Follow Us @farahzu

Thursday, March 3, 2011

Kompensasi

11:20 AM 6 Comments
     Ada seorang akhwat. Dari Bogor. Ketika berbincang, dia mengaku kamarnya cukup rapi. Tapi saya menemukan sebuah keanehan: dia juga tidak suka beres-beres. Tapi dia tidak suka berantakan. Kontradiksi yang unik, menurut saya.
Umumnya, orang yang rapi adalah orang yang suka menjadikan miliknya tidak berantakan, biasa identik dengan suka beres-beres. Nah, akhwat ini tidak. Dia tidak suka beres-beres, maka ia mengatur sedemikian rupa hingga kamarnya tidak berantakan. Habis mengambil sesuatu, langsung tempatkan di tempat asalnya. Jadi semua tetap rapi, dan ia tidak perlu sering beres-beres.
Menurut saya, dia cerdik. Akhwat ini paham kekurangannya. Mungkin ada hal-hal tertentu yang membuat dia tidak bisa menghilangkan kekurangan itu, hal yang saya tidak tau. Tapi dia mencari kompensasi lain untuk menutupinya. Hasilnya, sama toh? ^^
Aaaah kawaaannn betapa indah memahami tentang diri itu. Begitu hebat bila kita mampu mengatasi semua kekurangan kita. Tapi begitu cerdik bila kita mampu membuat kompensasi atas kekurangan kita, kala mengatasinya adalah berat.
Yang penting, tetap optimal dan berhasil dengan baik. Insya Allah.

Komentar

7:09 AM 9 Comments

      Komentar kian biasa saja nampaknya bagi manusia di sekeliling saya. Mudah-mudahan tidak termasuk keluarga dan teman dekat. Orang-orang di sekeliling ya, belum tentu dekat di hati.
Komentar, saya tidak sedang menulis tentang komentar-komentar di blog atau facebook, yang kebanyakan orang memang senang dikomentari. Tapi saya cukup terganggu mendengar komentar seseorang terhadap orang lain yang sebenarnya tidak dia kenal, seperti,
“Ih, orang itu rempong banget sih…”,
“Harusnya bapak itu jangan bla, bla, bla, sama ibu itu, kan jadinya, bla, bla, bla…”,
“Ga matching banget sih tu orang, pake bajunya eksmud tapi bawaannya wadah plastik buat jual makanan gitu…”

Dan komentar-komentar sejenis yang menurut saya sia-sia. Pasalnya, apakah dia mengeluarkan komentar itu atau tidak, tidak akan ada yang berubah. Selanjutnya, apakah dia mengambil pusing perbuatan orang lain yang tidak merugikannya itu atau tidak, tetap tidak akan ada yang berubah.
Yang berubah hanya kondisi hatinya yang jadi kesal, pikirannya yang jadi mumet karena terlalu memikirkan hal-hal tidak penting dari orang lain, dan mimik wajahnya yang jadi menyebalkan. Juga, yang berubah hanya hati pendengar seperti saya yang jadi gerah, tidak ingin ditambah beban yang tidak penting karena merasa sudah punya banyak urusan, masalah, dan pekerjaan saya sendiri yang harus diselesaikan.
Jadi ingat kultumnya Pak Inu ba’da ashar kemarin, bahwa setiap kata-kata kita kelak akan dihisab. Maka, berbicara lah hanya yang baik-baik saja, atau diam saja. Toh tidak ada ruginya. Pikirkan saja aib-aib kita sendiri yang masih banyak… kecuali jika diminta atau sekiranya bermanfaat. Kalau tidak, kok repot..?

*ini curhat kebetean saja…
Kereta ekonomi, stasiun, kantor, stasiun, kereta express, stasiun lagi.
Maret 3, 2011

Monday, February 21, 2011

cukup singkat untuk jadi sahabatku

7:18 PM 5 Comments

Sahabat itu...
Biasanya kita anggap demikian karena menemukan kebaikan-kebaikan yang konsisten diberikannya untuk kita. Biasanya kita bisa merasakan ketulusan, meski tanpa keterangan, ‘aku tulus memberikannya/melakukannya untukmu’.

Sahabat adalah setelah pertemanan yang panjang; biasanya. Setelah saling mengenal, berinteraksi, saling memberi, menerima kebaikan-kebaikannya, bersabar atas sifatnya yang kurang baik, dan menerima dengan lapang bahwa, “dia baik, dia sahabatku”.

Namun ternyata, aku punya beberapa sahabat, beberapa orang yang belum lama berinteraksi denganku. Yang aku tau hanya, aku merasa nyaman dengan mereka. Selanjutnya mereka tidak menyebalkan. Atau, selain nyaman, mereka juga baik kepadaku. Itu saja.

