Follow Us @farahzu

Thursday, April 18, 2013

Kota Kita

2:52 PM 2 Comments

www.makassarkota.go.id

 Dua bulan lalu saya dan suami pulang ke Bekasi. Ambil flight paling pagi dari Makassar, dan flight paling malam dari Jakarta.  Supaya bisa lama ketemu keluarga. Hehehe…


Rasanya saya seperti meluap-luap kala pagi buta itu digenggam tangan oleh suami, di atas taksi yang melaju menuju Bandara Sultan Hasanuddin. Lalu mengharu biru kala bertemu kembali dengan mamah di rumah, berpelukan lamaaaa sekali, sampai ditungguin supir taxi. Belum bayar. Hhe…

Ketika hendak ke Makassar kembali, jujur saya agak merasa terintimidasi saat di mushala Bandara Soekarno Hatta, saya mendengar orang bercakap-cakap dalam bahasa Makassar. Ah, saya akan kembali ke kampung orang lagi. Bukan kota saya yang nyaman.

Tapi entah bagaimana ketika sedikit lagi kami sampai di rumah di Makassar, masih di dalam taxi yang menembus kegelapan malam, tiba-tiba saya menginsafi sesuatu. Bahwa kota ini indah.

Indah karena di kota inilah kami belajar hidup. Berdua saja. Tanpa bantuan keluarga atau kerabat. Tidak punya siapa-siapa kecuali satu sama lain. Tanpa punya tempat untuk kabur. Haha. Di sinilah kami belajar bertoleransi, saling memahami, menyelaraskan cita dan rasa, belajar syukur dan sabar bersama. Belajar bertetangga. Belajar berjamaah. =)

Yaaaa kota ini memang panas. Berdebu. Orang-orangnya keras. Pengendara motor dan mobilnya seringkali mengerikan. Tapi udara di sini lebih bersih. Tapi perekonomian masyarakat lebih maju. Tapi kuliner lebih nikmat lho. Hehehe pastinya.

Dan selebihnya, ini kota kita. Kota tempat kita menyemai cinta, menjadikannya warna-warni pelangi.  


Friday, March 22, 2013

Tentang Kota Manado

7:57 AM 0 Comments

Cerita jalan-jalannya sudah saya post ya beberapa waktu lalu. Nah, sekarang saya mau share tulisan tentang Kota Manado-nya itu sendiri.

Gunung Manado Tua
Manado itu indah, sudah pada tau lah ya. Konturnya berbukit-bukit, tidak sedikit tanjakan dan turunan yang curam. Kalau belum mahir mengemudi, mending jangan bawa orang deh.. hehe..

Kebanyakan penduduknya dari suku Minahasa, kulitnya putih-putih, dan mayoritas beragama Kristen. Orang-orang pendatang banyak juga yang Muslim, tinggal di tengah kota.

Orang Manado suka sekali bernyanyi dan berjoget. Hehe..masih ingat Senam Poco-poco? Senam (tarian) itu asalnya dari sini loh.. 'Cuma ngana yang kita sayang...' Di setiap rumah makan yang kami kunjungi, pasti deh ada live music-nya, trus pengunjung bisa request lagu dan menjadi artist on the spot. Terus yah, di mobil yang saya dan suami tumpangi menuju Tomohon, bapak supir menyetel lagu-lagu manado. Ada satu lagu yang 'ear catching' buat kami. Awalnya kami hanya menebak 'ke kiri, ke kiri, ke kiri, ke kiri...' ah masa' sih lagu begitu. Tapi berikutnya ada, 'ke kanan, ke kanan, ke kanan...'. Hahah.. Ternyata itu lagu memang ke kiri dan ke kanan! Begini.
........ sekarang kiri e, nona manis putarlah ke kiri, ke kiri, ke kiri, ke kiri dan ke kiri, ke kiri, ke kiri, ke kiri manise..
Sekarang kanan e, nona manis putarlah ke kanan, ke kanan, ke kanan, ke kanan dan ke kanan, ke kanan, ke kanan, ke kanan manise...
Unik yah. Seketika saya jadi sukaaaaa sekali lagu itu ;) Tinggal tunggu ada gerakannya, jadi deh penerusnya Poco-poco!

