Follow Us @farahzu

Tuesday, June 30, 2009

Sesuatu Tentang Surat

3:07 PM 9 Comments

Hari gini, masihkah ada di antara kita yang suka mengirim surat? Surat… bukan dalam arti administratif (surat keterangan, surat tugas, apalagi surat permohonan dana/donatur). Bukan juga surat elektronik atau komen di facebook atau multiply. Apalagi hanya pesan singkat (meski 4 layers) via sms.

Surat yang saya maksud di sini benar-benar SURAT. Aduh, apa ya?? Surat dalam bayangan kanak-kanak kita dulu. Tulisan tangan, di atas kertas bergaris, dimasukkan dalam sebuah amplop tertutup, boleh juga sampai dikirim lewat pos. Atau disampaikan langsung pada orang tertentu yang dituju. Surat yang menanyakan dan berbagi kabar, atau pesan khusus lain. Nah, sudah sepahamkah kita mengenai “surat” dalam tulisan ini?

Saya biasa menulis (mengetik) surat singkat setiap bulan, minimal untuk 20 orang rekan saya di BPH. Kadang untuk staf-staf saya dan beberapa staf lain. Semuanya lewat kantong ajaib bernama Bukan Kantong Biasa yang tergantung warna-warni di ruang BEM. Meski diisinya massal, isi dari setiap surat selalu berbeda dan khusus untuk setiap orang. Suatu saat saya sedang agak melo, dan sangat tersentuh dengan Rabithah-nya Izzis. Saya jadi ingin memberikan mereka semangat dengan bait-bait nasyid tersebut, ditambah dengan beberapa baris kata-kata saya sendiri. Singkat kata, semua orang mendapatkan surat yang sama bulan itu.

Sama sekali awalnya tidak ingin melakukan penelitian eksperimen atau melihat perbedaan apapun. Beberapa orang ‘protes’ waktu melihat isi suratnya ternyata template. “Yah, sama semua ya, Farah? Yang spesial doongg”.. dan protes-protes senada lainnya, kebanyakan dari yang laki-laki (tanya kenapa).

Suatu kali, saya menulis surat untuk staf yang sebelumnya baru saja diskusi dengan saya mengenai amanah barunya jadi PO sebuah acara. Seorang staf departemen lain yang juga jadi PO acara lain melihat dan menyatakan ia iri karna saya tidak pernah mengisi BKBnya. Baiklah, pas masih ada 1 tango wafelatos, saya juga menulis surat untuknya. Sambil menulis saya berpikir, sebenarnya isi dari surat ini bisa saja saya sampaikan lewat sms. Rp15 saja. Tapi, ah, pasti beda. (apanya yah?!).

YAA… apanya ya yang beda?? Beda bila menerima pesan yang sama melalui sms, e-mail, facebook, dan surat seperti yang dimaksud dalam tulisan ini. Atau tatap muka sekalipun. Saya pun merasa senang kala BKB saya diisi tulisan/surat dari orang, ada makanannya pula (wehee..). Dan ketika membaca, biasanya saya jadi mesem-mesem sendiri. Dan kertas suratnya, sayang kalau dibuang.

Mungkin bahasa tulisan lebih menyentuh kali ya..? Ada effort yang dikeluarkan saat menulis surat. Pulpen, kertas, dan energi kita untuk ‘mengirim’ surat tersebut hingga sampai ke tujuan. Apalagi kalau harus melalui pos. Beda dengan sms yang cukup merogoh handphone dari kantong, ketik, kirim.

Selain itu, lebih romantis kali yaa..?? hahahah…

Tulisan tangan. Mungkin, ada keterlibatan perasaan yang mengalir lewat gerakan tangan kita saat menulis. Tercermin dalam liukan setiap huruf yang kita tulis. Berbeda dengan sekedar huruf-huruf seragam dari tekanan-tekanan jari kita pada keyboard komputer. Karna komputer tak bisa merasa.

Jadi ingat perbincangan di kelas Pemahaman Diri, saat membahas tentang hubungan interpersonal, jejaring sosial, termasuk facebook. Kegemaran pada facebook, dalam titik ekstrim, akan memiskinkan kepekaan kita terhadap emosi dan ekspresi manusia. Hal ini karna terbatas pada emoticons yang tidak sebanyak ekspresi manusia. Ya, karna komputer tak bisa merasa.

Mungkin itu yang membedakan surat dengan bentuk-bentuk fasilitas pengirim pesan lainnya. Bahasa tulisan, effort yang dikeluarkan, dan perasaan yang mengalir lewat tulisan tangan.  
Bookfair I’m coming!!
June 30th, 2009

Ujian Mendengarkan

3:02 PM 4 Comments
Mungkin telah banyak yang paham bahwa mendengar tidak sama dengan mendengarkan. Hearing not same with listening. Yang awal hanya butuh telinga dan pendengarannya. Yang kedua butuh telinga, pendengaran, dan atensi. Perhatian yang terfokus. Juga butuh intensi. Niat. Kemauan untuk memahami apa yang didengar.
Betapa banyak orang merasa pintar dan terlihat hebat kala ia banyak bicara, tentang hal-hal yang benar dan bermakna mungkin. Meski banyak pula yang banyak bicara namun isi pembicaraannya tidak benar dan tidak bermakna. Tapi terlepas dari kebenaran dan kebermaknaan, banyak orang yang ‘bisa bicara’.
Namun ketika orang-orang itu tampil hebat dengan ide-idenya yang memukau atau argumentasinya yang luar biasa cerdas, sangat tidak menyenangkan ketika kita menyaksikan perdebatan mereka. Semua berebut ingin bicara. Pendapat saya benar. Pendapat saya lebih hebat. Pendapat saya solusi.
Jika semua ‘orang hebat’ itu bicara,
Siapa yang akan mendengarkan ide-ide hebat mereka?

Begitulah. Mendengarkan butuh kerendahan hati. Untuk mengalah tidak bicara. Untuk tidak serta-merta terlihat cerdas di hadapan khalayak. Mendengarkan juga, butuh keikhlasan.
Teman, dalam sebuah episode pelajaranku dalam mendengarkan, ada ujian yang menurutku cukup berat dan menuntut kesabaran ekstra. Kesabaran untuk puas dengan hanya menjadi pendengar yang baik. Tanpa boleh bertanya. Kesabaran untuk menekan rasa penasaran. Tapi orang yang didengarkan butuh jawaban dan solusi. Dari apa coba?
Seseorang bercerita padaku bahwa ia sedang menghadapi ujian yang sangat berat. Terberat sepanjang hidupnya hingga kini. Ia bercerita tentang kebingungan-kebingungannya, kesedihannya, kekecewaannya… susah payah aku berusaha merangkainya menjadi sebuah ‘cerita’. Gagal. Lalu, “Aku harus gimana Farah? Aku butuh support”. Tapi sayangnya, ia tak mau sedikitpun menceritakan apa masalahnya. Aku pun merasa tak layak dipercaya untuk bertanya lebih lanjut apa masalahnya (meski rasa penasaran memuncak), apalagi memaksanya untuk bercerita padaku. Aku tidak tahu apa masalahnya.
Kalau kalian jadi aku, apa yang akan kalian katakan untuk mensupportnya?
Sabar ya sayang,
Bekasi, 27 Juni 2009

