Follow Us @farahzu

Wednesday, December 29, 2010

Manfaat; Nilai Di Balik Kemakmuran

2:43 PM 11 Comments
     Sedang ingat dulu waktu mahasiswa (ehm); waktu membuat visi, misi, atau tagline buat kampanye, project, maupun lembaga. Seingat yang saya pernah terlibat, hampir semuanya diilhami oleh sebuah hadits yang sudah cukup populer,
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”
(HR Bukhari-Muslim)
Itu, wajar lah ya, namanya juga mahasiswa: sukarela, memang untuk belajar, memang untuk berkontribusi, memberi manfaat. Tidak berorientasi pada profit.
     Selanjutnya, setelah lulus dan mulai membaca beberapa profil perusahaan, saya sangat tertarik dalam mencermati visi, misi, dan nilai-nilai yang melandasinya. Ternyata kebanyakan perusahaan bukan bertujuan profit material semata lhoh. Seolah menemukan benang merah, saya menyimpulkan bahwa ternyata perusahaan-perusahaan besar itu memiliki visi untuk memberi manfaat bagi kehidupan manusia.
     Baiklah kita ambil contoh Panasonic (ideas for life). Mereka didasari oleh misi sebagai berikut:
Panasonic generates ideas for life… today and tomorrow. Through innovative thinking, we are commited to enriching people’s live around the world. (http://panasonic.co.id/web/tentangpanasonic/panasonicideasforlife)
      Atau Starbucks dengan misinya menyuguhkan secangkir kopi hebat kepada dunia. Bagi sang CEO, prinsip membangun sebuah perusahaan dengan jiwa sangat melekat dalam hati dan pikirannya. Prinsip ini yang membuat Howard Schultz, CEO Starbucks saat itu, sangat memperhatikan kesejahteraan pegawainya. Setiap pegawai, tetap maupun tidak tetap, berhak mendapat tanggungan kesehatan komprehensif, termasuk pasangannya.
      Terhadap petani yang meningkatkan standar kualitas, kepedulian lingkungan, sosial dan ekonomi, Starbucks menghadiahinya status ‘pemasok pilihan’ dan membayar kopinya dengan harga tertinggi. Dampaknya, petani Kolombia lebih suka menanam kopi daripada koka (bahan kokain yang merusak masyarakat). (sumber: Spiritual Company, Ary Ginanjar Agustian). Ckck.. mantap ya..?
     Jadi, tujuannya bukan untuk menjadi perusahaan yang terunggul atau menjadi yang terbesar… mungkin ambisi untuk itu ada, tapi tetap landasan utamanya adalah untuk ‘memberi’, bukan ‘menjadi’. Visi manfaat itulah yang mendorong inovasi terus-menerus sehingga perusahaan itu berkembang pesat. Lalu dipercaya oleh publik. Akhirnya trust juga yang membuat konsumen dan masyarakat jadi loyal.
     Visi manfaat itu juga yang mungkin mendorong para pegawainya untuk semangat bekerja: karena mereka menemukan makna dari pekerjaan mereka, bukan sebatas penggugur kewajiban. Visi manfaat adalah hal utama yang membuat perusahaan terus berkembang. Menjadi perusahaan terbesar? Itu hanya efek samping yang akan mengikuti dengan pasti. ^_^
    Dalam lingkup pribadi, menyitir kata-katanya Oki Setiana Dewi, ia menjadi lebih bermakna ketika mengubah prinsip hidupnya; dari menjadi yang terbaik, jadi 
melakukan yang terbaik
Menjadi yang terbaik, ia akan melakukan apa saja, termasuk bersaing ketat dan bisa saja saling 'senggol' dengan orang lain alih-alih saling membahu menghasilkan yang terbaik. Tapi melakukan yang terbaik, ia sama akan mengerahkan usaha terbaiknya, selain itu, ia juga dapat bersinergi dengan orang lain.
    Memang lebih meniadakan ke’aku’an, tapi akan lebih bernilai di mata Allah. Insya Allah.
Setiap perbuatan baik adalah sedekah (HR Bukhari, no.6021)

Inspired by:
Tim PSAU BBM (Bersama Beri Manfaat)
BEM UI 2009 (BEM Kita, Bergerak Bersama, Bermanfaat Bagi Semua)
Spiritual Company; Kecerdasan Spiritual Pembawa Sukses Kampiun Bisnis Dunia (Ary Ginanjar Agustian)

Wednesday, December 22, 2010

Keluarga dakwah; berurat-berakar

8:40 PM 13 Comments

Rasulullah saw pernah bersabda,
“Sebaik-baik sahabat adalah, orang yang bila engkau melihatnya, menjadikanmu mengingat Allah” (Alhadits)
Barang siapa yang ingin dimudahkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya dia bersilaturrahim” (Muttafaqun ‘alaih)
        Nah. Saya punya cerita tentang sebuah keluarga. Keluarga sepupu saya, dengan abi, ummi, dan 4 orang anak (2 laki-laki, 2 perempuan). Beberapa kali (cukup sering) saya mengunjungi keluarga ini: mampir, sengaja berkunjung, atau menginap. Beberapa kali itu pula saya menemukan SPBI (stasiun pengisian bahan bakar iman), dan biasanya tepat ketika iman sedang turun. Akan saya ceritakan 2 saja.
        Saya menyetujui benar-benar, bahwa tombo ati yang paling mudah adalah berkumpul dengan orang-orang soleh. Suatu sore, saya datang ke rumah keluarga itu, menemani anak-anak bermain dan belajar. Menginap. Pagi-pagi sekali, sebelum subuh, sepupu saya dan suaminya sudah bangun dan ‘mulai sibuk’. Ba’da subuh, barulah saya ikut nimbrung di dapur, membuat sarapan.
       Sayup terdengar dari dapur, dari dalam kamar yang mana entah, keponakanku yang waktu itu baru kelas 4 SD kalau tidak salah, sedang murajaah hafalan quran bersama abinya. Sang ummi yang bersamaku di dapur ikut melantunkan bacaan surat itu. Sedihnya, hanya aku yang diam; bukan cuma tidak hafal, bahkan aku tidak tau mereka sedang membaca surat apa… hiks.. kalah sama bocah...
        Akupun kembali dengan tekad menyala… \(^o^)/
      Contoh kedua belum lama ini terjadi. Aku datang tidak untuk menginap. Ketika ummi dan abinya sedang menerima tamu, aku agak terpana melihat keponakanku yang berusia 5 tahun sudah lancar menyalakan komputer dan menyetel VCD, tanpa bertanya sedikitpun. Lalu menonton dan ikut berbicara (doi hafal dialognya bo). Ckckck…
      Filmnya tentang kisah raja Thalut, nabi Daud as, dan Jalut. Aku duduk di sampingnya, ikut menonton. Alih-alih menjelaskan atau membimbing anak itu, aku malah asik sendiri dengan kisah itu; tentang keimanan yang sempurna, kekuatan tekad, dan keyakinan penuh pada Allah sehingga mampu mengalahkan musuh.
Terutama tentang mujahidun li nafsihi. Memerangi hawa nafsu sendiri.
     Beuh. Benar-benar merasa tertampar telak. 2-0. Belum termasuk yang tidak ikut saya ceritakan.
     Mungkin mereka (apalagi anak 5 tahun itu) tidak sadar, bahwa yang biasa tampak dari mereka sudah mampu membuat orang ingin bertaubat. Mungkin juga mereka tidak bermaksud untuk memberi contoh atau ‘tamparan’ buatku, tapi hanya dengan melihat mereka saja, rasanya aku benar-benar faqir…
Allaahu akbar
Ga anak, ga orang tua, sama aja:
Da'i

