Follow Us @farahzu

Monday, January 4, 2010

Bincang-bincang Tentang Malaysia; How I Proud to be Indonesian

         Beberapa waktu lalu, seorang mahasiswa Universiti Malaya asal Riau, Indonesia, datang berkunjung ke ruang BEM UI. Saat itu sedang sepi, hanya ada beberapa orang staf, kepanitiaan, dan beberapa BPH (saya, Budi, dan Input). Awalnya saya agak cuek karena ada yang harus saya selesaikan. Budi-lah yang menemaninya mengobrol dan berbincang. Lepas ashar, shalat berjamaah di ruang BEM yang itu-itu juga, Budi masih menemani teman kita itu berdiskusi mengenai dunia kemahasiswaan dan pergerakannya di Indonesia, lalu membandingkannya dengan di negara tempat ia menuntut ilmu sekarang, Malaysia.
            Menit demi menit berlalu, staf-stafnya Budi mulai ramai berdatangan karena mereka sebentar lagi akan rapat. Dengan halusnya Budi berusaha mengalihkan dengan memanggil saya dan Input, “Eh, BPH, Kak, kenalin nih, ada teman kita dari Malaysia…” kurang lebih seperti itu. Saya yang sebelumnya memang agak cuek sambil nunggu dipanggil (halah), dan Input yang juga sedang tidak ada kerjaan ‘detik itu’, menghampiri, menyapa, dan memperkenalkan diri. Karena sepertinya Input juga mau rapat dan tidak ada bahan perbincangan, akhirnya saya berinisiatif untuk mulai bertanya. Awalnya saya menanyakan dan mengapresiasi kampanye Batik Punya Indonesia (bukan nama sebenarnya) yang mereka lakukan di sana 3 Oktober lalu. Kemudian saya juga menanyakan apakah dia mengenal sahabat kecil saya yang berkuliah di Universiti Utara Malaysia, karena sangat mungkin mereka sama-sama tergabung dalam PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Malaysia.
            Lambat laun cerita mengalir dan ia banyak bercerita. Katanya, di Malaysia sana, semua rakyat itu tunduk dan patuh pada otoritas pemerintah yang berkuasa. Menelan semuanya bulat-bulat (kebijakan, informasi, dll). Tak peduli pada sumber lain. Aman. Yang namanya mahasiswa itu, boro-boro deh ikut aksi demonstrasi. Penjara, Men! Apalagi mahasiswa internasional (termasuk Indonesia), kalau sekali saja ketahuan ikut aksi demonstrasi, kalau tidak penjara, langsung deportasi! Ckckckck,, kasihan, mereka sangat iri pada dinamisnya dunia kemahasiswaan kita yang bebas, dinamis, dan demokratis.
Saya juga men-share apa yang pernah saya baca dari catatan perjalanannya Gola Gong tentang Malaysia dan menanyakan pendapatnya (meminta persetujuannya atau paling tidak penjelasan lah). Gola Gong bilang, dia tidak menemukan adanya ‘gairah’ pada penduduk Malaysia–bahkan para pemuda dan pemudinya. Tau apa reaksi teman kita itu? Dia sangat senang saya mengetahui hal itu –seolah-olah saya bisa memahami ‘kesedihannya’ yang tidak dapat dipahami oleh manusia seplanet bumi. Lalu dengan bersemangat ia mulai menjelaskan,
“Orang Malaysia itu, datar. Bicara dengan orang tua dan bicara dengan teman, sama saja! Kalau kita kan, dengan teman kita bisa lepas, santai, sedangkan dengan orang tua kita biasanya lebih sopan, halus… mereka nggak, mereka sama aja pada semua umur, sama kakunya. Senior saya di sana pernah bilang, bila ada 2 orang; 1 orang Indonesia dan 1 lagi orang Malaysia, meski wajah mereka mirip, dia tetap bisa membedakan mana yang Indonesia dan mana yang Malaysia. Orang Indonesia tuh, gimana ya, lebih lepas gitu. Kalau mereka kayak agak-agak tertekan gimana gitu… Meskipun orang Malaysia tertawa sampai ngakak (terbahak-bahak), tetap saja tawa mereka itu seperti tidak lepas…”
Waow. Kurang lebih seperti itu penjelasannya. Ternyata sejalan dengan yang diceritakan Gola Gong. Jadi kalau menurut saya, secara psikologis kita sebenarnya (seharusnya) lebih sehat daripada orang Malaysia… kita terbiasa terbuka, mengemukakan pendapat dan keinginan, hidup tanpa tekanan otoritas (meski raga kadang terkungkung masalah hidup, namun batin kita bebas merdeka). Orang miskin kita pun masih bisa bahagia –kalau dia mau.
            Lagi. Lagi. Sekarang tentang pendidikannya. Entah sistemnya atau budayanya atau apanya, yang jelas menurut ceritanya, pelajar Malaysia itu sangat pasif di kelas. Jangankan berdiskusi, mereka bahkan tidak pernah bertanya. Menurut mereka, “banyak bertanya = bodoh”. Bila ada yang tidak mereka pahami tentang suatu pelajaran, mereka menemui dosen terkait di ruangannya untuk meminta penjelasan lebih banyak, atau di manapun, yang penting tidak di kelas dan, privat. Kesimpulannya menurut teman kita ini,
“jadi mereka pintarnya sendiri saja, tidak bagi-bagi. Kalau kita (mahasiswa internasional) kan kalau punya ilmu dibagi-bagi, senang berdiskusi, banyak bertanya, kritis,,, kalau mereka tidak… maka itu kami lebih senang bergaulnya dengan anak-anak internasional juga di sana
Seperti ‘kita dahulu’, tapi ini realitas ‘mereka sekarang’. Seperti kurikulum zaman guru SD saya sekolah: DDCH. Duduk, Dengar, Catat, Hafal. Kalau kata cerita beliau, itu peninggalan penjajah; kita terbiasa hidup terjajah.. Tahukah, bahwa banyak orang yang bilang,
“orang-orang kita mah ga pada pinter-pinter, ga dibiasain kritis seperti orang-orang luar,”
pasti yang mereka maksud barat. Hey, lihat tuh, di Jiran situ, anak-anak Indonesia termasuk sangat aktif!! Nah. Satu yang menggelitik saya setelah itu,
“Dulu kan mereka (Malaysia) belajar pada kita, dan sekarang kita yang banyak belajar ke mereka. Sebenarnya, apa sih yang membuat pendidikan mereka lebih maju daripada kita???”
Menunggu dikau pulang,
Rumah, 27 Desember 2009

