetapkan apakah kita juga akan mengikuti negara lain dalam menerapkan aturan lockdown, karena sesungguhnya sistem ini tidaklah sesederhana semua orang diam di rumah, tidak berkeliaran di jalan atau tempat umum.
bandara syamsudin noor
(ilustrasi, pribadi)
Bila semua orang bersabar diam di rumah selama minimal 14hari saja, menurut berbagai prediksi yang beredar di whatsapp dan social media, in sya Allah persebaran virus ini akan mudah dihentikan. Bersabar sedikit aja, demi kemaslahatan bersama, masa sih gak mau? Egois banget.

Hhmmhh. Di sini, saya sungguh menyayangkan ada banyak orang yang punya cukup informasi, cukup level pendidikan, bahkan juga punya akses ke berbagai lembaga terkait, yang menghujat dengan keras orang-orang yang tidak setuju dengan lockdown, atau pemerintah daerah yang tidak ikut menutup tempat-tempat umum di wilayahnya. Sungguh disayangkan.

Saya memang bukan pakar kesehatan apalagi ekonomi, namun saya bisa memahami kenapa ada orang atau pejabat yang menolak sistem lockdown diberlakukan.

Fyi, rumah saya ini dekat dengan SD Negeri. Setiap pagi, jalanan depan rumah ramai oleh lalu-lalang orang tua yang mengantar anaknya, anak-anak yang berangkat sekolah bersama-sama atau sendirian, tukang ojek, dan juga para pedagang makanan, minuman, dan mainan yang mangkal di SD itu. Tadi pagi, 16 Maret 2020, jalanan depan rumah sepi karena seluruh tingkat sekolah diliburkan (belajar di rumah).

Gaes, ada banyak sekali orang-orang yang penghasilannya didapat harian. Jika mereka berdagang hari itu mereka dapat uang untuk beli makan, kalau tidak ya tidak ada uang. Di China, pemerintahnya menanggung semua kebutuhan warga Wuhan ketika diberlakukan lockdown, warga dilarang keluar rumah dan dijaga oleh aparat (sumber). Bagaimana dengan di sini? Golongan masyarakat menengah ke bawah ini banyak jumlahnya di negeri kita. Kalau mereka tidak jualan selama 14 hari, apa ada yang menanggung kebutuhan makan mereka? Apakah orang-orang yang menghujat dengan keras dan menuduh orang egois karena tidak bisa diam di rumah itu mau memberikan makan keluarga mereka selama 14 hari itu?

Lalu siapa yang egois kalau begitu? Bisa-bisa ada banyak orang yang mati bukan karena corona, tapi karena gak makan. Gimana coba? Kalau dibilang itu takdir, kalau begitu jangan salahkan juga orang yang tetap keluar rumah karena berprinsip mati itu takdir juga.

Saya bukannya sedang mendukung atau mengkritisi pemerintah terkait ini. Saya berusaha memahami kedua belah pihak yang punya pendapat berbeda ini. Percayalah, orang selalu punya alasan untuk memilih a atau b, untuk diam di rumah agar wabah virus ini cepat selesai atau tetap keluar rumah menjemput rezeki untuk keluarganya.  

Maka, gak usah menuduh orang lain egois. Lihat dari kacamata orang lain juga. Tidak setuju boleh, tapi mbok ya biasa aja, jangan berpikir pemikiran kita ini paling benar. Gitu ya, plis.

Baca Juga: Happiness Blogger

Thursday, March 5, 2020

Seberapa Sih Kita Harus Sadar Kalau Punya Masalah?

9:50 PM 0 Comments
Namanya orang hidup, pasti ada aja masalahnya kan ya? Mau sederhana atau pelik, ya ada aja. Wajar kok. Dulu, guru saya pernah bilang, bahwa hidup itu sebenarnya hanya perpindahan dari satu masalah ke masalah lainnya. Tinggal bagaimana kita menyikapi dan menghadapinya. Karena dalam setiap masalah, ada ujian untuk kita naik kelas, atau penghapusan dosa-dosa kita. Hhmm... ngomong dan nulis sih gampang emang ye.. tapi kesadaran akan hal ini semoga bisa membantu melegakan hati ya Guys. Aamiinn. 