Baca Juga: Lo Harus Tetap PIntar

Tuesday, December 14, 2010

ruang-ruang hati

8:21 PM 8 Comments
Tadi saya naik bis. Ketemu orang yang mirip banget sama Mas Pur. Mas Pur itu karyawan di fakultas saya, dulu sempat kerja bareng, waktu beliau masih jadi staf kemahasiswaan fakultas dan saya di Dept. Kemahasiswaan bem fakultas. Kami pernah jadi single fighter di waktu yang bersamaan, mengurus hal yang sama, urgen pula. Akhirnya jadilah kami merasa sehati waktu itu, merasa teraniaya. *lebay.
Hingga karena satu dan lain hal, beliau dipindahkan ke bagian humas fakultas. Aku dan terutama deputiku, sedih pisan menerima kenyataan bahwa bukan beliau lagi yang menjadi partner kami membantu mahasiswa. Setiap papasan, kami jadi melankolis dan, mungkin lebay, berkaca-kaca.
Di kemahasiswaan, Mas Pur digantikan oleh Pak Lili. Kalau aku sedih Mas Pur dipindah, beliau selalu bilang, ‘Pak Lili juga baik kok’. Aku tahu Pak Lili baik, tapi kan Pak Lili bukan Mas Pur (bocah banget deh mikirnya).
Nah. Setelah itu, aku magang di mahalum (kemahasiswaan dan hubungan alumni) psikologi. Kerja bareng langsung sama Pak Lili selama hampir 1 tahun. Ya, Pak Lili memang bukan Mas Pur, tapi aku bersyukur pernah mengenal dan bekerja dengan beliau. Seperti dengan Mas Pur.
***
Dulu waktu SMA, aku punya mentor. Mentor pertama yang bertahan setelah beberapa mentor sebelumnya bingung karena sistem yang belum rapi. Beliau lembuuuttt sekali. Cantik dan baik hati. Tidak pernah marah. Hingga suatu saat, ia harus digantikan karena jadwal kuliahnya tidak memungkinkan untuk bolak-balik ke SMA. Kami pun bersedih. Lalu inisiatif mencari mentor baru. Dapat.
Mentor yang ini, beda banget sama yang sebelumnya! Beliau tegas, tidak lembut dan bikin ikhwan naksir seperti mentor sebelumnya, dan, galak. Beberapa bulan pertama, aku masih berpikir, “Aku masih akan mentoring, tapi mentorku yang pertama tak kan pernah bisa tergantikan di hati kami”.
Waktu pun berjalan. Ternyata, akupun mencintai mbak yang ini, seperti apa adanya dia. Yang sama sekali berbeda dengan ‘mbak ideal’ mentorku sebelumnya. Waktu pula yang membawa hatiku menyimpulkan, “Mbak ini mengambil tempat yang lain di hatiku, dengan caranya sendiri”.
***
Teman, bahwa ternyata hati kita punya banyak ruang, sudahkah kita menyadari? Ada banyak orang di sekitar yang kita sayang atau sukai. Coba perhatikan, apakah mereka semua sama dan setipe dalam sifat dan karakternya? Apakah mereka semua memperlakukan kita dengan cara yang seragam?
Karena hati kita punya banyak ruang, tidakkah seharusnya kita menjauhkan prasangka terhadap orang lain yang belum kita kenal baik? Tidak juga membandingkan dengan orang yang sudah-sudah. Mereka ternyata bisa menempati ruang-ruang itu dengan cara mereka masing-masing, yang berbeda. Karena hati kita punya banyak ruang, bukankah seharusnya meluaskan pandang dan hati agar tidak sesak? ^_^ 

ujung sumatera 2010

5:02 PM 0 Comments

dijepret dari selasar selatan MUI

pertama kalinya menginjakkan kaki ke sumatera, meskipun hanya ujungnya saja. Alhamdulillaah, ada kesempatan sambil datang ke walimah teman, dadan dan etha ^_^
barakallaahu laka, wa baraka 'alaika, wa jama'a bainakumaa fii khaiirr..

*by: canon eos 450D

Wednesday, December 8, 2010

Mucil’s Diary

7:50 PM 10 Comments
Bismillah
Buat aku hari ini bersejarah. Untuk pertama kalinya dalam hidup, menyaksikan orang bersalin secara langsung (meskipun ngintip-ngintip).
Bermula saat menemani kawan baikku yang akan bersalin di rumah sakit ibu dan anak dekat rumahku. Waktu itu temanku itu baru bukaan awal, mulesnya masih jarang, jadi masih nyantai. Awalnya pas aku datang, dia ditemani kakaknya. Lalu kakaknya pulang, suaminya datang. So sweet deh. Suaminya itu teman sekelasku, dan aku ga pernah tau dia bisa ‘seromantis’ itu (halah). Jadi waktu istrinya kontraksi dan kesakitan, tiba-tiba dia bicara sesuatu yang awalnya ga nyambung, “Lagi di tattoo tuh kakinya”. Mengernyitlah alis kami, “Hah, tattoo??” kupikir kaki bayinya..apa hubungannya? Ternyata ia melanjutkan, “Sedang ditattoo surga di kakimu”.
Hhooooooohhh…. Aku t e r h a a r r r u u u w w w ….
Jadi di rumah sakit itu, ruang bersalinnya tuh digabung beberapa pasien dalam satu ruangan. Eh.. pasien tepat di sebelah temanku yang hanya dipisah oleh tirai, waktu persalinannya tiba, bukaannya sudah sempurna. Ya jelas terdengarlah semua erangan, jeritan kesakitan, dan setiap nafas kencang yang diembusnya, juga instruksi dokter, dan kesibukan para perawat.. Duh, akunya jadi ngeri, temenku juga stress dengernya. Akhirnya dia mengalihkan pikirannya dengan nyetel murattal dari hape.
Alhamdulillah ga lama, bayinya lahir. Legaaa… padahal bukan siapa-siapaku. Trus waktu kudengar sayup-sayup sang ayah melafadzkan azan di telinga bayi itu, jadi terharu ajah gituh. Trus kusingkap sedikit tirai, lalu kurekam deh pake hape. Hehe.. lumayan, mudah-mudahan jadi pengingat betapa bersihnya aku dulu, dan penyemangat untuk senantiasa kembali ke fitrah. Yuk…
*sampai siang, temenku belum ada kemajuan, dokter yang mau meriksa bukaannya pun belum dateng-dateng. Sedang panggilan dari rumah sudah berdering. Aku pulang dulu ya… Padahal ingin sekali menangkap momen temanku sendiri (si ayah) yang melafadzkan azan di telinga mujahid kecilnya, trus mau aku upload ke fesbuk (haha..). Tapi sayang, aku hanya sempat mengambil gambar dia sedang menyuapi istrinya (which is temanku juga) makan siang, sepiring berdua. Aih, aih, ngambil gambarnya aja ngumpet-ngumpet pas udah mau pulang.^_^
Ya Rabb, selamatkanlah keduanya...

Thursday, December 2, 2010

Mengayuh Sepeda Hidup

9:08 PM 0 Comments
*berusaha mencari contoh majas alegori yang sejak guru SMA saya sekolah hanya satu itu saja (mendayung bahtera hidup). Hehe..

