Follow Us @farahzu

Monday, May 30, 2022

Pachinko (Book Review)

11:56 AM 0 Comments

Judul Buku: Pachinko

Penulis: Min Jin Lee

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman: 576 halaman

Tahun terbit: 2019

Pachinko
dok: pribadi
 
Pachinko Review
kiri: cover lama ; kanan: cover baru


Hello Readers, Assalamualaikum!

Saya baru saja menamatkan sebuah buku fiksi sejarah yang sangat menarik dan berkesan buat saya. Saya membaca e-book Pachinko ini dari aplikasi Gramedia Digital; jadi resmi ya, no nyolong-nyolong. Novel ini menceritakan tentang kehidupan sebuah keluarga Korea selama 80 tahun dan 4 generasi. Dimulai pada masa kolonisasi Jepang atas Korea hingga tahun 1989. Ringkasnya, kehidupan sebuah keluarga Korea di Jepang pada masanya.

Tokoh utama dalam novel ini bernama Kim Sunja, perempuan Korea, pada saat di muka bumi ini hanya ada 1 Korea. Lalu ia pindah ke Jepang dan meneruskan hidupnya melalui semua masa sulit dan (akhirnya mulai) lapang di negara itu.

Baca Juga: Kim Ji Yeong; Lahir Tahun 1982

Novel ini banyak mengangkat tentang diskriminasi dan prasangka buruk yang dialami oleh warga Korea di Jepang. Beberapa bertahan dan nampak baik-baik saja, tetap menerima kehidupan yang keras sebagai makanan sehari-hari yang mau tidak mau harus mereka telan. Noa, anak pertama Sunja menekankan pada dirinya dan adiknya, “Orang Korea tidak boleh berbuat kesalahan”, karena orang Korea yang baik saja sudah dianggap buruk, apalagi yang tidak baik. Tapi menurut tokoh yang lain, “Tidak penting menjadi Orang Korea yang baik, karena sama saja akan dianggap buruk juga”. Syedih ya Gais…

Selain diskriminasi dan prasangka, saya juga menggarisbawahi tentang identitas dan penerimaan diri. Bagi orang-orang tertentu, memiliki identitas yang jelas dan tidak membawa aib nampaknya sangat menjadi isu, sehingga ia tidak takut menghilangkan nyawanya hanya karena tidak mendapatkannya. Namun bagi sebagian yang lain, yang pasrah menerima dirinya, latar belakangnya yang tidak bisa ia ubah sebagai takdir yang harus diterima, bisa hidup dengan lebih baik. Orang golongan kedua ini fokus membangun masa depannya dan tutup kuping pada omongan orang-orang yang tidak perlu. Dia hanya perlu membuktikan dirinya berhasil, bisa mengangkat kehidupan keluarganya, dan membangun masa depan yang cerah untuk anak keturunannya.  

Menurut saya novel ini sangat kaya. Mulai dari alur dan tokohnya yang saya ga bisa nebak bakal gimana, juga kaya secara emosional; saya bisa merasa degdegan, happy, sedih, haru, kecewa, penasaran, marah, sakit hati, ga bisa terima, dan pasrah—selama membaca buku ini. Warbyasa kan? Selain itu, buku ini juga sangat kaya informasi, baik fakta sejarah yang objektif maupun subjektif berdasarkan persepsi para tokohnya. Ternyata dalam pembuatan novel ini, penulis memang melibatkan riset panjang yang tidak main-main lho. Sebagai penggemar bacaan sejarah, buat saya buku ini jempol banget!

Bahasa novel ini kaku menurut saya, mungkin karena ini terjemahan, meskipun banyak juga karya terjemahan yang tidak kaku sih. Tapi karena ceritanya menarik, saya suka sekali membacanya, apalagi ketika baru menyadari di tengah cerita, kalau buku ini tebalnya lebih dari 500 halaman. Hepi banget, berarti selesainya masih lama wkwkwkwk…

Penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga, alias penulis sebagai ‘tuhan’ yang mengetahui segalanya, bahkan isi hati semua tokohnya. Buat saya cerita setebal ini isinya daging semua. Semua tokohnya penting, sedikit sekali nama yang jadi ‘figuran’ sepanjang kisah ini. Sebelum menyelesaikan membaca, saya sudah merasa puas, dan alhamdulillah tetap puas sampai menemukan ending cerita ini. Selamat Min Jin Lee! (sok kenal)  

Wednesday, May 25, 2022

Book Review: Bekisar Merah – Ahmad Tohari

6:48 AM 0 Comments

Judul: Bekisar Merah

Genre: Fiksi

Author: Ahmad Tohari, 1993

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman: 360 halaman


Assalamualaikum! Apa kabar Readers?

Ada masanya, saya mengisi waktu dengan menikmati karya-karya sastrawan angkatan lalu. Salah satunya Ahmad Tohari dengan novel Bekisar Merahnya.

Bekisar adalah jenis ayam hasil persilangan yang berharga mahal dan sering dikonteskan.


Novel ini berlatar tahun-tahun awal kemerdekaan Indonesia, saat masih dipimpin oleh Presiden Soekarno. Isinya bercerita tentang seorang gadis desa yang berperawakan mirip Jepang, karena ayahnya memang tentara Jepang. Dia cantik dan kecantikannya sangat menonjol. Namanya Lasi.


Awalnya ia seorang istri dari pemuda kampung yang miskin dan biasa saja, hidup dengan bersahaja dan setia. Namun ia harus menelan kecewa karena kekhilafan suaminya yang tak termaafkan. Lasi pun kabur ke Jakarta, dan terjerumus pada ‘bisnis’ yang tak pernah dipahaminya dengan kepolosan pandangannya. Ia menjadi wanita simpanan pejabat dan sempat dipindahtangankan kepada pejabat lain yang menginginkannya, yang lebih berkuasa daripada pejabat sebelumnya. Lasi yang cantik berdarah Jepang ini menjadi ‘incaran’ di kalangan pejabat, terkait dengan pemimpin negara yang belum lama menikahi seorang wanita Jepang (hayooo siapa yang jadi auto-browsing??).


