Follow Us @farahzu

Thursday, November 1, 2012

Sebentar atau Lama

4:49 PM 0 Comments
Pulang solat Ied, ga lama suami iseng mencet remote tv. Iseng aja, supaya ga sepi karena ada suara. Hehe.. Istrinya cuma bisa buat masakan sederhana, yang penting ada santannya. Kan lebaran. Hehe.. Ditemani dengan rendang spesial buatan mamah, yang khusus dibuat dari Bekasi untuk kami bekal ke Makassar. Alhamdulillah yaaa zaman sekarang udah ada kulkas. Hohooo… Jadi lebarannya ga nelangsa-nelangsa amat ga ada makanan… hhihihihi…

Tiba-tiba, ada lagu dan video klipnya Padi, Tempat Terakhir. Pertama kali dengar lagu itu lewat anak-anak pengamen di Bekasi, saya belum tau itu lagunya Padi. Mendengar lirik, “Meskipun aku di surga, mungkin aku tak bahagia, bahagiaku tak sempurna, bila itu tanpamu”, waktu itu saya menggumam dalam hati, “Yeeeey udah di surga bahagia mah bahagia aja, sotoy dah”. Sisa liriknya ga kedengeran lagi. Hehe..

Nah kemarin Ied itu, dengan berlatar lagu itu, kami hanya saling pandang dengan ekspresi penuh arti, aku cinta kamu. Lalu entah kenapa, seakan saya baru mendengar potongan lirik yang, aku ingin kau menjadi bidadariku di sana, tempat terakhir melabuhkan, hidup di keabadian, tiba-tiba aja istrinya nangis yang langsung dipeluk haru oleh suaminya. “Aku ridha padamu, istriku”. *si istri lupa ama komennya tentang lagu itu waktu jomblo dulu*

Hhhmmmm si istri langsung teringat kata-kata suaminya beberapa waktu berselang, 

“Neng, sebentar atau lama, aku ingin kita bertemu lagi (di surga)”

Aamiinn…!!!

Jalan-jalan dengan Cerita Bu Enid

4:27 PM 2 Comments

Hari-hari pertama jadi ibu rumah tangga, saya menikmati sekali.. sambil masih memulihkan kondisi (sok sibuk banget sih gue.. hehe). Memasuki pekan kedua, saya mulai bosan saudara-saudara. Akhirnya setelah beberapa lama lupa sama laptop, saya kembali buka laptop lagi. Internetan, baca artikel orang-orang, daaaaann jengjeeeeeng! Saya menemukan bahwa saya fresh sekali waktu itu.
Ternyata yaaaa selama beberapa hari saya di rumah saja itu, ada sesuatu yang tertidur dalam diri saya. Sesuatu itu kembali bangun dengan semangatnya ketika saya mencoba berinteraksi dengan dunia luar. Ya, banyak belajar bikin pinter, pastinya. Tapi ternyata banyak belajar dan berinteraksi dengan orang lain  itu menjaga kita tetap on fire! (*jadi inget izza).
Jujur aja, waktu mulai merasa fresh lagi itu, saya akhirnya menyadari bahwa beberapa waktu belakangan saya ternyata agak-agak melempem. Ya iya lah, di sini tetangga-tetangganya ga ada yang seumuran yang bisa diajak diskusi dan tukar pikiran. Atau kasih masukan tentang buku-buku bagus, film, info-info, apa aja lah.
Naaaah pada sebuah akhir pekan yang indah, saya dan suami jalan-jalan ke Trans Mall Makassar dan mampir ke Gramedia. Iseng-iseng saya ambil sebuah buku petualangannya Enid Blyton, sama The Alchemist-nya Paulo Coelho, dan buku Rumah Seribu Malaikat, kisah nyata keluarga sederhana yang membesarkan lebih dari 50 anak asuh, dan buku-buku lain pilihan suami.
Buku pertama yang saya baca ya bukunya tante Enid (saya kangen sekali dengan Ira kalau liat buku itu). Secara ajaib, sambil membaca buku itu dan setelahnya, saya merasa bersemangat sekali menjalani hari-hari. Ga lagi bosen nungguin suami pulang kerja, ngerjain kerjaan rumah, main sama tetangga dan anak-anak, sampai ngerasa belum perlu mencari hiburan dengan internet. Hehe..
Kalau menurut saya sih, kenapa buku nyonya Enid ini bisa berpengaruh sebegitunya buat saya yang lagi norak ini, karena buku itu bercerita. Saya larut hingga merasa benar-benar berada di latar dan setting cerita bersama tokoh-tokohnya. Dikarenakan saya merasa sudah keluar dari ‘rumah’ menuju tempat-tempat lain di cerita itulah, rumah jadi sesuatu yang baru lagi buat saya. Seakan-akan saya sudah meninggalkan rumah beberapa hari. *lebay.
Hikmah dari saya ditakdirkan memilih membaca buku itu lebih dulu dari buku-buku lainnya, mungkin ya supaya saya sejenak menjauh dari kehidupan sehari-hari, ke sebuah tempat yang jauh, cerita yang benar-benar tidak pernah saya bayangkan. Karena Allah tau saya sedang bosan. Coba kalau saya baca buku lain dulu, yang bukan cerita, yang sebelumnya sudah saya coba beberapa kali: ya, saya ngantuk. Hehe..
Buku-buku, seringan apapun, insya Allah ada manfaatnya. (ya tergantung kualitas bukunya juga sih, hhe).
*postingannya agak-agak geje ya? Biarin ah :D

