Follow Us @farahzu

Tuesday, July 27, 2010

Adik; Godaan (untuk) Para Kakak *Hasil Penelitian*

8:03 PM 24 Comments

Ini adalah hasil penelitian (sangat) sederhana yang saya lakukan terhadap beberapa orang yang saya kenal. Partisipan dalam penelitian ini seluruhnya berjumlah 37 orang, yang semuanya memiliki adik. Usia partisipan berkisar antara 17-24 tahun, laki-laki dan perempuan. Cara pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara singkat (cara langsung) dan memberikan pertanyaan lewat pesan singkat (cara tidak langsung). *susutumpedeh…ni paragraf gaya-gayaan banget*.

Sebenarnya penelitian ini saya lakukan karena saya ingin mencari tahu mengapa saya selalu menjadi korban atas keisengan kakak dan ayah saya T_T. Ayah saya bilang, “Ayah belum punya cucu sih, jadi kamu aja yang digangguin” (hufh..). Sedangkan kakak saya, dia tidak pernah menjelaskan kenapa ia selalu mengganggu saya, terutama dengan jurus kelitikannya yang selalu membuat saya mati kutu. >_<

Nah, hasilnya, dari 37 partisipan (menurut Guilford, jumlah minimal partisipan untuk bisa digeneralisasi adalah 30 orang), hanya 13% (5 orang) yang tidak suka mengganggu adiknya. Sedangkan 87% (32 orang) sisanya mengaku senang/suka/sangat suka mengganggu adiknya. Bahkan sebanyak 11% (4 orang) partisipan mengaku bahwa menggoda adik sudah merupakan rutinitas, seperti bernapas. Ckckck…jauh lebih banyak daripada separuhnya yang suka mengganggu adik. Ternyata, kakak saya termasuk “normal”.

Jawaban-jawaban yang muncul dari pertanyaan terbuka yang diberikan akan dijelaskan sebagai berikut. Dikarenakan pertanyaan terbuka, maka partisipan dibolehkan memberikan banyak alasan atas perilakunya menggoda adik (jadi jumlah persennya di sini pasti lebih dari 100). Sebanyak 21% (8 orang) mengaku melakukannya karena iseng atau tidak ada kerjaan. Tidak jauh berbeda, sebanyak 27% (10 orang) kakak yang menggoda adiknya dilatarbelakangi oleh kepentingan pribadi, seperti ingin memperoleh perasaan senang setelah mengganggu adik, butuh hiburan, atau untuk menghilangkan lelah. Ckckck… kasihan, di sini adik menjadi korban.

Alasan terbanyak bagi para kakak dalam mengganggu adiknya adalah ingin membangun keakraban dan mencairkan suasana, yaitu 38% (14 orang). Hhmm… ya memang sih, dengan menggoda adik atau bercanda, hubungan saudara akan terlihat lebih akrab dan menyenangkan (paling tidak begitulah yang dilihat orang dari luar). Walaupun tidak dapat dipungkiri, pasti ada juga waktu yang tepat untuk berantem. Hehe…Beberapa partisipan juga sempat menceritakan bahwa tidak jarang adiknya menangis atau marah bila sudah keterlaluan diganggu. Kalau sudah demikian, ada kakak yang akhirnya berhenti mengganggu adiknya, namun ada juga kakak yang semakin senang melancarkan serangan-serangannya. Ckckck,, untuk terlihatnya sebuah hubungan yang harmonis, si adik harus rela menjadi korban *L384y banget ya guee…hehehe.

Nah ini nih yang awalnya membuat saya kaget. Ternyata gangguan-gangguan yang dilancarkan para kakak itu ada juga yang didorong oleh rasa sayang. (??!!&^%@*#(#)*&!%!!%&#!!!) Dulu waktu teman saya mengatakan ini, saya benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana mungkin orang yang sayang senang melihat orang yang disayanginya itu ‘menderita’?? Menjerit-jerit, marah, menangis, bete, dsb. Tapi, saya harus menerima, begitulah kenyataannya. Sebanyak 35% (13 orang) mengatakan bahwa perilakunya menggoda adik adalah bentuk kasih sayang dan kepeduliannya terhadap sang adik. Hhummhh… *tapi jujur setelah teman saya dulu mengatakan ini, saya menjadi lebih ‘rela’ dikelitikin abis oleh kakak saya.