Singkat cerita, ia menemukan cinta sejatinya (bernama Kanjat) di desa kelahirannya, lalu menikah. Ia sempat diculik kembali ke Jakarta dan pada akhirnya sang suami berhasil membebaskannya. 


Novel ini menceritakan kenyataan hidup yang sangat susah bagi rakyat kecil, di tengah alam yang terbatas dan hasilnya hanya dihargai dengan sangat murah.  Karangsoga, desa tempat Lasi tumbuh, menikah pertama kali, dan kembali ketika menemukan cintanya, adalah sebuah desa penghasil gula kelapa (gula merah). Para penyadap nira kelapa harus naik ke pohon-pohon kelapa yang sangat tinggi, mempertaruhkan nyawa, dan membawa nira yang diolah para istri di rumah sehingga bisa dijual pada tengkulak, yang sesukanya menetapkan dan menaik-turunkan harga gula. Namun mereka, masyarakat penyadap itu tidak punya pilihan lain. Tanah mereka tidak cukup subur untuk ditanami padi atau komoditas lainnya. Mata pencaharian lainnya sangat sulit ditemukan di sana.


Berbeda dengan kehidupan Lasi ketika di Jakarta, fasilitas yang dinikmatinya bagaikan langit dan bumi dengan apa yang bisa dinikmatinya di Karangsoga. Betapa mewah dan seperti tak terbatas.


Orang-orang kaya seperti tengkulak dan jaringannya hingga kota besar seperti Jakarta, sesungguhnya berhutang pada orang-orang terpinggirkan seperti masyarakat penyadap di Karangsoga. Mereka menikmati hasil melimpah (membeli gula dengan harga rendah) dari usaha sangat tinggi resiko yang dilakukan para penyadap, kemudian dapat menjualnya dengan harga tinggi di kota besar. Demikian yang mengganggu pikiran Kanjat, putra tengkulak yang kelak menjadi suami Lasi.


Novel ini menceritakan kehidupan lain para pejabat pada masa itu (entah sekarang) yang sebelumnya tidak banyak saya tahu, terutama yang berkaitan dengan “wanita”. Dengan alur maju, kehidupan tokoh utama diceritakan dengan detail dan cukup rumit, sehingga saya cukup menikmati membacanya. Sayangnya, konflik utama yang saya tunggu-tunggu menurut saya kurang seru. Konflik selesai dan melandai sebelum klimaks sehingga saya sudah degdegan eh ga jadi seru, hihi...


Baca Juga: Men are from Mars, Women are from Venus


Menurut saya, buku ini (beserta karya-karya Ahmad Tohari lainnya) sangat layak untuk dibaca. Buku ini membuka wawasan dan dengan mudah membawa pembaca seperti melihat dan mengalami langsung kejadian demi kejadian dalam ceritanya. Penggambaran latarnya cukup detail namun tidak berlebihan, sehingga saya merasa sayang kalau tidak membacanya secara utuh. 

Terima kasih sudah membaca ya! Wassalamu'alaikum :)

Thursday, May 12, 2022

Review 4 Bahan Ring Sling (Linen, Katun Bambu, Katun, Kaos)

5:43 AM 4 Comments

 Halo Buibuk! Assalamualaikum!

Kali ini saya mau bahas salah satu jenis gendongan ergonomis (M-Shape support), yaitu ring sling. Apa itu ring sling?

Kalau menurut saya ring sling ini seperti jarik modern, karena berupa kain panjang dengan ring tanpa celah untuk menyatukan dan mengunci kainnya, sehingga lebih kencang dan aman dibanding kain jarik kalau cara pakainya masih tradisional alias diuwel-uwel di pundak. Ring sling ini menggunakan ring tanpa celah sehingga tidak akan terbuka dan membahayakan bayi ketika digendong.

Saya pribadi suka sekali menggendong dengan ring sling karena praktiiiisss sekali. Yah meskipun hanya bertumpu pada 1 bahu. Kalau saya perlu menggendong cepat, saya pakai ring sling. Tapi kalau mau menggendong lama, ya saya pakai SSC hehehe…

Banyak sekali produsen yang memproduksi ring sling ini, dengan bahan yang berbeda-beda. Review saya ini berdasarkan bahan dan contoh merek yang saya punya ya. Check it out!


    a. Ring Sling Bahan Linen (Harga: 180-190ribu)

RS berbahan linen ini paling umum dan paling banyak diproduksi. Kalau yang saya punya ini merek MyBabyPouch. Karena bahan linen, agak kasar, jadi terasa mengunci dan sangat ajeg ketika membawa berat beban bayi. Kencang, tapi menurut saya agak “nglekeb” gitu, gimana ya jelasinnya. Yah intinya bayi menempel sempurna seperti nyaris gak gerak ke badan kita. Tapi kalau anak sudah berat, ring sling bahan linen ini terasa yang paling ajeg sih untuk menggendong.


    b. Ring Sling Bahan Katun Bambu (Harga: 110ribu)

Merek yang paling umum untuk rs katun bamboo ini adalah Cuddle Me, seperti yang saya punya. Alhamdulillah dapet dikasih hihi… Bahannya lembut, gak gerah, agak tricky pakainya. Kalau belum jago, mesti latihan cara menggunakan ring sling yang benar. Pokoknya kalau gak benar cara pakainya, banyak yang ga berhasil pakai ini, merosot lah, licin, dan sebagainya. Tapi kalau sudah benar cara pakainya, ini gendongan enak banget. Bahkan sempat jadi gendongan favorit saya. Sempat? Iya, menurut saya bahan ini nyaman banget sampai waktu tertentu, yaitu ketika BB anak belum terlalu berat. Kalau sudah di atas 10kg, menurut saya mulai terasa tidak ajeg dan kurang mendekap. Meskipun klaimnya sih bisa dipakai sampai BB anak 15-20kg.