Tapi omong-omong soal musik, angkot di Manado juga full music, seperti di Makassar, tapi angkotnya lebih rapi. Dan beberapa angkot kursinya menghadap depan seperti di mobil-mobil travel, atau L300. Hehe.. Katanya nih, calon penumpang yang tidak sesuai dengan musik atau tempat duduknya, ga jadi naik! Menunggu angkot berikutnya. Ckckckckckck, penting banget deeeh... Oh iya, angkot di Makassar kan bayarnya flat, jauh-dekat 3000. Di Manado flat juga, tapi jauh-dekat 2000 saja.. murmeeer..

Kalau alat musik khas Manado apa ya, ada yang tau?
Yap, kolintang. Kolintang ini alat musik dari deretan bambu yang dipukul-pukul. Kolintang dibuat oleh seorang anak laki-laki buta loh.. Jadi ceritanya, anak lelaki itu pergi ke hutan untuk mencari bambu-bambu untuk kayu (bambu) bakar. Tiba-tiba dia tersandung dan bambu-bambu yang dibawanya terjatuh. Naaah saat itulah si anak ini menyadari bahwa bunyi bambu-bambu yang jatuh itu tidaklah sama semua. Maka dengan musical inteligence-nya yang tinggi, anak itu mulai menyusun bambu-bambu hingga menjadilah kolintang seperti sekarang.. Oia, anak lelaki itu sekarang masih hidup loh.. Sudah jadi kakek-kakek tapinya.. hehe.. (sumber: nonton tv beberapa waktu lalu)

Tapi bagaimanapun identiknya kota ini dengan musik, mohon maaf, di Manado tidak ada pengamen! Juga pengemis di pinggir jalan atau di lampu-lampu merah. Gengsi! Dan satu hal, kota ini beerrsiihh sekali. Bagaimana tidak, ternyata petugas kebersihan seperti penyapu jalan di sana bayarannya mahal! 2 juta sebulan, plus-plus. Maksudnya 2juta dan ada tunjangan lain-lain lagi. Waah kereeeen. Kota lain, terutama Jakarta dan sekitarnya bisa banget mencontoh nih.

Orang Makassar punya panggilang Daeng, atau masih biasa juga orang memanggil Mas, Pak, Bu, dan Mbak seperti di Jawa. Kendari punya Tina dan Banggona untuk memanggil. Kalau Manado apa? Manado memanggil laki-laki (muda sampai tua) dengan 'Cowok' dan perempuan (muda sampai tua) dengan 'Cewek'. Supir angkot, teman, sampai atasan. Maaakjaaaang... hihihi..

Hhhmmm tapi bagaimanapun indahnya kota Manado, tetap saja saya belum menemukan kota yang se-kota Makassar, kota paling kota. (Insya Allah akan dibahas lain waktu). Pun Jakarta, Depok, Bandung, Bekasi, Bogor, Tasik, Ciamis, Garut, Tangerang, Yogyakarta, Lampung, Pontianak, Kendari, menurut saya masih kurang kota kalau dibandingin Makassar... hihihi..

Monday, March 11, 2013

Saya Kira Publik Sudah Tahu

7:52 AM 2 Comments
Beberapa waktu lalu saya mengikuti berita wawancara eksklusif dengan Pak Anas Urbaningrum di televisi. Saya tidak akan bahas tentang politik dan semacamnya, tapi saya menemukan sebuah 'cara pintar' untuk menjawab lebih elegan dan menghindari diri kita dari yang namanya 'keceplosan'.

Bagi tokoh publik seperti beliau, tentu saja media dan masyarakat akan heboh begitu ada kasus menimpanya. Beliau tentu saja tahu sebenar-benarnya kejadian yang dipermasalahkan. Apa-apa saja yang sedang terjadi melatarbelakangi kasus'nya'.

Namun beliau juga politisi. Banyak pertimbangn atas segala kata yang keluar. Dia juga tahu betapa orang-orang yang mewawancarainya memiliki kemampuan untuk memainkan kata-kata untuk mendapatkan informasi yang diinginkan.

Maka ketika ia dihadapkan pada pertanyaan langsung yang dapat "menjebak" dirinya di kemudian hari, dia mengatakan, "Saya kira publik sudah tau ya....", atau "Saya kira masyarakat sudah cerdas untuk menilai....". Dan sepanjang saya perhatikan, selepas beliau mengucapkan kalimat sakti itu sang reporter selalu beralih pada pertanyaan lain. Cerdas Pak.

