Follow Us @farahzu

Thursday, October 9, 2008

mustalwaysbehappy

10:57 AM 6 Comments
         Setidaknya ada beberapa alasan yang membuatku berpikir bahwa, tidak ada satu hal pun yang dapat membuatku sedih atau mengalami emosi negatif lain (cemas, depresi, dsb) dengannya, selain hal tersebut juga bisa membuatku happy. Meski tidak berurutan, ini dia sebab-sebabnya:
1. Namaku Farah; which means “happy”
2. Kelompok mata kuliah KAUPku bernama, “KAUP GEMBIRA”. Jadi aku harus menjunjung tinggi nama, jargon, serta do’a kami tersebut.
3. Kelompok KAUP kami juga kebagian membahas konstruk Happiness dalam pembuatan alat ukur typical performance test. 
4. Dokter bilang, stres atau beban pikiran lainnya juga dapat memicu tumbuhnya jerawat! Jadi bukan hanya faktor jenis kulit dan makanan yang dikonsumsi saja yang jadi penyebab jerawat.
5. Masalah itu pasti akan selalu menyertai hidup kita. Karena, hidup hanyalah perpindahan dari satu masalah ke masalah yang lain. Jadi kalau tidak mau punya masalah, ya ga usah idup aja =)
Masalah itu salah satu karunia Allah, untuk kita agar senantiasa belajar dan bersyukur agar terhindar dari azab-Nya (QS:14:7). Selain itu, masalah menjaga kita agar tetap dekat dengan-Nya (jadi banyak mendekatkan diri dan berdo’a khaan? Hayo ngaku!).
Pemahaman dan keyakinan mengenai hal ini akan melapangkan dada, mendapat kemudahan dalam bermacam urusannya, dan dilancarkan kekakuan lidahnya. Aamiin.
6. Baik dan buruk, positif dan negatif, itu relatif. Tergantung dari sudut mana kita ‘ingin’ melihat dan menilainya--‘Ingin’, karena sebenarnya sudut pandang itu pilihan. Mau melihat dari sisi negatif, yo wis. Mau dari sisi positif, mangga. Saya sarankan, lihat ‘dulu’ dari sisi positif-- ‘Dulu’, karena yang baik adalah melihat dan menilai dari berbagai sisi, baik-buruknya, positif dan negatifnya. Sudut pandang yang positif dapat menaikkan kepercayaan diri maupun self esteem kita. Atau paling tidak membuat kita mengalami emosi positif. Ketika suasana hati sedang baik, kita lebih dapat menerima hal yang buruk dengan lapang dada.
Contoh: ketika sedang dipusingkan dengan KAUP, seorang teman dari FKM berkata, “KAUP, Kutukan Allah Untuk Psikologi”. Haha, mungkin telah banyak anak psikologi yang mengeluh dipusingkan (sesungguhnya jauh lebih dari sekedar ‘dipusingkan’) oleh si mata kuliah tercinta pada temanku itu. Ah, tapi, aku akan mengubahnya menjadi, “KAUP= Karunia Allah Untuk Psikologi” n_n
7. Ketika “dibantai” oleh dosen dan asdos terkait dengan laporan yang kami kumpulkan dengan penuh keterbatasan (waktu, referensi, psikomotor, dan kognitif), entah kenapa aku dan seorang temanku di kelompok KAUP GEMBIRA, menjadi teramat sangat bergairah untuk menaklukkan si cinta ini. Aku pernah berkata padanya, “Aku selalu berdoa biar KAUP kita dapet A”. Tapi kenyataannya laporan KAUP kami sangat sulit untuk bisa dibilang memuaskan. Kami pun akhirnya menyimpulkan, “Nah, mungkin inilah jalannya untuk dapet nilai A!”. ‘Dibantai’ abis-abisan, dicoret-coret setiap lembar laporan kami, lalu banyak feedback yang terdengar agak menyakitkan meski 89% feedback itu benar… Yah, mungkin inilah jalannya. Dan kami pun bergairah kembali. KAUP, kau benar-benar karunia!!!
And I’m happy!! ;D
Depok, Kota Perjuangan
7-8 Oktober 2008

Monday, October 6, 2008

Malam Terakhir

5:51 PM 6 Comments

--di Usia 20
Hoaahhmm, sedih rasanya. Sedih sekali. Makin banyak waktuku terbuang. Makin banyak tuntutan yang harus terpenuhi seiring dengan berjalannya usia. Tak boleh lagi berpikir seperti anak kecil, bahwa masih ada orang lain yang akan menyelesaikansemuanya. Aku hanya membantu. Tidak. Kini aku harus bisa menjadi pemeran utama dalam hidupku. Bukan lagi orang tuaku. Atau siapapun di luar diriku. Just my self.
Aku menyadarinya setahun lalu, saat tak bisa lagi memungkiri berjalannya waktu yang menuntunku ke gerbang usia berkepala 2. Tapi tetap saja kadang masih ada takut menghadapinya. Masih adaingin untuk memungkiri itu semua. Tak mempedulikan teori perkembangan Barat bahwa usiaku telah masuk dewasa muda, hanya menggunakan teori Mas Ito (Prof. Sarlito) bahwa di Indonesia, seseorang masih disebut remaja hingga usianya 24 tahun selama ia belum menikah. Padahal dalam Islam, ketika seseorang sudah baligh, maka ia sudah dikatakan dewasa. Dan ia harus dewasa.
Sebenarnya aku masih senang jadi anak-anak (kalau seseorang berinisial ‘I’ membaca tulisan ini, ia pasti menuduh, “dasar anak bungsu, manja”). Riang, penuh keceriaan. Ringan memandang hidup. Tak punya masalah berarti. Tapi,anak-anakjuga tak harus bertanggung jawabatas perbuatannya. Anak-anak juga tak mengenal BEM, makalah, KAUP, apalagi skripsi. “Apa itu?”, pasti itu komentar mereka mendengar kata-kata di atas. Tugas perkembangan mereka:bermain. Oh senangnya…
Sebagai manusia normal yang tidak memiliki gangguan psikis, alhamdulillah, aku tetap harus menghadapi semuanya. Tidak ada lari. Karena di depan ada rahmat dan surga Allah menanti dengan pintunya yang banyak. Aku mau masuk dari… Semua pintu!
Aku tidak mungkin menjadi pelayan di surga. Karena jelas, sampai saat ini aku masih hidup, sedangkan mereka adalahmanusia-manusia tak berdosa yang meninggal ketika masih kecil.Jadi aku ingin memiliki istana di sana. Dan aku tahu pasti–kau juga—surga beserta segala ‘fasilitas’ dan kenikmatannya tidaklah gratis. Hanya ketaqwaan dan amal shalih yang bisa jadi penebusnya.
Dan anak-anak? Tidak. Biarlah itu jatah mereka. Karena tidak diuji, mereka menjadi pelayan (tetep aja, di surga yang abadi, bo!). Namun hanya pelayan (meskipun di surga).
Selamat datang hari! Akusiap menyambut hidupku!!
Bekasi, 3 Oktober 2008