Kalau seseorang sadar dia punya masalah, itu bagus. Artinya dia tau apa yang perlu diusahakan untuk menyelesaikannya, lalu beranjak mencari solusi. Namun pada tahap tertentu ketika orang terlalu sadar dengan masalah, malah bisa menghambat lho. Dia jadi teringat terus akan masalah, akhirnya pikiran dan hidupnya jadi fokusnya ke masalah, bukan ke tujuannya. Padahal masalah akan selalu mengiringi setiap tujuan yang ingin dicapai kan? Efeknya banyak, bisa membuat orang mumet, sedih dan tertekan, susah bersyukur, mengabaikan orang dan hal-hal baik di sekitarnya, dan tentu saja, sulit bahagia 😖

Nah, bagaimana kalau orang merasa tidak punya masalah yang berat? Ada yang bilang, “Justru itu masalahnya (kamu tidak sadar kalau kamu punya masalah).” Haduh, jleb deh mbacanya... Hhhmmm... menurut saya sih itu tidak selalu tepat ya. 

Kalau kita tidak merasa punya masalah yang berarti, ya gakpapa. Harusnya bersyukur sih, bukan malah mencari-cari masalah untuk dipusingkan biar sama kek orang-orang. Dengan catatan, selama orang lain tidak terganggu dengan kita. Ya mungkin punya sih masalah mah, tapi tidak sampai menjadikan kita pusing atau mumet atau sedih apalagi sampai mengganggu fungsi sehari-hari. Everything is under control lah istilahnya. Kalau begitu, ya tidak ada yang lebih layak selain bersyukur. Juga harus bersabar dengan nikmat itu, agar tidak lupa diri. 
Happiness

Tapi kalau orang lain terganggu dengan kita sedangkan kita merasa baik-baik saja dan tidak punya masalah, ya itu berarti masalahnya memang ada, tapi tidak mau mengakui. Kalau itu baru berarti tidak sadar kalau punya masalah. Yang seperti ini yang perlu diselesaikan, apakah melalui introspeksi, diskusi, konsultasi, atau konseling.

Jadi, tidak selalu merasa tidak punya masalah, itu masalah ya. Salah satu patokannya adalah fungsi sosial, apakah orang lain sampai terganggu atau tidak. Terima lah bahwa Allah memberikan ujian kepada hamba-Nya itu berbeda-beda. Gak usah iri-irian, Allah lebih tau ujian apa yang paling cocok buat kita. Cyeilee, cocok. 

Semoga bermanfaat yaa! 

#30dwc #30dwcjilid22 #day19
*Terinspirasi dari Penjelasan tentang Konseling dari Coach &Counsellor Angesty Putri

Wednesday, March 4, 2020

Berempati Saat Kita Membutuhkan Empati

7:57 PM 0 Comments
Kata empati, terdengarnya mudah dan ideal ya, memang harus seperti itu, semua orang juga tahu. Berempati adalah memahami apa yang dirasakan orang lain, dari sudut pandangnya. Tentu tidak semua orang bisa mempraktekkannya ya, makanya perlu dilatihkan.

Bagaimana dengan saya? Ssst, saya juga sering kesulitan... Kalau kondisi diri sedang prima sih hayuk aja. Dan sebagai orang yang bergerak di pengembangan SDM, mau gak mau saya sering berlatih bagaimana melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain, memahami apa yang ia pikir, rasa, ingin, dan tidak-inginkan. Lalu memilih respon yang tepat untuk membuatnya merasa lebih baik atau nyaman. Bisa? Alhamdulillah bisa.

Masalahnya, saya tidak selalu berada dalam kondisi prima kan? Kadang sudah paham bagaimana kondisi orang lain, perasaannya, apa yang sedang dia alami, dan apa yang dia harapkan. Saya juga tahu harusnya bersikap bagaimana dan memberikan respon apa. But life is never flat ya. Ada saat-saat di mana energi saya sudah tipis, sudah lelah dan kadang sensitif. Di kondisi itu, ketika ada tuntutan untuk memahami orang lain lagi, rasanya berat. ‘Kenapa bukan saya yang dipahami??!’, mungkin demikian teriak sesuatu dalam kepala panas saya.

