Follow Us @farahzu

Thursday, July 22, 2010

Caving




*Rabu, 21Juli2010

Memar-memar. Lecet-lecet. Pegal-pegal. Mengotori semua pakaian. Semua sepatu, kaos kaki, tas, helm, bahkan senter. Lalu membuang baju yang sudah tak mungkin lagi “diselamatkan”. Tapi. Bahagiaaa!!!!
Jangan bayangkan kami menelusur goa wisata, yang bisa berjalan dengan punggung tegak dan kepala mendongak melihat stalaktit, stalagmit, lubang cahaya, aula goa, kelelawar, sarang walet… Boro-boro! Hahaa… mantabs banget deh! Kami ber-12, anak-anak Fadhil (forum alumni SMA saya), berangkat dari bekasi tepat pukul 08.00 pagi. Baru sampai di mulut goa hampir pukul 15, briefing, membagi jadi 2 kelompok (dalam 1 kelompok ada ikhwan dan akhwat, supaya lebih aman). Aku kelompok 2, masuk belakangan. Menunggu sangat lama dengan mengobrol, dan bermain jempol (apa itu namanya?). Anggota: saya, Afifah’08, Syamsudin’07, Cahyo’09, Ja i’10. Kelompok 1 beranggotakan Farhatul, Suci, Mayang, Pras, Dendi, semuanya angkatan 2008 (baru nyadar). Sedangkan ketua kami (Farhan) dan asisten (halah, Jiwo’09) masuk 2 kali memandu kami semua.
Pertama kali masuk pintu goa, kami langsung disambut ‘wangi’ kotoran kelelawar, sejuknya udara lembab karena oksigen dari sungai air kapur yang mengalir, sinar matahari yang semakin hilang, dan, yang kami tapak adalah batu-batu besar bertanah basah yang sangat licin, menjorok ke bawah, terjal. Awalnya kami masih membungkuk-bungkuk, 1-2 kali masih bisa berdiri. Tak lama, dengan berbekal perlengkapan seadanya (baju panjang, sepatu, helm proyek, dan senter di tangan), kami mulai beringsut, berjongkok, bergeser-geser menyalip batu-batu besar yang menghimpit, merangkak dengan siku dan lutut, bahkan, berenang, saat air sungai mencapai dada. Masih, di lorong yang teramat sempit, tentu saja.
Kami sungguh tak peduli dengan pakaian yang kotor (sungguh), sepatu bertanah basah lengket yang siap buang kapanpun kami mau, pegal, lecet, sakit, ah, yang kupikir saat itu adalah, “Kapankah penderitaan ini akan berakhir??!!” FYI, ternyata helm itu bukan hanya untuk melindungi kepala dari runtuhan benda-benda di atas kepala, tapi juga untuk melindungi kepala supaya tidak terjedot-jedot (terbentur ya?) dinding goa. Jangankan mendongak, ada kalanya kami bahkan tak bisa melihat ke depan, lorongnya hanya cukup untuk merangkak bak tentara dengan kepala menunduk.
Sampai suatu saat, kami tiba di aula mini, belum sampai di aula sebenarnya. Beristirahat sebentar, foto-foto (teteeeuupp)…lalu, sang ketua melepas kami untuk mencari sendiri jalan keluar, mengambil lorong ke arah kiri, dan memilih pemimpin di antara kami (jatuh pada Ja i). Di lorong ini lah, selain merangkak dan berbagai posisi lainnya, kami harus berenang, dengan senter di tangan entah sudah berapa kali tercelup air ;). Mentok. Tak ada jalan lagi. Dari belakang sang ketua masih menyemangati kami dan Ja i, ada, ada! Coba lagi! Sampai benar-benar yakin tidak ada, baru Farhan nyengir sambil balik badan, emang ga ada ;D *tak sopppaaaannnn!!!