Iya juga ya, kalau dibilang 'publik/masyarakat sudah tau/sudah cerdas' dan reporter masih saja bertanya, bukankah itu artinya dia tidak cerdas? Maka itulah sang reporter selalu menyudahi cecarannya dan beralih pada pertanyaan lain.

Padahal kalau kita bicara persepsi, yaitu tentang bagaimana setiap orang memahami sesuatu, sangatlah personal. Belum tentu pikiran/penilaian/pemahaman seseorang akan sama dengan orang lain, walaupun mengenai hal yang mereka anggap, sudah lazim diketahui. Hehe.. jadi kalau menurut saya, jawaban demikian adalah jawaban cukup cerdas untuk mengalihkan diri dari 'intimidasi' pewawancara, alih-alih hanya karena enggan menjawab hal yang sudah diketahui orang banyak. Namanya juga politisi... :p

Tuesday, March 5, 2013

Seru-seruan Di Manado

4:17 PM 0 Comments
(foto-foto: dokumentasi gabungan; saya&suami, Mas Irham, Pak Mahendra)

Hwah! Alhamdulillaah, akhirnya satu-persatu mimpi saya jadi kenyataan. Saya jadi semakin yakin bahwa sebentar lagi akan ada kesempatan jelajah Raja Ampat. Hehe.. aamiinn..
Yup, weekend kemarin, 1-3Maret 2013, saya dan suami serta teman-temannya di BSM berkesempatan menikmati indahnya Kota Manado. Berbekal tiket seratus ribu ajah sekali jalan, lalu sempat kaget karena akomodasi selama di sana ternyata ga ikutan promo kayak si tiket (ya iyalah buuu!). Tapi asli, puas banget!
Jumat sore dari bandara Hasanudin Makassar, ternyata kami ikut penerbangan perdana Makassar-Manado. Rute baru Air Asia. Dapat pin lalu di foto *penting banget buat mereka..hihihi.



Sampai di bandara Sam Ratulangi kami dijemput oleh teman-teman BSM cab.Manado. Mereka banyak sekali membantu, dari cari hotel, resto, sampai transportasi selama di sana. Terimaaaa kaaasiiihh...

Manado. Ibukota Prov.Sulawesi Utara, terletak di jambulnya Sulawesi. Entah karena weekend, yang jelas tidak seramai Makassar. Kota indah yang kontur tanahnya berbukit-bukit, yang ajaibnya tidak memberi jarak antara gunung dengan laut. Berdekatan. Indah sekali.

Makan malam pertama kami ke rumah makan di pinggir laut. Uuuhhyaaaa tau ga siiiih beneran beniiiing sekali lautnya. Malam-malam gelap saja sudah terlihat ikan-ikan berenang di laut, dari  a t a s.


Eh fotonya ga nyambung. Hehe..
Pagi-pagi, kami bersiap menuju Bunaken!! Salah satu surga bawah laut di Indonesia. Dari dermaga Marina (Manado ya, bukan Ancol), naik kapal 45menit menuju pulau Bunaken. Dari dermaga juga beniiiiiing sekali airnya. Jangan bandingin deh sama Losari.. bikin minder orang Makassar. Hihihi...


Dermaga Marina


di dalam kapal
 Kira-kira 15 menit sebelum sampai, mesin kapal dimatikan, kaca untuk melihat di bawah air dibuka dan diturunkan. Daaaaaaannn....welkaaaaaam to Heaveeeeennn!!!
 Indah banget di bawah lautnya, pemirsa. Karang warna-warni, ikan warna-warni, ah serba warna-warni lah. Jadi ga sabar mau snorkeling...

Oh iya.. ini snorkeling kedua saya. Snorkeling pertama di kep.Seribu, tepatnya di Pulau Pramuka bersama kawan-kawan BEM UI 2009. Kali ini semuanya nampak lebbbiiiihhh indah. Entah karena Bunaken memang lebih indah, tapi bisa juga karena saya pakai softlens. Hehe.. Snorkeling pertama saya ga punya softlens.. sedang kemarin saya pakai soflens waktu nikah 5bulan lalu. Hihihi... Kalau ga pake tuh buram...ya terang saja yaaa... jadi buat rekan-rekan yang punya mata minus tapi mau snorkeling, jangan lupa pakai softlens! Ok? ;)

 Baru menjejakkan kaki di pulau, langsung ditembak sama ibu-ibu yang menyewakan alat snorkeling, 43, 39 (nomor sepatu saya dan suami, untuk fin/kaki katak). Oh iya, paket sewanya 150ribu perorang; snorkel, baju (yang sekalian bisa mengapung), dan fin.