Friday, October 19, 2012

masakan rumah

10:50 AM 2 Comments
"Kamu gak tau sih gimana rasanya kalau sudah terikat dengan masakan rumah"

Hhhmmm hehe..hehe.. saya jadi cengar-cengir sendiri waktu suami sambil agak manyun serius bilang gitu. Awalnya sih saya nanya. Berhubung beliau pulang malam terus dengan kondisi kelaparan *ih kodong (kasian), kenapa ga makan di kantor aja dulu…

Hehe..kenapa cengar-cengir? Ya iyalah.. istri mana yang ga geer dibilang gituh.. apalagi buat istri yang ga bisa masak kayak saya. Eh tapi, ternyata saya bisa masak loh.. *boleh percaya boleh ngga* Yaaah walaupun hanya masakan sederhana kayak sayur bening dan numis-numis. Haha..itu mah siapa juga yang gak bisa karna saking gampangnya >.<

Anyway… alhamdulillah saya bahagia ;)

Wednesday, October 17, 2012

Makassar Part 2; Anak-anak dan Seliter Bawang Merah

10:05 AM 4 Comments

Lingkungan kontrakan kami cukup ramai dengan anak-anak. Dari balita sampai SD. Kesan saya tentang mereka mirip dengan kesan saya terhadap anak-anak di Depok; supel. Mereka yang mulai menyapa kami, memanggil kami bila berpapasan dari jauh, main-main di teras rumah kami, nanya-nanya sedang melakukan apa dan sama siapa, bahkan bantu nyapuin teras juga pernah. *kerajinan*
Waktu saya dan suami baru tiba Selasa dini hari (9Okt), paginya kami membongkar rumah, bersih-bersih, menata kembali barang-barang. Anak-anak yang baru pulang sekolah itu menghampiri, nempel-nempel di tembok depan, ngeliatin, minta ditanya. Hehe.. Aku bertanya nama, rumahnya di mana, kelas berapa… lalu, “Tante dari mana?” Ada juga waktu suami saya sedang di teras, seorang anak laki-laki menghampiri, “Lagi apa Om?” “Bersihin kipas”, jawab suami. “Sama siapa Kita?”, anak itu bertanya lagi. “Sama istriku”, jawab suamiku. “Mana?”, “Lagi di kamar mandi, ga boleh”, kata suamiku. Hahaha..
Beberapa hari kami di sini, teras kami mulai ramai dengan anak-anak bermain. Apalagi kalau libur, meskipun kami sedang tidak membuka pintu. Mengintip sedikit dari jendela, mereka langsung nyengir, “Tanteeeee!”… Beberapa juga suka main ke dalam rumah. Lucunya, “Ada kue ta?” :D
Naaahh trus uniknya lagi di sini kalau belanja ke pasar kawan… Bingung aja gitu waktu beli bawang, “Berapa bu?” Jawab penjualnya, “Lima ribu setengah liter”. Uuhhmm, saya dan suami sempat melongo sebentar. Bawang? Literan? Oh, ternyata di kasih wadah literan beras, masukin bawangnya padat-padat, sampai penuh wadah itu. Itu namanya bawang setengah liter ^^. Terus lagi, beli telur, ga ngaruh mau beli berapa kilo, dihitungnya perbutir. Kalau telurnya lagi besar-besar ya untung, kalau kecil-kecil? Yap, rugi, karena harganya sama.
Hhmm sekarang tentang makanan. Saya ini maniak bakso. Dan di sini susah nyari bakso,, hiks.. Di ajak suami makan bakso yang paling lumayan dan paling mirip dengan di Jawa, lumayan jauh. Rasa daging baksonya lumayan, tapi tetap saja disesuaikan dengan lidah orang Makassar, pakai buras (semacam lontong bersantan), lalu mi-nya menurut saya agak aneh. Kuning agak kering. Bukan belum matang, tapi memang segitulah matangnya. *Kangen bakso jawa..  
Begitulah, kata Sayyidina ‘Ali ra, jarang bertemu itu menumbuhkan rasa rindu. Mamah, ayah, kakak, aku kangen… hiks..
Suamikuuuuu cepet pulang yaaah ^_^ <3