Monday, June 22, 2009

Ojek, Oh Ojek

9:44 AM 6 Comments
Tidak lagi-lagi deh… mencari villa dengan bantuan tukang ojek di daerah (teeeeettt, sensor ah)… cukup, sudah. Pengalaman EPT (Evaluasi Paruh Tahun) BEM UI kemarin cukup membuatku trauma (agak lebay) dengan tukang ojek.
(mohon maaf, yang saya maksud dengan tukang ojek disini definitif kok, tidak semua tukang ojek)
Pertama waktu survey. Di tengah perjalanan menuju villa yang direkomendasikan oleh ibu seorang stafku, aku bertanya-tanya pada abang ojek yang membawaku tentang villa yang bagus dan sesuai budget kami. Singkat cerita, dengan informasi dari tukang ojek itu, akhirnya kami menemukan villa yang pas dan cukup oke.
Setelah bertemu dengan ibu pengelola villa tersebut, ia mengatakan, sebenarnya harga sewa villa tersebut bisa turun banyak, apalagi kami memakainya di hari kerja. Bisa didiskon hingga 400.000. dengan catatan, kami datangnya sendiri. Kalau atas rekomendasi tukang ojek, berarti dia juga harus memberi komisi pada tukang ojek itu. Hmm.. 400.000. harga sebuah informasi. Mahal juga.
(sejak itu aku ingin sekali segera bekerja dan memiliki mobil sendiri, hingga aku bisa keluar-masuk mencari villa dan mendapatkan diskon lumayan)
Singkat cerita, di hari-H, kami datang dengan 3 bus kuning. Tanpa diminta, abang-abang ojek itu menjadi pemandu bus kami menuju villa, dengan alasan medan yang curam dan sulit. Untuk 3 ‘pemandu’, saya berencana memberi mereka sesuai tarif ojek biasa. Tapi mereka minta berkali-kali lipat. Bayangkan. Mereka bilang tarif pemandu tidak bisa disamakan dengan tarif ojek, meskipun aku tidak melihat ada perbedaan effort yang signifikan. Dengan alasan keamanan, mereka selalu berkata, “se-rido-nya Ibu deh mau ngasih berapa”, tapi mereka mematok tarif yang tidak bisa dikompromikan. Bahkan kami tidak pernah meminta mereka untuk memandu. Oh. Terima kasih banyak. Akhirnya aku dan bendaharaku masuk ke dalam mengambil uang, setelah keputusan akhir adalah 3x lipat untuk masing-masing ‘pemandu’, dengan catatan supir kami tidak perlu dipandu lagi ketika pulang malam ini dan datang kembali untuk menjemput esok sorenya.
Salahnya kami adalah, kami berdua masuk ke dalam bersama-sama, harusnya ada seorang dari kami yang menunggui di luar. Benar saja, ketika saya kembali, tukang ojek itu sedang ‘mepet’ dengan supir bus kami, dan tiba-tiba si abang ojek berkata, “Pak supirnya ga berani Bu, kalau ga dipandu juga pulangnya dan datang besoknya”. Hemmmmm!!!! Bagus!!
Selesai urusan ojek malam itu, udara dingin, dan sedikit gerimis. Saya mengobrol santai dengan ibu pengelola villa, iseng bertanya, “Besok pagi kira-kira hujan ga ya Bu, soalnya kita mau naik ke curug”. Nah! Di saat yang bersamaan, seorang abang ojek tadi melewati kami dan mendengar. Ia langsung berhenti dan bertanya padaku, “Bu, besok mau naik ke curug? Berapa banyak? Semua?” Kujawab sekenanya, “Iya, semua” dengan masih jengkel karena kejadian sebelumnya. “Ada 100 orang?” tanyanya lagi. Kujawab, “nggak, paling 60-70”. “Ooh, nggak, kalau banyak kan bisa saya bantuin nego ke curugnya, biar didiskon gituu…” Dengan spontan langsung kujawab, “Oh, nggak usah. Kita ga banyak kok!” Sungguh dalam hati aku dongkol setengah idup. ‘Iya, masuk Curugnya diskon, tapi potongannya buat elu! Makasi banyak dah, mendingan buat pemeliharaan Curug!’ begitu pandainya ia melihat peluang!!
Masalahnya adalah dana kami sangat ngepas. Itupun masih hutang sama bendum. “Pungutan-pungutan liar” seperti itu kan mana ada kuitansinya??!!
Setiap ada yang datang kemudian, selalu saya wanti-wanti via telfon, “ojeknya 5.000 ya, ga lebih!” atau “Lo bermuka orang sini aja ya, jangan keliatan lo bukan orang asli sini”, dll. Udah gitu, masa tarif siang dan malam bisa beda! Bayangkaaannn… menyebalkan sekaliii…..
Keesokan sorenya, saya kembali dibuat dongkol cukup dengan melihat jaket yang sama yang dipakai seorang tukang ojek kemarin. Oke, kali ini aku akan melibatkan si PO, stafku yang angkatan 2008 tapi terlihat sangat dewasa dan kuat bernegosiasi (dia laki-laki). Kami hanya butuh 1 pemandu kali ini! 3x lipat tarif ojek seperti semalam: ‘kalau mau ambil, kalau tidak ya sudah. Kami tidak punya uang lagi’. Tapi tetap saja, mereka memaksa 2 ojek dengan tarif 4x lipat 1 ojek biasa (lagi-lagi mereka mengulang ‘seridonya ibu aja mau ngasih berapa’ tapi tetap maksa mematok harga. Ga rido!) Tapi entah kenapa, hanya aku yang masih menolak, sedangkan semua temanku yang laki-laki yang harusnya mendukungku malah, “Ya udah Far, 5.000 lagi”. haaahh!! Kecewa!! Lima ribu juga dari kemarin duit gue!! Dan puluhan ribu lainnya yang sudah keluar untuk pungutan-pungutan liar seperti ini tidak akan pernah bisa di-reimburse. Dengan utang masih beberapa juta. Hwaaa… anak-anakku, sabar ya,, kita harus mencari uang lebih keras! Semangatt!!
Hanya sedikit kekecewaan di tengah
membahagiakannya kebersamaan dengan BEMers UI sehari-semalam
16-17 Juni, 2009

Farah Kecil

9:41 AM 0 Comments
Bukan, ini bukan cerita tentang masa kecil saya. Ini cerita tentang sahabat saya. Namanya Farah Kecil. Ups, Farah Mutia Sari namanya. Tapi karena tubuhnya kecil (kalau dibandingkan dengan saya), sejak SMA ia dipanggil Facil. Farah Kecil.
Selama 4 tahun bareng-bareng 1 kelas, mulai dari OBM sampai mata kuliah terakhir. Tapi kelulusan kami tidak bareng. Hiks. Ups, tidak ada yang perlu ditangisi sebenarnya…
Tapi selama itu, kami tidak bisa dibilang dekat. Tidak pernah duduk bersebelahan. Atau bertukar pikiran. Apalagi yang namanya curhat khas anak gadis. Tidak sama sekali.
Tapi bagiku ia sungguh berkesan. Kami tidak dekat, bahkan kami sangat berbeda. Pergaulan, minat, gaya hidup, apalagi nilai (halah, ini nih yang kayaknya paling jauh). Jauh. Berbeda. Tapi kok ngerasanya dekat yah?
Dia sangat hangat. Terbuka. Dan keceriaannya mampu membawa semangatku kembali.
Yang kuingat, pertama kalinya merasa dekat dengan dia adalah ketika terjadi kecelakaan tergulingnya bus waktu kami maba dulu, dimana aku ada di dalam bus yang terguling itu (a.k.a aku termasuk korban). Tengah malamnya, saat waktu shalat tahajjud, ada muhasabah dari panitia. Muhasabah tentang persaudaraan. Haruskah Allah memberi kecelakaan yang menimpa sebagian dari kami dahulu baru kami bisa dekat satu sama lain? Kira-kira demikian. Dan orang yang pertama kupeluk saat itu adalah dia. Sebenarnya tak lebih karena dia yang ada di sebelahku saat itu. Tapi… pelukannya sangat berkesan buatku. Dan ia adalah orang pertama di kampus yang kupanggil “Sist”.
Hingga kemarin, saat bertemu di toilet wanita gedung H lantai dasar. Kami bertegur sapa, saling bertanya kabar, tentang ia yang sudah selesai sidang, tentang aku yang memutuskan lulus semester depan dari awal, tentang apa yang kita inginkan setelah lulus, dan, ia langsung menyatakan akan mencarikan info beasiswa ke luar negeri untukku, dan mengepostnya ke milis angkatan. Owh, betapa ia sungguh-sungguh saat itu.
Ketika kami akan berpisah, rasanya ada kecanggungan. Aku yang menatap, dan ia yang sudah melangkah, mundur kembali dan kami saling berpelukan dengan haru. Haaa.. melo sekali memang. Tapi aku terharu… Trims ya Far, atas 4 tahun ini… Trimakasih atas 4 tahun yang indah, yang penuh pelajaran berharga. Terima kasih… maafin kalo ada salah…
(kata-kata di atas sama-sama kami ucapkan, secara nama kami sama)
FArahkeCIL, cepatlah besar.. ^^. Betapa dunia sanggup kau hangatkan… Terima kasih…
20 Juni 2009

team building BPH BEM UI

9:21 AM 11 Comments



Cibodas, Januari 2009
Sebuah titik balik yang membuatku meninggalkan segala keegoisan (termasuk lulus 4 tahun) di Cibodas sana... Welcome to The Jungle!!

