Follow Us @farahzu

Showing posts with label Book Review. Show all posts
Showing posts with label Book Review. Show all posts

Monday, May 30, 2022

Pachinko (Book Review)

11:56 AM 0 Comments

Judul Buku: Pachinko

Penulis: Min Jin Lee

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman: 576 halaman

Tahun terbit: 2019

Pachinko
dok: pribadi
 
Pachinko Review
kiri: cover lama ; kanan: cover baru


Hello Readers, Assalamualaikum!

Saya baru saja menamatkan sebuah buku fiksi sejarah yang sangat menarik dan berkesan buat saya. Saya membaca e-book Pachinko ini dari aplikasi Gramedia Digital; jadi resmi ya, no nyolong-nyolong. Novel ini menceritakan tentang kehidupan sebuah keluarga Korea selama 80 tahun dan 4 generasi. Dimulai pada masa kolonisasi Jepang atas Korea hingga tahun 1989. Ringkasnya, kehidupan sebuah keluarga Korea di Jepang pada masanya.

Tokoh utama dalam novel ini bernama Kim Sunja, perempuan Korea, pada saat di muka bumi ini hanya ada 1 Korea. Lalu ia pindah ke Jepang dan meneruskan hidupnya melalui semua masa sulit dan (akhirnya mulai) lapang di negara itu.

Baca Juga: Kim Ji Yeong; Lahir Tahun 1982

Novel ini banyak mengangkat tentang diskriminasi dan prasangka buruk yang dialami oleh warga Korea di Jepang. Beberapa bertahan dan nampak baik-baik saja, tetap menerima kehidupan yang keras sebagai makanan sehari-hari yang mau tidak mau harus mereka telan. Noa, anak pertama Sunja menekankan pada dirinya dan adiknya, “Orang Korea tidak boleh berbuat kesalahan”, karena orang Korea yang baik saja sudah dianggap buruk, apalagi yang tidak baik. Tapi menurut tokoh yang lain, “Tidak penting menjadi Orang Korea yang baik, karena sama saja akan dianggap buruk juga”. Syedih ya Gais…

Selain diskriminasi dan prasangka, saya juga menggarisbawahi tentang identitas dan penerimaan diri. Bagi orang-orang tertentu, memiliki identitas yang jelas dan tidak membawa aib nampaknya sangat menjadi isu, sehingga ia tidak takut menghilangkan nyawanya hanya karena tidak mendapatkannya. Namun bagi sebagian yang lain, yang pasrah menerima dirinya, latar belakangnya yang tidak bisa ia ubah sebagai takdir yang harus diterima, bisa hidup dengan lebih baik. Orang golongan kedua ini fokus membangun masa depannya dan tutup kuping pada omongan orang-orang yang tidak perlu. Dia hanya perlu membuktikan dirinya berhasil, bisa mengangkat kehidupan keluarganya, dan membangun masa depan yang cerah untuk anak keturunannya.  

Menurut saya novel ini sangat kaya. Mulai dari alur dan tokohnya yang saya ga bisa nebak bakal gimana, juga kaya secara emosional; saya bisa merasa degdegan, happy, sedih, haru, kecewa, penasaran, marah, sakit hati, ga bisa terima, dan pasrah—selama membaca buku ini. Warbyasa kan? Selain itu, buku ini juga sangat kaya informasi, baik fakta sejarah yang objektif maupun subjektif berdasarkan persepsi para tokohnya. Ternyata dalam pembuatan novel ini, penulis memang melibatkan riset panjang yang tidak main-main lho. Sebagai penggemar bacaan sejarah, buat saya buku ini jempol banget!

Bahasa novel ini kaku menurut saya, mungkin karena ini terjemahan, meskipun banyak juga karya terjemahan yang tidak kaku sih. Tapi karena ceritanya menarik, saya suka sekali membacanya, apalagi ketika baru menyadari di tengah cerita, kalau buku ini tebalnya lebih dari 500 halaman. Hepi banget, berarti selesainya masih lama wkwkwkwk…

Penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga, alias penulis sebagai ‘tuhan’ yang mengetahui segalanya, bahkan isi hati semua tokohnya. Buat saya cerita setebal ini isinya daging semua. Semua tokohnya penting, sedikit sekali nama yang jadi ‘figuran’ sepanjang kisah ini. Sebelum menyelesaikan membaca, saya sudah merasa puas, dan alhamdulillah tetap puas sampai menemukan ending cerita ini. Selamat Min Jin Lee! (sok kenal)  

Wednesday, May 25, 2022

Book Review: Bekisar Merah – Ahmad Tohari

6:48 AM 0 Comments

Judul: Bekisar Merah

Genre: Fiksi

Author: Ahmad Tohari, 1993

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman: 360 halaman


Assalamualaikum! Apa kabar Readers?

Ada masanya, saya mengisi waktu dengan menikmati karya-karya sastrawan angkatan lalu. Salah satunya Ahmad Tohari dengan novel Bekisar Merahnya.

Bekisar adalah jenis ayam hasil persilangan yang berharga mahal dan sering dikonteskan.


Novel ini berlatar tahun-tahun awal kemerdekaan Indonesia, saat masih dipimpin oleh Presiden Soekarno. Isinya bercerita tentang seorang gadis desa yang berperawakan mirip Jepang, karena ayahnya memang tentara Jepang. Dia cantik dan kecantikannya sangat menonjol. Namanya Lasi.


Awalnya ia seorang istri dari pemuda kampung yang miskin dan biasa saja, hidup dengan bersahaja dan setia. Namun ia harus menelan kecewa karena kekhilafan suaminya yang tak termaafkan. Lasi pun kabur ke Jakarta, dan terjerumus pada ‘bisnis’ yang tak pernah dipahaminya dengan kepolosan pandangannya. Ia menjadi wanita simpanan pejabat dan sempat dipindahtangankan kepada pejabat lain yang menginginkannya, yang lebih berkuasa daripada pejabat sebelumnya. Lasi yang cantik berdarah Jepang ini menjadi ‘incaran’ di kalangan pejabat, terkait dengan pemimpin negara yang belum lama menikahi seorang wanita Jepang (hayooo siapa yang jadi auto-browsing??).


Singkat cerita, ia menemukan cinta sejatinya (bernama Kanjat) di desa kelahirannya, lalu menikah. Ia sempat diculik kembali ke Jakarta dan pada akhirnya sang suami berhasil membebaskannya. 


