Follow Us @farahzu

Thursday, October 27, 2022

Ketika Anak Mendapat Rezeki

9:20 PM 0 Comments

Menanamkan tauhid dalam diri anak perlu lebih konkret dan sesuai dengan usia (pemahaman) anak. Memasukkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari anak menjadi pilihan yang in sya Allah paling mudah. Contohnya, ketika anak mendapat rezeki. 


Pertama-tama, kita kenalkan dulu Allah dengan nama-Nya Ar-Razzaaq, yaitu Maha Pemberi Rezeki. Sebutkan rezeki apa saja yang dapat dipahami anak sesuai usianya, seperti makanan, minuman, susu/asi, pakaian, sepatu, mainan, dll. Bisa dengan obrolan, atau membacakan buku tentang ini. Jadi anak belajar “teorinya” dulu. 


Prakteknya bisa dilakukan kapanpun, seperti ketika sedang/akan makan. Katakan pada anak, “Adek, ini ada makanan. Makanan ini dari siapa? Dari Allah. Allah kasih melalui siapa? Melalui Umma. Jadi bilang apa? Alhamdulillaah. Terima kasih Umma”.


Contoh lain yang paling sering saya lakukan, ketika nenek/tetangga memberi hadiah makanan, misalnya puding. Tanyakan pada anak, “Enak pudingnya? Puding ini dari siapa? Dari…? Dari Allah. Allah kasih melalui siapa? Melalui Nenek. Jadi bilang apa? Alhamdulillaah. Terima kasih Nenek.”


Selalu utamakan ingat Allah dulu, berterima kasih pada Allah dulu. Mau tambahin “terima kasih Allah” setelah alhamdulillah? Ya boleh aja sih. Bacaan hamdalah sendiri sudah berarti bersyukur dan berterima kasih pada Allah. 


Berterima kasih pada orang lain yang menjadi perantara rezeki itu juga harus ya. Selain norma di masyarakat, yang utama adalah karena itu ajaran agama Islam. 

“Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud)


Semoga tertanam dalam jiwanya, bahwa apapun yang didapatnya adalah dari Allah, Ar-Razzaaq, dan tumbuhlah hati yang senantiasa syukur seumur hidupnya. Aamiin

Fitrah Tauhid

9:17 PM 0 Comments

Setiap anak yang lahir, sudah terinstal tauhid di dalam dirinya. Mengenal dan mengesakan Allah adalah fitrah setiap manusia. 

Saya pernah membuktikan pada anak saya (1y7mo waktu itu) dengan bertanya, “Fatih, di mana Allah?” Dia langsung mendongak ke atas secara otomatis.*


Ya, Allah di “atas”, di langit, di atas ‘Arsy.


*cara mengetes ini saya dapatkan dari ceramah Ustadz Khalid Basalamah (KHB), dengan catatan fitrah tauhid anak belum rusak misalnya karena banyaknya tontonan yang salah. 


وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِیۤ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّیَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰۤ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ شَهِدۡنَاۤۚ أَن تَقُولُوا۟ یَوۡمَ ٱلۡقِیَـٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَـٰذَا غَـٰفِلِینَ﴿ ١٧٢ ﴾

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (QS: Al-A'raf, Ayah 172)


Dari Abi Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah (muslim)”. (HR. Bukhari Muslim)


Programnya’ sudah ada, jadi sebenarnya orang tua “hanya tinggal” mengingatkan dan memanggil memori di alam ruhnya ketika perjanjian dengan Allah itu terjadi. Etapi ternyata gak semudah itu juga. Kenapa ya?


Ya mungkin karena orang tuanya juga masih belajar untuk terus ingat masalah tauhid ini. Jadi, yuk kita mengingatkan diri sendiri sekaligus anak kita, memelihara fitrah tauhidnya agar dia tidak sempat lupa seumur hidupnya. In syaa Allah.