Evaluasi Paruh Tahun BEM UI 2009

9:03 AM 10 Comments



tapi foto-fotonya banyaknya pas lagi jalan-jalan ke Curug Cilember pagi harinya...
menyenangkan, sungguh,,, berkesan sekali melakukan perjalanan menantang bersama kalian, BEMers tersayang..

Tuesday, June 9, 2009

Satu Jam Menjadi Tuna Daksa

8:57 AM 6 Comments
       Kemarin saya mengikuti pelatihan menjadi masyarakat inklusi, khususnya meningkatkan kepekaan terhadap penyandang disabilitas. Beberapa kawan yang disable turut hadir dan mengikuti pelatihan bersama kami. Ada yang tuna netra dan tuna daksa.
            Singkat cerita, sebelum waktu istirahat shalat dan makan siang, kami dibagikan permen dengan beberapa pilihan. Pilihan jenis permen tersebut akhirnya menentukan “nasib” kami. Ada yang menjadi tuna netra, tuna rungu, tuna wicara, dan tuna daksa. Saya yang terakhir. Para penyandang “tuna netra” diberikan penutup mata seperti yang sering digunakan orang ketika kemping, yang “tuna rungu” diberi sumbat telinga, dan yang “tuna daksa”, tangan KANANnya diikat tali dan harus dimasukkan ke dalam kantong, “tidak dapat” digunakan selama 1 jam waktu istirahat kami, kecuali saat wudhu dan shalat.
            Awalnya saya senang karena bukan kaki kami yang “tidak berfungsi”. Tapi ternyata, hummm,, rasanya sediiiihhh sekali. Rasanya semuanya jadi sulit. Di kamar mandi, memakai jilbab setelah wudhu, memasang jam tangan, kaos kaki, semua dilakukan dengan 1 tangan, kiri pula. Untuk yang benar-benar sulit, seperti memasang peniti di jilbab, saya harus meminta tolong orang lain.
            Ketika shalat dan mengangkat kedua tangan saat takbir, tiba-tiba saya merasa bahagia sekali dan berharap shalat saya tidak pernah selesai. Bahagia karena mengetahui bahwa kedua tangan saya masih utuh!
            Rabbii, betapa selama ini kami lalai untuk bersyukur… astaghfirullah..
Depok, 8 Juni 2009

Monday, June 8, 2009

Seseorang Di Kereta

7:50 AM 6 Comments
         Rabu, 3 Juni 2009, BEM UI Sport With Faculty (BSWF) ke Salemba, lawan FKG. Kalau tulisan tentang Salemba sebelumnya bercerita tentang kegiatan Humas dan saatnya mengakrabkan diri dengan anak-anak Humas, kali ini saatnya get closer with Kremas-ers.
         Perjalanan yang menyenangkan bersama mereka. Turun dari kereta, seperti biasa kami berjalan menyusuri jalan kecil melewati rumah-rumah penduduk yang padat. Setelah itu kami menyusuri lorong-lorong membingungkan RSCM. Beberapa kali ke sana, aku yakin tak kunjung hafal jalan-jalannya. Lalu dengan ide seorang Idha (anak Kremas), “Direkam aja, Kak”, yak, kurekam, biar besok-besok bisa ga nyasar kalau nyusul ^^.
        Singkat cerita, kami sudah di perjalanan pulang kembali. Naik kereta ekonomi Jakarta tujuan Bogor pukul 19.00 dari Cikini. Biasa, ‘kereta pergaulan bebas’ kata dosen teman saya. pepet sana pepet sini, kanan-kiri-depan-belakang. Tapi yang patut disyukuri, kereta itu tidak sepadat biasanya yang bahkan tidak ada ruang untuk terjatuh meski anda berdiri dengan mengangkat kedua kaki. Masih ada ruang-ruang kosong,,, hanya, kereta itu mengalami trouble yang sangat sering. Berkali-kali tidak berjalan dalam waktu yang lama, sehingga udara panas luar biasa tanpa angin yang mungkin masuk bila kereta bergerak.
         Di kananku ada Nanda, anak Kremas angkatan 2007. Sepanjang jalan kami bercerita, menambah kebahagiaan kami hari itu. Kami mengingat kembali serunya masa-masa jadi tim sukses Tiko-Nanda dulu, saat kami baru kenal. “Haduh Kak, panas banget,” segera setiap Nanda mengucapkan itu, aku menimpali, “Tapi seneng khaan??” Selalu. Kadang, “Iya sih Kak, tapi pengap banget”, “Tapi seneng kaan?” lagi. pokoknya bagaimana caranya agar yang terakhir tersebut adalah hal positif! Masih terlalu banyak yang bisa dan harus kita syukuri, Dik…
       Ehm,, tapi yang menyebalkan adalah seseorang di samping kiriku. Ia mengeluh tak habis-habis. Memang tidak verbal, tapi cara ia menghembusan nafasnya luar biasa menyebalkan. Menambahk keruh suasana. Memang dia beristighfar, tapi entah dihayati atau tidak, yang terdengar hanya bernada menyalahkan keadaan, bukan memohon ampun. Pikirku, “Kalau ga mau panas pengap mah jangan naik kereta ekonomi Bogor malem-malem!”
      Saat mba-mba di depanku asyik sms-an sama cowok (ga sengaja kebaca beberapa smsnya. Hehehee..), aku dan Nanda mencoba bersyukur dengan bercerita hal-hal positif, orang itu (bapak-bapak bertubuh kecil) malah asyik dengan kenegatifannya. Padahal dengan mendengus berkali-kali kepanasan, dia akan semakin jengkel, toh?!
         Aku men-share-nya pada Nanda. Intinya:
Kalau tidak bisa memberikan solusi, paling tidak jangan menambahkan masalah!
     Karna, positif dan negatifnya kita bisa menular pada orang-orang di sekitar kita. Paling tidak kalau tidak bisa menularkan yang positif, jangan tularkan yang negatif.
       Huumm,, padahal sudah bapak-bapak,, tapi tidak terlihat bijak meski hanya untuk dirinya sendiri.
-Masih mengawas UMB dengan mata liar ^.^- 7 Juni 2009