Novel ini menceritakan kenyataan hidup yang sangat susah bagi rakyat kecil, di tengah alam yang terbatas dan hasilnya hanya dihargai dengan sangat murah.  Karangsoga, desa tempat Lasi tumbuh, menikah pertama kali, dan kembali ketika menemukan cintanya, adalah sebuah desa penghasil gula kelapa (gula merah). Para penyadap nira kelapa harus naik ke pohon-pohon kelapa yang sangat tinggi, mempertaruhkan nyawa, dan membawa nira yang diolah para istri di rumah sehingga bisa dijual pada tengkulak, yang sesukanya menetapkan dan menaik-turunkan harga gula. Namun mereka, masyarakat penyadap itu tidak punya pilihan lain. Tanah mereka tidak cukup subur untuk ditanami padi atau komoditas lainnya. Mata pencaharian lainnya sangat sulit ditemukan di sana.


Berbeda dengan kehidupan Lasi ketika di Jakarta, fasilitas yang dinikmatinya bagaikan langit dan bumi dengan apa yang bisa dinikmatinya di Karangsoga. Betapa mewah dan seperti tak terbatas.


Orang-orang kaya seperti tengkulak dan jaringannya hingga kota besar seperti Jakarta, sesungguhnya berhutang pada orang-orang terpinggirkan seperti masyarakat penyadap di Karangsoga. Mereka menikmati hasil melimpah (membeli gula dengan harga rendah) dari usaha sangat tinggi resiko yang dilakukan para penyadap, kemudian dapat menjualnya dengan harga tinggi di kota besar. Demikian yang mengganggu pikiran Kanjat, putra tengkulak yang kelak menjadi suami Lasi.


Novel ini menceritakan kehidupan lain para pejabat pada masa itu (entah sekarang) yang sebelumnya tidak banyak saya tahu, terutama yang berkaitan dengan “wanita”. Dengan alur maju, kehidupan tokoh utama diceritakan dengan detail dan cukup rumit, sehingga saya cukup menikmati membacanya. Sayangnya, konflik utama yang saya tunggu-tunggu menurut saya kurang seru. Konflik selesai dan melandai sebelum klimaks sehingga saya sudah degdegan eh ga jadi seru, hihi...


Baca Juga: Men are from Mars, Women are from Venus


Menurut saya, buku ini (beserta karya-karya Ahmad Tohari lainnya) sangat layak untuk dibaca. Buku ini membuka wawasan dan dengan mudah membawa pembaca seperti melihat dan mengalami langsung kejadian demi kejadian dalam ceritanya. Penggambaran latarnya cukup detail namun tidak berlebihan, sehingga saya merasa sayang kalau tidak membacanya secara utuh. 

Terima kasih sudah membaca ya! Wassalamu'alaikum :)

Wednesday, April 8, 2020

Book Review: Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982

12:11 PM 0 Comments
Judul                     : Kim ji-yeong, Lahir Tahun 1982
Penulis                  : Cho Nam-joo
Penerbit                : PT. Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman  : 192 halaman
Tahun terbit         : 2019
novel gramedia
e-book resmi dari Gramedia Digital dengan Subscribe Premium Fictions (bulanan) 
Buku ini adalah sebuah novel yang jadi Karya Fiksi Terlaris 2019 di Gramedia, bahkan mengalahkan novel-novelnya Tere Liye (sumber). Ini adalah novel terjemahan dengan judul yang saya tidak bisa membacanya hehehe, pakai huruf dan bahasa Korea soalnya.

Novel ini bercerita tentang seorang perempuan di Korea Selatan yang mengalami gangguan psikologis, di mana gejalanya baru muncul setelah ia dewasa, menikah, dan melahirkan anak. Pembaca dibawa untuk mengikuti masa perkembangannya dari kecil hingga menjadi seorang ibu, yaitu pada saat gangguan psikologis itu muncul. Kim Ji-yeong tumbuh dan besar di lingkungan yang sangat patriarki. Patriarki di sini bukan hanya soal masalah nasab yang juga lazim di dunia ini, melainkan sebuah budaya yang sangat mengutamakan laki-laki. Dari pekerjaan, pendidikan, bahkan di keluarga. Jika seorang perempuan melahirkan anak perempuan, ibu dan ibu mertuanya akan berusaha menghiburnya, ‘tidak apa-apa’, atau ‘anak berikutnya mungkin laki-laki’. Seolah melahirkan anak perempuan adalah sebuah aib atau kesalahan. Jaman jahiliyah banget ga sik...

Anak perempuan juga bekerja keras untuk menyekolahkan kakak atau adik laki-lakinya, tapi tidak untuk diri mereka sendiri. Kzl yak. Cukup mencengangkan buat saya terutama ketika mengingat kelahiran si tokoh ini adalah tahun 1982, berarti saat ini ia baru berusia 38 tahun, which is masa hidupnya tidak jauh berbeda dengan saya, masih di dekade yang sama. Artinya, cerita ini bukan terjadi di masa lalu yang jauh, melainkan masa-masa yang dekat dengan sekarang, di negara yang cukup maju, namun kenyataannya masih seperti itu. Sebagai perempuan, gue sedih guys. Sekaligus bersyukur sih, hidup di negara ini dengan memegang agama ini sebagai jalan hidup mati gue, yang juga didukung oleh lingkungan yang memegang nilai-nilai yang sama. Alhamdulillahilladzii bi ni’matihi tatimmushshaalihat. Ternyata di luaran sana di dunia ini ada banyak sekali yang tidak seberuntung kita.

Buku ini menarik untuk dibaca bahkan bagi orang-orang yang bukan penggemar Korea seperti saya. Banyak pengetahuan dan pembelajaran yang baru saya dapat ketika membaca buku ini. Salah satunya adalah bahwa kita sebagai pribadi, sebagai teman, saudara, dan orang tua, perlu mengontrol lisan kita, karena kita sering kali tidak sadar ucapan kita yang bagaimana yang bisa melukai hati orang lain. Dan berhubung orang itu memiliki masa lalu dan preferensi yang berbeda-beda, bisa jadi luka kecil itu terbawa hingga dia dewasa dan menyebabkan keburukan baginya. Na’udzubillah, semoga kita dihindarkan dari menjadi sebab keburukan bagi orang lain. Aamiin…




Monday, March 23, 2020

Book Review: Sang Pangeran dan Janissary Terakhir – Salim A. Fillah

7:11 PM 0 Comments

Judul            : Sang Pangeran dan Janissary Terakhir; Kisah, Kasih, dan Selisih dalam Perang Diponegoro
Genre          : Fiksi Sejarah
Author         : Salim A. Fillah, 2019
Penerbit      : Pro-U Media
Jumlah halaman: 632 halaman

Janissary

Beberapa waktu sebelum membeli buku ini, saya sudah menyimak potongan-potongan ceramah Ustadz Salim A. Fillah mengenai sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro. Bukan hanya dalam mengusir penjajah, namun ternyata yang utama adalah beliau memperjuangkan Islam agar dapat tegak kembali di tanah Jawa, yang telah banyak direndahkan setelah kedatangan penjajah Belanda itu. Jadi begitu lho, hubungannya *eeh.