Monday, October 15, 2012

Makassar Part 1: Pete-Pete dan Universitas Indonesia

12:02 PM 3 Comments


Bismillaahirrahmaanirrahiimm..
Sejak menikah dan pindah domisili ke Makassar, saya punya hobi baru, Saudara. Yes, Makassar, membuat saya punya hobi mandi. Panasnyeeeeuu manteb beneeeeerr… Kalau bukan karena ingin mendampingi suami dalam suka dan duka… *ciyeeeeegueeee :D
Berhubung Pulanu Sulawesi ini cukup jauh dari Jakarta kawan-kawan, sangat dapat dimaklumi banyak sekali perbedaan dan keunikan yang saya temukan di sini. Tulisan ini dibuat sebelum genap 1 pekan saya tinggal di sini (kurang 1 hari sih, hhe), tapi sebenarnya sudah lamaaaa saya ingin share, terutama untuk kawan-kawan yang tidak berdomisili di pulau ini, lebih terutama lagi buat kawan-kawan di Jabodetabek.
Yang pertama ya itu tadi. Di sini panasnya manataapp. Nyengat banget. Ngangkat jemuran aja saya payungan coba. Hehe, mungkin lebay, but it’s true dude! Kalau panasnya agak mendingan, ga pake payung sih, tapi teteeup mesti oles sunblock dulu >,< 
Di sini kendaraan bermotor banyak sekali. Bahkan becak yang di Bekasi masih digowes sama abangnya, di sini lebih banyak bentor, becak motor. Karena itulah, selain panas, di sini juga berdebu. Ada juga angkot. Di sini disebut pete-pete. Kalau di Jawa, rute angkot itu ditandai dengan angka atau kombinasi huruf dan angka, pete-pete rutenya pakai huruf. Pete-pete A, B, C, ….H, I, J…kurang tau deh sampai huruf apa. Tapi ada satu pete-pete yang pakai angka. Pete-pete 05, menuju kampus Universitas Hasanuddin. Lainnya tidak.
Ada lagi yang menarik dari pete-pete. Tarifnya, jauh-dekat Rp3.000,- Hhmm lumayan. Lumayan rugi maksudnya kalau tujuan kita dekat. Tapi kalau tujuan jauh sih nyamaaaann.. Hehe..kayak Trans Jakarta. Trus yaaa yang lebih unik lagi menurut saya, pete-pete ini rutenya customized. Tergantung permintaan penumpang. Makanya, jangan sampai lupa nanya abangnya sebelum naik, melewati tujuan kita atau tidak. Jadi tuh supir pete-pete rela mengambil jalan berputar yang jauh hanya untuk menurunkan satu atau dua penumpang yang request suatu tujuan. Ckckck, hebat, padahal bayarnya ga nambah, tapi mau aja mengorbankan bahan bakar dan waktu untuk mengantar. ^_^
Terus lagi nih, masih tentang pete-pete. Saya jadi ingat saudara saya yang punya angkot. Sehari, dua hari, tiga hari, angkotnya utuh. Hari keempat, radio sudah hilang, dijual sang supir. Ga usah nanya lagi tentang speaker deh. Kalau di sini, beda banget deh. Mereka menyediakan live music yang kebanyakan lagu daerahnya. Bahkan beberapa pete-pete dilengkapi dengan TV layar datar yang gede, memutarkan video klip dan lagu-lagu daerah, ditaruh di tempat penumpang. Subhanallaah, berarti untuk penumpang kan, bukan untuk si supir sendiri? Niat menghibur dan memberi pelayanan ekstra pada penumpang cukup perlu saya kasih jempol ;)