Tiada Ide

7:49 AM 9 Comments
Bahkan tanpa ide pun kita bisa membuat tulisan. Yah, pada akhirnya terlintas ide menulis tentang ketiadaan ide.
Sebenarnya, ide itu apa sih? Kadang dengan seenaknya ia (atau mereka) datang berbondong-bondong tanpa membeli karcis, masuk seenaknya, tanpa bisa kita kendalikan.
Di saat yang lain, bisa saja ia (atau mereka) tak ada yang menghampiri kita walau satupun. Tega nian, apabila ia tak jua sudi datang bila kita sedang membutuhkannya, ia, atau mereka.
Jadi, ide itu makhluk jenis apa?
Sebenarnya, bisakah kita mengendalikan kedatangan ide? Secara kita adalah tuan rumah dimana otak itu ada di kepala kita. Ups, tapi otak itu bukan milik kita. Hanya dipinjamkan oleh Allah. Berarti, hanya Allah yang bisa mengendalikannya? Tidak juga, kan kita khalifatullah fil ardl. Jadi tergantung kitanya untuk mengendalikan semua “aset khalifah” yang telah Allah kasih. Dalam batas-batas tertentu pastinya.
Kembali ke topik: bisakah kita mengendalikan kedatangan ide-ide itu? Bisakah??
Bisa? Bagaimana caranya?
Tidak bisa? Kenapa??
Seingat yang pernah saya pelajari di mata kuliah Psikologi Faal di semester 3, saraf-saraf di otak itu akan semakin banyak seiring bertambahnya pengetahuan atau ilmu seseorang. Dengan kata lain, semakin sering otak kita dipakai untuk berpikir, maka semakin banyak jejak-jejak ingatan dan saraf di otak yang terjalin. Sebaliknya, semakin otak jarang digunakan untuk berpikir, maka jejak-jejak saraf yang ada akan membusuk (decay), lalu menghilang. Akhirnya, terjadilah apa yang biasa kita sebut “pikun”. Jadi, orang yang selalu belajar dan belajar sampai tua, wajarnya, tidak akan pikun.
Sama halnya dengan tubuh. Sebelum berolahraga, tubuh perlu melakukan pemanasan. Tujuannya agar tubuh SIAP untuk digerakkan karena sudah “panas”. Demikian juga dengan mesin.
Otak yang sering “panas” karena dipakai untuk berpikir, akan lebih siap untuk menerima “panas-panas” yang datang berikutnya: ide-ide untuk dipikirkan. Jadi,
  1. Kita bisa membiasakan otak untuk selalu SIAP menerima ide.
Uuhhmmm... rasanya belum menjawab (Ya iya lah, baru satu).

            Biasanya, orang yang biasa berpikir akan selalu punya ide untuk dipikirkan. Maksud saya, ia kana sangat jarang tidak punya ide, jarang sekali otaknya tumpul, dan... jarang sekali bengong. Wajahnya pun tidak mungkin planga-plongo. Sebaliknya, orang yang jarang belajar atau berpikir biasanya akan sering bengong. Jelas, karena otaknya tidak “panas”, tidak biasa untuk berpikir. Jadi,
  1. untuk meminimalkan ketidakdatangan si ide, sellau cari! Jangan menunggu ia datang. Aktif dong, cari! Bagaimana caranya? Bisa baca, diskusi, nonton, dll.. banyak banget.
Jadi (lagi),
  1. agar kita mudah mencari di mana si ide berada, kita harus SENSITIF.
Nah! Sebenarnya ini sih, intinya.
Orang yang kreatif, biasanya tidak pernah mengabaikan hal-hal kecil disekelilingnya. Karna ternyata, teman-teman, si ide itu ada di mana-mana! Tinggal kita yang harus sensitif menangkapnya.
Contoh… Ketika sedang tidak ada ide untuk menulis, bisa kan, dikaji, kenapa bisa sampai ide itu ada, tiada, datang, hilang, rombongan, sendiri, bahkan gaib? Contoh lain, ketika sedang mengawas ujian, pengawas guru di depan, dan pengawas mahasiswa di belakang. Ada ga sih, efek yang berbeda dengan keduanya di depan kanan-kiri, atau keduanya di belakang? Secara psikologis, mungkin…
Ya, sensitif. Berpikir globally itu penting, tapi untuk bertindak locally, artinya kita harus bisa juga berpikir lokal. Artinya: sensitif.
Naah, kan udah tuh, cara mengendalikan kedatangan ide dari 1 sisi,, harus sensitif agar ide tidak pernah tidak datang. Lalu, untuk mengendalikan ide-ide yang datang berombongan tanpa beli karcis hingga tak bisa dikontrol, bagaimana?
Sebenarnya, kawan, ide-ide yang membanjir itu patut kita syukuri. Salah satunya, dengan tidak membuangnya sia-sia, dan mempergunakannya sebaik mungkin. Maka, ketika ide datang membanjir: catat! Kalau kata ulama, “Ikat ilmu dengan mencatat”, maka kata saya yang naif ini (huekk), “Syukuri nikmat ide dengan mencatat”.
Catat saja. Kalau perlu buat tulisan agar bisa dimengerti oleh orang lain. Mudah-mudahan ide kita bisa mencerahkan banyak orang. Catat saja. Bahkan ketika kau tidak tahu untuk apa akan kau gunakan ide-ide yang melintas itu. Karna, kata teman saya yang skripsinya hampir selesai, “Kalau ada teori-teori yang sudah dikutip dan kata dosen sepertinya teori itu tidak perlu, jangan dihapus; nanti ujung-ujungnya akan terpakai juga”. Tidak jarang a.k.a sering seperti itu.
Tapi itu teori. Kalau kurang sreg, mari saya kasih contoh lain. Di semester-semester ‘muda’, saat skripsi belum jadi beban, biasanya banyak terlintas ide-ide penelitian yang menarik dan urgen; yang bisa saja sangat baik bila dijadikan skripsi kelak. Tapi biasanya juga, ketika deadline pengumpulan proposal skripsi sudah di pelupuk, tidak jarang mahasiswa yang masih bingung mencari topik penelitian. Nah, sayang khan, kalau ide-ide yang pernah ada tidak dicatat sesegera mungkin?! Menguap tak bersisa. So, syukuri nikmat ide dengan mencatat.
Selanjutnya, jangan malas. Jangan malas untuk mengeluarkan buku catatan dan pulpen untuk mencatat. Memang butuh effort. Tapi sebenarnya, semuanya butuh niat. Kemauan.
Gerakan Anti Malas.
-catatan pinggir saat mengawas UMB-
June 6th, 2009

Wednesday, June 3, 2009

BEMers Juga Manusia

2:27 PM 10 Comments
Olah raga memang membuat senang, karna ‘konon’ katanya –menurut ilmu faali— mengeluarkan hormon endorfin yang membuat kita merasa senang. Apatah lagi bila olah raga bersama  teman-teman seperjuangan tercintah. Hahah, dan olah raga yang dipilih pun sederhana, hanya lari-lari dan berteriak-teriak (maklum cewek, capean jerit-jeritannya daripada larinya). Full Fun!! Main galasin (gobak sodor bahasa Indonesianya), benteng, dan Kucing-Tikus! Seru bangett!!
Dalam main benteng pun, Kepala SPI (Satuan Pengendali Internal) masih bertanya dari benteng seberang, “Far, SOP-nya gimana nih, kalo udah ngenain masih bisa dikenain sama yang lainnya ga?” atau pertanyaan-pertanyaan teknis permainan anak-anak itu, ditanyakan dengan bahasa-bahasa berat. SOP, punishment, blablabla.
Jadi keliatan, ternyata parah banget para BEMers! Parah banget bedanya sama yang biasa terlihat maksudnya. Misal, kabir kestari yang terlihat sangat wanita sekali karna sangat lemah lembut, berhasil memecahkan rekor menjadi ‘tikus’, berlari paling jauh menghindari kejaran ‘kucing’ hingga membuat para pria terpana. Ya iyalah! Bahkan dia mengelilingi lapangan yang dipakai para pria itu dengan terus berlari!! Jauuuhhh banget. FYI, tempatnya di lapangan bola MIPA. Lapangan Bola boo… Dan banyak lagi BEMers yang biasanya terlihat kalem ternyata mantabh bangedh.. jadi terlihat agak ‘ganas’. Apalagi yang emang udah terlihat ganas, nampak makin ‘ganas’. Hehee… pis ah, BEMers sayang!
BEMers putrinya, rame banget! Emang capai banget sih, tapi kayaknya kontributor capai terbesar kami adalah tertawa dan menjerit. Hehe,, bukan olahraganya sendiri. Sedangkan BEMers putranya, kalau diperhatikan memang seru banget mainnya! Tapi tetep aja, ga akan melebihi hebohnya teriakan dan jeritan kami putri-putri BEMers. (Ya iyalah!!)
Untuk semua BEMers, terlihat memang ekspresinya puas banget. Kembali mainin permainan-permainan rakyat a.k.a permainan anak-anak dulu, melepaskan sejenak amanah berat yang sehari-hari disandang, jabatan-jabatan seperti Ketua Umum, Wakil Ketua, Koordinator Pusgerak, Bendahara Umum, Kepala Biro, Kepala Departemen, Staf Departemen dan Biro, semuanya menyatu dalam gerak dan tawa, hahaha.. kembali jadi anak-anak, memang menyenangkan. Dan memang perlu sesekali. Melepaskan penat sejenak, mengambil energi lagi, untuk kembali berjuang dengan penuh totalitas!
Maaf ya teman, kalo pada pegel-pegel…
Olah Raga Ceria d’First,
June 2, 2009