Alasan yang juga tidak kalah banyak dari perilaku kakak mengganggu adiknya adalah karena gemas melihat ekspresi dan kelakuan adik, yaitu 30% (11 orang). Ternyata eh ternyata, untuk para adik, kalian patut berbahagia, karena kalian selalu bisa membawa kesenangan bagi kakak-kakak kalian, saat kalian sedang kesal sekalipun :) . Alasan-alasan lain yang disebutkan oleh para partisipan adalah membalas godaan kakaknya terhadapnya dengan melakukan hal yang serupa pada adiknya (5% atau 2 orang), dan membalas godaan adiknya *dalam kasus ini berarti adiknya lebih iseng dari sang kakak (8% atau 3 orang).

Semoga dengan ini, saya dan para adik di seluruh dunia bisa lebih bersabar dalam menghadapi perilaku kakak-kakaknya. Ingatlah yang baik-baik saja, bahwa kakak kalian itu sayang… *yang lain ga usah diinget juga gapapa. hiks..

*Especially for my luvly brother, haha, Peace yo Bro!! :)

Merindukan kalian, sungguh…

7:53 PM 2 Comments




“Apa yang paling dekat dengan diri kita?
Kematian
Lalu apa yang paling jauh dari kita?
Masa lalu. Karena sedetik yang lalu pun kita tidak akan pernah menjumpainya lagi.”


Apatah lagi setahun yang lalu, satu setengah tahun yang lalu??
Ketika mungkin Allah takdirkan kita bersua kembali dengan utuh seperti dahulu,
Tidak akan pernah sama lagi. Tidak akan pernah.



Tapi,
Semoga ikatan persaudaraan dan kasih sayang di antara kita akan tetap terjalin.
Memang tidak akan pernah sama lagi.
Tidak akan pernah.
Tapi,
Semoga ikatan itu lebih kuat dan semakin dekat
dari yang dulu pernah ada.

Sesempurnanya Pagi (ProDoRa Part 1)

2:09 PM 12 Comments
*Dini hari. Langit masih gelap. Ayam jantan masih terlelap (ish, apaan sih)*

Tik, tik, tik,,, bunyi hujan di atas genting…

Entah ada petunjuk apa, tiba-tiba aku menaruh hati pada ayat,

“(Ingatlah), ketika Allah membuat kamu mengantuk untuk memberi ketentraman dari-Nya, dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu dan menghilangkan gangguan-gangguan setan dari dirimu dan untuk menguatkan hatimu serta memperteguh telapak kakimu (teguh pendirian)” QS: 8: 11

Dari kecil aku suka hujan. Suka sekali main hujan-hujanan. Dulu waktu SD, kalau pulang sekolah hujan turun, aku selalu sengaja tidak naik becak ke rumah, melainkan pulang hujan-hujanan dengan teman-teman. Sampai akhirnya kini aku berkacamata, dan, ugh, itu sangat mengganggu bila aku masih bermain hujan.

Tapi pagi ini, hujan dan ayat Qur’an tentang hujan tampak begitu memesona. Hujan berhenti sebentar pukul 05.30 sampai 07.30 pagi kira-kira. Pukul 6 lewat sedikit, aku dan sahabat kecilku yang baru jadi tetanggaku keluar rumah, berjalan kaki menuju GOR (Gelanggang Olahraga Remaja), berkostum lari pagi. Haha, lama tak berjogging bareng teman, terakhir waktu masih kos di Depok (awal Januari 2010).

Ini adalah kegiatan awal dari ProDoRa kami. Program Donor Darah yang akhir-akhir ini selalu gagal kami lakukan. Padahal dulu sih ga pernah rempong deh kalo mau donor. Pertama kalinya gagal waktu di PKM UI, karena Hb-ku tidak mencukupi. Hiks, sedih banget. Terus gagal kedua, aku pergi sendiri ke PMI Kota Bekasi. Sudahlah mengisi formulir, aku terhenti di tensi darah yang rendah. Pulanglah aku dengan kecewa. Gagal ketiga, aku dan sobatku ini mampir ke PMI Bekasi. Sebelum mengisi form, aku minta ditensi dulu, supaya ga sia-sia kalau tensiku rendah lagi. Yes. Tensi kami cukup. Baru deh mengisi form. Eeeehhh, tak dinyana, Hb kami berdua tidak cukup… T_T Nah. Gagal keempat, sebulan kemudian kami mampir lagi ke PMI, sepakat tidak mengisi form dulu. Dan, aku terhenti di langkah pertama (tensi rendah), sedangkan si sobat Hb-nya rendah. Hiks…akhirnya kami malah nyari bakso :D

