Follow Us @farahzu

Wednesday, August 12, 2015

Pasar Terapung, Banjarmasin

10:39 PM 0 Comments
*latepost*

Qadarullah kami sedang sering dikasih kesempatan training di Kalimantan Selatan. Dari Banjarbaru (bandara dan sekitarnya), Banjarmasin, Martapura, sampai Tanjung Tabalong ke arah KalTeng. Setelah menginjak Martapura, pada kesempatan selanjutnya saya mulai ingat-ingat dan cari informasi mengenai tempat yang akan kami kunjungi selanjutnya. Pilihannya jatuh padaaaa... Pasar Terapung! And this is a story ‘bout that.

Kami sudah tanya-tanya resepsionis mengenai transportasi ke Pasar Terapung. Menurut informasi, sebaiknya kami berangkat pukul 3 dini hari dengan memesan taksi. Tarifnya 200ribu sekali jalan dari Banjarbaru. Fyi, di sana taksi ga ada yang berkeliaran mencari penumpang, melainkan baru keluar kalau ada pesanan. Fyuh. Kami berempat; saya, Mulia, Rizki, dan Fajar. Fajar adalah leader perjalanan kami sejak berangkat dari Jakarta. Awalnya dia enggan ikut karena takut terburu-buru jadwal pesawat pulangnya. Tapi setelah tau paling lambat jam 7 pagi kami sudah bisa sampai mess kembali, dia berubah pikiran dan formasi kamipun lengkap.

Awalnya kami sepakat patungan untuk transport. Tapi fajar berinisiatif mengabari pic Pama karena kami ada di bawah tanggung jawab beliau selama di sana. Niatnya itu saja. Seriously! Tapi alhamdulillaah.. akhirnya kami disediakan transport dan supir gratisss. Alhamdulillaah, rejeki anak soleh-solehah =)

Kami sudah siap dari pukul 04.00 dini hari, berdasarkan saran dari pic. Tapi supir dan mobilnya baru datang jam 04.30. Rrrrrgghh..risiko nebeng ga boleh protes. Mungkin ngebut (mungkin, karena kami semua tidur di mobil), kami sampai di lokasi jam 05.00 bertepatan dengan subuh. Shalat lah kami di sebuah masjid bersejarah, yaitu Masjid Sultan Suriansyah di Kuin Utara. Lumayan megah dan terawat, lantainya kayu besi, kubahnya menyala warna-warni. Jamaahnya juga lumayan. Tapi kebanyakan orang tua dan, pelancong seperti kami ini.
Masjid Sultan Suriansyah, Kuin Utara

interior please find at instagram @farahzu

Kami sempat ragu waktu disuruh pakai life-vest. Malu. Keliatan banget turisnya. Hihihi... tapi ketika Fajar bilang pernah ada karyawan yang mati tenggelam, tanpa ragu kami langsung mengenakannya. Bodo amat deh yang penting safety first!

Kami menyewa perahu yang tak bisa turun harga meski ditawar, 250ribu pulang-pergi. Jelas aja ga bisa turun, orang yang nawar pake life-vest gitu. Hahah.
sudah di atas perahu, (akhirnya) pake life-vest
 Sepanjang sungai, di kanan-kiri, kami menjumpai banyak sekali mushola atau surau atau langgar. Kota seribu surau katanya.

waiting for sunrise


 Meskipun sudah pagi-pagi, ternyata kami telaaaaattt... ternyata... pasar itu ramainya jam 2 s.d. jam 3-an.. kalau seperti kami yang hanya melancong, mungkin dianggap cukup dengan bisa sarapan di atas perahu. Huhu. Tapi tetep alhamdulillah. Ini pengalaman indah buat kami. Para pedagang yang tinggal sedikit itu berlomba mengayuh perahunya mendekati kami, para pelancong ber live-fest mencolok. Mangsa empuk! Ibu-ibu tua pada gesit banget mendayung perahu. Kami membeli seadanya yang bisa dibeli, pisang dan sebuah buah aneh yang saya lupa namanya (csdfkjwefncjnciwrhglakfpqwk). Hafal dengan perilaku pelancong macam kami ini, pemilik perahu berusaha mendekati perahu penjual sarapan yang sudah dirubung 2-3 perahu pelancong lain. Mepet-mepet canggih, akhirnya kami bisa merapat. Yaa setelah perahu lainnya pergi sih karena isinya udah pada kenyang. Hehee..

