Follow Us @farahzu

Monday, July 26, 2010

(sok-sok) Belajar Mendidik, part 1

9:05 AM 18 Comments
*next part someday..hhe

Kemarin sore, tiba-tiba, keponakan-keponakanku datang, ramai-ramai. Aku yang sedang meng-upload foto dan chatting di MP, langsung ngibrit ke dalam kamar dan berganti baju. Lalu keluar lagi. Setelah bersalam-salaman dan mencium pipi mereka kanan-kiri satu-persatu (ini wajib) dan mengobrol sebentar, aku beranjak mau buat minuman.

Iseng, kugandeng salah seorang dari mereka untuk “membantu” membuat sirup. Seperti bisa ditebak, yang lain pun ikut. Gelas-gelas kosong, botol sirup, botol air dingin,dan sendok sudah di atas meja. Satu orang yang paling tua kuminta menuangkan sirup ke gelas. Yang lain mau juga. Supaya tidak berebut, kuberi kerjaan lain: menuangkan air dinginnya. Yang lain mau juga, minta gantian, “Aku, aku!!” Kuberi saja satu kerjaan lain: mengaduk sirup dan air. Ada 1 yang belum dapat bagian. Akhirnya ia menuang sendiri sirup ke gelasnya yang sudah diisi air lebih dulu. Semua dapat, semua senang! Hehe,, aku malah tidak membuat sirup sama sekali, hanya membawanya di atas baki ke meja ruang tamu. Tadinya mereka juga ingin beramai-ramai membawa baki itu ke meja. Tapi, terlalu riskan. Akhirnya aku punya kerjaan ^_^

Awalnya mereka tidak bangga dengan sirup buatan mereka. Biasa saja, layaknya hanya membantu aku. Tapi kepada ibu dan sepupu-sepupuku (orang tua mereka), aku menyebut sirup tersebut sebagai buatan mereka. Mereka senang dan bangga, tapi aku menambahkan dalam hati, ‘jadi kalau kemanisan atau kurang manis jangan salahkan aku ya..salahkan saja anak-anak ini…haha..’

Tak lama aku ke dapur, menggoreng tahu sumedang (karena di rumah sedang tidak ada kue yang layak disajikan, hehe…). Belum lama aku di dapur, 2 orang dari mereka menyusulku ke dapur. Antusias ingin membantu membalik tahu dan mengangkatnya. Walaupun agak beresiko membawa anak-anak ke dapur, tapi biarlah, mereka ‘mengaku’ suka membantu memasak, dan, kupikir tidak ada salahnya membiarkan mereka selama aku mengawasi.

Satu orang membalik satu tahu. Agak lengket. Anak kedua membalik tahu kedua dengan mudahnya, lalu membandingkan, “Tuh kan aku gampang kok..!!” Sisanya aku. Lalu mereka juga minta mereka yang mengangkat tahu matang dari wajan ke saringan. Oke, silahkan. Ternyata berat untuk mereka, jadi harus dibantu. Ketika tahu generasi pertama ditiriskan, masih ada tahu generasi kedua yang akan digoreng. Mereka juga ingin melakukannya.

Orang pertama, sambil takut-takut, memasukkan tahu ke dalam minyak panas dari jarak yang agak jauh, ‘melemparnya’. Minyak pun rusuh berisik, keduanya langsung sembunyi menghindari cipratan minyak panas. Hihi,, lucu.. Anak kedua (adik sepupunya, tapi seumur), terlihat lebih luwes, memasukkan tahu ke wajan dari jarak lebih dekat, dan tidak ‘melemparnya’ seperti anak yang pertama. Minyak tetap tenang sentosa, lagi-lagi dia membandingkan, “Tuh kan, aku aja gapapa…!!”. Ah dik, selamat, itu prestasi.. :D

Singkat cerita, semua tahu siap disajikan. Mereka membawanya berdua, lalu dengan bangganya bersorak dan melakukan tos, “Yes! Tahu buatan kitaaaa!!!” :D :D :D *walaupun yang buat itu pabrik tahu. Hahaha.

Sepertinya, “melibatkan” jauh lebih enak didengar daripada “menyuruh” dan “melarang” ya? Dengan melibatkan anak dalam aktivitas kita, mereka akan melakukannya dengan senang hati. Bahkan jika orang tua/pendidik sebenarnya memang ingin pekerjaannya dibantu oleh anak tersebut. Lebih dari itu, mereka akan belajar.

Lalu, berikan apresiasi dengan proporsional, jangan pelit dengan pujian. Karena artinya, orang yang tidak berat memberikan penghargaan pada orang lain, adalah orang yang sudah sejahtera dengan dirinya sendiri, tidak haus dengan pujian orang lain. Bahasa kerennya, psychological well-being-nya telah terpenuhi ;)

*nah lho, semoga yang terakhir ini bisa dipahami yaa.. :D

Sunday, July 25, 2010

caving with FADHILers

8:26 AM 3 Comments

ba'da si farhan jatuh, gedebukk!!

AKHIRNYA SELESAI DIUNGGAH
Caving @Goa Cikaray, Citeureup. Bersama rekan-rekan FADHIL (forum alumni) SMAN 1 Bekasi, pada hari Rabu, 21 Juli 2010.
Kegiatan ini sebagai program Fadhil Gathering yang (sebenarnya) merupakan program kerja saya sebagai biro Human Resource. Tapi, sang ketua adalah yang palng "membantu" dalam pelaksanaan proker ini, sehingga saya agak canggung menyebut ini sebagai proker saya. hehehe...magabuts.

Rekaaannnsss... satu hal yang penting:
ini semua karena aku bersama kalian.
Jadilah aku (harus) kuat sampai akhir...
Kalau pada suatu hari nanti aku diajak begini-beginian lagi, ogah dah... hehehe...