     Baiklah kita mulai dari belajar bersepeda, roda dua. Ketika mulai oleng, bukan untuk menjejak tanah kita belajar, melainkan apa yang kita lakukan? Mengayuh. Terus saja mengayuh. Maka kita akan lupa dengan oleng itu, lalu kita maju. Atau ketika mengendarai motor di jalanan berbatu yang juga membuat oleng, apa yang kita lakukan? Menarik gas. Tetap saja. Bukan berhenti atau memperlambat.
      Maka begitulah hidup, kawan *sok tuir bener ya gue*. Kerikil masalah akan selalu ada. Kadang membuat kita oleng dan hampir terjatuh. Tapi hidup harus tetap berjalan, sampai tiba saatnya ruh keluar dengan senyum kemenangan. Jangan berhenti.
      Sebenarnya maksud tulisan ini bukan di situ sih. Melainkan pada apa yang menjadi fokus kita. Kalau dalam mengejar tujuan kita menemui masalah, selesaikan, tapi jangan terfokus pada masalah itu. Tetap fokus pada tujuan kita  di depan. Tetap mengayuh dan menarik gas untuk maju, bukan berusaha bertahan stabil menghadapi batu-batu yang membuat oleng itu.
      Kita ambil saja contoh di kelompok/organisasi. Kelompok/organisasi yang produktif biasanya jarang disibukkan oleh masalah-masalah yang sebenarnya (maaf) remeh, tidak signifikan terhadap tujuan yang ingin dicapai. Misalnya perasaan sakit hati, tidak nyaman dengan anggota lain, dsb. Kenapa?
     Karena mereka telah disibukkan untuk bergerak. Maka tidak ada waktu lagi untuk mengurus hal remeh-temeh.
    Dalam hidup, kita (harus) punya tujuan. Atau target dan keinginan-keinginan. Nah, kalau pikiran dan raga kita disibukkan oleh kerja-kerja penting dan relevan demi mencapai tujuan itu, maka kita tidak akan repot memikirkan masalah-masalah yang mungkin saja tampak besar, namun sebenarnya tidak benar-benar menghalangi tujuan besar kita. Kalau ada ketakutan tidak bisa mencapai tujuan, kejarlah tujuan itu lebih keras dan sungguh-sungguh, tak perlu kita pikirkan ketakutan itu. Jangan fokus supaya tidak oleng, kayuh saja, tarik saja gasnya! Yang penting maju dan rintangan ‘jalan berbatu’ itu usai.
      Yang kita perlukan adalah tetap fokus pada tujuan dan senantiasa bergerak. Insya Allah ‘penyakit-penyakit’ akan sendirinya menjauh. Karena diam itu mematikan ternyata. Gerakan anti malas. Hehe..

Wednesday, December 1, 2010

Mengapa kita selalu senang bila bertemu dengan orang yang mirip dengan kita?

10:34 AM 11 Comments
Saya punya kembaran (ketemu gede). Kami sama-sama akhwat 640L yang (agak) tomboy dan sedikit caur (tapi tetap manis, haha,boong). Gaya bicaranya mirip. Sama-sama bungsu, suka travelling dan aktivitas menantang yang menstimulasi adrenalin, punya selera dan kriteria yang sama tentang calon pendamping, bahkan yang rahasia sekalipun. Kami beda kampus, tapi amanah selama di kampus ternyata sami mawon. Cologne yang kami suka pun sama, bunyi sms di handphone kami sama tanpa disengaja, bahkan kami punya biskuit favorit yang sama waktu ngekos, tentu saja di kosan masing-masing. Orang kampusnya aja beda daerah. Padahal kami juga tidak dekat waktu SMA, apalagi waktu SMP. Dan kami baru menyadari waktu foto berdua, ‘ih, mirip jugaaa!!’
Uhmm.. kenapa ya, saya selalu senang bertemu dengan dia, ‘kembaran’ saya itu, menemukan persamaan-persamaan lain lagi, lalu excited sekali dengan itu. Kenapa kita selalu senang menemukan persamaan dengan orang lain? Apakah itu berarti kita masih terlalu cinta dan tertarik dengan diri kita sendiri?
Mungkin di alam bawah sadar yang tidak kita sadari (halah), ya, jujur saja, mungkin masih terlalu cinta pada diri sendiri. Kalau kita sudah ‘selesai’ dengan diri dan benar-benar menaruh minat pada orang lain, bukankah lebih linear kalau kita lebih senang menemukan perbedaan-perbedaan pada diri orang lain?
Untuk kamu yang aku sayang,
Aku gak tau kita sama gombalnya atau ngga
^_^

Allah menyayangi kita dengan 2 cara

10:31 AM 14 Comments
Kalau ada yang mengumpamakan hidup itu ibarat sekolah, mungkin ada benarnya. Di sekolah ada guru, buku, teman-teman, belajar, ujian, nilai, dan sebagainya. Begitupun dengan hidup. Ada tuntunannya, ada ‘guru’nya, orang-orang di sekeliling, ada belajarnya, ada pula ujian dan hasilnya. Maka katakan, sekolah mana yang lebih lama waktu ujiannya dibanding waktu belajarnya?
Hitam putih jalan hidup, pahit getir warna dunia,
tangis tawa rasa hati terluka atau bahagia
Bersabarlah sementara, setiap duka tak abadi
Semua wajah kan diuji, pada Allah kita kan kembali
 (Opick, Di Bawah Langit-Mu)

Jadi, kalau di antara kita pernah mengalami ujian yang sangat berat, yang membuat kita (hampir) putus asa, bahkan mungkin ada yang sampai terlintas untuk menyudahi hidup, kini sadarilah, bahwa ujian berat itu tanda Allah sayang pada-Mu. Layaknya Ayyub as yang ditimpa penyakit bertahun-tahun, lalu ia berdoa pada Rabbnya,
“dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “Ya Tuhanku, sungguh, aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” (QS: 21: 83)
Ujian itu tanda Allah sayang padamu…
Tapi kalau setelah kita merenung dan mengingat-ingat, ternyata yang kita hadapi dalam hidup sampai saat ini tampak senang-senang saja, lapang-lapang saja, selalu mampu mengatasi masalah, tenang, itu bukan tanda Allah tidak sayang padamu, dengan membiarkan hidupmu lapang tanpa ‘ujian’. Justru, itulah cara Allah menyayangimu, kawan. Justru itulah ujiannya. Sebagaimana jalan Sulaiman as yang dengan segala kenikmatan hidupnya, berdoa pada Tuhannya,
…“Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS: 27: 19)
Nah. Ujian jenis ini bahkan lebih banyak membuat orang lalai, lupa bersyukur, lalu sombong, kufur. Na’udzubillaah..
Ujian kesulitan seringkali mendekatkan kita pada Allah, mengembalikan kita pada fitrah. Untuk ‘shalih’ kembali. Karena kita butuh lebih kuat dalam menghadapinya, maka memintalah kita pada Sang Maha Kuat. Namun ujian kelapangan, atas mudahnya hidup, seringkali menggelincirkan kita dari fitrah, merasa tidak sulit, merasa tidak butuh tambahan kekuatan, maka tidak meminta, kemudian menjauh.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw menyebutkan bahwa sungguh indah urusan umat Islam. Apabila ia ditimpa kesulitan ia bersabar, dan apabila ia mendapat nikmat, ia bersyukur. Ujian pertama mengajari kita untuk bersabar, ujian kedua mengajari kita bersyukur. Tidak ada alasan untuk berkeluh kesah \(^_^)/
Bekasi Express, Nov 29 2010
(parafrase materi training ^_^)

Thursday, November 18, 2010

Kangen Pak Wardi

8:11 AM 5 Comments
        Setiap lebaran, setiap kali takbir menggema di masjid kami, rasanya telingaku selalu mendengarkan suara empuk yang sama setiap tahun. Suara empuk yang sama, dan sangat mengayomi. Atau setiap kali lebaran dan ada kegiatan di masjid seperti kali ini, aku telah terbiasa dengan keberadaannya, berpikir beliau masih ikut aktif bersama kami, sibuk mondar-mandir dengan ketegasan dan kehangatannya. Hingga beberapa tahun belakangan, aku harus menyadarkan diriku sendiri, oh iya, itu bukan Pak Wardi.

