Follow Us @farahzu

Tuesday, February 17, 2015

sama punya hak untuk bahagia (cerita anak berkebutuhan khusus)

1:23 PM 0 Comments
Alkisah (ceilah), saya pergi ke sebuah hotel di Bandung untuk keperluan training persiapan masa pensiun sebuah perusahaan swasta nasional, selama 6 hari. Di hari terakhir training, ada acara berbagi dari peserta kepada anak-anak berkebutuhan khusus di kota Bandung. Ada yang tunanetra dan low vision, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, dan tunaganda (yang menyandang lebih dari 1 kebutuhan khusus).

Fyi, training pensiun ini sangat menguras perasaan dan air mata kami; peserta dan juga fasilitator yang baru turun di training jenis ini. Hehehe.. apalagi saya yang memang berhati lembut (hahay!). Hingga sampailah kami di sesi siang hari terakhir, acara berbagi itu. Saat peserta baru saja menghela napas setelah bersimbah air mata, hatinya lagi pada lembut-lembutnya, ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) didatangkan ke hotel dengan diantar guru-gurunya dari SLB. Setelah pembukaan, masing-masing ABK dipasangkan dengan 1 keluarga peserta (peserta terdiri dari suami dan istri, kecuali yang ga bawa istri), lalu mereka makan bersama.

Waktu anak-anak baru masuk ruangan, saya turut menyambut mereka dengan ‘girang’. Otomatis saja gitu. Apalagi ada seorang ABK perempuan, kecil di atas kursi roda, tunaganda, memancarkan ekspresi girang luar biasa sambil merentangkan tangannya lebar-lebar ke arah saya. Minta dipeluk. Haduuuu… saya sambut ekspresi riang gembiranya dan memeluknya, dan mencium dahinya. Ia begitu ceria. Tak ada masalah dalam hidupnya, nampaknya. Begitu juga dengan anak-anak yang lain. Sama cerianya, berteriak-teriak mengikuti acara dan lomba yang disiapkan Bapak dan Ibu peserta training, memperebutkan hadiah.

Sampai pada sesi ini berakhir, keluarlah salah seorang yang dituakan dan dihormati di antara kami, sambil matanya sembab karena menangis, dan memang ia masih menangis. Para peserta meminta foto dengan bapak tersebut bersama ‘anak mereka’ masing-masing, dengan si bapak masih mengeluarkan air mata. Saya sempat bergurau, “Jangan mewek terus dong Pak”, tapi ga mempan.

Di sela-sela istirahat, bapak yang kami hormati itu mendatangi saya dan ternyata masih membahas ‘mewek’ tadi. Beliau bertanya, “Memangnya Farah ngga tersentuh melihat mereka?” Jleb. Saya jadi mikir, tapi sayangnya waktu beliau bertanya itu, saya tidak terpikir jawabannya *kebiasaan telmi. hehehe...

Bagaimana mungkin hati saya tidak tersentuh, sedangkan sedari tadi sayalah fasilitator yang paling sulit menahan tangis mengikuti jalannya materi di sesi-sesi yang sudah-sudah. Oh, saya tau kenapa.

Sebagai anak psikologi, kami lebih sering berinteraksi langsung dengan ABK, maupun tidak langsung dengan membahas mereka di kelas-kelas kuliah serta seminar, dan kehidupan sehari-hari kami. Kami mengenali bahwa mereka sama saja dengan orang-orang yang normal pada umumnya; mereka perlu dihargai dan ‘dianggap bisa’. Meskipun menurut penglihatan awam, mereka (maaf) kekurangan, tapi jiwa dan hati mereka akan sakit bila dianggap tidak bisa, tidak mandiri, selalu perlu bantuan orang lain yang normal. Mereka butuh kebahagiaan bahwa mereka mampu menjalani hidup mereka sendiri, tanpa terus diikuti oleh pandangan iba dan kasihan dari orang lain.

Kita ada untuk saling berbagi, kita mendatangi dan mendatangkan mereka untuk berbagi kebahagiaan. Maka kebahagiaanlah yang seharusnya kita bagi pada mereka, bukan rasa kasihan. Secara manusiawi mungkin kita memang tersentuh dan ‘takjub’ dengan keadaan mereka yang bisa bertahan dan ikhlas menerima taqdir Tuhan. Tapi menurut saya, simpanlah rasa itu dalam hati, jangan ditampakkan di depan mereka.

Ketika anak-anak itu datang ke ruangan, mereka harus melepas sepatunya. Guru-guru yang mendampinginya hanya memperhatikan sambil bersikap tegas dan berkata, “Ayo, buka sepatunya sendiri. Semuanya kan sudah bisa”. Ibu guru itu sudah menanamkan self efficacy (perasaan mampu dan berdaya) yang sangat penting bagi kepercayaan diri mereka kelak. Dan mereka benar-benar bisa melakukannya sendiri (kecuali beberapa anak dengan kebutuhan tertentu, tuna ganda; grahita, rungu, dan daksa sekaligus). Maka, sebaiknya kita dukunglah pelajaran yang telah susah payah diberikan oleh para guru itu.



Anak berkebutuhan khusus, punya hak yang sama dengan kita untuk dihargai bahwa mereka adalah seseorang yang mampu, kuat, dan mandiri. Mereka juga punya hak yang sama dengan kita, berhak untuk bahagia. Perlakukanlah mereka sebagaimana mereka ingin diperlakukan. Seperti anak perempuan di atas kursi roda, yang memancarkan binar wajah kebahagiaan bertemu dengan kami saat itu. 


ini anak perempuan yang saya maksud. Tapi waktu difoto entah kenapa ya ekspresinya jadi serius gitu? hihihi ;)


awalnya anak ini maunya pulang terus. Tapi Bapak ini berhasil mengambil hatinya dan memberikannya tawa kegembiraan. so sweet.. 


they can!
akhirnya pasrah di pelukan 'bapaknya', setelah lelah berontak karena dielus-elus dan dicium-ciumin terus sama 'si ibu'. Risih kali ya?