Di Jawa itu, ternyata dahulu islami sekali lho. Iya sih, kan Kerajaan Mataram ya hehehe… Ada banyak simbol-simbol di Kraton, rumah warga, dan tentu saja masjid, yang kental sekali dengan pesan-pesan agama. Di antaranya seperti ukiran buah nanas di tiang Masjid Gedhe Keraton, yang mengingatkan kodrat manusia (An-Naas) agar tidak sombong. Buah/pohon salak juga, yang berasal dari nama surah dalam Alquran, Al-Falaq, mengingatkan akan godaan setan yang akan selalu menyertai, maka perkuatlah benteng keimanan. Juga, sebagai penanda rumah pejuang, di halamannya selalu ada pohon sawo berjajar, diambil dari pesan imam ketika akan shalat berjamaah: sawwuu shufuufakum, agar senantiasa meluruskan dan merapatkan barisan, baik dalam shalat maupun dalam perjuangan. Demikian pula, Pangeran Diponegoro memilih nama gelar beliau Sultan Abdul Hamid Diponegoro, yang merujuk pada Sultan Turki Utsmani ketika beliau lahir, Sultan Abdul Hamid I. Kalau lidah orang Jawa, beberapa bisanya menyebut Ngabdul Kamit, itu maksudnya sama 😊

Buku ini berlatar Perang Diponegoro yang dikenal juga dengan Perang Sabil (1825-1830). Yang dimaksud adalah perang melawan penjajah Belanda yang kafir, yang menginjak-injak Islam di tanah Jawa, jihad fi sabilillah, berjuang di jalan Allah. Disingkat Perang Sabil. Di buku sejarah sekolah dulu, kita taunya hanya Perang Diponegoro saja kan. Nah, di buku ini lebih lengkap dan fair sejarahnya.  

Di buku tebal ini, penulis banyak menyiratkan pesan kesetiaan; pada cita-cita yang mulia, pada pemimpin, dan pada saudara-saudara seperjuangan. Selain itu juga tentang keteguhan tekad dan idealisme, yang ditunjukkan oleh Sang Pangeran dan sahabat-sahabatnya. Ada banyak tokoh yang tadinya tergabung di barisan beliau, akhirnya keluar dan memilih berdamai dengan penjajah. Alasannya banyak. Ada yang memang tergoda dengan iming-iming penjajah hingga tak malu berkhianat, ada juga yang memilih menyerah karena melihat kesengsaraan rakyat yang ditimbulkan oleh perang yang berkepanjangan ini. Padahal sih, Belanda melobi dan merayu habis-habisan para tokoh untuk sesegera mungkin menghentikan perang, dikarenakan VOC, korporasi dengan valuasi terbesar itu, bangkrut gara-gara membiayai perang ini. Namun, masih banyak pula orang-orang yang istiqomah di samping beliau, serta rakyat yang setia membersamai beliau dengan pengorbanan sepenuh jiwa dan raganya.

Kemudian pelajaran yang juga saya dapatkan dari buku ini, di antaranya tentang kekuatan. Pangeran Diponegoro sering diceritakan memimpin perang gerilya di hutan-hutan sambil ditandu karena sakit. Saking seringnya diceritakan begitu, sampai waktu sekolah dulu saya hanya tahu beliau ketika lemah dan sakitnya saja. Beliau memimpin perang meskipun sedang sakit memang fakta, hanya saja dipaparkan juga dalam buku ini, bahwa di luar keadaan sakitnya, beliau adalah seorang yang sangat kuat. Ia bisa mendobrak tembok yang tebal, tinggi, dan besar ketika dikepung tiba-tiba, tanpa peralatan, sehingga ia dan pasukannya bisa menyelamatkan diri. Ketika ditangkap karena pengkhianatan, beliau menahan marahnya dengan meremas pegangan kursinya, yang terbuat dari kayu, sampai hancur. Makjaaaang. Eh, maa syaa Allaah!

Seorang muslim bukan hanya dituntut untuk soleh dan taat beribadah, namun juga harus memiliki kekuatan dan keterampilan yang bisa digunakan untuk membela agama Allah. Tidak harus menunggu ada perang, namun kita harus melatih diri baik meskipun keadaan sedang damai, sehingga kita siap kapanpun diperlukan. Lalu insight lainnya, maaf tidak saya tuliskan semua hehe…

Selain itu tentunya ada juga kisah cinta yang bikin hati meleleh dan penasaran ingin tahu lanjutannya. Kalau kisah cinta mah emang gak pernah ada basinya ya? Selalu haneut, hihihi…

Tokoh-tokoh dalam buku ini, ada Sang Pangeran sendiri dan para panglima serta pengawal-pengawal setianya. Janissary, fyi, adalah kesatuan elit pasukan Turki Utsmani, seperti Kopassus-nya kita. Nah, di dalam buku ini juga ada kisah tentang ahli waris seorang Wazir (perdana menteri) Turki Utsmani beserta juru tulis/sekretaris kepercayaan sang Wazir tersebut, keduanya memegang peran sentral di sepanjang buku ini. Bagaimana ceritanya mereka bisa sampai terlibat dalam perjuangan pasukan Sang Pangeran dalam perang sabil di tanah yang sangat jauh ini? Baca aja ya.. in sya Allah ada banyak ilmu dan wawasan yang bisa didapatkan dari buku ini.

Selain itu, dari sisi antagonis ada para pejabat Hindia Belanda dan VOC, serta para pejabat Keraton yang telah hilang harga dirinya karena membelot mendukung penjajah. Ada juga yang seperti duri dalam daging, terlihat membantu perjuangan namun ternyata mata-mata musuh. Seru Guys!

Ternyata manusia sekompleks itu ya. Ada yang dengan cita mulianya untuk agama menjaga idealismenya mati-matian, bahkan tak takut mati sama sekali. Ada juga yang ketamakannya na’udzubillah, sampai benar-benar rela mengorbankan iman, harga diri, dan rakyatnya, hanya demi uang dan jabatan, mendukung para penjajah.

Cerita dalam buku ini ditulis dengan alur maju-mundur, sehingga cukup perlu konsentrasi untuk melihat keterangan tahun di setiap awal babnya, terutama di awal-awal cerita. Di sini ada banyak fakta sejarah yang menyertakan tahun-tahun dan kejadian, yang menambah informasi pada pembaca, diselipkan dalam perkataan tokoh-tokoh di dalam cerita. Namun saya pribadi melewatkan beberapanya karena kepanjangan hehehe… ‘afwan Ustadz.

