Follow Us @farahzu

Monday, May 29, 2017

Tentang Miom

1:37 PM 0 Comments
Miom atau mioma atau fibroid, adalah tumor jinak yang tumbuh di dalam atau di otot sekitar rahim. Kalau bahasa diagnosis kedokterannya, mioma uteri (uteri=rahim). Nah, apa bedanya dengan kista (kista ovarium)? Dari orang-orang dan cerita yang saya dapat, lebih banyak wanita yang punya kista daripada miom. Tapi lebih banyak juga cerita kista yang tiba-tiba hilang atau menyusut ukurannya, atau membesar tiba-tiba. Sebabnya bisa dari makanan atau terapi herbal dan antioksidan biasanya sih. Bedanya, kalau miom itu bentuknya daging, tumbuhnya di rahim. Kalau kista, bentuknya itu kantung, yang berisi cairan. Biasanya terletak menggantung di ovarium (indung telur) kanan atau kiri.

Kebanyakan mioma bisa menghalangi bertemunya sperma dengan sel telur karena letaknya yang di dalam rahim atau di otot yang menekan dinding rahim. Kalau kista tidak menghalangi pertemuan 2 makhluk Tuhan itu, karena letaknya di luar rahim.

Efek dan gejalanya si miom ini macam-macam. Saya pernah kenalan sama orang di rumah sakit, punya miom sebesar 7cm tanpa gejala apapun. Maaaaak... gue cuman 5cm aja udah na’udzubillah deh rasanya. Bikin trauma. Nah, kalau ada gejala, berikut gejala-gejala yang umum dan yang juga saya alami selama kurang lebih 3 tahun kebelakang:
-nyeri haid berlebihan
-volume darah yang keluar saat haid luar biasa 
-durasi keluarnya darah haid sangat panjang, bisa belasan hari
-sering pendarahan di luar waktu haid (ini khas miom banget)
-sering anemia
-sering konstipasi
-sering berurin (beser)
-nyiksa banget, hehe..

Lokasi tumbuhnya miom ini bisa macam-macam. Seperti gambar di bawah ini.


MIOMA
(https://hernita80.wordpress.com/2014/12/13/mioma-uteri/)
Kista Ovarium
(http://kistaovarium.org/penyakit-kista/)


Bentuknya juga variasi, ada yang memiliki tangkai, ada yang tidak. Yang memiliki tangkai, konon kalau lagi haid dan tangkainya terputar, rasa sakitnya subhanallah jauh lebih parah dan tak tertahankan lagi. 2-3 kali lipat lah dari nyeri haid orang normal. Bagusnya, mioma yang bertangkai ini mudah diangkat pada saat operasi atau laparoskopi, tinggal dipotong tangkainya, keluarkan, selesai.

Ada juga mioma yang tidak bertangkai, seperti punya saya. Jadi ada banyak bagian dari miomnya yang nempel di otot. Itulah yang membuat operasi saya molor jadi 8 jam. Kalau diiris langsung bagian yang nempel dengan ototnya, bakal banyak pendarahan yang terjadi nantinya, karena luka di dalam otonya banyak. Dokter saya, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang banyak, rela berdiri 8 jam demi mencungkil sedikit demi sedikit si miom sehingga pendarahan yang terjadi tidak terlalu banyak. Sedikit saja. Alhamdulillah. Ah bu dokter, ai laf yuuuu!

Nah sekarang, dari mana sih tumbuhnya miom itu? Kalau pastinya belum ada yang bisa memastikan, dokter-dokter juga sama. Itulah mengapa saya maju-mundur mau operasi. Kalau ga tau sebabnya kan ga bisa menghindarinya tumbuh lagi ya kan.. Namun, hasil dari baca-baca bertahun-tahun sampai saya ga ingat lagi sumbernya, si terduga penyebab miom adalah hormon estrogen yang dihasilkan oleh ovarium.