Kami sarapan di atas perahu. Nasi, mengambil gorengan dan kue-kue dengan tongkat panjang yang disediakan, dan semuanya memesan teh manis kecuali saya. Saya bawa minum air putih dengan perasan jeruk nipis. Saya nyicip juga sih tehnya Mulia.

pilih-pilih kue di perahu sebelah
saya tau kalau lagi makan itu pasti ga caem difoto. thats why ane nunduk aja gan. hehe..




 Bapak-bapak penjual sarapan di perahu samping kami. Dengan santainya ia melayani pembeli, lalu sambil menunggu ia mencuci gelas bekas pembeli dengan sabun cuci piring dan...dan...membilasnya dengan air sungai. Wkkhh! Kami berempat terdiam saling berpandangan. Mau muntah. Bayangin ajaaa itu kita mau nyelupin tangan ke air aja geli. Soalnya di sisi lain sungai, banyak penduduk sedang ‘bersih-bersih’ di sungai yang sama, dengan air yang sama. T____T Seketika lah bekal minum saya –yang agak asam itu— langsung habis, disambar 4 orang yang ingin mencuci mulutnya. Hahahahaha!


botol bekal minum untuk 'mencuci' mulut kami
 Well. Seru kok pengalaman barunya. Sunrise kami nikmati di atas perahu sambil mengisi perut (inget makanannya aja ya, minumannya ga usah!).




Buat saya, ini perjalanan menjelajah budaya, meskipun hanya di permukaannya. Bagaimana masyarakat sekitar sungai menjalani kehidupan yang sangat berbeda dengan kita-kita yang biasa memijak tanah tanpa risiko tenggelam atau sekedar goyangnya perahu terkena ombak dan arus air dari dan menuju laut. Bagaimana anak-anak di sana saling bermain, kalau loncat dari rumah saja sudah langsung bisa berenang. Seru lah pokoknya. Alhamdulillah. 
udahmandi-belummandi-belummandi-udahmandi




habis belanja!






*photos were taken by Fajar w/iphone 4s. Foto-foto saya raib karena sd card-nya rusak. Hiks! Ada sih beberapa di instagram. Feel free to see @farahzu. Thank you!



Tuesday, February 17, 2015

sama punya hak untuk bahagia (cerita anak berkebutuhan khusus)

1:23 PM 0 Comments
Alkisah (ceilah), saya pergi ke sebuah hotel di Bandung untuk keperluan training persiapan masa pensiun sebuah perusahaan swasta nasional, selama 6 hari. Di hari terakhir training, ada acara berbagi dari peserta kepada anak-anak berkebutuhan khusus di kota Bandung. Ada yang tunanetra dan low vision, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, dan tunaganda (yang menyandang lebih dari 1 kebutuhan khusus).

Fyi, training pensiun ini sangat menguras perasaan dan air mata kami; peserta dan juga fasilitator yang baru turun di training jenis ini. Hehehe.. apalagi saya yang memang berhati lembut (hahay!). Hingga sampailah kami di sesi siang hari terakhir, acara berbagi itu. Saat peserta baru saja menghela napas setelah bersimbah air mata, hatinya lagi pada lembut-lembutnya, ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) didatangkan ke hotel dengan diantar guru-gurunya dari SLB. Setelah pembukaan, masing-masing ABK dipasangkan dengan 1 keluarga peserta (peserta terdiri dari suami dan istri, kecuali yang ga bawa istri), lalu mereka makan bersama.

Waktu anak-anak baru masuk ruangan, saya turut menyambut mereka dengan ‘girang’. Otomatis saja gitu. Apalagi ada seorang ABK perempuan, kecil di atas kursi roda, tunaganda, memancarkan ekspresi girang luar biasa sambil merentangkan tangannya lebar-lebar ke arah saya. Minta dipeluk. Haduuuu… saya sambut ekspresi riang gembiranya dan memeluknya, dan mencium dahinya. Ia begitu ceria. Tak ada masalah dalam hidupnya, nampaknya. Begitu juga dengan anak-anak yang lain. Sama cerianya, berteriak-teriak mengikuti acara dan lomba yang disiapkan Bapak dan Ibu peserta training, memperebutkan hadiah.

