Follow Us @farahzu

Tuesday, August 16, 2011

tentang foto

3:47 PM 12 Comments
Kita, manusia modern, sangat diuntungkan dengan adanya teknologi yang menghasilkan ‘foto’. Mulai dari hitam putih sampai foto profesional.
 Bahwa foto bisa mengabadikan sebuah suasana, bahkan yang kelak menyejarah. Awalnya seperti itu. Semakin ke sini, makin banyak orang yang narsis karena suka sekali mengambil foto dirinya. Sebenarnya untuk yang ini saya agak bingung. Padahal orangnya itu-tu aja, mukanya juga begitu-begitu saja, dan tidak dalam suasana khusus. Tapi dipotret sebegitu sering dan banyaknya. Ckckckck.. ah, bicara begini bukan berarti saya tidak pernah ya.. hehe..
 Nah. Akhir-akhir ini saya seriiiing sekali menemukan foto wajah yang tidak sesuai dengan aslinya. Kebanyakan sih, bagusan fotonya *ups. Terutama pas foto yang sering dipakai orang waktu melamar pekerjaan. Owh, mungkin sekarang semakin banyak editing dalam pencetakan foto. Maka dari foto, saya tidak bisa yakin dengan penampilan seseorang. Jangan langsung percaya!
 Uhm... kecuali sih. Kecuali foto seseorang yang diambil spontan (bukan dengan ekspresi tertentu yang diatur), dalam sebuah suasana, di mana foto tersebut tidak hanya berfokus pada seseorang, melainkan juga suasananya. Gampangnya, bukan foto diri.
 CMIIW

*kerjaan menjelang resign

Monday, July 11, 2011

Ini - Itu, Keterbatasan Kata Kita

10:17 AM 6 Comments
‘Kalau yang itu, sudah di-ini-in?’
Entah mungkin baru akhir-akhir ini aku menyadari tentang begitu banyaknya orang yang memakai kata ‘ini’ dan ‘itu’ untuk menggantikan sebuah kata yang dimaksudnya. Ininya, apa tuh namanya, diituin.. haha.. suka lucu dengernya.
Untuk pertanyaan seperti di atas, aku jawab saja, ‘iya, itunya sudah di-ini-in’. Kalau sudah begitu, baru deh lawan bicara saya sadar dan menertawakan pertanyaannya sendiri.
Dulu waktu masih kuliah semester 1 (inget banget masih diospek pake jaket kuning tiap hari), di mata kuliah filsafat umum kalau tidak salah, saya disadarkan oleh dosen saya. Waktu itu kami sedang berdiskusi di kelas. Ketika saya merasa kesulitan menemukan kata-kata yang pas untuk menjelaskan maksud saya, saya mengatakan, “Ya gitu deh...”. Dosen saya bertanya, “Gitu deh-nya tuh apa?”, saya nyengir dan kembali menjawab, “Ya gitu deh Mas”, lalu melanjutkan dalam hati, ‘Masak ga ngerti sih?’ Tapi dosen saya itu bertanya yang sama lagi, “Ya gitu deh tuh apa maksudnya?”. Baru deh saya mulai merangkai kembali kata-kata, dan merampungkan penjelasan dengan kata-kata yang seharusnya. Berhasil! :D
Kata senior saya, “Iya, karena persepsi orang belum tentu sama lho...” Saya, “Oooo....” Iya juga sih... padahal saya biasa menggunakan ‘Ya gitu deh’ kalau menjelaskan sejak dulu. Berpikir semua orang paham maksud saya sebelum saya jelaskan. *bagaimana bisa??!
Banyak yang beralasan, lawan bicara kita kan sudah paham maksud kita. Masa sih? Belum tentu lho. Walaupun kita berbicara konteks yang sama, bisa saja persepsi kita dengan lawan bicara kita berbeda.
Terang saja, latar belakang kita berbeda, pengalaman-pengalaman kita berbeda, buku-buku dan berita yang kita baca berbeda, sifat kita berbeda, dan cara pandang kita terhadap sesuatu juga berbeda-beda. Memakai asumsi lawan bicara kita paham, hhmm,,, ya,, mungkin bisa tepat, tapi sangat mungkin juga meleset. Karena, salah persepsi.
Kedua (mana pertamanya?), kebiasaan menyederhanakan kata-kata hanya dalam kata ‘ini’ dan kata ‘itu’, dapat membuat kosa kata yang kita miliki jadi berkurang keaktifannya lho karena jarang digunakan... Kalau ditambah dengan serbuan kosa kata asing dan bahasa gaul, bisa tambah parah lah...
*Semangat berbahasa yang benar!*

