Sunday, March 28, 2010
Saturday, March 27, 2010
Friday, March 26, 2010
Thursday, March 25, 2010
Berhasil mnculik seorang bocah! td stlh nganterin mamah naik motor, mampir k t4 laundry. Eh,ada anak cowok,kira2 3thnan,ganteng deh.hehe..trus dy mw aja aku ajak ikut naik motor. Pdhl rmhku tinggal 15meter lagi. Jadilah,aq keliling2 blok dulu dg anak ganteng itu didepan =D *tp sumpah,udah dibalikin kerumahnya kok!
farahzu
9:40 AM
17 Comments
Wednesday, March 24, 2010
Monday, March 22, 2010
Sunday, March 21, 2010
Friday, March 19, 2010
Berhari-hari, bermalam-malam, aku layaknya pemuda kahfi yang walaupun jelas tidak sehebat mereka, mengisolasi diri di dalam gua. Kesamaannya, ini sama-sama ujian keimanan. Skripsi itu ujian keimanan luar biasa bagiku (nanti deh kalo ada kesempatan, abis sidang, insya Allah aku cerita tentang itu). Pintu gua (baca: kamar) sesekali terbuka, tapi lebih sering hanya ‘sedikit’ terbuka agar tetap bisa kontak dengan ‘dunia luar’. Berhari-hari dan bermalam-malam itu juga kamarku diseraki kertas-kertas putih bernoda print out dan coretan-coretan pembimbing atau coretanku sendiri. Rusuh.
Hingga sampailah pada suatu pagi, Rabu yang indah, akhirnya draft selesai. Berikutnya di kampus nanti aku harus mengeprint ratusan halamannya. Demi menghemat beberapa puluh ribu rupiah, aku berusaha membuka kembali jilidan draft yang lama, untuk mengambil sekitar 70an lembar lampiran verbatimnya. Tidak ada alasan untuk mengeprint kembali dan tidak menyerahkan 70an lembar itu pada penguji, karena masih sangat layak tanpa coretan.
Ternyata, s u s a h sekali. Hasil steples jilidan itu sepertinya langsung dibuat paten oleh abang foto kopi. Ibuku ikut membantu dan mengambil alih. Awalnya ia memakai bagian belakang steples lain untuk membuka temannya (sesama steples). Tak berhasil, terlalu kuat. Beliau minta aku mengambilkan pisau.
Tapi sebelum pisau dariku sampai, ujung steples besi yang tajam itu telah menggores tangannya, mengguratkan luka panjang. Dan, darah segar mengalir. Tapi beliau seperti tidak merasakan apapun. Kuobati, beliau berjuang lagi. Seperti mati rasa. Setelah bersusah payah beberapa menit kemudian, jilidan itu pun terbuka.
Beberapa menit kemudian sebelum berangkat, aku memeluk dan mencium beliau, meminta maaf lagi atas lukanya. Tau, apa jawaban beliau?
“Mamah seneng, akhirnya ada juga yang bisa mamah bantu buat skripsi ade”
Bekasi, 18 Maret 2010