Sampai pada sesi ini berakhir, keluarlah salah seorang yang dituakan dan dihormati di antara kami, sambil matanya sembab karena menangis, dan memang ia masih menangis. Para peserta meminta foto dengan bapak tersebut bersama ‘anak mereka’ masing-masing, dengan si bapak masih mengeluarkan air mata. Saya sempat bergurau, “Jangan mewek terus dong Pak”, tapi ga mempan.

Di sela-sela istirahat, bapak yang kami hormati itu mendatangi saya dan ternyata masih membahas ‘mewek’ tadi. Beliau bertanya, “Memangnya Farah ngga tersentuh melihat mereka?” Jleb. Saya jadi mikir, tapi sayangnya waktu beliau bertanya itu, saya tidak terpikir jawabannya *kebiasaan telmi. hehehe...

Bagaimana mungkin hati saya tidak tersentuh, sedangkan sedari tadi sayalah fasilitator yang paling sulit menahan tangis mengikuti jalannya materi di sesi-sesi yang sudah-sudah. Oh, saya tau kenapa.

Sebagai anak psikologi, kami lebih sering berinteraksi langsung dengan ABK, maupun tidak langsung dengan membahas mereka di kelas-kelas kuliah serta seminar, dan kehidupan sehari-hari kami. Kami mengenali bahwa mereka sama saja dengan orang-orang yang normal pada umumnya; mereka perlu dihargai dan ‘dianggap bisa’. Meskipun menurut penglihatan awam, mereka (maaf) kekurangan, tapi jiwa dan hati mereka akan sakit bila dianggap tidak bisa, tidak mandiri, selalu perlu bantuan orang lain yang normal. Mereka butuh kebahagiaan bahwa mereka mampu menjalani hidup mereka sendiri, tanpa terus diikuti oleh pandangan iba dan kasihan dari orang lain.

Kita ada untuk saling berbagi, kita mendatangi dan mendatangkan mereka untuk berbagi kebahagiaan. Maka kebahagiaanlah yang seharusnya kita bagi pada mereka, bukan rasa kasihan. Secara manusiawi mungkin kita memang tersentuh dan ‘takjub’ dengan keadaan mereka yang bisa bertahan dan ikhlas menerima taqdir Tuhan. Tapi menurut saya, simpanlah rasa itu dalam hati, jangan ditampakkan di depan mereka.

Ketika anak-anak itu datang ke ruangan, mereka harus melepas sepatunya. Guru-guru yang mendampinginya hanya memperhatikan sambil bersikap tegas dan berkata, “Ayo, buka sepatunya sendiri. Semuanya kan sudah bisa”. Ibu guru itu sudah menanamkan self efficacy (perasaan mampu dan berdaya) yang sangat penting bagi kepercayaan diri mereka kelak. Dan mereka benar-benar bisa melakukannya sendiri (kecuali beberapa anak dengan kebutuhan tertentu, tuna ganda; grahita, rungu, dan daksa sekaligus). Maka, sebaiknya kita dukunglah pelajaran yang telah susah payah diberikan oleh para guru itu.



Anak berkebutuhan khusus, punya hak yang sama dengan kita untuk dihargai bahwa mereka adalah seseorang yang mampu, kuat, dan mandiri. Mereka juga punya hak yang sama dengan kita, berhak untuk bahagia. Perlakukanlah mereka sebagaimana mereka ingin diperlakukan. Seperti anak perempuan di atas kursi roda, yang memancarkan binar wajah kebahagiaan bertemu dengan kami saat itu. 


ini anak perempuan yang saya maksud. Tapi waktu difoto entah kenapa ya ekspresinya jadi serius gitu? hihihi ;)


awalnya anak ini maunya pulang terus. Tapi Bapak ini berhasil mengambil hatinya dan memberikannya tawa kegembiraan. so sweet.. 


they can!
akhirnya pasrah di pelukan 'bapaknya', setelah lelah berontak karena dielus-elus dan dicium-ciumin terus sama 'si ibu'. Risih kali ya?



Tuesday, January 13, 2015

11 januari

3:04 PM 2 Comments
"11 Januari bertemu
menjalani kisah cinta ini
Naluri berkata,
engkaulah hidupku" (Gigi, 11 Januari)
 

Alhamdulillah. Ahad lalu, 11 Januari 2015, sahabat saya melangsungkan pernikahan di Makassar. Sahabat saya ini, Masya Allah, keren deh pokoknya. Baik banget. Selalu mendahulukan orang lain.