    c. Ring Sling Bahan Katun (Harga: 100ribuan)

Yang saya punya ini dari merek Petite Mimi. Ring sling pertama saya, dapat dari kado Alhamdulillah. Ring sling ini rasanya ajeg dan anak bisa mendekap sempurna ke kita. Bahannya agak tebal, aman tapi bisa jadi agak gerah dipakainya. Kekurangannya, ukuran ring Petite Mimi kekecilan untuk bahan setebal itu, jadi susah untuk “menyisir” kain dan meng-adjust ukuran kekencangan gendongannya.


    d. Ring Sling Bahan Kaos (Harga: 100ribu)

Nah ini nih, ring sling yang GaTot menurut saya. Not recommended. Saya beli yang merek Malilkids. Kesan awal sih kainnya enakeun, tapi ternyata ga bisa dipakai gendong. Entah karena kainnya ketipisan, atau licin, atau karena kombinasi bahan kain dan ringnya tidak cocok. Saya penasaran sampai mengirim gendongan ini ke teman yang Certified Baby Wearing Consultant. Menurutnya ringnya yang tidak cocok, hanya ring logam tanpa polesan apapun sehingga licin kalau dipasangkan dengan kain apapun. Awalnya enak banget pakai ini. Tapi tunggu semenit, dua menit, mulai melorot. Bukan merosot ya, tapi melorot. Jadi anak di gendongan turun pelan-pelan. Gendongan ini tidak bisa menopang dengan baik, padahal waktu itu BB anakku baru 7kg. Failed lah. 

Update: Setelah tulisan ini dibuat, Malilkids membuat ring sling bahan kaos baru yang mungkin berbeda dengan jenis sebelumnya. Tulisan ini hanya membahas ringsling kaos yang awal diproduksi oleh Malilkids. 


Baca Juga: (Sharing) Tips Mengatasi Heartburn pada Ibu Hamil 

Nah. Itu tadi review 4 bahan ring sling dari saya. Mana yang paling saya suka? Untuk BB bayi di bawah 10kg, saya lebih nyaman pakai katun bamboo, tapi setelah 10kg ke atas, linen juaranyaaaaa… harga gak bohong yee… wkwkwkwk…

Semoga manfaat ya Buibuk!



Tuesday, November 24, 2020

(Sharing) Tips Mengatasi Heartburn pada Ibu Hamil

8:49 PM 0 Comments

Assalamualaikum!

Buat para ibu hamil terutama yang sudah mulai besar kandungannya, heartburn adalah sesuatu yang sangat lazim dialami. Heartburn adalah perasaan panas di dada yang disebabkan oleh asam lambung yang naik sampai ke kerongkongan (reflux) (sumber: link). Meskipun lazim dan normal terjadi, namun tentu saja rasanya sangat tidak nyaman ya Bund. Bahkan sebelum asam lambung itu naik ke kerongkongan, sudah terasa ada semacam gelombang panas yang naik ke dada dan itu membuat tidak nyaman serta perih pada ulu hati.

sumber: link
Disclaimer:

Saya bukan tenaga medis yang ilmunya mumpuni tentang ini ya. Saya hanya sharing dari apa yang saya baca, lalu saya praktekkan. Mudah-mudahan tetap bisa diambil manfaatnya 😊

Saat usia kehamilan 25minggu adalah saat heartburn paling rajin menghampiri saya. Saya browsing dan menemukan beberapa tips, seperti makan lebih sedikit namun sering. Saya mencobanya namun gagal, yang ada saya makan lebih sering dengan porsi yang sudah dikurangi, namun saya nambah lagi setelahnya. Masih lapar hahaha…

Tips kedua adalah tidak berbaring 1-2 jam setelah makan. Ini juga saya coba, namun saya tidak merasa terbantu dengan signifikan. Heartburn masih sering saya alami.

Tips berikutnya adalah memperbanyak asupan serat. Naaah, inilah tips yang bekerja efektif di saya. Pas banget beberapa hari belakangan saya lagi ga ada buah di rumah, kecuali sayur-sayuran. Tapi waktu lihat di dapur, ternyata saya punya beberapa agar-agar dan jelly yang belum diolah. Salah satunya stok untuk bikin puding, yang tak kunjung terlaksana karena terbatasnya gerak saya pasca bedrest karena flek dan bleeding. Akhirnya saya buat saja agar-agar dan jelly sederhana sebagaimana seharusnya, tanpa susu dan dengan pemanis gula aren. Fyi, sejak sebelum hamil saya memang sangat sedikit mengonsumsi gula pasir.

sumber: link

Serat yang tinggi pada agar-agar sangat baik untuk menenangkan asam lambung dan membuatnya cukup penuh namun tetap sehat. Di samping itu, gula aren memang memiliki manfaat sendiri untuk membantu menetralisir asam lambung (sumber: link )


Baca Juga: Obat Maag Alami dari Kunyit


Saya mengonsumsi agar-agar ini kapan saja saya ingin, namun terutama di malam hari sebelum makan malam dan setengah jam setelah makan dan minum vitamin. Alhamdulillah sudah hampir 1 minggu ini saya rutin mengonsumsi agar-agar dengan gula aren dan heartburn saya sudah hampir tidak pernah muncul lagi.

Selamat mencoba, semoga berhasil ya!


Monday, November 23, 2020

Hamil Pertama Setelah Hampir 8 Tahun Pernikahan

3:02 PM 0 Comments

Assalamualaikum!

Kali ini saya mau cerita tentang kehamilan pertama saya. Apa?? Iya! Alhamdulillah saat ini saya sedang menjalani kehamilan pertama saya, tepatnya di usia kehamilan 26 minggu pada saat tulisan ini dibuat. Kehamilan pertama setelah hampir 8 tahun pernikahan yang penuh penantian namun alhamdulillah kami tetap (harus) bahagia. Alhamdulillah, tsumma Alhamdulillah.