Friday, September 19, 2008

Aku Suka Dekat, Tapi Tidak Menempel

7:43 PM 2 Comments
Waktu kuliah Kepribadian I di semester 4, Mas Budi menganalisis tulisanku yang tampak sambung. Menurut beliau aku mudah dekat dengan orang lain. Ya, itu betul. Tapi belakangan ini aku baru sadar, ternyata kadang aku lebih senang sendiri. Beberapa orang menginterpretasikannya sebagai individualis.
         Ya, kalau berjalan aku lebih senang sendiri, kecuali menemukan teman perjalanan yang ‘seirama’ denganku.
         Di kosan, aku lebih suka menyelesaikan tugas-tugasku walau banyak godaan datang untuk mengobrol dengan tetangga-tetangga kamar. Dan aku jarang tergoda. Kaku memang. Tapi beberapa tahun belakangan ini aku mulai berusaha membaur –tetep, seperlunya. Awalnya aku kaget karena ternyata waktu sudah berlalu banyak sekali untuk mengobrol dan banyak pekerjaan yang terbengkalai. Semenjak itu, aku sangat hati-hati (kalo ngobrol, selalu liat jam dan komitmen dengan jadwal).
         Nah, mohon maaf sebelumnya kalau ada yang tersinggung…
Aku agak terganggu kalau kedekatan itu sampai jadi 'nempel' (ini versi-ku, silahkan kalau ada yang tidak setuju).
       Aku tidak suka selalu ditunggu, karena aku sebenarnya tidak suka menunggu. Wajarnya, orang yang selalu menunggu orang lain menyelesaikan pekerjaannya, juga ingin ditungguin ketika mereka menyelesaikan pekerjaan mereka. Dan sekali lagi, sebenarnya aku tidak suka menunggu (katanya aku tidaksabaran, tapi bagiku penempatan kata 'sabar' di sana tidak tepat). Bagiku, kalau sudah selesai, ya jalanlah lebih dulu. Agar detik-detik dan menit yang ada tidak terbuang percuma hanya untuk menunggu orang mengerjakan hal sama. Jadi tidak produktif kaann?? (orang mengerjakan hal yang sama...).
       Alasan lain kenapa aku tidak suka ditunggu untuk hal-hal sepele (seperti wudhu, pakai sepatu, atau merapikan jilbab) adalah, 'kok ga mandiri banget ya, gitu aja ditungguin?'
Sekali lagi, karena aku sebenarnya tidak suka menunggu untuk hal-hal seperti itu. Sayang waktunya. Dan, karena aku sangat menghargai sesuatu yang bernama WAKTU.

mereka bilang aku genuin

7:19 PM 3 Comments
        Entah kenapa aku sangat ekspresif. Kalau suka bilang suka, tidak suka bilang tidak suka. Senang, malu, terharu, lelah, kesal, dan apapun emosi yang kualami, semua tampak dan dengan mudah terbaca oleh orang-orang di sekitarku. Kuliah Konseling yang masih segar di kepala membuat beberapa orang menyebutku 'genuin'; artinya sangat sesuai antara perasaan dengan perilaku yang tampak (hal ini bisa jadi baik, bisa juga buruk). Mungkin tidak masalah kalau yang sering tampak adalah emosi positif. Tapi masalahnya, masa-masa KAUP dan skripsi seperti saat ini sangat efektif membuat emosi negatifku lebih dominan untuk muncul. Jadi,,, khususnya untuk teman-teman kelompok KAUP GEMBIRA-ku yang hebat, trims banget atas pengertian dan kesabaran kalian menghadapi aku yang sering keluar 'agresivitas'nya

--Buat temen2 fakultas psikologi UI yang belum dapat kuliah 'ini', jangan khawatir,
KAUP itu mendewasakan--

Monday, September 1, 2008

Mahasiswa Jagoan, Jangan Jadi Pocong

10:40 AM 4 Comments
(Tugas jadi mentor workshop menulis)
   
Menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan, aku mengubah halaman depan rumah tulisku, farahzu.multiply.com, yang sebenarnya sudah sangat menyenangkan bagiku. Tapi keputusan ini akhirnya kuambil karena kegembiraanku bertemu Ramadhan jauh melebihi cintaku pada site-ku itu. Mau bagaimana lagi, cinta dapat mengalahkan segalanya. Akhirnya ketika membuat beberapa bait kata pembuka, jari-jariku lahap menyantap ide-ide yang mengalir dalam otakku pada keyboard komputer, mengumpulkan mereka agar tak terserak lalu terbuang.
Menulis itu membutuhkan niat yang kuat. Mungkin beberapa dari kita merasa disulitkan oleh kurangnya ide yang menarik untuk dibuat tulisan. Padahal jika kita mau membuka indera kita lebih peka serta hati dan pikiran lebih dalam untuk mengamati dan mengambil hikmah, ide-ide brilian itu sebenarnya sangat banyak di sekitar kita. Bagaikan serpih-serpih roti yang kecil dan sering tak dianggap oleh manusia, yang ternyata dapat dinikmati dengan sangat oleh burung-burung. Semua tergantung sekuat apa niat kita untuk menulis dan sejauh mana kepekaan kita untuk mengambil pelajaran dari sekitar.
Tapi bila ada juga yang memang benci menulis, solusinya bukan memahamkan tentang hal-hal positif dari menulis. Seharusnya, obatnya adalah mencari hal-hal menyenangkan dalam menulis atau membangun rasa kebutuhan terhadap menulis; misalnya saja, mahasiswa pasti banyak menemui tugas-tugas menulis dalam kuliahnya, suka tidak suka, benci atau cinta.
Mahasiswa dan supir angkutan umum sama-sama bisa berdemonstrasi, bahkan merobohkan pagar gedung DPR/MPR yang kokoh dan kuat. Nyali mereka sama besar ketika berhadapan dengan jajaran aparat kepolisian. Ketika digertak atau disuruh mundur, mereka juga tidak begitu saja menurut kalau komando itu tidak datang dari pemimpin mereka. Perbedaannya, aksi mahasiswa selalu diawali dengan kajian kritis dan tinjauan berbagai bidang yang kemudian disosialisasikan melalui tulisan, sehingga argumentasi mereka lebih kuat. Masyarakat pun menaruh asa lebih besar pada mahasiswa karena aksi-aksi mereka pasti membawa kepentingan mereka lebih banyak. Bedanya lagi, aksi mahasiswa tidak hanya demonstrasi, tapi banyak juga melakukan pencerdasan pada masyarakat melalui tulisannya di media-media. Dalam konteks ini, malasnya mahasiswa melakukan aksi lewat tulisan bisa membekukan pergerakan mahasiswa itu sendiri.
            Dikarenakan menulis itu tidak mudah, maka mahasiswa harus tabah dan sabar dalam berlatih. Jangan pernah malu bila karya tulisan kita dianggap tidak layak untuk dipublish; melainkan katakan pada diri sendiri, tidak layak itu kan menurut kita, belum tentu menurut orang lain. Berlatih terus-menerus, minta masukan dari orang lain, publish dan biarkan orang lain membacanya. Lakukan tanpa bosan, hingga rasa malu itu sirna. Tanamkan dalam pikiran, bahwa membiarkan tulisan-tulisan kita tersimpan dan tersembunyi adalah tindakan berbahaya! Seberbahaya pocong yang muncul di siang hari di tengah keramaian manusia.
Depok, Ramadhan pagi hari,
1 September 2008/Ramadhan 1429

HUJAN GERIMIS (dalam logat aslinya, insya Allah)

10:18 AM 0 Comments
E, ujan gerimis aje,
Ikan teri diasinin
E, jangan menangis aje,
nYang pergi jangan dipikirin

E, ujan gerimis aje,
Ikan lele ada kumisnye
E, jangan menangis aje,
kalo boleh cari gantinye

Mengapa ujan gerimis aje,
Pergi berlayar ke Tanjung Cina
Mengapa Adek menangis aje,
Kalo memang jodoh ga kemana, hey, hey!!