Berkali-kali saya minta ukuran baju lebih besar, karena maklum saja, saya dobel dengan baju panjang. Lalu karena yang dangkal itu karangnya dan tiba-tiba sering ada 'jurang' di bawah lautnya, saya dan kawan-kawan awalnya ga pede, jadilah pakai life jacket lagi.. hihi.. jadi ga keren deh..


Barulah di spot snorkeling kedua, kami mulai pede tanpa life jacket. Karena sebenarnya baju yang kami pakai pun sudah bikin mengambang..haha.. tapi sayang ga sempet di foto. Udah capeeeeek.. 
 Hih. Subhanallaah, indah sekali pemirsa... main-main dengan ikan yang cantik-cantiiiiikk sekali. Warnanya cerah-cerah. Ada yang belang-belang ngejreng, ada juga yang seperti spektrum pelangi. Aaahh indaaahh... Karang-karangnya juga super duper indahnya, warna-warni dengan beragam bentuk. Bahkan ada yang warna ungu (purple lover kayak saya pasti takjub deh) dengan lipatan-lipatan persis seperti otak :D empat jempol deh. Semua dzikir keluar di situ.




Ada tapinya juga nih kawans.. Harus tenang dan jangan panik! Saya sering sekali sedang enak-enaknya 'tengkurap' di air menikmati keindahan di bawah, tiba-tiba arus tenang membawa saya ke pinggir tebing karang, langsung laut biru tua yaaaaaang ga keliatan ujungnya! Huks.. langsung deh lupa kalau bajunya safety, langsung panik, takut tenggelam, lupa nafas dari hidung, ya udah deh langsung batuk-batuk dan Tambah Panik karena yang kehirup bukannya udara melainkan air.. aaassyyiiiinnn..  huwaaahhh... langsung deh, ga berani jauh-jauh dari abang.. eh, kapal.. hahaha...






Singkat cerita, kami kembali ke pulau untuk bilas, ganti baju, dan makan siang. Waw, airnya payau, dan untuk mandi harus bayar 10ribu. Ngantri pula.. sayang sekali infrastrukturnya kurang mendukung. Anyway, puas banget kok! Lalu kami kembali ke kapal, menuju pulau besar Sulawesi kembali. Di kapal semua tidur kecapekan, kecuali Pak Bos yang iseng sekali mengambil foto kami-kami yang tidur... ati-ati mangap! Heheh..

pemandangan dari arah Pulau Bunaken

Kami baru sanggup keluar hotel lagi ba'da maghrib untuk makan malam. Tempatnya indaaaaah... dan makanannya enak.. Dari sana kita bisa melihat kota Manado dari atas, karena malam, jadi yaaa sky dining deeehh... manteeeebb!


Lalu ke tempat oleh-oleh khas Manado, Merciful Building.

saya gak ngerti ini kenapa fotonya tiduran :D
Lalu tidur. Zzzzzzzzz...

Besok paginya, lepas sarapan, kami yang sudah check out 'sarapan kedua' dengan Tinutuan, bubur manado. Masih cukup. Tenang saja *dasarr.. Next destination: Tomohon. 


Oh iya, hari Minggu Manado hampir seperti kota mati. Mayoritas penduduknya yang kristen hanya beribadah hari itu, lalu entah hilang ke mana. Mungkin di dalam rumah. Jadi jalan menuju Tomohon yang naik-turun belak-belok seperti di Puncak, Bogor, lancar jaya. Kamu disuguhkan pemandangan indah Gunung Lokon yang meletus beberapa waktu lalu, dan senantiasa berasap sampai sekarang.
Pemberhentian pertama, makam pahlawan kita, Tuanku Imam Bonjol. Nama asli beliau adalah Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin. Beliau diasingkan di sini, di gunung dan hutan, sampai wafatnya. 
gerbang situs makam

