Follow Us @farahzu

Saturday, June 23, 2018

(Review) Pixy Cleansing Express Brightening

11:33 AM 1 Comments
dok: pribadi


Hayooo siapa yang mengira Pixy ini produk lokal? Tadinya saya pikir iya, berhubung banyak beauty enthusiast yang memasukkan Pixy Lip Cream ke dalam kategori lip cream lokal. Ternyata, ga juga. Jadi Pixy ini brand milik Mandom Beauty di Tokyo, yang telah membuka cabang di Indonesia (PT. Mandom Indonesia Tbk.) sehingga mereka memproduksinya di sini. Tepatnya, di Bekasi. Sama lah ya kayak produk-produk Rohto seperti Hada Labo dan SkinAqua, mereka merk Jepang yang sudah diproduksi di Indonesia, oleh PT. Rohto Laboratories Indonesia.
Jadi kalau demikian, ini produk lokal atau bukan? Saya takut salah menyimpulkan ah. Hehehe...

Nah. Beberapa bulan terakhir ini saya lagi mengandalkan si Pixy Cleansing Express Brightening untuk first cleanser saya. Kalau ditotal mungkin sudah habis 5-6 botol. Alias, cocok dan suka banget.

Dia sangat efektif mengangkat sisa bedak dan kotoran dengan sangat mudah. Cukup 2-3 kapas untuk semuka kalau kamu habis full bedak/make up. Karena saya sehari-hari hanya pakai sunscreen dan bedak, atau sedikit blush on dan eyeliner kalau kerja (dan lip tint hahaha) saya hanya butuh 1-2 lembar kapas saja untuk sampai bersih maksimal.



Pixy Cleansing Express Brightening ini tidak mengandung alkohol, jadi aman buat kamu yang kulitnya kering atau sensitif terutama sama alkohol. Ga bikin kulit kering juga. Teksturnya cair kayak air, kalau dituang di kapas sih dia tidak berwarna ya. Terus dia ada wanginya karena memang tercantum fragrance di ingredients-nya. Saya pribadi sih suka, wanginya lembut dan tentunya tidak mengganggu.

Produk ini mengklaim bisa melembutkan kulit. Benarkah? Keseringan dan memang idealnya sih ini dipakai sebagai first cleanser, di mana pastinya ada second cleanser setelahnya, jadi saya ga terlalu merasakan efek melembutkannya. Tapi sebulan terakhir ini saya sering memakainya sendirian tanpa dibarengi si face wash setelahnya, dan saya rasa memang dia cukup melembabkan ketika saya ga langsung kasih hydrating toner setelahnya. Kalau melembutkan, eeemmmhh mungkin iya tapi saya ga terlalu notice karena skin carenya kan lebih dari 1, semuanya untuk melembutkan wkwkwkwkwk... demikian juga untuk efek brightening-nya.

Terakhir, soal harga. Dengan segala kebagusannya, produk ini murah sekali! Dia ada 2 kemasan, 100ml dan 150ml. Yang 100ml saya beli di Dan-Dan harganya 16ribuan, sedangkan yang 150ml harganya 20ribu. Murce yaah? Murah lah kalau dibandingin sama micellar water apalagi cleansing oil hahaha..

Kalau kekurangannya produk ini, hhmmm apa yah... saya sih merasa produk ini cepat habis. Hahaha.. ga tau makenya gimana ya.. tapi ya karena ga mahal juga ya udah, alhamdulillah, beli lagi aja.

Sebenarnya saya agak bingung dengan klasifikasi produk ini. Dia non-alkohol, tidak seperti pembersih ekspres lainnya. Tapi dia juga bukan micellar water. Jadi ini sebenarnya apah?? Hahah.. mungkin karena ga bawa nama micellar water itu yang membuat produk bagus ini kurang hype ya, secara sekarang itu lagi zamannya MW atau cleansing oil.

Ga usah ditanya tentang bakal repurchase atau engga ya, karena saat ini saya sedang menghabiskan botol ke-6 atau ke-7 gitu saya lupa.

Oke bhaaaay.. mudah-mudahan bermanfaat buat kamu yang pengen cari alternatif cleanser yang murah tapi bagus, atau buat kamu yang lagi pengen ganti cleanser karena bosan dengan cleanser sebelumnya (what??bosan??! emangnya gue?), atau buat kamu yang mulai menyadari betapa double cleansing itu perlu tapi masih malas karena takut ribet, ini bisa jadi solusi. Mudah-mudahan.