E, ujan gerimis aje,
Ikan bawal diasinin
E, jangan menangis aje,
Bulan Syawal mau dikawinin
(“Mau dikawinin jangan nangis, bebedak yang banyak!”
“Yah, entar kayak celepuk dong!”)

Mengapa ujan gerimis aje,
Pergi berlayar ke Tanjung Cina
Mengapa Adek menangis aje,
Kalo memang jodoh ga kemana, hey, hey!!

Jalan-jalan ke Menado,
Jangan lupa membeli polong
Kalau niat mencari jodoh,
Cari yang item seperti saya
(ah, masa??!)

*kunci gagasan mengapa saya menulis lagu ini ada pada kata-kata yang di-bold. Tapi mohon maaf, hanya dapat dimengerti oleh akhwat-akhwat DPC Bekasi Timur yang tadi ikut daurah, hehehee..*
Bekasi, 31 Agustus 2008

Bajaj dan Bemo

10:14 AM 2 Comments
        Hari ini aku dan ibuku bertualang ke rumah uwak di dekat Stasiun Kota. Singkat cerita kami sampai di stasiun itu, lalu naik bemo. Hoy, subhanallah,,, banyak sekali yang kupikirkan kala itu. Terjebak sedikit macet di pusat perbelanjaan (WTC Mangga Dua dan sekitarnya), polusi udara dari kendaraan bermotor yang (na’udzubillah) kabarnya bisa menjadi penyebab autisme. Lalu supir bemo yang sangat piawai menemukan ruang-ruang kosong diantara mobil-mobil dan kendaraan lainnya (catt: bemo tersebut juga menyumbang polusi cukup besar untuk udara di Jakarta). Meliuk-liuk, salip kanan-kiri, lalu dengan mulus menghindari segala kemungkinan buruk; tabrakan. Hhhhaaaa,,, cukup stress saya, setelah sebelumnya di Bekasi saya “naik motor”.
            Pulangnya, kami memilih naik bajaj. Sebenarnya aku sangat ingin mencoba naik kancil, selain untuk mengurangi kontribusi pribadi pada polusi udara. Tapi sang kancil kosong tak jua melintas. Akhirnya bajaj yang beruntung itu melintas dan menawarkan jasa pada kami.
            Supir bajaj tak kalah luar biasa-nya!! Lebih parah bahkan. Polusinya apalagi. Sampai orang sering melontarkan tebakan, “Bajaj, rem-nya di mana hayo??”. Dan dengan agak basinya yang ditanya akan menjawab, “Di pundak abangnya!”. Tepat. 
            Saya tergelitik oleh satu hal. Hal apa yang mendorong bangsa kita dahulu untuk mengimpor bajaj dan bemo dari India? Ada yang tau???
Bekasi, 30 Agustus 2008

Hey, Don’t Call Me “Didong”!!

10:12 AM 4 Comments
Lagi seneng banget nih sama temen-temen di tim materi PMB.
Job desc hari I: mejeng
Job desc hari II: absen, jalan-jalan, makan, tidur, nge-net, dan, mejeng (juga)
            Tiba pukul 04.48 BBWI di kampus, telat 3 menit. Denda Rp1.000,00. Biarlah. Mengisi presensi, sarapan sedikit nasi goreng, “musyawarah” sebentar mau jalan ke mana, lalu melepas jaket kuning kebanggaan dan bersiap. Kami berangkat ke pasar subuh di Depok Town Square! Hya, pagi-pagi buta! Aku, Angel, Dedew, Nisa, Putri, Teri. La, la, la,,,
       Kami mengambil rute dari psiko—jembatan—hukum—menyebrang masjid UI—menyusuri danau UI—rektorat (sempat juga foto-foto)—FKM—gang senggol—Detos! Sampai di Detos matahari sudah mulai menyinari. Tapi tiba-tiba, eh, di depan sana, kok ada Anggun, Andin, dan seorang teman kami yang lain? O,ow,, Anggun sedang menemani temen-temen bidang konsumsi belanja snack buat panitia ternyata. Haha.. Mereka pun terbengong melihat kami satu tim malah jalan-jalan saat acara berlangsung =)
        Belanja kue-kue, makan, hhaaa, alhamdulillah… Terbayar sudah perut yang lapar karena diisi dengan tanggung tadi subuh. Atau jauhnya perjalanan kami menuju Detos. Setelah puas duduk, kami kembali ke kampus. Dduuuhh, sudah terang (sekitar pukul 6) begini kok maba-maba masih pada berkeliaran, belum sampai fakultas masing-masing. Jalan dengan santainya pula…
     Rute perjalanan pulang kami berbeda dengan saat berangkat. Entah apa pertimbangannya, kami memilih menelusuri jalur luar UI yang dilewati bis kuning. Eh, tapi tidak juga. Sampai balairung, kami berbelok dan menyusuri danau kembali dari sisi yang lain, menuju masjid UI. Masih foto-foto.. Di gerbang MUI, ada baliho bessaaarr banget. Kalau tidak salah isinya foto-foto tentang perjalanan Salam UI yang sebentar lagi milad 1 dekade. Nah, di baliho itu, kami melihat foto sesosok teman kami –sebut saja namanya Rizqi— banyak terpampang di sana. Hhuummm, kalau dia perempuan, sepertinya dia akan ikut jalan-jalan pagi bersama kami. Paham maksudnya? Ya, dia salah satu dari tim materi juga! Mapres Utama Psiko UI (huhuu,, ngiri deh).
            Saat itu hampir pukul setengah tujuh. Kemudian kami membuat jadwal kegiatan kami hari ini. Jam 8 kami akan naik sepeda keliling UI. Jam 10 saatnya kami bertugas. Ba’da zuhur, rencananya adalah ke salon, creambath bareng (haha…). Jam setengah 3 sore, baru kembali ke kampus, membuat yel bidang, lalu acara perkenalan panitia dan penutupan. Nah. (apa?)
            Kembali ke markas, kantin lama Fakultas Psikologi, kami duduk dan minum. Dan,,, tak lagi beranjak. Capek sekali!!! Boro-boro mau bersepeda jam 8, kami hanya bisa duduk, mengobrol (sambil menguasai meja konsumsi panitia, hehe..), beli dan baca koran, sedikit diskusi, dan menghabiskan kue yang tadi dibeli. Hhmm,, hingga sekitar jam 8 lewat, baru kami bubar. Ada yang ke student centre (tak lain untuk tidur), mushalla (juga untuk tidur), dan lab komputer pasca sarjana. Nge-net gratis… Aku memilih yang ketiga.
       Di hadapan “antar-jaringan” (internet maksudnya), luar biasa, godaan begitu besar! Di awal sih sempat ada niat, ‘browsing ah, cari bahan skripsi’. Tapi ketika di depan komputer, ‘males ah’. Rasa capek yang menutupi kakiku ternyata membuat otakku capek juga. Akhirnya kubuka multiply.com. Log in, dan bersenang-senang di “sana”. Sampai pukul 10. Rencana 1, gagal.
        Rencana 2 juga ternyata harus mengalami nasib serupa; gagal. Dan kembali kuhabiskan waktu di depan komputer (insya Allah banyak hikmah koq =)).
           Uummm, udah ah. Yang jelas, rencana bikin yel dst sih oke, dan yelnya menurut kami cukup lucu. Ummm,, tapi,,, malu ah ceritain-nya. Pokoknya, plis, don’t call me Didong!
Bekasi, 29 Agustus 2008

