Follow Us @farahzu

Tuesday, November 8, 2011

Lo Harus Tetap Pintar

7:15 AM 14 Comments
Kebanyakan fresh graduate mengeluh, ‘Ish, ngapain gw kuliah capek-capek, mahal-mahal, kalo kerjanya cuma disuruh fotokopi, ngefax, ngetik, ga berkembang banget’, hehe..

Satu setengah tahun sebelum saya lulus saya sudah mendengarnya. Setelah saya lulus saya merasakannya. Setahun setelahnya saya masih mendengar curhatan yang sama dari adik kelas.

Ya. Udah deh, anak baru ga usah banyak nuntut dan sok pinter, mungkin itu yang ada dipikiran para senior di dunia kerja. Itu takdir, kalau anda memilih jadi buruh (bukan pengusaha), terimalah, bersabarlah.

Mungkin 8 sampai 12 bulan pertama kerja masih begitu *meskipun itu terasa lama sekali. Sayapun begitu. Meski belum ada setahun kerja. Hoho.. dan saya juga mengeluh. Alhamdulillah saya punya sahabat yang sangat baik dan telah lebih berpengalaman. Suatu malam ketika saya memulai keluhan di whatsapp, dia sedang membaca buku (ini saja sudah menyindir buat saya, memang lagi males baca). Dia bilang,

‘Seperti apapun kerjaan lo Far, lo harus tetep pinter’

Jgerjgeeerr!! Ini kalimat sakti banget buat titik tolak saya. Walaupun saya juga ga ngerasa pinter sih.

Walaupun pekerjaan yang dihadapi sangat teknis, misalnya, kita bisa membuat sebuah sistem yang mungkin bisa menjadikannya lebih efisien, atau membuat strategi agar pekerjaan yang begitu-begitu saja jadi dinamis dan bisa berkembang. Lalu ajukan ke atasan. Soal ide kita dipakai atau tidak, tak masalah. Paling tidak otak kita tetap tajam. Begitu kata sahabat saya.

Juga, membuktikan bahwa kita memang terlalu bisa kalau hanya untuk sekedar fotokopi *eh. Dan, kita akan siap kapanpun ketajaman nalar kita diperlukan. Jadi ga perlu pemanasan lagi. Apalagi sampai mengalami penurunan kualitas diri karena ilmunya lapuk ga nambah-nambah.

Menurut yang pernah saya pelajari di psikologi faal, jalinan syaraf di otak akan saling menyambung bila kita mempelajari satu hal baru, yang akan mempercepat jalannya informasi. Semakin banyak kita belajar, semakin banyak pula yang tersambung. Itulah mengapa orang yang banyak baca dan belajar akan lebih mampu memberi jalan keluar dari suatu masalah a.k.a lebih pintar.

Sebaliknya, ‘jalur-jalur’ yang telah terbentuk itu, kalau tidak terpakai, mereka akan membusuk (decay). Sama saja dengan hilangnya informasi yang pernah kita kumpulkan. Alias lupa. Kalau semakin banyak yang tidak terpakai, semakin banyak yang membusuk, ujung-ujungnya lebih mudah pikun.

Buat strategi. Pertahankan semangat membaca dan belajar! Cari waktu luang, atau paksa diri meluangkan waktu untuk itu. Karena seringkali yang menghambat kita untuk sukses adalah kemalasan kita sendiri. Ya, seringkali kita perlu memaksa diri.

Makasih banyak soob!! =)

Kaderisasi –Missing Link

7:09 AM 2 Comments
Missing Link

Pertama dengar istilah ini adalah ketika membahas tentang teori asal-usul manusia. Tentang itu ya sudah lah ya, sudah masuk dalam kurikulum, ga usah dibahas.

Ada ‘sesuatu’ yang hilang. Sesuatu yang menghubungkan 2 hal besar atau lebih. Sesuatu yang penting. Yang dapat menjembatani 2 fakta atau lebih. Yang dapat menjelaskan bagaimana atau mengapa ada C padahal awalnya hanya A. Sesuatu banget *eh*

Pada suatu siang pada jam istirahat setelah makan, sambil bawa sikat gigi dan pastanya, saya mencolek adik kelas yang datang untuk sebuah keperluan. Akhirnya kami mengobrol cukup panjang. Tentang ‘zaman’ kami. Zaman menjabat, hehe..