Friday, July 8, 2011

Kursi Lipat

2:24 PM 18 Comments
*Curhat anker (anak kereta)*

Bete deh sama para pengguna kursi lipat di KRL. Baik express (waktu masih ada), commuter, ekonomi...
Sungguh bikin sempit, karena jelas-jelas mengurangi space untuk penumpang yang berdiri. Menghalangi orang lewat juga. Ckckckck.. pernah di suatu pagi, saya naik KRL di gerbong khusus wanita. Tapi di samping dan belakang saya ada laki-laki, sekitar 7 orang jumlahnya. 
Wajar ketika petugas kereta mempersilahkan bapak-bapak itu masuk dulu ke gerbong wanita karena terbatasnya waktu, dengan asumsi seharusnya mereka bisa bergeser ke gerbong depan walaupun kereta sudah jalan dan pintu sudah tertutup. Tapi tidak. Mereka tetap di gerbong itu sampai perjalanan hampir usai karena tidak bisa lewat. Bukan karena terlalu penuh orangnya. Melainkan karena banyak sekali pengguna kursi lipat di situ.
Penggunanya, tidak semua sudah tua. Bahkan seumur dengan saya atau lebih muda dari saya, yang notabene masih kuat berdiri *pegal-pegal dikit gapapa lah, toh masih muda.
Selain itu, kalaupun penggunanya orang-orang yang telah berumur, ini kan menunjukkan betapa empati orang-orang di sini sudah sangat menipis. Tidak peduli ada orang tua di depannya, orang yang sakit sampai pucat, bahkan ibu hamil, masih ada juga yang membiarkannya berdiri sambil pura-pura tidur (kecuali kalau sudah ditegur petugas). Masalahnya sekarang jumlah ibu hamil yang naik kereta jauh lebih banyak dari bangku prioritas yang tersedia di setiap gerbong. Hhhff...
Seorang bumil pernah bercerita pada saya. Dia dibiarkan berdiri oleh bapak-bapak di depannya yang duduk. Dia hanya mengelus perutnya dan berbisik pada anaknya, “Kuat ya Dek”. Sampai akhirnya datang lah petugas memeriksa tiket. Mendapati ibu itu berdiri, ia menegur bapak-bapak tadi. Barulah si bapak mempersilahkan ibu itu duduk. Si ibu yang gengsi, bilang, “Ga papa, silahkan Bapak saja”, sambil meneruskan dalam hati, “mungkin Bapak yang pengapuran..”
Yang saya sayangkan pada ibu itu, ‘kenapa cuma dalam hati Buuuuu....?!’ -___________-‘’
Sebenarnya sudah dilarang, tapi untuk tingkat kesadaran yang masih sangat tidak merata, gambar larangan di dinding-dinding gerbong dan suara petugas dari speaker kereta, a tidak mempan. Bahkan semakin menjamur. 
Kesempatan sering mampir pada saya untuk turut menikmati kursi lipat itu. Berkali-kali disarankan untuk memakai saja kursi yang dibawa seseorang, karena orang itu sudah dapat duduk. Katanya, ‘sayang kalau ga dipake, udah dibawa’ =__=’’. Tadi pagi saja, sudah ada 2 orang yang menawarkannya pada saya. Alhamdulillah masih kuat dan sedang sehat untuk berdiri. Malu juga sama diri.
Ya Allaah.. semoga aku istiqamah.