Aku dan Dirinya

2:24 PM 4 Comments
Gadis mamaku, senangnya berorganisasi. Demonstrasi, bersosialisasi, nambah jaringan, bahkan dulu senang sekali berhubungan dengan dunia sosial dan politik. Sekarang mah sudah ogah. Hehehee.. Oh iya, juga bela diri (karate), olahraga, hiking, dan kegiatan-kegiatan fisik lainnya. Sebenarnya ia suka kegiatan-kegiatan kewanitaan, seperti merajut, menjahit, desain interior, memasak…. Suka, ya. Tapi ia butuh usaha sangat keras untuk bisa “mempelajarinya”. Bahkan untuk sekedar “melakukannya”.
 Perjaka-nya mamaku, memang atlet karate tingkat nasional. Medali emasnya banyak, dipajang tergantung-gantung terpaku di dinding kamarnya.  Belum lagi yang selain emas. Ia juga jago renang, basket, dan satu lagi: ahli reparasi apapun. Cowok banget dah! Ganteng lagi. Hehehe… Tapi, ia sangat pandai memasak, rapi dalam menjahit, desain interior… Sebaliknya lagi, ia tidak cukup suka beraktivitas organisasi dan dinamika-dinamika di dalamnya.
 Bila ayahku menelepon anak gadisnya, “Di mana Dek?” Tidak peduli pagi, siang, sore, maghrib, ba’da maghrib bahkan, jawabannya sama, “Hehee, di kampus Yah…”
Sangat berbeda ketika anak laki-lakinya yang ditelepon, “Di mana Kak?” Hampir selalu, “Di kosan Yah…”
 Rasanya, hampir semua yang ada pada mamaku menurun pada anak laki-lakinya. Dan yang ada pada ayahku, menurun pada anak perempuannya. Dari wajah, keahlian, sifat… Untungnya badan nggak.. Tapi sifat keras kepala, keduanya dapat. Mamaku jago masak, cuek, tidak romantis apalagi puitis, kepribadian tipe B (let all flow..); menurun pada anak lelakinya. Sedangkan ayahku cukup puitis dan nyastra, tidak pernah melewatkan hal-hal sekecil apapun (detailer), berkepribadian tipe A (semua serba terencana, tepat waktu), senang organisasi, bakat leader; menurun pada anak gadisnya. Seeeemuanya.
 Hwaaahh,, teman.. Itulah anugrah. Terserah Tuhan dong, mau ngasih apa pada siapa. Toh Dia yang Maha segala… Tak perlu mempedulikan apalagi harus mengikuti stereotype masyarakat mengenai peran gender dan harapan-harapan untuk keduanya.
 Mungkin, ladang-ladang pahala untuk belajar itu sengaja Allah bukakan untuk kami, agar jadi manusia yang ‘lebih’. Alhamdulillah =)
Bekasi dan Depok,
June 3rd, 2009

Pak, Ada Uang Receh?

2:22 PM 3 Comments
Waktu masih semester 4, mata kuliah Psikologi Kepribadian 2, kami sedikit membahas tentang learned helplessness. Putus asa yang dipelajari. Sang dosen meminta kami mencari contoh. Hampir semua contoh yang dikemukakan benar, namun tidak sesuai dengan mau si dosen yang memberikan clue: “di dekat kita banyak sekali lho…” Semua contoh yang ada dianggapnya terlalu memenara gading, mencerminkan anak-anak UI sekarang. Ada yang menyebutkan dirinya sendiri, tokoh-tokoh ternama, artis, ilmuwan, bahkan Ibnu Khaldun.
Tak berhasil ditebak, sang dosen akhirnya menjawab clue-nya sendiri. Pengemis. Betapa seringnya mereka menemui keputusasaan dalam usaha-usaha mereka yang lebih produktif sebelumnya, dengan daya lenting (resiliensi) yang belum cukup mereka miliki, akhirnya pasrah mengharapkan uluran tangan orang lain yang murah hati. Daya lenting, maksudnya kemampuan mereka untuk kembali fight setelah mengalami kegagalan.

Jumat pagi, 2 pekan yang lalu, saya berencana untuk “pergi ke suatu tempat” bersama beberapa orang staf saya yang semuanya perempuan. Setelah kami berkumpul dan tinggal menunggu  1 orang terakhir, kami berpencar sebentar. Ada yang membeli minum sebotol besar ke indomart Kober, sedangkan saya dan 1 orang yang lain masuk ke gang sawo untuk membeli roti goreng Medan, sekalian memecah uang untuk ongkos.
Semuanya Rp5.000,00. Kukeluarkan selembar uang Rp50.000,00 yang ingin dipecah. Sang penjual mengambilnya, dan tanpa banyak pikir menghampiri seorang pengemis yang sedang duduk tak jauh dari situ. Menghampiri seorang pengemis, menukarkan uang! Kakek-kakek pengemis itu tidak punya. Tanpa perlu waktu untuk berpikir, sang abang menghampiri pengemis lainnya, kali ini nenek-nenek. Ada!
Lima puluh ribu rupiah, dengan pecahan 2 lembar 20.000an dan 1 lembar 10.000. Sepagi itu, kira-kira pukul 07.15, dari buntalan kain seorang pengemis. Padahal hanya jarak selangkah dari gerobak roti goreng itu ada banyak gerobak pedagang lain. Mungkin mereka belum dapat segitu banyak pagi-pagi, tapi pengemis itu bahkan membawa bekal 50.000! itu yang terlihat. Belum lagi yang tidak, mungkin saja bila saya ingin menukarkan 100.000….
(silahkan menyimpulkan pikiran masing-masing)
Yang jelas, saya begitu shock-nya melihat ‘adegan’ itu sehingga ketika melewati kedua pengemis tadi, sama sekali tidak ada keinginan untuk memberi. Saya ilfeel. Ilang feeling. Setelah itu tanpa rasa malu sedikitpun (atau memori bahwa uang saya-lah yang tadi ditukarkan padanya melalui abang roti goreng), pengemis itu masih saja meminta pada saya yang bahkan menoleh pun tidak ingin, dengan ekspresi yang, entahlah, sangat tidak menyenangkan, seakan saya berdosa sangat telah membuka aibnya (punya uang minimal 50.000 pagi-pagi).
Hummmmmmmmmmheeemmmmmmmmmmmmm……. Betapaohbetapa……………

Depok pagi hari,
3 Juni 2009

Tuesday, May 19, 2009

Pasar Malam Hari

11:19 AM 7 Comments
        Apa yang terlintas dalam benak anda ketika mendengar kata ‘suasana pasar di malam hari’? Bukan, bukan pasar malam. Pasar sayuran terutama. Gelap, suram, kotor, suara musik menghentak-hentak, orang-orang seram, mabuk, menyeramkan, hingga anak gadis dilarang melintasi pasar malam-malam oleh orang tuanya? Humm.. mungkin itu benak anda. Atau saya?
Senin malam, saya dan ibu saya pulang naik angkot sampai Pasar Kranji. Kami berencana melanjutkan perjalanan pulang dengan becak sampai rumah. What’s a pity, jalan menuju rumah saya ada di belakang pasar itu. Begitupun abang-abang becak.
Awalnya saya sudah membayangkan yang seram-seram ketika harus melintas masuk pasar. Yah, lebih kurang seperti sedikit gambaran di awal. Tapi ternyata,

Subhanallah. Taukah, Pasar Kranji malam hari jauh lebih tertib dibandingkan dengan pagi atau siang harinya. Lebih bersih bahkan. Tidak ada tumpukan sampah seperti biasanya. Tidak ada satupun tape yang diputar kencang-kencang. Hanya ada suara orang bertransaksi yang tidak ribut. Tidak pula preman-preman pasar yang beringas dan besar-besar. Yang ada hanya pembeli dan para pedagang yang kalem-kalem. Mungkin justru mereka baru keluar dari peraduannya, memulai hari di waktu malam.