23 comments:

  1. mb' judul bukunya gola gong yg tentang malaysia apa???
    *penasaran isinya... :-)

    ReplyDelete
  2. ga semua ttg malaysia sih.. buku catatan perjalanannya dengan sepeda ke negara-negara di Asia. Judulnya "The Journey"..

    ReplyDelete
  3. “Dulu kan mereka (Malaysia) belajar pada kita, dan sekarang kita yang banyak belajar ke mereka. Sebenarnya, apa sih yang membuat pendidikan mereka lebih maju daripada kita???”

    apa yah kak?perhatian pemerintah mereka thd pendidikan lebih besar mungkin.
    "Di Malaysia, pengalokasian dana untuk pendidikan sebesar 20 persen sudah dibicarakan sekitar 40 tahun yang lalu (bandung.detik.com)"
    terus yang ini
    "anak-anak Indonesia termasuk sangat aktif!"
    berapa yg aktif dan berapa yg pasif?hehe.
    dan mungkin yg aktif2 ini, ga mendapat 'wadah' yang pas dari pemerintah indonesia, akhirnya pada sekolah ke luar negeri deh. di luar negeri ditawari kerja dengan gaji yang ga akan di dapet di indo dan keberadaan mereka amat dihargai tentunya...banyak kan orang2 luar biasa yang amat dihargai di luar, tapi tidak di dalam...
    *menurut saya begitu kak.hehe

    ReplyDelete
  4. uhmmm.. alasan pertama,, mungkin jadi salah satu penyebab ay.. betul, betul, betul...

    ttg yg aktif,, menurut informan sih semuanya.. mereka kan disana kuliah ay,, ga kerja...