Lari pagi beberapa keliling pacuan kuda (boong, bukan sebenarnya), jalan kaki, makan bubur ayam di dekat RS Mitra. Menjelang selesai, hujan kembali turun. Tidak juga berhenti. Akhirnya kami pun membayar (aku ditraktir :D), lalu berjalan pulang di bawah deras hujan.

Rasanya, apa ya, euphoria!!! Menadahkan wajah ditimpa titik-titik air dingin (setelah sebelumnya lepas kacamata), pori-pori yang terbuka karena berkeringat terbalut baju basah yang dihembus angin dingin, sepatu yang semakin kotor karena becek, rasanya, ingin sekali berlari-lari seperti adegan Ikal dan Arai di Sang Pemimpi :) sayang ga bebas karena pakai rok. Hehe…

Di jalan, ada yang jual kue home made. Temanku itu (sebut saja F*lzah) beli kue dan aku beli susu kedelai yang masih hangat…supaya kulit cantik. Hehe… hujan-hujanan kembali Berdoa bersama di bawah guyuran hujan. Kami sempat menepi di ‘kanopi’ rumah orang, karena si F*lzah mau update status (jiaaaahh :D) Tadinya mau patungan beli vitamin penambah darah (untuk ‘memanipulasi’ Hb), tapi hujan membuat kami tidak ingin menambah langkah lagi setelah pagar rumah terlihat…:D Baiklah. ProDoRa kami hari ini cukup untuk menaikkan tensi saja. Hb, besok lah mudah-mudahan. Hehe..

Monday, July 26, 2010

(sok-sok) Belajar Mendidik, part 1

9:05 AM 18 Comments
*next part someday..hhe

Kemarin sore, tiba-tiba, keponakan-keponakanku datang, ramai-ramai. Aku yang sedang meng-upload foto dan chatting di MP, langsung ngibrit ke dalam kamar dan berganti baju. Lalu keluar lagi. Setelah bersalam-salaman dan mencium pipi mereka kanan-kiri satu-persatu (ini wajib) dan mengobrol sebentar, aku beranjak mau buat minuman.

Iseng, kugandeng salah seorang dari mereka untuk “membantu” membuat sirup. Seperti bisa ditebak, yang lain pun ikut. Gelas-gelas kosong, botol sirup, botol air dingin,dan sendok sudah di atas meja. Satu orang yang paling tua kuminta menuangkan sirup ke gelas. Yang lain mau juga. Supaya tidak berebut, kuberi kerjaan lain: menuangkan air dinginnya. Yang lain mau juga, minta gantian, “Aku, aku!!” Kuberi saja satu kerjaan lain: mengaduk sirup dan air. Ada 1 yang belum dapat bagian. Akhirnya ia menuang sendiri sirup ke gelasnya yang sudah diisi air lebih dulu. Semua dapat, semua senang! Hehe,, aku malah tidak membuat sirup sama sekali, hanya membawanya di atas baki ke meja ruang tamu. Tadinya mereka juga ingin beramai-ramai membawa baki itu ke meja. Tapi, terlalu riskan. Akhirnya aku punya kerjaan ^_^

Awalnya mereka tidak bangga dengan sirup buatan mereka. Biasa saja, layaknya hanya membantu aku. Tapi kepada ibu dan sepupu-sepupuku (orang tua mereka), aku menyebut sirup tersebut sebagai buatan mereka. Mereka senang dan bangga, tapi aku menambahkan dalam hati, ‘jadi kalau kemanisan atau kurang manis jangan salahkan aku ya..salahkan saja anak-anak ini…haha..’