Lalu apa yang harus dilakukan bila berada di kondisi tersebut?
Saya sendiri awalnya bingung, jadi saya bertanya. Hehe, ini jawabannya dan menurut saya cukup bijak untuk kita adopsi. Yang pertama, diamlah. Jangan katakan apapun. Beri waktu untuk silence. Percaya atau tidak, diam lebih bisa membuat hati lega lho daripada meluapkan amarah. Tapi kalau diam terus mendendam, ya bahaya. Jangan ya. Lebih baik diam, lalu lihat lagi kondisi dia yang sedang lebih perlu kita pahami.

Baca Juga: Pentingnya Meminta Maaf dan Memaafkan dalam Kehidupan Rumah Tangga

Kedua, beresponlah seperlunya. Misalnya menyatakan persetujuan pada apa yang dirasakan orang itu seperti, “Wajar kalau kamu merasa begitu.” Atau dukungan, “Saya paham bagaimana rasanya kalau berada di posisi kamu saat ini”.

Ketiga, ambillah jarak. Kamu butuh waktu untuk sendiri, mengenali emosimu dan keadaan emosi orang itu. Atau sekedar memberikan ruang untuk menikmati tarikan dan hembusan nafasmu sendiri. Istirahat.

Yang perlu dicatat, jangan sampai kita mengeluarkan uneg-uneg saat itu, apalagi sampai marah. Kita tetap perlu mengontrol apa yang keluar dari lisan kita, jangan sampai menyesal nantinya. Percayalah, marah itu lebih bikin capek daripada diam dan bernafas saja. Tentu saja ya kan..

Sayangnya saat seperti itu, marah terasa enak dan mudah. Tapi itu godaan setan kawan, setelah hubungan kita memburuk dengan orang, dia (setan) ga bakal mau tanggung jawab. Orang dia emang pengennya bikin rusak.. Tinggal kita deh yang sesak karena menyesal. Na’udzubillah.
Menyesal

Sekian sharing solusi dari curhatan ane sendiri ya Guys, hehe. Semoga kita bisa lebih dewasa dan bijak mengatur emosi dan respon kita sendiri. Kalau sudah begitu, in sya Allah kita bisa memiliki hubungan yang sehat dengan orang-orang yang penting dalam hidup kita. Aamiinn...

Terima kasih sudah membaca!
#30dwc #30dwcjilid22 #day18

Tuesday, March 3, 2020

Percaya: Pegangan Hidup Manusia

8:51 PM 0 Comments

Ada kan ya, orang yang tidak bisa mempercayai dirinya sendiri? Ada, banyak malah. Lalu bisa gak yah, orang yang tidak percaya pada dirinya sendiri, tapi malah percaya pada orang lain? Bisa saja, bisa banget bahkan. Justru karena dia melihat dirinya minus dan orang lain plus, jadi memang dia akan mencari. Tentu saja tidak percaya pada dirinya sendiri itu bukan hal yang positif ya. Karena seseorang, seburuk apapun, pasti memiliki kebaikan atau kelebihannya sendiri, tinggal bagaimana dia bisa melihat sisi positif dari dirinya.

Namun intinya, menusia selalu membutuhkan pegangannya, yaitu sesuatu atau seseorang yang dapat dia percayai. Maka itu, beruntunglah orang-orang yang percaya pada Tuhannya. Yang dipercayanya itu tidak akan pernah khianat, tidak akan pernah salah atau khilaf. Tidak pernah akan mengecewakan.

Lalu bagaimana kalau tidak ada satupun yang dipercaya dalam hidupnya, bahkan Tuhan? Kalau dirinya sendiri masih bisa dia percaya sih, mending. Meskipun sampai suatu saat, pastinya dia akan kesulitan sendiri. Karena yang namanya hidup kan, pasti ada tantangannya ya, bisa jadi malah lebih banyak susahnya daripada mudahnya. Bila ia hanya percaya pada dirinya sendiri, ketika terjatuh, dia akan merasa sakit sekali. Dia berdarah-darah sendiri, lelah sendiri, sedih sendiri, dan putus asa pun sendirian karena gagal setelah mengeluarkan usaha yang keras. Tentu saja usaha keras, karena dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri kan?