Friday, July 1, 2011

Manusia... Suka Belibet... -_-‘

11:49 AM 10 Comments
Putri, “Ibund, pakai AC kan supaya dingin. Sudah dingin, kenapa mesti pakai selimut tebal lagi? Kenapa tidak dimatikan saja AC-nya?”
Ibund, nyengir...
Tibalah saatnya rezeki datang untuk Putri, kamarnya juga dipasang AC. Tak luput ia sertakan bed cover bunga-bunga, tebal dan hangat. Supaya tak dingin dipijak, sebagian lantai dilengkapinya dengan karpet bongkar-pasang warna-warni.
Ibund, “Puut, karpetmu tuh bikin repot deh (kalo lagi disapu/dipel). Ga usah pake karpet itu lah..”
Putri, “Kalau gak pake dingin, Ibund..”
Ibund, “Ya gak usah pake AC kalo gitu”
Putri, “..............................”, lalu seperti Ibundnya dulu, nyengir. :D
Sebenarnya Putri menemukan sebuah kenikmatan baru dari semua yang dia lakukan itu: Justru nikmatnya ada pada hangat dalam kedinginan sekitarnya.
Seperti kita, yang terlebih merasakan nikmatnya hembusan angin dalam kegerahan dan keringat.
Nikmatnya makan juga saat lapar, terlebih saat sangat lapar, daripada saat kita kenyang.
Pun baru merasakan nikmatnya kelapangan, setelah dilanda kesempitan.
Baru mensyukuri sehat, setelah merasakan sakit. *telaaaattt!
Seperti pelangi ya Putri, datangnya setelah hujan...
*Putri, “Tapi hujan dan pelangi sama-sama menyenangkan kok...”
Allah memang paling tau..
Makanya kita tidak boleh sok tau.. Apalagi sampai menyalahkan takdir Allah. Atau merutuki nasib.
Termasuk juga berputus asa. Tidak boleh!
“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Al-Baqarah: 216, lagi-lagi ayat ini... co cwiitt..

*Putri, “Dasar ya manusia, suka belibet deh.” >.<

Thursday, June 16, 2011

Siapa suruh datang Jakarta *tulisan iseng

1:12 PM 4 Comments
Katanya Jakarta itu padat, jadi panas, semrawut, ga tahan sama macetnya, banjir pula, belum lagi polusi, ah, banyak lah keluhan orang-orang tentang Jakarta. Bahkan kata orang Jakartanya sendiri. Bahkan kata pendatangnya sendiri.

Tapi coba tanyakan, bukan pada penduduk asli (udah jelas soalnyah), melainkan para pendatang itu. Bertahun-tahun terjebak dalam rungsingnya kota ini, kenapa tidak juga mereka mau berpindah, atau kembali ke daerah asalnya?

Beberapa orang yang saya tanyakan, pendatang juga, merantau ke Jakarta bukan karena ikut orang tua, tapi merantau sendiri. Beberapa orang itu, meski ikut mengeluhkan seperti apa Jakarta, tetap saja, tidak mau pindah dari kota ini, maupun kembali ke daerah asalnya.

Atau juga, kebanyakan mahasiswa dari daerah yang sekolah di Jakarta dan sekitarnya, perkiraan kasar saja, berapa banyak yang memilih untuk kembali ke daerah asalnya? Katakanlah teman-teman dari daerah yang kuliah di Depok atau Bogor, setelah lulus, kebanyakan akan mencari kerja di Jakarta. *sama sekali tidak ingin menyindir atau memberi penilaian yah teman-teman...

Sebenarnya kenapa sih? Saya saja yang hanya numpang menghabiskan waktu beberapa jam sehari di kota ini, sangat enggan keluar menjumpai matahari di siang hari. Datang pagi-pagi, pulang senja atau lepas maghrib. Makan siang juga di dalam kantor *biar ga tambah item juga. Hehe.. Iya, panas. Debu. *lenjeh banget yee..

Tapi orang-orang yang saya tanyakan, apa mereka bilang?

‘di daerah asalku susah aksesnya’
‘udah beda banget sama masyarakat di tempat asal, terutama pendidikan dan lingkup pergaulannya’
‘aku udah cinta sama Jakarta’
...dan sebagainya...

Harusnya kalo gitu, jangan ngeluh ya?
Siapa suruh datang Jakarta..? Tidak ada.. Keputusan sendiri. Meski pada akhirnya menemukan banyak ketidakpuasan (juga kenyataan tidak semua pendatang sukses),, orang-orang tetap enggan meninggalkan kota ini.

Uhhmmm...
Yaaa.. orang Jakarta, terutama karena di ibu kota, cepat sekali perubahannya. Lebih luas pergaulannya dari hari ke hari. Makin banyak juga belajarnya.

Uuhhhmmm... kira-kira kalau ibu kota dipindahkan, ke Kalimantan, dan berkembang pesat misalnya, masih ga ya, orang-orang cinta banget sama Jakarta?

*iseeeeennggg doang koookk... ^_^v

Monday, June 13, 2011

(Jangan) ‘Salahkan’ Setan

1:20 PM 9 Comments

Coba ingat-ingat, banyakkah di antara kita yang pernah mengucap, ‘duh, males mulu nih, banyak setannya kali’, atau, ‘si**an nih setan, ketiduran lagi kan gw’, atau kata-kata lain yang ‘menyalahkan’ setan dalam setiap kemalasan dan kelalaian kita?