Kalau menurut saya, cara latar belakang cerita dibawakan itu agak kelamaan, atau sayanya yang lama ngerti baru bisa menikmati ya? Fyi, Buku ini sudah dicetak ulang bahkan sebelum resmi launching lho! Selaris dan sebagus itu memang!
Salim a Fillah
Saya merekomendasikan buku ini buat kamu yang muda, atau yang merasa muda, dan yang ingin selalu berjiwa muda. Buku ini bernas, ma sya Allah. Ada banyak pembelajaran dan ghirah (semangat) yang terbangkitkan sejak memulai hingga menyelesaikan membaca kisah ini. Karena sejatinya mempelajari sejarah bukan hanya mendapatkan informasi kejadian, tanggal, tempat, dan tokoh, melainkan mengambil hikmah, melestarikan kebaikan dan kebijaksanaan para pendahulu, serta belajar dari kelengahan atau kesalahan yang pernah ada agar tidak kita ulangi di masa sekarang dan yang akan datang.

Jazakumullah khayran Ustadz Salim.

“Katanya, cinta seorang lelaki seperti matahari. Semua orang tahu kapan ia terbit dan kapan waktunya terbenam. Bahkan banyak yang akan menyadari pula ketika takdir gerhana menggelapkannya. Tapi cinta seorang perempuan seperti kuku-kuku jari. Ia tumbuh perlahan, tapi pasti; meski dipotong berulang kali. Kuku sudah ada sejak janin tumbuh dalam rahim. Tapi kesadaran untuk merawat dan mempercantiknya hadir seiring meremajanya usia.” (Salim A. Fillah, dalam Sang Pangeran dan Janissary Terakhir)

Sunday, July 1, 2018

Sunnah Sedirham Surga (Book Review)

12:10 PM 0 Comments
sunnah sedirham surga
dok: pribadi

Judul: Sunnah Sedirham Surga
Penulis: Salim A. Fillah
Jumlah Halaman: 268 Halaman
Penerbit: Pro-U Media
Tahun 2017


Buku ini bukan mengangkat sebuah tema sebagaimana buku-buku penulis biasanya. Buku ini tersusun dari cerita-cerita ringan yang bisa kita ambil banyak ibrahnya. Yang pertama, tentang semangat menuntut ilmu, terutama ilmu agama. Menariknya, bukan kata-kata motivasi yang diberikan pada pembaca, melainkan hanya cerita. Cerita tentang para penuntut ilmu di zaman dahulu hingga kini.

Tentang Adab
Imam Syafi’i berkata, menuntut ilmu adab sebaiknya didahulukan daripada mempelajari ilmu itu sendiri. Karena dengan menguasai adab, kita akan mendapatkan berkah dari ilmu yang kita pelajari kemudian dari para guru. Bila kita mempelajari ilmu tanpa memperhatikan adab, apalagi sampai guru kita tidak ridha, bisa jadi ilmu yang kita peroleh tidak berkah, tidak sampai kebaikannya pada kita, maksimal hanya sampai pada tataran kognisi, kita hafal tanpa ejawantahkan. Demikian kurang lebih.

Menyikapi perbedaan demi persatuan ummat
Para ulama fiqh sudah banyak berbeda pendapat tentang banyak hal, terutama dalam hal ibadah. Bedanya, perbedaan di antara mereka (yang tentunya lebih paham daripada kita) tidak membuat para ulama tersebut berseberangan, namun mereka tetap saling menghormati. Sangat menghormati bahkan. Contoh terdekat ke zaman kita adalah ketika KH Idham Cholid tidak berqunut ketika tahu ada Buya Hamka menjadi makmumnya dalam kapal yang mengangkut mereka berhaji, sementara Buya Hamka justru berqunut karena tahu KH Idham Cholid ada di belakang menjadi makmumnya.

Sebagaimana yang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tulis, 
“Para Imam seperti Imam Ahmad dan Imam Syafi’i menganggap sunnah apabila seorang imam meninggalkan hal-hal yang menurutnya lebih utama, jika hal itu dapat menyatukan makmum.”
Betapa indahnya. Betapa bijaknya. 

Sedih sekali di zaman ini banyak di antara umat Islam yang begitu mudah menyalahkan dan membid’ahkan saudara-saudara yang berbeda pendapat, berbeda dalam mengambil sumber dalil, apalagi banyak yang dipermasalahkan hanyalah hal-hal yang furu’ (cabang); yang hanya membuat perpecahan dari cibiran dan sakitnya hati yang direndahsalahkan.
Padahal menurut KH Hasyim Asy’ari ketika ditanya mana yang lebih shahih, apakah memanggil orang shalat dengan kentongan dan bedug setelah/sebelum azan bid’ah atau tidak, beliau menjawab, “Kalau ulama sudah berpendapat, ummat ringan beramal. Boleh mengamalkan pendapat saya ataupun mengamalkan pendapat ulama yang lain.”

Allah merahmati orang yang menghindari perdebatan. Pikirkanlah, 
“Pendapat kita memang benar, tapi boleh jadi mengandung kesalahan. Pendapat orang memang salah, tapi boleh jadi ia mengandung kebenaran.”
Jadi ya sudahlah, kita bersatu saja. Kemungkaran saja bersatu, masak kita berpecah?

Baca Juga: Manajemen Waktu Ala Kamu

Friday, June 22, 2018

Origin - Dan Brown (Book Review)

7:12 PM 2 Comments
Origin
Penulis: Dan Brown
Penerbit Bentang

Cetakan Ke-2, Januari 2018

dan brown

Buku ini hanya 516 halaman tapi sangat menggemparkan jiwa buat saya. Justru di bagian akhir cerita, ketika konfliknya sudah usai. Membaca buku ini membuat mata saya terbuka, bahwa kaum ateis, sebagaimana para pemeluk agama, juga berdakwah. Mereka bukan hanya tidak percaya adanya Tuhan atau menganggap agama tidak masuk akal; mereka pun berusaha menyebarkan keyakinannya, dan ingin sebanyak mungkin orang mengikuti keyakinan mereka. Kalau dalam istilah Arabnya, dakwah juga kan. Mereka pun banyak juga yang militan lho demi meyakinkan orang lain akan paham mereka.

Kisah dalam novel ini pada intinya adalah ingin mengungkap jawaban dari pertanyaan dasar manusia dari dulu hingga sekarang. Dari mana asal kita? Ke mana kita akan pergi? Mereka ya, saya mah ga mempertanyakan itu hehehe.. buat saya semuanya udah jelas.  