Hey, sahabat-sahabatku, terima kasih ya ^^

As Every Monday Morning

2:17 PM 1 Comments
Hampir semua orang yang saya kenal, merasa berat hati ketika pada Ahad malam menyadari tentang sesuatu; “Ouch, besok sudah Senin ya?!” Teman-teman, kuliah maupun kerja, menampakkan gejala yang sama. Tapi, mungkin beda kalau yang pengusaha, karena semuanya mudah diatur. Itulah hebatnya. *tapi saya ga bahas tentang pengusaha kok...

Senin pagi, dirasakan berat oleh sebagian orang. Kebanyakan merasa masih lelah karena waktu liburnya dirasa kurang, atau bisa juga lelahnya karena liburan (cth: melancong, hhe). Tapi, bisa juga karena berat menghadapi ‘kenyataan’ kembali.

Kalau hari pertama setelah libur adalah hari yang berat bagi kebanyakan orang, menurut saya, kalau dilihat dari kacamata ideal, ini aneh. Yang namanya libur, harusnya kan sebagai pemulih kondisi tubuh, pikiran, maupun ruhani setelah banyak beraktivitas selama berhari-hari. Untuk refreshing juga. Namun kalau kenyataannya setelah ‘refreshing’ itu malah merasa berat, dari mana dong seharusnya orang-orang mendapatkan semangat untuk produktif kembali?

Yang saya perhatikan juga, senin adalah hari yang paling sibuk. Kereta lebih penuh penumpang, baik berangkat maupun pulang. Jalan-jalan sudah macet lebih awal. Pakaian orang-orang lebih ‘rapi’. Ritme kerja lebih cepat dan saya merasa ‘lebih tegang’.

Uhm... tapi, seiring berjalannya waktu, dari Senin pagi ke Senin siang, ke sore dan ke malam, hingga akhirnya tiba hari berikutnya, ‘ketegangan Senin’ mulai mereda dan energi pun mulai bermunculan kembali. Mungkin ketegangan itu hanya momok.

Setelah melalui pemikiran yang tidak dalam dan perenungan yang tidak panjang, saya pun menyimpulkan: yang berat itu memulai. Langkah pertama. Sampai ada sebuah inspirasi terkenal: seribu langkah besar pasti dimulai dari satu langkah kecil.

Karena yang berat itu memulai. Memecah mimpi besar ke dalam sekian cita-cita dan prestasi kecil-kecil hingga pada akhirnya sukses lah sang mimpi besar tercapai. Kesabaran lah yang membuatnya bisa merasakan kemudahan, melintasi waktu-waktu yang terbingkai oleh ketegangan, yang seringkali bingkainya hanya ada di dalam pikiran kita.

Semangaaaatttt!!!

Senin, 21 Februari 2011
Dari dan untuk rekan-rekan yang
selalu menginspirasi
*mudah-mudahan saya bisa mengamalkan ^_^

Friday, February 18, 2011

FF-- Menahan Uang

8:37 AM 8 Comments
         Suatu pagi ketika matahari belum muncul, seorang ayah dan ibu berbincang di meja makan, sambil menemani anak gadisnya sarapan. Mereka tengah membicarakan harga tiket pesawat yang bisa lebih murah beberapa ratus ribu jika pembayaran dilakukan dengan kartu kredit.
        Tapi keluarga itu tidak memiliki kartu kredit satupun. Sang anak berkata,
“Aku ingat kata ayah; (jika ingin sesuatu)
kalau punya uang, beli, kalau tidak, diam saja.”
Anak ini diajarkan untuk menahan hawa nafsunya dan tidak membiasakan berhutang.
“Kata Nurul (temannya) juga; jangan beli kalau sedang kepingin”.
       Artinya, belilah barang yang kau butuhkan, bukan yang kau inginkan karena ingin itu relatif semu.
       Sang ayah dan sang ibu mulai tersenyum mendengar kata-kata anaknya itu, ‘anakku sudah mulai bijak bersikap pada uang dan hatinya’.
       Namun sayang, sang anak melanjutkan,
“Nah, aku insya Allah bisa sih kalau nahan beli-beli barang. Tapi aku ga bisa nahan kalau diajak jalan-jalan... gimana dong?”
Seketika mereka berkomentar gubrak...

Sunday, February 13, 2011

Waktu Kita Sama

3:32 PM 7 Comments
    Tapi kok nasib kita beda-beda ya? Ada yang sukses, ada yang biasa aja, ada yang melarat. Jawaban gampangnya: takdir. =_______=’’’
    Tapi dalam hal ini kita bisa memilih. Takdir untuk sukses, biasa saja, atau melarat. Kala kita memilih takdir sukses, maka pilihan (sadar) itu akan mengarahkan jiwa, raga, dan pikiran untuk menemui takdir itu. Usaha yang keras. Dan cerdas. Juga ikhlas. *mirip mottonya ka edwin. Hehe
    Ya, waktu kita sama. 24 jam sehari. 7 hari sepekan. 4 pekan sebulan, dan seterusnya. Tapi cara kita memberi makna dan nilai terhadap waktu itu yang berbeda. Sama-sama di angkutan umum; ada yang bengong, ngobrol, tidur, mainan handphone, dzikir, membaca, memikirkan rencana hidup, masalah kerja dan sekolah, berdagang, mencicil tugas/pekerjaan, dan lain-lain.
     Waktu tidak bernilai, kalau kita tidak memberinya nilai. Pun tidak menambah kebaikan pada diri kita, kalau kita tidak menjadikannya detik-detik perbaikan.
    That’s it. Semoga bermanfaat. 