Hihi, kasian juga ya setan dijadikan kambing hitam atau biang kerok terus-terusan, padahal atas kelalaian diri kita sendiri. Memang sih, setan akan menggunakan segala daya dan upayanya untuk menggoda anak cucu Adam dan melalaikannya dari mengingat Allah, lantas melupakan kewajiban, lalu berbuat maksiat deh.

Memang benar begitulah setan, yang kegigihannya dalam menggoda manusia seringkali menyindir kegigihan kita yang lesu dalam berbuat dan mengajak manusia pada kebaikan. Bahkan berani-beraninya dia bersumpah pada Rabb untuk senantiasa merekrut pengikut sebanyak-banyaknya, dari zaman Nabi Adam as hingga akhir waktu dunia ini. Memang benar juga, mereka tidak mati sebelum kiamat seperti manusia, maka jumlah mereka terus-menerus bertambah berkali-kali lipat, sehingga tidak akan kekurangan sumber daya untuk mengeroyok manusia.

Benar kawan, benar sekali. Tapi satu hal: setan tidak bisa memaksa. Mereka hanya bisa menggoda kita, dengan rayuan paling manis, paling gombal, tapi tidak bisa memaksa kita untuk menuruti keinginannya. Soal akhirnya kita tergoda, salah sendiri... itu pilihan.

Kedua, dalam surah An-Naas Allah sendiri telah menyebutkan, bahwa setan itu ada dari golongan jin dan manusia. Ini yang seringkali menjadi jawaban dari pertanyaan, ‘di bulan Ramadhan kan setan-setan dibelenggu, tapi kenapa masih banyak godaan?’. Ialah karena, mungkin saja setan itu sudah menjelma dalam sifat-sifat dan kebiasaan buruk kita, manusia.. jadi tidak perlu lagi setan dari golongan jin untuk menggoda, karena... *terusin sendiri yah. Ga tega ngetiknya. Hehe..

Oleh karena itu kawan, yang bisa memutuskan ikut godaan setan atau melawan adalah diri kita sendiri. Kalau malas, salahkan diri sendiri. Kalau terus termakan bujukan setan, salahkan diri sendiri. Karena seringkali musuh terberat kita hanyalah diri kita sendiri. *seringkali ya, tidak selalu, karena jihad yang utama tetap saja melawan musuh Allah, bukan hawa nafsu.

Kalau terus menyalahkan setan, kita bisa terjebak dalam kepribadian yang tidak sehat. Sikap menyalahkan setan (dan hal lain di luar diri) akan menetap jadi kebiasaan buruk: mencari kambing hitam atas kesalahan kita.

Jelas saja, kalau kita telah menyadari (dan mengakui) yang salah adalah kita, kita bisa segera memperbaikinya (sekali lagi, kalau mau). Tapi kalau yang salah pihak lain, kita tidak punya kuasa untuk mengubahnya kan?

*soal setan memang banyak dosa dan pasti masuk neraka, itu urusan dia lah.. urus saja urusan kita sendiri, bagaimana agar tidak mudah tergoda oleh mereka.  

jangan bertuhan pada dunia

9:48 AM 8 Comments
*note: ini bukan tentang kantor ya..

Kemarin, ada yang cukup membuat lututku lemas hingga malam. Menyaksikan sendiri, betapa dunia telah mampu memperdayakan manusia-manusia yang lalai dari iman.  

Berteriak, mengamuk, mengancam. Dalam raungnya aku dengar dia berkata,
‘saya sengsara, uang saya di sini, coba bayangin kalau kamu jadi saya! ‘

Entah ya, mendengar itu saya langsung menjawab dalam hati (karena orang itu tidak bicara pada saya),
‘kalau saya jadi kamu mah ga gitu-gitu amat kali ‘,
karena alhamdulillaah, uang bukan tuhan saya.

Pembicaraan dengan senior juga akhirnya menyimpulkan, begitu tuh, orang yang ‘cinta dunia banget’. Seakan-akan uang dan dunia itu segalanya, sampai ingin bunuh diri, padahal na’udzubillah, sudah menuhankan dunia, mati bunuh diri pula... sekali lagi, na’udzubillaahi min dzalik..


Allah berfirman,
“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, ....” (QS: 28: 77)

Nah, yang seharusnya dikejar itu akhirat, dunia cuma sekedar ‘jangan lupa’. Jangan terbalik. Na’udzubillaah..

