Follow Us @farahzu

Monday, February 1, 2010

JAT (Pulau Pramuka, 25, 26, 27 Januari 2010)

8:13 AM 31 Comments
Akan tiada lagi kini tawamu
‘tuk hapuskan semua sepi di hati
Ada cerita tentang masa yang indah
saat kita berduka,
saat kita tertawa…

“Ka Farah, apa ya, yang membuat kesan orang beda-beda tentang BEM UI 2009?”, seorang adikku bertanya, “ada yang ngerasa berkesan banget, kehilangan banget, tapi ada juga yang biasa aja… kenapa ya?” Jawabku, “Keterlibatan, Mi”, sebut saja namanya Mimi. Jujur, sebenarnya jawaban itu baru saja aku dapatkan tepat sedetik setelah pertanyaan itu diajukan. Maksudku adalah menekankan sebuah kedewasaan, bahwa kenyamanan itu sejatinya kita sendiri yang menciptakan, bukan diberikan oleh orang lain, rekan kerja maupun atasan kita.

Dear BEMers, sedikit yang dapat kusampaikan malam itu, jelas tidak dapat mewakili semua kesan tentangmu setahun ini. Namun apa daya semua terbatas oleh waktu, BPH yang lain menunggu giliran. Sebenarnya di luar itu pun aku sudah kehabisan kata-kata… dan pastinya tersedak oleh isak.

Hey, kuharap setelah hari ini kita semua semakin dewasa dalam menjalani kehidupan selanjutnya. Meski kita akan menjalaninya masing-masing, namun aku sangat berharap bekal yang telah kita kumpulkan selama setahun kemarin dapat bermanfaat untuk selanjutnya. Dan lagi, jangan pernah membandingkan suasana baru nanti dengan kenangan indah kita yang telah lalu. Karna itu sungguh menyakitkan bagi “orang-orang baru”-mu. Percayalah. Buka hati dan pikiran seluas-luasnya, maka kau akan menemukan kenyamanan di manapun kau berada.

Humh, sedih sekali aku malam itu, teman… Tidak, tidak hanya malam itu, hingga keesokan harinya, bahkan hingga hari ini. Aku merasa sangat, sangat kehilangan kalian.

Ingat, tahun ini perjalanan kita lengkap sudah. Dari gunung di tengah tahun sampai ke laut di akhir tahun. Tiga hari terakhir kebersamaan kita memang so wonderful, unforgettable, sangat berkesan. Gila, berkesan abis! Sejak sebelum hari-H keberangkatan, bahkan H-1 jam kita masih dirisaukan oleh kabar cuaca. Meski pihak berwenang seperti BMG menyatakan perjalanan kita akan aman, namun getir itu tetap menyertai, apalagi banyak sahabat kita yang tidak diizinkan ikut oleh orang tuanya karna masalah cuaca. Bahkan, karna sedikit keterlambatan saja, di tengah arus ombak yang mulai meninggi kapal kita harus menepi ke pulau Pari dan menunggu ditarik oleh kapal berikutnya yang lebih kecil dan kosong muatan. Fiiuhhh,, alhamdulillah selamat sampai Pramuka…
Kebanyakan kita baru pertama kali naik kapal, termasuk aku. Takut mabuk laut, pastinya. Gak lucu dong, masa ibunya anak-anak ikutan mabuk dan tepar, alih-alih menangani yang sakit atau mabuk… Sebelum hari-H, banyak-banyak cari info tentang bagaimana mencegah mabuk laut. Dari wajib sarapan, antimo, hingga koyo penutup pusar. Alhamdulillah sampai akhir tidak ada peserta yang mabuk laut, paling hanya pusing sedikit dan bisa diatasi (dengan tidur).

Perjalanan di kapal menghabiskan 3 jam lebih, saking lamanya, aku ingat, setiap terlihat pulau yang agak besar, kita semua bertanya antusias, “Itu bukan, pulaunya?”. Hum, lapar pula. Sampai dermaga, bawaan yang berat membuat selera foto kami hilang dan berpikir, “Ah, foto-fotonya nanti ajah, masih lama ini”. Kemudian bergerak menuju mess yang telah disiapkan oleh tim (sebut saja EO) SIGMA B UI, gabungan anak-anak biologi yang menaruh minat pada laut dan seisinya. Istirahat, beres-beres sebentar, shalat, lalu berkumpul lagi, pembukaan, lalu briefing dan pengenalan alat-alat untuk snorkling keesokan harinya oleh mentor kelompok, dari SIGMA juga.

Pembagian kelompok, aku dapat kelompok 1. Ada Adit-P&K, Rohli-P&K, Nanda-Waka, Eva-Kesma, dan Zaky-BWB. Sekitar jam setengah 5 sore ada waktu kosong. Aku, Eva, Zaky, Adit, Rohli, dan Fajar-Kremas memanfaatkannya dengan berjalan-jalan ke dermaga, menunggu sunset. Mengambil beberapa foto berlatar laut dan matahari senja, lalu jalan, jalan, jalan, hingga akhirnya kami menemukan suatu tempat beberapa puluh meter dari dermaga yang cukup indah, lautnya bening, dan ada semacam gazebo yang menambah kesan eksotis tempat itu (halah, agak lebay). Fajar dan Rohli melompat dan berenang di laut itu, yah, setinggi perut lah airnya, dengan ombak yang lumayan tenang. Sempat juga merekam Rohli yang membuat adegan orang bunuh diri tapi pas lompat teriaknya Allahu Akbar. Hehee,, agak aneh ya?

Semakin gelap, kami berenam pulang ke mess dengan bertualang, menjadi Bolang (bocah ilang) menyusuri pinggir pantai, berharap dapat menemukan mess kami kembali. Sengaja kami tidak mengambil jalan yang sama dengan berangkat, ‘kan lagi jadi bolang ^_^ alhamdulillah kami selamat!

Malamnya saat performance, kelompok yang lain lucu dan seru-seru. Tapi kelompok kami (berniat) serius dengan menampilkan tari saman (seadanya). Padahal waktu latihan di mushola udah bagus tuh… tapi sepertinya karena keberadaan “seorang oknum”, konsentrasi penonton terpecah dengan tawa.. hiaaaahh… ah, tapi, alhamdulillah waktu voting di akhir yang milih kelompok kami cukup banyak juga kok. Hehee..

Esok paginya, gerimis! Nah lho! Kita kan mau snorkling,,, terancam butek deh airnya kalo ujan… tapi alhamdulillah ketika kami mulai jalan ke tengah laut, langit cerah. Subhanallaah, laut luar biasa bangeettt!! Melewati hutan mangrove, mulai berenang melihat ke bawah air, kita disambut oleh karang-karang, kemudian “dihadang” hutan lamun yang gemulai menari-nari mengikut ombak. Terus ke tengah, ikan-ikan mulai banyak berlalu-lalang, muncul-sembunyi dari balik karang. Aku bertemu Nemo, si ikan kelonpis (di pulau itu ada nama jalan Ikan Kelonpis, kurasa asalnya dari clown fish) yang ternyata kecil sekali, hanya sebesar 1 buku jari kelingkingku! Lalu kelompokku bertemu dengan bantal raja, yang masih saudaraan sama bintang laut. Bantal raja ini, Cuma kelompokku lhoh yang nemuin!! Jadi asoy,, hehhhee…

Lallluuu… kami sempat juga makan anggur laut. Tapi jangan bayangkan rasanya senikmat anggur darat deh. Karna buahnya sangat kecil (meskipun bergerombol) dan kadar garam air laut di situ juga lumayan, jadi yang terasa di lidah hanya asinnya. Pfiuh… Bulu babi, ketemu juga dong… alhamdulillah ketemunya bukan yang ganas. Warnanya hitam, menempel pada batu-batu, dan ternyata durinya panjang-panjang! Lumayan gatel dan sakit lah kalo sampai nempel. Kalau bulu babi yang warna-warni malah bahaya! Meski ukurannya lebih kecil, tapi kalau nyengat bisa lah, bikin manusia yang kena meriang panas-dingin.. Teeruus… ketemu apa lagi yaa? Oh iya, ketemu fotografer underwater! Yang tak lain adalah anak SIGMA juga,, tapi senang bisa foto dan berpose di bawah laut. Hehee.. Ah, banyak lah yang ditemuin, tapi lupaa… dan 2 jam di laut lewat tanpa terasa…

Setelah pulang kembali ke darat, kita diajak jalan-jalan. Dijelaskan tentang mangrove yang ada di pulau itu, lalu kita ke penangkaran penyu. Di sana, ada seekor penyu yang seumuran sama aku dan BPH umumnya, sekitar awal 20 tahun, yang menjadi primadona. Bukan karna keindahan tempurungnya, melainkan justru karna ia mengalami cacat tubuh. Hemmm.. taukah, dia merasa. Dia marah ketika kita bergerombol mengelilingi “bak pribadinya”. Dia berenang keliling bak sambil mengepak-ngepakkan kaki depannya ke arah kita hingga membentur-bentur pinggir bak. Dia juga punya rasa. Dia juga ingin dihargai dan dianggap sama dengan yang lainnya…