Manis

10:10 AM 0 Comments
(Menurut Saya Sih Ini Lucu, Bagaimana Menurut Anda?)
Apa yang terpikir oleh anda ketika mendengar atau membaca kata ini? Atau apa yang anda rasakan? Mungkn anda merasakan sesuatu yang menyenangkan (bisa dihubungkan dengan rasa di lidah, nyaman dipandang, atau kata-kata puitis dari seseorang). Mungkin juga ada yang membayangkan manis secara abstrak dimana bisa seperti cinta yang akhirnya tidak hanya manis di hati tapi juga diikuti berbagai rasa lainnya.
            Tapi kita tidak pernah jera pada cinta bila rasa manis itu hilang. Walau pahit, tetap saja banyak orang yang bertahan sampai cinta itu manis kembali. Memang kadang perlu perjuangan, tapi bukankah kata orang, cinta itu butuh pengorbanan? Bayangkan saja anda ingin minum teh manis, tapi gulanya habis sehingga anda harus membeli di warung yang lumayan jauh—dan ternyata warung itu juga kehabisan gula. Tapi anda benar-benar sedang ingin teh manis, tak bisa tidak.
            Ada 3 pilihan yang bisa anda ambil. Pertama, mencari gula di warung yang berbeda; mencampakkan teh dan mencari alternatifnya, yaitu sirup (yang sudah manis tanpa gula); atau setia pada teh hingga rasa manis itu terasa di lidah tanpa perlu tambahan gula!! Karena cinta itu hanya bisa dirasa. Ketika rasa cinta kita berkurang, bukan berarti kita harus mencari pengganti dari Dzat yang kita cintai. Tapi mungkin rasa kita yang salah. Lidah kita yang terlampau lemah untuk sekedar merasakan cinta.
            Karena cinta bukan sekedar tentang menuntut, tapi juga memberi!! Bila kau cinta, maka buktikanlah!!!
***
            Nah, ada yang sadar, apanya yang lucu? (Menurut saya sih ini lucu, bagaimana menurut anda?) =)                 
                                                       Depok, 27 Agustus 2008

Tuesday, August 26, 2008

Friday, August 22, 2008

Takdir Cinta

11:39 AM 2 Comments

Novel Cinta

Rating:


















★★★★
Category:Books
Genre: History
Author:Indra San Meazza
Penerbit : Mizan
Jumlah Hal. : vii + 409 halaman

Novel religius ini mengandung begitu banyak pelajaran dan pengetahuan tentang sejarah Islam dan aliran syi’ah yang berkembang hingga kini. Novel ini mengambil latar pada zaman kekuasaan Dinasti Abbasiyah di abad 13 Masehi.
Awalnya saya mengira buku ini akan banyak bercerita tentang kisah cinta tokohnya –seperti yang tertera di deskripsi judul novel ini. Namun yang saya temukan tidak demikian; sangat sedikit kisah cinta yang diangkat. Cerita didominasi dengan kisah-kisah heroik 2 orang pemuda prajurit kerajaan Abbasiyah yang mati-matian berusaha mempertahankan kehormatan agamanya dan tetap tegaknya pemerintahan Islam di tengah serangan bangsa Mongol yang berambisi menguasai negeri Islam dengan kejamnya. Hingga pada akhirnya pemerintahan Islam di Baghdad itu runtuh karena serangan dari pihak luar dan tusukan pengkhianatan dari dalam.
Novel ini cukup bagus sebagai pembangun jiwa (kalo katanya mba Asma Nadia) dan penyeimbang novel Kang Abik yang terbit sebelumnya (kalo ini katanya Teri). Pelajaran besar yang sangat mencolok dalam novel ini, bahwa seorang pemimpin selayaknya adalah orang yang paling pusing memikirkan kesejahteraan rakyat dan kemajuan serta stabilitas negerinya. Selain itu pemimpin juga sewajarnya menjadi contoh terbaik untuk orang-orang di bawah kepemimpinannya, menjadi contoh kezuhudan, kecerdasan, dan bebas dari dominasi siapapun; meski ia memiliki banyak harta dan hidup dengan pelayanan serba mewah di istana. Pelajaran berharga yang tak kalah penting adalah bahwa pengkhianatan itu tidak akan membawa manfaat sedikitpun, bahkan mudharat yang sangat besar untuk dirinya sendiri –selain yang pasti dapat menghancurkan hal-hal besar seperti kerajaan yang telah berdiri ratusan tahun.
Oh iya, satu lagi. Bahwa kesetiaan tertinggi selayaknya hanya dipersembahkan untuk Allah semata. Maka kau akan selamat, karena tidak semua “pemimpin” mampu memimpin dengan baik dan memikirkan kebaikan untuk ummatnya. Wallahu a’lam bi shawab.
Depok, 21 Agustus 2008

Baca Juga: Fotografi Hati

Sumber Gambar: https://www.goodreads.com/book/show/6146603-takdir-cinta

Profil Kader Partai Keadilan Sejahtera (buku lama, tapi oke)

11:30 AM 0 Comments

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:Departemen Kaderisasi DPP PK Sejahtera
Penerbit : Harakatuna Publishing
Jumlah Hal. : xii + 158 halaman

Haha, mulai nih, ngomongin tentang “kader PARTAI”. Suka-suka saya dong, ini kan blog saya x}
Penulis dan penyusun buku ini (Dept. Kaderisasi) rasanya diisi oleh orang-orang yang memiliki basis kompetensi psikologi =} Karena selain memuat ciri-ciri kader tangguh dambaan ummat dan penjelasannya, buku ini juga dilengkapi dengan indikator-indikator dari ciri-ciri tersebut (hingga sangat operasional dan konkret) dan kuisioner (salah satu alat ukur kalo di psikologi) keadaan dan kualitas diri pembacanya saat ini, apakah sudah cukup memenuhi kriteria dari ciri-ciri kader yang dibahas. Tak hanya sampai mengenali kualitas diri, buku ini juga menyediakan tips-tips untuk mengembangakan dan meningkatkan kualitas diri anda. OIYA, sebenarnya buku ini mengemukakan ciri-ciri kader da’wah yang baik, dari dan dimanapun ia bergerak. Not only party. Atau, ciri-ciri muslim yang baik dan lebih dicintai Allah: kuat (ruhiy, jasadiy, fikry, maaly), dan banyak membawa manfaat bagi manusia.
Buku yang sangat baik tentang pengembangan kepribadian muslim.
Bekasi, 10 Agustus 2008


Jaringan Gelap Freemasonry- Sejarah dan Perkembangannya Hingga ke Indonesia

11:20 AM 0 Comments

jaringan gelap freemasonry







Rating:

















★★★
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:A. D. El Marzdedeq. DIM. AV
Penerbit : Syaamil
Jumlah Hal. : vii + 409 halaman

