Follow Us @farahzu

Thursday, November 22, 2018

Pentingnya Mudah Memaafkan dan Meminta Maaf dalam Kehidupan Rumah Tangga

meminta maaf

Disclaimer: 
Artikel ini tidak ada hubungannya dengan berita selebriti yang dikabarkan menggugat cerai suaminya, meskipun selama ini mereka nampak begitu harmonis. 


Menjalani beberapa tahun pernikahan yang baru seumur jagung, rasa-rasanya banyak sekali pelajaran yang saya dapat. Bisa dari interaksi dengan pasangan, dengan keluarga, mertua, tetangga, juga pelajaran-pelajaran yang dibagi langsung oleh teman-teman. Tahun lalu saat menjelang anniversary, isu yang saat itu santer di saya adalah tentang komunikasi dan penyelesaian konflik. Gara-garanya, ada sahabat yang cerita tentang sepasang suami istri yang sudah tak lagi muda, sudah punya cucu bahkan, yang sedang memikirkan kemungkinan perceraian mereka.

What?

Iya, ingin bercerai setelah puluhan tahun hidup bersama, membangun semuanya bersama. Konsultasi dengan psikolog, ketika digali ternyata ada konflik-konflik yang belum selesai yang sudah terpendam lamaaaaaaaa sekali dan tidak selesai. Sampai akhirnya salah satunya tak sanggup memendam lagi dan byaaaaarrr meledak lah. Masalah puluhan tahun lalu kembali muncul saat usia sudah tak lagi muda. Syedih syekali mendengarnya akutu... dan ternyata, saya menemukan masalah seperti itu tidak hanya dialami oleh 1-2 pasangan saja.

Jadi setelah itu saya berkeras untuk menyelesaikan setiap masalah yang ada dengan pasangan. Bahkan sampai hal-hal yang bisa dibilang sepele. Pokoknya semua harus sampai plong! dan kedua pihak merasa senang kembali. Selain itu saya dan suami juga berusaha mencari cara komunikasi yang nyaman dan sehat. Butuh waktu banget ya ternyata hahaha, apalagi kalau kita dan pasangan datang dari budaya dan keluarga yang sangat berbeda, journey-nya emejing pisan!

Terus, beberapa waktu lalu, menjelang anniversary berikutnya, saya mendapatkan lagi sebuah insight yang sangat mendalam. Buat saya, dan buat seorang teman yang sedang mempersiapkan pernikahan, ketika saya berbagi pengalaman *tsailah. Bahwa dalam kehidupan berumah tangga itu, kita harus mudah memaafkan, dan mudah pula meminta maaf.

Bagaimana tidak, kalau kita berinteraksi sangat intens dengan seseorang, kita pasti tau luar dalam dan baik buruknya kan. Kalau kitanya lagi waras sih no problemo lah sama kesalahan-kesalahan sepele ya gak.. tapi kadang, kalau hati sedang tidak lapang, kesalahan kecil pasangan saja bisa jadi pemicu masalah. Apalagi kalau kesalahannya besar. Misal, dia ga nyimak saat kita cerita (itu aja masalah besar Far? Haha bisa jadi iya). Kzl banget kan... tapi coba deh maafkan, tanpa harus dimintai maaf terlebih dahulu. Pasangan kita manusia, yang pasti punya salah. Sama. Kita juga pasti punya salah sama dia kok.

Waktu saya mengutarakan soal memaafkan ini, teman saya ini memperjelas (atau bertanya), “Memaafkan ya, bukan melupakan?” Iya, harus memaafkan. Kalau melupakan, bisa jadi suatu saat teringat lagi, sakitnya masih berasa, bisa konflik lagi. Kalau sudah memaafkan, suatu saat ingat lagi, in sya Allah sudah ga sakit lagi. Selesai masalahnya.

Kalau kita tidak mudah memaafkan, coba pikir, mau seberapa banyak beban hati yang dipendam untuk kesalahan-kesalahan pasangan? Seberapa kuat nahan diri? Coba ingat, kita kan hidup dengan pasangan bukan hanya mau seminggu-2minggu, setahun- 2 tahun. Tapi maunya sampai maut memisahkan kan? Jadi ya udahlah, hidup ini sebentar, dibikin asik aja... kalau memang ada masalah yang berat untuk langsung memberi maaf, ya bicarakan saja baik-baik. Selesaikan. Nah balik lagi ke awal bahasan deh.  

Kemudian tentang mudah meminta maaf.
Sebagaimana kita tahu betul baik buruknya pasangan, demikian pula pasangan, tahu betul baik dan buruknya kita. Ya sudahlah, namanya juga manusia, tidak ada yang sempurna dan ga punya salah. Apalagi, jujur saja, orang yang paling mungkin untuk sering kita zalimi adalah orang yang paling dekat dengan kita, which is, pasangan kita. Tentunya tidak disengaja. Tapi logikanya ketika sudah berusaha jadi orang baik di lingkungan sosial, behave yang sopan dan proper di depan orang lain dan keluarga, ketika kita lelah dan tak kuasa lagi mengontrol perilaku kita, biasanya sudah saatnya beristirahat di akhir hari, di rumah. Di rumah ada siapa? Ya pasangan. Kennna deh. Hahaha..

Oleh karena itu, jangan gengsi untuk minta maaf. Meskipun pada suatu saat kita meyakini kita yang benar, kalau dia belum minta maaf, cobalah katakan maaf lebih dulu, besar kemungkinan dia juga akan mengikuti, bilang maaf juga. Maaf, paling tidak karena telah membuat suasana hatimu tidak nyaman. Apalagi kalau kita yang salah.

Apa kata stiker-stiker di belakang motor orang-orang? Yang w**** ngalah *eh. Maksudnya, siapa yang eling duluan ya minta maaf saja tho... Sekali lagi, Hidup cuma sebentar, ga usah dibikin ribet. Mending sibuk nyiapin akhirat yang pasti jauh lebih lama.

Jadi begitulah, beberapa hal yang saya dapat dan saya anggap penting untuk dibagi selama 2 tahun terakhir ini terkait dengan kehidupan rumah tangga. Mudah-mudahan bermanfaat ya! Terima kasih sudah membaca. Assalamualaikum!

Baca Juga: Ruang-Ruang Hati

No comments:

Post a Comment