Pakaian yang basah mulai mengering, baru mulai… Tujuh bidadari (sebut saja begitu) yang terdiri dari aku, Eva, Mimi dan Tika -PSDM, Erika-P&K, Fariz dan Wulan –Sosmas memisahkan diri dan berjalan menuju dermaga, tempat Rohli dan Fajar berenang sore hari sebelumnya. Aku dan Eva yang sudah tahu kedalamannya berniat berenang juga di sana, di laut lepas. Tapi… kok ombaknya lebih tinggi dan tidak tenang ya..? Dan ketika kami nyebur, kok, sedada?? Waaaw, ternyata masih sisa pasang semalam.. Kami berenang menuju karang di depan sana dengan susah payah, karna ombaknya lumayan ganas bo! Jadi makin tertantang… Tak lama, Wulan dan Tika ikutan nyebur juga… Sisanya, fotoin kami yaahh!! ^_^

Kami bersih-bersih di masjid yang indah di dekat dermaga, mencuci muka dengan sabun, shalat, dan memakai sunblock kembali, tanpa berganti pakaian. Berlari-lari kami mengejar rombongan BEMers yang sudah akan naik kapal untuk petualangan berikutnya: Pulau Air!

Ketika kapal belum (hampir) merapat ke dermaga Pulau Air, anak-anak SIGMA mulai berloncatan dari atas kapal, ke laut. Dalamnya, katanya sih sekitar 3 meter. Keren dan asik sekali kelihatannya. Disusul anak-anak BEM yang memang bisa berenang dan mengambang. Aku bisa berenang, tapi tidak bisa water-trap jadi tidak bisa mengambang di satu titik. Tapi udah keburu mupeng, aku titipkan kacamataku, memakai jaket pelampung, masker dan snorkel, lalu ikut melompat. Hyeeeii!! Tapi di sini ada sebuah pengalaman traumatis, aku mencederai temanku yang melompat lebih dulu, beberapa detik sebelumku. Kupikir aku akan tercebur di sebelah kanannya, tapi ternyata aku tepat di atasnya, hingga ia yang belakangan kutahu sudah siap muncul kembali ke permukaan untuk mengambil napas tertindih olehku di dalam air, dan mengalami cedera. Maafkan aku sobat, sama sekali tidak sengaja… aku benar-benar merasa berdosa atas itu…

Ketika di laut itu, aku ingin berenang merapat ke pantai, tapi ternyata aku terlalu cepat merapat ke dermaga sehingga aku hampir saja terkena duri bulu babi yang sangat banyak menempel di situ. Aku yang memang panikan sempat panik parah melihat duri-duri hitam tajam itu di dekatku, lalu aku langsung menjauh sebisaku. Pfiuh, alhamdulillah selamaatt… lumayanlah, sampai snorkelku kemasukan air laut dan terminum, yang ternyata lebih asin daripada air laut di Pramuka! Parah beuutt.. Sampai di pantai, tak lama aku berenang kembali menuju pulau seberang yang terlihat dekat, dengan satu-satunya gaya katak yang kubisa tanpa memakai pelampung. Sampai di tengah aku ngos-ngosan dan hampir tenggelam (ternyata jauh bo!), tapi alhamdulillah aku bisa menguasai keadaan sehingga dapat memutar arah kembali ke pulau Air.. Hhh.. gak lagi-lagi deh.

Ternyata pantai di pulau itu sama sekali tidak landai. Cepat sekali turunnya. Jadi, demi keselamatan, aku selalu mengenakan jaket pelampung. Jadi ga keren (hahaa), tapi biarlah, siang itu aku menganggap diriku tidak bisa berenang hingga harus pakai pelampung kemana-mana. Hiks. Menyakitkan.

Lomba tarik tambang di dalam air dengan pijakan kaki berupa pasir yang njeblos ternyata susah banget! Jangankan di air, di darat saja aku belum pernah ikut tarik tambang. Dan sampai menulis ini, telapak tanganku masih luka-luka. Kemungkinan besar karna tambang itu (lenjeh banget ye…?).

Malamnya, saat para staf dan panitia (BWB) tukar kado, BPH berkumpul merencanakan performance untuk terakhir kalinya. Singkat cerita, setelah nonton “film dokumenter” BEM UI 2009, ada sesi renungan dari ketua kami, Tiko. Hiks, hiks,, basah deh ni muka, sedih dan sangat haru… dilanjutkan dengan ucapan terima kasih dan permohonan maaf dari setiap BPH kepada semua BEMers terutama staf masing-masing, diiringi lagu Semua Tentang Kita-nya Peter Pan. Sedddddiiiihhh banget… betapa ini kenyataan, kita akan berpisah. Ditutup dengan BPH menyanyikan reff lagu Ingatlah Hari Ini-nya Project Pop, kami masih menangis, saling memeluk haru, memaafkan dan berterima kasih satu sama lain. Terutama sama staf-staf PSDM yang perempuan, tumpah deh semua air mata. PSDMers yang cowok, cuma ngeliatin aja, ikut haru, tapi tak mungkin ikut berpeluk kan? Hehee.. lalu kami semua berlari menuju dermaga.

Gelap. Gerimis. Angin laut membadai. Lagi-lagi Tiko berkontemplasi sebentar tentang kebersamaan kita setahun kemarin, berdoa agar kita semua bisa berjumpa lagi di surga kelak. Keluarga, hingga ke surga. Lalu meminta seseorang untuk berbagi kesan, Bintang-Danus si PO Bedah Kampus. Tiga tahun ikut BEM UI, baru kali ini dia merasa begitu kehilangan. Jadi sedih. Tapi senang juga, berarti bermakna.

Tiba-tiba dari belakang kita ada teriakan, “BEM UI DUA RIBU SEMBILAAAANNN !!!” diikuti dengan munculnya kembang api warna-warni. Banyak. Semua terpana. Bertepuk tangan. Menyanyikan Mars BEM UI di kegelapan malam, sekali, dua kali, belum juga selesai. Pesta kembang api di dinginnya dermaga melengkapi keharuan kita malam itu…

Indah
Menutup akhir kebersamaan struktural kita
Harap,
Semoga kita dikumpulkan kembali di dalam
Surga-Nya
_________________________________________________________________________
Kamu sangat berarti istimewa di hati, slamanya rasa ini
Jika tua nanti kita t’lah hidup masing-masing,
Ingatlah hari ini

Monday, January 18, 2010

The Tipping Point

8:53 AM 4 Comments
malcolm gladwell


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:Malcolm Gladwell
Malcolm Gladwell, penulis buku ini, telah menulis 2 buah buku international bestseller lainnya; Blink dan Outliers. Gagasan-gagasan yang dikandung buku ini, ditambah dengan banyaknya referensi ilmiah yang diramu penulisnya hingga nyaman dipahami oleh orang awam, menjadi daya tariknya yang sangat memikat dalam menjelaskan berbagai fenomena sosial.

Tipping point adalah sebuah titik puncak terjadinya sebuah fenomena, atau saat terjadinya suatu epidemi. Sesuai dengan judul kecilnya, “Bagaimana hal-hal kecil berhasil membuat perubahan besar”, buku ini banyak bercerita mengenai fenomena epidemi yang seringkali mengejutkan dan tampak misterius. Bahwa pada suatu dekade tertentu, secara sangat tiba-tiba angka kejahatan di New York bertambah drastis, tanpa dapat diprediksi dan dijelaskan oleh para pakar ekonomi, kesehatan, pendidikan, sosiologi, dan disiplin ilmu lainnya. Dan bagaimana secara sangat tiba-tiba pula pada suatu titik setelah mengalami tipping, angka kriminalitas di kota itu menurun kembali, secara drastis pula. Belakangan diketahui hal ini sangat dipengaruhi oleh program pembersihan coret-coretan grafiti pada dinding kereta-kereta bawah tanah di kota itu. Penasaran, apa hubungaannya??

Masih ada lagi. Awal terjadinya revolusi Amerika, tingginya angka bunuh diri pada remaja-remaja di Mikronesia pada 1 dekade tertentu, bagaimana Sesame Street dan Blues Clues menjadi sangat sukses sebagai tayangan pendidikan untuk anak, atau mengapa kampanye anti-rokok yang telah ada selama ini tidak mengakibatkan penurunan jumlah perokok dan bagaimana menemukan strateginya yang tepat, dan epidemi-epidemi lainnya yang ternyata banyak hal-hal menakjubkan dibaliknya dibahas di dalam buku ini.

Setelah itu, saya jadi berpikir, buku ini sangat bagus untuk dibaca dan dimiliki oleh para tim kampanye. Apapun. Apalagi buat tim kampanye da’wah, a.k.a. da’i maksud saya.