Adik ini bercerita utamanya tentang sebuah program kerja yang telah ada sejak 5 kepengurusan sebelumnya. Alhamdulillaah proker ini bisa dibilang sukses di zaman saya. Sang adik terlibat di zaman saya, setelah saya, dan zamannya sekarang. Di zaman setelah saya, sasaran proker ini diubah.

Dan diikuti oleh zamannya sekarang. Dengan berbagai prahara (lebay) yang dialaminya di zamannya, ia bercerita dan kebingungan. Ternyata proker tersebut mengalami banyak penurunan, menyedihkan. Harusnya kan lebih baik dari tahun ke tahun.

Nah. Kuceritakanlah dari awal sejarahnya kenapa proker itu diadakan 5 tahun yang lalu. Intinya bahwa organisasi yang baik perlu kaderisasi yang baik untuk melanjutkan kiprahnya.

Seolah ada bunyi ‘triiingg!!’ di kepalanya, matanya membulat dan, ‘aha!’. Dia berhasil menemukan missing link-nya. Kenapa dulu bisa begitu dan kenapa sekarang hanya begini. Karena alasan mendasar itu tidak tersampaikan dengan baik pada orang-orang yang meneruskannya.

Maka, saya menyimpulkan beberapa hal. Pertama, kaderisasi itu penting. Agar organisasi tetap bisa berjalan dengan baik meskipun orang-orangnya telah berganti. Kedua, harus ada transfer of knowledge yang memadai dan intensif antara pendahulu dengan penerusnya. Agar organisasi bisa mencapai tujuan jangka panjangnya, tidak melulu memulai dari awal setiap kepengurusan berganti.

Ketiga, penerus harus merasa perlu dan harus lebih proaktif meminta transfer ilmu dan pengalaman dari pendahulunya, karena di pundaknyalah amanah itu sekarang. Poin kedua dan ketiga itu sesuai dengan bahasan Knowledge Management di bukunya Prof. Rhenald Kasali (Myelin, 2010). Bagus banget. Baca deh =)

Baca Juga: Myelin, Mobilisasi Intangibles Menjadi Kekuatan Perubahan

Thursday, November 3, 2011

iseng, pemanasan

11:47 AM 3 Comments
Saya lagi jadi bendahara nih.

Memang lompat banget sih dari jurusan psikologi langsung berurusan dengan uang, uang, kuitansi, laporan keuangan, pajak, standar biaya, rancangan anggaran, sampe bolak-balik nelfonin temannya teman si bendahara kantor pajak, konsultasi dengan teman di bagian keuangan, bank… ah tapi sebelumnya sudah pernah juga sih bantu-bantu di kantor yang lama. Hehe..

But I love my job.

Hihihi, bahkan sampe lembur berhari-hari. Remuk sih badan, tapi senang :)

Setiap malam memang lelaaaaaahh sekali. Tapi setiap pagi berhasil berangkat kantor dengan semangat dan keceriaan baru. Alhamdulillaah…

*ini hanya pemanasan… karena akhir-akhir ini sedang banyak kehilangan ide untuk menulis karena ga langsung nulis. Ah ya! Tuh kan nemu lagi idenya. Alhamdulillaah… **apa deh gw

Monday, October 24, 2011

yang single minggiiiiiirrrr

8:19 AM 10 Comments
fyi, Meja makan di rumahku bundar, dengan hanya 4 bangku. Pas sekali untuk keluarga kecil kami; ayah, mamah, kakak, adek. Alhamdulillaah sekarang bertambah 1 kakak ipar. Akhir pekan mereka masih pulang ke rumah kami.

Ba’da subuh sabtu pagi,

Mamah sudah buatkan minuman untuk ayah. Kakak iparku pun telah membuatkan minuman untuk suaminya. Aku? Bikin aja buat sendiri deh *padahal biasanya ngga. Hehe, latah.

Meja makan kini penuh. Ayah, mamah, kakak, kakak.

Aku? Ngaji aja ah *yak, yang single minggiiirrr…

Sungguh ini bukan aku jealous atau merasa posisiku diambil oleh kakak ipar. Aku senang malah akhirnya punya kakak perempuan yang perhatian =) aku hanya menyabarkan diri, mudah-mudahan dengan segera yang tersingkir dari situ adalah aku dan kakak ipar, nimbrung dari bangku lain. Ayah, mamah, kakak, dan adik ipar kakakku. Hehe.. aamiin

Hari mulai terang. Ayah bersiap sepedahan. Mamah ke pasar. Kakak-kakakku mojok lagi ke atas.