Assalamualaikum!

Disclaimer: Review ini berdasarkan pengalaman pribadi penulis, bukan endorse dari pihak manapun.

(ya kali ada yang ngendorse Far, baru juga review produk berapa kali. Hahaha)

Friday, June 22, 2018

Origin - Dan Brown (Book Review)

7:12 PM 2 Comments
Origin
Penulis: Dan Brown
Penerbit Bentang

Cetakan Ke-2, Januari 2018

dan brown

Buku ini hanya 516 halaman tapi sangat menggemparkan jiwa buat saya. Justru di bagian akhir cerita, ketika konfliknya sudah usai. Membaca buku ini membuat mata saya terbuka, bahwa kaum ateis, sebagaimana para pemeluk agama, juga berdakwah. Mereka bukan hanya tidak percaya adanya Tuhan atau menganggap agama tidak masuk akal; mereka pun berusaha menyebarkan keyakinannya, dan ingin sebanyak mungkin orang mengikuti keyakinan mereka. Kalau dalam istilah Arabnya, dakwah juga kan. Mereka pun banyak juga yang militan lho demi meyakinkan orang lain akan paham mereka.

Kisah dalam novel ini pada intinya adalah ingin mengungkap jawaban dari pertanyaan dasar manusia dari dulu hingga sekarang. Dari mana asal kita? Ke mana kita akan pergi? Mereka ya, saya mah ga mempertanyakan itu hehehe.. buat saya semuanya udah jelas.  

Ilmuwan yang diceritakan dalam novel ini, menyimpulkan bahwa kehidupan terjadi melalui hukum-hukum alam, terutama hukum fisika. Dengan penjelasan gamblang—yang saya skip membacanya karena kurang menarik buat saya, diceritakanlah bahwa hukum fisika demikian hebatnya, bahkan bisa mengakibatkan lahirnya sebuah kehidupan. Namun mereka tidak berpikir lebih jauh, “bila hukum fisika ini begitu canggih, maka siapa yang menciptakan hukum fisika itu?” (Robert Langdon)

Dalam novel ini, teknologi juga banyak dilibatkan dan disebut-sebut sebagai masa depan dunia ini. Saya sangat terkesan dengan akhir cerita di mana Profesor Langdon pada akhirnya mengalami sendiri bagaimana teknologi (dalam hal ini kecerdasan buatan/artificial inteligence) teramat sangat membantu dalam memecahkan masalah dan menjadi takjub karena keakuratannya, namun di sisi lain juga bisa sangat mengerikan, bahkan melakukan tindakan keji tanpa ragu dan rasa bersalah.  

Singkat kata, sebagaimana halnya saya yakin Robert Langdon pun sepakat, saya merasa beruntung telah diciptakan menjadi manusia; yang bisa merasakan gembira, senang, cinta, berharap, lupa, kecewa, sedih karena kegagalan, rasa ingin menyerah, dan sifat-sifat manusiawi yang lain. Perasaan-perasaan itu meskipun beberapa di antaranya negatif dan menghambat, yakinlah, menyenangkan rasanya ketika menyadari bahwa kita manusia, dengan segala kompleksitasnya

#origin #danbrown #resensi #novel 

Saturday, June 3, 2017

Pasca Laparoskopi Mioma Uteri (Part 2) Cyclo-proginova

2:08 PM 0 Comments
Hellooo... kali ini daku ingin bercerita tentang beberapa obat yang eijk konsumsi pasca operasi laparoskopi miom. Secara umum sudah dijelaskan di part 1 ya. Tapi ada yang spesial yang pengen gua bahas di sini. Nama obatnya Cyclo-proginova; obat hormon, untuk menormalkan kembali hormon-hormon yang merangsang pembentukan dinding rahim setelah dikerok ama ibu dokter.

Sebelumnya saya sudah pernah mengonsumsi obat ini selama 10 hari (dari total obat untuk 21 hari, yaitu waktu bleeding pasca minum primolut waktu umrah sebelumnya, sehari sebelum ke Sangatta, Kaltim. Alhamdulillah doi efektif menghentikan darah tersebut dan hayati bisa lanjut trip ke Sangatta 12 hari dengan sehat. Tentunya dikasih juga vitamin dan zat besi dosis tinggi, namanya iberet.