“Rasulullah SAW melewati pasar sementara orang-orang ada di sekitar beliau. Beliau melintasi bangkai seekor anak kambing yang kecil terputus telinganya (cacat).
Beliau memegang telinga bangkai tersebut seraya berkata: “Siapa di antara kalian yang suka memiliki anak kambing ini dengan membayar seharga satu dirham?”
Mereka menjawab, “Kami tidak ingin memilikinya dengan harga semurah apapun. Apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?”
Rasulullah SAW kemudian berkata, “Apakah kalian suka bangkai anak kambing ini menjadi milik kalian (gratis)?”
“Demi Allah, seandainya pun anak kambing ini masih hidup, tetaplah ada cacat. Apalagi ia telah menjadi seonggok bangkai,” jawab mereka.
Beliau pun bersabda setelahnya, “Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada hinanya bangkai ini bagi kalian.” (HR. Muslim)”

Sumber hadits dari sini

Tuesday, May 3, 2011

Cerita Guru Ngaji

5:04 PM 10 Comments
       Seorang guru ngaji, perempuan, masih muda, masih kuliah. Sabar sekali menuruti keinginan kami yang suka gonti-ganti jadwal ngaji. Sabar pula dengan nyengir khasnya kalau kami terlalu banyak bercanda saat belajar. Kadang bahkan ikut menimpali. 
 Dalam sebuah pertemuan, ia menyampaikan maksudnya untuk memundurkan jadwal mengaji kami pekan berikutnya karena ia sedang menghadapi UTS. Tidak ada masalah. 
 Pekan depannya, aku baru memberi kabar kalau tampaknya jadwal kami (di tengah minggu) tidak bisa dimundurkan, karena pada hari yang beliau minta, ada rencana kami akan pergi beramai-ramai untuk menjenguk teman yang sakit. 
 Tak berapa lama, ia mengabarkan, “oke gapapa, aku berangkat sekarang ya, kata ummi (ibunya) ujian besok gampang, insya Allah ada berkahnya dari mengajarkan Al-Quran”...

*subhanallaah...
Insya Allaah ya kaaak... 

"Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS: 9: 41)

Friday, April 29, 2011

Tentang dulu dan sekarang

4:29 PM 7 Comments
    Hasan Al-Banna pernah mengatakan, ‘kenyataan hari ini adalah cita-cita hari kemarin’. Oleh karenanya, apa yang kita cita-cita dan impikan hari ini, sangat boleh jadi adalah kenyataan kita di masa mendatang. Beberapa saja yang ingin aku tulis di sini. Entah, semoga bisa diambil sebuah garis merah yang mengandung hikmah dan bermanfaat. Kalau tidak, tak apa, seperti biasa lah, jadi dokumentasi saja buat anak cucu :p
 Seperti anak-anak pada umumnya, aku suka melakukan role play, bermain peran. Seolah-olah berperan sebagai seseorang dengan profesi atau status tertentu. Nah, dulu aku suka main jadi sekretaris. Yang lekat dalam pikiran kanak-kanakku saat itu –dan mungkin juga dalam pikiran masyarakat kini— sekretaris itu identik dengan mencatat. Aku suka nulis, nyatet-nyatet apa saja. Walaupun setelah besar, aku ga mau tuh yang namanya jadi sekretaris. Tau kenapa? Karena kupikir sekretaris itu disuruh-suruh mulu sama orang (baca: bos).
 Tapi. Apa pekerjaan utamaku sekarang? Tidak lain tidak bukan: sekpri. Sekretaris. 
 Lalu, aku ingat, beranjak kelas 6 SD, ayahku memberi sebuah buku agenda bersampul kulit warna merah marun. Dalam pikiranku dulu, keren sekali. Apalagi dibandingkan dengan teman-teman yang belinya buku orgi (kurasa awalnya organizer, tapi disingkat hingga hanya dibaca ‘orji’), berwarna-warni dengan gambar meriah dan lucu-lucu. Menurutku, punyaku lebih keren dan jauh lebih menampakkan kewibawaannya. Lebih dewasa. Haha.. bocah. Nah. Tau apa yang kulakukan dengan agenda bersampul kulit itu?
 Aku bermain jual-beli saham. Dengan anteng di samping meja telfon, agenda dan pulpen di tangan. Aku bahkan ingat saat ayahku bertanya, “Sahamnya berapa persen, De?” aku cuma bisa bingung, dan menjawab, “100%”, lalu melanjutkan, “Emang saham ada persen-persenannya ya Yah?” Beliau nyengir. 
 Sekarang, kau tau kawan? Aku melakukannya sungguhan. Jual beli saham. Bukan milikku tentunya. Milik bosku. Haha..
 Langsung lompat saat SMA. Aku sempat bingung saat akan memilih jurusan. Bukan karena suka atau bisa IPA dan IPS, justru sebaliknya, aku tidak bisa keduanya T_T. Memang aku masuk IPA, tapi aku cuma suka matematika. Hehe.. Tapi akhirnya aku masuk IPA karena temanku bilang, “Gue lebih kasian ngeliat muka lo waktu belajar ekonomi, Far, dibanding waktu lo belajar fisika”. *ah, benarkah itu?? Jadi senaaaang...
 Tapi memang, aku sungguh-sungguh tidak mengerti kalau harus berhubungan dengan hal-hal berbau ekonomi. Menonton berita pun, langsung kuganti kalau presenter mulai membacakan berita ekonomi. Saham. Bursa. Harga minyak. Inflasi. La,la,la,la..Apalah itu. 
 Dan sekarang? Taukah, Allah menjebakku dengan ‘sangat indah’ untuk mau tidak mau mempelajari sedikit demi sedikit hal itu: aku bekerja di sebuah perusahaan jasa keuangan syariah. Jadilah aku terbengong-bengong dan berekspresi miris saat ikut internal meeting pertama. Bayangkan saja, dari 3 kalimat, aku hanya bisa mengerti kata-kata sebagai berikut: dan, lalu, tidak, naik, turun. Itu saja. Sisanya benar-benar asing. Terima kasih.
  Padahal dulu, bukan secara sadar aku memilih role play jadi sekretaris, *lebih tepatnya hanya senang mencatat apa saja, tapi dibilang orang sebagai sekretaris. Bukan sadar juga aku terasosiasi dengan jual beli saham ketika mendapat agenda kulit merah marun. Bukan sadar pula aku tidak menyukai hal-hal yang berhubungan dengan ekonomi. Kupikir itu otomatis saja. Tapi ternyata beginilah garis takdir ^_^ 
*paling tidak sampai detik aku menuliskan ini. Karena jujur, aku punya cita-cita yang tidak terkait sama sekali dengan ini. Mohon doanya... ^_^v 