HI oh GI…

3:06 PM 3 Comments
Bunderan HI.
     Kuakrabi karena sebuah status: mahasiswa UI. Seringkali aksi ke sana, az-zumaar; berombongan-rombongan, dengan mencarter beberapa miniarta jurusan Depok-Pasar Minggu. Berjejal-jejal dalam metromini itu, panas karena sesak pun karena berjaket kuning dan siap dengan slayer penutup wajah. Seringnya jadi ‘rakyat jelata’, hanya beberapa kali turut menertibkan rombongan aksi.
     Sampai di bunderan HI, turun dengan sigap, menyatu dengan barisan. Panas terik. Debu. Keringat. Semangat. Ah, baru perjuangan kecil ini saja yang bisa kami lakukan, pikirku saat itu. Meski gedung-gedung megah mengelilinginya, seingatku, sekalipun tak ada keingintahuan untuk mencicipi kesejukan udara dalam kemegahan gedung itu, apalagi menikmatinya. Kami hanya singgah sebentar, namanya juga sedang berjuang. ;)
     Sekarang, berkantor di dekat lokasi kenangan itu. Kadang jalan dengan teman-teman ke GI (Grand Indonesia) untuk makan siang. Di kantinnya, tentu saja. Hehe… kalau dulu naik angkutan seperti yang disebut di atas, sekarang naik taksi (cuman 6ribuan sampe GI, muat berlima). Dulu melintas bundaran HI dengan panas sesak di miniarta, sekarang nyaman sejuk di dalam taksi. Dulu pakaian berkeringat terbungkus jaket kuning, sekarang rapi.
      Ah, tapi sungguh, jauh lebih indah dan membahagiakan kala dulu di sana bersama kawan-kawan seperjuangan, dengan aroma kemenangan. Perlahan. Masih sangat perlahan, sayangnya.
Namun pasti. 

Tuesday, February 8, 2011

Satu-Satu

7:12 AM 4 Comments
    Kemarin ada yang bertanya, fokus pada banyak hal adalah keahlian yang bisa dilatih bukan sih?
    Menurutku, ya. Kuncinya hanya fokus. *lhoh, muter-muter. Maksudnya, fokus mengerjakan setiap hal itu, satu-persatu. Misal, kita ingin sukses dalam bidang akademis, organisasi kampus, dan bisnis yang mulai kita rintis. Tidak ada yang harus dipilih untuk lebih diutamakan, kecuali kalau hanya ingin berhasil di salah satu saja. Fokus saja untuk ketiganya. Tapi, satu-satu.
    Ketika sedang melakukan hal-hal yang berhubungan dengan akademik (contoh: belajar, kuliah, ngerjain skripsi), fokus saja di situ. Jangan pikirkan dulu hal lain. Fokus. Setelah selesai untuk jangka waktu tertentu yang kita alokasikan untuk itu, baru pindah ke hal lain; organisasi atau bisnis.
    Yang terjadi ketika kita fokus dan menyelesaikan urusan akademik itu, adalah kita bisa fokus dan optimal untuk melakukan hal lainnya. Kita bisa fokus dan bebas berorganisasi atau menjalankan bisnis karena urusan akademis kita sudah selesai. *kalau prinsip yang saya adopsi dari La Tansa Male Cafe sih, ½ + ½ = 0. Jadi, jangan setengah-setengah untuk apapun yang kita kerjakan. 
    Nah, yang harus dilakukan pertama kali adalah, bertekad. Bertekad untuk mencurahkan energi pikiran dan raga untuk membuat semua keinginan kita tercapai. 
   Lalu setelah bertekad, menulislah. Buat daftar tentang hal apa saja kita ingin fokus. Atau amanah-amanah kita. Di atas kertas. Harus ditulis dan harus di atas kertas. Hal ini remeh, maka itu banyak yang berpikir, “oke, nanti ditulis”. Tapi karena remeh dan nanti, lupa deh. Padahal dengan menulis dan membuat daftar (to do list) ini, kita mengonkretkan apa saja yang perlu kita kerjakan, satu-persatu, sehingga lebih mudah dalam eksekusinya. Dengan menulis ini juga, seringkali akan terpikir langkah ‘kecil’ penting lain untuk mencapai keinginan kita.
   So, please take a write, right now. ;)