Lalu bagaimana kalau sama sekali tidak ada yang dia percaya, pun dirinya sendiri? Wooooaaah gimana tuh? Bisa jadi usaha yang dia keluarkan untuk hidupnya memang tidak banyak alias terbatas. Ya untuk apa? Bagaimana dia bisa punya keinginan yang kuat kalau dia tidak pernah yakin bahkan pada dirinya sendiri? Siapa yang akan jadi tokoh utama dari mimpinya? Siapa yang akan mencapai keinginannya itu? Dan tentunya, siapa yang akan mengeluarkan effort untuk berproses dalam mewujudkan keinginannya tersebut? Tidak ada kan…

Maka sekali lagi, bersyukurlah wahai orang-orang yang beriman. Nikmat iman yang Allah berikan dalam hatimu, itu adalah nikmat sangat besaaaaaarrr yang Dia berikan untuk seorang hamba.
#30dwc #30dwcjilid22 #day17

Storage Memori di Tubuh Kita

8:28 PM 0 Comments

Sebagaimana komputer, ternyata kita punya lho tempat-tempat penyimpanan memori di tubuh kita. Yang pertama tentu saja otak ya, khususnya otak kiri bagian bawah sebagai pusat memori. Nah, selain otak, ternyata manusia juga bisa menyimpan memorinya di otot, di setiap sel yang kita miliki.

Itulah salah satunya, mengapa para penuntut ilmu zaman dahulu itu selalu membudayakan aktivitas mencatat. Kata Imam Syafi’I, karena mencatat itu bisa mengikat ilmu. Jadi bukan hanya mendengarkan dari guru atau membaca dari buku atau kitab, selain itu juga agar aktivitas mata yang melihat dan tangan yang menulis bisa menguatkan ingatan. Bisa jadi karena ilmu itu terekam juga di memori otot. Selain itu, fyi, sekarang juga sedang booming kembali Psychodrama, yaitu sebuah terapi psikologis yang menggunakan memori yang tersimpan di sel-sel tubuh, yang sering kali tidak disadari oleh alam sadar kita. Dengan kata lain, dipendam secara sadar dan sengaja atau tidak ke alam bawah sadar kita.

Pertama kali mengetahui tentang muscle memory atau memori otot ini sih dari bukunya Prof. Rhenald Kasali yang berjudul Myelin, Mobilisasi Intangibles Menjadi Kekuatan Perubahan. Reviewnya sudah saya posting di sini ya, klik aja. Selain itu, saya pernah mendapat sharing juga dari seorang HR Expert waktu training dari kantor yang lama tentang hal sejenis. Katanya, beliau saat itu sedang belajar menyimpan memori di tangan. Ia mendasarkan teorinya itu dari Al-Quran Surah Yaasiin ayat 65,
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
Maka dari situ, ia menyimpulkan bahwa tangan bisa menyimpan ingatan. Secara teknis saya gak paham sih maksudnya seperti apa, hehehe…  

Selain brain dan muscle memory, masih ada satu lagi nih tempat menyimpan memori di tubuh kita. Ada yang bisa tebak? Tebak aja, soalnya ini juga sumbernya dari celetukan salah seorang peserta training wkwkwkwk… Tempatnya di hati. Kalau yang ini sumber ilmiahnya sih belum saya temukan, hanya common sense saja. Eh ternyata dulu saya pernah nulis juga tentang ruang-ruang hati, tempat menyimpan kenangan dengan orang-orang berbeda.
Baca Juga: Ruang-ruang Hati

Yah intinya sih, yang terakhir ini jangan terlalu ditanggapi serius apalagi di analisis segala hehehe…
Kesimpulannya, dari ketiga sumber daya storage yang kita punya ini, kita bisa memilah mau menyimpan memori apa di storage yang mana. Ada hal-hal yang sudah cukup hanya dengan disimpan di otot, tidak usah sampai ke hati. Misalnya kalau kita belajar naik sepeda, kita tidak perlu memaknai setiap kayuhan kanan, kiri, naik, dan turunnya kaki kita. Lakukan saja, ga usah banyak mikir. Nanti in sya Allah bisa.
Katanya sih, hidup yang sudah ribet ini jangan dibikin tambah ribet, iya gak? ;)

#30dwc #30dwcjilid22 #day16