ahsan

4:12 PM 1 Comments
Ditakdirkan untuk bertemu dengan seseorang yang memberi beberapa inspirasi pagi ini. Beliau bercerita tentang kegundahan hatinya mengenai “ruang kami”. Terlalu banyak yang seharusnya, terlalu banyak yang sebaiknya. Hingga akhirnya ia pun keluar secara ruh dari ruang itu. Namun jasadnya tetap bekerja, di ruang itu, karena komitmen dan tanggung jawab.
 Lalu ia membagi hikmah dari gurunya,
“ruh itu, akan berkumpul dengan sesamanya. Ruh yang baik akan berkumpul dengan ruh-ruh yang baik pula. Demikian pula ruh yang tidak baik, akan berkumpul dengan sesamanya. Itu naluriah.”
 ***
Seperti kita melempar batu ke danau, berapa sih besar lingkaran pertama yang disebabkannya? Kecil kan?
Tapi coba lihat sepersekian detik setelah itu. Akan ada lingkaran-lingkaran yang lebih besar setelahnya. Semakin besar, semakin besar… seperti itulah amal shalih. Kebajikan-kebajikan yang kita lakukan, mungkin kecil saja. Tapi kita sadari atau tidak, kita ingat-ingat atau lupakan, kebajikan kecil itu akan merambat pada kebajikan-kebajikan yang lain, dan dampaknya akan terus membesar dan meluas.
 Sambil mengingatkan diri saya sendiri, mari lakukan kebaikan, apa saja.. jangan menunda walaupun sedikit, kecil, dan tampak tidak berarti. Karena kita tidak tau apa yang akan terjadi nanti. Karena kita tidak pernah tau, berapa sisa waktu yang kita punya untuk melakukan yang kita tunda.