Tak lama aku ke dapur, menggoreng tahu sumedang (karena di rumah sedang tidak ada kue yang layak disajikan, hehe…). Belum lama aku di dapur, 2 orang dari mereka menyusulku ke dapur. Antusias ingin membantu membalik tahu dan mengangkatnya. Walaupun agak beresiko membawa anak-anak ke dapur, tapi biarlah, mereka ‘mengaku’ suka membantu memasak, dan, kupikir tidak ada salahnya membiarkan mereka selama aku mengawasi.

Satu orang membalik satu tahu. Agak lengket. Anak kedua membalik tahu kedua dengan mudahnya, lalu membandingkan, “Tuh kan aku gampang kok..!!” Sisanya aku. Lalu mereka juga minta mereka yang mengangkat tahu matang dari wajan ke saringan. Oke, silahkan. Ternyata berat untuk mereka, jadi harus dibantu. Ketika tahu generasi pertama ditiriskan, masih ada tahu generasi kedua yang akan digoreng. Mereka juga ingin melakukannya.

Orang pertama, sambil takut-takut, memasukkan tahu ke dalam minyak panas dari jarak yang agak jauh, ‘melemparnya’. Minyak pun rusuh berisik, keduanya langsung sembunyi menghindari cipratan minyak panas. Hihi,, lucu.. Anak kedua (adik sepupunya, tapi seumur), terlihat lebih luwes, memasukkan tahu ke wajan dari jarak lebih dekat, dan tidak ‘melemparnya’ seperti anak yang pertama. Minyak tetap tenang sentosa, lagi-lagi dia membandingkan, “Tuh kan, aku aja gapapa…!!”. Ah dik, selamat, itu prestasi.. :D

Singkat cerita, semua tahu siap disajikan. Mereka membawanya berdua, lalu dengan bangganya bersorak dan melakukan tos, “Yes! Tahu buatan kitaaaa!!!” :D :D :D *walaupun yang buat itu pabrik tahu. Hahaha.

Sepertinya, “melibatkan” jauh lebih enak didengar daripada “menyuruh” dan “melarang” ya? Dengan melibatkan anak dalam aktivitas kita, mereka akan melakukannya dengan senang hati. Bahkan jika orang tua/pendidik sebenarnya memang ingin pekerjaannya dibantu oleh anak tersebut. Lebih dari itu, mereka akan belajar.

Lalu, berikan apresiasi dengan proporsional, jangan pelit dengan pujian. Karena artinya, orang yang tidak berat memberikan penghargaan pada orang lain, adalah orang yang sudah sejahtera dengan dirinya sendiri, tidak haus dengan pujian orang lain. Bahasa kerennya, psychological well-being-nya telah terpenuhi ;)

*nah lho, semoga yang terakhir ini bisa dipahami yaa.. :D

Sunday, July 25, 2010

caving with FADHILers

8:26 AM 3 Comments

ba'da si farhan jatuh, gedebukk!!

AKHIRNYA SELESAI DIUNGGAH
Caving @Goa Cikaray, Citeureup. Bersama rekan-rekan FADHIL (forum alumni) SMAN 1 Bekasi, pada hari Rabu, 21 Juli 2010.
Kegiatan ini sebagai program Fadhil Gathering yang (sebenarnya) merupakan program kerja saya sebagai biro Human Resource. Tapi, sang ketua adalah yang palng "membantu" dalam pelaksanaan proker ini, sehingga saya agak canggung menyebut ini sebagai proker saya. hehehe...magabuts.

Rekaaannnsss... satu hal yang penting:
ini semua karena aku bersama kalian.
Jadilah aku (harus) kuat sampai akhir...
Kalau pada suatu hari nanti aku diajak begini-beginian lagi, ogah dah... hehehe...