Selesai juga,
14 Januari 2010

Baca Juga: Kepantasan

Sumber gambar: https://www.pinterest.de/pin/331718328784134104/

cerita pengamen

8:47 AM 10 Comments
Pengamen Profesional

         Mungkin ada yang telah membaca status saya di facebook beberapa hari lalu, mengenai pengamen. Pengamen yang saya ceritakan di status itu sering saya jumpai di bis jurusan Bekasi (Barat)-Kp. Rambutan via tol CIkunir pagi hari. Membawa gitar, dan harmonika yang dengan suatu alat dapat tersampir di bahunya. Suaranya pas-pasan menurut saya, tapi ketepatan nadanya bagus banget! Kerasa seninya. Diam-diam aku menikmati.. dan selalu mematikan mp3 ketika ia mulai beraksi. Ketika ia selesai “manggung ” dan menyebarkan kantong uang, ia selalu menyertakan kata-kata, “ya, bagi anda yang masih memiliki jiwa seni dan sosialnya…” untuk ngasih gitu… Tampaknya ia sadar bahwa performance-nya juga bernilai seni. Heheh..

        Ada lagi. Yang ini jauh lebih dulu aku temui, rutin manggung di bis yang sama, tapi arah Bekasi dan sore hari. Tidak seorang diri, melainkan sekelompok. Yang ini mangkal di jalan baru Pasar Rebo, setia menemani penantian ngetem si abang supir dengan lagu-lagu anyar selama lebih dari 4 tahun. Aku yang jarang nonton TV jadi terbantu untuk tetap tau lagu apa saja yang sedang in. Lumayan, buat gaul. Hehe..

        Dalam kelompok mereka, ada gitaris dan vokalis, pemain biola, gendang, dan,, apalagi ya? Rame deh. Setiap manggung biasanya 4 orang. Saya tuh ingin sekali bisa main biola, tapi belum kesampaian, jadilah saya sudah sangat senang bila melihat orang bermain biola, memperhatikannya, dan berpikir, “kapan nih aku bisa belajar biola??”. Beberapa kali si pengamen yang main biola memergoki saya sedang memperhatikan permainan biolanya. Sekali lagi, permainan biolanya. Bukan orangnya. Sungguh. Tapi yang terjadi adalah, dia geer, merasa diperhatiin, dan jadi senyum-senyum sambil ngeliatin saya. Duh. Males deh jadinya…

        Nah, yang paling menarik dan membuat saya sangat senang dengan kelompok pengamen ini adalah ketika suatu saat saya menyadari bahwa posisi orang dan alat musik yang dimainkan tidak selalu sama. Bergilir. Misalnya hari ini si A main gitar mencakup vokalis, si B main gendang, si C gitar juga, dan si D biola. Besoknya, si A main gendang, si B gitar, si C biola, dan si D gitar dan vokal. Dan seterusnya, bergilir. Waow! Saya sangat takjub akan hal ini. Jadi semua anggota bisa main di posisi apa saja.

         Selain memang mereka mengamen dengan sepenuh hati ingin menghibur, iklim pembelajarannya sangat kental. Saya suka. (*Maksud??)

         Kedua pengamen di atas, dan mungkin ada juga pengamen-pengamen lain, benar-benar membuat saya menghargai mereka. Hidup di jalan dan mengangsurkan kantong permen untuk menerima uang bukanlah mengharapkan belas kasihan orang lain, seperti minta-minta yang terselubung dengan cuap-cuap asal. Mereka benar-benar berusaha untuk menghibur pendengarnya. Leher mereka berkeringat-bercucuran dan uratnya pun nampak ketika bernyanyi. Uang-uang yang akhirnya mengalir ke kantong mereka pun saya yakin, merupakan apresiasi orang-orang atas usahanya menghibur mereka. Bukan karena kasihan. Salut. Padahal yang tidak bersusah payah agar penampilan mereka bagus pun, tetap mendapat uang dari orang-orang yang kasihan. Tapi mereka tidak.

          Mereka memilih untuk jadi terhormat, meskipun mereka pengamen jalanan.
Bagi saya, mereka pengamen profesional.

Semakin sering naik bis,
14 Januari 2010

Wednesday, January 13, 2010

tentang sebaik-baik perempuan

9:02 AM 36 Comments
Akhir-akhir ini di Fakultas Psikologi UI sedang “musim kawin”. Seingat saya, dulu, sangat jarang senior saya yang menikah segera setelah lulus. Apalagi sebelum lulus. Hampir tidak ada. Tapi ini seingat saya… Sekarang,, jangan tanya deh. Belum lulus saja sudah pada nikah. Begitu melonjaknya menurut saya, namun tidak ada faktor tertentu yang membuat fenomena ini menjadi meningkat sedemikian tajam (*lebay) dan berada di tipping point (prikitiuw! Baru baca bukunya nih!).
Seiring dengan itu, saya yang sedang menyelesaikan skripsi dan mencari “teori” tentang peran dan kewajiban suami dalam rumah tangga, mendapat ide untuk menulis ini. Karena belum sempat mencari di perpustakaan fakultas mengenai teori tersebut yang menurut psikologi, saya “iseng” mencari di kitab Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, jilid 3, mengenai pernikahan dan seterusnya. Lalu saya menemukan dalil berikut,
     Dari A`isyah r.a., Nabi saw. bersabda,
“Sesungguhnya, perkawinan yang besar keberkahannya adalah yang paling murah maharnya.” Sabda beliau juga, “Perempuan yang baik hati adalah yang murah maharnya, memudahkan urusan perkawinannya, dan baik akhlaqnya. Adapun perempuan yang celaka yaitu yang mahal maharnya, menyusahkan perkawinannya, dan buruk akhlaqnya.”
Paragraf selanjutnya menjelaskan mengenai hadits ini. Mahar yang mahal dan pernikahan yang dipersulit akan memberatkan pihak pria (terutama) untuk melangsungkan pernikahan, sehingga dapat berakibat si pria takut dan menunda-nunda keinginannya untuk menikah. Keinginan yang tertunda ini biasanya dialihkan pada hubungan-hubungan lain di luar nikah yang tidak halal. Nah, hal inilah yang dapat mendatangkan mudharat lebih besar, bahkan hingga (na’udzubillah) perzinaan.
            Kenyataannya kini, tidak sedikit perempuan dan orang tua perempuan yang masih menginginkan jumlah mahar yang besar. Alasannya adalah karena mahar itu merupakan cerminan harga diri seorang perempuan. Sekali lagi, mahar adalah sebuah nilai/nominal yang mencerminkan keberhargaan seorang perempuan (menurut mereka). Jadi kalau sedikit, yang mereka pikirkan adalah, “Murah amat (anak) gue cuma dihargai segitu”.
            Mengenai mahar itu pemberian suami kepada istri ketika menikahi dan seluruhnya menjadi hak istri, itu memang benar. Bila besarannya ditentukan oleh pihak perempuan (istri) yang selanjutnya disepakati bersama, itu juga dibenarkan. Tapi kalau mahar itu disamakan dengan harga beli istri? Saya sih, sehalus apapun bahasanya dari harga beli itu, inginnya kok mengucap, na’udzubillah, ya? Apakah mahar yang sedikit mencerminkan bahwa si istri tidak terlalu berharga? Apalagi ketika istri menerima dengan segenap kerelaannya mahar yang sedikit itu, apakah itu berarti dia menghargai dirinya dengan rendah pula?
            Menurut saya justru sebaliknya. Mahar yang murah, mencerminkan kerelaan istri atas pemberian suaminya. PembeRian. Bukan pembeLian. Karena sejatinya si istri terlalu mahal untuk bisa dibeli, walaupun oleh suaminya sendiri. Si istri sejatinya hanya layak dibeli oleh Allah, Rabb-nya. Dan sang suami tak akan pernah sanggup membelinya, meskipun dengan mahar semahal apapun.
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka, dengan memberikan syurga untuk mereka” (QS: At-Taubah: 111)
            Maka apabila diri dan harta telah dijual hanya kepada Allah dengan syurga (syurga men! mau apa lagi??!), kedudukan suami dan istri sejajar dalam rumah tangga, karena tidak ada akad yang menyatakan bahwa suami membeli istri dan istri telah dibeli oleh suaminya sendiri. Suami, hanya memimpin. Bukan memiliki.
Wallahu a’lam.
Kalau sedang buntu atau malas
mengerjakan skripsi, cara membuatku
“ON” lagi adalah,
Menulis. Tentang apapun.
9 Januari, 2009