Saya ingat, saya pertama kali bertemu dengannya bulan Desember 2013 di kantor, di ruangan waktu bos saya sedang menginterviewnya. Saat itu sore hari, hampir jam pulang kantor. Dia sudah keluar dari ruangan akan pulang. Saat saya melewati meja bos saya hendak pulang, ada visit card yang tertinggal. Saya bawa dan ‘kejar’ dia sampai ke lobby, dan ternyata dia juga sedang menunggu lift untuk naik kembali mengambil kartu itu. Basa-basi sebentar, lalu saya diantar pulang karena ia dijemput oleh adiknya. Hehehe pertemuan pertama yang membawa rezeki. Bahkan di kemudian hari, adiknya ini lah yang membantu saya dan suami menjual motor waktu mau pindah ke Jakarta. Orang ini memang berkah. Aamiinn!

Pertemuan kedua di kantor juga, saat dia menunggu untuk diinterview seorang direktur yang akan jadi atasannya. Saya duduk menemaninya dan tanpa diduga, langsung keluar curhatan kegalauan. Hihihihi…

Tak seberapa lama, dia bergabung di perusahaan kami, dan kami menjadi sejoli yang sangat akrab. Satu ruangan, dan, seumuran. Dia juga sempat bekerja di Jakarta, jadi cukup bisa nyambung dengan saya, dari logat maupun pemahaman budaya. Belakangan diketahui, ternyata teman-temannya di Jakarta banyak juga yang merupakan teman saya di kampus! Hahaha makin klop deh.

Saya merasa lebih muda dan ceria aja gitu sejak ada dia di kantor. Pulang kantor kita suka ngebecak ke MaRI (Mal Ratu Indah), jalan-jalan, terus makan pecel ayam di belakang mal, trus jalan kaki sambil curhat. Dia juga yang mengenalkan saya pada Pasar Butung, semacam Tanah Abang di Makassar. Bahkan siang-siang pas Ramadhan yang panas, dia rela nemenin saya belanja ngelilingin Pasar Butung. Ah, you’re so kind beb.

Dia yang mencoba memakai cincin kawin saya di jarinya, beberapa hari sebelum saya resign. Saya pikir untuk model/mencocokkan saja untuk cincin kawinnya dia. Ternyata eh ternyata, dia lagi ngukur cincin saya sebagai mata-mata anak MT yang akan ngasih saya kenang-kenangan cincin emas. so sweet :) I love u 

Dalam perjalanan waktu yang sangat singkat, dia bertemu kembali dan dekat dengan kakak kelasnya di kampus, yang dulu katanya cuma ada di friend zone. Hahah. Kakak kelasnya dia itu baik banget. Setelah ada beliau, hampir tiap hari kami diantar sampai rumah dari kantor. Kalau saya ada perlu dulu dan minta ditinggal aja, dia nungguin dan ga mau ninggalin. Sekedar untuk beli testpack di apotek maupun ngambil barang dagangan saya di kanwil BSM, bahkan, sampai keluar masuk toko kado waktu lagi nyari kado buat keponakan maupun kenang-kenangan buat bos saya. Hahaha..

Nah, selama perjalanan mengantar pulang ini lah, saya akrab dengan si kakak kelasnya yang ternyata sama-sama usil dan tega ngeledekin si sahabat saya ini. Dan anehnya, saya menangkap kebahagiaan sahabat saya waktu itu, padahal dia kena telak dikerjain atau di cengin. Hihihihi lucu banget sih kalian.

Anyway, saya adalah orang yang sangat berbahagia dengan pernikahan mereka. Dua orang yang penuh dengan ketulusan.  

Baarakallaahu lakuma, wa Baraka ‘alaikuma, wa jama’a bainakumaa fii khaiir.

Selamat berbahagia, Sahabat Kami,


Yunita Eka Sari Bahrun dan (kak) Indra Ispujianto

:)

Tuesday, December 23, 2014

Mango Frappe

10:56 AM 2 Comments

Halo! Jarang-jarang kan saya posting tentang makanan/minuman? Ehehehe… ga tau kenapa lagi pengen buat minuman yang unik dan enak-enak yang biasa ada di menu-menu restoran/kafe, ditambah lagi musim manga, akhirnya saya membuat Mango Frappe. Sumbernya dari sebuah blog milik mantan seorang barista di Jakarta. Sila klik link ini.