Aku? Kali ini nyelak ah,

“Mau sepedahan ya Yah? Sama aku dong!”

:D *yaaak, yang single nemu celah lalu nyelak. Hehe..

*tulisan ga pentiiiiinnggg... hahaha

Thursday, October 13, 2011

Surat untuk Penggunjing

8:31 AM 3 Comments
Kalian menggunjing dan mencerca orang lain seolah kalian adalah manusia terbaik di muka bumi. Yang tidak punya kesalahan, sempurna tanpa kekurangan.

Hey, orang yang baik saja tidak suka bergunjing. Apa lagi orang yang terbaik. Mereka tidak sudi mengotori lisan-lisan mereka dengan itu.

Kalian tau, di mataku kalian tidak lebih baik dari dia yang kalian gunjing dan cercakan. Buatku, orang yang selalu tampak buruk di mata kalian itu, adalah justru lebih baik dari kalian. Untukku, justru kesalahan kalian lebih buruk dan lebih tidak bisa ditoleransi daripada kesalahan dan kekurangannya.

Sadarkah bahwa sangat mungkin kalian lebih hina dari dia, karena dia memakan yang halal, sedang kalian memakan yang haram—bangkai? Dan pahala-pahala yang pernah kalian kumpulkan, orang-orang yang ‘baik’, akan berkurang dan berpindah pada dia yang menurut kalian ‘tidak baik’?

Terima kasih, untuk membuatku tidak ingin ikut campur apa yang kalian gunjingkan. Terima kasih, untuk membuatku lebih hati-hati dari diri-diri kalian sendiri. Dan terima kasih, untuk membuatku bisa berpikir lebih objektif, tanpa mengikuti prasangka. Semoga Allah memberi hidayah-Nya padaku, padanya, dan pada kalian, untuk selalu memperbaiki diri.

Aamiin..


Tuesday, October 11, 2011

Jurnal Masak 1

10:38 AM 3 Comments
Pagi ini aku senaaaaang.. Alhamdulillah tercapai ngekos di kosan yang ada dapur dan fasilitas memasaknya. Masuk dari Ahad, 9 Oktober 2011. Pagi ini, Selasa 11 Oktober 2011, jam 6 setelah nyuci, aku belanja doooonngg.. haha, padahal cuma beli telur 4 butir dan tempe, 1000 rupiah saja. Kecil, tapi lumayan lah untuk sendiri mah.. hey, jangan bilang murah. Mamahku (dan aku) biasa beli tempe yang enak, 2000 gedeeee… Hari sebelumnya juga sudah beli minyak goreng, tepung bumbu, garam, kecap, dan modal beras bawa dari rumah :D

Hanya goreng tempe pakai tepung bumbu (yang udah jadi pula, hehe), aneh rasanya kalau hanya goreng 2-3 potong untuk sendiri. Biasa di rumah untuk berempat atau berlima, jadilah kugoreng 8 potong, lalu di mangkuk yang masih tersisa tepung bumbu, kukocok sebuah telur. Jaaadi deh! Telur dadar dengan bumbu enak yang gedeeee…padahal telurnya 1 doang. Banyakan tepungnya. Hihihi..

Alhamdulillaah dengan modal yang sedikit bisa sedikit ngisi perut temen kosan juga dengan ngemil tempe.. Hehe.. Uuhhm.. padahal ga ada spesialnya sih kalo dipikir-pikir. Toh masaknya biasa banget, di rumah juga biasa gitu. Bahkan menurutku ini belum layak dibilang ‘masak’.

Tapi paling tidak, the boss is me! itu sih intinya. Hahaha..

btwbtw, jangan bilang-bilang kalau aku ngekos lagi yaaaa! ^_^

Sunday, October 2, 2011

ff gombal- tak terhapus di mata

4:28 PM 12 Comments
Suatu sore ketika sedang membersihkan make up.

"Duh yang di mata ga bisa kehapus nih.. jangan-jangan waterproof"

"Apanya yang ga bisa kehapus di mata? Eye shadow? Eye liner?"