"Kenapa ya, orang baik suka dipanggil lebih cepat?"
"Entah, mungkin Allah sudah rindu"

     Hhh.. Demikian kataku, teman-teman, dan ibu-ibu ketika berbincang sambil istirahat menunggu sapi berikutnya. Berbincang tentang kerinduan yang sama untuk Pak Wardi. Tentang ketidaksadaran kami bahwa beliau telah meninggal bertahun-tahun lalu, karena itu tadi, kami masih merasa beliau ada, bersama kami. 
      Jujur ketika mendengar berita kematiannya, aku tidak terlalu sedih. Aku malah setengah tidak percaya bahwa beliau telah meninggal. Rasanya sama, beliau masih akan membersamai kami di setiap kegiatan masjid. Tenang saja, seperti yakin kalau suara beliau masih akan membersamai panggilan demi panggilan di masjid kami. Takbir, shalat, berita duka, acara syi'ar Islam, remaja masjid...
      Suhro Wardi. Ialah tetangga kami, rumahnya di depan masjid, identik dengan kegiatan masjid, lekaaatt sekali di hati warga RW kami. Sejak aku kecil. Siapa tidak kenal Pak Wardi di sini. Ia belum jadi pak haji, hingga ia wafat dengan kerinduan memuncak menjadi tamu Allah. Hingga kini, entah apa saja yang telah ia buat selama hidupnya, setelah bertahun lewat kepergiannya, ia masih terasa hadir bersama kami, terdepan memakmurkan masjid. Merapikan shaf shalat. Menegur anak-anak yang berisik di waktu shalat. Dan suaranya ketika takbir hari raya, ahh, sungguh kami rindu...
 Ya Allah, ampunilah dosa-dosa beliau, lapangkan dan terangilah kuburnya. Berikan tempatnya yang mulia di sisi-Mu, Rabb.. Aaamiin

Tuesday, November 2, 2010

tak pernah ada harga mati untuk sebuah kekurangan

3:16 PM 8 Comments
*Pelajar; Pengangguran Banyak Belajar*
Sekilas, judulnya tampak okei ya? Tapi sebenarnya ini hanya cerita tentang perjalanan pembelajaran saya selama bertahun-tahun. Yah, begitulah saya, seringkali agak lama untuk menguasai suatu hal. Haha… Yang penting kan mau belajar *ngeles. Yap, ini tentang memasak.
Saya belum bisa masak. Tapi, tidak sebelumbisa sebelumnya sih (apa sih). Seperti yang pernah saya ceritakan, sangat sulit bagi saya untuk bisa membuat masakan sendiri yang enak. Semua orang bilang, “nanti juga bisa, yang penting mau belajar”. Ya, saya pun menanamkan kata-kata itu di lubuk hati saya yang terdalam *lebay. Tapi. Saya sempat hampir putus asa sebenarnya, karena kekurangan saya bukannya tidak mau belajar, melainkan pada fisik: lidah saya sangat tidak peka terhadap rasa. =_=”
Suatu saat, orang tua saya pergi ke luar kota selama beberapa hari. Jadilah saya yang sedang tidak ada pekerjaan tetap, tiba-tiba iseng, berkeinginan untuk belajar mengurus rumah seluruhnya. Belajar jadi ibu rumah tangga, hahay! Termasuk masak-masak.
Pada suatu pembicaraan telepon, ibu saya meyakinkan, suatu saat nanti pasti saya akan bisa masak, lebih baik dan lebih enak dari beliau (saya sangsi sebenernya). Beliau mengingatkan tentang diri saya sendiri: meskipun lama bisanya, tapi karena tekun, biasanya malah lebih berhasil daripada yang bisa menguasai lebih cepat. Beliau semakin membuat saya terharu dan menitikkan air mata (lebay, tapi ini beneran) saat bilang, justru penghargaan terhadap sulitnya proses itu yang membuat saya semakin berusaha dan lebih berhasil (hwaaaa!! Hikshiks..).
Hari pertama, saya mengundang teman untuk menginap. Paginya, membuat sarapan. Lebih karena ‘kewajiban’ karena kakak saya mau ngantor, plus ga yakin hasilnya enak, menghasilkan masakan yang agak aneh rasanya. Kebanyakan bawang putih. Untungnya kakak saya tidak sempat sarapan pagi itu. Haha,, dudul ya gue...
Esoknya, saya membuat sarapan lagi. Kali ini yakin, “enak, insya Allah”. Hasilnya, jengjeeeennggg!!! Enak! Apalagi kakak saya sempat sarapan, dan ngasih 2 jempol. Alhamdulillaah ^_^ Di hari itu juga saya memasak yang lain lagi untuk dibawa ke tempat saudara. Alhamdulillaah, bahagia banget rasanya waktu orang-orang menjawab ‘gak ada yang aneh kok’, ketika saya tanya. Itu baru ‘tidak ada yang aneh’, belum saya tanyakan enak atau tidaknya. Ah, tidak aneh saja sudah membuat saya sangat senang ;)
Besoknya, entah saya jadi keranjingan ‘kepercayaan diri’ untuk memasak. Karena itulah kuncinya. Kalau kita ragu akan hasilnya, ternyata masakan malah merefleksikan keraguan itu menjadi ‘rasa yang aneh’. Pede ajee..hehe…
Lalu saya pergi, baru pulang sore harinya. Dan…terharu waktu liat piring saji kosong… masakan saya dilahap habis.. hiks.. alhamdulillaah…
Ah, ini mah curcol pisan. Sebenarnya intinya ya seperti di judul itu, “Tidak pernah ada harga mati untuk sebuah kekurangan”, selama kemauan untuk belajar itu masih ada.
Kemauan, untuk belajar. 

Sunday, October 24, 2010

asal jepret

5:47 PM 8 Comments



maksudnya asal jepret, asal aja memotret apa yang tampak menarik. Jadi ini semua hasil jepretan saya yang sangat asal itu. Tanpa editan *ada sih, dikit, yaa, 2-3 foto lah. Itu juga amatiran pisan. haha..

ada yang pake kamera profesional, ada juga kamera digital. tapi banyak juga yang pake kamera hape.

Campur-campur.. Dari tahun 2004 tampaknya

Friday, October 22, 2010

Cerita Nelayan (vs Karyawan)

9:36 AM 11 Comments
Membaca buku tentang perjuangan para guru di pelosok-pelosok nusantara, saya jadi teringat akan sebuah perjalanan di tengah tahun 2009 lalu. Di blog ini, judulnya Trip to Skrip (si). Ya, perjalanan saya seorang diri, ngebolang, mengikuti saran pembimbing skripsi saya yang waktu itu masih ‘mbak’ Ninik L. Karim (pamer, =D), untuk menghabiskan waktu sehari atau setengah hari dengan masyarakat Marunda yang ingin saya teliti. Supaya jelas apa masalah yang mereka hadapi. Supaya jelas manfaat skripsi saya nantinya.
Jadilah, berbekal petunjuk jalan dan angkot dari teman yang tinggal di sana, saya menuju Marunda dan akhirnya sampai setelah hampir putus asa (biasa, nyasar). Seperti, memasuki Cagar Budaya. Hingga sampailah saya di suatu warung, basa-basi beli sesuatu (lupa apaan), sambil nanya-nanya (baca: wawancara) pada ibu pemilik warung.
Alhamdulillah seperti yang saya harapkan, perbincangan ringan itu membuat ibu pemilik warung bercerita banyak tentang masyarakatnya. Tentang mata pencaharian warganya yang nelayan, tentang kesadaran atas pendidikan yang masih minim, hingga tentang bagaimana warungnya laku di sana. =,=”
Beliau telah lama membuka usaha warung. Sebelum di Marunda pesisir seperti sekarang, ia pernah juga membuka warung di Marunda ‘yang bukan pesisir’ (apa ya, saya lupa nama daerahnya), yang sudah lebih ‘kota’ dan kebanyakan warganya adalah karyawan. Menurutnya, meskipun taraf hidup masyarakat di pesisir lebih rendah daripada di ‘bukan pesisir’, namun usaha warungnya lebih maju di pesisir. Katanya, penduduk pesisir yang nelayan malah lebih royal dan lebih banyak jajannya dibanding yang ‘bukan pesisir’ dan karyawan. Awalnya saya sempat bingung dan tidak habis pikir.
Lalu ibu ini menjelaskan.
“Iya Neng, kalo nelayan kan dapat uang tiap hari, jadi ga mikir besok makan apa, besok makan apa,
jadi yang didapat hari ini ya untuk hari ini aja.
Kalau karyawan beda, mereka dapat uang sebulan sekali, jadi harus ngatur uang”.
Ow, di sini kuncinya. Lebih lanjut beliau menjelaskan hipotesis pribadinya. Justru karena setiap hari dapat uang itulah, masyarakat nelayan lebih royal dan merasa tidak perlu mengatur uang. Hal itu juga yang membuat masyarakatnya selalu merasa miskin untuk sekolah, karena tidak pernah punya uang tabungan. Padahal, setiap hari anak-anaknya banyak jajan.
Bukannya saya ingin membagus-baguskan karyawan dibanding yang bukan karyawan, apalagi menjelek-jelekkan nelayan. Nelayan yang independen, tidak bergantung pada orang lain, hanya bergantung pada laut dan alam (harusnya pada Allah). Hanya ingin mengangkat sisi lain dari sebuah realita masyarakat. Bahwa tidak selalu kemampuan untuk mengenyam pendidikan berbanding lurus dengan kemiskinan dan gaya hidup, walaupun yang seringkali terjadi adalah demikian. Kemampuan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan, kadang kala juga dipengaruhi oleh keinginan kuat masyarakat itu sendiri, untuk mendapatkan pendidikan demi cerahnya kelanjutan hidup generasi berikutnya.
Keinginan kuat masyarakat untuk mendapatkan pendidikan.
Bekasi, 22 Oktober 2010
Baca Juga: BPH On Vacation: Ciamis!