Ilmuwan yang diceritakan dalam novel ini, menyimpulkan bahwa kehidupan terjadi melalui hukum-hukum alam, terutama hukum fisika. Dengan penjelasan gamblang—yang saya skip membacanya karena kurang menarik buat saya, diceritakanlah bahwa hukum fisika demikian hebatnya, bahkan bisa mengakibatkan lahirnya sebuah kehidupan. Namun mereka tidak berpikir lebih jauh, “bila hukum fisika ini begitu canggih, maka siapa yang menciptakan hukum fisika itu?” (Robert Langdon)

Dalam novel ini, teknologi juga banyak dilibatkan dan disebut-sebut sebagai masa depan dunia ini. Saya sangat terkesan dengan akhir cerita di mana Profesor Langdon pada akhirnya mengalami sendiri bagaimana teknologi (dalam hal ini kecerdasan buatan/artificial inteligence) teramat sangat membantu dalam memecahkan masalah dan menjadi takjub karena keakuratannya, namun di sisi lain juga bisa sangat mengerikan, bahkan melakukan tindakan keji tanpa ragu dan rasa bersalah.  

Singkat kata, sebagaimana halnya saya yakin Robert Langdon pun sepakat, saya merasa beruntung telah diciptakan menjadi manusia; yang bisa merasakan gembira, senang, cinta, berharap, lupa, kecewa, sedih karena kegagalan, rasa ingin menyerah, dan sifat-sifat manusiawi yang lain. Perasaan-perasaan itu meskipun beberapa di antaranya negatif dan menghambat, yakinlah, menyenangkan rasanya ketika menyadari bahwa kita manusia, dengan segala kompleksitasnya

#origin #danbrown #resensi #novel 

Monday, September 28, 2015

Cut Nyak Dien; Sebuah Novel Epik Perang Aceh

3:58 PM 0 Comments
Judul                  : Cut Nyak Dien; Sebuah Novel Epik Perang Aceh
Penulis               : Sayf Muhammad Isa
Penerbit Qanita
Cetakan I, April 2015
Jumlah halaman : 789 halaman


perang aceh


Saya suka sekali membaca sejarah berbingkai cerita seperti buku ini. Bahwa belajar sejarah bukanlah menghafal nama-nama dan tanggal-tanggal. Belajar sejarah adalah mengambil spirit perjuangan di masa lalu untuk dikobarkan kembali di masa kini. Dengan bentuk yang berbeda, silahkan. Tapi bisa juga sama. Karena Jas Merah kata Bung Karno. Jangan sekali-sekali melupakan sejarah, karena sejarah selalu berulang. Lihat saja.

Jujur awalnya saya berharap novel ini mengisahkan perjuangan pahlawan kita Cut Nyak Dien sebagai tokoh utama. Yang konon perlawanannya tidak sesimpel dan sesederhana seperti digambarkan buku-buku sejarah di sekolah. Tapi ternyata cerita tentang beliau hanya pelengkap di buku ini, sedikit-sedikit. Tapi buku ini tetap recommended buat dibaca. Banget.

Latar utama cerita ini adalah Perang Sabil di Aceh, yang dimaksudkan sebagai perang fi sabilillah (berjuang di jalan Allah) untuk mengusir kaum kaphe Belanda yang hendak menjajah dan menghancurkan negeri Islam, yakni Kesultanan Aceh. Digambarkan betapa Khilafah Islamiyah di Turki saat itu telah digerogoti oleh Barat dan Liberalisme, sehingga menolak memberikan bantuan untuk negeri Islam yang notabene ada di bawah perlindungannya, dengan mengemukakan alasan yang memalukan: Aceh adalah negeri yang jauh dari Turki. Hhmmfftt!

Buku ini benar-benar mengobarkan semangat juang di dada pembacanya. Bahwa pertahanan terbaik adalah tetap melawan. Meskipun musuh lebih kuat. Persenjataannya jauh lebih canggih. Jumlah pasukan terlatih lebih banyak. Dan tak boleh ada celah sedikitpun untuk merasa lemah, karena kemudian yang ada hanyalah menyerah, dan kalah. Tak boleh pula ada celah sekecil apapun untuk berdamai dengan pihak yang telah jelas ingin menjajah kita. Karena kalaupun mereka berjanji, janji itu tak ada nilainya, tak bisa dipercaya karena dengan mudahnya mereka langgar. Lagipula apa artinya hidup dengan kehinaan, tanpa kehormatan?

Majulah, karena janji Allah itu pasti. Lawan, karena mereka yang syahid itu tidak mati; mereka hidup di sisi Tuhannya dengan mendapatkan rezeki. Karena hanya ada 2 pilihan: hidup mulia atau mati syahid. Ya ampun... hidup di dunia cuma 1,5jam hitungan akhirat!

*istighfar*

Salah satu insight lain yang sangat penting dari buku ini juga, adalah bahwa sejatinya kita tak memiliki apapun. Istri/suami kita bukan milik kita. Anak dan orang tua kita juga bukan milik kita. Rumah, harta benda, apapun, semua bukan milik kita, hanya titipan Allah. Karena kita tak memiliki apapun, maka kita tak akan kehilangan apapun. Betul kan?


Baca Juga: Manajemen Teller - Jangan Ribet Sama Jodoh!


Pride and Prejudice - Jane Austen - Review

3:19 PM 0 Comments

Judul                  : Pride and Prejudice 
Penulis               : Jane Austen 
Penerbit Qanita, Edisi kedua, cetakan ke-3, Juli 2015
Jumlah halaman : 585 halaman


jane austen

Pertama baca judulnya waktu jalan-jalan ke toko buku, kok kayak akrab sekali ya? Ada kok di mata kuliah tertentu yang (tentu saja) saya lupa. Selang 2 hari saya bertemu senior dalam sebuah perjalanan kerja ke Kalimantan, dan dia memecahkan teka-teki itu: matkul Psikologi Sosial! Oh iyaaaa namanya aja ‘prejudice’ ya >.<

Roman ini sudah berumur lebih dari 150 tahun tapi konon katanya masih melegenda. Mbah Jane Austen menggunakan latar sosial kaum menengah dan kelas atas di Inggris pada abad ke-19. Dalam roman ini dipaparkan betapa kebanggaan sebagai anggota kelas atas yang dimiliki oleh beberapa tokoh sangat membatasi bagaimana mereka berperilaku dan memandang orang lain yang ‘setara’ dan bagaimana memandang dan berinteraksi dengan orang lain yang ‘lebih rendah’ dari kelas sosial mereka. Itulah ‘pride’; kebanggaan akan darah biru yang mengaliri nadi segelintir orang. Dan bagaimana orang-orang di kelas lebih rendah memandang mereka dengan penuh kekaguman dan sepenuh pengharapan untuk mendapatkan kaum lelakinya sebagai menantu mereka.