"Bayangan dirimu"

;p isseenngg.. dan berhasil buat ayahku nyengir. Hahay!

Saturday, October 1, 2011

ff- geer itu ngarep

4:49 PM 16 Comments
Pulang kantor, kamarku yg terletak di depan sudah penuh dengan bingkisan-bingkisan seserahan. Luthu-luthu dan bikin kepengen. Horreeeyy!!

'eh? Perasaan aku belum nerima pinangan siapapun deh', pikirku geer


'heh, punya gue!', tiba-tiba ada yang jawab di belakang. Si kakak. Hahaha..

Friday, September 30, 2011

tampan tiada tanding

9:30 AM 18 Comments
“Kamuuuuu…. Ini kan adek aku…” bela seorang anak laki-laki ketika teman-teman sebayanya protes lagi. Mereka protes karena mereka hanya ingin bermain dengan anak laki-laki itu, bebas tanpa harus dikintilin adik perempuannya yang cengeng. Tapi begitulah, anak laki-laki itu selalu membawa serta adiknya bermain bersama teman-temannya.

Bahkan, ketika bermain mobil-mobilan atau tembak-tembakan, ia turut mengajak serta adiknya. Sayang sekali. Suatu saat laki-laki kecil itu pernah menggubah lagu dengan polos dan sengajanya,

‘aku punya adik pesek, kuberi nama Farah. Dia suka bermain-main, sambil berlari-lari. Farah! Guk guk guk, kemari, gukgukguk, ayo lari-lari..’ -____-‘’

Sekelumit kisah lucu yang memorinya selalu membuatku tersenyum. Dan sebentar lagi ia akan menggenapkan setengah din-nya. Ahh..aku tidak bisa berkata-kata dan banyak cerita. Tak terasa yaa cepat sekali waktu berlalu.

24 tahun aku membersamaimu, menjadi adik kecil yang lucu tapi juga nyolot, yang suka malas disuruh-suruh, yang lama banget bisanya waktu diajarin naik motor dan mobil, partner berantem, diskusi, juga adik setia yang menghabiskan makanan apa saja yang kau bawakan. Hihi… Sama siapa lagi aku berantem nih?

Sebentar lagi rumah sepi deh.

Mungkin aku akan merindukan keisengan, kesayangan, daaaaaannn…tentunya, kelitikanmu, kak.. yang tak pernah luput setiap kau melewatiku. *berkaca-kaca

Tadinya sebel, tapi sebuah penelitian sederhanaku tentang itu membuat aku rela jadi korban.. ternyata itu bentuk sayang dan perhatian buat aku.

Huhu,, semoga bahagia selalu, dunia dan akhiratmu, bersama kakak iparku ya, abangku yang tampan tiada tanding.

Happy Wedding! Barakallaahu lakuma, wa baraka ‘alaykuma, wa jama’a baynakumaa fii khaiir… aamiin



nb: judul diambil dari status ym seseorang

Thursday, September 29, 2011

Ini Tentang Fungsi, dan (Sedikit) Estetika

10:23 AM 5 Comments
Alkisah, jam tangan saya rusak. Butuh waktu agak lama untuk memperbaikinya, sedangkan saya selalu butuh yang namanya jam tangan, terlebih waktu itu saya masih setia jadi anker *anak kereta. Jadilah sepulang kerja, malam itu saya sengaja turun di stasiun Kranji, untuk beli jam tangan m*nol. Yang penting ada dulu deh, pikir saya waktu itu.

Berdasarkan informasi yang saya dapat, jam m*nol yang bagus itu yang lubangnya ada 11. Di kios pertama ada yang harganya murah (banget), tapi lubangnya hanya 8. Dan memang terlihat asli, murahnya. Hehe.. di kios berikutnya yang lebih besar, akhirnya saya mendapatkan jam tangan m*nol yang berlubang 11, penampilan lumayan, warna saya suka, harga, 20.000 rupiah saja ^^v

“Garansi gak nih Bang?” tanya saya iseng. Udah beli jam 20ribu aja nanya garansi segala.