monggo dikunjungi...
http://farahzu.multiply.com/journal/item/144

Thursday, July 22, 2010

Caving

7:59 PM 37 Comments



*Rabu, 21Juli2010

Memar-memar. Lecet-lecet. Pegal-pegal. Mengotori semua pakaian. Semua sepatu, kaos kaki, tas, helm, bahkan senter. Lalu membuang baju yang sudah tak mungkin lagi “diselamatkan”. Tapi. Bahagiaaa!!!!
Jangan bayangkan kami menelusur goa wisata, yang bisa berjalan dengan punggung tegak dan kepala mendongak melihat stalaktit, stalagmit, lubang cahaya, aula goa, kelelawar, sarang walet… Boro-boro! Hahaa… mantabs banget deh! Kami ber-12, anak-anak Fadhil (forum alumni SMA saya), berangkat dari bekasi tepat pukul 08.00 pagi. Baru sampai di mulut goa hampir pukul 15, briefing, membagi jadi 2 kelompok (dalam 1 kelompok ada ikhwan dan akhwat, supaya lebih aman). Aku kelompok 2, masuk belakangan. Menunggu sangat lama dengan mengobrol, dan bermain jempol (apa itu namanya?). Anggota: saya, Afifah’08, Syamsudin’07, Cahyo’09, Ja i’10. Kelompok 1 beranggotakan Farhatul, Suci, Mayang, Pras, Dendi, semuanya angkatan 2008 (baru nyadar). Sedangkan ketua kami (Farhan) dan asisten (halah, Jiwo’09) masuk 2 kali memandu kami semua.
Pertama kali masuk pintu goa, kami langsung disambut ‘wangi’ kotoran kelelawar, sejuknya udara lembab karena oksigen dari sungai air kapur yang mengalir, sinar matahari yang semakin hilang, dan, yang kami tapak adalah batu-batu besar bertanah basah yang sangat licin, menjorok ke bawah, terjal. Awalnya kami masih membungkuk-bungkuk, 1-2 kali masih bisa berdiri. Tak lama, dengan berbekal perlengkapan seadanya (baju panjang, sepatu, helm proyek, dan senter di tangan), kami mulai beringsut, berjongkok, bergeser-geser menyalip batu-batu besar yang menghimpit, merangkak dengan siku dan lutut, bahkan, berenang, saat air sungai mencapai dada. Masih, di lorong yang teramat sempit, tentu saja.
Kami sungguh tak peduli dengan pakaian yang kotor (sungguh), sepatu bertanah basah lengket yang siap buang kapanpun kami mau, pegal, lecet, sakit, ah, yang kupikir saat itu adalah, “Kapankah penderitaan ini akan berakhir??!!” FYI, ternyata helm itu bukan hanya untuk melindungi kepala dari runtuhan benda-benda di atas kepala, tapi juga untuk melindungi kepala supaya tidak terjedot-jedot (terbentur ya?) dinding goa. Jangankan mendongak, ada kalanya kami bahkan tak bisa melihat ke depan, lorongnya hanya cukup untuk merangkak bak tentara dengan kepala menunduk.
Sampai suatu saat, kami tiba di aula mini, belum sampai di aula sebenarnya. Beristirahat sebentar, foto-foto (teteeeuupp)…lalu, sang ketua melepas kami untuk mencari sendiri jalan keluar, mengambil lorong ke arah kiri, dan memilih pemimpin di antara kami (jatuh pada Ja i). Di lorong ini lah, selain merangkak dan berbagai posisi lainnya, kami harus berenang, dengan senter di tangan entah sudah berapa kali tercelup air ;). Mentok. Tak ada jalan lagi. Dari belakang sang ketua masih menyemangati kami dan Ja i, ada, ada! Coba lagi! Sampai benar-benar yakin tidak ada, baru Farhan nyengir sambil balik badan, emang ga ada ;D *tak sopppaaaannnn!!!
Kami kembali lagi ke ‘aula mini’. Sekarang serius nih, nyari jalan keluar, ke lorong sebelah kanan kami. Awalnya Farhan dan Jiwo masih mengikut di belakang, tapi, kami berlima sadar sendiri kalau mereka berdua kembali ke aula mini, karena suara tak lagi terdengar. Kami berlima terus bergerak maju, medan semakin sulit (jangan coba-coba buat yang merasa gemuk!), dan dari belakang terdengar suara Farhan memanggil kami untuk balik. Kami sepakat kalau itu hanyalah ‘skenario’-nya untuk menguji mental kami. Lama-kelamaan panggilannya tidak kami jawab, kami terus maju. Kami masih berpikir, ini skenario. Tapi ternyata suara Farhan semakin serius dan kencang, menyuruh kami balik. Entah bagaimana, kami sepakat untuk ‘sedikit’ mengerjai Farhan. Tidak ada satupun yang menyahut saat suara Farhan mulai panik, meneriaki nama kami satu-persatu. Semua senter dimatikan. Menahan nafas agar tidak terdengar, menahan geli ingin tertawa, hihihihi… Tapi ketika suaranya semakin mendekat dan teriakannya semakin kencang dan panik, aku tidak tega… akhirnya ketika namaku dipanggil, aku menyahut pelan, “Iya”. Haha,,berkhianat juga.  Akhirnya kami pun ‘ditemukan dengan selamat’.
Farhan bilang, kami dipanggilnya balik karena fisik kami sudah menurun (tau dari mana dia??! Hahaha…). Dia juga khawatir, karena kelompok pertama tadi tidak melewati jalan kami. Kami pun curiga sebenarnya, ‘Kok kelompok pertama tadi kotornya ga seL384y kita ya??’ Ternyata kami belok kiri di “pertigaan” saat kelompok sebelumnya ambil jalan lurus dan berhasil…
Akhirnya! Kami sampai di sebuah ‘ruangan’ besar yang tinggi yang kalo ga salah itu namanya aula. Tapi ga ada bangkunya..apalagi meja presentasi dan LCD proyektor. Bahkan kami hanya beristirahat sebentar, menyenter ke langit-langit goa melihat kelelawar yang banyak bergantungan (ternyata kecciiilll!!! Aku keburu berpikir sebesar drakula, haha…), lalu butir-butir kecil kotoran kelelawar, lalu kakiku sempat kram, lalu, eh, sebelumnya: GABRUUKK!!! Si Farhan masuk lubang, dalem!! Duhduh, gara-gara senternya mati, dia gak liat ada lubang sedalam itu. Tapi beneran lhoh, kami ti.dak.ter.ta.wa. *bangga, bisa empati (lhoh?!!)..humm,,, tapi cengar-cengir dan mau ketawanya baru sekarang, hihihi…
Alhamdulillaah,, kami berhasil memanjat beberapa batu sangat besar terakhir menuju peradaban lagi. Dengan selamat (nyawa). Bersyukur, masih diizinkan melihat kembali matahari. Dan, berfoto lagii!! *sebenarnya kami sangat kasihan pada kelompok pertama, soalnya mereka ga bawa kamera ;D
Kami pun berebut ke kamar mandi di sebuah SD di atas untuk bersih-bersih (fyi, lokasi di gunung kapur, perkebunan warga, tanah merah, becek, ga ada ojek). Mandi seadanya dengan sabun yang ngirit *karena minta Afifah, ga bawa sendiri. Haha.. selesai ganti baju, hujan turrruuunnn dooonggg… Kapan kami bisa pulaaangg?? Lama pula. Alhamdulillah pukul 18.10 hujan berhenti dan kami pun mulai meniti tanah merah licin lengket becek tersebut. Terutama akhwatnya, sepakat, “Kita shalat maghrib di jamak takhir aja!” karena kondisi yang (tetap masih) tidak memungkinkan, meskipun sudah ganti baju, ganti sepatu, kaos kaki, dsb.
Alhamdulillah, setelah menempuh perjalanan malam gelap dengan senter yang suaangaaattt jauuuhhh dan memang kami sudah pada gempor, kami pun bertemu angkot yang sudah dicarikan oleh Jiwo, Pras, dan Ja i yang duluan naik motor. Singkat cerita, saya sampai depan pagar rumah pukul 21.25 T_T naik motor yang tadi dipakai untuk tim advance. Malem bangeeett…
*Tapitapitapi, walaupun memar, lecet, pegal, dan sakit masih sangat terasa hari ini, petualangan kita kemarin sungguh membahagiakan, sobat… Sebelum kalian kembali ke kampus dan daerah masing-masing, sebelum Farhatul pindah ke UNPAD, sebelum kepengurusan kita berakhir,,, semoga sisa waktu yang ada bisa kita optimalkan sebaik-baiknya.
**nasibpunyaketuaanakpecintaalam =D
***foto-fotonya belum diunggah sama Cahyo... sabar yaa.. hehe...

Friday, July 16, 2010

Wednesday, July 14, 2010

Bakso Ukhuwah

8:04 PM 14 Comments
*Ini bukan promosi warung bakso baru. Tapi, yah, baca aja deh. Hehe..
 Memang benar kalau Rasul bilang perjalanan itu bisa mengakrabkan. Setahun lalu waktu masih punya amanah jadi “ibunya anak-anak” di BEM UI, meski sulit dan tampak terlalu berlebihan, saya berusaha mengenal staf satu-persatu. Mengenal, bukan hanya tau atau hafal namanya (fyi, ga mudah juga lho ngapalin nama anak bem yang hampir 200 orang itu, beserta biro/departemennya, beserta fakultas dan jurusannya, beserta angkatannya,, staf sendiri aja udah banyak. Hehe..)
Saya mulai dengan pdkt (pakaian dinas kotakkotak a.k.a pendekatan) ke seorang staf departemen sosmas (Sosial Kemasyarakatan). Sebenarnya kami satu fakultas, beda angkatan (iyalah), dan tidak pernah dekat sebelumnya. Waktu itu saya mengajaknya jalan berdua ke bookfair di Senayan. Sejak saat itu, kami pun dekat. Sangat dekat, bahkan. Sampai anak bem yang lain menyangka kami memang sudah dekat sejak dahulu kala (sebelum masuk bem). Padahal, sama sekali tidak :D sampai sekarang, kami merasa seperti kakak-adik, sangat dekat.
Lalu baksonya?
Yyaa,, biasanya sih kaum hawa nih yang suka banget makan bakso. Buat saya yang suka tapi jarang makan bakso ini, ngebakso bareng teman itu sangat membantu untuk mengakrabkan juga, selain jalan-jalan seperti di atas. Sepertinya jadi ada ruang khusus tersendiri antara saya dan teman-teman yang pernah ngebakso bareng, yang lebih membuat pertemanan kami terasa spesial dan eksklusif. Hehe..
Biasanya sambil ngebakso, perempuan pasti ngobrol. Mulai dari perjalanan menuju warung baksonya, lalu memesan dan menunggu pesanan diantar, di sela-sela makan, bahkan seringkali setelah bakso habis, masih setia menunggui warung bakso untuk menyelesaikan cerita. Beberapa teman juga suka mengajak saya makan bakso kalau mau curhat. Saya juga. Tapi biasanya sih BS-BS (bayar sendiri :D)
Mungkin bakso itu versi mininya safar yang bisa mengakrabkan kali yaaa… ;)
*buat teman-teman saya yang pernah ngebakso bareng, mungkin menurut kalian ini lebay, tapi, (seperti biasa), ini jujur ;)

Saturday, July 10, 2010

Semakin pekat malam, artinya fajar semakin dekat

9:27 PM 28 Comments
Buat saudara-saudariku yang sedang diuji kesabarannya, yang sedang diuji cintanya oleh Allah, maupun yang sedang berjibaku dengan segudang amanah.
Yakinlah, bahwa semakin pekat malam, artinya fajar semakin dekat. Semakin puncak kelelahanmu, artinya fajar keberhasilan itu semakin dekat…
Semakin pekat sedihmu, artinya senyum kemenangan itu juga semakin dekat… yakinlah…
Kadang Allah sengaja menguji kita dengan kepenatan, kelelahan, kejenuhan, kebingungan, supaya kita makin mendekat pada-Nya.
Kawan, ustadz saya pernah bilang, Allah itu suka dirayu… karena Allah itu, suka diminta. Teramat sayang Ia pada hamba-Nya, hingga Dia sangat ingin sang hamba mendekat, terus mendekati-Nya.
Layaknya kita biasa menggoda anak kecil yang menginginkan sesuatu, begitulah Allah pada hamba-Nya yang meminta, terkadang. Sering kita menarik dulu sesuatu yang diinginkan anak kecil itu, menyembunyikannya, menyebutnya tidak ada, sampai anak itu hampir menangis (atau sampai menangis), baru lah kita kasih keinginannya itu. Kenapa? Karena kita senang anak kecil itu bermanja dan merayu kita bukankah? Yah, sedikit-banyak seperti itulah. Allah senang kita bermanja dan merayu pada-Nya…
Karenanya tidak setiap keinginan kita dikabulkan saat itu juga. Saabaarr…
Kawan, hidup ini amanah. Beserta seluruh yang tercakup dalam kata “hidup”; amanah. Akan ada ganjarannya dari Allah. Yakin saja.
Jangan pernah jemu meminta. Jangan pernah henti berharap melantun doa.
Hanya, kawan…
Hanya pada Allah. 

*memurnikan ketaatan

Thursday, July 8, 2010

Sabar Itu Apa?