Tapi kala itu tidak semua kaum bangsawan terpelajar, apalagi kaum wanitanya. Namun tetap ada segelintir pemuda dan pemudi terpelajar dari kedua golongan tersebut. Yang cara pandangnya melewati batas warna darah yang mengaliri nadi manusia karena takdir menggariskannya demikian. Kaum terpelajar dari kelas rendah tetap percaya dengan dirinya sendiri. Mereka tidak rendah diri dengan bangsawan manapun yang ditemuinya karena memandang mereka setara dengan dirinya. Dan nampaklah bahwa kecerdasan memang memiliki pesonanya sendiri.
*ouch, kenapa saya suka sekali dg kata-kata itu*

Setiap memori tentang latar belakang, lingkungan tempat tinggal, teman-teman, tetangga, saudara, dan semua orang yang kita bergaul dengannya, akan berkumpul menjadi semacam ringkasan di dalam otak yang biasanya kita jadikan dasar untuk menilai perilaku seseorang. Yang belum terjadi sekalipun. Bahkan, belum tentu benar. Itulah prejudice, prasangka. Dan kerennya, roman ini benar-benar memutarbalikkan segala prasangka yang dimiliki oleh semua tokohnya. Yes. S e m u a ! Menjelang akhir, satu-persatu semua orang dihadapkan pada pembuktian bahwa prasangkanya selama ini salah total. Sama sekali. Iya sih, ini fiksi, tapi Mrs. Jane benar-benar ingin menunjukkan bahwa prasangka apapun terhadap siapapun, tidak layak dijadikan dasar untuk menilai.


Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa...” (QS: Al Hujurat: 12)


Monday, December 23, 2013

Ikan Kecil Di Kolam Besar (David and Goliath, Malcolm Gladwell)

8:08 PM 0 Comments
16.57 wita. Kriiiiiinngg! "Mba, ke pantry yuk, ada ubi (singkong) sama pisang goreng!" Asik! Hujan dan udara dingin gini memang nikmat sekali makan goreng-gorengan panas 😚 Alhamdulillah. Beres-beres meja, lalu ke pantry menyusul yang lain.

Dari dinding kaca lantai 13, kami dapat melihat dengan jelas ke gedung-gedung di sebelah. Parkiran Bank Sulselbar ramai sejak pagi. Ternyata ada acara beasiswa untuk pelajar SD, untuk anak kelas 1-2 SD, rangking 1-2. Fyi, minggu lalu anak-anak sekolah sudah terima rapor.

Tiba-tiba ada seorang bapak bercerita, anaknya rangking 13. Mirisnya, sebelum terima rapor, sang anak telah sangat optimis bisa jadi rangking 1! Dengan bangganya si anak mewajibkan ayahnya datang untuk mengambil rapornya. Ternyata 13. Anak itu sedih sekali. Prediksinya bukan tidak berdasar; setiap keluar hasil ulangan, iya menunjukkannya dengan bangga, nilainya selalu di atas 80. Tapi ternyata teman-temannya lebih pintar.

Nah. Saat ini, saya sedang membaca buku "David and Goliath"; Malcolm Gladwell. Buku ini membahas mengenai ikan-ikan di kolam-kolam. Mengenai ikan kecil di kolam besar, atau ikan besar di kolam kecil. Kalau Anda jadi ikannya, Anda pilih yang mana?

Kita sedang berbicara tentang konteks; yang membuat ukuran segala sesuatu menjadi relatif. Sekolah-sekolah unggulan selalu merekrut anak-anak dengan prestasi terbaik. Namun dari sekumpulan siswa terbaik, pastinya akan tetap ada siswa yang berada di persentil terbawah. Akan ada 10 murid dengan nilai terendah. Mungkin kita bicara tentang konteks. Bisa saja kita menyebut, tak masalah tidak pintar (menjadi persentil terbawah) selama ada di sekolah terbaik. Sebodoh-bodohnya siswanya, tetap saja pintar. Tak masalah jadi yang terbodoh di Harvard misalnya; tetap saja pintar karena bagaimanapun ia berhasil masuk Harvard. Menjadi ikan kecil di kolam besar. Dan umumnya itulah yang ada di pikiran kita. Sebagaimana dulu saya memilih masuk SMA 1 bukan SMA 2, atau saat memilih UI di pilihan pertama, bukan UNPAD atau UNDIP.

Sayangnya, kita juga harus berbicara tentang kondisi psikologis siswa yang bersangkutan. Bagaimana rasanya menjadi siswa sekolah favorit yang nilainya di bawah rata-rata teman sekelas? Bagaimana rasanya bila setiap hari berada di kelas yang didominasi oleh teman-teman yang lebih pintar? Apakah ia masih akan merasa pintar, karena ia telah diterima menjadi siswa sekolah terbaik? Tentu saja tidak. Kepercayaan diri dan self esteem-nya akan menurun. Dan sedikit banyak akan mempengaruhi hasil belajarnya. Mungkin ini yang terjadi pada anaknya bapak di atas. Mungkin juga ini yang terjadi pada saya *ngeles dari nasib.haha!

Lalu bagaimana dengan ikan besar di kolam kecil? Tentu saja mereka akan lebih nyaman dalam belajar, memiliki self confidence & efficacy yang lebih baik. Tapi kan standard-nya?

Baik, baik. Beberapa penelitian ilmiah yang dimuat dalam buku David & Goliath menjabarkan sebuah fakta menarik. Bahwa setelah dites dengan alat ukur terstandard, nilai 'ikan-ikan besar di kolam kecil' ternyata lebih tinggi daripada 'ikan-ikan kecil di kolam besar'. Fakta lain yang cukup mengenaskan adalah, 'para ikan kecil di kolam besar' memiliki lebih besar kemungkinan untuk putus asa, frustrasi, dan/atau memutuskan untuk keluar dari kolam besar itu, alias dari sekolah unggulan tersebut. Kasihan.

Lantas bagaimana?

Yaaa sebaiknya kita tidak memaksakan kemampuan yang standard untuk masuk dalam kelompok orang-orang dengan kemampuan di atas rata-rata. Kecuali kemampuan standard kita dilengkapi juga dengan kekuatan hati untuk fight dan berusaha sebaik-baiknya, apapun yang terjadi. Kalau kita merasa tidak cukup tough dalam menghadapi rintangan, lebih baik jadi ikan besar di kolam kecil saja. Hasilnya cenderung lebih baik dan optimal :)

Sunday, November 3, 2013

merdeka! (Review Film Merah Putih)

3:22 PM 0 Comments

Wednesday, February 15, 2012

Men are from Mars, Women are from Venus

7:49 AM 2 Comments
women from venus

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Reference
Author:John Gray, Ph.D, (1992, April 2009)
Yang terlintas dalam pikiran saya ketika membaca buku ini, yang pertama tentunya wajah ganteng abang saya, kemudian berturut-turut rekan-rekan pria saya, yang ternyata selama ini telah banyak saya zhalimi. Saya minta maaf T_____T

Maaf saya cerewet, saya tidak tau kalau banyak nasihat itu melukai harga diri pria yang konon katanya sangat penting itu. Saya sungguh kesulitan untuk ‘menerima’ kepribadian mereka apa adanya tanpa berusaha mengubahnya agar sesuai standar saya *kejam sekali ya saya.