Monday, January 4, 2010

Bincang-bincang Tentang Malaysia; How I Proud to be Indonesian

1:03 PM 23 Comments
         Beberapa waktu lalu, seorang mahasiswa Universiti Malaya asal Riau, Indonesia, datang berkunjung ke ruang BEM UI. Saat itu sedang sepi, hanya ada beberapa orang staf, kepanitiaan, dan beberapa BPH (saya, Budi, dan Input). Awalnya saya agak cuek karena ada yang harus saya selesaikan. Budi-lah yang menemaninya mengobrol dan berbincang. Lepas ashar, shalat berjamaah di ruang BEM yang itu-itu juga, Budi masih menemani teman kita itu berdiskusi mengenai dunia kemahasiswaan dan pergerakannya di Indonesia, lalu membandingkannya dengan di negara tempat ia menuntut ilmu sekarang, Malaysia.
            Menit demi menit berlalu, staf-stafnya Budi mulai ramai berdatangan karena mereka sebentar lagi akan rapat. Dengan halusnya Budi berusaha mengalihkan dengan memanggil saya dan Input, “Eh, BPH, Kak, kenalin nih, ada teman kita dari Malaysia…” kurang lebih seperti itu. Saya yang sebelumnya memang agak cuek sambil nunggu dipanggil (halah), dan Input yang juga sedang tidak ada kerjaan ‘detik itu’, menghampiri, menyapa, dan memperkenalkan diri. Karena sepertinya Input juga mau rapat dan tidak ada bahan perbincangan, akhirnya saya berinisiatif untuk mulai bertanya. Awalnya saya menanyakan dan mengapresiasi kampanye Batik Punya Indonesia (bukan nama sebenarnya) yang mereka lakukan di sana 3 Oktober lalu. Kemudian saya juga menanyakan apakah dia mengenal sahabat kecil saya yang berkuliah di Universiti Utara Malaysia, karena sangat mungkin mereka sama-sama tergabung dalam PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Malaysia.
            Lambat laun cerita mengalir dan ia banyak bercerita. Katanya, di Malaysia sana, semua rakyat itu tunduk dan patuh pada otoritas pemerintah yang berkuasa. Menelan semuanya bulat-bulat (kebijakan, informasi, dll). Tak peduli pada sumber lain. Aman. Yang namanya mahasiswa itu, boro-boro deh ikut aksi demonstrasi. Penjara, Men! Apalagi mahasiswa internasional (termasuk Indonesia), kalau sekali saja ketahuan ikut aksi demonstrasi, kalau tidak penjara, langsung deportasi! Ckckckck,, kasihan, mereka sangat iri pada dinamisnya dunia kemahasiswaan kita yang bebas, dinamis, dan demokratis.
Saya juga men-share apa yang pernah saya baca dari catatan perjalanannya Gola Gong tentang Malaysia dan menanyakan pendapatnya (meminta persetujuannya atau paling tidak penjelasan lah). Gola Gong bilang, dia tidak menemukan adanya ‘gairah’ pada penduduk Malaysia–bahkan para pemuda dan pemudinya. Tau apa reaksi teman kita itu? Dia sangat senang saya mengetahui hal itu –seolah-olah saya bisa memahami ‘kesedihannya’ yang tidak dapat dipahami oleh manusia seplanet bumi. Lalu dengan bersemangat ia mulai menjelaskan,
“Orang Malaysia itu, datar. Bicara dengan orang tua dan bicara dengan teman, sama saja! Kalau kita kan, dengan teman kita bisa lepas, santai, sedangkan dengan orang tua kita biasanya lebih sopan, halus… mereka nggak, mereka sama aja pada semua umur, sama kakunya. Senior saya di sana pernah bilang, bila ada 2 orang; 1 orang Indonesia dan 1 lagi orang Malaysia, meski wajah mereka mirip, dia tetap bisa membedakan mana yang Indonesia dan mana yang Malaysia. Orang Indonesia tuh, gimana ya, lebih lepas gitu. Kalau mereka kayak agak-agak tertekan gimana gitu… Meskipun orang Malaysia tertawa sampai ngakak (terbahak-bahak), tetap saja tawa mereka itu seperti tidak lepas…”
Waow. Kurang lebih seperti itu penjelasannya. Ternyata sejalan dengan yang diceritakan Gola Gong. Jadi kalau menurut saya, secara psikologis kita sebenarnya (seharusnya) lebih sehat daripada orang Malaysia… kita terbiasa terbuka, mengemukakan pendapat dan keinginan, hidup tanpa tekanan otoritas (meski raga kadang terkungkung masalah hidup, namun batin kita bebas merdeka). Orang miskin kita pun masih bisa bahagia –kalau dia mau.
            Lagi. Lagi. Sekarang tentang pendidikannya. Entah sistemnya atau budayanya atau apanya, yang jelas menurut ceritanya, pelajar Malaysia itu sangat pasif di kelas. Jangankan berdiskusi, mereka bahkan tidak pernah bertanya. Menurut mereka, “banyak bertanya = bodoh”. Bila ada yang tidak mereka pahami tentang suatu pelajaran, mereka menemui dosen terkait di ruangannya untuk meminta penjelasan lebih banyak, atau di manapun, yang penting tidak di kelas dan, privat. Kesimpulannya menurut teman kita ini,
“jadi mereka pintarnya sendiri saja, tidak bagi-bagi. Kalau kita (mahasiswa internasional) kan kalau punya ilmu dibagi-bagi, senang berdiskusi, banyak bertanya, kritis,,, kalau mereka tidak… maka itu kami lebih senang bergaulnya dengan anak-anak internasional juga di sana
Seperti ‘kita dahulu’, tapi ini realitas ‘mereka sekarang’. Seperti kurikulum zaman guru SD saya sekolah: DDCH. Duduk, Dengar, Catat, Hafal. Kalau kata cerita beliau, itu peninggalan penjajah; kita terbiasa hidup terjajah.. Tahukah, bahwa banyak orang yang bilang,
“orang-orang kita mah ga pada pinter-pinter, ga dibiasain kritis seperti orang-orang luar,”
pasti yang mereka maksud barat. Hey, lihat tuh, di Jiran situ, anak-anak Indonesia termasuk sangat aktif!! Nah. Satu yang menggelitik saya setelah itu,
“Dulu kan mereka (Malaysia) belajar pada kita, dan sekarang kita yang banyak belajar ke mereka. Sebenarnya, apa sih yang membuat pendidikan mereka lebih maju daripada kita???”
Menunggu dikau pulang,
Rumah, 27 Desember 2009

Friday, December 11, 2009

Tuesday, December 8, 2009

Cucu-cucu Ibu

10:44 AM 18 Comments
Namanya (ki-ka) Fadia, Reynaldi (Rey/Iyei), dan Tery. Fadia dan Tery adalah kakak-adik, sepupuan dengan Rey. Rey itu, awalnya, suliiiiittt banget disentuh. Boro-boro deh diajak main atau bercanda, disentuh aja susah! Tapi Fadia dan (terutama) Tery, mereka kebalikannya, supelnya minta ampun! Setelah Fadia dan Tery tinggal serumah dengan Rey dan nenek mereka, lambat laun Rey pun jadi serupa: supel, lincah, dan tidak malu-malu lagi. Mereka sering teriak memanggil kami, “Tanteeee!!!” dari rumah mereka. Awalnya mereka belum tahu namaku. Dan tahukah anda, dengan lucunya mereka bertanya padaku, “Tante, Tante,,, Tante namanya siapa??” Hhaaa..senang sekali ditanya begitu oleh anak-anak, di mana biasanya orang dewasa yang banyak bertanya pada anak kecil. Setiap aku pulang dan terdengar suara kunci pintu dibuka, dengan semangat kepala-kepala mungil mereka muncul menyibak gorden kamarnya yang berseberangan dengan pintu kami, dan berteriak memanggil (cadel), “Tante Falah, Tante Falah, Tante Falah…” terus berulang-ulang, sampai aku melambaikan tangan dan balik menyapa mereka, dan baru berhenti setelah aku masuk dan mengunci pintu. Tidak hanya aku, teman-temanku juga mengalami hal serupa.
Ya, semenjak tinggal di Depok, saya jadi sering menemukan anak-anak kecil yang supel. Tidak malu-malu, bahkan tidak jarang anak-anak kecil itu “menggoda” saya, (sebut saja) orang dewasa. Jadi tambah lucuuu….!! Anak-anak tetangga, cucu-cucu ibu, atau anak-anak kecil di sembarang tempat –di depok.
Suatu hari, saya berangkat agak siang ke kampus. Melewati pintu rumah ibu yang terbuka, dan sedang ramai dengan cucu-cucunya, mereka. Ketika aku keluar, mereka berteriak memanggil-manggilku sambil berebut mendatangi aku (haduh jadi enak), cium tangan, dan menarik-narik bajuku,
“Tante, Tante,,, Tante mau kemana?” Tery dan Fadia. Tampak sekali mereka baru habis mandi. Wangi dan berbedak. Rey yang sedang dipakaikan baju oleh oomnya, tak seperti biasanya, menyambutku dengan luar biasa heboh melebihi yang lain,
“Tante Falaaahhh!!!” uhm. Dia berlari ke arahku dengan bertelanjang dada dan membawa-bawa celana pendek (untung omnya sudah selesai memakaikan dalamnya). Lalu kupakaikan celananya itu, dan,
“Bajunya mana?” tanyaku. Dengan ‘sopan’nya, ia memerintahkan Tery –yang sebenarnya lebih tua untuk masuk mengambilkan bajunya,
“Ambil baju! Ambil baju di Om!!” Si Tery nurut aja lagi.. diambilkannyalah baju Rey, lalu aku pakaikan lagi. Beres, dia baru bertanya,
“Tante Falah mau kemana?” “Mau ke kampus” mereka paham kampus tidak ya?? Tanyaku dalam hati.
“Kampusnya di mana?”
“Di UI, nyeberang”, jelasku. “Tante berangkat yaa…!” mereka mengangguk, cium tangan. Kucium satu-satu. Masih sambil melambaikan tangan aku berjalan menuju pagar.
“Tanteeee!!!” Tery. Dia mengejarku, menarik tanganku sambil cengar-cengir.
‘Halah Tery…aku juga sebenarnya ingin di sini saja sama kalian’, pikirku.
Kembali berjongkok, ”Kenapa? Ikut yuk!” (pastinya) mereka menggeleng, lalu,
“Dadaahh Tante Falaaahh!!” Haduuuuuwww… gwemeeeezzss..
Uhmm… lalu?
Sebenarnya,,, apa ya, yang membuat anak-anak kecil itu jadi punya kepercayaan diri yang tinggi seperti itu? Kalau dulu,, sepertinya jarang sekali ditemukan anak seperti itu. Mungkinkah karna bawaan genetis? Faktor didikan orang tua? Atau sosialisasi lingkungan?

Tapi rasanya malas sekali mengkaji berbagai kemungkinan itu dengan teori perkembangan.
Yah, hanya ingin bercerita, betapa menyenangkannya kehidupanku selama 4 tahun di
Kosan Bu Ayub
Depok, 7 Desember 2009

Monday, November 30, 2009

Pertama kalinya aksi…

11:57 AM 10 Comments
Pertama kalinya aksi…
….dengan naik motor. Setelah 4 tahun lebih jadi mahasiswa UI dan entah keberapakalinya turun aksi, kali ini aku Ikut dalam rombongan lebih dari 40 motor (+/- 80 orang) berjaket kuning almamater kebanggaan, di depan beberapa bis peserta aksi yang lain. Dari jumlah itu, hanya 2 motor yang dikendarai oleh mahasiswi. Sisanya berjakun semua. Sebenarnya motor teman, tapi karna satu dan lain hal, disepakati aku yang mengendarai dan temanku si pemilik motor yang membonceng di belakang. Hehee, semena-mena.
Hari itu tanggal 10 November 2009, hari Selasa. Ratusan mahasiswa UI turun ke jalan menuntut keadilan yang kian lama kian meresahkan seluruh masyarakat. Intinya, kasus Bibit-Candra-lah.
Awalnya beberapa orang (kebanyakan berjenis laki-laki) terkaget-kaget atau tersenyum penuh arti melihat aku ikut pasukan motor dengan gagahnya yang minjem helm pak Lili Mahalum Psiko. Apalagi aku yang nyetir. Maklum, dari luar aku memang terlihat feminin, tapi dari dalam sebenarnya aku maskulin (o,ow). Kalo akhwat sih kebanyakan sudah tau itu.
Temanku pernah bilang, kata ayahnya, anak perempuan itu ga bisa liat jalanan mulus dikit. Pasti pengennya langsung ngebut. Iyakah? Hmmm… mungkin aku yang masih amatir, tapi yang jelas awalnya aku cukup kesulitan mempertahankan kecepatan agar tetap di barisan. Nyalib, nyalib, nyalib,,, tanpa terasa aku sudah hampir berada di barisan motor paling depan. Dan aku baru ingat bahwa, AKU TIDAK TAHU JALAN!!! Bagaimana iniii?? Lalu menepilah aku…
Singkat cerita, aku takjub sendiri demi menyadari kami adalah penguasa jalanan. Dengan dikawal polisi, pasukan bermotor kami memblokir setiap belokan yang akan dilewati oleh bis-bis peserta aksi agar tidak terganggu dengan pengguna jalan lainnya. Ngebut di jalur busway dengan izin resmi dari kepolisian,,, pokoknya merajai jalanan deh. Jalan-jalan ibukota serasa punya engkong gue. Hehehe.. tapi tetap tertib koookk.. percayalah.. anak UI gituh. Malu-maluin kalo ga tertib. Ada sensasi gimannnaaa gitu saat itu..
Ketika lagi-lagi aku menyadari sudah berada paling depan, tepat di belakang mobil sound, anak-anak di atas mobil itu menyuruhku untuk terus, membalap mobil itu. Tapiii,, aku menggeleng dan dengan ekspresi cemas aku bilang aku tidak tau jalan. Terutama anak-anak Polhum (Politik dan Hukum) BEM UI yang baru tau kalo Kabir PSDM-nya yang selama ini keibuan (hadooohh) ternyata okem juga, langsung tertawa ngakak melihat ekspresi polosku. Ah biarlah, hitung-hitung amal menyenangkan saudara…
Lallluuu… singkat cerita, ketika massa aksi beristirahat di DepHut untuk shalat ashar, aku dan temanku si pemilik motor akhirnya cabut kembali ke Depok, menunaikan amanah lain yang tak mungkin ditinggal.
Uhmmm.. sedikit saja.. Untuk temanku si pemilik motor, trimakasih banyak ya atas kesempatannya… Mungkin karna adrenalin yang selama ini tak terlalu berpacu, giat kembali. Maklum, biar okem aku juga anak perempuan yang dijaga dengan cukup protektif oleh ayahnya… kalo jalan jauh jangan naik motor, naik umum aja, lebih aman. Bahkan sampai sekarang aku belum bilang kalau aku pernah mengendarai motor dari rumah di Bekasi sampai Depok, saat masih amatir banget belajar motor dan SIM yang baru banget dipegang, seorang diri. Mana ga apal jalan… Atau aku yang kalau ikut aksi atau naik gunung beraninya baru bilang setelahnya, karna kalau sebelumnya, pasti ga diizinin =P
Bekasi, November 27, 2009

hai, cinta

11:53 AM 21 Comments
Hai Cinta,
Iklan bilang, kesan pertama itu begitu berharga
dan aku sangat terkesan pada perjumpaan kali pertama kita
pada sikapmu yang sangat menghargai waktu dan, menghargai aku
pada sikap antusiasme-mu memenuhi semua yang kupinta
pada semangat membangunmu yang membara, memanaskan semesta kita kala itu
juga inisiatifmu yang membuatku sangat yakin bahwa kamu adalah
pilihan terbaik untukku
serta, pada kerendahan hatimu meleburkan yang ada padamu padaku, pada kita

Hai Cinta,
Aku juga pernah kau buat sangat terkesan dan haru
pada komitmen yang tak harus selalu diingatkan
pada pengorbanan waktu, kesempatan, bahkan nilai akademismu
untuk menepati janji pertemuan kita,
Selasa sore

Hai Cinta,
Ingatkah akan hujan sore itu yang meng-kuyupkan pakaianmu,
yang dengan rela kau terabas
karena aku tak sempat membalas pesanmu,
‘tak apa kau tunggu hujan reda, sayang..’

Hai Cinta,
Ingatkah pada suatu hari kau bersedih dan tak ingin datang bertemu aku?
tapi nyatanya kau tetap datang Sayang, demi mengartikan aku tak rela kau tak datang
hanya karena aku tak membalas pesanmu
Sungguh aku merasa sangat berarti

Hai Cinta,
Ingatkah perjalanan kita ke Kota Tua?
Tentang sejarah, negeri, perbankan, kemerdekaan, hingga es potong beragam rasa?
Indah ya…?

Cinta,
kau pernah datang padaku dengan hati terluka
juga aku, sering datang padamu membawa luka
tapi sadarkah, kita selalu bisa saling mengobati satu sama lain?
hingga kita kembali pulang dengan senyuman dan hati merona

Hai Cinta,
terima kasih ya, hadiahmu tahun ini
luar biasa membekas menyemburat indah di hati
bahwa aku dicintai

Hai Cinta,
Kupikir dirimu tidak jauh beda dengan yang lain;
butuh perhatian dari yang lain juga, tak hanya aku
butuh apresiasi dari yang lain juga, tak cukup hanya aku
tapi aku benar-benar bangga padamu saat kau bilang aku saja sudah cukup,
dan kau tak perlu yang lainnya
Cinta, aku bangga ternyata kau jauh melebihi yang lain

Hai Cinta,
aku memang pernah bilang aku sangat bangga pada penerus-penerus kita,
ahad siang waktu itu
tapi percayalah, kebanggaanku pada mereka adalah setelah
kebanggaanku padamu
Sungguh.

Hai Cinta,
Terima kasih telah membantuku menjadi manusia sehat lahir-batin
terima kasih telah membuatku merasa bisa, sekaligus bisa merasa
terima kasih telah menjadi penawar luka-lukaku
terima kasih untuk kerja-kerja penuh tawa, peluh, semangat, dan do’a-do’a,
semoga ikatan kita kekal hingga ke syurga

Duh Cinta,
tak sabar lagi aku ingin menyebut siapa kamu

Maka itu saksikanlah, cinta ini kamu:
deputi, kepala-kepala divisi, bendahara, sekretaris, dan seluruh staf Biro PSDM BEM UI
(Dhila, Lina, Ana, Yoga, Ayu, Vita, Mimi, Prima, Tika, Mikko, Abay, Dini, Hannah, Fanny, Adit)
LUV U ALL !!!
*kabir gombal beraksi
Bekasi, November 26, 2009

Thursday, November 5, 2009

Manajemen Waktu Ala Kamu

9:46 AM 27 Comments
Mohon maaf, tulisan ini tidak akan mengajari anda tentang tips-tips mengatur waktu yang baik. Melainkan, tulisan ini mencoba menyentuh hal yang lebih mendasar dari manajemen waktu tersebut. Bila dilakukan dengan sungguh-sungguh, mudah-mudahan dapat mengubah sikap dan perspektif kita tentang waktu, yang insya Allah akan sangat membantu dalam mewujudkan semua waktu yang kita punya menjadi: prestasi! Itu kan yang lebih penting?!

Apabila kita cermati, kita akan menemukan betapa seringnya Allah SWT bersumpah atas nama waktu dalam Al-Qur’an; waktu matahari naik sepenggalah (QS: Adh-Dhuha), waktu malam (Al-Lail), waktu fajar (Al-Fajr), waktu subuh (Al-Falaq), dan demi waktu itu sendiri (Al-‘Ashr). Sejalan dengan sumpah Allah yang selalu saja atas nama hal-hal yang besar, penting, dan vital, maka sebenarnyalah waktu itu sesuatu yang besar, penting, dan vital dalam kehidupan kita. Sebuah hadits juga menyebutkan bahwa waktu itu ibarat pedang. Bila kita mampu mengaturnya dia akan menyelamatkan kita, namun jika tidak dia bisa menebas leher kita sendiri. Waktu itu sangat penting; vital.

Imam Hasan Al-Banna juga menyebutkan, “Alwajiibatu aktsaru minal auqat”, bahwa kewajiban itu lebih banyak daripada waktu yang kita miliki. Maka seharusnya tidak ada malas-malas dong?! Kesadaran bahwa waktu itu vital dan ternyata tidak cukup untuk menyelesaikan semua yang harus kita kerjakan, akan membuahkan sebuah sikap menghargai waktu.

Ketika datang terlambat, sadarkah kita telah menzhalimi orang lain yang telah berusaha tepat waktu? Alih-alih apresiasi, sekitar kita kini sangat terbiasa dengan budaya “menghukum yang benar”, membuatnya menghabiskan waktu untuk menunggu orang lain yang terlambat. Dan itu sungguh tidak menyenangkan. Terlambat datang kelas, sama dengan menghukum yang tepat waktu, mengganggu toh?
Sebenarnya, yang lebih penting dan mendasar dari manajemen waktu adalah manajemen diri. Waktu akan berjalan dengan apa adanya, tak berubah, sesuai kehendak Sang Khaliq. Yang bisa kita ubah hanyalah diri kita. Bagaimana kita bersikap dan berespon terhadap waktu yang kadang kala seperti tak berperasaan, terus saja melesat maju tanpa mau peduli sesuntuk apa pikiran dan hati kita. Juga bagaimana kita mengatur aktivitas kita dengan penyesuaiannya yang tepat terhadap waktu. Berikut cara-caranya:
  1. Know thy self; kenalilah diri anda sendiri, lalu siasati. Bila anda butuh waktu lama untuk berbenah (atau berdandan), bangunlah lebih cepat. Berbenah (atau berdandan) lah lebih awal. Bila anda seorang yang pelupa, buatlah catatan di tempat strategis yang memungkinkan anda untuk selalu melihatnya. Seperti apapun dirimu, selalu ada jalan. Percayalah kawan...
  2. Belajar disiplin. Kalau suatu saat Allah malas memberi kita oksigen untuk bernapas, satu jaaaamm saja, apa yang akan terjadi pada diri kita? Ko’it? Pasti. Nah, Allah sudah mencontohkan kita untuk disiplin. Seperti yang seringkali kita dengar dari nasihat ortu, disiplin itu kunci sukses!
  3. Nah teman, mungkin ini yang agak sulit. Untuk bisa disiplin, kita harus tegas pada diri sendiri. Belajarlah tegas. Tegas terhadap target-target yang telah kita buat. Berani berkata tidak meskipun kelihatan menggiurkan. Tegas terhadap godaan-godaan yang datang dari orang lain untuk bersantai, mengobrol sejenak (niat awalnya, tapi biasanya bablas), senang-senang, dsb. Bukannya tidak boleh, tapi ya itu tadi, kita harus tegas. Semua ada batasannya. Kawan, jadilah raja atas kehendakmu sendiri. Jangan selalu mengikuti arus yang dibuat orang lain. Buatlah arus dan aturanmu sendiri. Lalu tegaslah terhadap dirimu. Kemudian percayalah, orang lain akan menghormatimu. Ketidakmampuan untuk tegas inilah yang biasanya menggagalkan semua usaha dan cara-cara manajemen waktu yang telah ada.
  4. Buat skala prioritas. Kalau tentang ini, banyak lah ya, yang sudah membahasnya. Kelompokkan hal-hal yang harus kita kerjakan, mana yang penting—mendesak, penting—tidak mendesak, tidak penting—mendesak, lalu yang tidak penting—tidak mendesak. Atau mana yang menyangkut kemaslahatan banyak orang, dan mana yang untuk diri pribadi. Lalu kerjakan sesuai prioritas.
  5. Terakhir, pastikan setiap waktu kita efektif. Kata Allah di surat Al-Insyirah ayat 7-8, “apabila kamu sudah selesai mengerjakan suatu urusan, maka kerjakanlah urusan yang lain”, artinya, teman, seharusnya tidak ada waktu kosong dalam hidup kita kan? Saya punya motto (diambil dari La Tansa Male Cafe waktu SMA), ½ + ½ = 0. Maksudnya, setiap pekerjaan yang dikerjakan dengan setengah-setengah, hasilnya pasti tidak akan baik (nol). Maka, jadikan semua yang kita kerjakan juga efektif, signifikan.                                               
Mahasiswa aktivis mungkin seringkali terjebak dengan cap prokrastinasi (menunda-nunda pekerjaan/tugas kuliah) atau cap magabut (makan gaji buta) dari kelompok tugas akademisnya karena jarang datang kumpul kelompok. Seharusnya tidak. Sebenarnya bukan prokras, hanya mendahulukan tugas-tugas yang lebih mendesak. Dan karena deadline tugas masih lama……Yang penting, pastikan tidak ada waktumu yang terbuang sia-sia. Alhamdulillah saya tidak pernah dicap magabut oleh kelompok saya, meski seringkali tidak datang kumpul kelompok. Biasanya, saya mensiasatinya dengan mengambil peran signifikan dalam tugas kelompok. Misal, waktu itu saya sedang riweuh-riweuhnya jadi Kadept Kesma, menyebabkan saya hampir tidak pernah datang kumpul kelompok selain pertemuan di kelas. Saya usahakan komunikasi selalu lancar sehingga teman-teman bisa mengerti. Kompensasinya, saya menawarkan diri untuk menjadi pewawancara (aktivitas inti dari tugas tersebut) yang disambut dengan sangat baik oleh kelompok. Singkat cerita, alih-alih saya, seorang teman yang lain malah dicap magabut karna perannya kurang signifikan dalam kelompok, meskipun ia selalu datang kumpul kelompok.
Hhhwaaahh… alhamdulillah selesaaaaiiii… selamat mencobaaa… semoga bermanfaat… ^__^
--Sudah Malam Sekali, 4 November 2009—

Baca Juga: Cut Nyak Dien; Sebuah Novel Epik Perang Aceh

Monday, October 26, 2009

Untukku

1:26 PM 11 Comments
Rating:★★★★★
Category:Music
Genre: Pop
Artist:Chrisye
Kemana langkahku pergi, slalu ada bayangmu
Kuyakin makna nurani, kau tak ‘kan pernah terganti
Saat lautan kau seberangi, janganlah ragu bersauh
Kupercaya hati kecilku, kau tak kan berpaling

Walau ke ujung dunia pastinya 'kan kunanti
Meski ke tujuh samudera pasti ku kan menunggu

Karena kuyakin
Kau hanya untukku

Pandanglah bintang berpijar, kau tak pernah tersembunyi
Dimana engkau berada, di sana cintaku


**semalam mendengarkan lagu ini, tiba-tiba menemukan 'aha'.. ternyata dalam lagu ini terdapat pemaknaan yang dalam mengenai takdir.. dalam sekali...

