Akan tiada lagi kini tawamu
‘tuk hapuskan semua sepi di hati
Ada cerita tentang masa yang indah
saat kita berduka,
saat kita tertawa…
“Ka Farah, apa ya, yang membuat kesan orang beda-beda tentang BEM UI 2009?”, seorang adikku bertanya, “ada yang ngerasa berkesan banget, kehilangan banget, tapi ada juga yang biasa aja… kenapa ya?” Jawabku, “Keterlibatan, Mi”, sebut saja namanya Mimi. Jujur, sebenarnya jawaban itu baru saja aku dapatkan tepat sedetik setelah pertanyaan itu diajukan. Maksudku adalah menekankan sebuah kedewasaan, bahwa kenyamanan itu sejatinya kita sendiri yang menciptakan, bukan diberikan oleh orang lain, rekan kerja maupun atasan kita.
Dear BEMers, sedikit yang dapat kusampaikan malam itu, jelas tidak dapat mewakili semua kesan tentangmu setahun ini. Namun apa daya semua terbatas oleh waktu, BPH yang lain menunggu giliran. Sebenarnya di luar itu pun aku sudah kehabisan kata-kata… dan pastinya tersedak oleh isak.
Hey, kuharap setelah hari ini kita semua semakin dewasa dalam menjalani kehidupan selanjutnya. Meski kita akan menjalaninya masing-masing, namun aku sangat berharap bekal yang telah kita kumpulkan selama setahun kemarin dapat bermanfaat untuk selanjutnya. Dan lagi, jangan pernah membandingkan suasana baru nanti dengan kenangan indah kita yang telah lalu. Karna itu sungguh menyakitkan bagi “orang-orang baru”-mu. Percayalah. Buka hati dan pikiran seluas-luasnya, maka kau akan menemukan kenyamanan di manapun kau berada.
Humh, sedih sekali aku malam itu, teman… Tidak, tidak hanya malam itu, hingga keesokan harinya, bahkan hingga hari ini. Aku merasa sangat, sangat kehilangan kalian.
Ingat, tahun ini perjalanan kita lengkap sudah. Dari gunung di tengah tahun sampai ke laut di akhir tahun. Tiga hari terakhir kebersamaan kita memang so wonderful, unforgettable, sangat berkesan. Gila, berkesan abis! Sejak sebelum hari-H keberangkatan, bahkan H-1 jam kita masih dirisaukan oleh kabar cuaca. Meski pihak berwenang seperti BMG menyatakan perjalanan kita akan aman, namun getir itu tetap menyertai, apalagi banyak sahabat kita yang tidak diizinkan ikut oleh orang tuanya karna masalah cuaca. Bahkan, karna sedikit keterlambatan saja, di tengah arus ombak yang mulai meninggi kapal kita harus menepi ke pulau Pari dan menunggu ditarik oleh kapal berikutnya yang lebih kecil dan kosong muatan. Fiiuhhh,, alhamdulillah selamat sampai Pramuka…
Kebanyakan kita baru pertama kali naik kapal, termasuk aku. Takut mabuk laut, pastinya. Gak lucu dong, masa ibunya anak-anak ikutan mabuk dan tepar, alih-alih menangani yang sakit atau mabuk… Sebelum hari-H, banyak-banyak cari info tentang bagaimana mencegah mabuk laut. Dari wajib sarapan, antimo, hingga koyo penutup pusar. Alhamdulillah sampai akhir tidak ada peserta yang mabuk laut, paling hanya pusing sedikit dan bisa diatasi (dengan tidur).