“Garansi, seminggu,” jawab si abang. Eh.. kaaannn untung nanya :p


Baru saya pakai beberapa detik, eh jamnya mati. Baterenya habis. Haha, jadilah saya dapet jam 20ribu dengan batere baru *baterenya aja udah 10ribu sendiri kali, harganya. Apalagi setelah lebih dari setengah tahun kemudian, jam itu masih berfungsi dengan sangat baik. Alhamdulillaah yaa ^^

Suatu hari, enam bulan berselang, saya sedang menemani teman belanja di mal. Saya sempat tertarik dengan jam tangan ‘beneran’ yang bagus dan modelnya imut buanget. Harga di atas 140rb, ada juga yang 200ribuan. Melingkarkan jam imut itu di tangan saya, aih, bagusnyaaaa… ‘beli ah, beli ah, beli ah,’ pikir saya.

Eehh.. ga sengaja, baju yang menutup tangan saya tersingkap dan memperlihatkan si m*nol setia. Tak perlu 5 detik untuk memutuskan, “Ah, yang 20ribu aja masih jalan” Gak jadi beliiii….!! Dan aku puaaaaaass!! Haha..

Udah, mu cerita doang :D

Eh belum ding.

Tau gak kawan, saya tidak menyesal karena tak jadi memiliki jam tangan bagus itu. Sebaliknya, saya malah puasss sekali karena telah berhasil mengalahkan nafsu saya untuk jam itu. Mungkin saya ingin, tapi tidak butuh. Toh model jam m*nol juga bagus kok di tangan saya. Eh, maksud saya, saya kan butuhnya penunjuk waktu. Hehehehe…

Saturday, September 24, 2011

Selamatkan Masa Depan dengan Sentuhan

10:18 PM 15 Comments
Ini cerita lama, sudah sering saya ceritakan. Tapi saya belum cerita pada semua orang *yaiyyalahyaa..
Waktu kuliah semester 5, ada mata kuliah Psikologi Lintas Budaya (mantap ‘kali kan? :D). Saya lupa lagi bahas tentang apa, yang jelas tentang pengaruh ‘sentuhan’ di masa kecil terhadap agresivitas seseorang ketika ia dewasa. *kenapa akhir-akhir ini saya nulisnya tentang psikologi mulu ya?*
Pengaruhnya, anak-anak yang jarang atau tidak cukup mendapat sentuhan (kasih sayang), akan tumbuh menjadi orang yang lebih agresif. *agresif di sini lebih mengarah pada arti ‘menyerang’, akibat sulit mengendalikan emosi.
Hal kecil sekali ya? Hanya sentuhan. Tapi dengan cinta. Jadi hal besar deh :D
Dosen saya yang blasteran Madura-Jerman itu menemukan fenomena menyedihkan di panti asuhan. Dengan sekian banyak anak yang ditampung, petugas yang terbatas, honor kecil pula, hampir dapat dipastikan anak-anak di sana kekurangan ‘sentuhan’.
Idealnya ketika seorang ibu menyusui, ia mendekapkan anaknya pada degup jantungnya dan hangat tubuhnya, sambil menatap mata anaknya. Di sebuah panti asuhan yang dikunjungi ibu dosen itu, ada bayi-bayi berjejer dalam box masing-masing, meminum susu dari botol yang diikatkan ke atasnya (dengan tiang atau kayu atau ke langit-langit). Karena tenaga pengasuhnya tidak cukup memadai untuk memberikan susu satu-persatu. T_______T kasihaaaann…
Tak masalah datang tanpa bawa santunan (apalagi kami masih mahasiswa waktu itu), tidak harus juga dengan perencanaan matang untuk membuat acara atau sesuatu di sana. Cukup datang saja, lalu sentuh mereka dengan sayang, gendong kalau masih kecil, elus-elus, kalian sudah ‘berbuat’ sesuatu untuk masa depan mereka. Meski sedikit, setidaknya mereka pernah merasakan. Demikian saran ibu dosen.
Saya coba. Di panti asuhan yang tidak besar dekat rumah. Ketika datang, anak-anak sedang sekolah. Saya menemukan 4 atau 5 bayi di sana, sedang ‘mengantri’ dimandikan oleh pengasuhnya. Sang pengasuh datang membawa seorang bayi yang sudah mandi, meletakkannya di tempat tidurnya, lantas mengambil bayi lain untuk dimandikan juga.  Begitu. Tanpa ‘rasa’. Udah capek kali ya.. Saya ambil seorang bayi yang telah mandi itu, saya gendong. Ow, ow, tau apa yang saya rasakan?
Dekapan yang sangat erat.
Ya, dari bayi itu. Erat sekali, saya masih ingat. Seketika saya terharu. Saya ajak berkeliling sebentar, saya cium-cium *untung udah wangi :D*, lalu saya mau ambil bayi yang lain. Tapi bayi pertama yang saya gendong itu, seperti mencengkram, tidak mau melepas. Terharu lagi. Mau nangiiiiisssss rasanya…
Udah ah, segitu aja. Mudah-mudahan rekan-rekan bisa menyimpulkannya sendiri. Mari, bantu generasi penerus kita. Sering-sering main ke panti asuhan yuk! ^_^