    ReplyDelete
  5. ehem..ehem..menggelitik juga membacanya, dan terharu ada tulisan "sahabat kecil saya"..hehehe..

    realitas yang farah paparkan memang betul dan begitu adanya. yaa begitulah malaysia dan yaa begitulah indonesia. sepertinya kita harus lebih banyak bertanya, kenapa malaysia bisa seperti sekarang? dan kenapa indonesia seperti ini sekarang? kenapa hal itu terjadi? dan bagaimana kita mengejar ketertinggalan?

    salam,
    dari sahabat kecil di negeri sebelah..hihi

    ReplyDelete
  6. kayaknya belum pas kalo tidak mengalami langsung yha...
    masih agak2 skeptis nih...
    :)

    ReplyDelete
  7. iya uf.. xixixixii,, sahabat kecil-ku sekarang sudah gede. jauh lebih tinggi daripada dulu. heheheheee..piss!!

    yup, banyak bertanya, introspeksi, dan diskusi cari solusi!

    ReplyDelete
  8. iya.. ke sana gih ^_^. kalo udah, buat tulisan yaa..

    ReplyDelete
  9. ok saya sbgai orang Malysia memang saya akui ada yang benar dalam artikel ini, wong khan rakyat Malysia itu hanya 26jutaaan berbanding INA 200jutaann ya jelas bedah budyanya..sifatnya ..pemerintahnya..gitu...hehe gimman sudah baca isi2 post MPku..kayak orang malaysia or Indonesia?

    ReplyDelete
  10. Sebagai penjelajah semesta, saya tidak terikat pada negara... tapi pada rumah..

    He2

    ReplyDelete
  11. halaqahbyu orang malaysia? asli ? tulen? kok ngomongnya indonesia sekali?

    ReplyDelete
  12. waaahh farah kamu amat sangat berbakat menulis.. taukah kau, kalau MP mu ini ku bookmarks dimana mana??

    hhe,, terdengar jahat ya??

    lanjutkan farah.. aku senang bacanya, dan ini informatif, sangat!

    ReplyDelete
  13. waow!! farah!! aku baru tau loh... JFS

    jadi inget,, ada temenku yg kul di malaysia (pasca sarjana hukum). biayana cukup murah. tapi dia meragukan kualitasnya. mnurut dia bisa jadi di indo lebih bagus drpd disana.

    ReplyDelete
  14. *membayangkan kakek mutenroshi berubah wajah jadi kak iman....
    heheheheheheee...

    ReplyDelete
  15. Hwehehe..
    Anak muda yang cerdas.. :p

    ReplyDelete
  16. duh,,,
    demonstrasi dan demokrasi ko jadi indikator ya?
    indikator kemajuan, gtu...

    wew~

    :)

    ReplyDelete
  17. tiap orang kan punya pndangan masing msing ka adit

    ReplyDelete
  18. hummmm,,, belum sempet.. nih juga baru mau balesin komen-komen.. nanti kalau udah saya komen deh =)

    ReplyDelete
  19. waow.. sertakan link-nya ya bu.. hehe..

    ReplyDelete
  20. common sense-nya sih, orang kita itu lebih "tertarik" memang dengan lulusan luar negeri. kualitas mah entah.. belum pasti juga kan?? di kita juga banyak yg qualified kok..

    (tapi aku juga ttp pengen sih kuliah di luar negeri. hhee)

    ReplyDelete
  21. terima kasih ^_^

    (dan ka iman seperti tak muda lagi.. atau memang iya kah? ups.)

    ReplyDelete
  22. ka adit n nurul: udah, jangan berantem =) sebenernya kalo dibaca baik-baik, saya tidak langsung menghubungkan demokrasi dan demonstrasi dengan kemajuan bangsa kan..?

    ReplyDelete