60meter di bawah (capek sekali waktu naiknya lagi) ada batu tempat shalat Tuanku Imam Bonjol yang sudah direlokasi. Tadinya batu itu di tengah sungai, lalu banjir ketika tahun 2006, batu itu terbawa dan menghantam pabrik miras di sebelahnya (hah. Bagus sekali kau batu!). Lalu direlokasi ke tempat sebelahnya. Tempatnya beerrssiiihh deh, ada yang jaga dan bersihkan.
anak tangga ke bawah menuju tempat ibadah
dari pintu tempat ibadah menghadap keluar, di sebelah kiri  sungai ini ada pabrik miras(fotonya tidur)
 
 

sebagai perbandingan ukuran batu, itu ada orang (bukan saya) di atasnya
Menurut saya, itu batu tempat shalat biasa loh.. makamnya pun makam orang muslim biasa, tapi entah kenapa di deskripsinya selalu menyertakan kata 'keramat' seperti makam keramat atau batu keramat. Yaelah..

Kami berpikir-pikir sepanjang perjalanan. Subhanallaah ya, jauh sekali beliau diasingkan. Sudah itu, kenapa juga penjajah Belanda mesti repot mengasingkan tawanan ke tempat-tempat jauh? Yah..mungkin mereka masih punya hati untuk membiarkan tawanannya hidup. Tapi kemungkinan ini benar-benar husnuzhan yah.. kayaknya sih ga sebaik itu juga tujuannya...


Pemberhentian selanjutnya di Pagoda Ular Putih, sebuah vihara. Entah pose patung-patungnya memang lucu, atau teman-teman BSM yang terlalu ngocol, hah, singkatnya beginilah foto-fotonya...






di belakang duo narsis ini adalah Gunung Lokon yang atasnya masih berkabut
pagoda. btw, langitnya keren yah! masya Allaah


Next: Danau Linau. Iiiiiinnndddaaaaahhh banget sodara, udah kayak surga! Maasya Allaah... Semakin kena sinar matahari, makin bergradasi warnanya. Inilah dia danau 3 warna. Sayang waktu kami ke sana sedang mendung. Tapi tetap merupakan tafakkur alam yang luar biasa. Oia, tiket masuknya 25rb seorang, dapat teh/kopi dengan kue dua biji.




Ketika kembali, beberapa dari kami membeli ikan cakalang fufu (asap) dan oleh-oleh di Merciful Building (lagi). Beli klappertaart, semacam kue khas manado dari telur, kelapa, kismis, dan diberi toping, lalu dikukus atau dipanggang. 

Lalu kami beristirahat di BSM kantor cabang Manado, sambil menunggu sunset di belakang kantor. Nah kan, udah laut lagi...di sini dekat sekali memang gunung dengan laut ;)

Daaaahh...kami harus buru-buru karena kalau tidak ketinggalan pesawat. Benar saja, kami hampir telat hingga koper-koper tak bisa lagi masuk bagasi. Saya dan suami sih nyantai aja, cuma bawa ransel masing-masing dan satu tas jinjing ;)


Sampai jumpa Manado, welcome Monday in Makassar.. Very nice holiday with BSM family... alhamdulillaah

Monday, February 4, 2013

Reliabilitas Mitos

6:45 PM 0 Comments


Anda percaya mitos? Saya sih tidak, hanya sering terdengar saja orang-orang yang ngobrol. Nah. Belum lama ini saya menemukan sesuatu yang –menurut saya- menarik. Tentang reliabilitas mitos. “Keajegan” mitos. Apakah mitos itu ‘berlaku’ universal ‘kebenarannya’? Di semua tempat akan sama?

Di Jawa ada mitos, kalau seorang wanita tiba-tiba jadi malas mandi, malas dandan, dan cuek sama badan ketika hamilnya, itu artinya dia mengandung bayi laki-laki. Sebaliknya, kalau si ibu jadi suka dandan dan memperhatikan penampilan, berarti bayinya perempuan. Ya kan, sering dengar kan?

Tapi beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan 2 orang ibu-ibu, yang satu sedang hamil, dan keduanya orang Bugis. Ibu A menyapa bumil (ibu B) dengan bilang, “Duuh tambah cantik aja, bawaan bayi laki-laki nih”. Si bumil tertawa, mengiyakan. *memang hasil USG-nya bayinya laki-laki*. Spontan dong saya heran, lalu bertanya. Lalu ketika saya share kalau di Jawa mitosnya malah kebalikannya, malah ibu-ibu Bugis itu yang heran.