7:48 PM 36 Comments
Sabar Itu Apa?
*sudah hampir setahun aku ingin menulis tentang ini

        Sabar. Biasa sekali ya kata itu kita dengar dan kita ucapkan. Biasanya kita bicara “sabar” untuk mengerem suatu keinginan atau emosi tertentu, seperti kesedihan yang sangat. Sabar agar tidak larut dalam kesedihan yang berlebihan, sabar untuk menerima apa yang kita dapatkan dalam hidup, sabar dalam menunggu sesuatu…
       Terutama yang terakhir, sabar seringkali diidentikkan dengan mau menunggu. Orang seperti saya yang selalu ingin cepat (baca: gesit) akhirnya dicap “tidak sabaran”. Namun benarkah sabar itu menunggu? *mencari pembenaran, hehe…
Padahal, sabar itu apa?
       Kalau kita lihat ayat-ayat Al-Qur’an mengenai sabar ini;
“Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat, dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” QS:3:146
“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.’ Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” QS: 39: 10

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar”. QS: 2: 153

“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.“ QS: 16: 96

“Wahai Nabi (Muhammad)! Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada 20 orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan 200 orang musuh. Dan jika ada 100 orang (yang sabar) di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan 1000 orang kafir, karena orang-orang kafir itu adalah kaum yang tidak mengerti.
Sekarang Allah telah meringankan kamu karena Dia mengetahui bahwa ada kelemahan padamu. Maka jika di antara kamu ada 100 orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan 200 (orang musuh); dan jika di antara kamu ada 1000 orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan 2000 orang dengan seizin Allah. Allah beserta orang-orang yang sabar.” QS:8:65-66

Nnah. Kalau merujuk dari ayat-ayat di atas, sabar dapat mencakup 3 hal berikut:
- menolak, menahan; menolak kelemahan untuk hinggap di diri mereka
- kokoh; tidak patah semangat dalam berusaha, dan tidak menyerah kepada musuh (bisa juga syaithan dalam diri).
- menghimpun; aktif menghimpun amal kebaikan.

Ternyata selain menolak, menahan, dan tidak mudah ”patah”, sabar juga bermakna aktif. Bergerak. Kesabaran dalam beramal shalih, terus-menerus berbuat kebaikan, akan menjadikan seseorang tsabat (teguh) dalam beramal. Selanjutnya, setelah tsabat terus diasah dan diperkuat, ia akan menjadi istiqamah.
Karenanya, Sabar itu, kekuatan bagi orang mukmin. 

Sunday, July 4, 2010

karena manusia bukan cacing

9:36 PM 27 Comments
*meniatkan tulisan ini singkat saja.


Teman, mungkin masih ingat dengan pelajaran biologi waktu SMA tentang cacing tanah, bangsa vermes. Langsung aja yah, ga usah panjang-panjang pembukaannya :) Cacing itu hermafrodit. Punya dua alat reproduksi dalam satu tubuh. Tapi mereka tidak pernah berkepribadian ganda (apa seh), waktu kematangan sperma dan ovumnya tidak sama. Bila pada suatu saat sperma cacing A matang bersamaan dengan matangnya ovum cacing B, mereka bisa kawin begitu saja. 

Tapi manusia bukan cacing. Tidak selalu seorang pria yang siap menikah berjodoh dengan perempuan yang juga telah siap pada waktu yang sama. Jadi, sebenarnya sangat tidak mudah mencarikan jodoh untuk orang-orang yang kita sayangi. Mesti hati-hatiiii....sekali. Jangan coba-coba dan banyak bermain dengan kata "siapa tau", karena manusia bukan cacing...minimal istikharah dulu lah untuk saudara kita itu...

memang repot. tapi terlalu kejam kalau coba-coba. karena manusia bukan cacing :)

Thursday, July 1, 2010

ternyata bermakna

10:28 PM 14 Comments
(merindukan mu sungguh, yah semua deh ha ha ha)
tetap semangat farah
teteplah menjadi
pembela gue saat yang lain mulai menghina hina gue


*kalimat pamit seorang rekan, mantan partner terbaik. Bikin terharu...
(karna ku tau yang kau maksudkan selalu kebaikan, sobat)

Wednesday, June 23, 2010

(Tentang Kata) Kita

5:01 PM 22 Comments
“Di saat kita bersama,…” (Sheila on 7, Kita).
Ini lagu zaman saya ABG, suka sekali dengan group band ini (selain Padi). Tak jarang saat tersebut kata ‘kita’, terngiang langsung kata-kata awal lagu ini. Mungkin terinternalisasi dalam pikiran. Wajar..

Kalau,
“Lu aja sama kambing”
Mungkin kata-kata di atas itu telah biasa kita dengar atau ucapkan. Atau sapi lah, yang kolesterolnya lebih rendah (lhoh?). Sampai di sini makna kata ‘kita’ masih dikembalikan pada  makna sebenarnya, merujuk pada jumlah orang lebih dari 1 dengan mengikutkan si pembicara dan orang yang diajak berbicara. Kita: aku dan kamu; aku, kamu, dan dia.

Ternyata,
Orang Sulawesi Tenggara keturunan kerajaan Tolakki punya ‘makna’ yang berbeda lagi dengan yang selama ini kita kenal. Kata ‘kita’, mereka gunakan sebagai panggilan hormat pada orang lain. Awalnya saya bingung ketika berbincang dengan ibu-ibu di sana, beliau berkata (nada bertanya), “Kalau kita?” sambil ibu jarinya menunjuk saya. Ternyata maksudnya adalah, kalau kamu gimana? :D

Tapi belakangan ini,
Sepertinya telah terjadi pergeseran makna dari kata ‘kita’ itu. Bagi anak Jakarta dan sekitarnya (kayak azan), 'kita' tak ubahnya bermakna sama dengan ‘kami’. Hayo, pada nyadar ga ya? Misalnya saat mengajak teman untuk ikut dengan kelompok yang saya (atau kamu) terlibat di dalamnya, “X, mau bareng kita gak?”
Nah lho. X-nya aja belum ikutan, sudah nyebut ‘kita’. Padahal belum tentu kan si X itu mau ikut? ;D Kan seharusnya, “X, mau bareng kami gak?” Yah. Itu hanya contoh kecil. Sebenarnya banyaaaakkk dan sudah seerrriiiiiinggg sekali salah.
Saya juga baru sadar saat teman saya yang dari Riau mengatakan hal ini di kelas Psikologi Lintas Budaya dulu. Jadi berpikir, iya juga ya...

Kesimpulannya,
Bahasa itu, seringkali multiinterpretasi, banyak makna yang bisa muncul hanya dari satu kata. Beberapa daerah punya makna yang berbeda untuk kata yang sama di daerah lain. Tapi, menurut saya perlu dibedakan; mana yang memang buah dari kekayaan budaya, dan mana yang penyalahgunaan.

Humm, bicara budaya, sepertinya akan jadi menarik. Kapan-kapan deh.

*Cinta bahasa Indonesia…!!!

Sunday, June 20, 2010

orang yang ga bisa masak biasanya senang bersih-bersih

7:13 PM 48 Comments
       Hmmm... ini sebenarnya adalah hipotesis ibuku saja, berdasarkan pengamatannya pada orang-orang. Orang yang ga bisa masak, biasanya rumahnya tuh bersiiihhhh,,, rapiiiiihhhh,,,, Dan ketika beliau menyebutkan hal itu padaku, aku hanya tersipu geer dan bilang, "Mamah bisa aja deh menghibur aku...". Hahaha...
          Setiap orang memang hidup dengan karunia kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Memang suatu hal yang bahaya kalau pemakluman atas kekurangan seseorang dijadikan pemakluman pula atas terhentinya pembelajaran. Dengan adanya kekurangan, mungkin di situlah Allah menyediakan ladang pahala untuk kita belajar menutupi atau mengurangi kekurangan itu. Kekurangan itu tidak laten.
          Seperti memasak. Untuk menjadi seorang koki hebat atau pemasak rumahan profesional (??), mungkin tidak cukup hanya belajar. Dibutuhkan juga bakat untuk itu. Tapi memasak itu skill, keterampilan yang dapat dipelajari, tanpa bakat sekalipun. Katanya sih, setiap orang pasti bisa masak kalau mau belajar *karena setiap orang kan butuh makan. Tapi untuk jadi ahli, ya jelas tidak semua orang bisa. Intinya haruslah tetap belajar.
           Nah. Jujur saja, saya adalah orang yang butuh usaha sangat keras untuk bisa memasak T_T. Meskipun setiap hari membantu mamah memasak di dapur *fyi, padahal masakan mamahku enak banget! Masakanku akan enak kalau ada campur tangan orang lain, seperti ibuku. Tapi ketika aku mulai memasak sendiri tanpa campur tangan siapapun, entah apa yang salah, padahal bumbu dan caranya sama, hasilnya begitu saja berbeda. Kenapa? Entah T_T
           Ibuku tau aku memang tidak bakat memasak. Beliau juga tau aku sudah berusaha belajar. Beliau juga tau aku masih punya semangat membara untuk belajar lagi dan lagi. Dan beliau juga tau, setiap kali gagal, aku pasti geregetan, dan, sedih, tentu saja. Beliau tidak marah apalagi menghujat *yaiyalah*, melainkan pada akhirnya menghiburku dengan kata-kata seperti judul tulisan ini. Dan, sejak saat itu, setiap beliau geleng-geleng karena aku terlalu cerewet (baca: perhatian, haha) dengan kebersihan dan kerapihan, aku hanya bilang, “Kan gak bisa masak Mah, hehehe…”, supaya paling tidak ada kompensasi ;D
          Belajar. Belajar. B e l a j a r . \(>_<)/

**tulisan ini mendemarketisasi diri sendiri niyh! ;D

Thursday, June 17, 2010

Seperti Ayahku

8:32 PM 16 Comments
               Beberapa hari lalu aku mem-post sebuah note dengan judul yang sama. Hanya  2 kata itu. Ambigu? Multitafsir bahkan. Tapi aku sengaja. Hehe.. di sini baru maksudnya.
Dua kata itu terbersit begitu saja pada suatu ketika saat aku diperlakukan sedemikian hormat dan dijaga oleh seseorang, belum lama ini. Kepemimpinan dan penjagaannya seperti ayahku. Dan, beberapa sifat baik (rahasia) yang tampak dari perilakunya, juga seperti ayahku. Aku memang orang yang mudah kagum pada orang lain, dalam hal ini tidak peduli dia laki-laki atau perempuan. Hanya saja orang yang kumaksud itu laki-laki, jadinya seperti ayahku, kalau perempuan pasti seperti ibuku ;) *ngeles.
Ayah adalah pahlawan. Dan menurutku, cukup wajar dan tidak sedikit orang yang menjadikan ayahnya sebagai idola. Sebagai anak perempuan, rasanya juga wajar kalau ada yang ingin mendapatkan jodoh yang mirip dengan ayahnya. Sifat-sifat dan keahlian, terutama. Dengan catatan, ayah yang dimaksud adalah ayah yang baik dan bertanggung jawab ya…
Seperti aku. Hehe.. tapi aku tidak ingin masang iklan di sini, membeberkan sifat-sifat ayah yang membuatku kagum dan kelak ingin mendampingi seseorang yang seperti beliau. Hanya saja, aku ikut menganalogikan kesetaraan pasangan, sbb: Bila ada laki-laki yang ingin mendapatkan istri seperti Ibunda ‘Aisyah, jadilah seperti Muhammad saw. Dan sebaliknya. Analog juga kan, dengan, kalau ingin mendapatkan suami seperti ayahku, jadilah seperti ibuku. *ah, kok jadi ga jelas ya?
Uhmm… Tapi ibuku bilang, membandingkan orang lain dengan ayah itu tidak baik. Kekaguman pada ayah membuatku sempat membuat kriteria yang, ‘ayah gue bangeeettt’ dalam menilai teman lawan jenis. Akhirnya, kok banyak ya, di antara mereka yang bikin aku ilfeel? Ya, banyak, banyak sekali. ‘Karena setiap orang kan punya sisi baik dan kurang baiknya. Juga karena suamimu bukan ayahmu.’ Belakangan aku juga paham, bahwa membandingkan ternyata tidak cukup baik dan bijak dalam banyak hal.