Nah, oleh karena itu, penderita atau mantan pemilik miom perlu menghindari makanan-makanan pencetus hormon estrogen. Sekilas makanan tersebut baik untuk kebanyakan orang, namun bagi yang punya miom, sangat diduga kuat hormon estrogennya sudah lebih banyak daripada orang normal, sehingga memicu penebalan dinding rahim berlebih yang menjadi cikal bakal tumbuhnya miom. Pantangan makanan ini saya peroleh hasil dari browsing, tanya-tanya dokter Spog, dan petugas rumah sakit.
-     -  Kedelai dan turunannya: tempe, tahu, kecap
-      - Kacang hijau
-      - Ayam negri (karena sudah disuntik hormon estrogen)
-      - Kulit ayam kampung (hhh... makan ayam tanpa kulit...mending ga makan ayam T_T)
-      - Daging merah dan turunannya, termasuk kaldunya T__T
-      - Susu sapi sebaiknya dikurangi
-      - Lemak-lemak seperti lemak daging
-      - Makanan-makanan pemicu kolesterol tinggi seperti kuning telur dll, karena kolesterol adalah bahan pembuatan hormon seks.
-      - Buah durian, lengkeng

Ajiieebb yaaak... Jadi lu makannya apa Far? Yaaahh masih ada nasi, sayur, sama ikan lah. Sama doa. Hahah... disyukuri sajah.. gua ga mau miom tumbuh lagi, trauma dioperasi.


Okey, kiranya segitu dulu aja cerita gue dan sedikit info tentang miom, mudah-mudahan bermanfaat ya..

Update Juli 2018:
Gua pernah curhat sama dokter waktu lagi masa pemulihan pasca operasi, terkait pantangan makanan di atas. Kata beliau, ga usah diet seketat itu, cukup perbanyak saja asupan antioksidannya, seperti buah dan sayur. ALHAMDULILLAAH. 




#pantanganmakanmiom #penyebabmiom #miom #miomauteri #tumorrahim
#My Thought




Sunday, May 28, 2017

Laparoskopi Mioma / Fibroid

4:19 PM 8 Comments
Alhamdulillah, Kamis 18 Mei 2017 saya menjalani operasi laparoskopi untuk mengangkat miom di rahim. Operasi yang rencananya Cuma berlangsung 3 jam, molor jadi 8 jam. Ma sya Allah, kesian dokternya pegel.

Jadi ceritanya miom saya itu lokasinya bukan di dalam rahim, melainkan di dalam otot atas rahim agak kekiri, yang menekan saluran tuba falopi. Bentuknya tidak bertangkai, melainkan melekat cantik di otot tersebut sehingga ga bisa langsung dipotong, harus disayat kecil-kecil baru dikeluarin. Itulah yang bikin prosesnya lamaaaaa  banget. Jam 10-18. Jam 9 malam lewat saya baru keluar ruang operasi menuju kamar perawatan. Itu emak dan uwak gue udah pada mewek aja nungguin operasi ga kelar-kelar dari pagi. Alhamdulillah, wa syukurilah.

Sebenernya sih si miom udah lama ada di rahim saya, kira-kira 2-3 tahun belakangan ini. Kenapa saya ga mau operasi tadinya? Ada beberapa alasan: 1. Beberapa dokter ga tau pasti apa penyebabnya, which is saya juga ga tau apa yang perlu dihindari supaya si miom ga tumbuh lagi. Yes, doi bisa tumbuh lagi meskipun sudah operasi. Ngeri ya?

2. Setiap kontrol, ukurannya doi tetap ga nambah-nambah selama beberapa tahun itu. Barulah setelah saya minum primolut waktu umroh, habis itu pas pulang pendarahan ga berenti-berenti sampe 20 harian. Pas cek ke dokter lagi di mana jarak dari kontrol terakhir hanya 6 bulan, ukuran si miom udah naik dari 4 jadi 5cm. Itu mau ga mau ke dokter karena besoknya mau ke Kalimantan pedalaman yang jauuuuuuuuuhh banget dari bandara. Sebut saja Sangatta, 8 jam naik mobil dari Balikpapan.

3. Saya udah ga tahan sama sakit yang diderita setiap hari-hari haid saya setiap bulan. Sambil nyobain semua herbal yang semua orang bilangin. Herbal, bekam, rukyah mandiri, qadarullah, tetap harus operasi. Ternyata lokasinya emang di dalem otot, jadi wajar kalo ga bisa luruh. 