monggo dikunjungi...
http://farahzu.multiply.com/journal/item/144

Thursday, July 22, 2010

Caving

7:59 PM 37 Comments



*Rabu, 21Juli2010

Memar-memar. Lecet-lecet. Pegal-pegal. Mengotori semua pakaian. Semua sepatu, kaos kaki, tas, helm, bahkan senter. Lalu membuang baju yang sudah tak mungkin lagi “diselamatkan”. Tapi. Bahagiaaa!!!!
Jangan bayangkan kami menelusur goa wisata, yang bisa berjalan dengan punggung tegak dan kepala mendongak melihat stalaktit, stalagmit, lubang cahaya, aula goa, kelelawar, sarang walet… Boro-boro! Hahaa… mantabs banget deh! Kami ber-12, anak-anak Fadhil (forum alumni SMA saya), berangkat dari bekasi tepat pukul 08.00 pagi. Baru sampai di mulut goa hampir pukul 15, briefing, membagi jadi 2 kelompok (dalam 1 kelompok ada ikhwan dan akhwat, supaya lebih aman). Aku kelompok 2, masuk belakangan. Menunggu sangat lama dengan mengobrol, dan bermain jempol (apa itu namanya?). Anggota: saya, Afifah’08, Syamsudin’07, Cahyo’09, Ja i’10. Kelompok 1 beranggotakan Farhatul, Suci, Mayang, Pras, Dendi, semuanya angkatan 2008 (baru nyadar). Sedangkan ketua kami (Farhan) dan asisten (halah, Jiwo’09) masuk 2 kali memandu kami semua.
Pertama kali masuk pintu goa, kami langsung disambut ‘wangi’ kotoran kelelawar, sejuknya udara lembab karena oksigen dari sungai air kapur yang mengalir, sinar matahari yang semakin hilang, dan, yang kami tapak adalah batu-batu besar bertanah basah yang sangat licin, menjorok ke bawah, terjal. Awalnya kami masih membungkuk-bungkuk, 1-2 kali masih bisa berdiri. Tak lama, dengan berbekal perlengkapan seadanya (baju panjang, sepatu, helm proyek, dan senter di tangan), kami mulai beringsut, berjongkok, bergeser-geser menyalip batu-batu besar yang menghimpit, merangkak dengan siku dan lutut, bahkan, berenang, saat air sungai mencapai dada. Masih, di lorong yang teramat sempit, tentu saja.
Kami sungguh tak peduli dengan pakaian yang kotor (sungguh), sepatu bertanah basah lengket yang siap buang kapanpun kami mau, pegal, lecet, sakit, ah, yang kupikir saat itu adalah, “Kapankah penderitaan ini akan berakhir??!!” FYI, ternyata helm itu bukan hanya untuk melindungi kepala dari runtuhan benda-benda di atas kepala, tapi juga untuk melindungi kepala supaya tidak terjedot-jedot (terbentur ya?) dinding goa. Jangankan mendongak, ada kalanya kami bahkan tak bisa melihat ke depan, lorongnya hanya cukup untuk merangkak bak tentara dengan kepala menunduk.
Sampai suatu saat, kami tiba di aula mini, belum sampai di aula sebenarnya. Beristirahat sebentar, foto-foto (teteeeuupp)…lalu, sang ketua melepas kami untuk mencari sendiri jalan keluar, mengambil lorong ke arah kiri, dan memilih pemimpin di antara kami (jatuh pada Ja i). Di lorong ini lah, selain merangkak dan berbagai posisi lainnya, kami harus berenang, dengan senter di tangan entah sudah berapa kali tercelup air ;). Mentok. Tak ada jalan lagi. Dari belakang sang ketua masih menyemangati kami dan Ja i, ada, ada! Coba lagi! Sampai benar-benar yakin tidak ada, baru Farhan nyengir sambil balik badan, emang ga ada ;D *tak sopppaaaannnn!!!