*tapi tetap saja aku cukup takjub ketika menemukan sifat-sifat ayah dalam diri orang lain. hufh, biarin aja ya, ga usah ditanggepin. Hehe..

Thursday, June 10, 2010

BPH On Vacation: Ciamis!

3:12 PM 6 Comments
      hhmmm... ini hanya sebuah cerita, pelengkap foto-foto yang sudah di-post lebih dulu. Sudah telat juga sih. Yah, yang penting bisa dibaca sama anak-cucuku nanti (teteeuuppppp).

       Jadi ceritanya, tanggal 28,29,30 Mei 2010 yang lalu, BPH BEM UI 2009 jalan-jalan dengan tujuan utama ke Green Canyon dan Pangandaran. Untuk mengurangi cost, nginepnya di rumah uwakku (nomor 3) di Perancis (perapatan ciamis), tepatnya di Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, yang berbatasan dengan Tasik (Rajapolah). Asumsi kami sih, meskipun di utara dan Pangandaran di selatan, karena sudah di Ciamis, yah gak jauh-jauh amat lah yaa... 

        Jadilah pagi-pagi, hari Jumat tanggal 28 Mei 2010 pukul 6 pagi kami sudah berkumpul di beberapa meter sebelah Universitas Pancasila, setelah malam sebelumnya para bph yang putrinya nginep di rumah Input (bph juga, tapi gak boleh ikut sama ortunya) di dekat UP. Kami sarapan, dengan nasi uduk dan risol yang telah disiapkan oleh sie. konsumsi, Wenny-kestari. Briefing, ngasih peta ke mobil sebelah, berdoa, berangkaaaatttt!! tepat pukul 06.30.

       Ternyata sepagi itu tol sudah macet. Baru saja lewat Bekasi Timur, Cikarang, maccceeetttt... Kami berangkat dengan 2 mobil. Mobil pertama fasilitasnya lengkap, ada DVD, TV, dll, bagus lah yaa... diisi oleh para putri, 5 orang (aku, Ida, Wenny, Yuli, Ijo) + 1 supir (Awwab) dan 1 orang navigator (Adi), keduanya bph cowok. Sedangkan mobil sebelah, semuanya cowok, ada 5 orang (Tiko, Farid, Tebe, Fazri, Uta), dan fasilitasnya pas-pasan. Bahkan tidak ada music player. Jadilah seorang dari mobil sebelah mengirim sms ke mobil kami, "Kenapa sih perempuannya gak dibagi aja? Di sini suram banget deh". haghaghaghag....mana ada yang mau dikorbanin ke sebelah?? ;D

       Shalat jumat di masjid di daerah Nagrek. Tadinya kami mau makan sekalian di sana, tapi ramaaaaii, daaann,, mahal. Maklum ongkos kami ngepas. Hehe... Ya sudah, akhirnya kubilang, "Makannya di deket rumah aja, ada kok yang enak dan murah", berdasarkan info dan ingatan dari ortuku. Okkei. Yang lain nurut sajah. 

       Ter.nya.ta. begitu kami sampai di rumah makan yang udah dekat rumah itu, rame juga di sana! Maklum long-weekend. Dan ternyata lagi, mahal juga bo! Aduuhhh,,, sebagai tuan rumah, gak enak banget deh sama teman-teman. Udah perjalanan jauh banget bikin pada capek, pas makan yang katanya murah ternyata mahal juga, hhmmh... 

       Setelah makan, kami jalan lagi. Tidak lama, begitu melewati Perancis, aku menunjuk gunung di sebelah kanan jalan dengan titik-titik rumah di kakinya, "Tuh, rumahnya di sana!" Subhanallah, di luar harapan, muka teman-teman langsung cerah dan antusias, "Waaaahh!!! Di kaki gunuuunggg????!!!!" 

       Memasuki jalan yang tidak lebar, dikawal oleh hijaunya areal persawahan yang berteras-teras, sejuknya angin gunung, hhmmm,,, jendela mobil langsung dibuka dan jeprat-jepret pun mulai. Oh iya, si sie.HPD, Ijo, bawa kamera SLR, jadi kami semua sedikit-sedikit belajar fotografi lah, dan di akhir keliatan deh siapa yang emang punya bakat fotografi dan yang maksa. hhe.. 

       Apalagi begitu sampai rumah. Semua terlihat puas! Bahagia banget ngeliat kepuasan dari wajah-wajah mereka. Kami dijamu di belakang rumah, sudah ada teh, makanan, buah, wuah, pemandangan langsung khas kampung di pegunungan, empang besar-besar di hadapan, nyiur, pohon-pohon hijau, benar-benar pelepas lelah yang luar biasa. Dan ternyata, bi nani (sepupu ibuku yang menunggui rumah uwak itu) sudah menyiapkan makan siang untuk kami. Hyaaah, tau gitu kami makan di rumah ajah.. ;D karena pada kordinasi sebelumnya *halah, gaya*, aku tidak minta disiapkan makan siang hari itu...

       Setelah duduk-duduk dan minum-minum (?), anak-anak mulai berkeliling. Di belakang rumah itu masih luas, selain empang yang besar, turun tangga sedikit di sebelah kanan ada sawah punya uwak juga yang banyak ikannya, warna-warni. Trus pohon-pohon singkong yang tinggi-tinggi. Di sebelah kiri ada saung buat duduk-duduk dan biasa dipakai untuk makan-makan kalau keluarga besarku mudik. 

       Nah. Tapi sampai saat itu belum ada yang tau tempat favoritku sejak dulu. Sungai kecil di bawahnya lagi. Aku mengajak Wenny, diikuti Adi dan Tiko. Sungai kecil yang deras, batu-batu besar, air jernih dan dingin... hmmmm... dahsyat! Si Adi bahkan nyebur dan menyebrang ke (kami menyebutnya) 'curug mini', mandi di situ. Tidak lama, Yuli dan Ida pun ikutan. Ekspresi mereka benar-benar lepas, pas, pas! Bahagia banget, ngeliatnya juga bikin bahagia, hehe...

      Kami memang sudah berencana bakar ikan malam harinya. Bi Nani pun sudah menyiapkan, tinggal bakarr!! Tapi tak dinyana, ketika ikhwannya (sekarang nyebutnya ikhwan, bukan cowok, hhe) lagi shalat maghrib di masjid sebelah rumah dan akhwatnya shalat di rumah, pett! mati lampu. geellllaaaappp... Menunggu, lama ternyata. Kata Bi Nani sih biasanya ga lama kalau mati lampu. 

      Akhirnya ditemani dengan beberapa batang lilin yang tidak terang, kami tetap bakar ikan. Makan, humm.... tetap nikmat, meski gelap jadi agak susah misahin duri ikannya. hehe.. Dan malam itu pun hujan sangat deras. Kami hanya membicarakan rencana teknis untuk pergi besoknya, lalu masuk rumah kembali. Ada yang tidur, nonton, dan aku memilih, main catur! setelah sekian lama tidak bertemu bidak-bidak itu... Aku main 3 kali, lawan 2 orang (pertama perempuan, kedua dan ketiga laki-laki), 3-3nya aku menaaangg...hahaaa...ternyata masih bisa. 

      Awalnya sih aku agak sangsi ketika menjadwalkan jam 5 subuh kami berangkat. Tapi, oi lihatlah, jam 3 dini hari di luar kamar akhwat sudah ramai... ada yang shalat malam, ada yang tilawah, ada yang ngerjain skripsi...hihihihi... Jadi sadar, kalo teman-temanku itu ternyata memang benar ikhwan. hehe.. 

     Tepat setelah subuh kami sarapan sambil nonton Aa dan Mamah. Dasar ya para ikhwan itu, mereka bukannya mendengarkan ceramah, malah sibuk mengomentari acara itu. Tentang si mamah yang ngomongnya asli betawi banget, nyablak tanpa jaim, tapi kata-katanya ngena pas ke sasaran. Atau ibu-ibu yang bertanya, yang, ah, sadar kamera sekali. Tentang, apa lagi ya? Banyak lah, lucu ternyata. Kami pun, berangkat jam 5 lebih, tidak mengecewakan lah ;D

     Hhhmmhh,,, perjalanan ternyata panjang sekali saudara! Kami dari Ciamis bagian utara, menuju Ciamis bagian selatan. Kami dari pegunungan, menuju pantai dan laut nun jauh di sana. Kotornya 4 jam lah kami baru sampai Green Canyon. Ternyata eh ternyata, Green Canyon-nya mirip Kalimalang atau Sungai Cisadane yang airnya coklat T_T tidak hijau seperti biasanya. 