Monday, October 18, 2010

homo homini lupus

9:43 AM 14 Comments
HOMO HOMINI LUPUS
Ini bukan puisi,


Ini tentang Jakarta yang semakin mengancam penduduknya.
Tentang kemacetan yang membuat pengguna jalan menyerah pasrah ditawannya, ikhlas mengidap berbagai psikopatologis potensial.
Tentang anehnya segelintir orang, yang mengeluh karena macet dan terlambat masuk kantor, padahal ia, seorang diri saja, mengendarai sebuah mobil

Ini juga tentang jalanan yang amblas dan permukaan tanah yang terus turun
Karena air tanah dipaksa naik tanpa ada batasan
Boros sekali kita mandi dan minum, ya?

Ini tentang polusi yang kian menyumbang jumlah penderita autisma karena timbal yang dihirup ibu-ibu hamil
Yang mengurangi kapasitas paru-paru manusia modern karena mulai terbiasa dengan masker

Tentang bencana yang kian populis, semakin kerap melanda negeri

Tentang Wasior yg kehilangan ratusan penduduknya dalam banjir bandang karena sisa hutan tak sanggup lagi melindungi
Tentang Morowali yang menangis karena longsor dahsyat mengantar maut banyak warganya
Tentang lumpur, kabut asap, banjir yang meluas, sampai sabotase terbakarnya kereta dan chauvinisme berujung perang.
Belum lagi masalah social dan politik yang, errrrr...

Homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi sesamanya.
Lupus
Saling terkam dalam nafsu dan kesenangan pribadi
Bukan hanya berujung pertengkaran, tapi juga yang konon disebut 'bencana alam'

Homo homini lupus
Telahkah manusia sadar, betapa mudahnya merenggut nyawa ratusan orang hanya dengan menebangi hutan seenak hati?

Homo homini lupus
Telahkah manusia sadar, penderitaan penyandang autisma dan gangguan pernapasan yang makin marak kini, bahkan cuaca ekstrim menimbul horor, adalah karena ulahnya?
Mengemudi kendaraan bermotor pribadi ke mana-mana, meskipun hanya seorang diri, atas nama kenyamanan?

Efek rumah kaca, homo homini lupus.

Atau bermandi kemewahan dengan air dan listrik berlebih atas nama modernitas dan 

gaya hidup

Karbon dioksida, metana, cloro fluoro carbon, memerangkap panas bintang
Mencairnya kutub dan tenggelamnya benua, homo homini lupus 
Global warming, perubahan iklim, homo homini lupus





save our earth 

Wednesday, October 13, 2010

Betapa Kita Kaya; hanya dengan sinergi

5:12 PM 8 Comments
Ini hanya tentang sinergi lintasan pikiran. Belum sampai pada sinergi potensi individu apalagi material.
                Alkisah, suatu hari saya mengisi sebuah daurah di STP (Sekolah Tinggi Perikanan), Jakarta. Tentang sebuah materi (sampai sini masih rahasia). Saya terbiasa untuk tidak menyebutkan tema di awal, melainkan mendahuluinya dengan sedikit teka-teki. Kali ini gambar.

 Apa yang terlintas dalam pikiran anda kalau melihat gambar ini?
Audiens menjawab satu-satu,
“antri”,
“gak nunggu teman, ga solider”,
“berusaha keras”
“migrasi”, dan lain-lain.
Kalau kamu, teman?
Sayang tidak ada yang mewakili maksud saya. Di pagi menjelang siang itu, selanjutnya saya berbicara tentang, leadership.
                Cerita lain. Pernah dalam sebuah mentoring di SMA, saya memutarkan sebuah video di awal, sebelum saya menyebutkan materi apa yang akan dibahas hari itu. Sama, saya juga meminta adik-adik manis itu menyebut apa yang terlintas dalam pikiran mereka. Jawabnya,
“hebat”
“luar biasa”
“saling mempengaruhi”
“meski beda meja tapi tetap kompak”
“berkesinambungan”
“langkah kecil yang berefek besar”
Luar biasa jawaban mereka. Padahal yang saya maksud hanya, cermat.
Demikian banyak ternyata, ide yang beragam di dalam kepala-kepala kita. Andai saja kita sering berdiskusi, bertukar pikiran untuk menyelesaikan permasalahan hidup, organisasi, bahkan ummat, masalah-masalah itu akan lebih mudah dan ringan diselesaikan. Karena ada banyak jalan keluar yang ternyata mungkin, menunjukkan (seperti dalam lagu ‘Ya Sudahlah’),
“kau dan aku tau, jalan selalu ada”
Maka itu, dear ummat Islam,
Bersatulah, mari jalin ukhuwah,
KITA KAYA

Thursday, September 30, 2010

membangun imunitas, bukan menjaganya tetap steril

10:36 AM 18 Comments
*menyelesaikan tulisan ini sulit. Takut ada yang tersinggung, dan takut sulit membawa pikiran pembaca seperti alur pikiran saya.. bismillaah.. Saya tidak menulis untuk membanding-bandingkan kadar keimanan. Tulisan ini hanya tentang fenomena*
Suatu siang yang terik dalam perjalanan mengais rezeki ^_^, saya dan 2 orang teman (mahasiswa UI ‘swasta’) naik angkot yang melewati kampus UI Negeri (UIN). Berdasarkan informasi dan rumor sana-sini, kampus yang dulunya bernama IAIN ini di dalamnya lebih liberal dibandingkan dengan kampus umum seperti UI, IPB, UNJ, dsb. Padahal, kebanyakan mahasiswanya dulunya adalah santri yang mondok bertahun-tahun di pesantren. Nah, dari situ, kami berdiskusi tentang imun dan steril.
Sobat kecil saya yang dulu sempat kuliah 1 semester (atau 1 tahun, lupa) di sana, pernah bercerita tentang kampusnya. Katanya, “Di kampus gue nih Far, UI Negeri —lo swasta kan? *aih*—ga jelas mana teman mana musuh. Kalau kita teriaknya ‘Allaahu Akbar’, musuh kita teriaknya ‘Allaahu Akbar’ juga! Jadi setres gue…” Konon banyak juga pemikir liberal yang jebolan sana. 