Sunday, February 6, 2011

Rekan Seangkatan

11:02 AM 14 Comments
        Ini bukan tentang teman-teman yang lulus sekolah maupun masuk kuliah di tahun yang sama. Bukan juga angkatan bersenjata. Ini cerita tentang kereta. *lhoh? Ya, cerita tentang ‘rekan-rekan’ seangkatan kaki pada detik-detik menegangkan yang sama *lebay, berlomba memasuki gerbong kereta. Hehe..
        Ini salah satu manfaat dari observasi atau pengamatan kita pada lingkungan sekitar. Pulang bareng dengan tetangga yang telah lebih dulu hafal dan memang suka memperhatikan lingkungan juga, sangat membantu saya untuk mendapatkan tempat duduk di kereta saat pulang kantor yang melelahkan.
      Bekasi Express pukul 18.30 dari stasiun Sudirman adalah kereta terakhir Bekasi-Tanah Abang setiap hari. Orang-orang, sama-sama baru pulang kerja, sama-sama juga lelahnya, jadi sama-sama pula agresifnya berebut tempat duduk di kereta. Tetangga saya itu, menghapal di mana letak pintu kereta akan terbuka, lalu berdiri setiap hari di titik yang sama. Alhamdulillah saya tinggal ngintil, kecuali kalau beliau tidak masuk kerja. Hehe.. Tapi saya jadi bertanya-tanya, kenapa ya, orang lain tidak belajar dan melakukan hal yang sama?
      Beberapa hari menunggu kereta yang sama, dengan orang-orang yang sama, membuat saya dan tetangga saya itu hampir hafal dengan rekan-rekan ‘seangkatan’ kami. Ya itu tadi, ‘seangkatan kaki’ melangkah masuk gerbong kereta. Kalau begini, saya tidak heran kalau ada penumpang sebuah gerbong kereta ekspress di Jakarta hubungannya cukup dekat dan sampai mengadakan arisan bergilir di rumah para anggotanya. Pada akhirnya saya juga tidak heran dengan cerita senior saya tentang temannya yang menikah dengan orang yang setiap hari menumpang kereta yang sama dengannya. *tapi saya gak ngarep ketemu jodoh di kereta kok. Hehe..
…………….
Entah ya, dari dulu saya suka dengan kereta. Saya ingat, pertama kali naik kereta ketika berusia 5 tahun, diajak sepupu yang usianya berbeda sangat jauh ke rumahnya di daerah Jakarta Kota. Saya juga ingat waktu itu menyimpan sebuah rahasia memalukan tentang yang saya lakukan di kerumunan orang di kereta ekonomi itu. ^_^
Semakin sering berinteraksi dengan kereta, adalah saat saya kuliah. Maklum kampus saya dilalui jalur kereta, sampai ada stasiun bernama Universitas Indonesia. *ahey! :D Semakin banyak juga berinteraksi dengan kawan-kawan anker (anak kereta), dari daerah Jakarta maupun Bogor.
Kalau lagi burn out (a.k.a jenuh a.k.a mumet), yang saya inginkan adalah naik kereta ekonomi dari kampus menuju Stasiun Bogor. Harus ke Bogor, karena pemandangannya tidak hanya gedung, tapi juga hijau pepohonan. Angin yang masuk ke gerbong kereta pun sejuk dan terasa lebih ringan dan bersih.
Harus pula ekonomi, karena saya senang memperhatikan manusia-manusia di dalamnya. Ada penumpang, pedagang, pengemis, pengamen... Serasa melihat ‘masyarakat’ sebenarnya.
Penumpang saja macam-macam. Ada yang cuek, ada yang rame ngobrol, ada yang antusias dengan setiap yang dijajakan para pedagang,,, ada ibu-ibu yang ngomelin anaknya terus; kasihan anaknya.. ada bapak-bapak yang ‘sayang istri sekali’; belanja terus peralatan rumah tangga seperti spon cuci piring dan alat dapur lainnya.. Yah… angkutan massal seperti kereta memang bisa memperkaya kita sebagai individu maupun bagian dari entitas sosial. Pintar-pintar saja mencari hikmah ^_^

telah bersepakat lisan, laku, dan pikir

10:29 AM 6 Comments
Lisan, laku, dan pikir, bisa saja mereka bersepakat dengan lisan, laku, dan pikir orang lain.
Tapi nyatanya, hati tidak begitu saja bisa amanah menjalankan kompromi atau kesepakatan yang sama.

Berkhianatkah?
Entah,
Tapi, yaaa, asal simpan saja sendiri.
Biarkan lisan,laku,dan pikir itu yang tunjukkan amanahnya.
Cukup.
Selebihnya bukan lagi urusan khianat atau tidak, dan dosa atau tidak.
Melainkan tinggal urusan hatimu dengan lisan, laku, dan pikirmu itu.