     Pengelola ternyata juga menutup area wisata karena air pasang, dan kata Wenny yang anak geografi, sepertinya ada longsor di hulu sana, jadi airnya cokelat. Keduanya karena hujan semalam yang sangat deras. Sangat, deras. Pengelola pun menyarankan orang-orang untuk 'bergeser' ke pantai batu karas. Sebelumnya, kami berfoto dulu untuk bukti, takut ditanya orang Depok pas pulang, haha, bukti kalau kami sudah pernah ke Green Canyon. Hhehe.. Ini berarti rencana ke Pangandaran juga batal, karena kemungkinan kasusnya akan sama. 

     Sampai di pantai batu karas, ternyata ramaaaaaiiii sekali. Sudah mupeng ingin naik banana boat, ternyata mahal sekali. Masa' 50ribu/orang. Ogah ah. Ya sudah, kami pun memutuskan untuk menggelar tikar dan membuka bekal makan siang di pinggir pantai. Mengeluarkan bakul plastik berisi nasi, rantang berisi lauk-pauk, lalap, dan sambal, hhmm,, di pinggir pantai, membuat orang-orang di sekitar kami terlihat ekspresinya sedang menelan ludah dan mendecak lidah tanda kepengen ;D

     Sebelum dan sambil makan, aku sibuk menelfon saudara-saudaraku, bertanya opsi wisata yang lain. Mentok, akhirnya inget kalau di dekat rumah konon ada kolam renang yang terpisah untuk laki-laki dan perempuan. Ke sana sajalah *mulai nelangsa. Aku telfon saudaraku, katanya, sekarang kolam renang itu sudah ditutup T_T. Lagi-lagi sebagai tuan rumah, aku gak tega ngeliat anak-anak kecewa gitu. Ah, selesaikan makan dulu saja laahh...

     Nah. Selesai makan, teman kami Tebe menawarkan opsi, "Eh, mau gak, ke pantai tak berpenghuni? Masuknya cuman 4ribu doang". Yang lain pun menanggapi dengan mulai semangat. Untungnya aku cukup pintar untuk bertanya, "Tak berpenghuni kok mesti bayar Be?" Eh, iyaya... Yang lain baru nyadar dan ketawa. hahahaha.

     Yup. Sepakat. Kami memutar haluan kembali ke pantai tak berpenghuni. Ah, ternyata jauh juga! Eh, tapi! Kami pun mendadak bangun dan antusias ketika mulai mendekat ke lokasi. Pantainya indaaaaaahhh bangeeetttt... Semua berdecak, 'luar biasa nih si tebe'. Kami melewati Tugu Tsunami. Hm, sepertinya dari pantai itulah tsunami di sana setahun yang lalu terjadi. Bagaimana tidak 'sedikit' ngeri, sepanjang jalan banyak plang penunjuk jalan, "Jalur Evakuasi Korban", di mana-mana. 

     Tappi. Kami lupa tuh. Lupa ngerinya begitu turun menjejak di pantai yang kami tuju. Seperti yang tadi kubilang, indaaaaaahhhhh bangeeeeetttt.... Bersihhhh,,,, private,,,, hanya ada kami. Ombaknya tinggi-tinggiiii... batu karangnya warna-warniiii.... ah, dahsyat lah pokoknya. Subhanallaahh... Terbayar deh semua kelelahan dan kekecewaan kami sebelumnya. 

     Alhamdulillah ya, Allah nurunin berkahnya sangat lebat malam sebelumnya. Membuat air di Green Canyon pasang, pantai batu karas ramai, dan membawa kami ke pantai yang luar biasa itu. Ida menamakannya, "Pantai TB", karena Tebe yang membawa kami ke sana. Aku tambahkanlah, "Pantai TB; Tak Bertuan". 

*Ah, sabar lah kawan, sabarlah menunggu takdir Allah. Pasti jauh lebih indah dari apa yang bisa kita bayangkan. Bukan saat ini, mungkin nanti, tidak lama lagi ^_^ *

     Tak sampai sore kami di pantai itu, pulang kembali mengingat perjalanan sangat jauh. Jam 15 kami pulang, dan berhenti di sebuah masjid yang cukup besar untuk bersih-bersih, mandi, dan shalat zuhur dan ashar. 

     Singkat cerita, kami baru sampai rumah pukul setengah 12 malam. Bersamaan dengan uwakku yang ke-4 datang. Teman-teman yang selalu tertukar akan urutan uwak-uwakku, bergumam sedikit gurau, "Wah, uwaknya Farah dateng, kita harus pergi malam ini juga", dikiranya uwak yang punya rumah, padahal bukan. FYI, uwakku yang punya rumah itu (nomor 3) sengaja tidak datang karena takut mengganggu acara, katanya. Dan seminggu sebelumnya, beliau datang untuk survey dan memastikan semuanya siap untuk menyambut kedatanganku dan teman-teman. Terharruuuww...

     Tidak pakai ba-bi-bu, kami hanya beres-beres sedikit, ngantri sikat gigi, wudhu, lalu tidur. Chapppheeekkk.... Aku pun tidur dengan berharap, 'semoga besok pagi pada bangun sepagi pagi tadi'. Karena kami harus pulang setelah subuh. 

     Ternyata. Aku bangun pukul 4, yang lain belum bangun! Ikhwan-ikhwannya beberapa juga baru bangun, langsung deh bergegas. Sampai pukul 05.30, masih ada beberapa orang yang belum mandi. Baiklah, aku akan ke rumah uwak nomor 5 yang juga sedang berlibur di kampung. Rumahnya tidak jauh, tidak sampai 60 langkah dari rumah tempat kami menginap. Aku datang ke sana sendirian.

     Setelah bercengkerama sebentar, istri uwakku (uwakku juga lah) mengeluarkan pelet (makanan ikan), dan menyebarnya ke empang. Wuuuaaaaaa,,,, ikannya banyaaaakkk bangeeetttt.... Bessaaaarrr-besar banget. Wah. Teman-teman harus liat ini. Kutelfon seseorang di sana yang pakai indosat, kusuruh mereka datang dengan yang lain yang sudah siap. 

     Kupikir hanya sedikit, ternyata hampir semua datang. Mereka berkenalan dengan uwakku, lalu tertakjub dengan ikan-ikan tadi. Berebut meraup pelet dan menyebarnya ke empang. Di bawah ternyata ada lagi empang yang sangat besar, isinya bawal, banyaaaaaaaaakkk banget. Wuah pokoknya heboh deh. Bahkan ada yang berbisik padaku, berkomentar tentang uwak yang ini, "Farah, uwak lo ganteng banget!" Ahahahahaha,,, uwak yang ini memang uwak paling asoy dan paling tampan yang kupunya. Dan di jalan pulang, uwak tersebut masih saja dibicarakan, diberi nama, Ugan, Uwak Ganteng. Hhahahahaa..

     Niatnya sih pulang ba'da subuh dari rumah. Tapi nyatanya kami baru pulang jam setengah tujuh. ;D Mobil sebelah pulang duluan karena mobilnya ditunggu sama yang punya *fyi, kami minjem, hehe... Sedangkan mobil kami para putri, masih berkelana lagi nyari oleh-oleh ke Rajapolah. Hadeuhhadeuh, dasar ya ibu-ibu, belanja dan foto-fotonya sama lamanya! Si Awwab dan Adi sampai bete nungguin di mobil, mengklakson berkali-kali, "Wooooy, pulang woooy,,, macet woooooyyy....!"

     Okkelah. Kami baru jalan dari Rajapolah pukul 09.00. Ahahahahaaa...yang penting semua senang. Di tengah kemacetan jalan, kami pun masih sempat menepi, membeli oleh-oleh makanan (di Rajapolah itu sentra kerajinan). Jalan lagi, sebelum masuk tol Purbaleunyi, kami mencari baksoooo....!!! Akhirnya nemu bakso yang lumayan bisa dipercaya, lumayan enak, dan yang terpenting murrah. haha, dasar. Ketika kami sampai di kios bakso itu, ada kecelakaan, bapak-bapak ditabrak motor. Berdarah-darah. Kami yang melihat, Awwab yang bertanya pada kami, "Ada yang bawa obat gak?" "Bawa!", jawabku, Wenny, dan Adi. *Lengkap cuy. Kami bertiga langsung berlari ke mobil, membawa kotak obat masing-masing. Alhamdulillah bapak itu tidak terlalu parah. 

Alhamdulillah selamat semua, dan semua senaaanggg!!! Uwah, bahagia banget deh rasanya bisa mengajak teman-teman tercinta ke kampung (mamah)ku yang indah...

Wednesday, June 9, 2010

Allah Bilang Kita Harus Bersama

10:08 PM 20 Comments
       Ini cerita sederhana tentang takdir, tapi, luar biasa juga sih *jadii?? Jadi ya sayang kalau terlewat begitu saja tanpa terdokumentasikan. Supaya anak-cucuku nanti bisa baca ;) Sebenarnya sih sudah pernah menulis artikel tentang takdir, dengan perumpamaan yang bagus sekali dari seorang teman. Kalau tertarik, bisa klik di sini. Ini hanya cerita.

       Suatu sore, aku dan temanku membuat janji untuk pulang bersama, dari kampus di Depok ke Bekasi. Kami beda fakultas, aku keluar lewat barel (balik rel FH), dan dia dari gang senggol. Singkat cerita, kami tidak bisa bertemu di kampus. Jadi aku bilang dia naik angkot aja dari senggol, aku tunggu di gang damai (di jalan margonda-nya). Rencananya sih dia akan memberhentikan angkot kalau sudah melihatku. 
  
        Setelah cukup lama menunggu, ditambah lagi handphone temanku mati karena lowbat, aku bosan. Tak lama setelah aku bosan, azan maghrib pun terdengar. Aku dilema *lebay*, gimana nih?? Karena berdasarkan pengalaman, perjalanan pulang tidak akan bersahabat kalau aku belum shalat, 'ah, sudahlah, shalat dulu aja. kalau emang jodoh ga kemana', akhirnya aku balik kanan jalan kembali menuju MUI, shalat maghrib. 