Nah, sepulang dari Sangatta, saya membulatkan tekad untuk maju operasi. Ke Dokter lagi, bilang mau laparoskopi aja dok. Trus ke bagian pendaftaran, untuk didaftarkan dan dikasih tau biaya dan prosedurnya. Si petugasnya ibu-ibu muda, ketawa ngeliat muka saya tegang banget. Yaiyalah mau operasi! Sedangkan di opname aja gua belom pernah. Alhamdulillah. Akhirnya malah sambil ngobrol dan ternyata dia pernah punya miom dan kanker juga. Malah dapat banyak info dari dia apa saja makanan yang harus dihindari supaya miomnya ga tumbuh lagi, atau kankernya ga nambah ukurannya.

Qadarullah, setelah dagdigdug menjelang jadwal operasi, saya haid. Jadi diundur. 2 minggu. Hahaha.. 2 minggu kemudian, terbaringlah saya di meja operasi RS Hermina Bekasi. Sebelumnya, saya rutin olahraga tiap hari. Biar badan fit dan pemulihannya cepat, jadi ga lama-lama di RS. Mahal kan.. biaya sendiri pula T__T

Tentang apa dan bagaimana laparoskopi itu, googling aja ya. Hehe maap. Dia adalah tindakan medis yang minim luka dengan pemulihan yang cepat. in sya Allah. Enak banget... Kekurangannya apa dong? Lebih mahal pastinya. Haha.. per tahun 2017 di Hermina bayar alatnya doang aja 11 juta. Belum termasuk kamar (sesuai kelas yang dipilih), obat-obatan, visit dokter, paramedis, entahlah.

Selain mahal, persiapannya juga agak lebih rempong kata dokternya. Puasa bubur polos selama 2 hari, pencahar supositoria (via dubur) baik yang beli di apotik maupun disemprot lagi sama suster 5 ampul sebelum operasi. Trus puasa ga makan apapun 6 jam sebelum operasi, dan ga minum apapun 3-4 jam sebelumnya. Lalu minum obat buat buka jalan lahir kalo lo belom pernah melahirkan kayak gue. Itu muleeeesss sampe gue minum ibuprofen lagi buat nyerinya. Hihihi... Ribet ga sih? Ga tau gue, belom pernah ngalamin operasi yang lain. Na’udzubillah, jangan sampe.

Masuk ruang operasi jam setengah 10 pagi, ini itu, kira-kira jam 10 baru masuk ruang operasi. Operasi selesai kira-kira jam 6 sore. Alhamdulillah, malem jam 9 lewat gue keluar ruang operasi, paginya kateter dilepas dan gue disuruh mandi sendiri. Ma sya Allah, rasanya kayak baru hidup lagi gue. Seger banget. Trus berhubung infus juga, gw jadi beser. Qadarullah, si tampon yang menahan darah akhirnya lepas sendiri, dan kata dokter gapapa ga usah pasang lagi. Hamdalah....ganggu banget soalnya di saat beser. 

Siangnya ibu dokter visit, katanya udah boleh pulang! Yeay! Disuruh banyak gerak aja.
So far so good, sampai beberapa hari kemudian, habislah Ostelox si obat pereda nyeri. Cenat cenuuutt rasanya. Sama mual terus. Kata bu dokter wajar karena laparoskopi kan dimasukin gas biar perutnya gembung dan alat bisa masuk.

Seminggu kemudian, gue dipasangain IUD (alat kontrasepsi spiral) supaya rahimnya ga lengket. Kira-kira selama 3 bulan ke depan. Sambil minum pil kb buat normalin hormon-hormon gue. Abis dikerok rahimnya mak. Selama penyembuhan, gue disuruh makan banyak protein (ini bikin kolesterol gue mau ga mau ikut naik kayaknya). Nanti kalo udah sembuh, STOP. Biar ga tumbuh lagi miomnya. Aaamiinn...


Well, apa lagi ya? Udah panjang kayaknya. Udahan aja lah. Mudah-mudahan doa gue dan semua orang yang mendoakan dikabulkan Allah, diberi kesembuhan segera, diberi momongan segera. Aaamiinn... 

Note:
Gue selama kontrol dan tindakan, sama dokter Rizki Isnaeni, SPOg di RS Hermina Bekasi. 


#My Thought