Balik lagi ke kami, di angkot siang itu, jadi menyambung-nyambungkan fakta tersebut. Di kampus kami, UI ‘swasta’ dan PTN-PTN lainnya, kebanyakan latar belakang mahasiswanya adalah sekolah umum. Tapi alhamdulillaah tidak dikenal sebagai liberal. Ada yang pesantren, tapi tidak banyak. Sebaliknya, ‘UI Negeri’ punya banyak santri yang sungguh lebih banyak mempelajari agama daripada kami. Kami pun menyimpulkan, mengingat diskusi sebelumnya juga dengan teman yang lain, para santri yang pada akhirnya melenceng itu steril, dan tidak tahan terhadap dinamika dan beragamnya dunia di luar lingkungan asalnya yang ‘bersih’.

Layaknya tubuh, tidak baik kalau dijaga terlalu bersih. Terlalu steril. Kalau demikian, antibodi alami dalam tubuh tidak akan berfungsi, dan pada akhirnya akan melemah. Akibatnya, meski hidup (sangat) bersih, tubuh tidak kebal terhadap penyakit yang bisa datang dari mana saja. Layaknya tubuh, manusia pun bisa saja dijaga habis-habisan oleh orang tua dan lingkungannya dari pengaruh buruk pemikiran, pergaulan, dan media yang negatif. Tapi bagaimana ketika ia harus keluar dari penjagaan itu, melihat dunia luar yang ternyata berbeda dengan yang selama ini ia pahami di lingkungan kecilnya? Ketika melihat dunia yang ternyata ‘begitu berwarna’, ia akan tergoda, ingin mencoba segala macam hal, hingga tidak sedikit yang akhirnya terpeleset, melenceng jauh dari apa yang telah diajarkan dan dibekali oleh lingkungan kecilnya yang steril. Ia bersih, steril, tapi daya tahannya lemah. Tidak punya imunitas. 

Memang tugas orang tua untuk mendidik anak-anaknya, dan menanamkan nilai-nilai Islam hingga sang anak memiliki kepribadian yang kokoh. Namun seringkali, orang tua hanya membuat anaknya steril, bukan imun. *tapi orang tua jenis ini masih lebih baik daripada orang tua yang tidak mendidik anaknya dengan nilai agama.
Lalu? Bagaimana membangun imunitas itu? 
Pertama, harus disadari bahwa tugas orang tua membuat anaknya kuat, bukan steril tapi lemah. Maka, kenalkan anak-anak dengan lingkungan yang beragam. Tidak hanya lingkungan yang baik agar bisa ia contoh. Tapi juga lingkungan yang kurang/tidak baik, dengan pendampingan dan penjelasan yang sabar mengapa lingkungan itu bisa demikian buruk dan bagaimana cara menghindarinya. Saat anak mencapai usia puber misalnya, selain tetap dijaga dengan nilai-nilai Islami, kenalkan juga tentang kenakalan-kenakalan remaja seusia mereka, ajak diskusi dan jelaskan bagaimana mereka seharusnya menjalani masa labil yang kritis itu. Seperti belajar karate (kangen ih); yang diajarkan adalah bagaimana cara menghindari serangan, bertahan, dan menyerang bila perlu, sambil latihan bertanding. Bukan bagaimana cara kabur yang efektif kan? ;D Kenalkan anak dengan dunia yang beragam. 

Kedua, ini saran dari Kak Seto, duhai ortu, jangan hanya jadi orang tua, tapi juga jadilah teman bagi anak-anakmu. Ada saatnya anak lebih dekat dengan teman daripada dengan orang tua (biasanya ketika remaja). Iya, kalau teman-temannya baik, kalau tidak? Nah. Orang tua, sebaiknya tetap berjiwa muda sampai kapan pun (apa sih). Ikut mempelajari dunia apa yang sedang dihadapi anak, yang pastinya berbeda dengan yang mereka hadapi dulu. Dunia berubah. Dekati, interaksi yang intens, buat anak merasa senyaman mungkin untuk bercerita pada orang tua senyaman mereka bercerita pada temannya. 

Yang paling penting memang selalu keluarga. Siasati agar anak merasa keluarga benar-benar menjadi lingkungan utama, walaupun remaja kebanyakan membuatnya terpinggirkan. Keluarga harus tetap menjadi tempat kembali yang paling dirindukan, lebih dari teman-temannya. Penjagaan pun akan lebih mudah, terjangkau, dan diminati oleh kedua belah pihak (orang tua dan anak). Dan yang paling penting, imunitas sang anak akan terbangun, hingga ia siap melangkah ke manapun. ;D

Merasa sangat sotoy, padahal masih
Calon orang tua dan belum apa-apa ^_^

Sunday, September 19, 2010

Take a Break For a Soul; Seistirahat-istirahatnya Jiwa

9:06 PM 9 Comments
                Waktu muda dulu (uhk), pada akhir tahun 2007, saya diamanahkan menjadi ketua pelaksana sebuah rangkaian kegiatan di fakultas. Staf saya kebanyakan adalah teman-teman seangkatan dan adik kelas. Tapi ada juga segelintir senior ikhlas yang turut membantu dalam struktur di bawah saya. Suatu hari, saat salah satu acara berlangsung dengan cukup membuat panitia hectic, saya mengirim sms pada senior saya itu untuk datang ke tempat saya saat itu dan membantu segera, dengan bahasa agak menuntut untuk “segera”. Dan balasan dari beliau, adalah sama sekali tidak saya sangka,
Sebentar ya Farah, saya lelah, saya mau tilawah dulu
Dzing!!
Dan benar saja, dia sendirian di mushala mungil ikhwan fakultas saya, sedang tilawah. Huuuff.. ga bisa dan ga kepengen ngomel.. *karena malah saya dibuatnya iri dengan ketenangannya…
*&*
Dalam sebuah riwayat yang pernah saya baca namun sayang tidak bisa saya sebutkan, dalam sebuah situasi yang melelahkan, Rasulullah saw. meminta Bilal untuk mengumandangkan azan untuk shalat. Beliau berkata, “Yaa Bilaal, arihnaa bi shshalaah”, ya Bilal, istirahatkan kami dengan shalat.
Lalu?
Uhmm… saya jadi berpikir. Rasulullah saw dan para sahabat, serta senior saya itu, dengan ampuh menjadikan ibadah-ibadah mereka sebagai obat penawar lelahnya. Bukan hanya sumber kekuatan. Kok bisa ya? Sedangkan kita… Kebanyakan kita (atau saya) seringkali terbalik. Kita (atau saya) bahkan bisa-bisanya lelah karena (merasa) sudah kebanyakan tilawah. Kita (atau saya) seringkali kelelahan dan mengantuk karena (merasa) sudah kebanyakan rakaat shalat. Bagaimana mereka bisa?
Astaghfirullaah al Azhiim…
*&*
Dan kemarin ketika mengisi sebuah acara ‘kongkow’-nya adik-adik hanif di fakultas, seorang adik kelas yang baru selesai kuliah membagi hal menarik yang didapatnya di kelas, “Ternyata agama itu dasar dari resiliensi”. Klop-lah sudah. Sejalan.
*resiliensi: daya lenting; kemampuan seseorang untuk bangkit setelah mengalami hal-hal yang membuatnya terpuruk dalam hidupnya.

Back to the main question, “h o w c o m e”???