Kami kembali lagi ke ‘aula mini’. Sekarang serius nih, nyari jalan keluar, ke lorong sebelah kanan kami. Awalnya Farhan dan Jiwo masih mengikut di belakang, tapi, kami berlima sadar sendiri kalau mereka berdua kembali ke aula mini, karena suara tak lagi terdengar. Kami berlima terus bergerak maju, medan semakin sulit (jangan coba-coba buat yang merasa gemuk!), dan dari belakang terdengar suara Farhan memanggil kami untuk balik. Kami sepakat kalau itu hanyalah ‘skenario’-nya untuk menguji mental kami. Lama-kelamaan panggilannya tidak kami jawab, kami terus maju. Kami masih berpikir, ini skenario. Tapi ternyata suara Farhan semakin serius dan kencang, menyuruh kami balik. Entah bagaimana, kami sepakat untuk ‘sedikit’ mengerjai Farhan. Tidak ada satupun yang menyahut saat suara Farhan mulai panik, meneriaki nama kami satu-persatu. Semua senter dimatikan. Menahan nafas agar tidak terdengar, menahan geli ingin tertawa, hihihihi… Tapi ketika suaranya semakin mendekat dan teriakannya semakin kencang dan panik, aku tidak tega… akhirnya ketika namaku dipanggil, aku menyahut pelan, “Iya”. Haha,,berkhianat juga.  Akhirnya kami pun ‘ditemukan dengan selamat’.
Farhan bilang, kami dipanggilnya balik karena fisik kami sudah menurun (tau dari mana dia??! Hahaha…). Dia juga khawatir, karena kelompok pertama tadi tidak melewati jalan kami. Kami pun curiga sebenarnya, ‘Kok kelompok pertama tadi kotornya ga seL384y kita ya??’ Ternyata kami belok kiri di “pertigaan” saat kelompok sebelumnya ambil jalan lurus dan berhasil…
Akhirnya! Kami sampai di sebuah ‘ruangan’ besar yang tinggi yang kalo ga salah itu namanya aula. Tapi ga ada bangkunya..apalagi meja presentasi dan LCD proyektor. Bahkan kami hanya beristirahat sebentar, menyenter ke langit-langit goa melihat kelelawar yang banyak bergantungan (ternyata kecciiilll!!! Aku keburu berpikir sebesar drakula, haha…), lalu butir-butir kecil kotoran kelelawar, lalu kakiku sempat kram, lalu, eh, sebelumnya: GABRUUKK!!! Si Farhan masuk lubang, dalem!! Duhduh, gara-gara senternya mati, dia gak liat ada lubang sedalam itu. Tapi beneran lhoh, kami ti.dak.ter.ta.wa. *bangga, bisa empati (lhoh?!!)..humm,,, tapi cengar-cengir dan mau ketawanya baru sekarang, hihihi…
Alhamdulillaah,, kami berhasil memanjat beberapa batu sangat besar terakhir menuju peradaban lagi. Dengan selamat (nyawa). Bersyukur, masih diizinkan melihat kembali matahari. Dan, berfoto lagii!! *sebenarnya kami sangat kasihan pada kelompok pertama, soalnya mereka ga bawa kamera ;D
Kami pun berebut ke kamar mandi di sebuah SD di atas untuk bersih-bersih (fyi, lokasi di gunung kapur, perkebunan warga, tanah merah, becek, ga ada ojek). Mandi seadanya dengan sabun yang ngirit *karena minta Afifah, ga bawa sendiri. Haha.. selesai ganti baju, hujan turrruuunnn dooonggg… Kapan kami bisa pulaaangg?? Lama pula. Alhamdulillah pukul 18.10 hujan berhenti dan kami pun mulai meniti tanah merah licin lengket becek tersebut. Terutama akhwatnya, sepakat, “Kita shalat maghrib di jamak takhir aja!” karena kondisi yang (tetap masih) tidak memungkinkan, meskipun sudah ganti baju, ganti sepatu, kaos kaki, dsb.
Alhamdulillah, setelah menempuh perjalanan malam gelap dengan senter yang suaangaaattt jauuuhhh dan memang kami sudah pada gempor, kami pun bertemu angkot yang sudah dicarikan oleh Jiwo, Pras, dan Ja i yang duluan naik motor. Singkat cerita, saya sampai depan pagar rumah pukul 21.25 T_T naik motor yang tadi dipakai untuk tim advance. Malem bangeeett…
*Tapitapitapi, walaupun memar, lecet, pegal, dan sakit masih sangat terasa hari ini, petualangan kita kemarin sungguh membahagiakan, sobat… Sebelum kalian kembali ke kampus dan daerah masing-masing, sebelum Farhatul pindah ke UNPAD, sebelum kepengurusan kita berakhir,,, semoga sisa waktu yang ada bisa kita optimalkan sebaik-baiknya.
**nasibpunyaketuaanakpecintaalam =D
***foto-fotonya belum diunggah sama Cahyo... sabar yaa.. hehe...

