Cucu ke-19
farahzu
12:13 PM
93 Comments
Kami sangat dekat, punya minat yang sama, idola yang sama (ayah kami masing-masing), cara pandang yang sama (meski ia masih labil karena masih remaja), dan wajah yang katanya mirip (yang ini aku agak sanksi, dia cantik soalnya, kan aku manis). Senang belanja juga kalau lagi mudik (belanja kerajinan di Rajapolah, Tasik). Adik bungsuku, hanif sekali. Ia konsisten berhijab dalam usianya yang masih sangat muda (usia yang sama saat aku masih sering lepas-lepas jilbab). Ia menjadikanku referensi untuk bertanya maupun bercerita. Jadi geer. Hehe,,
Adik bungsuku, lebih cepat dewasa dibandingkan aku. Saat aku dan kakaknya (adikku juga) curhat tentang hal-hal yang sangat khas dalam kehidupan ABG, ia bercerita tentang organisasinya, teman-temannya, hikmah-hikmah yang ia dapatkan, pokoknya jelas lebih berbobot daripada ceritaku waktu seusianya dulu. Aku jadi malu...
Adik bungsu kami,,, tetap saja masih ABG. Saat aku sms-an dengan seorang kakaknya, ia mengirim sms, ”Kok sms-nya sama Kak Uul doang siihh??” Hihi, cemburu. Padahal maksudku ingin lebih dekat dengan semua adikku secara personal, yang artinya akan tiba giliran untuk adik bungsuku ini. Tapi, yah, namanya juga ABG...
Adik bungsuku ini, punya banyak ibu. Ibu pertama adalah ibu kandungnya, ia memanggil beliau, ”mama”. Ibu keduanya, ibuku, yang dipanggilnya dengan, ”mama aris” (kenapa bukan mama farah??). Ibu ketiganya adalah uwakku, ia memanggilnya ”mama dada”. Padahal uwak kami banyak. Tapi untuk ”mama dada”, hanya waktu ia kecil saja, karena sekarang panggilannya untuk beliau sama dengan kami, ”wak dada”.
Adik bungsu kami,,, cepatlah dewasa dan lakukan hal terbaik yang bisa kau lakukan untuk dunia..
Depok, Mahalum Psikologi
30 Desember 2008