Friday, January 28, 2011

Kesyukuran Bli

4:10 PM 8 Comments
Tersebutlah sebuah perusahaan manajemen investasi yang fokus pada produk-produk syariah di Jakarta. Sebut saja, kantor saya. Hehe.. Saya sangat optimis karena komisaris dan jajaran direksinya adalah orang-orang top di perusahaan-perusahaan mereka sebelumnya. Perusahaannya pun bukan yang ecek-ecek, tapi cukup besar bertaraf nasional dan internasional. Salah satunya bernama khas Bali. Sebut saja Bli. Saya pikir Bli muallaf. 
Hari pertama kerja, saya baca-baca dokumen tentang perusahaan ini. Akta, jajaran direksi, sejarah, dan sebagainya. Dan, kaget lah saya ketika menemukan data diri Bli yang ternyata asli beragama Hindu. Saya belum habis pikir, kok, mau ya si Bli, memperjuangkan ekonomi syariah, bertahan sangat lama pula...
Sorenya saya ikut internal meeting. Di akhir, pak dirut menyemangati tim untuk terus bergerak dan tidak lupa juga berdoa dan berdzikir (tentang dirut ini, ada ceritanya di lain kesempatan ya ^_^). Misalnya kalau bertemu klien berdua, satu orang presentasi, yang lainnya dzikir *mangstab yaa??hehe.. Nah, pak dirut mencontohkan sambil sedikit bergurau, misal X sama Bli ada meeting dengan klien; Bli presentasi, X-nya dzikir aja. Atau sebaliknya, X yang presentasi, Bli yang dzikir ^____^ dan Bli tertawa saja, tampak biasa sekali...
Nah, cerita intinya baru di paragraf ini sebenarnya. Suatu sore yang lengang, saya pulang naik kereta berdua dengan teman kantor, ibu-ibu, yang sudah lama bekerja di perusahaan kami. Siangnya, saya baru menerima dokumen dari Bapepam LK tentang pengangkatan Pak Dirut. Yang saya tanyakan pada teman seperjalanan saya itu adalah, kenapa Bli tetap saja sebagai direktur, sedangkan yang diangkat jadi direktur utama adalah orang hebat lain yang belum ada 2 tahun bergabung. Jawabannya singkat, karena Bli bukan muslim.
Ini bukan tentang diskriminasi atau konspirasi atau apalah teman-temannya itu. (aturan) Ini terang adanya, Bli pun mengetahui dan menerima sudah sejak sangat lama, dan dia tetap optimal menjalankan tanggung jawabnya. Sejak bertahun-tahun tetap di posisi yang sama, melakukan lebih dan lebih, tapi tidak meminta lebih.
Dalam hati, prok,prok,prok, saya salut. Betapa syukurnya...
Dan... mau tidak mau berinstrospeksi, sudahkah saya beryukur atas segala apa yang telah Allah beri..
                                                                    Jakarta, Januari 28, 2011

Tuesday, January 18, 2011

Syukur

4:33 PM 21 Comments
Alhamdulillah, dapat kantor yang sangat mudah dijangkau dari rumah
Alhamdulillah, punya rumah yang cukup strategis meskipun tidak di ibu kota
Alhamdulillah, tidak perlu menghabiskan waktu dan energi di perjalanan untuk pergi dan pulang kerja
Alhamdulillah, bekerja di kantor syariah yang sangat mendukung untuk shalat dhuha dan shalat fardhu tepat waktu berjamaah
Alhamdulillah, bisa sampai kantor cukup (paling) pagi dan selalu ada waktu untuk menyelesaikan amalan pagi
Alhamdulillah, punya kantor yang tidak kaku dan membosankan, benar-benar serasa seperti di rumah
Alhamdulillah, hampir tiap pagi ketemu ibu-ibu penjual susu kedelai di kereta
Alhamdulillah, bisa banyak bertemu teman-teman dan tetangga di kereta berangkat maupun pulang
Alhamdulillah, makan siang di kantor selalu enak dan murah-murah
Alhamdulillah, punya bos yang semangat Islamnya sangat tinggi dan berjiwa mendidik dan, mengkader. Selalu membangkitkan semangat dan ruhiyah tiap kali menutup meeting
Alhamdulillah, hampir tiap hari bisa ketemu orang-orang hebat nasional ^_^

Thursday, January 6, 2011

Fotografi Hati

8:57 PM 25 Comments
Ini bukan tentang seni memotret hati setelah dibedah-bedah. Ini tentang memoles cantiknya hati lewat fotografi.
Saya bukan fotografer. Kecuali di tingkat paling amatir, boleh lah. Saya hanya suka melihat objek-objek yang difoto orang-orang,, trus, beruntung punya kakak yang fotografer juga, jadi, yah, diajari dan semakin tertarik lah. Jadi, boleh percaya tulisan ini boleh juga tidak… hehhe
Inspirasi awalnya waktu saya melihat-lihat foto dalam folder setelah jalan-jalan ke ujung Sumatera hampir sebulan yang lalu. Yang saya sadari… kok, hampir tidak ada foto saya ya?? Ada sih, tapi sangat sedikit dan jarang yang bagus. Hampir semuanya foto orang-orang: saya yang motret.
Begitupun waktu meng-upload ratusan (lebay) foto kawan-kawan itu ke facebook. Hhh… saya belajar untuk “keluar” dari diri saya sendiri, untuk lebih menaruh minat pada orang lain. Menegasikan kebutuhan-kebutuhan untuk eksis, lalu fokus pada orang lain. Dan melayani orang lain (untuk dipotret, hhe).
“Cukup diri, cukup. Kini saatnya mereka kita perhatikan”
Itu satu. Kedua, fotografi membuat kita belajar juga tentang kerendahan hati. Kita sendiri tidak perlu tampak, tidak perlu gaya. Tapi nyata berkarya. Nah, ini ujian buat orang-orang yang suka gaya *ngaku.
Ketiga, mengakrabi fotografi membuat kita lebih mengapresiasi keindahan. Seringkali objek yang tampak sangat biasa dan sehari-hari dapat kita temukan dalam sebuah foto yang entah bagaimana bisa jadi begitu artistik. Kita jadi lebih peka menangkap angel bagus dalam kilasan mata, “kalau dipotret bagus nih…” Seperti melihat abang becak, awan, suasana, aktivitas sehari-hari…apapun.
Kita akan lebih sadar pada kebesaran Allah, sehingga kita akan lebih banyak bersyukur.