Friday, September 23, 2011

cerita doa dan pak supir baik hati

2:00 PM 10 Comments
Memang ya, Allah itu Maha Pengabul Doa (Al-Mujiib).

Sebelum naik bis, kemarin pagi aku berdoa, “Ya Allah, semoga di bis aku berhak dapat duduk”. Tapi sampai tol aku sudah lebih siang daripada biasanya, beda 4-5menit. Hampir tidak mungkin aku dapat duduk. Apalagi melihat bisnya datang tepat sebelum belok masuk ke tol. Sudah terlihat dari jauh, sudah ada yang menduduki dashboard bis (pilihan duduk terakhir). Ah, sudahlah. Berdiri juga sudah biasa, tapi semoga ga di pintu berdirinya. Aamiin..

Naik bis, bener kan, berdiri. Alhamdulillah ga di pintu, bis tidak terlalu penuh. Tapi aku orang terakhir yang naik bis, paling keliatan sama supir. Hanya beberapa detik aku berdiri, eh dipanggil sama supirnya, disuruh duduk di bagian dashboard yang lain (yang awalnya kupikir itu tidak boleh diduduki karena akan mengganggu penglihatan supir ke spion). Alhamdulillaah yaa ^_^

Nyaman banget aku duduk, benar-benar terkabul doanya, padahal udah sempet ga ngarep lagi tuh.. padahal, hanya doa kecil saja, sekali saja.. bagaimana dengan doa yang terus diucap berulang kali? Pastilah, Allah tidak mungkin tidak mendengar doa kita, karena Allah Maha Mendengar.:)

Nah.. Tidak seperti biasanya, langsung macet begitu masuk tol. Lima menit kemudian, Pak Supir menoleh lagi ke mba-mba yang berdiri, memanggilnya untuk duduk. Dimana hayoo??

Di lantai depan bis, ia memberikan korannya hari ini sebagai alasnya.

Wihiiiy… alhamdulillaah yaa..
 ***

Sorenya ketika pulang kerja, aku orang terakhir yang dapat tempat duduk di bis dari jalan baru pasar rebo. Aku berdoa supaya tempat duduk itu memang ditakdirkan untukku. Aamiin..

Pemberhentian berikutnya, naik seorang ibu-ibu dengan bawaan ribet dan seorang mba-mba. Yah,, sudahlah.. Baru masukin hape mau ngasih duduk, eh ibu-ibunya udah ga ada. Ternyata udah disuruh duduk di atas koran sama supirnya. Mba-mba itu juga. Dan kutengok, ternyata supir yang tadi pagi!

Subhanallaah.. baik amat ya ntu supir..

Semoga keberkahan selalu menyertaimu, pak supir yang baik hati dan suka menolong ^_^ aamiin

Thursday, September 22, 2011

moving on

8:18 AM 13 Comments
Terlalu banyak ketidakpastian dalam hidup

tapi hidup tetap harus berjalan, kawan.

tetap ada plan a-b-c-d- untuk setiap kemungkinan, yang harus kita buat

tetap ada langkah-langkah yang harus kita usahakan

tetap ada hari dan peristiwa yang harus kita jelang

dan tetap akan ada asa sepanjang kita mengusahakan yg terbaik

karena hidup harus tetap berjalan

mau tidak-mau, suka tidak-suka,

dan karena hidup a k a n terus berjalan

*jangan bersedih yaa..

Tuesday, September 20, 2011

Learned Helplessness

10:12 AM 12 Comments
Kalo gak salah dulu aku pernah nulis tentang learned helplessness. Tapi lupa, beneran pernah atau ngga. *doh..