        Nnah! Selesai salam, aku menoleh ke akhwat di sebelahku. Eng ing eengg.... ternyata dia adalah teman yang kutunggu itu! Kami sama-sama kaget, kaget sekali. Lalu, "subhanallaaaahhh, kalo emang jodoh mah ga kemanaa..."

         Teman, tau gak, ternyata temanku itu juga bingung karena tak kunjung menemukanku di gang damai, handphone mati, akhirnya dia terus di angkot sampai ke Kober. Turun, memutuskan untuk shalat maghrib dulu. Nnnaah lagi, Kober itu sudah sangat lebih dekat ke masjid stasiun UI daripada Masjid UI (MUI), tapi temanku itu malah melangkah ke arah MUI, yang lebih jauh. 

          Subhanallaah, alhamdulillaah, akhirnya kami pun pulang dengan sentosa. Allah bilang kami memang harus pulang bersama malam itu ;D

Sunday, June 6, 2010

Serasa Kembali Ke Kosan

6:46 PM 4 Comments
*curhat
                Seperti note yang pernah saya post, beberapa waktu lalu kamar saya bocor-sebocor-bocornya, membuat banjir seruangan. Jadi ceritanya, genteng-genteng di atas kamar saya sudah dicopotin karena lagi dibangun. Jadi di atas plafon hanya dilapisi terpal, supaya tidak bocor kalau hujan. Nah, tak dinyana, malam itu hujan turun begitu teramat sangat dahsyat dan derasnya, hingga sang terpal tak kuat bertahan ditempa jutaan larik air, tergeser, lalu, jadilah plafon merembeskan dan mengalirkan air ke seluruh senti kamarku T_T.
Padahal barruuuu saja, kata ayah hari itu kamarku sudah bisa dipakai. Jadilah aku beres-beres dan rapi-rapi serta mempercantik kamarku lebih cantik dari sebelumnya. Jadi, gagaaallll T_T bahkan semua basah. Seprai baru, taplak-taplak baru (baru dikeluarkan dari lemari maksudnya), kasur yang baru saja diturunkan.. hiks.
Tapi setelah kehebohan malam itu, aku bersyukur. Kasurku dibuang dan artinya aku akan punya kasur baru. Hehe.. Semakin gelap malam, memang artinya fajar semakin dekat ;D
Bangunan belum selesai, kasur belum dibeli. Tersisa sebuah kasur kecil mantan kasurku waktu kecil dulu, yang sekarang ada di kamarku. Tanpa kayu tempat tidur, kasur itu terbentang lesehan hanya di atas karpet, dan dibungkus dengan seprai single waktu aku ngekos, yang belum pernah dipakai lagi semenjak aku keluar kosan. Putih, ungu muda, ungu tua, hijau, pink, kupu-kupu. Hihiy, ditambah kondisinya yang lesehan, kangen kosaaaaannnn!!!
Bekasi, 6 Juni 2010

Friday, June 4, 2010

BPH on Vacation (Ciamis)

3:10 PM 12 Comments



tiba-tiba berubah jadi para pecinta awan.

Jumat-Ahad, 28-30 Mei 2010
mohon maaf untuk agenda lain yang terlewatkan, saya tidak bisa meninggalkan acara ini karena sudah direncanakan sejak 1 bulan sebelumnya. Tapi yang paling bikin saya ga boleh ga dateng adalah, perginya ke kampung saya, nginepnya di rumah uwak saya. tidak mungkin saya tinggal tokh? ;)

rencananya mau ke green canyon, tapi berhubung malamnya hujan deras, jadi di sana banjir dan tak ubahnya seperti Kali Malang T_T

kami pun mengubah haluan jadi ke Pantau Batu Karas, tapi ternyata di sana ramai sangat, mau naik banana boat mahal, akhirnya gelar tikar dan makan siang ;D

lalu, seorang teman bernama TB menawarkan pergi ke pantai yang masih asli, kita namakan, "Pantai TB (Tak Bertuan)". hehe... dan segala kelelahan kami pun terbayar. subhanallah... benar-benar privat pantainya, hanya ada kami, indaaaaahhhhh sekali.

Tuesday, June 1, 2010

Tak Sehebat Bundo Malin

1:53 PM 12 Comments
     Mengutuk, mengutuk, mengutuk!!! Mengutuk 1000x!!!
    
     Atas serangan bengis tentara Israel pada para relawan kemanusiaan. Bukan hanya saya, atau anda. Juga bukan hanya rakyat bangsa kita. Tapi nyaris seluruh manusia di dunia turut mengutuk.
    
     Lalu, apa?

Wednesday, May 26, 2010

yang hobi jalan-jalan

10:17 AM 18 Comments
           Alkisah, pada suatu hari saya berhadapan dengan seorang manajer HRD sebuah lembaga. Beliau telah membaca curriculum vitae saya, dan mengetahui bahwa saya adalah anak perempuan satu-satunya di keluarga dan bungsu pula (fyi, kakak saya juga anak laki-laki satu-satunya).
           
           Teman, kau tau kan, kalau ekspresi wajah pada detik pertama adalah ekspresi emosi yang paling jujur (kalau belum tau, tuh kan saya kasih tau ^_^). Beliau tampak kaget mendengar jawaban saya ketika bertanya, “Siap ga kalau ditempatkan di daerah?”. Aku menjawab dengan semangat, “Siap Pak”. Beliau melanjutkan, “Misalnya di Aceh, atau Singgalang, gitu, siap?” Beliau nampak kaget lagi ketika aku juga menjawab siap dengan mata berbinar. “Kalau ditempatkan di Hong Kong?” beliau bertanya (nantangin kali ye) lagi, seperti masih sangsi atas binarnya mataku (lebay). Dan saat itu aku merasa mataku lebih berbinar lagi, lalu menjawab, “Siap Pak!” ^_^
          
          Sudah. Saya ingin bercerita tentang mengapa saya selalu menjawab siap untuk pertanyaan-pertanyaan di atas. Alasan besarnya sih karena saya memang ingin sekali bepergian keliling Indonesia. *sangat berharap dapat pekerjaan yang memungkinkan saya untuk keliling Indonesia. Apalagi kalau ditempatkan di luar negeri ;D. Mumpung masih sendiri, hehe…
        
          Saya ingin keliling Indonesia, karena itu saya suka sekali jalan-jalan. Kenapa? Karena saya senang mengumpulkan gantungan kunci dari berbagai daerah (lhoh?). Bukan, bukan itu (yaiyalah!). Saya senang jalan-jalan karena saya menyukai alam. Apalagi alam Indonesia yang cantik. Dari darat, udara, apalagi lautnya (*gaya, padahal baru pernah snorkeling 1 kali). Selalu senang ke alam bebas! Tapi, saya bukan pecinta kuliner seperti kebanyakan orang yang punya hobi traveling. *Soalnya lidah saya gak peka sama rasa. hehe..
         
          Kedua, saya senang jalan-jalan karena dengan begitu saya bisa belajar banyak hal seperti kebudayaan, sejarah, dan bahasa. Juga banyak bertemu orang-orang baru dengan watak dan karakter yang berbeda-beda. Mengenai watak dan karakter, percaya tidak-percaya, ternyata banyak juga yang dipengaruhi oleh suku lho. Unik kan? Jadi semakin sering jalan-jalan ke daerah yang berbeda, semakin banyak watak dan karakter yang bisa kita temui dan (ehem) pelajari. Hwah, jadi semakin pengen jalan-jalaaann… Senang aja bisa belajar adaptasi dengan karakter orang yang beda-beda.
         
        Hobi jalan-jalan saya sebenarnya muncul baru-baru ini saja. Kira-kira, baru 1 tahun yang lalu lah. Ketika hobi itu mulai muncul, saya semakin mantap menjadikannya sebagai hobi (halah) saat membaca judul majalah Tarbawi kala itu, “Bepergian dan Kekuatan Kepribadian Kita”. Ya, ternyata hijrah atau jalan-jalan ke daerah lain berpengaruh pada kekuatan kepribadian. Dalam majalah itu dicontohkan kisah Imam Ghazali sering yang berpindah tempat dalam hidupnya, sejak ia kecil. Dalam buku Psikologi Kematian, Komarudin Hidayat mempertegas bahwa tidak ada nabi pembawa agama samawi yang ada sekarang yang tidak melakukan hijrah dalam hidupnya; Nabi Musa a.s., Isa a.s, dan Muhammad saw. Hijrah dan bepergian ternyata merupakan hal besar yang dilakukan oleh orang-orang besar! Humh, semakin bersemangatlah saya jalan-jalan. Terlebih masih banyak lagi ayat Al-Quran yang menyuruh kita untuk ‘jalan-jalan’ ^_^
       
         Tidak selalu harus jauh, ketika masih kuliah dulu (kesannya tua banget gue) saya sangat menikmati perjalanan di atas kereta ekonomi dari stasiun UI sampai Bogor. Kalau sedang jenuh dengan kuliah dan amanah di kampus, saya suka iseng naik kereta ke Bogor. Harus ekonomi. Karena di KRL ekonomi itulah saya banyak belajar. Saya memperhatikan (bahasa kerennya observasi) kehidupan yang berlangsung di atasnya. Ada banyak pedagang, pengamen berbagai usia, penumpang yang tingkahnya macam-macam, ah, banyak lah. Pun harus ekonomi, karena pintu kereta yang tidak pernah tertutup menghembuskan angin segar dari luar yang masih banyak ditumbuhi pepohonan, dan pada akhirnya, segarnya udara Bogor (dari atas kereta yang sedang melaju, kalau siang dan menetap sih panas juga). Sampai stasiun Bogor, keluar, sedikit jalan-jalan, beli roti bakar atau makan… pulang lagi deh ;D dan kepenatan pun hilang, dengan lega aku kembali ke ‘kehidupan nyata’.
Aku siap!
                                                                                                         Bekasi, 21 Mei 2010