Freemasonry –gerakan besar yang sangat berpengaruh di dunia itu—berarti “kumpulan tukang-tukang batu bebas”. Hayo,, apa hubungannya dengan konspirasi Yahudi Internasional??
Bercerita sangat komprehensif tentang gerakan Freemasonry, mulai dari sejarah singkat Bani Israil dan suku Yahudi, asal mula freemasonry, hingga perkembangannya di Indonesia. Sangat cocok untuk yang masih bingung tentang sejarah dan perjalanan bangsa Yahudi, hingga konspirasi-konspirasi jahatnya yang berada di balik segala kekacauan di dunia saat ini.
Gaya penyampaian buku ini lugas, jelas, dan rinci, seakan sengaja untuk menghindari mispersepsi dan misinterpretasi. Tak heran buku kecil ini dapat memuat begitu banyak informasi. Dalam penyajiannya, penulis juga menyertakan referensi-referensi dari sumbernya langsung, yaitu kitab-kitab dan perkataan imam-imam Yahudi, notulensi konferensi Yahudi sedunia, dan lain-lain. Buku ini juga disertai dengan simbol-simbol Yahudi dan Freemasonry yang ternyata sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah lambang trisula yang kta anak-anak psikologi berasal dari bahasa Yunani “psyche” yang berarti “jiwa”.
Buku ini menarik untuk dibaca karena memberi informasi yang cukup komprehensif dan penting mengenai bahaya jaringan Freemasonry, sekaligus meningkatkan kewaspadaan kita –umat beragama, bukan hanya Islam!—yang menjadi sasaran empuk para freemason. Bahwa freemasonry berada di sekeliling kita …
Bekasi, 9 Agustus 2008

Baca Juga: Giving Feedback with Respect

Sumber gambar: https://parasitaqidah.wordpress.com/jaringan-gelap-freemasonry/

Wednesday, August 13, 2008

Saksikan, Bahwa Aku Seorang Muslim

5:19 PM 3 Comments
salim fillah

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:Salim A. Fillah
Penerbit : Pro-U Media
Jumlah Hal. : 392 halaman
Tahun Terbit : 2007

Hal pertama yang membuatku betah berlama-lama membaca buku ini adalah bahasa sastranya yang sangat kental. Nyastra, indah, reflektif, filosofis, renungan-renungannya dalam, namun ringan dan menyenangkan. Baca deh (lhoh?). Luwes, sarat referensi namun tidak memusingkan/membosankan.

Membahas bagaimana seorang muslim yang kaffah membentuk dirinya melalui tahapan-tahapan. Mulai dari membersihkan aqidah, memperkuatnya, membentuk pribadi dan jati diri muslim, membangun keluarga islami yang barakah, hingga peran dan kontribusi seorang muslim dalam masyarakat dan kehidupan bernegara.

Ya, karena menjadi muslim tidak cukup hanya dengan berjenggot, celana ngatung, atau jilbab saja (ini pun masih banyak yang belum Allah lapangkan). Tidak juga hanya shalat dan duduk berdzikir di dalam masjid. Tapi menjadi muslim juga berarti menjadi tokoh dalam masyarakat karena akhlaq dan kemanfaatannya untuk ummat, memimpin perusahaan-perusahaan besar yang sukses dan banyak membuka lapangan kerja, hingga mengisi relung-relung kosaong dalam jiwa ummat yang butuh keteladanan dan pelayanan dari pemimpinnya.

Buku ini sangat bagus untuk dibaca dan perlu untuk dimiliki. Percaya deh, worth it koq, ga puas kalo cuma baca sekali dari pinjeman doang…
Miliki, baca, temukan banyak makna dan gagasan, dan amalkan. Hingga anda akan dapat berucap dengan bangga,
“Wasyhad, bi annaa muslimuun…”
Bekasi, 9 Agustus 2008

Baca Juga: Zona Nyaman; Jangan Pernah Kau Tinggalkan

Sumber gambar: https://www.blibli.com/pro-u-media-saksikan-bahwa-aku-seorang-muslim-by-salim-a-fillah-buku-agama-MTA.0318531.htm/?a_blibid=5832a16dd3058&action=login

Belajar MENULIS Kembali (Bukan Mengetik Yaa…)

5:10 PM 4 Comments
Khususnya para mahasiswa yang demen banget pacaran ama komputer atau laptop. Hayo ngaku, berapa sering kalian menulis dengan menggunakan kertas dan pulpen/pensil??
Saya menemukan fenomena menarik tahun-tahun belakangan ini. Sejak menjamurnya laptop dan komputer hingga seperti kacang goreng karena saking banyaknya, mahasiswa jadi sangat jarang menulis (note: harfiah ya, bukan mengetik!).
Mengerjakan tugas harian, makalah, penelitian, or else, ga ada lagi tuh yang bikin coret-coretan dulu di kertas, baru di ketik. Yang ada sekarang, apa yang terlintas di otak, segera dituangkan via ketikan, langsung jadi di kompi. Ga usah deh ngerjain makalah, curhat aja mesti di kompi. Jadilah e-diary/buku harian dalam bentuk softcopy. Dan beredarlah potongan-potongan hati itu di internet. Via blog. =]
Serius, kalo saya nih, kalo lagi gudah atau senang dan ingin mengungkapnya dengan kata-kata, yang saya lakukan adalah membuka laptop dan mencari file “MyBlogsS”. Dan menarilah jari-jari saya menyanyikan lantunan hati dan pikiran. Di atas laptop itu. Saya juga sangat yakin, tidak sedikit mahasiswa (baik teman saya maupun calon teman) serupa.
Dan, buku catatan saya hanya ada 1 buah. Isinya macam-macam (saking sayangnya punya banyak buku catatan, orang jarang dipake =D); mulai dari catatan kuliah, rapat-rapat BEM+Kemaha/Kesma+PMB+SMA, catatan PDPT, sampai ‘things to do’ yang mendesak untuk ditulis (biasanya ditulis waktu nunggu bis kuning). Selain itu ada juga catatan-catatan kalo ikut pengajian/seminar/pelatihan, hingga catatan hati yang mendesak saat ga nemu My Luvly Cocom (Compaq Computer) untuk menulisnya, eh, mengetiknya (si cinta kutitip ibu kos waktu mau pulang, biar aman).
Hey teman-teman, kalian bagaimana?
Bekasi, 9 Agustus 2008

Bingung, Apa Sih Enaknya Jadi Raja??