Jadi si cyclo ini minumnya harus penuh konsentrasi, u know? Jangan sampe telat, apalagi sampe salah urutannya, bisa kacaaaaww....(dan gue salah urutan). Hhhh... Obat ini harus diminum di jam yang sama setiap harinya, setelah makan. Pertama kali minum setelah dari RS kan gue jam 8 malem. Besoknya gue majuin jadi jam stgh8. Besoknya lagi, gue majuin lagi jam 7. Sampai sekarang, gue minum tu obat jam 6 sore. Ehehehe... Abisnya kemaleman kalo gue harus makan jam stgh 8, da gue biasanya ga suka makan malem.. Jadi diakalin deh. Hehe...ama diri sendiri aja licik yaaaak.. 



Kalau minum obat ini, perlu konsentrasi karena lo harus ngikutin panahnya, biar ga salah urutan. Panahnya kayak spiral gitu, dimulai dari kiri atas. Nah di hari ke-8 ketika pindah baris obatnya, mungkin gue bengong apa gimana, gue minum obat di bawah obat ke-7 yang warna merah, di mana harusnya gue minum obat di bawah nomor 1, warna putih. Dan gue baru sadar besoknya pas mau minum obat lagi T_T.

Hari ke-8 itu, siangnya, gue ke dokter untuk kontrol dan pasang IUD. Sekali lagi, IUD sementara doang ye, biar rahim eijk ga lengket. Efek pemasangan IUD ternyata sakit peruuut, mules kayak dapet, dan ya, berdarah. Ditambah gua salah minum obat. Besoknya, perut gue sakiiiiitt banget. Waktu itu siang, belom sadar kalo salah minum obat. Dua hari setelahnya, masih mules. Plus keluar darah agak banyak dan merah. Waktu itu sore habis ashar, hari kedua Ramadhan. Karena ragu, gue masih lanjutin puasa sampe maghrib. Waktu sahur, keluar darah lagi. Galaaaaaauuuu.... ini darah karena obat, karena IUD, apa karena emang haid?

Setelah telfon temen yang dokter ga diangkat (yaiyalah nelfonnya pas sahur), diskusi sama suami, doi prefer gua ga usah puasa. Trus gue ikut. Kira-kira jam setengah 6 pagi, akhirnya tanya temen yang orang kesehatan. Sebut saja namanya Tika. Gue ceritaiiiinn dari awal, sampai akhirnya, setelah dihitung-hitung, gue emang haid. Ga puasa. Dan yang kemarennya pun berarti gua batal juga. Baiklah. Hayati ikhlas bang. Eeehh qadarullah ya, setelah ikhlas, baru deh darah demi darah mengalir, ya, aku darah bulananmuuu,,, katanya.


The End. Hahaha... itu tentang si Cyclo-proginova. Saran gue, kalo dikasih dokter obat hormon, apapun, dengarkan dengan seksama. Gue hampir lupa waktu pertama diresepin sebelom operasi kalo hanya disuruh minum 10 hari aja. Alhamdulillah dapat hidayah, berupa ingatan yang samar-samar, lalu diyakinkan oleh teman sekamar di Sangatta yang merupakan dokter klinik mess. Ehehehe... 


Pasca Laparoskopi Mioma Uteri (Part 1)

11:17 AM 0 Comments
Bismillah. Saya terdorong untuk menulis ini karena mengalami banyak kebingungan di masa-masa pemulihan ini. Sebenarnya dari dulu sih. Hidup dengan sebongkah daging asing di dalam tubuh yang membawa beragam dampak, sungguh tidak mudah. Di situ saya merasa sedih, eh sori, merasa sangat terbantu dengan tulisan orang-orang yang pernah mengalami hal yang kurang lebih sama, yang menuliskannya di dalam blog mereka, alih-alih hanya komentar di forum yang susaaaaah banget nyari keywordnya. Mudah-mudahan tulisan-tulisan ini juga bisa membantu banyak orang ya. Aamiin..

Jadi guys, setelah gue menjalani Laparoskopi itu, gue jagoan bangaatt. