Mejikuhibiniu
farahzu
8:09 AM
10 Comments
Bukan, ini bukan sekedar ‘tentang pelangi’.
“Terkadang Allah hilangkan sekejap matahari, lalu Dia turunkan hujan badai. Lelah kita menghadapi getirnya hidup, rupanya Dia ingin menghadiahkan kita pelangi…” (085691xxxxxx)
Jangan bersedih karena ujian yang menimpa. Karena semakin gelap malam berarti semakin dekat waktu fajar (ini namanya metafor yang menjelaskan metafora). Demikian kira-kira maksudnya.
“ ……. Eh, eh, Far, ada pelangi, liat deh” (085215xxxxxx)
Padahal saya sudah bilang sedang ada di rumah –yang berbeda kota pastinya dengan tempat teman saya itu melihat pelanginya. Tapi dia masih saja menunjukkan “arah MIPA ke FKM” langit tempat pelangi itu berada. Padahal di kota saya tidak hujan sama sekali, jadiii,,, ya tidak ada pelangi pastinya…
“Farah tau ga? Masa tadi gw nelp tmn truz dy nyeritain ttg pelangi yg td… Trus skrg gw lg ngajar eh murid gw ngomongin pelangi yg td jg.. Kasian ya yg td ga liat,. Hehe,,” (085215xxxxxx). Trus abis itu dia demam (apa hubungannya??).
Seorang adik yang sangat melankolik ingin menangis ketika melihat pelangi di suatu sore, saat hari pertama penghitungan suara PEMIRA UI. Seorang teman yang kami anggap ‘kaku’ karna tak pernah melibatkan perasaan (logika mulu maksudnya) pun ingin segera melihatnya ketika dikabari ada pelangi. Dan pertanyaannya, “Di mana?” mendapatkan jawaban, “Ya di langitlaahh…”. Tak hanya yang melo dan yang kaku, bahkan yang ca’ur sekalipun terpesona oleh pelangi sore kemarin (maaf ya, temanku yang ngirim sms kemarin… hehe,,).
Mungkinkah karna filosofi kemunculannya? Setelah mendung, hujan deras, seringkali dengan guntur dan kilat yang dapat membawa manusia pada taubat (get it?), angin kencang yang menggigit kulit bahkan tulang,, lalu ia muncul dengan indahnya bagaikan sebuah gairah baru untuk berbenah? Mungkin. Tapi kalau saya sendiri sih, tanpa perlu berpikir kejadian-kejadian apa yang mendahuluinya, secara langsung dan spontan saya akan langsung terpana oleh pelangi. Seringkali saya berhenti apabila sedang berjalan untuk menikmati indahnya. Mungkin karna saya termasuk yang melo kali ya?? Haha, tapi ga sampe pengen nangis kok… melo-melo kan saya penganut aliran Gahar. Hehe…
Jadi, karna apa?
Bekasi, 15 Maret 2009