5:05 PM 6 Comments
-khususnya raja yang hanya kepala negara, bukan kepala pemerintahan-
Hidup mewah. Ga perlu repot-repot usaha. Semua serba dilayani. Lantas.. ngapain aja ya?? Tanpa usaha pun kaya raya. Semua kebutuhan terpenuhi. Mau apa pun, langsung tersedia di hadapan. Sekilas, asik kali ya.. ga ada capek, sedih, bingung menghadapi masalah..Yang ada hanya senang, puas terlayani.
–Mungkin juga ada yang berpikir, itu mah tinggal ibadah dan belajar aja..—
BETE. Sebuah kata yang mewakili rasaku. Seminggu ini baru mengalami “simulasi” seperti di atas. Semua dilayanin. Mau minum diambilin. Waktunya makan disamperin. Cuma kebutuhan yang sangat-sangat pribadi aja yang bisa sendiri. Serius, bete banget.
Ketika banyak gerak menjadi hal yang dilarang (ugh!!), tidur menjadi konsekuensi (bukan pilihan, karena keniscayaan).
-jadi ingat sesuatu-
Bukankah banyak gerak (contoh: olahraga) bisa membantu sekresi hormon endorfin yang membawa rasa senang? Lalu kalau diam, dari mana “senang” itu?
–Maaf yah, kurang jelas gagasannya =}—
9 Agustus 2008

Thursday, July 24, 2008

Sahabat, Beri tahu Aku, Apa Artinya Dewasa? (PART II)

10:44 AM 18 Comments
Ini adalah kata-kata dari Bung Ketua sebuah Karang Taruna,
“Dalam Islam dewasa adalah mukallaf yaitu orang yang sudah akil baligh. Tapi secara psikologis dewasa adalah tanggung jawab.”
(0219211xxxx)

Kalau digabungkan, harusnya orang yang sudah aqil baligh memiliki tanggung jawab semua. Ya nggak? Berikutnya dari partner aku yang paling baik,
“Shahabiyah aku pun tak terlalu tahu apa itu dewasa. Namun, subjektifku menyatakan, bahwa yang mampu memadukan kognitif, afektif, dan psikomotoriknya”
(0219863xxxx)

Memadukan 3 potensi manusia. Untuk apa ya,, untuk menjadi manusia seutuhnya kali yaa.. Nah, kalau yang ini adalah kata-kata seorang akhwat shalihah dari MIPA,
“Mmm.. Bagiku dewasa adalah paham peran dan memerankannya dengan baik”
(0219108xxxx)

Peran. Karna tiap-tiap kita memiliki lebih dari sebuah peran. Mainkan itu sebaik-baiknya. Penuh totalitas. Kalau menurut anak Hukum,
“Dewasa itu artinya sudah cakap dalam melakukan perbuatan hukum =) maksudnya sudah cukup umur, mampu membedakan mana yang benar/baik&salah/tidak baik, tidak berada di bawah pengampuan dan mampu bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya.”
(0219217xxxx)

Subhanallah, ada teorinya… Sekarang mari kita simak kata-kata seorang akhwat tangguh yang jadi garda depan dalam memperjuangkan nasib ribuan maba 2008,
“Ketika kita bisa memposisikan diri sesuai dengan kondisinya. Dapat berpikir dengan matang dan dapat me-manage emosi.”
(0219475xxxx)

Ini dia. Manajemen emosi. Anda sudah? Saya masih ble’e nih…
Naaahh,, kalau yang ini, dalam tulisan ini, ia usianya paling muda. Lebih muda dari-ku. Tapi,, baca deh, 
Dewasa itu…
Matang dalam merasa
Cerdas dalam berpikir
Teguh dalam bersikap

Dewasa itu…
Saat kita mampu menangguk hikmah
dalam kondisi berkesukaran serta menjauh dari keluh kesah…

Dewasa itu…
Ibarat pejalan kaki,
Ketika ia jatuh terperosok maka dengan bersegera bangkit berdiri,
 tidak menangis meratapi luka yang menganga,
Melainkan mencari penyembuhnya

Dewasa itu,
Kala seseorang dilimpahkan ujian,
 lalu bertambah-tambahlah keyakinannya
akan pertolongan Sang Robbul Izzati…

Silahkan pilih versi mana yang kakakku suka!
Karena…
Dewasa itu…
Ketika kita mampu memilih
tanpa melibatkan siapapun selain diri sendiri…
Wallahu a’lam
(081539272xxx)

Memaksaku untuk kembali bercermin… Dan pada akhirnya memilih. Salah satunya kah, atau semuanya? Itu juga pilihan.

And now, it’s time to my lovely “teacher of life,
Menurut ana dewasa tu kalo kita benar2 memahami hakikat kita sebagai makhliq Allah, dari sini semua berawal. Kita akan punya pandangan yang jauh, memapu menempatkan sesuatu pada tempatnya, bisa melihat sesuatu dari segala sisi. So, dewasa tu bukan masalah umur tapi masalah iman. Makanya sahabat/sahabiyah pada muda tapi sudah dewasa, mereka tidak pernah ikut training kepribadian kan? Tapi ke-IMANan kepada Allah dan Rasul-Nya yang bikin dewasa
(081908846xxx)
Hiks, hiks,, sangat fundamental. Menyentuh sisi terdalam kalbuku..

Kalau disimpulkan menurut orang-orang hebat ini, dewasa itu mencakup sangat banyak aspek. Karena menjadi dewasa itu tidak mudah. Orang sering bilang, “tua itu pasti, tapi dewasa itu pilihan”
(padahal sih nggak juga, kalau umurnya ga sampai tua?? J hehe..)

Nah, bagaimana menurut anda, mau memilih salah satunya, memilih semuanya, tidak setuju, atau ingin menambahkan??
Dengan hormat saya persilahkan…
Karena setiap masukan dari anda sangatlah berarti J

Sahabat, Beri tahu Aku, Apa Artinya Dewasa? (PART I)

10:42 AM 2 Comments
Dewasa itu…
Bisa ngerti diri sendiri, bisa menempatkan diri dan juga bisa ngerti orang lain dengan apa yang ia miliki” -- (08133150xxxx)
Dengan kata lain, dewasa bisa berarti “mengerti, memahami, bersikap, dan menerima orang lain dan kondisi apa adanya”. Demikian setelah dikonfirmasi. Menurut seorang sahabatku yang sangat tulus,
Dewasa itu punya banyak makna. Setahuku yang gak tau apa2, salah satunya, dewasa itu adalah bagaimana cara kita menyikapi sesuatu/hal apapun dengan bijak..” –(085691999xxx)
Punya sikap, bijaksana. Nah, kalau ini kata sahabatku yang sangat baik dan perhatian padaku sejak zaman baheula,
Dewasa, artinya matang secara akal dan mental, bisa bedain salah atau benar, bertanggung jawab atas pilhan yang diambil, mampu bertindak adil, tau bagaimana memposisikan diri dalam masyarakat, dll. Itu cuma pendapat gue lho. Banyak kemungkinan salahnya(085694630xxx)—
Matang, bisa membedakan, tanggung jawab, memposisikan diri.
Seorang akhwat yang memiliki peran sangat besar membentuk karakterku semenjak di psikologi bilang,
Hmm,, dewasa itu, ketika seseorang sudah punya kemampuan reflective thinking, dan memasuki tahap pemantapan nilai dalam hidupnya” –(085693078xxx)
Bisa melakukan reflective thinking, dan memantapkan nilai-nilai yang ia anut. Yang berikut ini juga punya andil besar dalam masa pembentukan karakterku dulu,
Dewasa bisa mengambil pilihan dalam hidup
(08568648xxx)
So simple. Bahwa hidup adalah pilihan-pilihan. Kalau katanya “mantan partner”ku di SMA dulu, 
Dewasa dalam bahasa Arab adalah aqil baligh yang berarti akalnya telah sampai. Jadi umur tidak bisa dijadikan patokan, bisa saja anak yang baru berumur 15 tahun telah mampu mendayagunakan akalnya untuk mengatasi problem kehidupan, dan yang telah berumur 60 tahun terkadang belum dapat seperti itu. Wallahu a’lam
(08567918xxx)
Mendayagunakan akal, untuk hidup. Wah, mulai sulit nih.. Sekarang mari kita simak kata seseorang yang sangat aku sayang,
Dewasa itu bisa menjalani hidup menjadi lebih baik…
(08158827xxx)
Sama simpel-nya. Tapi komprehensif. Dan memaksa kita untuk belajar berfikir sendiri (me-nyampai-kan akal kita), apa artinya “baik”.
Berikutnya adalah kata-kata dari mahasiswa yang masuk jajaran “paling pinter” di angkatanku,
Dewasa menurutku adalah mampu bertanggung jawab dengan dirinya sendiri, mampu mengendalikan diri, dan mengambil keputusan yang bijak secara mandiri..
(02194122xxx)
Mengendalikan diri. Tidak hanya dari hal di luar diri, tapi juga godaan dari dalam diri sendiri. Kalau kata “penasihat spiritual”ku dan anak-anak Karang Taruna, 
Dewasa itu adalah tidak hanya tau namun juga mengerti dan memahami arti dan tujuan hidup penciptaan kita sebagai manusia. Wallahu a’lam
(08568700xxx)
Filosofis. Tapi eksis. Mengapa kita ada? Untuk apa kita diciptakan? Apa tujuan hidup kita?