Kami kembali lagi ke ‘aula mini’. Sekarang serius nih, nyari jalan keluar, ke lorong sebelah kanan kami. Awalnya Farhan dan Jiwo masih mengikut di belakang, tapi, kami berlima sadar sendiri kalau mereka berdua kembali ke aula mini, karena suara tak lagi terdengar. Kami berlima terus bergerak maju, medan semakin sulit (jangan coba-coba buat yang merasa gemuk!), dan dari belakang terdengar suara Farhan memanggil kami untuk balik. Kami sepakat kalau itu hanyalah ‘skenario’-nya untuk menguji mental kami. Lama-kelamaan panggilannya tidak kami jawab, kami terus maju. Kami masih berpikir, ini skenario. Tapi ternyata suara Farhan semakin serius dan kencang, menyuruh kami balik. Entah bagaimana, kami sepakat untuk ‘sedikit’ mengerjai Farhan. Tidak ada satupun yang menyahut saat suara Farhan mulai panik, meneriaki nama kami satu-persatu. Semua senter dimatikan. Menahan nafas agar tidak terdengar, menahan geli ingin tertawa, hihihihi… Tapi ketika suaranya semakin mendekat dan teriakannya semakin kencang dan panik, aku tidak tega… akhirnya ketika namaku dipanggil, aku menyahut pelan, “Iya”. Haha,,berkhianat juga.  Akhirnya kami pun ‘ditemukan dengan selamat’.
Farhan bilang, kami dipanggilnya balik karena fisik kami sudah menurun (tau dari mana dia??! Hahaha…). Dia juga khawatir, karena kelompok pertama tadi tidak melewati jalan kami. Kami pun curiga sebenarnya, ‘Kok kelompok pertama tadi kotornya ga seL384y kita ya??’ Ternyata kami belok kiri di “pertigaan” saat kelompok sebelumnya ambil jalan lurus dan berhasil…
Akhirnya! Kami sampai di sebuah ‘ruangan’ besar yang tinggi yang kalo ga salah itu namanya aula. Tapi ga ada bangkunya..apalagi meja presentasi dan LCD proyektor. Bahkan kami hanya beristirahat sebentar, menyenter ke langit-langit goa melihat kelelawar yang banyak bergantungan (ternyata kecciiilll!!! Aku keburu berpikir sebesar drakula, haha…), lalu butir-butir kecil kotoran kelelawar, lalu kakiku sempat kram, lalu, eh, sebelumnya: GABRUUKK!!! Si Farhan masuk lubang, dalem!! Duhduh, gara-gara senternya mati, dia gak liat ada lubang sedalam itu. Tapi beneran lhoh, kami ti.dak.ter.ta.wa. *bangga, bisa empati (lhoh?!!)..humm,,, tapi cengar-cengir dan mau ketawanya baru sekarang, hihihi…
Alhamdulillaah,, kami berhasil memanjat beberapa batu sangat besar terakhir menuju peradaban lagi. Dengan selamat (nyawa). Bersyukur, masih diizinkan melihat kembali matahari. Dan, berfoto lagii!! *sebenarnya kami sangat kasihan pada kelompok pertama, soalnya mereka ga bawa kamera ;D
Kami pun berebut ke kamar mandi di sebuah SD di atas untuk bersih-bersih (fyi, lokasi di gunung kapur, perkebunan warga, tanah merah, becek, ga ada ojek). Mandi seadanya dengan sabun yang ngirit *karena minta Afifah, ga bawa sendiri. Haha.. selesai ganti baju, hujan turrruuunnn dooonggg… Kapan kami bisa pulaaangg?? Lama pula. Alhamdulillah pukul 18.10 hujan berhenti dan kami pun mulai meniti tanah merah licin lengket becek tersebut. Terutama akhwatnya, sepakat, “Kita shalat maghrib di jamak takhir aja!” karena kondisi yang (tetap masih) tidak memungkinkan, meskipun sudah ganti baju, ganti sepatu, kaos kaki, dsb.
Alhamdulillah, setelah menempuh perjalanan malam gelap dengan senter yang suaangaaattt jauuuhhh dan memang kami sudah pada gempor, kami pun bertemu angkot yang sudah dicarikan oleh Jiwo, Pras, dan Ja i yang duluan naik motor. Singkat cerita, saya sampai depan pagar rumah pukul 21.25 T_T naik motor yang tadi dipakai untuk tim advance. Malem bangeeett…
*Tapitapitapi, walaupun memar, lecet, pegal, dan sakit masih sangat terasa hari ini, petualangan kita kemarin sungguh membahagiakan, sobat… Sebelum kalian kembali ke kampus dan daerah masing-masing, sebelum Farhatul pindah ke UNPAD, sebelum kepengurusan kita berakhir,,, semoga sisa waktu yang ada bisa kita optimalkan sebaik-baiknya.
**nasibpunyaketuaanakpecintaalam =D
***foto-fotonya belum diunggah sama Cahyo... sabar yaa.. hehe...