Monday, May 17, 2010

Belajar Renang, Belajar Hidup; Sebuah Filosofi

4:55 PM 31 Comments
Apa hubungannya hayoo?? Jadddiii, sebenarnya dalam apapun hal yang kita lakukan, lalui, atau amati dalam hidup, tersimpan sejuta makna yang dapat memperkaya kita sebagai manusia. Dengan catatan, asal kita mau membuka indera, pikiran, dan hati lebar-lebar untuk menangkap makna-makna itu. Itulah sebabnya Rasul saw bilang, “Hikmah itu milik orang mu’min yang hilang; di manapun ia menemukannya, ia berhak atasnya”, kira-kira demikian.
Begitupun dengan renang. Konon katanya, renang itu adalah olahraga yang paling baik. Itulah mengapa Rasulullah Muhammad saw menganjurkannya. Dan kata Umar Bin Khaththab sang jagoan,
“Ajarilah anakmu berenang sebelum menulis. Karena ia bisa digantikan orang bila tidak bisa menulis, tapi ia tidak bisa digantikan orang lain bila tidak bisa berenang”.
Ih wow, saya bahkan baru tau ketika membaca bukunya Anis Matta. Tapi sayangnya renang bukan olahraga paling murah. Hehe… renang juga olahraga yang paling menyenangkan karena kita bermain dengan sejuknya air. Jadi ingat waktu SD dulu, ketika guru saya bertanya siapa yang hobi renang, semua anak mengacungkan tangannya, kecuali satu. Sisanya, menganggap aneh 1 anak yang tidak suka renang itu. Olahraga apa coba yang bikin capek tapi tidak membuat kita berkeringat? Ya renang lah ;D
Berbekal nguping waktu seorang pelatih sedang mengajari ibu-ibu bagaimana mengajari anaknya berenang, saya mencoba mempraktekkan beberapa hal pada orang-orang yang mempercayakan saya sebagai pelatihnya (contoh: ibu saya dan temannya). Ketika seseorang baru pertama kali belajar renang, pertama-tama sekali, ia harus dikenalkan dulu dengan ‘dunia barunya’: air. Caranya, dalam posisi berdiri (boleh berpegangan pada dinding kolam), celupkan muka ke dalam air dengan mata terbuka, lalu lihatlah kakimu sendiri di dalam air itu. Ingat, mata harus terbuka. Lakukan beberapa kali, hingga anda/ia terbiasa dan tidak ‘takut’ lagi dengan air.
Filosofinya, sebelum kita dapat beraktivitas dengan leluasa dalam hidup, kita harus kenali dulu sekeliling kita, mengakrabinya. Kita tidak akan menikmati suatu suasana kalau kita takut menghadapinya kan? Membuka mata di dalam air ketika renang merupakan hal yang penting, karena dengan demikian kita baru akan bisa “menikmatinya”. Aku pernah iseng mengerjai teman yang sudah bisa meluncur. Kuminta ia meluncur sejauh jarak antara aku dan dia. Ketika hampir sampai, aku mundur, mundur, mundur, ada yang aneh. Kok, gak ada yang protes ya? Ternyata selama di dalam air dia merem! Tidak sadar aku kerjain. Pantas saja lama bisanya karena ia masih ‘panik’ dengan air. Kenali dulu dunia kita, buka mata, nikmati sensasinya ;D
Kedua, kita harus percaya pada air. Trust. Yang harus dipahami adalah bahwa, air itu sebagaimana kita memperlakukannya. Seperti halnya manusia, air juga butuh ditsiqohi (akhirnya terjawab di sini, haha..) Kalau kita percaya air tidak akan menenggelamkan kita, ya air akan mengambangkan kita. Biasanya cara untuk membuat orang yang masih sangsi dengan hal itu adalah dengan menenggelamkan diri kita sendiri sambil menahan napas, tanpa melakukan perlawanan apapun terhadap air, pasrah saja. Lalu, air akan mengambangkan tubuh kita dengan sendirinya. Yah, seperti, maaf ya, mayat yang mati di air dan telah mengapung.
Nah, analoginya, mengapa mayat bisa mengapung, alih-alih tenggelam? Jawabannya karena, ia pasrah, tidak memberikan perlawanan apapun pada air di sekelilingnya. Dan air pun tidak melawan… Filosofinya, ternyata dalam hidup, banyak kejadian yang tidak mengenakkan ternyata dimulai oleh diri kita sendiri: prasangka. Kita takut orang akan jahat atau mencurangi kita, maka kita membuat semacam pertahanan diri darinya. Akhirnya jadi sinis-sinisan deh. Padahal kan belum tentu.
Nnaaahh, yang terakhir, dari saya si pelatih gadungan (oleh karena itu boleh percaya boleh juga tidak, hehe..), renang itu mengajarkan kita untuk bahagia. Mengajar kita bagaimana menikmati masalah-masalah yang mendera dalam hidup. Seperti telah dibahas sebelumnya, kita tidak akan bisa menikmati kalau kita panik. Iya kan?! Dalam belajar renang, kita belajar untuk tenang di dalam air, hingga kita mampu sepenuhnya mengontrol pikiran dan gerak anggota tubuh kita. Waktu saya belajar sih, saya menenangkan diri saya sendiri dengan berpikir, “Tenang Farah, ga ada hiu, ga ada hiu…”
Sebenarnya untuk poin terakhir ini, saya terinspirasi dari 3 orang sahabat. Ketiganya sama-sama belajar renang dengan pelatih yang sama, bayaran yang sama, dan jumlah jam latihan yang sama. Dua di antaranya sudah sangat pandai berenang, namun 1 sisanya, dari mulai pertama kali saya belajar sampai beberapa bulan saya bisa setelahnya, dia masih saja belum bisa. Menurut kedua sahabatnya sih, dia masih saja sering takut ketika berada di air. Mereka bilang, “Dia memang sehari-hari juga gitu, banyak takut, orangnya”. Oh, kasihan sekali, pikirku. Ketika mereka bertiga berada di tepi kolam dan mengobrol, tidak sengaja saya mendengar 2 orang yang sudah bisa itu mengkritik sahabatnya, kira-kira begini, “Makanya lo tuh ga bahagia kan? Jujur deh, lo pasti ga bahagia selama hidup ini”… Hiks, jadi nelangsa sendiri gue dengernya T_T.
Yah teman, itu saja dulu ya. Semoga bermanfaat, dan Selamat berbahagia! ;D
(Alhamdulillah,
akhirnya kelar juga nih tulisan)

Suami-suami Jauh dari Istri

9:46 AM 44 Comments
     Trans TV boleh lah punya tayangan Suami-suami Takut Istri. Tapi di sini saya punya cerita tentang para pria “single” (mereka mengaku demikian) yang senantiasa bercerita tentang istri masing-masing.
   
      Cerita bermula dari penugasan saya sebagai tim material SIMAK UI beberapa waktu lalu di Kendari, Sulawesi Tenggara. Tahun sebelumnya saya mendapat kesempatan menjejakkan kaki di Borneo, tepatnya di Pontianak, Kalimantan Barat. Tahun lalu sih yang mengantar kami ke mana-mana (lokasi ujian, makan, jalan-jalan) adalah dari pihak Panitia Lokal dari Dinas Pendidikan setempat. Menjejak tepat di garis lintang 00 bola bumi, di Tugu Khatulistiwa. Menyeberangi sungai Kapuas yang sangat besar, menyambangi tempat budidaya lidah buaya, dan lain-lain. Tapi tahun ini kami (saya dan seorang dosen) diservis penuh oleh pihak BNI; ditraktir, diajak jalan-jalan, diberikan oleh-oleh, hummm…
   
      Nah. Ada 3 pegawai BNI yang setia mengantar kami. Ketiganya laki-laki, sudah menikah, dan semuanya tinggal jauh dari keluarga. Kebanyakan mereka orang Bugis, memiliki keluarga di Makassar, tapi ditugaskan di Kendari. Mereka bertiga, ditambah kepala cabangnya yang juga senasib yang ternyata beliau adalah tetangga saya di Bekasi dan di mana istrinya adalah teman ngaji ibu saya (betapa dunia ini sempit oy!!), selama dalam perjalanan di mobil, banyak bercerita. Seorang dari mereka lulusan UNHAS yang ternyata satu perguruan dengan saya, juga merupakan murid dari pelatih karate saya waktu di Makassar (pfiuh!). Yang lain mengaku lulusan UNGGAS (Universitas Gagal Unhas).
    
      Menurut cerita mereka, kalau sedang senggang di kantor, “pria-pria single” ini biasanya pergi ke mushalla, entah mungkin mereka berbagi rasa. Hehe.. berkumpul bersama teman senasib memang seringkali melegakan. Bahkan Minggu pagi pun mereka tetap bangun pagi dan berkumpul, main futsal bersama. Malam hari pun, siap-siap saja kalau ponsel berbunyi, karena bos (sang kepala cabang) sering meminta untuk ditemani (jangan berpikir yang macam-macam ya).
   
      Perbincangan-perbincangan kami menyimpulkan bahwa ternyata laki-laki itu lemah (terpengaruh oleh dominannya si ibu dosen yang agak menganut paham feminis). Coba deh perhatikan. Kalau istri meninggal, suami pasti butuh punya istri baru; untuk mengurus anak-anaknya, rumahnya, dan dirinya sendiri. Tapi kalau suami meninggal, istri biasanya tidak terlalu butuh untuk menikah lagi. Mengurus semuanya, sudah biasa, bisa sendiri. Untuk urusan mencari nafkah, tidak sulit juga bagi kebanyakan perempuan tokh? (logat keturunan Kerajaan Tolakki yang terpengaruh oleh bahasa penjajah—Belanda).
    