Sunday, April 24, 2011

Agar bisa melapangkan hati; Harus pintar-pintar memilih

9:16 AM 8 Comments
Agar bisa melapangkan hati; Harus pintar-pintar memilih
Emangnya bajuuuu?? Hehe.. bukan, ini tentang keterbatasan kita sebagai manusia, kawan. Bahwa kapasitas memori, pikiran, dan energi setiap kita terbatas, sepakat? Namanya juga makhluq dhaif.. makhluk lemah. Mungkin Itulah salah satu hikmah selective attention yang dilakukan oleh panca indera kita. Hanya menginderai, hanya meneruskan informasi tertentu ke otak. Yang? Tentu saja informasi / stimulasi / rangsangan yang sekiranya penting untuk kita olah lebih lanjut.
Mungkin keterbatasan itu pula yang membuat Allah menggilirkan waktu untuk kita, malam dan siang, waktu istirahat dan waktu bekerja,

‘dan Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan, dan Kami menjadikan tidurmu untuk istirahat,
dan kami menjadikan malam sebagai pakaian, dan
Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan’ (QS:78:8-11)

Alhamdulillah Allah jadikan kita tinggal dengan permai di bumi, yang dapat merasakan pergantian malam dan siang itu. Bukan seperti planet namec yang tidak pernah mengalami malam kecuali sekali, yaitu saat ketujuh bola naga berhasil terkumpul untuk mengabulkan permintaan.
*Kenapa jadi OOT gini? Maklum sudah lama ga ngeblog ^^v
Nnaaaaaahhhh kawaaann…sekali lagi, kita punya banyak keterbatasan. Maka, atas ruang yang sedikit itu, manfaatkanlah dengan baik.
Masing-masing kita punya urusan dan masalahnya masing-masing. Bukan bermaksud egois, melainkan cobalah untuk tidak banyak mengambil pusing tentang hal-hal yang tidak perlu. Misal, seorang kawan (atau bos, atau siapa) tiba-tiba datang dengan ekspresi yang kita paham kalau dia sedang tidak enak hati. Lalu tanpa kita berbuat salah, dia ketus pula pada kita. Kalau kita tidak salah, ya sudah lah, katakan pada diri, marah dan ketusnya bukan untuk kita. Mungkin bete kalo kita ga salah apa-apa tapi kena imbasnya. Apalagi kalau kita juga lagi bete. Kalau lagi kayak gini, saya suka melet sama monitor kompi, sambil ngomong sendiri, “bukan urusan gue”.. haha.. tapi alhamdulillah hati tetap lapang dan tidak ikut-ikutan bete.
Di atas itu hanya contoh kecil. Tapi kalau sering kita ambil pusing, kita akan banyak sakit hati. Akhirnya, capek sendiri. Belum tentu orang yang menyakiti hati kita itu sadar dan mau meminta maaf. Nah, kalau tidak? cape deee… *kasian deh kita.. Tidak akan ada yang berubah apakah kita sakit hati atau tidak ambil hati atas perlakuan orang lain pada kita, kecuali efek buruk bagi diri kita sendiri: jadi bete, kesal, marah, dendam, pada akhirnya jadi ga mood untuk melakukan kebaikan.
Mungkin berat (walaupun ngomong dan nulisnya gampang) untuk diterapkan, tapi coba tolong jangan katakan itu (‘ngomong sih gampang’), karena justru akan mematikan semangat kita untuk bisa. This is it: kalau ada orang yang menzhalimi kita, urusan kita hanya berusaha memaafkannya.. kalau masih belum puas, berdoa saja pada Allah. Doa orang yang dizhalimi makbul tokh? Selanjutnya, itu urusan dia sama Allah. 
atau Adakah kita yang meragukan ke-Maha Adil-an Allah?

Pintar-pintarlah memilih, mana yang harus kita pikirkan, dan mana yang sebaiknya kita anggap angin lalu.

Saturday, April 23, 2011

biar kuncupnya mekar di taman surga

10:23 PM 4 Comments
Bukan layu. Mungkin tumbang, lebih tepatnya. Bukan karena angin kencang atau kumbang super besar yang mematahkannya. Tapi karena dia memang sudah harus tumbang kini, ketika baru beranjak mekar. Kuncupnya baru membuka. Harumnya baru semilir. Mungkin karena Ada yang lebih mencintanya, dibandingkan, ah, siapalah kami ini dibandingkan Dia.. Mungkin ada yang lebih bisa merawatnya, menjaga dan menumbuhkannya agar mekar sempurna, di taman-taman surga. Selamat jalan, adinda…
*Amalia Imaniar

Wednesday, March 16, 2011

Hujan buat aku

6:05 PM 10 Comments
Entah pernah ada kenangan apa,
yang kusadari, aku selalu punya rasa yang sama akan hujan:
Romantis ^_^.