Berjalan Lebih Cepat; Being The King of Our Own Kingdom

5:45 PM 17 Comments
                Sering menyebut kata-kata, “Lagi gak mood nih”, atau kalimat sejenis yang intinya menyatakan kalau kita sedang dalam kondisi tidak baik, tidak produktif, dan sedang tidak bergairah? Saya pernah. Dan banyak orang lain juga pernah. Selanjutnya, setelah kalimat itu terlontar, kita jadi malas melakukan sesuatu, lemas, sensitif, sampai mudah marah. Senggol, bacok; istilahnya.
                Nah. Hal seperti di atas itu sering terjadi. Sesuatu yang datang dari luar diri mempengaruhi perasaan, pikiran, sampai perilaku kita. Ketika orang lain (apalagi yang signifikan bagi kita) tidak ramah pada kita, kita jadi sebal, bete, sensi, bad mood, mudah marah. Emosi mempengaruhi perilaku. Itu biasa terjadi.
                Tapi teman, belakangan ada istilah (lumayan) baru dalam dunia psikologi. Facial Feedback Hypothesis; yang menjelaskan bahwa ternyata, perilaku yang awalnya merupakan tampak luar dari emosi, bisa juga berbalik mempengaruhi emosi. Kalau kita sedang sedih, jangan melihat ke bawah, tapi dongakkan wajah ke atas. Sedih kita akan berkurang. Sedikit-sedikit cobalah tersenyum. Perasaan kita akan lebih baik. Perilaku (mendongak ke atas dan tersenyum) bisa juga kan mempengaruhi emosi (perasaan sedih berkurang).
                Sedikit uraian di atas menunjukkan bahwa sebenarnya kita bisa memilih emosi apa yang ingin kita rasakan. Jadilah orang yang memilih untuk bahagia. Memilih untuk bersemangat. Memilih untuk sukses. Emosi akan mengikuti. Lalu seperti biasa, kembali mempengaruhi pikiran dan perilaku kita. Jangan membiarkan perasaan dan tindakan kita takluk di bawah pengaruh negatif dari orang lain atau suasana di luar kita. Jadilah raja atas perasaanmu sendiri. Pasti bisa kalau kita mau.
                Kalau sedang sedih, lemah, malas, lemas, cobalah berjalan dengan langkah yang lebih cepat. Atau melakukan gerakan apapun yang sedang dilakukan dalam tempo lebih cepat. Atau dengan sengaja melakukan gerakan apapun dalam tempo yang cepat. Insya Allah kembali segar dan bersemangat.

*tapi kalau suatu saat anda merasa lemas lalu mempraktekkan cara terakhir ini kemudian anda pingsan, cobalah hubungi dokter. Barangkali anda benar-benar sakit secara fisik. ;D
**fyi, banyak orang yang merasa badannya kurang fit untuk beraktivitas, padahal sebenarnya hanya sugesti sakit yang timbul dari kemalasan.
Gerakan Anti Malas

Tuesday, September 14, 2010

kampus gila!!

5:43 PM 8 Comments
Mencermati kembali tulisan-tulisan saya akhir-akhir ini, saya mendapati sebuah kenyataan pahit: tulisan-tulisan saya mengalami penurunan mutu *padahal dulu juga ga bagus-bagus amat sih. Dulu waktu masih aktif di kampus sebagai mahasiswa, lalu sempat vakum, walaupun kemudian aktif lagi di kampus bukan sebagai mahasiswa. Bedda banget.
Dulu, aku menulis artikel-artikel reflektif berhikmah, tips-tips, sampai tulisan penyemangat ku-post di sini. Tapi kenapa semakin ke sini, semakin banyak cerita yang hanya cerita, sampai curhatan kelabilan. Aaahh, memalukan ternyata. Dulu pun aku sempat bertekad untuk mendedikasikan tulisanku untuk orang lain, pembaca. Bukan untuk pelampiasan emosi ataupun pengabadian memori supaya tidak terlupakan. Apalagi untuk menggugurkan kewajiban sebagai kontributor di MP >_< Ow, ow.. ke mana tekad itu??
Ternyata eh ternyata, usut punya usut, diskusi dengan teman, aku sampai pada suatu kesimpulan. Penurunan kualitas tulisanku ini banyak dipengaruhi oleh lingkaran aktivitas. Dulu waktu di kampus, jadi aktivis (bahkan belum aktebel), duniaku luas. Setiap hari penuh agenda, bertemu orang-orang baru, banyak belajar hal baru, tempat-tempat baru, ilmu-ilmu baru. Setelah lengser dari kegiatan kampus dan fokus skripsi, dunia mulai menyempit. Hanya rumah, dakwah sekolah, fakultas (ruangan dosen, perpustakaan, dan mahalum), dan rektorat sesekali (ada kerjaan). Tidak lagi ada ruang BEM, ngacak-ngacak ruang DPM, rapat-rapat, makan-makan.. (lhoh?) Selesai skripsi, lebih parah lagi. Kebanyakan di rumah, kadang ke sekolah, ngampus hanya sesekali, keluar jadi pembicara juga lebih sesekali. Semakin sempit. Dan hasil tulisanku, semakin parah kebanyakan curhat.
Ternyata, lingkaran aktivitas kita sangat mempengaruhi apa yang kita hasilkan. Terutama tulisan, karena di situlah pikiran kita tergambar. Semakin besar lingkaran aktivitas kita, semakin banyak yang bisa kita tulis: semakin banyak yang kita pikirkan, semakin luas wawasan, semakin banyak ilmu yang kita dapat, hingga semakin banyak yang bisa kita bagi pada orang lain.
Subhanallah. Kampus tuh gila banget! Gila, inspiring banget! Gila! Benar-benar memperkaya; pemikiran, wawasan, hingga kebijaksanaan kita sebagai pribadi. Dinamika kehidupan di dalamnya, gila, benar-benar mengajarkan bagaimana kita harus mandiri, kuat, dan stabil, walau cobaan apapun menerpa *lebay. Gila!

Friday, August 27, 2010

Pertama kalinya ada yang nyelak…

9:49 PM 20 Comments

                                                 bunga dari teman-teman....
Sebenarnya wisuda kemarin tidak terlalu berasa euphoria layaknya wisudawan lain yang telah lulus kuliah. Ada beberapa alasan, pertama, karena jarak waktu yang sangat lama antara saya lulus sidang dengan waktu saya wisuda. 26 Maret 2010 saya sidang dan lulus, dan 26 Agustus saya baru wisuda. Cantik ya, tanggalnya samaan ^_^ jadi euforianya sudah lama lewat. Tapi tetap saja, bahagia rasanya melihat wajah kedua orang tua yang bangga melihat diriku terbalut toga hitam, menjadi sarjana, diberi ucapan selamat oleh teman-teman dan adik-adik kelas, diberi banyak bunga, dan dinyanyikan oleh ribuan mahasiswa baru berjaket kuning, salah satunya adik sepupuku ;)
Alasan kedua, karena aku terlalu disibukkan dengan project training ESQ untuk 8000 mahasiswa baru UI. Tau nih, padahal SK Rektor sudah menugaskan sejak bulan Februari, tapi pusingnya baru akhir-akhir…waktu orang-orang pada berkebaya, make-up, foto-foto waktu gladi resik wisuda dan foto dengan rektor dan dekan, aku, boro-boro!!! Ngebut dari PRJ bersama bapak supir dan 2 orang panitia training lainnya yang mau wisuda juga, sampai kampus, hanya “diizinkan” berganti jilbab dan sepatu, tanpa berganti baju. 2 orang temanku itu laki-laki, sudah berkemeja dari PRJ, sedangkan aku masih pakai kaos dan overall serta jilbab hitam. Untung saja bawa high-heels, jadi terlihat agak resmi. Haha… cerewet banget dah tuh orang-orang. Jangankan ganti baju dan make-up (padahal emang ga bisa make-up), baru ganti jilbab aja udah diteriakin: lama banget…!! Huh!
Dan pertama kalinya dalam sejarah (katanya), ada wisudawan yang mau foto ama rektor, nyelak. Hahay.. habisnya kami dari 3 fakultas berbeda (psikologi, fisip, hukum) yang kebagian urutan nyaris terakhir. Untung saja ketua panitia wisudanya PA (pembimbing akademik)-nya teman saya yang FH itu. Jadi, bisa lah,,, kami sedang tugas dari UI nih Bu… :D dan sang rektor pun bingung waktu toga merah (hukum), jingga (fisip), dan biru muda (psikologi) berbaris antri di belakang toga biru muda-tua-muda (FIK). Hahaha…
Setelah sebelumnya berlari-lari dengan memakai high-heels *tega banget, ngikutin kedua makhluk itu, lagi-lagi hanya sempat berganti jilbab hitam kembali (dengan sama sekali tidak rapi), kami meluncur kembali ke PRJ, bertugas. Orang-orang di sana pun bingung, kok, cepet banget udah nyampe lagi??? :D
Dan malam itu saya baru sampai rumah pukul 10 lewat 15 menit. Baru tidur sekitar pukul 11. Lalu bangun lagi untuk menyiapkan sahur, menyetrika, nyapu, lalu bersiap lagi berangkat, w I s u d a. huuffhhh… tapi indah… ;D
*Tulisan ttg wisuda atau being a university graduate-nya nanti lagi yah. Ini mah iseng ajah…*