Friday, July 16, 2010

Wednesday, July 14, 2010

Bakso Ukhuwah

8:04 PM 14 Comments
*Ini bukan promosi warung bakso baru. Tapi, yah, baca aja deh. Hehe..
 Memang benar kalau Rasul bilang perjalanan itu bisa mengakrabkan. Setahun lalu waktu masih punya amanah jadi “ibunya anak-anak” di BEM UI, meski sulit dan tampak terlalu berlebihan, saya berusaha mengenal staf satu-persatu. Mengenal, bukan hanya tau atau hafal namanya (fyi, ga mudah juga lho ngapalin nama anak bem yang hampir 200 orang itu, beserta biro/departemennya, beserta fakultas dan jurusannya, beserta angkatannya,, staf sendiri aja udah banyak. Hehe..)
Saya mulai dengan pdkt (pakaian dinas kotakkotak a.k.a pendekatan) ke seorang staf departemen sosmas (Sosial Kemasyarakatan). Sebenarnya kami satu fakultas, beda angkatan (iyalah), dan tidak pernah dekat sebelumnya. Waktu itu saya mengajaknya jalan berdua ke bookfair di Senayan. Sejak saat itu, kami pun dekat. Sangat dekat, bahkan. Sampai anak bem yang lain menyangka kami memang sudah dekat sejak dahulu kala (sebelum masuk bem). Padahal, sama sekali tidak :D sampai sekarang, kami merasa seperti kakak-adik, sangat dekat.
Lalu baksonya?
Yyaa,, biasanya sih kaum hawa nih yang suka banget makan bakso. Buat saya yang suka tapi jarang makan bakso ini, ngebakso bareng teman itu sangat membantu untuk mengakrabkan juga, selain jalan-jalan seperti di atas. Sepertinya jadi ada ruang khusus tersendiri antara saya dan teman-teman yang pernah ngebakso bareng, yang lebih membuat pertemanan kami terasa spesial dan eksklusif. Hehe..
Biasanya sambil ngebakso, perempuan pasti ngobrol. Mulai dari perjalanan menuju warung baksonya, lalu memesan dan menunggu pesanan diantar, di sela-sela makan, bahkan seringkali setelah bakso habis, masih setia menunggui warung bakso untuk menyelesaikan cerita. Beberapa teman juga suka mengajak saya makan bakso kalau mau curhat. Saya juga. Tapi biasanya sih BS-BS (bayar sendiri :D)
Mungkin bakso itu versi mininya safar yang bisa mengakrabkan kali yaaa… ;)
*buat teman-teman saya yang pernah ngebakso bareng, mungkin menurut kalian ini lebay, tapi, (seperti biasa), ini jujur ;)

Saturday, July 10, 2010

Semakin pekat malam, artinya fajar semakin dekat

9:27 PM 28 Comments
Buat saudara-saudariku yang sedang diuji kesabarannya, yang sedang diuji cintanya oleh Allah, maupun yang sedang berjibaku dengan segudang amanah.
Yakinlah, bahwa semakin pekat malam, artinya fajar semakin dekat. Semakin puncak kelelahanmu, artinya fajar keberhasilan itu semakin dekat…
Semakin pekat sedihmu, artinya senyum kemenangan itu juga semakin dekat… yakinlah…
Kadang Allah sengaja menguji kita dengan kepenatan, kelelahan, kejenuhan, kebingungan, supaya kita makin mendekat pada-Nya.
Kawan, ustadz saya pernah bilang, Allah itu suka dirayu… karena Allah itu, suka diminta. Teramat sayang Ia pada hamba-Nya, hingga Dia sangat ingin sang hamba mendekat, terus mendekati-Nya.
Layaknya kita biasa menggoda anak kecil yang menginginkan sesuatu, begitulah Allah pada hamba-Nya yang meminta, terkadang. Sering kita menarik dulu sesuatu yang diinginkan anak kecil itu, menyembunyikannya, menyebutnya tidak ada, sampai anak itu hampir menangis (atau sampai menangis), baru lah kita kasih keinginannya itu. Kenapa? Karena kita senang anak kecil itu bermanja dan merayu kita bukankah? Yah, sedikit-banyak seperti itulah. Allah senang kita bermanja dan merayu pada-Nya…
Karenanya tidak setiap keinginan kita dikabulkan saat itu juga. Saabaarr…
Kawan, hidup ini amanah. Beserta seluruh yang tercakup dalam kata “hidup”; amanah. Akan ada ganjarannya dari Allah. Yakin saja.
Jangan pernah jemu meminta. Jangan pernah henti berharap melantun doa.
Hanya, kawan…
Hanya pada Allah. 