Entah kenapa, aku terpesona. Hanya karena melihat pemandangan pasar malam itu…
Tapi, lebih dari itu ternyata. Atas hal-hal yang belum kita ketahui,
Kawan, berapa sering kita berprasangka buruk?
Depok Pagi Hari,
19 Mei 2009

Simponi Malam

11:12 AM 5 Comments
Simponi Malam
Sebuah nasyid dari Gradasi menggambarkan keindahan malam, sebagai berikut:
Cahya tembaga semburat di barat kala mentari jelang peraduannya.
Rona merah memerah dan memudar, dan kegelapan pun menumpah bumi
Lantang bernyanyi, mengharu malam, sang jengkrik halau sunyi mencekam
Merdu berlagu, “Meruah kelam…”
Sang burung hantu usik keremangan…

Berjuta gemintang menjalin rasi, konstelasi di langit tanpa batas
Berhias rembulan sabit bercahya bak perahu melayari samudra..
Luasnya semesta …. Agungnya pencipta …. Maha kuasa…
Allah… Allah… Allah…

Malam ini berjalan bersama orang tuaku menjenguk tetangga yang sakit, berjalan kaki pastinya. Di perjalanan pulang aku iseng bertanya, “Kok selama di rumah ini ga pernah ngeliat bulan or matahari terbit or pelangi ya?” karna kami baru menempati rumah yang sekarang kurang lebih 1,5 tahun. Lalu tiba-tiba aku teringat 2 kata: simponi malam.
Entah kenapa aku ingin membandingkan Simponi Malamnya Gradasi di atas dengan Simponi Malam versiku. Simponi yang kunikmati tiap malam-malam di akhir pekan dari kamarku. Hhuummm.. jauh berbeda ternyata.
Ibuku sulit tidur jika di kamarku. Berisik, katanya. Tapi kok aku enjoy aja yah? Haha.. secara kalo udah tidur hanya Allah yang kuasa membangunkanku dengan kehendak-Nya =D
Kamarku, berisik. Itu benar. Apalagi kalau malam minggu. Motor, mobil, suara orang-orang yang berjalan kaki… kalau ada orang menelepon dan aku sedang di kamar, pasti deh nanyanya, “Lagi di mana sih Far? Rame amat…” mereka lantas menyangka aku berada di pinggir jalan. Memang benar, kamarku memang ‘di pinggir jalan’.
Tapi, lambat laun aku menikmati. Indera-inderaku beradaptasi secara otomatis. Dan yang terpenting… aku tetap bisa beristirahat dengan nyenyak dan nyaman di kamar. Hwehwehwee…
Malam memang simponi. Namun, apa sih definisi simponi itu? Aku tak tahu. Bagiku, simponi adalah sesuatu yang indah. Mungkin irama, atau lagu. Yang mungkin saja merupakan gabungan dari suara-suara yang biasa saja atau bahkan tidak indah. Tapi karna mereka bersinergi, simponi terjadi dan, indah.
Meskipun berisik, bagiku, itulah simponi malamku, yang bagaimanapun senantiasa menyadarkan bahwa aku ada di bumi manusia. Di sini aku dilahirkan dan di sinilah tempatku berbuat.
Bercita untuk berbuat yang terbaik
Bekasi, May 17th , 2009

Thursday, May 14, 2009

Trip To Skrip… (si)