Alhamdulillaahilladzii bini’matihi tatimmushshaalihat


Ini adalah kehamilan yang sangat tidak kami sangka-sangka. Bahkan periksa pertama kali ke dokter kandungan, usia janin sudah 12 minggu. Maasya Allah, terharu banget. Kirain baru 5-6minggu, baru kantung kehamilan dan embrio, ternyata sudah lengkap dari kepala sampai kaki, dengan bentuk yang sesuai dengan usianya tentu saja. Pantesan, masa baru 5 minggu idung gue udah gede yaah… masa baru 5 minggu sudah ada linea nigra (garis hitam vertikal memanjang di perut) yaah..


Pasti pertanyaannya, kok bisa Far? Emang ga nyadar kalau gak haid?


Jadi begini ya Saudara/i, di tulisan ini saya akan cerita saja tentang kehamilan awal yang tak terdeteksi selama hampir 3 bulan lamanya ini. Ini adalah bagian yang membuat saya makin takjub dengan rencana dan ke-Maha Kuasa-annya Allah.


Setahun belakangan (sebelum hamil), saya merasa hormon saya agak bermasalah. Ketika haid, biasanya darah baru deras di hari ke-3, ke-4, atau ke-5. Gak sakit sih, makanya saya ga buru-buru periksa ke dokter. Paling minum ramuan-ramuan herbal yang sudah jadi maupun buatan sendiri aja. Nah puncaknya pada saat Ramadhan, 1 bulan sebelum HPHT (hari pertama haid terakhir, yang menjadi patokan usia kehamilan), haid saya baru lancar di hari ke-7. Nah banyak dong hutang puasa saya Bulan depannya, darah haid saya tidak keluar, hanya bercak-bercak saja meskipun sudah lewat hari ke-7. Saya pikir, ini adalah puncak ketidakseimbangan hormon saya. Sempat sih terlintas sambil iseng, ‘jangan-jangan gua hamil’. Tapi langsung kutepis, ‘ngaco lu Far’, hormon lagi kacau parah gini kok bisa hamil. Hihihii sotoy memang.


Dikarenakan sedang pandemi, jadi saya hanya konsultasi dengan dokter kandungan secara online di Halodoc. Saya pilih dokter kandungan yang available dan secara jam terbang paling banyak, sudah belasan tahun. Setelah saya ceritakan, si dokter bertanya apakah saya hamil. Saya yang sedang tidak berharap apa-apa, menjawab ‘tidak dok, saya sudah 8 tahun menikah dan belum hamil’. Singkat cerita, dokter menyimpulkan seperti perkiraan saya, masalah hormonal. Saya disuruh rajin olahraga untuk menyeimbangkan hormon-hormon saya. Memang jarang olahraga sih. Dah gitu aja, gak dikasih obat apapun.


Bhaique! Besoknya saya langsung ajrut-ajrutan zumba di rumah. Setelahnya, keluar bercak darah. Saya pikir, alhamdulillah, bagus nih, mulai keluar haidnya. Tapi besoknya kok gak keluar lagi darah haidnya. Oqeh, saya zumba lagi. Sampe capek. Teruuuuuss aja gitu sampai hari maksimal haid dan saya kembali shalat. Bulan depannya (bulan kedua), repeat. Persis.  


Naaaah barulah di bulan ketiga, saya sadar saya benar-benar tidak datang bulan. Biasanya belum pernah telat, jadi saya testpack sejak telat 5 hari kalau ga salah. Waktu itu malam hari. Maa sya Allah, 2 garis pertama dalam hidupku setelah penantian panjang bertahun-tahun. Barulah saat itu saya mulai berusaha menjaga diri hihi… besoknya, biar lebih afdhal, saya testpack lagi ketika bangun tidur. Alhamdulillah masih sama hasilnya 😊


Dengan perhitungan kehamilan (kalau benar positif hamil, bukan hamil anggur atau hamil kosong) baru 4 mingguan, saya menunda periksa ke dokter kandungan 1 minggu lagi, supaya sudah bisa terlihat kantung kehamilan dan embrionya. Ini hasil dari browsing dan tanya-tanya ke teman yang dokter juga sih. Satu minggu kemudian saya testpack lagi, sekalian lah ngabisin stok testpack gratisan hihi.. garis 2 jelas sekali. Kemudian kami ke dokter kandungan.

kata orang-orang, testpack itu semakin murah akan semakin akurat! dari 3 testpack ini, saya hanya beli 1, yang 2 saya dapet gratis hehe.. bener-bener murah (gratis)


Setelah menceritakan pada dokter, saya langsung diperiksa dalam (USG Transvaginal). Seperti yang sudah saya ceritakan di atas, kami pun kaget dan tentunya terharu banget karena ternyata usia kehamilan sudah menginjak 12 minggu, sudah terdengar detak jantungnya juga. Ya Allaah, alhamdulillah.


Lah emangnya gak mual-mual Far? Mual sih. Tapi saya santai aja karena saya pikir maag lagi kumat, karena memang sedang malas makan juga. Jadi saya anteng aja minum Proma*. Ya Allaah.. Lalu badan memang sering lemas, kepala pusing, kirain ya biasa aja. Karena saya gak suka saya lemah, jadi saya lawan dengan minum Habbatussauda’, kurma, zaitun, kopi herbal, hahah.. Di mana setelah saya tahu, herbal-herbal itu (habbat, kurma, zaitun) semuanya bersifat panas dan tidak direkomendasikan untuk ibu hamil di trimester awal. Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah.