Judul yang sangat unik untuk buku ini sangat membantu kita dalam mengingat isi buku ini. Meskipun suatu saat kita lupa isi buku ini, kesadaran bahwa laki-laki (Mars) dan perempuan (Venus) itu memang berbeda dapat membuat kita lebih sabar dan bijak dalam berinteraksi dengan lawan jenis, sehingga sangat membantu meminimalkan perselisihan.

Ya, ternyata ‘dua makhluk’ ini memang banyak bedanya. Ketika menghadapi masalah, laki-laki butuh masuk ke ”gua”nya; sedangkan perempuan, biasalah, bercerita adalah caranya untuk melepaskan ketegangan, bukan untuk mencari solusi.

Bagi laki-laki, memberi saran konkret ketika perempuan curhat adalah sebentuk dukungan, padahal dengan begitu si wanita malah merasa tidak dipahami; karena ia hanya butuh didengarkan.

Bagi perempuan, perhatian adalah sebentuk ekspresi cinta. Tapi bila laki-laki selalu diberi perhatian, ia akan risih. Perhatian-perhatian itu mengecilkan hatinya, karena ia merasa dianggap tidak mampu mengurus dirinya sendiri. Sssst, ini kita-kita aja ya, ternyata laki-laki punya kebutuhan untuk dikagumi lho. Haha, ternyata yah ^_^v

Untuk wanita: jangan cerewet memberi saran kalau tidak diminta!

Siklus emosi pria seperti karet gelang. Saat sudah dekat, ia melemas. Karena itu ia perlu meregang, menjauhkan hubungan sementara, agar ia bisa kembali dengan penuh ‘tenaga’ setelah regang terjauhnya *jadi sakit ih, kebayang keselepet karet :p. Sedangkan perempuan, siklusnya seperti gelombang (transversal, inget ga?) Naik-turun. Ketika turun, ia harus mencapai titik terendah dulu untuk bisa kembali naik lagi.

Jauh di dasar hatinya, pria mempunyai keyakinan keliru bahwa ia tidak cukup baik. Pria punya ketakutan untuk gagal. Semakin besar ia mencintai, semakin besar ketakutan itu. Dan perempuan, keyakinan kelirunya adalah ia tidak cukup layak untuk menerima, maka ia memberi terus-menerus, lalu lelah, memuncak, bisa meledak.

Di buku ini banyak sekali fakta lain tentang pria dan wanita yang saya baru tau hingga akhirnya menyadari kesalahan saya sebelumnya. Juga tips berkomunikasi yang efektif, karena ternyata pendengaran pria itu tidak sama dengan pendengaran wanita. Coba, apa bedanya ‘bisa tolongin saya bawa buku ini ga?’, dengan ‘mau tolongin saya bawa buku ini ga?’. Ternyata efeknya beda banget! Maklum saja, beda bahasa planetnya :D Maka untuk lebih informatif, baca ajaaa.. hehe.. buku penting!

Baca Juga: Populer Itu Penting

Sumber gambar: http://www.bukabuku.com/browses/product/9789796052103/men-are-from-mars-women-are-from-venus.html

Wednesday, January 25, 2012

MYELIN, Mobilisasi Intangibles Menjadi Kekuatan Perubahan

8:30 AM 2 Comments
rhenald kasali

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Professional & Technical
Author:Prof. Rhenald Kasali; 2010
Baca buku ini bikin pengen ambil Magister Manajemen / Knowledge Management deh. Hehe.. Beliau salah satu orang paling inspiratif buat saya. Seru kali yaaa jadi mahasiswanya ^_^

Mendengar kata myelin, saya langsung ingat pelajaran biologi bagian susunan sel syaraf. Myelin adalah selaput/membran sel syaraf yang membantu meneruskan informasi. Semakin tebal myelin, semakin cepat dan efektif informasi diteruskan.

Inilah yang dimaksudkan Prof. Rhenald Kasali dalam menjelaskan efek latihan yang terus-menerus (deep practice) yang akan memperkuat muscle memory, memori otot kita, yang selama ini sering kita kesampingkan dari brain memory.

Mudahnya begini. Apabila kita hanya menyimpan informasi di otak berupa pengetahuan, teori-teori, ideal, dan sistem-sistem; ketika butuh, kita perlu ‘memanggil’ dulu informasi itu, baru otak mengolah kemudian mengeluarkan perintah pada organ-organ lain yang terkait untuk bergerak. *iya kalau organ dimaksud cepat responnya. Kalau tidak? :p

Akan lain halnya bila informasi-informasi itu telah tersebar merata di seluruh tubuh –sel syaraf. Saat dibutuhkan, tubuh bisa langsung merespon tanpa menunggu perintah dan kordinasi dari otak dan anggota tubuh lainnya. Tugas pun selesai dengan gemilang :D

Nah. Myelin, muscle memory itu perlu dilatih. Bagi atlet, mungkin latihannya dengan latihan fisik yang sesuai. Namun bagi organisasi atau perusahaan, myelin perlu ditebalkan dengan melatih aset intangibles-nya, yaitu aset-aset berharga yang tak kasat mata seperti nilai-nilai positif organisasi, budaya disiplin, brand image, relationship, budaya intrapreneurship, inovasi, integritas, rela berkorban, dsb.

Buku ini banyak membahas hasil riset yang dilakukan penulis pada perusahaan nasional yang telah berhasil menggunakan intangibles-nya sebagai jembatan kesuksesan mereka. Sebut saja WIKA (PT Wijaya Karya) dan Blue Bird yang telah menjadi angkutan kepercayaan masyarakat. Selain itu Prof. Rhenald juga mengangkat banyak contoh orang dan perusahaan yang telah sukses mengelola intangibles-nya dan berhasil; seperti Susan Boyle, nenek-nenek pemenang Britain Got Talent (idol-nya english), Se Ri Pak (atlet tenis kebanggaan KorSel), Merck, Bank Mandiri, Google, Cadbury, talenta-talenta sepak bola di Brazil, hingga budaya Batik kebanggaan negeri kita.

Banyak hal penting lain yang dibahas buku ini untuk meningkatkan kesuksesan organisasi, seperti Knowledge Management yang diawali dari budaya mencatat, membangun budaya intrapreneurship, hingga mobilisasi intangibles nasional. Sebenarnya ingin sekali saya buat ringkasan karena bahasannya sangat menarik, tapi kok sulit ya menjadikannya ringkas? Hhe.. bacalah. Ini bukan hanya untuk pelaku-pelaku usaha korporasi maupun entrepreneur pemula, tapi menurut saya juga bisa diimplementasikan di manapun bidang kerja anda. Bahkan bagi anda yang bekerja di bidang pendidikan atau boleh juga untuk peningkatan kualitas pribadi anda sendiri.