*memurnikan ketaatan

Thursday, July 8, 2010

Sabar Itu Apa?

7:48 PM 37 Comments
Sabar Itu Apa?
*sudah hampir setahun aku ingin menulis tentang ini

        Sabar. Biasa sekali ya kata itu kita dengar dan kita ucapkan. Biasanya kita bicara “sabar” untuk mengerem suatu keinginan atau emosi tertentu, seperti kesedihan yang sangat. Sabar agar tidak larut dalam kesedihan yang berlebihan, sabar untuk menerima apa yang kita dapatkan dalam hidup, sabar dalam menunggu sesuatu…
       Terutama yang terakhir, sabar seringkali diidentikkan dengan mau menunggu. Orang seperti saya yang selalu ingin cepat (baca: gesit) akhirnya dicap “tidak sabaran”. Namun benarkah sabar itu menunggu? *mencari pembenaran, hehe…
Padahal, sabar itu apa?
       Kalau kita lihat ayat-ayat Al-Qur’an mengenai sabar ini;
“Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat, dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” QS:3:146
“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.’ Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” QS: 39: 10

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar”. QS: 2: 153

“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.“ QS: 16: 96

“Wahai Nabi (Muhammad)! Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada 20 orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan 200 orang musuh. Dan jika ada 100 orang (yang sabar) di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan 1000 orang kafir, karena orang-orang kafir itu adalah kaum yang tidak mengerti.
Sekarang Allah telah meringankan kamu karena Dia mengetahui bahwa ada kelemahan padamu. Maka jika di antara kamu ada 100 orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan 200 (orang musuh); dan jika di antara kamu ada 1000 orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan 2000 orang dengan seizin Allah. Allah beserta orang-orang yang sabar.” QS:8:65-66

Nnah. Kalau merujuk dari ayat-ayat di atas, sabar dapat mencakup 3 hal berikut:
- menolak, menahan; menolak kelemahan untuk hinggap di diri mereka
kokoh; tidak patah semangat dalam berusaha, dan tidak menyerah kepada musuh (bisa juga syaithan dalam diri).
menghimpun; aktif menghimpun amal kebaikan.

Ternyata selain menolak, menahan, dan tidak mudah ”patah”, sabar juga bermakna aktif. Bergerak. Kesabaran dalam beramal shalih, terus-menerus berbuat kebaikan, akan menjadikan seseorang tsabat (teguh) dalam beramal. Selanjutnya, setelah tsabat terus diasah dan diperkuat, ia akan menjadi istiqamah.
Karenanya, Sabar itu, kekuatan bagi orang mukmin. 

Sunday, July 4, 2010

karena manusia bukan cacing

9:36 PM 27 Comments
*meniatkan tulisan ini singkat saja.


Teman, mungkin masih ingat dengan pelajaran biologi waktu SMA tentang cacing tanah, bangsa vermes. Langsung aja yah, ga usah panjang-panjang pembukaannya :) Cacing itu hermafrodit. Punya dua alat reproduksi dalam satu tubuh. Tapi mereka tidak pernah berkepribadian ganda (apa seh), waktu kematangan sperma dan ovumnya tidak sama. Bila pada suatu saat sperma cacing A matang bersamaan dengan matangnya ovum cacing B, mereka bisa kawin begitu saja. 

Tapi manusia bukan cacing. Tidak selalu seorang pria yang siap menikah berjodoh dengan perempuan yang juga telah siap pada waktu yang sama. Jadi, sebenarnya sangat tidak mudah mencarikan jodoh untuk orang-orang yang kita sayangi. Mesti hati-hatiiii....sekali. Jangan coba-coba dan banyak bermain dengan kata "siapa tau", karena manusia bukan cacing...minimal istikharah dulu lah untuk saudara kita itu...

memang repot. tapi terlalu kejam kalau coba-coba. karena manusia bukan cacing :)

Thursday, July 1, 2010

ternyata bermakna

10:28 PM 14 Comments
(merindukan mu sungguh, yah semua deh ha ha ha)
tetap semangat farah
teteplah menjadi
pembela gue saat yang lain mulai menghina hina gue


*kalimat pamit seorang rekan, mantan partner terbaik. Bikin terharu...
(karna ku tau yang kau maksudkan selalu kebaikan, sobat)