Selain zumba, obat maag, herba-herba bersifat panas, saya pun sedang rajin-rajinnya ngebolang naik motor yang jauh-jauh sama suami. Selain itu juga seperti biasa saja, mengangkat barang berat, galon, dus madu, haha… Sempet keluar flek sih, tapi ya ga mikir apa-apa. Bahkan setelah keluar flek itu, saya dan suami masih menikmati kosongnya jalanan Jakarta ketika Idul Adha, lalu besoknya saya masih bantu jadi panitia qurban di masjid yang kerjaannya jongkok-berdiri-jongkok-berdiri. Begitulah kalau sudah kosong lama tak kunjung dapat 2 garis, udah ga mau geer lagi kayak waktu dulu masih penganten baru. Hihihi… Tapi alhamdulillaah, janin dalam kandungan saya sehat dan tumbuh sebagaimana normalnya. Maa sya Allah Tabarakallah. Semoga tetap sehat sempurna hingga lahir nanti dan seterusnya. Aamiinn… Saya minta doanya yaaa…

waktu ngebolang bekasi-depok ini, berarti saya sudah hamil 2 bulanan, tapi belum sadar

Begitulah. Cerita ini selalu ditanyakan bila saya memberi kabar gembira kehamilan ini kepada kerabat atau sahabat, karena memang agak aneh sih kok ya ga nyadar kalau hamil tau-tau udah 3 bulan >.<


Alhamdulillah. Doain yaa Om dan Tante 😊


Baca Juga: Laparoskopi Mioma/Fibroid



Friday, May 29, 2020

Review Exfoliating Toner Lokal: Wardah White Secret Exfoliating Lotion

5:07 PM 8 Comments

Halo! Assalamualaikum Beauties!

Sudah hampir 1 bulan ini saya merasa bosaaan sekali dengan produk-produk skincare yang biasa saya pakai. Tepat saat mereka banyak yang hampir habis, perpaduan yang cucok dengan kebosanan kan, untuk ganti dan mencoba produk baru? 😏Apalagi produk skincare yang bulky, guedde dan lamaaa habisnya, bikin worry kalau ga berhasil menghabiskannya. Malah takut jadi mubazir kan. Salah satunya adalah exfoliating toner favorit saya dari The Ordinary Glycolyc Acid. Mau repurchase, ya ampun 240ml, malah jadi ragu sendiri hihihi…

Akhirnya saya browsing dan kaget lah bahwa ternyata produk lokal ada yang punya exfoliating toner juga, sudah lama pula! Ke mana aja Faaar? Dia adalah Wardah White Secret Exfoliating Lotion. Uullalaaa… Sejak dengerin ceritanya Pak Jo Astra (VP IT PT. Paragon) saat jadi keynote speaker di salah satu workshopnya CIAS, saya baru menyadari bahwa isi pouch make up saya 80%-nya adalah produknya Paragon (Make Over, Wardah, dan Emina). Tapi untuk skincare-nya baru 1-2 produk saja. Sejak itu pula saya jadi lebih tertarik mengeksplor produk-produknya Paragon yang sudah menguasai 30% pasar kecantikan di Indonesia saat ini. Ketjeh kaan.. Nah, udah kepanjangan nih intronya, hihi.. Sekarang kita simak review jujur produk ini ya!

wardah exfoliating lotion
Wardah White Secret Exfoliating Lotion

Penjelasan Produk

Produk ini masuk dalam kategori chemical exfoliant, yang saya simpulkan sebagai exfoliating toner. Sebagaimana yang pernah saya bahas di sini, exfoliating toner ini fungsinya untuk mengikis atau mengangkat sel kulit mati dengan cara yang lembut (menggunakan acid), bukan dengan menggosok kulit seperti scrub (physical exfoliation). Dengan mengangkat sel kulit mati, kulit akan nampak lebih cerah dan bebas kusam.

exfoliating toner

Wardah Exfoliating Lotion ini mengandung AHA (Alpha Hydroxy Acid) namun dalam kadar yang tidak diinformasikan berapa persennya. AHA ini secara teori sih cocok untuk kulit kering maupun berminyak. Apalagi normal ya, hahah… Karena pH-nya asam, maka setelah menggunakannya harus diseimbangkan lagi pHnya. Pakai apa? Baca terus dengan seksama ya, hehehe… Nanti juga saya akan bandingkan dengan beberapa exfoliant yang pernah saya coba.

Kemasan

Dikarenakan produk ini termasuk dalam rangkaian White Secret-nya Wardah, jadi kemasannya juga didominasi warna putih dan abu sebagaimana produk lain dalam rangkaian yang sama. Botolnya tinggi dan ramping, dari plastik, dengan tutup ulir yang kokoh. Lubang untuk mengeluarkan cairannya menurut saya cukup, ga bakal kebanyakan ketika menuang produknya, in sya Allah.

Klaim, Komposisi, dan Cara Pakai

Di bagian belakang kemasannya, terdapat penjelasan serta klaim produk ini. Kandungan lengkapnya juga bisa dilihat di gambar di bawah ini ya. Selain itu ada keterangan produk dan cara penggunaannya juga, serta peringatan penting dalam penggunaan produk ini karena mengandung AHA. Tentu saja, ada label halalnya di sudut kanan bawah.  

AHA

Tekstur, Aroma, dan Cara Pakai

Produk ini mirip dengan golongan toner pada umumnya, yaitu encer seperti air. Warna cairannya agak butek sedikit dibanding The Ordinary maupun Pixi Glow Tonic. Tapi kalau dituang di tangan dan difoto gak terlalu kelihatan buteknya sih. Lalu, berbeda dengan The Ordinary yang hampir tidak ada aroma yang menonjol, Wardah Exfoliating Lotion ini memiliki aroma yang enaaaaak banget. Menenangkan gitu lho, aku ga tau sih itu wangi dari bahan apanya.


encheeerr

Cara pemakaiannya sama seperti exfoliant umumnya, dituang ke kapas lalu diusap ke wajah yang sudah dibersihkan, tidak perlu dibilas, eh, tak perlu digosok maksudnya. Kemudian didiamkan beberapa saat, kalau teori saya sih minimal 5 menit dan (benar ternyata), tidak perlu dibilas. Setelah itu, jangan lupa gunakan hydrating toner untuk mengembalikan keseimbangan pH kulit ya! Kudu! Jangan lupa. Karena pH tidak seimbang itu bisa menyebabkan banyak sekali masalah kulit seperti kering, terlalu berminyak, jerawatan, beruntusan, kzl, dan sebagainya.