Naaaaah siapa di sini mahasiswa atau lulusan UI? Yeep Universitas Indonesia..
Suatu ketika suami saya pernah ditanya oleh orang Makassar asli, “Kuliah di mana Kita?” (‘kita’ berarti ‘kamu, anda’). Suami saya menjawab, “Di Universitas Indonesia”. Eeeh orang itu malah bertanya lagi, “Oh ada juga Universitas Indonesia di Jawa??”
Hahaaa saya pengen ketawa.. Ternyata di sini ada juga kawan, Universitas Indonesia Timur.
:D
Sekian dulu aaaaah, kapan-kapan sambung lagi.. Semoga segera. Saya rindu nge-blog, huhuu..

Friday, September 28, 2012

Pernikahan, Tanggal Baik, dan Gedung

2:38 PM 1 Comments
Suatu saat saya berdiskusi dengan seorang akhwat yang akan menikah beberapa bulan lagi. Dia sedang kebingungan mencari gedung untuk akad dan resepsi yang cocok dengan sebuah tanggal.
Keluarga akhwat itu sebenarnya tidak mempersoalkan tentang tanggal pernikahannya. Tapi dari keluarga calon mempelai pria meminta sebuah tanggal untuk pelaksanaan pernikahan, yang katanya tanggal baik. Dan harus tanggal segitu. *fyi, ga sampe 3 bulan lagi.
Si akhwat bingung, karena dia tidak menemukan gedung yang available pada tanggal itu. Maklum saja karena kalau mau di gedung, sekarang ini, harus booking dari jauh-jauh hari (bulan) karena kebanyakan sudah full booked. *curcol*. Kecuali kalau mau adain di rumah, tanggal berapa aja ya ga masalah..
Jadi, tanggal pernikahan bukan lagi ditentukan oleh perhitungan tanggal baik dan tanggal buruk (yang sebenarnya bukan dari ajaran Islam), melainkan oleh availabilitas *bahasa apa ini?* gedung. Catat.
Singkat cerita, keluarga pria tetap keukeuh untuk melaksanakan pernikahan pada tanggal itu. Di lain pihak, keluarga perempuan tidak menyanggupi untuk mengadakan acara pernikahan di rumah. Katanya juga, sudah sulit untuk dikompromikan karena saking keukeuhnya. 
Tapi hasil diskusi kami,
Ya sudah memang tidak perlu dikompromikan *apalagi keyakinannya kuat*. Katakan saja untuk tanggal segitu ga ada gedung. That's all.
Mau apa?
*hihi.. Itung-itung menyebarkan pola pikir rasional juga, bahwa 'perhitungan tanggal baik &buruk itu' tidak menentukan. PR juga ini untuk mempelai dan kita yang berpikiran sama, bahwa rumah tangga juga bisa sukses walaupun waktu menikah tidak pada tanggal "yang ditentukan" tersebut.
Semoga. Insya Allah.
*ditulis sehari sebelum menikah. Mohon doa restunya teman-teman.. :-)

Monday, September 10, 2012

5 to 7

7:44 PM 0 Comments

Syawal 1432H, 5 September 2011. Pagi-pagi karena takut macet, jam 7 sudah
sampai di UI.

K a n t o r  b a r u.  Deg-degan.

Syawal, 1433 H, 7 September 2012. Tumben sampai lewat maghrib masih di
kantor… menunggu si boru, saat terakhir.