Hahaa, ya udah si, ga ada hubungannya berarti. Ga baku gitu standarnya, ga reliabel. Yah, namanya juga mitos. Masih mau percaya? Percaya mah sama Allah aja(^o^)/

Thursday, January 31, 2013

biar bisa masak

11:20 AM 1 Comments



Hhmm semoga tulisan ini bisa jadi tips buat para gadis yang belum bisa masak. Aamiinn.. Hhe..

Pernah beberapa kali saya menulis tentang memasak, juga di tahun-tahun yang lalu, bahwa saya tidak bisa masak. Alasannya bukan karena tidak belajar. Saya belajar masak sejak baligh sampai sekarang. Tapi kenapa?

Alasannya, karena memasak bukanlah tentang resep semata, melainkan juga tentang rasa dan feeling. Begini maksudnya. Kalau saya bilang saya bisa bikin kue, tentu saja bisa, asalkan ada bahan, alat, dan resepnya. Tapi kalau memasak selain kue itu sulit, karena diperlukan juga yang namanya rasa, selera, feeling, maupun rasa percaya diri (nnah lho!)

Bagaimana saya bisa menilai masakan saya sudah enak atau belum kalau saya bahkan tidak bisa membedakan makanan enak dan tidak enak. Bagi saya selama tidak aneh, makanan itu enak. Saya tidak tau masakan saya kurang apa, perlu ditambah apa seberapa banyak, apalagi kalau harus pakai kira-kira untuk masukin bumbu sejumlah apa. Haduh pusing deh. Ini walaupun ya...; walaupun saya aktif bantuin mamah di dapur dari SD.

Mungkin itu juga karena, saya tuh paling ga pernah yang namanya nyari makanan; pengen makan a, b. Buat saya makan itu kebutuhan, kalau sudah tercukupi ya sudah, selesai perkara. *ini masih bicara dulu loh yaaa sebelum jadi Ny. Mohammad*

Dengan demikian, tentu saja tanpa ragu saya tulis di cv untuk taaruf, bahwa saya belum bisa masak. Padahal bisa; karena saya tau caranya memasak, tapi rasanya parah deh. Hahah.. Daripada bilang bisa tapi nanti kuciwa?

Ketika menikah, hanya karena rahmat Allah-lah lidah saya tiba-tiba aja gitu jadi peka rasa. Atas karunia Allah juga tiba-tiba saya jadi kepedean untuk memasak. Yah bagaimanalah masih ga pede, orang dapur sendiri; dan sendirian tentu saja. Dulu-dulu kan cuma asisten chef sejagad: ibunda. Hehe…

Alhamdulillaah, beberapa kali masak, suami bilang masakan saya enak. Tapi berhubung Nabi saw bilang boleh aja bohong untuk menyenangkan hati istri, saya tanyakanlah jujur-jujur sama suami, ‘enak’nya jujur apa buat nyenengin aja. Suami agak tertegun sebelum jawab, haha, lalu bilang, “Liat aja deh, aku makannya cepet dan nambah apa engga!” ternyata seringan nambah. Yeeaaay! Alhamdulillaah..

Nah, ini tips dari saya:
-       mulai dari sekarang, mulailah sering-sering turun ke dapur, ikut-ikut dan belajar masak!
-       tanamkan dalam hati sebelum mulai dan selama memasak, insya Allah jadi makanan enak! Harus PeDe! Percaya atau tidak, sepanjang pengalaman saya, kalau saya ragu-ragu, pasti jadinya ga enak.
-       kalau belum jago-jago banget masak, mending tulis aja di CV, belum bisa masak. Supaya nanti suami ga ngarep yang tinggi-tinggi sama masakan kita, malah bisa tiba-tiba kagum karena istri yang dikira ga bisa masak ternyata udah gape masak. Hehehehe… ini mah curhatan pribadi :D

Terakhir, kata uwak saya yang jago masak, masak itu pake ilmu Saka.  Sakainget. Masukin aja apa yang keingetan. Enak deh. Hehe.. atau Sakajadi. Ga usah ribet-ribet, yang penting ada bawang merah-bawang putih, cabe, garam. Sip jadi. Bumbu lain itu sekunder! Oiya, buat pemula, biar enak masakannya, bumbunya yang banyak ya biar sedep. Hehe, strategi boros.

Selamat belajar masak! \(^o^)9