Saat bahagia memang saat berbagi, tapi kadang berbagi juga perlu menunggu (MIMPI part 2)

2:32 PM 4 Comments
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Kalau hanya di Bekasi saja, atau Jakarta, atau di kota lah hidupku dan keluargaku nanti, aku mau buat sekolah gratis untuk anak-anak dan masyarakat marjinal. Sama, mau buat PKBM juga. BIsa program paket A, B, C supaya memudahkan masyarakat yang tidak berkesempatan sekolah tapi sudah di luar usia sekolah. Ingin juga membuat sekolah yang benar-benar sekolah supaya anak-anak juga bisa dididik.
Atau, aku mau buat panti saja.
Atau, menampung anak-anak kurang beruntung itu di rumah bersama keluargaku, lalu menyekolahkan mereka. Sistemnya mereka terikat seperti di asrama. Tapi suasananya tetap keluarga…

Saat bahagia adalah saat berbagi
Namun ternyata, tak selamanya berbagi bisa dilakukan saat ini juga,
Kadang untuk berbagi kita harus menunggu
Menunggu partner atau orang yang tepat untuk kita bagi
Seperti saat ini
Aku sedang menunggu orang yang tepat untuk berbagi mimpi dan cita-cita

January 6th, 2011

Saat bahagia memang saat berbagi, tapi kadang berbagi juga perlu menunggu (MIMPI part 1)

10:53 AM 9 Comments
Pagi hari di lantai jingga-hitam, 6 Januari 2011
PROLOG
Setiap membaca blog para pengajar muda, betapa aku merasa sedang dihadapkan pada sebuah negeri yang jauuuuhhh… padahal, nyata-nyata yang digambarkan adalah potret sejujur-jujurnya negeri ini. Sungguh aku ingin ikut serta. Menjalankan pengabdian yang sesuai dengan passion, aahh bahagia sekali..
Tapi entah akan bisa kucapai lewat Indonesia mengajar atau tidak. Ketika kesempatan kembali datang, aku memutuskan untuk menjalankan sesuatu yang lain yang telah ada di depan mata. Alhamdulillah keterima bekerja. Dan, aku tidak ingin menyumbang citra buruk almamater; kutu loncat. Paling tidak aku harus bertahan 1 tahun di pekerjaan ini.
Tapi mimpi itu masih menunggu dengan setia. Katanya, mungkin tidak tahun ini, Farah, mungkin juga tidak tahun depan, mungkin saja tidak melalui IM…
***
Saya ingin membangun keluarga yang banyak bermanfaat dan dapat mengembangkan masyarakatnya. Terutama di bidang pendidikan, kesehatan, dan peningkatan ekonomi. Mungkin dengan tidak tinggal di Jakarta atau kota-kota sekitarnya. Melainkan mungkin di pelosok Indonesia, atau desa, lah. Desa yang belum maju dan membutuhkan tangan-tangan pembaharu.
Untuk itu keluarga tetap butuh modal. Bangun usaha atau jadi PNS yang ditempatkan di daerah. Harus juga punya ilmunya. Pasti. Tentang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi itu. Ilmu tentang pengembangan masyarakat juga penting.
Saya ingin tinggal di desa… Lalu mengembangkan usaha kecil menengah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Lalu membuat PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Untuk anak-anak dari TK sampai SMA, untuk orang dewasa dari baca tulis sampai parenting. Society Learning Centre namanya. Supaya ajeg, SLC itu juga harus punya usaha mandiri. Sekolahnya gratis, tapi gurunya harus dibayar supaya komit.
Butuh juga jaringan yang luas, sebagai donatur maupun mitra usaha. Mungkin ini yang bisa kulakukan sekarang, sebagai sekretarisnya orang-orang penting.  Lalu, coba libatkan juga teman-teman yang senang berwirausaha seperti Nanay, Avid, Awwab, Fathia, Idris sukses, untuk menjadi mitra maupun penasihat bisnis. Hehe…
EPILOG
Untuk mewujudkan itu semua, ada 2 kemestian:
1.  Mesti punya modal ilmu agama dan ruhiyah yang oke banget.
2. Mesti punya suami yang sevisi dan seritme.
Insya Allah. Bismillaah…

Wednesday, January 5, 2011

tekad: sekarang atau nanti, insya Allah

9:02 PM 0 Comments
Semakin membuncah keinginan itu.
Aku ingin jadi guru. Ingin menginspirasi banyak orang. Aku ingin menjadi bagian dari pencerah kehidupan masyrakat, mencetak anak-anak bangsa yang bermoral dan berakhlaq mulia. Mengenalkan mereka pada ilmu, mengakrabkan mereka dengan Islam, dan membuka mata mereka pada dunia.