       Hhmmhhmm,,, terlepas dari setuju atau tidak setuju dengan paragraf di atas (saya kok setuju ya? ;D), saya cukup salut dengan suami-suami jauh dari istri tersebut. Mereka memang “mengaku” single, tapi selalu membawa-bawa istri dan anak mereka dalam obrolannya. Ah, memang, kasihan sekali mereka. Mereka –yang akhirnya mengaku lemah itu—ingin menghibur kami, banyak bercerita lucu, mungkin juga untuk menutupi nestapa kerinduan terhadap belahan jiwa dan anak-anak nun jauh di mata. Padahal, menurut mereka, kalau tidak kuat-kuat dengan agama sih, banyak sekali “godaan” yang mampir yang sebenarnya mereka berpeluang melakukannya karena jabatan mereka cukup teras. “Godaan”, ya, yang terkait dengan “wanita” laa… Melihat mereka, atau ketika mengingat mereka, doa yang terlintas hanya, “Semoga cepat ditarik kembali ke daerah masing-masing ya, bapak-bapak single…”

Dan, sebelum tulisan ini saya akhiri, iya ya, laki-laki itu ternyata lemah ;D
Hhe, buat para pria, piss ah! (^_^)v
Bekasi, 16 Mei (165) 2010

Friday, May 14, 2010

menghitung kelompok liqo

11:56 AM 25 Comments
Pulang dengan Positif!!
           Tanggal merah, jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor, setelah terakhir kali ke sana waktu saya SMA kelas 2 (atau kelas 1 ya, lupa). Hemmm, berdasarkan note seorang teman sehari sebelumnya tentang rencana rihlah bareng teman-teman halaqahnya, iseng-iseng aku menghitung; berapa ‘kelompok’ yang terlihat di KRB sepanjang perjalanan. Hehe, meskipun temanku bilang, “Kurang kerjaan”, tapi seru juga ah ternyata ^_^

Satu, dua, tiga, wah, banyak! Kalau akhwat sih gampang banget keciri, segerombol orang-orang perempuan berjilbab gondrong, hehe. Tapi ikhwan, gimana jelasinnya ya, pokoknya aku berhasil “suspect” 1 kelompok bahwa mereka adalah kelompok liqo. Ahahahaa, emang ya, kurang kerjaan banget gue…
Waktu lagi ngobrol-ngobrol dengan teman-teman, ada yang bilang, “Semoga kita istiqamah ya…” Yang lain menanggapi, “Sampai tua nanti, sampai ber-anak-bercucu” Aku tutup dengan, “Lucu juga ya, kalo nanti kita bisa rihlah sambil bawa cucu” ;D AAAAAAMIIINNN….
Kebun Raya Bogor, 13 Mei 2010

Selama Tak Ada Larangan untuk…

11:52 AM 18 Comments
Ga Dilarang Berarti Boleh
            Ada yang salah? Saya rasa tidak *Iya lah, ini kan tulisan saya ^^. Menurut saya, ini merupakan suatu pola pikir yang bisa membuat seseorang lebih bebas, karena itu ia lebih kreatif. Sekarang kebanyakan orang berpikir dan bertindak dengan berfokus pada perintah, atau yang seharusnya dilakukan. Atau yang telah menjadi kebiasaan di masyarakat. That’s all. Just do what should they do. Lalu apa?
            Kalau hanya demikian, lambat sekali kemajuan dunia kita, ya gak sih? Karena setiap orang hanya melakukan apa yang dilakukan oleh lazimnya orang lain. Tidak akan ada penemuan-penemuan baru, baik teknologi maupun dalam sistem kemasyarakatan karena tidak ada yang berpikir out of the box.
            Saya lupa sejak kapan saya menggunakan prinsip ini. Yang jelas saat saya sudah kuliah *alhamdulillah, bisa kuliah. Mungkin dulu saya terinspirasi prinsip ini dari hukum mu’amalah dalam Islam. Hukum dasarnya adalah boleh (mubah), kecuali yang dilarang. Nah. Kalau ada kata kecuali, biasanya hal-hal yang dikecualikan lebih sedikit kan? Ya, seperti juga larangan. Sedikit yang tidak boleh kita lakukan, dan jauh lebih banyak yang boleh dan bisa kita lakukan di dunia ini.
            Tapi sayangnya, lingkungan kita seringkali membatasi. Anak-anak yang punya pikiran seperti itu cenderung dianggap sebagai anak yang bandel dan tidak penurut, alih-alih anak yang kreatif dan berani menghadapi tantangan. Padahal anak seperti itu akan tumbuh lebih kreatif karena ia tidak takut mencoba hal-hal baru. Bila lingkungan mendukung untuk mereka bisa mengekplorasi banyak hal dalam rangka belajarnya, kelak mereka akan terbiasa berpikiran luas dalam memandang hidup dan menghadapi masalah kelak.
Kebanyakan orang kan takut mencoba hal baru… (*hayo yang merasa ngaku!) ? Makanya orang yang sukses lebih sedikit kan dibandingkan orang yang biasa-biasa saja?
 Bekasi, 12 Mei 2010

Tuesday, May 11, 2010

Resign Jadi Pengangguran

10:50 AM 33 Comments
           Tepat 2 pekan nih aku jadi pengangguran. Hiks. Seddddiiiihhh… Orang-orang sih tidak menyebutku demikian. Mereka menyebutku, “Sedang menunggu wisuda”. Huuh,,, apa bedanya menunggu wisuda dengan pengangguran? Wisudanya masih lama banget soalnya.
            Sebenernya tepat sehari setelah surat keterangan lulus-ku keluar, aku ditelfon seorang senior, ditawari pekerjaan di perusahaan yang belakangan kutau cukup bonafide laaah.. hari itu ditelfon jam 10 pagi, langsung wawancara hari itu juga jam 15. Bahkaaann!! Aku belum bikin CV! Apalagi surat lamaran dll.
            Jadilah aku wawancara hari itu dengan lancar, alhamdulillah. Meski meyakinkan, ada sebuah pertanyaan yang aku ga bisaaa…tapi kata seniorku itu sih, tuh bapak udah klik sama aku. Tinggal tunggu wawancara terakhir sama atasannya lagi.
            Sebenarnya sih, setelah wawancara itu saya jadi ragu… iya gak ya?? Aku ga klik nih… Ah, tapi, sejak kapan aku mentingin klik dalam kerjaan? Ah sudahlah, istikharah aja, sambil nunggu dipanggil lagi dan sambil ngelamar-lamar ke perusahaan yang emang aku incar dari dulu.
            Ternyata ada 1 temanku lagi yang di wawancara sehari setelahku. Kata seniorku, kalau oke kami akan ditempatkan di satu tim dan satu kantor. Ngobrol lah kami via telfon. Setelah lama tidak kontak, baru hari ini aku sms dia lagi, nanyain. Eh, dia malah nanya, ”Saya ga dipanggil tuh. Farah dipanggil ya?”
Ngggggak juga… hehehe. Jadi sebenernya tuh perusahaan butuh ga siiihh??? Tapi, sebenernya aku juga kurang sreg nih *kamu gimana sih far..
            Nah. Hari ini entah kenapa aku baru benar-benar merasa bosan. Dua minggu lalu aku selalu girang kalau Sabtu-Ahad datang. Itu artinya aku sibuk! Hyei! Ke SMA, acara Fadhil, ke rumah teman, sampai rumah murabbi. Hehe.. Tapi setiap kali Senin datang, fyuuuhh.. Bosan lagi.
            So, daripada bosan, akhirnya hari ini aku memutuskan untuk resign jadi pengangguran. Aku telah memilih. Memilih profesi. Profesi apa? Penulis! Hyyeeeei… Aku seorang penulis… Meski entah siapa yang akan membaca dan menikmati, yang penting aku menulis. Berusaha berkarya lagi ;D
            Hosh! Semangat Farah!!
Bekasi, 10 Mei 2010

Warming Up

10:42 AM 12 Comments
Bismillah.. sudah lama tidak menghasilkan tulisan apapun. Bukan, bukan karena sedang sibuk. Justru sebaliknya, saya sedang sangat tidak sibuk. Dan seperti biasanya terjadi, semakin saya tidak sibuk, saya bisa jadi makin tidak produktif. Hhmmm… kenapa ya?
            Ada orang yang memilih libur nge-blog karena (misalnya) sedang sibuk skripsi. Supaya fokus, katanya. Tapi menurutku skripsi itu sama sekali tidak lebih sibuk daripada kuliah-kuliah di semester sebelumnya. Kuliah ada banyak deadline, tapi tidak dengan skripsi. Kalau mau cepat selesai ya kerjakan, kalau tidak ya suka-suka ente aja mau kelar kapan. Nah, berhubung saya merasa sudah kelamaan di kampus, saya mengerjakan skripsi dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
            Sebenernya sih gak juga singkat. Totalnya, saya mengambil mata kuliah spesial bernama skripsi ini sudah 4 semester. Ih wow! Bosan? Tidak juga. Orang saya baru benar-benar mengerjakan di akhir-akhir kok. Hhe.. layaknya mahasiswa (sok) rajin, saya telah mengumpulkan proposal skripsi sejak masuk semester 7. Meskipun tidak berminat untuk lulus 3,5 tahun, saya tetap memasukkan proposal dengan alasan, “Supaya punya waktu lama untuk ngerjain skripsi”. Hihihi, kalau inget itu, aku cuma mendesis, “hm, ngomong aja lu far, selama masih bisa”, seperti yang sering dikatakan secara turun-temurun oleh ‘senior-seniorku’ di kampus.
            Nyatanya, di awal semester 8 aku tak kuasa menolak (halah) amanah di BEM UI, dan keasikan sampai semester 9 hampir berakhir. Nah, di akhir semester 9 itulah aku baru mulai mengerjakan skripsweet. Sampai tengah semester 10. Haghaghag… udah ah, kok jadi cerita tentang skripsi…
Ayo semangat teman-teman BALITAaaaa…..!!!
Jangan sampai ada yang keluar barisan yhaaa….!!
(Ttd, Polisi Balita)

*BALITA: Barisan Lima Tahun; Pusgiwa’ers pejuang skripsi ;D
Bekasi, 10 Mei 2010