10:44 AM 7 Comments
Marunda
Entah kenapa akhir-akhir ini sedang ingin menulis mengenai perjalanan. Melulu perjalanan. Setelah beberapa minggu off nulis (ngetik/nge-blog), jadi ngerapel juga nih hari ini, mumpung libur.
Rabu lalu (May 6th, 2009) kusambut pagi dengan dag-dig-dug. Berbekal sms dari teman berisi rute bis dan angkot menuju Marunda, demi kebermanfaatan jangka panjang skripsiku (halllaaahh..). Bismillah.. padahal entah apa yang akan kulakukan setibanya di sana: mencari rumah pak RT-kah, mencari warung kah, atau mencari rumah si Pitung bahkan… belum jelas hingga kakiku melangkah menuju Damai menunggu bis jurusan Priuk. Ketika menunggu, alhamdulillah tekadku terbulatkan melalui pertemuan dengan seorang teman yang juga sedang menunggu bis. Kuceritakan ke-abstrak-an pikiranku menuju Marunda (dengan tanggapan, ‘Jauh bangeeettt’), mengenai bagaimana aku bisa menggali masalah-masalah yang dialami penduduk di sana. Bismillah, aku mencari rumah pak RT atau warung, mana sajalah yang kutemui lebih dulu!
Perkiraan waktu dari temanku yang menunjuki rute via sms itu tepat. Dalam 2 jam aku sampai akhir rute angkot dari Cilincing menuju Marunda Lama. Turun, aku berjalan,,, mencari pemukiman penduduk,, tengah hari bolong,, di kawasan industri yang debunya luar biasa. Masuk ke sebuah gang, berjalan lagi, hingga akhirnya yang lebih dulu kutemui adalah warung. Pas banget lagi haus, beli pop ice sambil ngobrol sama ibu-ibu di sana. Ngalor, ngidul, keluarga, profesi, sejarah Marunda, barulah terungkap bahwa yang kudatangi bukanlah Marunda yang bersejarah yang kumaksud. Ternyata aku sudah di Bulak Turi. Pantesan,,, menurut data yang kudapat, pencaharian sebagian masyarakat sana adalah nelayan.. tapi kata ibu-ibu itu kebanyakan karyawan… Hyaaahh,, akhirnya kubeli lah beberapa renteng pop ice sebagai balas jasa atas informasinya, lalu aku pamit. Menuju Marunda yang “sebenarnya”.
Kutelepon temanku, dia baru bilang kalau aku turun angkot terlalu jauh. Fiiuuhh,, habis aku tidak tahu harus turun di mana. Ya sudah, aku naik lagi angkot yang tadi, turun di rumah susun setelah STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran). FYI, panas sekali saat itu, sodara-sodarah!! Tapi berbekal tekad demi masa depan, BISMILLAH, kuarungi kembali udara-udara penuh debu polusi (lebaaii). Turun angkot, menurut informasi tukang martabak keliling, arah Marunda Pulo adalah lurus bukan belok ke arah rumah susun.
Aku sempat terpikir untuk mengubah subjek penelitianku menjadi warga rumah susun itu, tapi urung ketika beberapa langkah lagi sampai ke “gerbang” bambu bertuliskan “Welcome to Kampoeng Maroenda”, yang membuatku mempunyai kesan, “Di balik gerbang itu ada dunia lain!” dalam pikiranku ada sebuah cagar budaya, masyarakat asli dengan kehidupannya yang berbeda dari sekitarnya. Langsung kukeluarkan handphone, dan aku yang mulai bete kepanasan jadi bergairah kembali =D serasa sebentar lagi jadi turis.
Benar saja, baru 2 langkah memasuki ‘dunia itu’, aku langsung diterpa angin laut yang sangat segaaarrr… bebas polusi so pasti. Seketika itu juga aku jadi bergairah. Lupa panas dan penat yang dari tadi hinggap. Selamat datang skripsi!!
Gerbang itu disambung dengan jembatan di atas air sepanjang kurang lebih 10 meter dengan lebar 1 meter yang bisa dilewati motor. Di kanan dan kiri jembatan itu banyak kios-kios di atas air, bahkan ada rumah dengan bangunan seperti permanen (tembok), tapi di atas bambu-bambu di atas air! Aku takjub... Di perairan sekelilingnya, kutemui rumpun-rumpun bakau. Subhanallah,, aku baru pertama kali melihat bakau in front of my eyes!!
Berjalan terus lurus, di depan aku melihat ada rumah panggung besar bercat merah kecoklatan (atau coklat kemerahan?). Kutanya seorang adik kecil di sana, “De, ini ‘rumah si Pitung’ itu ya?” “Iya mbak, masuknya dari belakang”. Hwaaa,,, aku benar-benar merasa jadi turis! Langsung asik foto-foto deh ^^.
Aku terus berjalan, menyusuri rumah-rumah penduduk yang sangat sederhana… eh, ada juga yang lumayan bagus kok. Hingga menemukan sebuah –lagi-lagi— warung yang cukup lengkap sepertinya, trus beli roti, trus ngobrooollll… nah, ini dia ternyata, The Real Marunda! Mayoritas penduduknya nelayan ‘yang tiap hari dapat duit’ dari hasil melaut, yang berimbas pada kesadaran pendidikan yang belum tinggi. Kok bisa? Ya, karena tiap hari mereka selalu mendapat uang segar, mereka tidak biasa mengatur keuangan seperti halnya karyawan yang digaji hanya sebulan sekali; ‘gimana caranya biar nih duit cukup buat idup keluarga sebulan’. Itu juga sebabnya mengapa –ternyata— gaya hidup mereka konsumtif. Juga, karena tidak terbiasa mengatur keuangan, tidak biasa menabung, akhirnya sulit menyekolahkan anak-anak mereka ke tingkat yang lebih tinggi. Apalagi Marunda Pulo jauh dari mana-mana, jadi meskipun biaya sekolah gratis, ongkos kan tidak gratis… gittuuhh… Tapi itu hanya sekelumit dari isi perbincanganku dengan ibu-ibu pemilik warung di sana.
Setelah kurasa cukup, aku pamit dan kembali ‘berwisata’. Ah, aku belum ke masjid Al-Alam, yang konon katanya masjid itu tidak pernah dibangun, tapi dengan ajaib bisa ada. Dan katanya sih si Pitung pernah shalat di sana (pertanyaanku, terus kenapa?). Lagi-lagi, aku menyusuri pinggir laut utara Jawa, menikmati hembusan anginnya yang menyenangkan, menuju Masjid Al-Alam. Aku menyusuri jalan setapak, tampak masih baru diaspal, langsung berbatasan dengan perairan (yang ternyata empang, bukan laut!! Gede banget abisnya, kirain nyambung ama Laut Jawa) yang sepertinya berair payau, masih dengan sedikit bakau-bakau. Konon katanya, di sana banyak hutan bakau yang lebaaattt… tapi sekarang tinggal sedikit tersisa, sayang.
Jalan yang kulewati tidak lebar, kira-kira 1,5 meter saja, tapi panjang. Di kanan air, kirinya dibatasi oleh pagar seng sepanjang jalan itu. Di sepanjang jalan, aku melihat sesuatu yang menurutku agak ganjil. Beberapa orang menyandarkan sepedanya ke pagar seng tersebut, lalu berdiri di atas sepeda yang tersandar itu, menghadap kedalam pagar (lihat orang-orang di belakangku ). Penasaran, kuangkat tinggi-tinggi handphone-ku hingga lebih tinggi dari pagar seng, lalu kupotret dalamnya pagar seng itu. Yang kudapat, hanya gambar sampah-sampah mengambang di air. Tak puas, aku menemukan sebuah lubang di pagar seng itu. Aku pun mengintip.
O,ow,, ternyata di dalamnya adalah empang juga!! Dan orang-orang itu sedang memancing!! Bayangkan… betapa pegalnya (lhoh?). menurut informasi yang kudapat dari seorang bapak-bapak yang melintas dan memang berniat melakukan hal yang sama (memancing dari atas sepeda, wew), memang banyak orang yang suka memancing di sana, meskipun ‘terlihat’ ilegal dan ngumpet-ngumpet.
Tapi sayang,, karena waktu tak mengizinkan dan kulihat masjid Al-Alam masih jauh di sana (meski atapnya merah sudah terlihat), aku mengurungkan niat untuk mengunjunginya. Sudah sore. Akupun memutar haluan kakiku untuk pulang. Berat meninggalkan kesenangan berada di sana, namun, ‘ah, masih banyak waktu besok-besok’ kupikir. Kalau jadi penelitian di Marunda kan akan sering ke sana berarti.
Lalu aku bertemu dengan adik temanku yang menunjuki jalan ke Marunda itu. Temanku itu ikhwan, adiknya akhwat, masih SMA. Tapi ya Allah, rasanya aku melihat ikhwan itu memakai jilbab =D saking miripnya kakak-beradik itu. Ada yang tau siapa?
Satu hal yang membuatku tak habis pikir. Sepanjang jalan yang kulalui adalah kawasan industri, banyak pabrik-pabrik, jalanan aspal yang debunya ‘dinaikdaunkan’ oleh truk-truk besar penuh muatan. Luar biasa polusinya. Hingga ke terminal Tj. Priuk. Tapi kuperhatikan, sepanjang jalan, hanya aku yang menutup hidung atau wajah dengan tissue. Sensory adaptation yang menyedihkan… bahkan aku baru bebas bernapas dan melepas hidung dan wajah dari penutup apapun setelah duduk di patas AC yang membawaku kembali ke dunia nyata: Depok perjuangan.
Alhamdulillah..
Bekasi tercinta, May 10th 2009

Marunda, Trip To Skrip (si)

10:37 AM 0 Comments

gerbang 'dunia lain', Marunda Pulo

perjalanan yang entah, bermodalkan tekad, seorang diri... diawali dengan kebingungan dan gondok dengan polusi berat, diakhiri dengan menjadi turis =)

Wednesday, May 13, 2009

Salemba

11:20 AM 6 Comments
Salemba…
Betapa perjalanan itu mengakrabkan, seperti hadits nabi. Aku suka Salemba. Salemba bagiku saat ini berarti perjalanan bersama BEMers. BEMers tercintah. Pertama kali merasakan “indahnya” Salemba adalah ketika kunjungan pertama BPH ke FK dan FKG. Tidak semua, memang. Bahkan BPH putrinya hanya aku dan Dita (danus). Tapi bagiku yang merupakan new comer, perjalanan bersama teman-teman  baru itu sangat menyenangkan. (Hehee,, dari tadi isinya menyenangkan mulu, ga ada ide pikiran lain)
Perjalanan kedua kami adalah waktu BEM Sport With Faculty, waktu itu futsal lawan FK. Tidak penting memang kalah atau menang (karena selama ini kami kalah mulu. Hheee..), selain silaturrahim dengan FKers, bagiku itu momen sangat berharga untuk PDKT dengan BEMers, terutama waktu itu anak-anak Kremas (Kreasi Mahasiswa).  13 – 4 skor waktu itu. BEM UI, tepat, 2 gol di awal, 2 gol di akhir ^^. Dari target kami SERI waktu itu. Tapi sekali lagi,,, yang penting senang =D
Ketiga adalah BGTF (BEM Goes To Faculty) kerjaannya Biro Humas. Waktu itu BGTF rapelan, 2 fakultas sekaligus, FK-FKG. Fiiuhhh,, yang ini ajang mengakrabkan diri dengan BPH dan tentunya para staf yang banyak hadir, terutama anak-anak Humas. Berbagi cerita dan keluh dengan para kepala PSDM di 2 fakultas tersebut, ternyata masalah kami relatif sama. Tapi FKG merasa lebih enjoy dengan kondisi SDMnya, saat si kabir FK terlihat pyusssiiinggg banggettss.. jadi merasa punya banyak teman senasib =D Hyah, betapa rumitnya manusia… Alhamdulillah waktu itu aku sudah sembuh dengan ke-BT-anku ngurus masalah SDM yang ga abis-abis (meski masalah belum juga selesai, hhe..). tapi tetep mesti jaim dong, BEM UI gituh..
Review, May 10th 2009