Sunday, August 15, 2010

Dear, maaf aku lupa

9:10 PM 11 Comments
Dear, Maaf Aku Lupa
Padahal kau pengingatku yang paling hebat
Penyembuhku yang paling ampuh
Kau bahkan tak bosan selalu dekat denganku, dengannya, dengan mereka,
Tak pernah luput menemani

Dear, maaf aku lupa
Padahal bila aku sering ingat kau saja, Tuhanku menjamin
Aku akan selamat

Dear, bukan aku ingin memintamu datang segera
Karena kutahu datangmu telah Dia tentukan, aku yang tidak tahu
Aku hanya ingin berdamai denganmu di sepanjang sisa usia
Hingga kapanpun Allah takdirkan kita bersama,
Aku siap

“Ya Allah, kembalikan kami pada-Mu dalam husnul khaatimah…”

Saturday, August 7, 2010

Ai

8:07 PM 16 Comments
Saya pernah menuliskan cerita ini setahun yang lalu, tapi di buku Rekam Jejak Harian BPH BEM UI. Terpicu oleh kejadian di kampus tadi, jadi saya tulis ulang deh.
Alkisah, di Pusgiwa (pusat kegiatan mahasiswa) UI, tempat lembaga-lembaga mahasiswa tingkat UI bermarkas, ada sebuah warung (sangat) kecil milik seorang perempuan renta yang akrab kami sapa Emak.
*Tadi saya ke pusgiwa menghadiri undangan Alumni BEM UI Gathering, dan mendapat kabar bahwa emak sakit. Jatuh di tangga, tulang punggungnya bergeser. Beliau ditidurkan di ruang DPM. Hari sebelumnya emak dibawa ke rumah sakit oleh anak BEM, dan biayanya, subhanallah, ditanggung oleh alumni BEM UI juga (entah angkatan berapa) yang istrinya sedang dirawat di rumah sakit yang sama =)
Nah. Maaf kalau intro-nya kepanjangan. Cerita baru akan dimulai di sini. Suatu siang di tahun 2009, seperti biasa saya datang ke pusgiwa dan mampir ke emak sebelum masuk ruang BEM. Sepi. Ketika melihatku mendekat, emak memanggil dengan semangat, “Eneeeeeeenggg…” *bukan nama saya yang sebenarnya, hehe.
“Neng, Eneng mah punya hape yak?” Punya (lah), lalu kutanya ada apa. Tak perlu digali, emak langsung lancar bercerita tentang kulkasnya yang rusak *kulkas untuk jualan. Sudah diservis pekan lalu dengan cukup menguras uang emak, tapi rusak lagi 2 hari kemudian. Ia meminta tolong padaku untuk menelepon seseorang. Sebelumnya, ia juga minta tolong dicarikan nomor orang bernama Ai di buku teleponnya karena matanya sulit melihat jelas. Ai, Ai, Ai, mungkin itu “partner” jualannya emak, atau teman emak yang suka membantu membetulkan ini-itu. Yang jelas, kupikir Ai itu adalah significant other bagi emak, karena merupakan orang pertama yang ingin emak hubungi ketika ada masalah.
Ketemu. Kumasukkan satu-persatu angka itu ke handphone-ku. Eh, eh. Kok, sudah tersimpan ya? Namanya “Bang Ai”. Eh? Singkat cerita, bang Ai bilang baru bisa datang hari Sabtu karena hari itu beliau kerja.
Habis itu pikiranku langsung penuh. Bang Ai, adalah mantan mahasiswa UI, Ketua Umum BEM UI periode 2006-2007. Orang terdepan dalam gerakan mahasiswa pada masanya. Sekaligus orang pertama yang dikontak emak untuk membantunya menghadapi masalah ‘kulkas’. Orang cerdas, orator hebat, tokoh mahasiswa, dan, sahabat orang kecil seperti emak. Bahkan bertahun-tahun setelah ia lengser dari pusgiwa. Tak tergantikan di hati emak. Subhanallah, subhanallah…
Meskipun sepertinya kau pun tak mengenalku Bang, aku ingin bilang terima kasih. Perjumpaan dengan emak siang itu memberiku contoh konkret untuk tawazun; menyadarkan kembali bahwa sejatinya pergerakan mahasiswa itu untuk orang-orang seperti emak juga. Kau hebat. d(^.^)b 

Friday, August 6, 2010

The Eternal flower; Edelweiss

6:55 PM 30 Comments

Layaknya edelweis katanya, sang bunga abadi
Tidak seharum sedap malam atau melati memang
Tapi ia abadi, tak seperti bunga lain yang semerbak namun cepat mati

Layaknya edelweis katanya, sang bunga di puncak-puncak gunung
Sulit sangat didapatkan
Memang hanya pendaki tangguh yang sanggup datang hingga menghampirinya,
diterima sang bunga dengan lapang hati, hadiah kelulusan dari ujian kegigihannya
Dan memang hanya sang pendaki yang kuat dan tidak mudah menyerah
yang dapat memetiknya
Edelweis,
simbol kedigdayaan bagi sang pendaki tangguh

*tolong jangan dimaknai secara denotatif yaa,
karena ketika kau bercengkrama dengan alam,
Take nothing but picture
S a j a
Dilarang merusak alam :)

Wednesday, August 4, 2010

puisi spontan, tentang "takdir"

11:02 PM 8 Comments
Tersebutlah pada suatu hari, seorang teman yang ingin membuktikan bahwa dia adalah sastrawan sejati, sang pujangga. Dengan membuat puisi secara spontan, dan harus bagus!

Aku ingin indah pada saatnya,, seperti denting harpa di pagi hari..
aku ingin indah pada saatnya laksana bening embun di ujung daun
aku ingin indah pada saatnya bagai mentari senja melukis samudera
aku ingin indah pada saatnya bagai semesta bertasbih agungkan illahi

Maklumlah, dewasa muda. hehe...

Lalu untuk membuktikan akupun sastrawati, sang pujanggi (apaan seh), akupun menerima tantangan beliau. Membuat "puisi" spontan juga. Mudah-mudahan tidak lebih buruk,

aku tau dia sudah ada di sana
Allah siapkan menanti sebaik-baik keadaan
aku juga tau dia pun sedang menuju kemari
atau mempersiapkan segalanya untuk sebuah hari
tapi yang jelas dia bukan menunggu sepertiku
sabar
yah, sabar
dalam 2 versi kami
sabar menunggu dan bersiap-siap untukku
dan sabar melakukan semua yang mendekatkan takdir itu untuknya
karna sabar itu,
sejatinya adalah ketetapan dalam ikhtiar

*mencari dukungan, dalam racau malam ini :D