Tuesday, October 20, 2009

Kalau Allah Sudah Berkehendak, Apapun Bisa Terjadi

2:25 PM 17 Comments
Suatu pagi di kolam renang waktu khusus wanita. Beberapa perempuan tua –berusia sekitar 60 tahunan lebih— masih lincah berenang dan, sangat jago. Sebenarnya kemahiran nenek-nenek berenang inilah yang dulu memotivasiku untuk segera bisa berenang. “Nenek-nenek aja bisa, masa aku yang masih muda ga bisa?!” Ternyata mereka memang atlet renang semasa mudanya. Wew..
Seorang nenek –aku ingat sekali baju renangnya warna biru muda—sedang mengajari seorang wanita muda menyelam, kemampuan dasar diving. Suatu saat mereka berdua beristirahat di pinggir kolam yang dalamnya 2,2 meter. Mereka, berdua saja. Tiba-tiba kami semua dikejutkan dengan teriakan panik wanita muda itu, “Eh, ibu, ibunya tenggelam!!” Spontan kami langsung berlarian ke arahnya dan berusaha mengangkat perempuan tua itu ke tepi. Ia pingsan, di dalam air.
Panik, semua orang memberi perintah. Telah dicoba membalik badannya agar air yang terminum keluar. Memberinya napas buatan. Menekan-nekan dadanya untuk mengeluarkan air sekaligus memicu detak jantungnya. Menekan keras-keras ibu jari kakinya agar ia tersadar. Alhamdulillah, ia bernapas kembali. Setelah menyumpalkan sendok diantara gigi atas dan bawahnya, dengan cepat beliau digotong keluar menuju klinik terdekat, dengan sebuah mobil.
Hampir semua kami yang tidak ikut mengantar ke klinik terdiam di pinggir kolam, berusaha mengatur napas yang memburu, mengendalikan shock dan kelebatan pikiran masing-masing.. wanita muda yang sempat diajarinya menyelam pun menangis. Jelas saja. Ia masih sempat mengira nenek itu sedang menyelam biasa, tapi kenapa lama sekali tidak muncul-muncul ke permukaan.. Dan kenapa tubuhnya terlihat kaku ketika “menyelam” itu.. Singkat cerita, ketika kami sedang beres-beres usai berenang, seorang ibu memberitakan bahwa nenek tadi akhirnya “lewat”. Lewat, begitu saja ketika tiba di klinik.
Enam puluh tiga tahun usianya. Diperkirakan ia terkena serangan stroke yang kedua kalinya saat tenggelam itu. Beberapa menit sebelum kejadian itu, teman saya bercerita tentang kakak kelasnya dulu yang berniat mengukur kedalaman air dengan menyelam hingga kakinya menyentuh dasar kolam. Dan, sama, tak kunjung kembali ke permukaan, serangan jantung. Meninggal.
Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun..

Hummm.. kalau Allah sudah berkehendak, apapun bisa terjadi. Jadi teringat cerita seorang teman ketika ia menjelaskan tentang takdir.

Suatu ketika di zaman Nabi Sulaiman as.
Saat itu sang nabi sedang menggelar majelis yang dihadiri oleh makhluk-makhluk yang dengan izin Allah mampu ia tundukkan. Ada sang nabi, hewan-hewan, jin-jin, manusia, dan di majelis itu ada juga malaikat Izrail yang sedang menyamar dalam bentuk manusia. Seorang manusia di dalam majelis itu ketakutan karena ia terus-menerus dipelototi oleh seseorang yang sebenarnya adalah malaikat pencabut nyawa yang sedang menyamar itu, Izrail.
Ia bertanya kepada Nabi Sulaiman as, “Ya Nabi, kenapa orang itu terus-menerus memelototi saya?” Nabi menjawab, “Dia adalah malaikat Izrail yang ditugaskan Allah untuk mencabut nyawamu”. Orang itu makin ketakutan, lalu memohon kepada Nabi Sulaiman as agar meniupkan angin yang beliau mampu tundukkan, untuk melemparkannya ke negeri yang sangat jauh, katakanlah, Indonesia. Dan permintaannya dikabulkan oleh sang nabi.
Sebenarnya, ketika malaikat Izrail melototi manusia tersebut, ia sedang bingung. Dari Rabb-nya, ia diperintah untuk mencabut nyawa orang tersebut 5 menit lagi, di –katakanlah—Indonesia. Tapi saat itu orang tersebut masih berada sangat jauh dari Indonesia, di jazirah Arab. Ia kebingungan bagaimana caranya ia mencabut nyawa orang tersebut 5 menit lagi di Indonesia, tempat yang sangat jauh dengan tempat mereka saat itu.
Dan nyatalah, Allah-lah Yang Maha Berkehendak…
Bekasi, 18 Oktober 2009

Wednesday, October 7, 2009

maissy.mp4

4:34 PM 3 Comments



waktu kecil aku ga suka banget sama gayanya maissy. "kecentilan", kataku dulu. mungkin merasa tersaingi kali yaa.. soalnya kalo sekarang lihat gayanya waktu kecil dulu, lucu dan ngegemesin banget ternyata. =D

indonesiaku.mp4

4:29 PM 0 Comments



meskipun yang nyanyi orang keturunan, lagu ini menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan anak-anak pada negerinya.

kukukuku.mp4

4:28 PM 0 Comments



yang ini.. anak-anak diajari untuk mengenal salah satu anggota tubuhnya.. menemukan bahwa Allah Maha Adil.. yang kanan dikasih 5, yang kiri juga 5

susaaaaan.mp4

4:22 PM 4 Comments



sejak kecil, anak diajarkan untuk bercita-cita. meski belum melalui pemikiran yang panjang dan berbagai pertimbangan, cita-cita mengajarkan anak untuk mulai berpikir besar, berpikir bahwa kelak mereka harus bermanfaat bagi semesta

kampuang.mp4

4:15 PM 0 Comments



Masih tentang keprihatinan pada anak-anak masa kini yang tidak punya lagu-lagu untuk usianya.

lagu ini, nilai plusnya juga, mengenalkan anak-anak pada salah satu kekayaan budaya bangsa kita

kodok.mp4

4:08 PM 0 Comments



sebagai bentuk keprihatinan pada anak-anak Indonesia masa kini yang tidak punya lagu-lagu untuk usia mereka

dulu, zaman saya kecil, banyak sekali lagu anak yang dapat dengan mudahnya saya nikmati dan saya pahami. sederhana saja. tapi begitulah anak-anak. sederhana. sekarang, anak balita pun menyanyikan lagu cinta. ckckck...

Friday, October 2, 2009

Ternyata Semua Hanya Butuh Tekad

12:01 PM 19 Comments
Ya, ternyata semua hanya butuh tekad. Apapun. Tentang hal-hal besar yang kita pikir sulit dan sangat kompleks untuk diwujudkan, tentang kemampuan dan keahlian apapun yang ingin kita kuasai, dan tentang apapun yang ingin kita lakukan. Kunci terpentingnya adalah tekad.
Tekad mendorong semua hal yang menjadi faktor keberhasilan sesuatu menjadi bekerja dengan optimal, bahkan maksimal. Kompetensi mungkin dibutuhkan, bakat juga penting, ilmu itu fundamental, usaha apalagi. Tapi tekad yang mendorong kita untuk mencari, mempelajari, dan melakukan. Tanpa tekad (kemauan) yang kuat, maka ilmu, bakat, dan kompetensi yang bahkan sudah ada pun menjadi tidak berguna. Apatah lagi untuk menggerakkan jiwa dan raga untuk ihtiar berusaha.
Dalam tulisan sebelumnya kita membahas masalah kepantasan. Bahwa keberhasilan kita ditentukan oleh pantas-tidaknya kita untuk berhasil. Dan tekadlah yang membuat seseorang berusaha keras untuk pantas menjadi seperti yang diinginkannya.
Tekad membuat kita serius berpikir, sehingga yang kita inginkan terngiang-ngiang senantiasa dalam pikiran. Terucap berkali-kali lewat kata. Dan semuanya menjadi doa (kata-kata orang muslim itu doa kan?). Selanjutnya tekad membuat kita serius untuk berusaha. Bekerja keras. Bersabar. Dan sungguh-sungguh mendekat pada Yang Maha Berkehendak, berdoa lagi. Itu namanya tawakkal.
“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal” (QS:3:160)
Keyakinan kepada Allah dan tawakkal yang bermula dari tekad itulah yang menghilangkan rasa takut terhadap apapun. Takut akan cobaan yang menerpa. Takut karena pernah trauma. Takut gagal. Takut tenggelam. Takut dicibir orang lain. Takut, sejatinya adalah musuh yang luar biasa mematikan bagi keberhasilan apapun. Bisikan setan yang membuat kita lemah, kemudian mundur dan menyerah. Lagi, percaya deh, tekad bisa mengatasinya.
Seseorang tidak akan bisa berenang bila ia tidak mengatasi rasa takut tenggelamnya dengan tekad yang kuat. Bahkan ibuku yang kini sangat pandai memasak apapun mengaku belum bisa memasak ketika awal menikah dulu, hanya ia bertekad untuk bisa. Semua tips dan materi tentang manajemen waktu dan keuangan yang pernah dibahas dalam tulisan sebelumnya juga harus diawali dengan kekuatan tekad untuk berhasil. Lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri ternama, mendapat pekerjaan ideal yang diinginkan, ingin menjadi orang hebat, semua karena tekad. Harus diawali dengan tekad.
Mungkin kita semua sudah sangat hafal dengan cerita Sang Penakluk Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih Murad. Ia menjadi panglima yang disebut Rasulullah saw sebagai panglima terbaik, dan pasukannya sebagai pasukan terbaik. Mengawali keberhasilannya dengan tekad kuat yang menyala, berkobar setiap detiknya sejak ia masih kecil, sampai 23 tahun usianya ketika itu. Subhanallah (saya hampir 22, tahun depan ketika 23 tahun saya bisa menaklukkan apa ya?).
Tekadnya menaklukkan Konstantinopel dengan gelar panglima terbaik dari Rasulullah setiap pagi dipupuknya dengan memandang daratan tersebut dari atas bukit sejak ia kecil. Tekad itu pula yang membuatnya senantiasa mendekatkan diri pada Rabbnya, mengusahakan strategi dan mempersiapkan semua hal sebaik-baiknya, hingga pada akhirnya ia dan pasukannya berhasil mendapatkan gelar tersebut.
Teman, Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya. Maka berprasangka baiklah selalu pada-Nya. Pupuk dengan tekad yang kuat dan usaha yang terus-menerus untuk membuat-Nya percaya bahwa kita hamba-Nya yang pantas untuk berhasil. Dan Dialah Yang Maha mengabulkan doa (QS:2:186).