20 Jam Bersama Deputi *panjang, ga dibaca juga gapapa, cuma pengen cerita*

9:37 AM 4 Comments
“Ini, orang apa bukan sih?” kata Dedi waktu mereka ulang awal mula kehadiranku dan deputi di villa itu. Jam 7 pagi hari Sabtu baru ditelepon, rencananya diminta mengisi acara hari Minggu. Tapi “orang ini” malah minta malam itu juga. Maksudnya aku, berdasarkan pertimbangan kondisi fisik dan psikologis =).
Awalnya, aku panik luar biasa. Acara yang kupikir dibatalkan karna tak kunjung ada berita, ternyata jadi! Aku juga sih, yang meminta acaranya malam itu juga... Ketika diberitahu di sana tidak ada laptop, aku nyengir sendirian, ‘laptop sih ada, tapi materinya yang belum ada’. Panik aku mencari-cari orang yang bisa menemani. BPH BEM, teman kosan, adik kelas, semua sulit. Dan, ah! Kenapa tidak mengajak deputiku saja???
Tak dinyana, tanpa banyak tanya, deputiku itu langsung menyanggupi, “Mau Kak!” padahal aku yakin 100%, dia juga ga tau apa yang mau disampaikan xP

Sebelum berangkat ke Depok, aku menelepon beberapa orang, meminta masukan materi. Satu diantaranya adalah orang yang mendelegasikan kami untuk mengisi acara ini (KetUm BEM UI). Bismillah, hanya dengan sedikit gambaran konsep dan uang saku yang ngepas ongkos juga, aku berangkat.
Singkat cerita, aku bertemu dengan deputiku itu (namanya Dhila) pukul 12.15. bergegas dari kosannya ke stasiun UI, memesan Pakuan. Yang penting cepat dan ga macet!! Alhamdulillah ga lama, kereta datang. Dengan sangat nyamannya kami menyingkirkan tas ke bangku sebelah, lalu berdiskusi dan mencatat, bagaimana alur penyampaian materi nanti malam. Sampai stasiun Bogor sesuai target, bahkan sebelum target. Jadi, makan dulu lah ya... Trus naik angkot.. Masya Allah, itu masih sangat siang, jam14 kurang, maceeettt luar biasa. Di L300, angkutan ke-3 yang kami naiki, kami bertualang luar biasa. Melewati jalur alternatif, sempit, menanjak sangat curam, menurun, bagai roller coaster,, parah banget dah! Alhamdulillah, setelah sekian lama kami terjepit dan L300 mulai meniti jalan utama, kami melihat secercah harapan (halah), Masjid At-Ta’awun! Masjid gede yang di puncak menuju Bandung itu lhoh... Jauh ya?? Nah, dengan adanya petunjuk masjid itu, kami berpikir, ‘sebentar lagi sampai’. Kukirimlah sms pada Dedi untuk menjemput kami. Tapiii... jauh ternyata dari masjid itu! Hwaa..
Dedi bilang, kalau tidak macet, ya, 1 jam-lah dari stasiun Bogor... Tapi kami menghabiskan 3 jam saudara-saudara! Alhamdulillah.. menyenangkan sekali ketika turun... Tubuh rasanya legaa..tidak ada yang menghimpit kanan-kiri. Udara dingin... pemandangan indah.. ga lupa foto dooongg.. =)
Sepanjang perjalanan yang sangat panjang di L300, kami banyak bercerita. Dasar emang kami tuh udah dari sananya cerewet kali ya... Jadi ga abis-abis.. Cerita tentang kami dahulu, di daerahnya di Medan, kampung mamaku, dll. Sesekali kami terdiam, merenung masing-masing, lalu bertatapan, “Hwaaa... apaan nih gamesnya??!!” Masih merancang bahkan...
Alhamdulillah sampai villa pukul 17.00. Tegur sapa bentar, langsung shalat ashar. Dhila langsung kuminta buka laptop, mensistematiskan pikiran-pikiran kami sepanjang perjalanan tadi, membuat power point. Trus aku ngobrol bentar ama Dedi, terkait persiapan acara ba’da maghrib nanti. Trus, langsung masuk kamar dan berkutat kembali dengan laptop.
Akhirnya! Selesai juga! Walaupun, kami akui sangat, cukup minimalis. Sesuai dengan waktu yang ada untuk bersiap.  Dengan kami yang belum berpengalaman.. mata adik-adik panti yang sudah mulai kiyep-kiyep, lengkaplah sudah.. tinggal niat yang menguatkan. Tapi entah, katika kami meminta feed back usai acara pada Dedi dan temannya Toto, katanya bagus kok. Pas ngenanya, soalnya itulah yang sangat kurang dari mereka: keberanian untuk bermimpi. Mereka cuma ngasih feedback, besok-besok mungkin pake video... Yups. Kami dapat dengan sangat mudah menebaknya. Ah, ya sudahlah.. pelajaran. Sampai pulang pun, kami masih sering nyengir-nyengir kalo inget performa kami malam itu =D
Malam minggu itu, kami tidur dengan posisi entah, meringkuk-ringkuk seperti bayi dalam kandungan, beramai-ramai dengan adik-adik panti di sebuah kamar. Esok subuhnya, seperti dugaanku, aku orang pertama yang terjaga. Semua kesiangan! Pantas saja karna mereka tidur sangat larut ba’da acara senang-senang malam itu. Untung kami ga ikut.. ga lama setelah dikasih kamar, langsung beres-beres, dan, terlelap lah kami.
Kira-kira jam 6 pagi kami pamit. Alhamdulillah dengan bertabur doa dari ibu-ibu pengurus panti,, aamin, aamin, aamin… Rencananya sih kami mau jalan sampai ke depan, menikmati dinginnya udara di sana dan sekalian, foto-foto. Hehehh.. Tapi Dedi dan temannya memilih mengantarkan, jauh katanya. Seperti datang kemarin, aku membonceng deputiku, dan Dedi dibonceng temannya dan membawakan tasku yang cukup berat. Ternyata memang, jauh =P
Kami menolak sarapan dulu di villa sebelum pulang. Alasannya karna buru-buru, dan, malu ah, yang lain belum ada yang makan. Tapi udara dingin turut mendukung kelaparan kami. Pas banget nemu indomart. Beli sarapan lah kami di sana. Tapi, eh, di depan ada yang jual gemblong. Menggiurkan. Beli juga deh =D
Tidak lama, L300 datang. Di sepanjang jalan yang sangat lancar dan sepi, kami asyik mereview perjalanan kami sejak kemarin, di alam pikiran masing-masing. Masih saja tersenyum-senyum sendiri, mengingat kedodolan semalam, ah, malu kalo inget. Tapi menyenangkan, sangat. Lagi-lagi seperti berangkat, sesekali kami bertatapan sambil tetap senyum-senyum, terus, tertawa lagi ingat semalam. Dudul, dudulll,,,
Dan ternyata benar! Hanya 1 jam kami L300! Yang bikin lama macetnya ternyata. Parah banget…
Oh my deputy,,, how I love our journey. And how I love you =)
Bogor-Depok-Bekasi,
April 12th, 2009