Aku ingin mengelilingi negeri ini hingga ke pelosok-pelosoknya. Mengenal penduduknya. Menyentuh rakyatnya seluas-luasnya. Aku ingin hidup bersama mereka, merasakan apa yang mereka rasakan, lalu membawa mereka keluar menuju kebangkitan.

Bahkan aku tidak ingat ada syarat tidak boleh menikah selama menjadi pengajar muda. Tampaknya aku akan rela menunda untuk ini. Apatah lagi sekarang belum muncul calonnya. Aku hanya ingat tentang syarat maksimal 2 tahun setelah lulus kuliah. Takut tidak terkejar. Di tempat kerja sebentar lagi (insya Allah), aku juga tidak ingin meninggalkan cap buruk untuk almamater, lulusan UI yang lagi-lagi kutu loncat, tidak loyal.

Ada, ya.. ada.. harapan itu masih (dan akan selalu) ada.
Bagaimana???
Apakah kelak aku akan punya cukup modal untuk sanggup mengunjungi pelosok-pelosok negeri ini, hidup bersama mereka, memberi sedikit pencerahan pada mereka? Bersama suamiku? Atau kami akan tinggal tidak di kota besar seperti Jakarta atau sekitarnya, melainkan kami akan tinggal di daerah demi misi mendidik masyarakat? Oh… it sounds nice…

Setelah sharing yang sangat dirindukan
dari seorang sahabat yang hebat,
Bekasi, 5 Januari 2011

Wednesday, December 29, 2010

Manfaat; Nilai Di Balik Kemakmuran

2:43 PM 11 Comments
     Sedang ingat dulu waktu mahasiswa (ehm); waktu membuat visi, misi, atau tagline buat kampanye, project, maupun lembaga. Seingat yang saya pernah terlibat, hampir semuanya diilhami oleh sebuah hadits yang sudah cukup populer,
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”
(HR Bukhari-Muslim)
Itu, wajar lah ya, namanya juga mahasiswa: sukarela, memang untuk belajar, memang untuk berkontribusi, memberi manfaat. Tidak berorientasi pada profit.
     Selanjutnya, setelah lulus dan mulai membaca beberapa profil perusahaan, saya sangat tertarik dalam mencermati visi, misi, dan nilai-nilai yang melandasinya. Ternyata kebanyakan perusahaan bukan bertujuan profit material semata lhoh. Seolah menemukan benang merah, saya menyimpulkan bahwa ternyata perusahaan-perusahaan besar itu memiliki visi untuk memberi manfaat bagi kehidupan manusia.
     Baiklah kita ambil contoh Panasonic (ideas for life). Mereka didasari oleh misi sebagai berikut:
Panasonic generates ideas for life… today and tomorrow. Through innovative thinking, we are commited to enriching people’s live around the world. (http://panasonic.co.id/web/tentangpanasonic/panasonicideasforlife)
      Atau Starbucks dengan misinya menyuguhkan secangkir kopi hebat kepada dunia. Bagi sang CEO, prinsip membangun sebuah perusahaan dengan jiwa sangat melekat dalam hati dan pikirannya. Prinsip ini yang membuat Howard Schultz, CEO Starbucks saat itu, sangat memperhatikan kesejahteraan pegawainya. Setiap pegawai, tetap maupun tidak tetap, berhak mendapat tanggungan kesehatan komprehensif, termasuk pasangannya.
      Terhadap petani yang meningkatkan standar kualitas, kepedulian lingkungan, sosial dan ekonomi, Starbucks menghadiahinya status ‘pemasok pilihan’ dan membayar kopinya dengan harga tertinggi. Dampaknya, petani Kolombia lebih suka menanam kopi daripada koka (bahan kokain yang merusak masyarakat). (sumber: Spiritual Company, Ary Ginanjar Agustian). Ckck.. mantap ya..?
     Jadi, tujuannya bukan untuk menjadi perusahaan yang terunggul atau menjadi yang terbesar… mungkin ambisi untuk itu ada, tapi tetap landasan utamanya adalah untuk ‘memberi’, bukan ‘menjadi’. Visi manfaat itulah yang mendorong inovasi terus-menerus sehingga perusahaan itu berkembang pesat. Lalu dipercaya oleh publik. Akhirnya trust juga yang membuat konsumen dan masyarakat jadi loyal.
     Visi manfaat itu juga yang mungkin mendorong para pegawainya untuk semangat bekerja: karena mereka menemukan makna dari pekerjaan mereka, bukan sebatas penggugur kewajiban. Visi manfaat adalah hal utama yang membuat perusahaan terus berkembang. Menjadi perusahaan terbesar? Itu hanya efek samping yang akan mengikuti dengan pasti. ^_^
    Dalam lingkup pribadi, menyitir kata-katanya Oki Setiana Dewi, ia menjadi lebih bermakna ketika mengubah prinsip hidupnya; dari menjadi yang terbaik, jadi 
melakukan yang terbaik
Menjadi yang terbaik, ia akan melakukan apa saja, termasuk bersaing ketat dan bisa saja saling 'senggol' dengan orang lain alih-alih saling membahu menghasilkan yang terbaik. Tapi melakukan yang terbaik, ia sama akan mengerahkan usaha terbaiknya, selain itu, ia juga dapat bersinergi dengan orang lain.
    Memang lebih meniadakan ke’aku’an, tapi akan lebih bernilai di mata Allah. Insya Allah.
Setiap perbuatan baik adalah sedekah (HR Bukhari, no.6021)