Perjalanan di kapal menghabiskan 3 jam lebih, saking lamanya, aku ingat, setiap terlihat pulau yang agak besar, kita semua bertanya antusias, “Itu bukan, pulaunya?”. Hum, lapar pula. Sampai dermaga, bawaan yang berat membuat selera foto kami hilang dan berpikir, “Ah, foto-fotonya nanti ajah, masih lama ini”. Kemudian bergerak menuju mess yang telah disiapkan oleh tim (sebut saja EO) SIGMA B UI, gabungan anak-anak biologi yang menaruh minat pada laut dan seisinya. Istirahat, beres-beres sebentar, shalat, lalu berkumpul lagi, pembukaan, lalu briefing dan pengenalan alat-alat untuk snorkling keesokan harinya oleh mentor kelompok, dari SIGMA juga.
Pembagian kelompok, aku dapat kelompok 1. Ada Adit-P&K, Rohli-P&K, Nanda-Waka, Eva-Kesma, dan Zaky-BWB. Sekitar jam setengah 5 sore ada waktu kosong. Aku, Eva, Zaky, Adit, Rohli, dan Fajar-Kremas memanfaatkannya dengan berjalan-jalan ke dermaga, menunggu sunset. Mengambil beberapa foto berlatar laut dan matahari senja, lalu jalan, jalan, jalan, hingga akhirnya kami menemukan suatu tempat beberapa puluh meter dari dermaga yang cukup indah, lautnya bening, dan ada semacam gazebo yang menambah kesan eksotis tempat itu (halah, agak lebay). Fajar dan Rohli melompat dan berenang di laut itu, yah, setinggi perut lah airnya, dengan ombak yang lumayan tenang. Sempat juga merekam Rohli yang membuat adegan orang bunuh diri tapi pas lompat teriaknya Allahu Akbar. Hehee,, agak aneh ya?
Semakin gelap, kami berenam pulang ke mess dengan bertualang, menjadi Bolang (bocah ilang) menyusuri pinggir pantai, berharap dapat menemukan mess kami kembali. Sengaja kami tidak mengambil jalan yang sama dengan berangkat, ‘kan lagi jadi bolang ^_^ alhamdulillah kami selamat!
Malamnya saat performance, kelompok yang lain lucu dan seru-seru. Tapi kelompok kami (berniat) serius dengan menampilkan tari saman (seadanya). Padahal waktu latihan di mushola udah bagus tuh… tapi sepertinya karena keberadaan “seorang oknum”, konsentrasi penonton terpecah dengan tawa.. hiaaaahh… ah, tapi, alhamdulillah waktu voting di akhir yang milih kelompok kami cukup banyak juga kok. Hehee..
Esok paginya, gerimis! Nah lho! Kita kan mau snorkling,,, terancam butek deh airnya kalo ujan… tapi alhamdulillah ketika kami mulai jalan ke tengah laut, langit cerah. Subhanallaah, laut luar biasa bangeettt!! Melewati hutan mangrove, mulai berenang melihat ke bawah air, kita disambut oleh karang-karang, kemudian “dihadang” hutan lamun yang gemulai menari-nari mengikut ombak. Terus ke tengah, ikan-ikan mulai banyak berlalu-lalang, muncul-sembunyi dari balik karang. Aku bertemu Nemo, si ikan kelonpis (di pulau itu ada nama jalan Ikan Kelonpis, kurasa asalnya dari clown fish) yang ternyata kecil sekali, hanya sebesar 1 buku jari kelingkingku! Lalu kelompokku bertemu dengan bantal raja, yang masih saudaraan sama bintang laut. Bantal raja ini, Cuma kelompokku lhoh yang nemuin!! Jadi asoy,, hehhhee…
Lallluuu… kami sempat juga makan anggur laut. Tapi jangan bayangkan rasanya senikmat anggur darat deh. Karna buahnya sangat kecil (meskipun bergerombol) dan kadar garam air laut di situ juga lumayan, jadi yang terasa di lidah hanya asinnya. Pfiuh… Bulu babi, ketemu juga dong… alhamdulillah ketemunya bukan yang ganas. Warnanya hitam, menempel pada batu-batu, dan ternyata durinya panjang-panjang! Lumayan gatel dan sakit lah kalo sampai nempel. Kalau bulu babi yang warna-warni malah bahaya! Meski ukurannya lebih kecil, tapi kalau nyengat bisa lah, bikin manusia yang kena meriang panas-dingin.. Teeruus… ketemu apa lagi yaa? Oh iya, ketemu fotografer underwater! Yang tak lain adalah anak SIGMA juga,, tapi senang bisa foto dan berpose di bawah laut. Hehee.. Ah, banyak lah yang ditemuin, tapi lupaa… dan 2 jam di laut lewat tanpa terasa…