Bahan-bahan:
-          Buah mangga; karena saya suka arumanis, jadi ya saya pakai mangga arumanis
-          Susu cair putih
-          Es batu
-          Ice cream vanilla; tapi saya nemunya vanilla-strawberry, hayuk ajah
-          Simpel syrup (gula cair); optional

Alat:
-          Blender/Tokebi (kalo males nyuci)
-          Gelas

eskrimnya terlambat dibeli, lupa!

Blend semua bahan-bahan kecuali gula cair. Sampai halus, sajikan di gelas (kalau ada yang bagus). Berhubung saya lagi di rumah dan bahan-bahan yang ada ya seadanya (dan saya kurang rajin), jadi ga pake garnish apapun. Oia, kalau ada whipped cream juga bagus, taruh di atasnya sebagai garnish.
Mango Frappe
(seadanya, bahkan sedotan pun saya ga punya. note: itu sumpit buat ngaduk aja, looked like sedotan, right?)
Yo wis, kalo ada potongan buah yang cantik kayak strawberry, lemon, or others, silahkan ya.. Sajikan dengan gula cair terpisah. Tergantung yang minum suka manis atau tidak.

Yak! Semudah itu! Hahaha..
Alhamdulillah.


Sunday, December 21, 2014

My Edelweiss

12:31 PM 0 Comments

Tahun 2010 yang lalu, saya sempat gandrung dan membuat tulisan tentang sang bunga abadi, edelweiss. Di balik segala filosofinya, ternyata edelweiss ga segitu ga ada harumnya loh, wanginya lumayan menenangkan dan agak-agak segar misterius gitu deh. Hehehe…

Nah! Sekarang saya punya Edelweiss di rumah. Tanpa diduga-duga, saya mendapatkannya dari teman mamah saya yang baru jalan-jalan ke Jawa, trus naik ojeg ke atas gunung, buat metik edelweiss. Si tante penasaran, karena katanya dulu waktu SMA pernah naik gunung, tapi dilarang guru/senior waktu mau metik edelweiss.. emang ga boleh.. hahaha.. tapi udah terlanjur ada di rumah saya... rezeki kali yaa..

Si tante membawakan Edelweiss yang belum kering. Sempat saya taruh di gelas plastik (anggap saja sebagai vas sementara), tapi tak lama ia beserta gelas-gelasnya jatuh, karena masih berat massanya dan agak merunduk. Klop ama gravitasi. Saya pikir, mungkin akan lebih mudah diatur kalau sudah kering dan lurus batangnya. Apa yang saya lakukan? Ini dia. Saya gantung terbalik dengan harapan tangkainya lurus.
 
hhe.. tega ya..

3-4 hari kemudian saya buka bungkusan itu yang ternyata agak lembab, tangkainya juga.








Setelah diangin-anginkan, akhirnya bisa dipajang deh ;)






Itu aja ceritanya. Hehehe... ga penting yah.. Sebenernya pas kangen megang kamera sih, jadi yaa genit begini jadinya.. ;)


Sunday, December 14, 2014

Tanjung Bara! The Private Heaven

9:31 PM 0 Comments


Tengah September 2014, akhirnya, alhamdulillaah, saya beserta suami dan beberapa orang teman kantor saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi sepenggal surga di ujung selatan pulau Sulawesi: Tanjung Bara! 

Mungkin beberapa dari pembaca telah mengetahui atau malah mendatangi Tanjung BIra, lokasi wisata yang sudah lumayan terkenal di Kab. Bulukumba, Sulsel. Indah memang, pasir putihnya sangat menggoda. Tapi alhamdulillah seorang teman saya di kantor adalah seorang bolang, jadi dia merekomendasikan lokasi lain di dekat Tanjung Bira yang masih cukup perawan dan belum didatangi banyak orang. Pantai Bira sudah ramai sekali sekarang, Sodara. Pedagang dan wisatawan berbaur memenuhi pantai yang semakin terkikis. Ramaaaaiii sekali. 

Sampai Jumat tanggal 12 September sore setelah jam kantor berlalu 30 menit, belum ada kepastian tentang keberangkatan kami. Semua orang sibuk! Kerjaan numpuk. Barulah di pukul setengah 6 itu kami membulatkan tekad: oke, berangkat! Singkat cerita kami berangkat pukul 22.30 WITA. Hehehe lama banget jedanya.