Entah ya,
hujan selalu membawaku pada haru,
tanpa aku pahami kenapa
sedikit melankolik, tapi tidak untuk meneteskan kesedihan

Saat hujan adalah saat rahmat
saat doa, lebih mustajab untuk dilantun
adalah Allah, yang menjadikan setiap tetes dan perciknya menyejukkan
tidak hanya kulit, tapi juga kalbu

Ah, aku terlalu melankolik ya?
Tapi aku berani katakan,
Aku bukan gadis cengeng
Aku hanya senang pada hujan,
pada angin dingin yang membawa kabarnya,
pada awan teduh yang menaung,
pada matahari yang tersipu,
pada gemeresak tetesan yang mengguyur,
dan jika beruntung,
pada larik warna-warni setelahnya.

Alhamdulillaah...

Sunday, March 6, 2011

Setahunan informal bareng mereka

10:03 AM 2 Comments
Apapun aktivitas kita, sedikit banyak pasti menggerus energi kita, kejernihan pikiran, dan ketajaman hati. Karenanya kita selalu butuh jenak untuk rehat dan mengisi kembali cadangan energi kita. Lazim sudah dipahami bagi orang-orang ‘seperti kita’, bukan?
Mungkin kita kembali pada orang-orang yang pernah bersama dengan kita, merasakan pahit-manisnya perjuangan. Dalam forum-forum informal yang meski ringan, dapat mengembalikan semangat dan idealisme kita kembali, hanya dengan memandang wajah dan berbincang dengan mereka.
Seperti mereka, sahabat-sahabatku BPH BEM UI 2009. Meski masa jabatan kami telah usai lama, kami tidak pernah lengser menyandang nama itu. Kami bukan mantan BPH BEM UI, melainkan kami tetap BPH BEM UI 2009. Sampai kapanpun. Hehe..
Alhamdulillah, kami masih istiqomah untuk tetap menjalin silaturrahim setiap bulannya, karena kami bersatu bukan hanya karena amanah. Mungkin awalnya iya, tapi kami pernah bertekad, menjadi keluarga hingga ke surga.
Dan alhamdulillah, kami resmi lengser pada tanggal 5 Januari 2010; mudah-mudahan husnul khatimah. Lalu mempersiapkan agenda jalan-jalan akhir tahun hingga akhir bulan itu. Bulan Februari, kami telah menjalankan silaturrahim ke rumah seorang dari kami di daerah Gunung Putri, dan dilanjutkan dengan pertemuan setiap bulannya. Alhamdulillah.. sudah berjalan 1 tahun dan insya Allah akan tetap berjalan. :D

Kitalah armada masa depan yang akan mengukir dunia… 
(ada band, armada masa depan)


Tentang orang hebat (pikiran muter-muter)

9:59 AM 4 Comments
Orang hebat, tetap selalu butuh orang lain yang tidak hebat. Maka itu orang hebat tidak boleh sombong. Ah, tapi menurutku, orang yang menyombongkan kehebatannya itu tidak hebat. Karena dengan sombong ia berhenti menambah kehebatannya, telah merasa paling hebat.
Tidak hebat di mataku orang yang membanggakan kehebatan orang tuanya. Seperti kata Ali ra, bukan pemuda yang mengatakan, ‘ini ayahku’, melainkan ia yang berkata, ‘inilah aku’. Orang hebat membangun kehebatannya. Bukan meminta orang lain untuk menjadikannya hebat. Mungkin ia butuh dukungan dan bantuan orang lain, tapi itu hanya sesekali dan bukan yang utama.
Tidak hebat juga bagiku orang yang memandang rendah orang lain yang tidak hebat. Karena itu artinya dia tidak pandai mengelola pikiran dan hatinya, selain ia juga tidak pandai melihat potensi orang lain dan juga tidak pandai melihat peluang-peluang bagi dirinya. Meskipun ia dikenal orang lain hebat karena jabatannya yang tinggi atau hartanya yang melimpah. Tidak.
Tapi orang hebat mampu mendayagunakan segala yang ada disekelilingnya untuk kebermanfaatan, tanpa mengeksploitasi. Adalah yang mampu mensinergikan kelebihan dan kekurangan orang-orang di sekelilingnya untuk kebaikan, yang hebat maupun yang tidak hebat.

*maaf ya geje, ini kebanyakan curhatnya. Tapi anyway, mau berterima kasih pada seorang hebat yang pernah jadi partnerku, menaikkan self-efficacy-ku bahwa walaupun tidak hebat, aku bisa jadi orang tidak hebat yang hebat. ^_^