Inspired by:
Tim PSAU BBM (Bersama Beri Manfaat)
BEM UI 2009 (BEM Kita, Bergerak Bersama, Bermanfaat Bagi Semua)
Spiritual Company; Kecerdasan Spiritual Pembawa Sukses Kampiun Bisnis Dunia (Ary Ginanjar Agustian)

Wednesday, December 22, 2010

Keluarga dakwah; berurat-berakar

8:40 PM 13 Comments

Rasulullah saw pernah bersabda,
“Sebaik-baik sahabat adalah, orang yang bila engkau melihatnya, menjadikanmu mengingat Allah” (Alhadits)
Barang siapa yang ingin dimudahkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya dia bersilaturrahim” (Muttafaqun ‘alaih)
        Nah. Saya punya cerita tentang sebuah keluarga. Keluarga sepupu saya, dengan abi, ummi, dan 4 orang anak (2 laki-laki, 2 perempuan). Beberapa kali (cukup sering) saya mengunjungi keluarga ini: mampir, sengaja berkunjung, atau menginap. Beberapa kali itu pula saya menemukan SPBI (stasiun pengisian bahan bakar iman), dan biasanya tepat ketika iman sedang turun. Akan saya ceritakan 2 saja.
        Saya menyetujui benar-benar, bahwa tombo ati yang paling mudah adalah berkumpul dengan orang-orang soleh. Suatu sore, saya datang ke rumah keluarga itu, menemani anak-anak bermain dan belajar. Menginap. Pagi-pagi sekali, sebelum subuh, sepupu saya dan suaminya sudah bangun dan ‘mulai sibuk’. Ba’da subuh, barulah saya ikut nimbrung di dapur, membuat sarapan.
       Sayup terdengar dari dapur, dari dalam kamar yang mana entah, keponakanku yang waktu itu baru kelas 4 SD kalau tidak salah, sedang murajaah hafalan quran bersama abinya. Sang ummi yang bersamaku di dapur ikut melantunkan bacaan surat itu. Sedihnya, hanya aku yang diam; bukan cuma tidak hafal, bahkan aku tidak tau mereka sedang membaca surat apa… hiks.. kalah sama bocah...
        Akupun kembali dengan tekad menyala… \(^o^)/
      Contoh kedua belum lama ini terjadi. Aku datang tidak untuk menginap. Ketika ummi dan abinya sedang menerima tamu, aku agak terpana melihat keponakanku yang berusia 5 tahun sudah lancar menyalakan komputer dan menyetel VCD, tanpa bertanya sedikitpun. Lalu menonton dan ikut berbicara (doi hafal dialognya bo). Ckckck…
      Filmnya tentang kisah raja Thalut, nabi Daud as, dan Jalut. Aku duduk di sampingnya, ikut menonton. Alih-alih menjelaskan atau membimbing anak itu, aku malah asik sendiri dengan kisah itu; tentang keimanan yang sempurna, kekuatan tekad, dan keyakinan penuh pada Allah sehingga mampu mengalahkan musuh.
Terutama tentang mujahidun li nafsihi. Memerangi hawa nafsu sendiri.
     Beuh. Benar-benar merasa tertampar telak. 2-0. Belum termasuk yang tidak ikut saya ceritakan.
     Mungkin mereka (apalagi anak 5 tahun itu) tidak sadar, bahwa yang biasa tampak dari mereka sudah mampu membuat orang ingin bertaubat. Mungkin juga mereka tidak bermaksud untuk memberi contoh atau ‘tamparan’ buatku, tapi hanya dengan melihat mereka saja, rasanya aku benar-benar faqir…
Allaahu akbar
Ga anak, ga orang tua, sama aja:
Da'i

Baca Juga: Lo Harus Tetap PIntar