Kami naik avanza lama yang, per-nya, subhanallaah, kayak ga ada. Saya dan suami yang kebagian seat paling belakang, terlonjak-lonjak sampai langsing, memakai seat belt. Padahal yang duduk di depan ga ada yang pake. Hahaha...

Kami bertujuh: Nanda di kemudi, Ka Ucu, Ismy, Rifky, Najmah, saya, dan abang. Alhamdulillah jalan lintas kabupaten di Sulawesi ini kosong kalau malam, jadi si Nanda kebut-kebut gila biar cepet sampai. Rute kami sbb: Makassar, Kab. Gowa, Kab. Takalar, Kab. Jeneponto, Kab. Bantaeng, Kab. Bulukumba. Makassar – Gowa – Takalar kami lewati dengan tenang, paling miring-miring dikit karena kecepatan mobil yang dahsyat. Beberapa (termasuk saya) tertidur. Sampai Jeneponto, tidur kami terganggu, banyak lubang. Masalahnya kami ga naik fortuner atau pajero, jadi yaaa sabar aja, alhamdulillah dapet mobil…hehehehe…

Alhamdulillah setelah Jeneponto usai, kami memasuki Kab. Bantaeng yang luar biasa. Luar biasa rapi, bersih, canggih. Nanti insya Allah saya buatkan tulisan tentang sekilas kota ini. Kayak di luar negeri deh! Sebenarnya masih ngantuk, tapi rasanya sayang melewatkan kota ini begitu saja :D
Bantaeng lewat, kami memasuki kabupaten tujuan: Bulukumba! Alhamdulillaah. Tapi ternyata lokasi yang kami tuju tidak dekat, sekitar 30 menit dari pusat kota kab. Bulkum. Saya tertidur lagi *dasar*Tidur saya melewatkan momen teman-teman mencari penginapan sampai satu jam *parah banget*. Akhirnya pas bener-bener udah dapat, saya baru bangun, mindah-mindahin barang dari mobil, wudhu, lanjut tidur lagi. Kira-kira sudah pukul 3.30 WITA.

Semua orang tidur lagi setelah subuh. Masih gempor. Sampai akhirnya jam 8 kami baru siap menuju Bara. Naik mobil melalui jalanan rusak parah membelah hutan semak (mungkin jalanan baru dibuka) kira-kira 20 menit, sampai kuah popmi muncrat, hihi.. Akhirnya kami sampai di pantai Tanjung Bara. Luar biasa! Berikut foto-fotonya:

Harus menuruni bebatuan untuk melihat surga. Tersembunyi.

Ini pasir putih Tanjung BARA yang puuttiihh dan leeemmbuuuttt banget! Pantai Bira masih kalah



Pantai Tanjung Bara

Berapa lapis gradasi warna lautnya?
it's me&hubby. this favourite photo was taken by Ismy

Laut bening




suami <3
Apa yang dicari ibu-ibu setempat ini?
Yeah! Mereka berhasil mendapatkan GURITA
 Keren kaaaaan?!


Nah, sorenya kami ke Bira. 2-3 menit lah kira-kira jalan santai dari penginapan. Lurus doang. Cekidot!


ngintip bira dari atas



benniiiiiing
Garis pantai Bira sekarang semakin terkikis.. dan penuh orang jualan

PANTAI BIRA, wonderful!

ramai pengunjung

rame banget kan...
menjelang sunset

ombak pantai Bira

ada turis india hampir tenggelam! (baca: nanda lagi berenang)

akhirnya turis india itu diketemukan oleh sebuah kapal. heheheehe



dan inilah kami! rifky - ka ucu (yusuf) - ismy - farah - abang (ghozali) - nanda - najmah


Alhamdulillaah, malam minggunya, kami bakar ayam deh. Ayam bakar ini enaaaaaaakk banget. Rifky yang masak. Tanpa bantuan siapa-siapa, kecuali neneknya yang dimintai tolong untuk jagain ayam yang udah diungkep biar ga dimakan orang lain di rumahnya :D kerreenn!!


ngiris cabai-tomat dulu untuk sambal kecap

bakar ayaaaaaaam! *ayamnya ga di foto, udah kalap duluan saking enaknya!
Alhamdulillaah, akhirnya kesampaian juga kami jalan-jalan ke Bara dan Bira.. Beberapa hari sebelum kepulangan saya dan suami ke Pulau Jawa. Terima kasih sahabat-sahabatku, kami merindukan kalian sangat!!!