Setelah pulang kembali ke darat, kita diajak jalan-jalan. Dijelaskan tentang mangrove yang ada di pulau itu, lalu kita ke penangkaran penyu. Di sana, ada seekor penyu yang seumuran sama aku dan BPH umumnya, sekitar awal 20 tahun, yang menjadi primadona. Bukan karna keindahan tempurungnya, melainkan justru karna ia mengalami cacat tubuh. Hemmm.. taukah, dia merasa. Dia marah ketika kita bergerombol mengelilingi “bak pribadinya”. Dia berenang keliling bak sambil mengepak-ngepakkan kaki depannya ke arah kita hingga membentur-bentur pinggir bak. Dia juga punya rasa. Dia juga ingin dihargai dan dianggap sama dengan yang lainnya…
Pakaian yang basah mulai mengering, baru mulai… Tujuh bidadari (sebut saja begitu) yang terdiri dari aku, Eva, Mimi dan Tika -PSDM, Erika-P&K, Fariz dan Wulan –Sosmas memisahkan diri dan berjalan menuju dermaga, tempat Rohli dan Fajar berenang sore hari sebelumnya. Aku dan Eva yang sudah tahu kedalamannya berniat berenang juga di sana, di laut lepas. Tapi… kok ombaknya lebih tinggi dan tidak tenang ya..? Dan ketika kami nyebur, kok, sedada?? Waaaw, ternyata masih sisa pasang semalam.. Kami berenang menuju karang di depan sana dengan susah payah, karna ombaknya lumayan ganas bo! Jadi makin tertantang… Tak lama, Wulan dan Tika ikutan nyebur juga… Sisanya, fotoin kami yaahh!! ^_^
Kami bersih-bersih di masjid yang indah di dekat dermaga, mencuci muka dengan sabun, shalat, dan memakai sunblock kembali, tanpa berganti pakaian. Berlari-lari kami mengejar rombongan BEMers yang sudah akan naik kapal untuk petualangan berikutnya: Pulau Air!
Ketika kapal belum (hampir) merapat ke dermaga Pulau Air, anak-anak SIGMA mulai berloncatan dari atas kapal, ke laut. Dalamnya, katanya sih sekitar 3 meter. Keren dan asik sekali kelihatannya. Disusul anak-anak BEM yang memang bisa berenang dan mengambang. Aku bisa berenang, tapi tidak bisa water-trap jadi tidak bisa mengambang di satu titik. Tapi udah keburu mupeng, aku titipkan kacamataku, memakai jaket pelampung, masker dan snorkel, lalu ikut melompat. Hyeeeii!! Tapi di sini ada sebuah pengalaman traumatis, aku mencederai temanku yang melompat lebih dulu, beberapa detik sebelumku. Kupikir aku akan tercebur di sebelah kanannya, tapi ternyata aku tepat di atasnya, hingga ia yang belakangan kutahu sudah siap muncul kembali ke permukaan untuk mengambil napas tertindih olehku di dalam air, dan mengalami cedera. Maafkan aku sobat, sama sekali tidak sengaja… aku benar-benar merasa berdosa atas itu…
Ketika di laut itu, aku ingin berenang merapat ke pantai, tapi ternyata aku terlalu cepat merapat ke dermaga sehingga aku hampir saja terkena duri bulu babi yang sangat banyak menempel di situ. Aku yang memang panikan sempat panik parah melihat duri-duri hitam tajam itu di dekatku, lalu aku langsung menjauh sebisaku. Pfiuh, alhamdulillah selamaatt… lumayanlah, sampai snorkelku kemasukan air laut dan terminum, yang ternyata lebih asin daripada air laut di Pramuka! Parah beuutt.. Sampai di pantai, tak lama aku berenang kembali menuju pulau seberang yang terlihat dekat, dengan satu-satunya gaya katak yang kubisa tanpa memakai pelampung. Sampai di tengah aku ngos-ngosan dan hampir tenggelam (ternyata jauh bo!), tapi alhamdulillah aku bisa menguasai keadaan sehingga dapat memutar arah kembali ke pulau Air.. Hhh.. gak lagi-lagi deh.