Baca Juga: Night Skincare Routine

Penting: jangan menggunakan hydrating toner mengandung retinol dan turunannya setelah menggunakan produk ini, karena bisa terjadi over exfoliation (pengelupasan berlebih) yang berbahaya untuk kulit.

Bagi teman-teman yang sudah terbiasa dengan AHA, produk ini sangat bisa dipakai setiap malam setelah membersihkan wajah. Namun bagi yang belum, sebaiknya pakai dulu 1-2x seminggu ya, karena kulit juga perlu adaptasi. Kalau tidak menimbulkan gejala negatif, bisa ditingkatkan pelan-pelan intensitas pemakaiannya sampai nanti bisa dipakai setiap hari. Saat itu terjadi, percayalah, kulitmu in sya Allah akan sudah lebih cerah ehehehe…💖

Kesan Saat dan Setelah Pemakaian

Saya pribadi menduga kandungan AHA dalam produk Wardah White Secret ini cukup mild, lebih kecil daripada The Ordinary Glycolic Acid (7%) dan Pixi Glow Tonic (5%). Tapi yang jelas lebih banyak dibanding CosRX AHA/BHA Clarifying Treatment Toner (yang hanya 0,5%) hehehe... Di wajah saya yang terbiasa dengan 7% AHA dari TO, Wardah Exfoliating Lotion ini masih bekerja cukup efektif untuk mengangkat sel kulit mati, meskipun tentu saja terasa lebih ringan. Dia masih membantu mencegah kulit dari kekusaman akibat penumpukan sel kulit mati. Jelas Ini kabar baik banget sih buat kamu yang baru mau coba pakai acid tapi pengen ada hasil yang cukup cepat dan signifikan.

Kalau saya pribadi merasa, 1-2 minggu sekali masih perlu eksfoliasi tambahan sih, mungkin dengan scrub atau The Ordinary lagi, hehehe. Tapi catat ya, itu untuk kulit saya yang sudah sangat terbiasa dengan acid. Tidak semua kulit. 

Kekurangan Produk

Untuk produk ini sendiri saya belum nemu kekurangannya sih. Paling kurang menonjol aja, saya sama sekali gak tau kalau produk lokal ada yang punya exfo toner, hihihi… nyalahin orang aja lu Far >.<

Harga

Harganya 60 ribuan untuk isi 150ml. Ini worth to buy banget sih apalagi kalau dibandingin dengan exfoliating toner lain yang merek luar. Karena diaaa baguuss, cukup efektif. 

Repurchase?

Iya kayaknya 😊

Okeeee alhamdulillaah. Sekian dulu ya review exfoliating toner lokal dari Wardah White Secret ini. Semoga bermanfaat. Kalau ada yang perlu ditanyakan, bisa komen di bawah atau hubungi melalui sosial media yah. Eh japri kalau punya nomor saya juga boleh. My Pleasure!

Assalamualaikum!


Wednesday, April 8, 2020

Book Review: Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982

12:11 PM 0 Comments
Judul                     : Kim ji-yeong, Lahir Tahun 1982
Penulis                  : Cho Nam-joo
Penerbit                : PT. Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman  : 192 halaman
Tahun terbit         : 2019
novel gramedia
e-book resmi dari Gramedia Digital dengan Subscribe Premium Fictions (bulanan) 
Buku ini adalah sebuah novel yang jadi Karya Fiksi Terlaris 2019 di Gramedia, bahkan mengalahkan novel-novelnya Tere Liye (sumber). Ini adalah novel terjemahan dengan judul yang saya tidak bisa membacanya hehehe, pakai huruf dan bahasa Korea soalnya.

Novel ini bercerita tentang seorang perempuan di Korea Selatan yang mengalami gangguan psikologis, di mana gejalanya baru muncul setelah ia dewasa, menikah, dan melahirkan anak. Pembaca dibawa untuk mengikuti masa perkembangannya dari kecil hingga menjadi seorang ibu, yaitu pada saat gangguan psikologis itu muncul. Kim Ji-yeong tumbuh dan besar di lingkungan yang sangat patriarki. Patriarki di sini bukan hanya soal masalah nasab yang juga lazim di dunia ini, melainkan sebuah budaya yang sangat mengutamakan laki-laki. Dari pekerjaan, pendidikan, bahkan di keluarga. Jika seorang perempuan melahirkan anak perempuan, ibu dan ibu mertuanya akan berusaha menghiburnya, ‘tidak apa-apa’, atau ‘anak berikutnya mungkin laki-laki’. Seolah melahirkan anak perempuan adalah sebuah aib atau kesalahan. Jaman jahiliyah banget ga sik...

Anak perempuan juga bekerja keras untuk menyekolahkan kakak atau adik laki-lakinya, tapi tidak untuk diri mereka sendiri. Kzl yak. Cukup mencengangkan buat saya terutama ketika mengingat kelahiran si tokoh ini adalah tahun 1982, berarti saat ini ia baru berusia 38 tahun, which is masa hidupnya tidak jauh berbeda dengan saya, masih di dekade yang sama. Artinya, cerita ini bukan terjadi di masa lalu yang jauh, melainkan masa-masa yang dekat dengan sekarang, di negara yang cukup maju, namun kenyataannya masih seperti itu. Sebagai perempuan, gue sedih guys. Sekaligus bersyukur sih, hidup di negara ini dengan memegang agama ini sebagai jalan hidup mati gue, yang juga didukung oleh lingkungan yang memegang nilai-nilai yang sama. Alhamdulillahilladzii bi ni’matihi tatimmushshaalihat. Ternyata di luaran sana di dunia ini ada banyak sekali yang tidak seberuntung kita.

Buku ini menarik untuk dibaca bahkan bagi orang-orang yang bukan penggemar Korea seperti saya. Banyak pengetahuan dan pembelajaran yang baru saya dapat ketika membaca buku ini. Salah satunya adalah bahwa kita sebagai pribadi, sebagai teman, saudara, dan orang tua, perlu mengontrol lisan kita, karena kita sering kali tidak sadar ucapan kita yang bagaimana yang bisa melukai hati orang lain. Dan berhubung orang itu memiliki masa lalu dan preferensi yang berbeda-beda, bisa jadi luka kecil itu terbawa hingga dia dewasa dan menyebabkan keburukan baginya. Na’udzubillah, semoga kita dihindarkan dari menjadi sebab keburukan bagi orang lain. Aamiin…




Monday, March 23, 2020

Book Review: Sang Pangeran dan Janissary Terakhir – Salim A. Fillah

7:11 PM 0 Comments

Judul            : Sang Pangeran dan Janissary Terakhir; Kisah, Kasih, dan Selisih dalam Perang Diponegoro
Genre          : Fiksi Sejarah
Author         : Salim A. Fillah, 2019
Penerbit      : Pro-U Media
Jumlah halaman: 632 halaman

Janissary

Beberapa waktu sebelum membeli buku ini, saya sudah menyimak potongan-potongan ceramah Ustadz Salim A. Fillah mengenai sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro. Bukan hanya dalam mengusir penjajah, namun ternyata yang utama adalah beliau memperjuangkan Islam agar dapat tegak kembali di tanah Jawa, yang telah banyak direndahkan setelah kedatangan penjajah Belanda itu. Jadi begitu lho, hubungannya *eeh.

Di Jawa itu, ternyata dahulu islami sekali lho. Iya sih, kan Kerajaan Mataram ya hehehe… Ada banyak simbol-simbol di Kraton, rumah warga, dan tentu saja masjid, yang kental sekali dengan pesan-pesan agama. Di antaranya seperti ukiran buah nanas di tiang Masjid Gedhe Keraton, yang mengingatkan kodrat manusia (An-Naas) agar tidak sombong. Buah/pohon salak juga, yang berasal dari nama surah dalam Alquran, Al-Falaq, mengingatkan akan godaan setan yang akan selalu menyertai, maka perkuatlah benteng keimanan. Juga, sebagai penanda rumah pejuang, di halamannya selalu ada pohon sawo berjajar, diambil dari pesan imam ketika akan shalat berjamaah: sawwuu shufuufakum, agar senantiasa meluruskan dan merapatkan barisan, baik dalam shalat maupun dalam perjuangan. Demikian pula, Pangeran Diponegoro memilih nama gelar beliau Sultan Abdul Hamid Diponegoro, yang merujuk pada Sultan Turki Utsmani ketika beliau lahir, Sultan Abdul Hamid I. Kalau lidah orang Jawa, beberapa bisanya menyebut Ngabdul Kamit, itu maksudnya sama 😊

Buku ini berlatar Perang Diponegoro yang dikenal juga dengan Perang Sabil (1825-1830). Yang dimaksud adalah perang melawan penjajah Belanda yang kafir, yang menginjak-injak Islam di tanah Jawa, jihad fi sabilillah, berjuang di jalan Allah. Disingkat Perang Sabil. Di buku sejarah sekolah dulu, kita taunya hanya Perang Diponegoro saja kan. Nah, di buku ini lebih lengkap dan fair sejarahnya.  

Di buku tebal ini, penulis banyak menyiratkan pesan kesetiaan; pada cita-cita yang mulia, pada pemimpin, dan pada saudara-saudara seperjuangan. Selain itu juga tentang keteguhan tekad dan idealisme, yang ditunjukkan oleh Sang Pangeran dan sahabat-sahabatnya. Ada banyak tokoh yang tadinya tergabung di barisan beliau, akhirnya keluar dan memilih berdamai dengan penjajah. Alasannya banyak. Ada yang memang tergoda dengan iming-iming penjajah hingga tak malu berkhianat, ada juga yang memilih menyerah karena melihat kesengsaraan rakyat yang ditimbulkan oleh perang yang berkepanjangan ini. Padahal sih, Belanda melobi dan merayu habis-habisan para tokoh untuk sesegera mungkin menghentikan perang, dikarenakan VOC, korporasi dengan valuasi terbesar itu, bangkrut gara-gara membiayai perang ini. Namun, masih banyak pula orang-orang yang istiqomah di samping beliau, serta rakyat yang setia membersamai beliau dengan pengorbanan sepenuh jiwa dan raganya.

Kemudian pelajaran yang juga saya dapatkan dari buku ini, di antaranya tentang kekuatan. Pangeran Diponegoro sering diceritakan memimpin perang gerilya di hutan-hutan sambil ditandu karena sakit. Saking seringnya diceritakan begitu, sampai waktu sekolah dulu saya hanya tahu beliau ketika lemah dan sakitnya saja. Beliau memimpin perang meskipun sedang sakit memang fakta, hanya saja dipaparkan juga dalam buku ini, bahwa di luar keadaan sakitnya, beliau adalah seorang yang sangat kuat. Ia bisa mendobrak tembok yang tebal, tinggi, dan besar ketika dikepung tiba-tiba, tanpa peralatan, sehingga ia dan pasukannya bisa menyelamatkan diri. Ketika ditangkap karena pengkhianatan, beliau menahan marahnya dengan meremas pegangan kursinya, yang terbuat dari kayu, sampai hancur. Makjaaaang. Eh, maa syaa Allaah!