Yak, saya resign saudara-saudara. Dikarenakan sebuah sebab yang teramat
mulia (ihiy). Berpamitan dengan kawan-kawan kerja, bapak-bapak, temen-temen
panitia K2N UI 2012 dan CBT UI 2012.

Ini resign yang sangat menyedihkan, Kawan. Aku belajar banyak sekali di
sini.

Kawan, tak ada manusia yang seutuhnya benar. Pasti ada salahnya. Maka,
ketika kau menganggap seseorang buruk, percayalah suatu saat dia bisa
menjadi orang yang sangat baik. BErbaik sangkalah selalu. =)

Tuesday, July 31, 2012

Wong Jogja

8:59 AM 4 Comments
7-13 Juli 2012. Surat tugas Pimnas berbunyi. Bersihnya, 8-12 Juli saya di Yogyakarta. Kota yang tenang, rapi, ramah, lengang, dan, ngebut. Hehe..
Warga Jogja yang kutandain di pikiran, adalah lembuuuuutt sekali. Seperti aku *hueks*. Saking nipunya nih penampakan, sampai dibilang, kamu tuh harusnya jadi putri jogja loh dek. Hihihi.. Ga semua orang laah perlu tau aslinya aku.. :D
Kalau menolong, puoooll. Di Jakarta mungkin hanya ditunjuki arah kalau kita bertanya lokasi toilet, misalnya. Di Jogja, diantar. Padahal sedang mengerjakan hal lain. Dan sebagainya. Tapi pernah juga sih diomelin tukang parkir waktu nanya jalan. Mbok ya kalau nanya tuh turun dulu, matikan mesin motornya, baru tanya... *hhe..kebiasaan di sini.
Secara umum, kondisi lalu lintas lancar.. Lengang.. Tak ada angkot. Semua pakai motor. Ada sih Transjogja, tapi nunggunyaaa laaammaaa.. Bisa setengah jam sendiri. Tapi kok tidak ada yang protes atau mengeluh.. Ckckckck.. Kayaknya mereka punya banyak sekali waktu untuk orang lain. Beda sekali dengan di sini yang kebanyakan individualis. Hihi..
Karena hampir ga ada angkot.. Ya sih jadi lancar. Tapi ke mana-mana jadi rempong. Alhamdulillah kami nyewa motor. Nah yang tidak?
Tapi memang sepenglihatan saya, hampir semua warga Jogja mengendarai motor. Ngebutnya kayaknya lebih parah daripada di Jakarta deh. Tapi rapi. Meski ada becak juga di jalan raya sekalipun. Kayaknya tiap hari ada razia polisi deh. Lalu kata kakak saya yang telah beberapa tahun di Jogja, warga Jogja itu patuh sekali dengan Sultan. Makanya tertib..
Lembut, suka menolong, santun, mengutamakan orang lain, dan mematuhi pemimpin. Begitu.

Thursday, June 14, 2012

kalah gesit

9:40 AM 2 Comments
Sedikit catatan pinggir menjadi bagian dari Kuliah Kerja Nyata (K2N) UI 2012.

12 Juni. Peserta, pendamping lapangan, dan beberapa panitia menginap di kantor. Sekitar 200 orang. Ga usah tanya tentang kamar mandi apalagi kamar tidur ya. Hehe..

Aku memilih pulang ke kosan. Jam 10 dari kantor (padahal biasa udah sleeping beauty jam9). Besoknya, jam 05.10 aku udah di kantor lagi. Cakep sendiri karena satu-satunya yang udah mandi.

Nah. Di pagi buta bada subuh itu aku melangkah dari kosan. Berniat nyari ojek karena kalau jalan kaki dijamin gelap dan seeppiiiiiii... Ojeknya, tak nampak satupun.

Lalu berjalan melewati jalan tikus dan saya tercengang.

Pengemis.

Dia sudah siap dengan 'pakaian dinas'nya, sedang merapikan 'wilayah kekuasaannya' untuk mulai 'bekerja'.

*yang terhormat malah, kalah gesit.

Ini bukan hanya tukang ojek. Saya sendiri malu.

13 juni 2012