37 comments:

  1. Hmm..asik banget dah,kapan FASI 78 bisa ky gini,masih fundamentalis,belum moderat,haha..
    Pekan lalu aja gathering di ragunan,kelompok digabung ikhwan-akhwt,tapi jaim-nya jaim banget,udah kaya bda klompok,bahkan beda organisasi (halah..)

    ReplyDelete
  2. oh yaa???
    *ketuanya bukan anak pecinta alam kali..*haha, ga nyambung

    ayo semangat Ga, bangun iklim yang nyaman tapi ttp syar'i...!!
    perlu psdm tuh kayaknya. hehehe...

    ReplyDelete
  3. Yah, kirain caving dengan tali, harnest, carabiner, dan peralatan lengkap. Ternyata cuma caving wisata...

    *sok jago*

    :D

    ReplyDelete
  4. enak aja!! apanya yang caving wisata ka imaannn??!! Kalo gak bareng temen2 tercinta, pasti deh nyiksa banget. hehehe...

    *maklum lah, pendatang baru... :D

    ReplyDelete
  5. apanya? ceritanya? berdasarkan kisah nyata kok ;D

    ReplyDelete
  6. cave di mana? jadi satu beneran?

    ReplyDelete
  7. Pokoknya kalau gak pake peralatan lengkap, gak bisa disebut caving. Itu cuma jalan-jalan ke gua doang...

    Haha....

    ReplyDelete
  8. Gak bisa kak,akhwat yang 9403L cuma kak dew doang kayanya,yang lainnya ...... (no comment lah,haha..)

    ReplyDelete
  9. hyyaaahhh,,, terserah pak sepuh saja lah...yang sudah banyak pengalaman,,, saya masih muda, jadi masih harus banyak belajar,,,tapi saya gak mau lagi ah kalo diajak caving... :D

    ReplyDelete
  10. di goa Cikarai, daerah Citeureup, Cibinong... *apa Jonggol yah? ;D

    karena kalo Ga digabung lebih bahaya... insya Allah kami tetap jaga kok.. ^_^

    ReplyDelete
  11. hyyaaahhh,,, terserah pak sepuh saja lah...yang sudah banyak pengalaman,,, saya masih muda, jadi masih harus banyak belajar,,,tapi saya gak mau lagi ah kalo diajak caving... :D

    ReplyDelete
  12. lah? emang siapa yang bilang orang2nya mesti diubah jadi 640L ?? ;) saya cuma bilang, dibuat nyaman aja... kan masing-masing forum alumni beda Ga... :D

    ReplyDelete
  13. Kalau ngeliat sungai dalam tanah yang mengalir indah, stalagmit dan stalaktit yang artistik, dan pencapaian setelah perjuangan menelusuri lorong-lorong panjang, pasti akan ketagihan deh... :)

    ReplyDelete
  14. emang apa yg ku maksud jadi satu? =__=

    ReplyDelete
  15. oh kak, kakak cavingnya ke goa wisata kali... hahaha... kemarin mah boro-boro bisa melihat seperti yang kakak tulis... gellaapp gulitaaaa...suppeeerrrr semmpiiittt... Kk tuh yang wisata...hehhehehehh..

    ReplyDelete
  16. Tapi ya gitu,terlalu kaku,bingung sndr gw untuk membuat knyamanan dgn cara gw,ha..

    ReplyDelete
  17. uhmmm...jangan menyerah, pasti ada cara! *silahkan dipikirkan dan dimusyawarahkaann... :D

    ReplyDelete
  18. yah, semakin berat perjuangan, semakin indah hasil yang kita petik.. :D

    ReplyDelete
  19. waw keren farah...
    cibinong itu bogor ya...?

    ReplyDelete
  20. berarti skrg udah jadi caver ya far? (baca: orang goa) :p

    ReplyDelete
  21. Terakhir gw caving gw ninggalin backpack gw di sekret..
    Alhasil gw masuk goa dengan peralatan yang nempel di badan dan baru ganti baju setelah sampe di sekrret lagi..

    ReplyDelete
  22. seppakat kak!
    *seperti yang suka ka iman bilang, "betulbetulbetul" :)

    ReplyDelete
  23. yup, bogor. perbatasan ama Depok juga..
    *saya keren? memang ;D

    ReplyDelete
  24. yup, bogor. perbatasan ama Depok juga..
    *saya keren? memang baru tau ya mip? ;D

    ReplyDelete
  25. enak ajee.... *seru banget memang petualangannya, tapi kalo diajak lagi gue ogah ah rang ;D

    ReplyDelete
  26. sekret mana cad? goa yang kemaren gw masukin ga muat backpack ^_^

    ReplyDelete
  27. ohh, Farhan anak MAPALA BEKASI ya..

    ReplyDelete
  28. iriiiii..!!!
    mauuuu!!!
    kaka kapan yg ada lagi aku ngintil satu dong..ngikut...!

    ReplyDelete
  29. sedang di upload...kok dari tadi gagal mulu ya upload foto??

    ReplyDelete
  30. bukan. mapala kan mahasiswa. Dia dulunya anak inswapala, ikatan siswa pecinta alam di SMA kami (saya, farhan, n thinkerbell) :D

    ReplyDelete
  31. ;) okkeeehhh...insya Allah dikabarin kalo ada lagi ya... kemarin sih ada wacana mau hiking ke gn.XXX :D tapi masih wacana..

    ReplyDelete
  32. Sekretnya di Tangerang.. Goanya di Parung Panjang..

    ReplyDelete
  33. Perasaan sy juga ikut, tp g ada namany...hehehe

    ReplyDelete