Friday, July 11, 2008

Rollies

2:07 PM 0 Comments
Cinta yang tulus di dalam hatiku
T’lah bersemi karena-Mu
Hati yang suram kini tiada lagi
T’lah bersinar karena-Mu

Biarkan hujan membasahi bumi
Atau bulan yang tiada berseri
Namun jangan Kau biarkan cintaku
Yang tulus suci,
Hanya pada-Mu

Semua yang ada pada-Mu membuat diriku tiada berdaya
Hanyalah bagi-Mu, untuk-Mu Tuhanku
Seluruh hidup dan cintaku

Ada yang tau lagu ini?? Sepertinya Gito Rollies (Alm.) membawakannya dengan sepenuh hati. Sedalamnya jiwa. Romantis. Menggetarkan hati dan dengan segera menggenangkan mata ini.

Ah, lagi melo nih
11 Juli 2008

Bercermin tentang Kesyukuran, Kehormatan, dan Kesahajaan…

2:05 PM 5 Comments

Beberapa hari ngurus advokasi biaya kuliah mahasiswa baru, membuatku banyak belajar tentang arti kesyukuran. Kehormatan. Kesahajaan. Konkret bo!

Bersyukur karna Allah memudahkan rizki-ku dan orang tuaku.
Juga bersyukur atas pemberian Allah yang terbaik; orang tua yang jujur dan menjaga kehormatannya

Atas dijauhkannya ketamakan, merasa cukup dan bersyukur atas apa yang dimiliki.

Atas didikan kesahajaan,
Atas pemahaman akan arti penting pendidikan
meski kadang pusing dengan kondisi keuangan, namun selalu yakin bahwa Allah Maha Kaya

Juga yang paling penting, syukur atas nikmat orang tua yang beriman. Yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya. Bahwa Allah akan memudahkan dan mengatur semuanya. So, tenang saja. Masih banyak kok yang lebih membutuhkan daripada kitaaa..

*Coba, masa dengan penghasilan jauh di atas rata-rata (kami pun terbengong-bengong melihat slip gajinya) bayar 5 juta/semester aja pake nangis-nangis segala??? Jangan dikira kita ga pake akal dan hati dalam memutuskan. Cape otak&hati sekaligus tau, dengan pertimbangan tanggungan, konsumtivitas, aset, tralalatrilili… Secara mahasiswa psikologi UI semester 4 aja pasti udah belajar metode observasi dan wawancara… sepatunya aja mahal…tas-nya apa lagi… belum lagi lipstick dan bajunya juga pasti merek mahal, buat kost maunya yang mahal, masa buat sekolah anak maunya yang murah???
Masuk UI harus didorong-dorong (ih, kalo anaknya aja males kuliah, bukan masalah kita doong?!), kalo biaya makan dikurangin, takut anaknya ga makan dengan benar (gimana orang Indonesia umumnyaaa??? Gimana gue, temen-temen guee???)*

Makanya teman, dari jauh Rasul sudah mengingatkan, kalau tentang dunia, jangan bandingkan diri kita dengan orang yang diatas kita…melainkan lihatlah ke bawah. Agar kita bersyukur dan lebih lapang serta bahagia menjalani hidup. Sebaliknya, dalam hal ilmu dan amal, baru harus membandingkan dengan yang di atas kita, biar kita selalu berusaha untuk lebih baik…
Jangan malah terbalik…

Ada
lagi. Seorang ayah menerima keputusan kami dengan sangat lapang dada dan sepenuh keyakinan pada Allah. Walaupun ia tidak memiliki uang itu, ia hanya minta, “Doain aja sama mba ya..” biar dicukupkan rizqinya. Amat yakin dengan doa. Yakin terhadap Allah yang Maha Kaya. Dengan menjaga kehormatan diri dan keluarganya dari meminta yang bukan hak-nya. Meski sebenarnya semua diakomodir.

Ah, sungguh, bukalah mata, telinga, dan hatimu teman, karena hikmah dan ilmu terhampar di sekitar kita. Di mana-mana. Ambillah mereka. Dan kau pun akan kaya
                       Juli 6th, 2008
 

Thursday, July 3, 2008

Sunday, June 29, 2008

Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati, Yakin?

12:20 PM 9 Comments
Bagiku,
Tak selamanya mencegah lebih baik daripada mengobati.

Sebelum kejeblos, memang sebaiknya dicegah, misalnya diberitahu atau diperingatkan, "Hoy, di sana ada lubang!" dsb.

Nah, kalau terlalu sering diingatkan hingga seseorang itu tidak pernah jatuh, dia memang tidak akan jatuh (iya, kalau ada orang yang selalu setia mengingatkan. Kalau tidak?)

Kalau ia tidak pernah jatuh, maka ia tidak akan pernah merasakan jatuh. Rasanya jatuh. Sakitnya jatuh. Bekas jatuh itu. Dan,

ia tidak akan pernah tau,

bagaimana cara untuk bangun dari jatuhnya

Maka,
jangan TERLALU melindungi diri kita sendiri atau seseorang yang sangat kita cintai sekalipun (saudara, keluarga, teman, anak mungkin??) hingga ia tidak pernah terjatuh.
Tak perlu juga SELALU menyelamatkannya dari segala hal yang mengancam
Melainkan didiklah ia untuk mandiri menyelamatkan dirinya sendiri

Sesekali, biarkan ia merasakan semuanya.
Dan biarkan ia menjadi kuat dengan dirinya sendiri

Selain itu,
ga jatuh, ga belajar

"Ya Allah, jadikanlah saudaraku manusia yang bukan hanya bisa berharap, tapi juga mampu berbuat. Janganlah Kau bawa dia ke jalan yang serba mudah, tapi biarkan dia belajar mandiri di tengah badai dan gelombang"
(0852183xxxxx)

Buat adikku,
yang menyimpan mutiara hikmah tak terhingga
syukran ya dik..