Ada yang kau inginkan tapi belum tercapai? Periksa tekad dan tawakkalmu.
Semoga berhasil!!
Faidzaa ‘azamta fatawakkal ‘alallaah (QS:3:159)

entah kenapa aku merasa tulisan ini 'galak'
Di tengah persiapan
Garden Batik Party BEM UI
Depok, 2 Oktober 2009
Sumber
-           Al-Qur’anul Kariim
-          (Cerita tentang Al-Fatih): Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A. Fillah

Monday, September 14, 2009

Kepantasan

4:08 PM 4 Comments
Mario Teguh pernah bilang,
Semua itu hanya masalah kepantasan. Kalau anda ingin kaya, coba lihat diri anda, sudah pantas belum jadi orang kaya? Orang kaya tidak bertengkar karena hal-hal kecil. Mau jadi orang sukses? Sudah pantas jadi orang sukses belum? Orang sukses lebih banyak berpikir daripada mengkhayal –apalagi bergosip. Lebih banyak kerjanya daripada tidur dan malas-malasannya. Orang sukses bisa mengatur waktu dan dirinya. Orang sukses rendah hati pada Penciptanya. Orang sukses sibuk memikirkan hal-hal besar!
Tuhan itu… memberi sesuai kebutuhan hamba-Nya. Kalau pengeluaran anda hanya untuk diri dan keluarga anda sendiri, Tuhan hanya akan kasih sedikit, secukupnya yang dibutuhkan. Tapi kalau anda tidak hanya hidup untuk diri dan keluarga anda sendiri, banyak memberi pada orang lain, Tuhan akan memberi anda, banyak. Karena kebutuhan anda banyak.
Hhmm.. sangat terkait toh, mengapa sedekah bisa membuat rezeki seseorang makin lancar??!
Ayo berbagi =D
September 13, 2009

Law of Proximity

4:04 PM 15 Comments
Pernah merasakan jatuh cinta? Yang katanya aunty Titik Puspa berjuta rasanya. Apalagi jatuh cinta pada pandangan pertama. Katanya sih, indah banget rasanya. Deg-degan kala bertemu, bahkan salting (salah tingkah). Tapi ada rindu kala jauh. Iya gak? Hehee…
Seorang temannya teman saya, menikah dengan seorang laki-laki yang benar-benar baru dikenalnya 3 bulan. Wajar ketika temanku heran dan bertanya, “Kok bisa sih lo seyakin itu milih suami, imam lo dunia-akhirat, hanya dalam waktu sesingkat itu??” si teman menjawab dengan tidak cukup definitif menurut saya, “Yaa, gimana ya, ketika lo ketemu dengan seseorang dan dengan tiba-tiba lo ngerasa ‘klik’ aja gituh, langsung punya feeling kalo orang itu yang akan jadi teman hidup lo”.
‘Klik’. Kalau katanya Aisyah r.a., “Ruh itu bagaikan para prajurit yang saling mengirim sandi. Apabila sandi mereka cocok, maka mereka akan seiring sejalan. Bila mereka tidak saling mengerti sandi satu sama lain, mereka tidak akan berjalan bersama”. Subhanallah, ini benar-benar kuasa Allah. Klik. Ketika bertemu, langsung merasakan adanya kecocokan, uhm, apa ya, mungkin seperti cara enzim bekerja, seperti lubang kunci yang menemukan anak kuncinya yang benar, mereka klik, lalu berputar ke arah yang sama, bersama-sama.  Istilah lain menyebutnya ‘chemistry’, kimia jiwa. Inilah yang mungkin dialami oleh orang-orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama.
Sebelum seseorang menikah, Rasul mensyari’atkan untuk nazhar (melihat) kepada wanita atau laki-laki yang akan dinikahi. Tujuannya untuk menemukan ketertarikan dalam diri calon pasangan yang akan menguatkan keyakinan sebelum menikah. Dengan kata lain, tujuan nazhar itu adalah untuk mengetahui, adakah ‘klik’ satu sama lain.
***
Bagi sebagian yang lain, jatuh cinta tidak penting bagi mereka. Karena mereka memilih untuk bangun cinta. Seperti orang-orang tua kita dahulu yang perjodohan mereka ditentukan oleh orang tua masing-masing. Toh biasanya mereka langgeng hingga akhir hayat. Atau orang-orang yang hanya berbekal kemantapan hati setelah meminta petunjuk pada Allah sebelum menikah padahal belum benar-benar mengenal calon pasangannya. Mereka akan kuat karena niat yang senantiasa lurus yang diperkuat dengan kesabaran. Dan mereka bisa bertahan, lalu menemukan ‘klik’-nya.
Mengingat orang-orang tipe ini, saya jadi teringat surat Ar-Ruum,
“Dan dijadikanNya istri-istrimu dari jenismu sendiri, lalu diciptakanNya di antaramu rasa kasih dan sayang…” (QS:30:21). Urutan di ayat ini sih, jadi istri dulu, baru ada rasa kasih dan sayang.
Orang Jawa juga bilang, “Witing tresno, jalaran soko kulino”, artinya kurang lebih, cinta datang karena interaksi yang intens.
Dan subhanallah, saya juga jadi ingat sebuah teori dalam psikologi sosial,  tentang repeated exposures. “Repeated exposure pada stimulus yang netral, meski tanpa adanya penguat (reinforcement), akan mengarah pada adanya peningkatan rasa suka (liking) secara bertahap” (Zajonc, 1968). Subhanallah.. subhanallah.. Suami-istri itu, bagaimana tidak, pastinya sering bertemu dan berinteraksi. Repeated exposures tuh. Ternyata, orang Jawa lebih dulu menemukan hal ini daripada teori psikologi sosial. Atau, jangan-jangan Om Zajonc ini orang Jawa??
Subhanallah ya, meski tidak ada klik di awal, ternyata cinta tetap bisa diusahakan.
“Ada dua pilihan ketika kita bertemu cinta. Jatuh cinta, dan bangun cinta. Padamu aku memilih yang kedua, agar cinta kita tinggi menggapai surga.” (Salim A. Fillah, kepada istrinya)
Bangun cinta. Kedengarannya dewasa sekali. Bahwa semua bisa diusahakan. Termasuk juga cinta. Semua bisa dimulai, tidak hanya menunggu sambil bertanya-tanya mengapa seorang suami/istri tak kunjung dapat mencintai pasangannya. Karena –masih kata Salim, cinta itu kata kerja. Tinggal kita mau memulainya, atau hanya menunggu entah sampai kapan.
Bukan titik yang membuat tinta, tapi tinta yang membuat titik
Bukan cantik yang membuat cinta, tapi cinta yang membuat cantik
(pesan singkat dari temannya teman kepada teman saya)

Tuesday, September 1, 2009

note yang kepanjangan

10:01 AM 1 Comments
Beda banget. Bedaa banget. Yang sekarang dan kemarin. Sekarang dibiasakan untuk sederhana. Prihatin. Berpikir bahwa tidak semua orang berkecukupan. Peka. Yang kemarin, dibiasakan untuk glamour. Boros. Berpikir bahwa kita semua sama mampu. Dan ketika harus kembali ke waktu kemarin, aku merasa aneh. Wajar lah yaa..

-memanaskan otak menulisku kembali-