Keadaan tidak berdaya, pasrah, yang dipelajari, akhirnya menetap jadi sikap dan perilaku. Mungkin karena tak kunjung ada perubahan dari keadaan itu. Yang paling mungkin, adalah karena putus asa. Ya sudah lah ya, usaha gak-usaha miskin-miskin juga, misalnya.

Akhirnya menjamurlah banyak pengemis di kota. Bahkan sudah menjadi sebuah profesi. Mirisnya, yang mengemis itu kebanyakan masih mampu bekerja. Hhhmm.. sayang sekali. Memang rezeki itu sudah ditetapkan, pilihan kitalah mau bagaimana mendapatkannya, dengan cara terhormat atau hanya duduk menengadahkan tangan, merendahkan diri di hadapan manusia.

Nah. Kenapa saya tiba-tiba nulis tentang ini?

Jadi gini, kemarin waktu di angkot pulang kerja, ada seorang laki-laki muda, kumal, kira-kira seusia saya atau lebih muda sedikit. Sehat. Dia masuk ke angkot seperti pengamen, hanya saja, di tangannya kosong, tanpa alat untuk teman ‘bermusik’. Dia mengucap salam, memohon belas kasihan, lalu, ‘saya hanya bisa berdoa, agar anda semua mendapatkan rezeki yang banyak’, dan seterusnya. Saya pikir itu baru intro. Karena beberapa kali saya juga mendapati ‘pengamen’ yang tanpa alat, hanya bernyanyi sambil bertepuk-tepuk tangan. Itu udah minimal banget kayaknya. Memang tidak untuk dinikmati oleh penumpang, tapi minimal (banget), ada yang dilakukan.

O,ow.. Anak muda ini, benar-benar ‘hanya punya’ doa. Selepas kata-kata yang saya pikir ‘intro’ itu, dia langsung menengadahkan tangannya, langsung meminta-minta. Hhhhfff… mau jadi apa… T_______________T

Saya kaget loh. Nih orang kok, ya, bisa-bisanyaaa masih mau hidup tapi malasnya ampun-ampunan.. Gak malu liat rekan-rekan ciliknya di jalanan masih berusaha mengamen, melatih kekompakan, agar ketika meminta, ‘gak minta-minta banget’.

Saya jadi mikir.
Ini cermin loh.
Cermin mental sebagian rakyat kita.
Pendidikankah kurangnya? Pasti.

Padahal saya baru saja berpikir, dengan himbauan penggunaan bbm non-subsidi, pemerintah sudah mulai menggunakan paradigma baru, bahwa masyarakat kita sudah banyak yang terdidik dan memiliki kesadaran, terlepas dari sudah efektif atau belum, paling tidak sudah memulai.

Uhm.. mungkin ini kompleksnya punya rakyat banyak banget. Yang terdidik banyak, yang belum terdidik banyak juga.

Sekarang bisa apa kita?

ADHD

9:20 AM 8 Comments
Aku baru-baru masuk fakultas psikologi waktu ibunya (sepupu iparku) bertanya, “Itu Nabila autis apa gimana ya Dek?”

Aku belum dapat mata kuliah Psikologi Abnormal dll, jadi cuma bisa nyengir waktu dikasih pertanyaan itu. Yang jelas orang tuanya selalu kerepotan karena anaknya (sangat) tidak bisa diam dan sulit dikendalikan. Yang jelas pagar rumah harus selalu terkunci saat ia di rumah. Rentang perhatiannya pendek; ia bertanya tentang suatu benda, lalu pindah ke benda lain sebelum benda pertama selesai dijelaskan. Ia sangat sulit untuk fokus. Kalau mau fokus menonton tv misalnya, ia harus mendekatkan matanya ke layar kaca, sampai hampir menempel.

Ia juga sering membuat rumah berantakan, bahkan setelah dibereskan oleh, adiknya, yang alhamdulillaah, seolah paham dalam keluguannya, bahwa kakaknya berbeda. Adiknya sabaaaar sekali. Suaranya keras. Dan ia hampir selalu berteriak. Dokter tampaknya tidak menjelaskan dengan baik, tapi obatnya tetap mahal.

