Beberapa waktu lalu saya mengikuti berita wawancara eksklusif dengan
Pak Anas Urbaningrum di televisi. Saya tidak akan bahas tentang politik
dan semacamnya, tapi saya menemukan sebuah 'cara pintar' untuk menjawab
lebih elegan dan menghindari diri kita dari yang namanya 'keceplosan'.
Bagi tokoh publik seperti beliau, tentu saja media dan masyarakat akan heboh begitu ada kasus menimpanya. Beliau tentu saja tahu sebenar-benarnya kejadian yang dipermasalahkan. Apa-apa saja yang sedang terjadi melatarbelakangi kasus'nya'.
Namun beliau juga politisi. Banyak pertimbangn atas segala kata yang keluar. Dia juga tahu betapa orang-orang yang mewawancarainya memiliki kemampuan untuk memainkan kata-kata untuk mendapatkan informasi yang diinginkan.
Maka ketika ia dihadapkan pada pertanyaan langsung yang dapat "menjebak" dirinya di kemudian hari, dia mengatakan, "Saya kira publik sudah tau ya....", atau "Saya kira masyarakat sudah cerdas untuk menilai....". Dan sepanjang saya perhatikan, selepas beliau mengucapkan kalimat sakti itu sang reporter selalu beralih pada pertanyaan lain. Cerdas Pak.
Iya juga ya, kalau dibilang 'publik/masyarakat sudah tau/sudah cerdas' dan reporter masih saja bertanya, bukankah itu artinya dia tidak cerdas? Maka itulah sang reporter selalu menyudahi cecarannya dan beralih pada pertanyaan lain.
Padahal kalau kita bicara persepsi, yaitu tentang bagaimana setiap orang memahami sesuatu, sangatlah personal. Belum tentu pikiran/penilaian/pemahaman seseorang akan sama dengan orang lain, walaupun mengenai hal yang mereka anggap, sudah lazim diketahui. Hehe.. jadi kalau menurut saya, jawaban demikian adalah jawaban cukup cerdas untuk mengalihkan diri dari 'intimidasi' pewawancara, alih-alih hanya karena enggan menjawab hal yang sudah diketahui orang banyak. Namanya juga politisi... :p
Bagi tokoh publik seperti beliau, tentu saja media dan masyarakat akan heboh begitu ada kasus menimpanya. Beliau tentu saja tahu sebenar-benarnya kejadian yang dipermasalahkan. Apa-apa saja yang sedang terjadi melatarbelakangi kasus'nya'.
Namun beliau juga politisi. Banyak pertimbangn atas segala kata yang keluar. Dia juga tahu betapa orang-orang yang mewawancarainya memiliki kemampuan untuk memainkan kata-kata untuk mendapatkan informasi yang diinginkan.
Maka ketika ia dihadapkan pada pertanyaan langsung yang dapat "menjebak" dirinya di kemudian hari, dia mengatakan, "Saya kira publik sudah tau ya....", atau "Saya kira masyarakat sudah cerdas untuk menilai....". Dan sepanjang saya perhatikan, selepas beliau mengucapkan kalimat sakti itu sang reporter selalu beralih pada pertanyaan lain. Cerdas Pak.
Iya juga ya, kalau dibilang 'publik/masyarakat sudah tau/sudah cerdas' dan reporter masih saja bertanya, bukankah itu artinya dia tidak cerdas? Maka itulah sang reporter selalu menyudahi cecarannya dan beralih pada pertanyaan lain.
Padahal kalau kita bicara persepsi, yaitu tentang bagaimana setiap orang memahami sesuatu, sangatlah personal. Belum tentu pikiran/penilaian/pemahaman seseorang akan sama dengan orang lain, walaupun mengenai hal yang mereka anggap, sudah lazim diketahui. Hehe.. jadi kalau menurut saya, jawaban demikian adalah jawaban cukup cerdas untuk mengalihkan diri dari 'intimidasi' pewawancara, alih-alih hanya karena enggan menjawab hal yang sudah diketahui orang banyak. Namanya juga politisi... :p
Mas Irham, Pak Mahendra)