Thursday, June 19, 2008

Wednesday, June 18, 2008

Bertiga

10:50 AM 3 Comments
Aku senang bersama 2 orang ini. Berawal dari penyusunan proposal PKM Jas Merah Detektif Cilik 2008, lalu kompetisi Mapres Psikologi UI (tapi nyatanya kami saling mendukung), wacana lomba-lomba penelitian tingkat nasional (yang sejauh ini belum sempat dijalankan karena sibuk), dan pelaksanaan PKM itu sendiri, kami jadi sering bersama-sama. Saat tea- walk di KIAT 2008 kemarin, kami banyak berfoto bertiga. Berpose aneh-aneh atau manis, menyenangkan. Kata-kata yang kami ucapkan saat difoto, “Map..res”, atau “PIMNAAAS!!”, atau, “PIMNAS…WANNA BE”
Hehehehe.. Ada kebanggaan pada diri-diri kami, kesan-kesan positif, dan harapan (masuk PIMNAS dan juara 1 nasional) tersirat dan tersurat dalam kata-kata itu. Menyenangkan. Bersama mahasiswa-mahasiswa terhebat angkatanku di fakultas ini, kuharap, semoga aku tertular kehebatan mereka J
Oh iya 1 lagi. 4 dari 5 Mapres Psikologi UI adalah muslim. Kami bertiga akhwat, yang 1 ikhwan (Mapres Utama). Semuanya sering terlihat aktif di FUSI. Walaupun tidak semuanya pengurus. Jadi kami sering ada di tempat yang sama. Kalau sudah menyebut Rizqi, Mahasiswa Berprestasi Psikologi UI dalam sebuah acara FUSI, biasanya orang-orang langsung mencari mapres yang lainnya, “Wah, kita punya 4 mapres!”
Seorang mapres lagi non-muslim. Tanpa bermaksud diskriminatif, tapi pastinya ia tidak pernah ikut acara FUSI. Udah gitu angkatannya beda sendiri. Kami baru bertemu dan berkenalan dengannya di hari-H presentasi karya tulis kami. Melihat kami sering berkomunikasi ber-4, ia bertanya, “Kalian emang sebelumnya udah sering bareng ya?”
Senangnya, bersama-sama mereka.
Bekasi, 15 Juni 2008

Kutemukan Formula Saat Kulitku Tersentuh

10:49 AM 0 Comments
Cara terbaik mengusir dingin (dalam kisaran iklim tropis) dari tubuh adalah dengan menciptakan panas.
Maka jika anda menemukan tubuh anda menggigil dan mendefinisikan diri anda mengalami, kedinginan, maka bergeraklah! Ciptakan panas dari dan untuk tubuh anda sendiri. Jangan manja! J
Ketika anda berada di sebuah villa di puncak, Bandung, atau tempat-tempat dingin lainnya, atau hanya terbangun di pagi hari yang basah karena hujan dan anda merasa kedinginan, maka anda melakukan kesalahan besar bila anda menarik selimut menutupi kulit anda dari dinginnya udara, dengan tetap berdiam di atas kasur dan “menikmati” kedinginan yang mengigit itu.
Kemudian, lebih salah lagi bila anda tidak mandi berhari-hari dengan alasan, “Airnya dingin banget!”
Bangunlah. Bergerak. Ciptakan panas. Lalu mandi lah. Karena mandi di tempat dingin yang kita belum terbiasa adalah cara yang sangat efektif untuk BERADAPTASI dengan cuaca setempat. Air yang begitu dingin ketika menyentuh kulit anda, percaya atau tidak, akan melindungi kulit anda selanjutnya dari serangan rasa dingin yang masih akan dirasakan oleh orang lain yang menghindari mandi karena takut kedinginan.
Ketika anda  mengigil saat air yang dingin itu menyentuh kulit anda, jangan merutuki dinginnya air itu. Melainkan, bersyukurlah. Tahukah anda, bahwa mengigil saat kedinginan membantu anda agar tetap hidup?
Gemetar, adalah cara alami tubuh kita untuk tetap menghasilkan panas saat kita kedinginan. Agar kita tidak mati beku, tubuh melakukan defense mechanism terhadap dingin tersebut dengan tetap bergerak dan menghasilkan panas. Itulah yang kita sebut sebagai, menggigil.
Anda, manusia, khalifah Allah di muka bumi. Jangan mau kalah hanya dengan udara dingin.

15 Juni 2008
Terinspirasi dari KIAT 2008
(masih) terlalu indah untuk dilupakan
Lembang, 13-14 Juni 2008

Thursday, June 12, 2008

Orang Pagi, Orang Malam.. (PART 1)

12:17 PM 3 Comments
Perbincangan iseng di student centre..ngomongin tipe-tipe manusia yang muncul waktu raker..
 “Si R tuh, orang malam sejati. Jam 11, ampe jam 4 tu, aktif banget dia. Kalo si T mah orang subuh. Orang-orang pada tidur lagi abis subuh, dia udah ngerjain tugas, depan laptop..”
Iseng aku nimbrung..
“Gue juga orang subuh. Makanya bete banget kalo liat orang masih terlelap waktu matahari udah bangun..”
“Waaahh, gua banget tuh...” kata si W juga ikut-ikutan..
Kenapa ESQ hanya mengenal “Selamat PAGI” meskipun matahari tlah terbenam dan hari mulai malam?
Bagi sebagian orang, pagi selalu identik dengan kehidupan. Semangat. Kebangkitan. Kesegaran. Aktivitas. Inspirasi. Keberkahan.
Rasulullah saw yang mulia juga bilang, “Laksanakanlah shalat subuh, karena shalat subuh itu disaksikan oleh malaikat”. Saat pagi, malaikat turun ke bumi, dan mendoakan orang-orang yang bangun dan menghadap Rabb-nya dalam shalat. Shalat rawatib qabla subuh (yang cuma 2 rakaat) juga memiliki keutamaan yang jauh lebih besar dari shalat sunnah lainnya. Sebesar langit dan bumi sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat.
Kalau boleh membandingkan, aku lebih suka orang-orang yang hidup di waktu pagi. Mereka memiliki sesuatu –semacam semangat dan vitalitas—yang tidak dimiliki orang lain yang masih terlelap paginya.
Bagiku mereka meraih banyak kemenangan:
1. kemenangan dari hawa nafsu yang mendorong tubuh selalu mendekati kasur dan mata agar mengikuti gravitasi bumi
2. memenangkan keberkahan; karena tidak ada waktu lain yang sesegar, sesehat, seberkah, dan semulia pagi.
3. kemenangan waktu karena mereka sudah bangun saat yang lain tidur, bersiap ketika yang lain masih bermalas-malas, berjalan ketika yang lain baru bangkit, dan berlari ketika yang lain baru mulai berjalan (seperti kata Tami dalam blog-nya. Trimakasih ya dik..)
--bersambung--

Tuesday, June 10, 2008

Untuk ummat Islam, WASPADALAH!

11:45 AM 7 Comments

Saudaraku, kalian sedang diadu domba. Eh, kita maksudnya. Ya, kita sedang dipecah-belah oleh pihak musuh agar kita tidak bersatu dan merasakan nikmatnya kemenangan.
WASPADALAH !!

*Pada ngerti kan maksudnya apaan?
ada Ahmadiyah, FPI, Gus Dur dan para pengikutnya...

Ada yg bilang, ramai2 FPI sekarang ini adalah untuk mengalihkan perhatian masyarakat pada kenaikan harga BBM dan tidak lagi mendemo pemerintah
Tapi ada juga yang berpikir,
Ada yang lebih di balik itu semua..
Reli2 panjang ini ditujukan untuk memecah belah ummat Islam biar tidak bersatu, khususnya menyambut pilpres 2009

TANYA KENAPA
*yang ini juga jawabannya udah jelas khan??