Buku bagus, 2 jempol d(^o^)b

Baca Juga: Kaderisasi - Missing Link

Sumber Gambar: https://www.goodreads.com/book/show/8524163-myelin

Wednesday, January 18, 2012

99 Cahaya Di Langit Eropa

7:23 AM 7 Comments
hanum rais

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Travel
Author:Hanum Salsabiela Rais&Rangga Almahendra
Katanya ini novel, tapi menurutku bukan. “Hanya” catatan perjalanan. Perjalanan fisik, mental, dan spiritual tapinya. Canggih. Bahwa jalan-jalan bisa memberi makna yang sangat dalam pada keberimanan kita. Adalah Hanum Salsabiela Rais yang mendampingi suaminya menjalani program studi doktoral di Eropa, menemukan hidayah dan kecintaannya pada Islam yang jauh melekat dibanding sebelumnya.

Buku ini menyenangkan sekali buat saya:

Pertama, ini buku tentang traveling that I love it so much.

Kedua, buku ini tentang menjelajah Eropa where I wanna go there sometime (harusnya sih tahun ini, taappiii… :D). Buku ini menjabarkan fakta-fakta sejarah yang selama ini terkubur dari ekspos media Barat yang tidak objektif.

Ketiga, istimewanya buku ini adalah tentang Jejak Islam di Eropa. Saat peradaban emas umat manusia yang pernah ditorehkan di muka bumi terwujud beberapa ratus tahun yang lalu.

Orang Eropa begitu bangga akan sejarahnya. Saking bangganya, sedikit sekali dari mereka yang masih sudi mengakui bahwa Eropa abad pertengahan adalah zaman kegelapan Eropa yang telah mengalami ameliorasi. Tentang abad pertengahan atau zaman kegelapan Eropa sudah banyak di antara kita yang tahu (asumsi), jadi ya sudahlah yaa. Hehe..

Tahukah Anda bahwa pada awalnya, julukan “The City of Light” bukanlah sebutan untuk kota Paris yang terkenal sebagai kota paling cantik? Dan tahukah Anda bahwa di kain kerudung Bunda Maria (dalam lukisan Ugolino yang asli) tersulam kalimat Tauhid?

Dan, tahukah Anda bahwa Le Grande Mosquee de Paris (Masjid Agung Paris) pernah menyelamatkan banyak warga Yahudi dari kejaran tentara Nazi Jerman? Atau tentang bangunan-bangunan istimewa di Paris yang dibangun oleh Napoleon sengaja dibangun membentuk 1 garis lurus (Axe Historique) membelah kota Paris, ternyata lurus menghadap kiblat di Makkah?

Atau tahukah Anda, bahwa bunga tulip yang khas Belanda itu bukan bunga asli Belanda, melainkan berasal dari Turki?

Wina, Paris, Cordoba dan Granada, serta Istanbul di Turki. Nyata sekali jejak peradaban emas Islam di sana. Kini estafet itu berada di tangan kita. Kita bisa menjayakan Islam kembali di muka bumi dengan menjadi agen muslim yang baik. Yang menjadi rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya bagi sesama muslim. Yang dengannya berdakwah menyentuh dan menyucikan hati manusia.

Seperti para sahabat radhiyallahu 'anhuma yang melakukan ekspansi di bawah kekhalifahan Islam dahulu, berdakwah dengan tulus, ikhlas karena Allah bukan kekuasaan, memimpin dengan adil, dan melindungi warganya bahkan yang bukan muslim, yang menyerahkan perlindungannya pada pemerintahan Islam. Dengan cara itu justru banyak hati yang terpikat dengan hidayah, karena agen-agen Islam yang total mencerminkan agamanya.

Lagi lagi, perbaiki akhlaq kita. Dan jadilah agen-agen muslim yang baik :)

Depok, 17 Januari 2012

Baca Juga: Ruang-ruang Hati

Sumber Gambar: http://www.bukukita.com/Buku-Novel/Islam/146055-99-Cahaya-di-Langit-Eropa:-Perjalanan-Menapak-Jejak-Islam-di-Eropa.html

Dalam Dekapan Ukhuwah

7:15 AM 2 Comments
salim fillah

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Salim A. Fillah, 2010
Seperti karya Salim lainnya, buku ini sangat sarat dengan cerita dan referensi yang mendukung untuk menambah kenyamanan pembaca. Namun kali ini, saya tidak akan banyak menyarikan isi buku, supaya pada tertarik beli langsung *ngeles :D

Satu hal yang pasti ketika dan setelah membaca buku ini; saya jadi makin memaknai yang namanya persaudaraan dalam iman, ukhuwah Islamiyah. Jadi makin menyayangi saudara-saudari yang selama ini mengiringi langkah, di samping maupun di belahan benua yang lain. Dan saya semakin menyadari, bahwa saya sama sekali belum memberikan apapun pada mereka, yang tadi saya sebut, ‘saya sayangi’.

Yang jelas, selama ini saya masih senang memenangkan pendapat sendiri, atas nama kebenaran, meskipun mungkin agak mengenyampingkan perasaan orang lain. Atas ini saya mohon maaf sebanyak-banyaknya ya Saudara…

Penulis memang lahir dan tumbuh besar di Yogyakarta, daerah yang seperti Jawa Tengah pada umumnya, sangat mengutamakan kenyamanan hati orang lain. Meskipun beberapa kali saya menemukan yang berlebihan, sampai tidak berani menyatakan pendapat walaupun yakin pendapatnya benar.

Sedangkan saya, saya cenderung mengikuti karakter ayah yang dari Jawa Timur, yang cenderung tegas dan terbuka mengemukakan pendapat atau hal-hal yang menurut kami benar.

Tapi kurasa, kedua budaya itu memang ada baik dan kurang baiknya. Maka Islam menyempurnakannya. Tengah-tengah.

Bagaimana menyampaikan kebenaran dengan tetap memperhatikan kenyamanan hati saudara kita. (Ini PR saya dari dulu; suka judes. Hhe)

Yang penting, jangan ada sakit di hati orang-orang yang sebenarnya ingin kita ajak pada kebaikan.

Yang penting, seberapapun kita berbeda watak dan karakter, kemuliaan akhlaq muslim haruslah jadi acuan utama.

Perbaiki akhlaq, Nona. Karena sesungguhnya Rasulmu Muhammad saw diutus untuk menyempurnakan akhlaq. Dan kau mengaku-aku pengikutnya.

Bismillah. Mohon maaf kalau saya banyak salah.. mohon maaf dan mohon ingatkan juga kalau suatu hari di depan saya berbuat kesalahan yang sama juga.

Baca Juga: Suami-suami Jauh dari Istri

Sumber Gambar: http://www.tokobukuikhwan.com/2015/01/buku-dalam-dekapan-ukhuwah.html