Seorang muslim bukan hanya dituntut untuk soleh dan taat beribadah, namun juga harus memiliki kekuatan dan keterampilan yang bisa digunakan untuk membela agama Allah. Tidak harus menunggu ada perang, namun kita harus melatih diri baik meskipun keadaan sedang damai, sehingga kita siap kapanpun diperlukan. Lalu insight lainnya, maaf tidak saya tuliskan semua hehe…

Selain itu tentunya ada juga kisah cinta yang bikin hati meleleh dan penasaran ingin tahu lanjutannya. Kalau kisah cinta mah emang gak pernah ada basinya ya? Selalu haneut, hihihi…

Tokoh-tokoh dalam buku ini, ada Sang Pangeran sendiri dan para panglima serta pengawal-pengawal setianya. Janissary, fyi, adalah kesatuan elit pasukan Turki Utsmani, seperti Kopassus-nya kita. Nah, di dalam buku ini juga ada kisah tentang ahli waris seorang Wazir (perdana menteri) Turki Utsmani beserta juru tulis/sekretaris kepercayaan sang Wazir tersebut, keduanya memegang peran sentral di sepanjang buku ini. Bagaimana ceritanya mereka bisa sampai terlibat dalam perjuangan pasukan Sang Pangeran dalam perang sabil di tanah yang sangat jauh ini? Baca aja ya.. in sya Allah ada banyak ilmu dan wawasan yang bisa didapatkan dari buku ini.

Selain itu, dari sisi antagonis ada para pejabat Hindia Belanda dan VOC, serta para pejabat Keraton yang telah hilang harga dirinya karena membelot mendukung penjajah. Ada juga yang seperti duri dalam daging, terlihat membantu perjuangan namun ternyata mata-mata musuh. Seru Guys!

Ternyata manusia sekompleks itu ya. Ada yang dengan cita mulianya untuk agama menjaga idealismenya mati-matian, bahkan tak takut mati sama sekali. Ada juga yang ketamakannya na’udzubillah, sampai benar-benar rela mengorbankan iman, harga diri, dan rakyatnya, hanya demi uang dan jabatan, mendukung para penjajah.

Cerita dalam buku ini ditulis dengan alur maju-mundur, sehingga cukup perlu konsentrasi untuk melihat keterangan tahun di setiap awal babnya, terutama di awal-awal cerita. Di sini ada banyak fakta sejarah yang menyertakan tahun-tahun dan kejadian, yang menambah informasi pada pembaca, diselipkan dalam perkataan tokoh-tokoh di dalam cerita. Namun saya pribadi melewatkan beberapanya karena kepanjangan hehehe… ‘afwan Ustadz.

Kalau menurut saya, cara latar belakang cerita dibawakan itu agak kelamaan, atau sayanya yang lama ngerti baru bisa menikmati ya? Fyi, Buku ini sudah dicetak ulang bahkan sebelum resmi launching lho! Selaris dan sebagus itu memang!
Salim a Fillah
Saya merekomendasikan buku ini buat kamu yang muda, atau yang merasa muda, dan yang ingin selalu berjiwa muda. Buku ini bernas, ma sya Allah. Ada banyak pembelajaran dan ghirah (semangat) yang terbangkitkan sejak memulai hingga menyelesaikan membaca kisah ini. Karena sejatinya mempelajari sejarah bukan hanya mendapatkan informasi kejadian, tanggal, tempat, dan tokoh, melainkan mengambil hikmah, melestarikan kebaikan dan kebijaksanaan para pendahulu, serta belajar dari kelengahan atau kesalahan yang pernah ada agar tidak kita ulangi di masa sekarang dan yang akan datang.

Jazakumullah khayran Ustadz Salim.

“Katanya, cinta seorang lelaki seperti matahari. Semua orang tahu kapan ia terbit dan kapan waktunya terbenam. Bahkan banyak yang akan menyadari pula ketika takdir gerhana menggelapkannya. Tapi cinta seorang perempuan seperti kuku-kuku jari. Ia tumbuh perlahan, tapi pasti; meski dipotong berulang kali. Kuku sudah ada sejak janin tumbuh dalam rahim. Tapi kesadaran untuk merawat dan mempercantiknya hadir seiring meremajanya usia.” (Salim A. Fillah, dalam Sang Pangeran dan Janissary Terakhir)

Wednesday, March 18, 2020

Menghambat Penuaan; Orang yang Tidak Akan Tua

12:20 PM 0 Comments

Zaman sekarang ini, lazim sekali ya kalau orang berusaha menghambat penuaan dirinya, baik penuaan dini maupun penuaan yang wajar bila dia sehat. Tidak sedikit yang dilakukan, seperti rajin berolah raga untuk kesehatan jantung dan organ-organ tubuh, memakan makanan sehat dan menerapkan pola hidup sehat, atau menggunakan skincare dengan kandungan anti-aging agent bagi kaum hawa.

Tapi tetap saja ada yang keukeuh banget bilang, “Yah, tua mah tua aja. Karena tua itu pasti.”

Tua itu pasti, dewasa itu pilihan

Klise ya? Meskipun ada benarnya sih. Dewasa itu ga sepenuhnya juga pilihan, bisa juga terpaksa karena keadaan. IMHO.
Eh. Kata siapa tua itu pasti?
Ada kok orang yang gak bakal mengalami penuaan. Meskipun makanannya tidak sehat, tidak rajin berolahraga, tidak merawat kulit, merokok, dan sebagainya. Siapa?

Orang yang tak mengalami penuaan itu adalah orang yang mati muda. Mati sebelum dia tua. Maka dia tidak menua kan?

Bisa jadi dia tetap muda bila jasadnya utuh di dalam kubur karena kesolihannya. Tapi bisa jadi juga langsung hancur bila disiksa malaikat kubur. Na’udzubillah min dzaalik. Maka Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihu wa sallam mengajarkan kita agar membaca doa ini di pagi dan petang hari,

”Allaahumma innii a’uudzubika minal kufri wal faqr, wa a’uudzubika min ‘adzaabil qabri, laa ilaaha illaa anta.
Ya Allah. Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur. Tidak ada Tuhan selain Engkau.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Boleh-boleh aja sih merawat diri agar awet muda. Tapi jangan lupa ya kalau mati itu lebih dekat daripada tali sandal kita (Abu Bakr Ash-Shiddiq, sumber: link).
Mati itu nunggu ajal kan, bukan nunggu tua? 
sumber: sebuah whatsapp group