 Memasuki semester 3 dan mulai belajar psikologi perkembangan, dosenku sekilas menerangkan tentang gangguan-gangguan dalam perkembangan anak. Salah satunya ADHD. Attention Deficit & Hyperactive Disorder. Kurang bisa fokus dan hiperaktif. Yups. Dalam pertemuan keluarga berikutnya aku sudah bisa menjawab, “Bukan autis kok Kak, hanya ADHD, ” sambil kuringkas penjelasan dosen. Hehe.. Seiring waktu dan kesabaran orang tuanya, alhamdulillaah keponakanku itu mulai bisa diajak kompromi untuk diam, atau melakukan hal lain dengan lebih baik. Tidak teriak-teriak, dan tidak terlalu hiperaktif. Meski ia masih tampak berbeda, alhamdulillaah sudah jauh lebih adaptif.

Entah kenapa ya, aku merasa anak ini senang ‘menggelendot’ di lenganku. Menceritakan apa saja. Suatu waktu ia bilang mau menyetor hafalan An-Naba’-nya. Tidak selesai, karena di tengah malah nyambung ke surat lain yang mirip. Hihi.. Berikutnya melapor kalau ia mulai suka menulis diary.

Pertemuan berikutnya bilang ‘aku kangen deh sama Kakak, kok Kakak ga ke kampung sih kemarin?’. Hhmm… meski agak beda, cuma dia yang ekspresif tentang perasaan gini. *jadi enak. Selanjutnya bertanya nomor hp dan memiscall nomorku, minta di save. *fyi, baru saja naik kelas 6 anaknya, tapi mohon jangan bandingkan dengan kelas 6 –ku atau kamu dulu.

Waktu pertemuan keluarga besar di rumah terkait persiapan pernikahan kakakku, dia dan keponakan-keponakanku seumurnya yang lain, dan aku, berkumpul di kamarku. Dia bertanya, “Kakak, kakak kapan nikahnya?” Kujawab, doain aja yaaa.. Dia bilang iya. Ehh..nyeletuklah seorang sepupunya yang lebih kecil, “Ngga ah, aku ga mau doain..” Haha, bukan masalah, tinggal bilang, “Eh, ntar kalo aku udah punya suami kan THR-nya dobel”. ‘Aaaahh!! Iya iya aku doaiiinn…’ hahahaha… bocaaaahhh -____-‘’ *intermezzo yak*

Dia masih nempel waktu aku menambahkan nomornya ke kontak hp. Lalu kuketik namanya dengan sedikit pelesetan, nabilcuy. Dia kaget (dan membuatku kaget juga tapi tetep bisa ngeles), tapi sebelum dia protes, aku bilang, ‘ini panggilan sayang aku buat kamu’. Tau ga apa reaksinya? Dia langsung melonjak senang.

Ooh.. terlepas aku memang sering menambahkan panggilan nama teman dengan ‘cuy’, juga terlepas dari aku yang memang suka gombal, aku jadi makin sayang beneran sama anak ini.

                                                                                  Keluarga Besar, 19 September 2011

Tuesday, August 16, 2011

tentang foto

3:47 PM 12 Comments
Kita, manusia modern, sangat diuntungkan dengan adanya teknologi yang menghasilkan ‘foto’. Mulai dari hitam putih sampai foto profesional.
 Bahwa foto bisa mengabadikan sebuah suasana, bahkan yang kelak menyejarah. Awalnya seperti itu. Semakin ke sini, makin banyak orang yang narsis karena suka sekali mengambil foto dirinya. Sebenarnya untuk yang ini saya agak bingung. Padahal orangnya itu-tu aja, mukanya juga begitu-begitu saja, dan tidak dalam suasana khusus. Tapi dipotret sebegitu sering dan banyaknya. Ckckckck.. ah, bicara begini bukan berarti saya tidak pernah ya.. hehe..
 Nah. Akhir-akhir ini saya seriiiing sekali menemukan foto wajah yang tidak sesuai dengan aslinya. Kebanyakan sih, bagusan fotonya *ups. Terutama pas foto yang sering dipakai orang waktu melamar pekerjaan. Owh, mungkin sekarang semakin banyak editing dalam pencetakan foto. Maka dari foto, saya tidak bisa yakin dengan penampilan seseorang. Jangan langsung percaya!
 Uhm... kecuali sih. Kecuali foto seseorang yang diambil spontan (bukan dengan ekspresi tertentu yang diatur), dalam sebuah suasana, di mana foto tersebut tidak hanya berfokus pada seseorang, melainkan juga suasananya. Gampangnya, bukan foto diri.
 CMIIW

*kerjaan menjelang resign