Ternyata pantai di pulau itu sama sekali tidak landai. Cepat sekali turunnya. Jadi, demi keselamatan, aku selalu mengenakan jaket pelampung. Jadi ga keren (hahaa), tapi biarlah, siang itu aku menganggap diriku tidak bisa berenang hingga harus pakai pelampung kemana-mana. Hiks. Menyakitkan.
Lomba tarik tambang di dalam air dengan pijakan kaki berupa pasir yang njeblos ternyata susah banget! Jangankan di air, di darat saja aku belum pernah ikut tarik tambang. Dan sampai menulis ini, telapak tanganku masih luka-luka. Kemungkinan besar karna tambang itu (lenjeh banget ye…?).
Malamnya, saat para staf dan panitia (BWB) tukar kado, BPH berkumpul merencanakan performance untuk terakhir kalinya. Singkat cerita, setelah nonton “film dokumenter” BEM UI 2009, ada sesi renungan dari ketua kami, Tiko. Hiks, hiks,, basah deh ni muka, sedih dan sangat haru… dilanjutkan dengan ucapan terima kasih dan permohonan maaf dari setiap BPH kepada semua BEMers terutama staf masing-masing, diiringi lagu Semua Tentang Kita-nya Peter Pan. Sedddddiiiihhh banget… betapa ini kenyataan, kita akan berpisah. Ditutup dengan BPH menyanyikan reff lagu Ingatlah Hari Ini-nya Project Pop, kami masih menangis, saling memeluk haru, memaafkan dan berterima kasih satu sama lain. Terutama sama staf-staf PSDM yang perempuan, tumpah deh semua air mata. PSDMers yang cowok, cuma ngeliatin aja, ikut haru, tapi tak mungkin ikut berpeluk kan? Hehee.. lalu kami semua berlari menuju dermaga.
Gelap. Gerimis. Angin laut membadai. Lagi-lagi Tiko berkontemplasi sebentar tentang kebersamaan kita setahun kemarin, berdoa agar kita semua bisa berjumpa lagi di surga kelak. Keluarga, hingga ke surga. Lalu meminta seseorang untuk berbagi kesan, Bintang-Danus si PO Bedah Kampus. Tiga tahun ikut BEM UI, baru kali ini dia merasa begitu kehilangan. Jadi sedih. Tapi senang juga, berarti bermakna.
Tiba-tiba dari belakang kita ada teriakan, “BEM UI DUA RIBU SEMBILAAAANNN !!!” diikuti dengan munculnya kembang api warna-warni. Banyak. Semua terpana. Bertepuk tangan. Menyanyikan Mars BEM UI di kegelapan malam, sekali, dua kali, belum juga selesai. Pesta kembang api di dinginnya dermaga melengkapi keharuan kita malam itu…
Indah
Menutup akhir kebersamaan struktural kita
Harap,
Semoga kita dikumpulkan kembali di dalam
Surga-Nya
_________________________________________________________________________
Kamu sangat berarti istimewa di hati, slamanya rasa ini
Jika tua nanti kita t’lah hidup masing-masing,
Ingatlah hari ini









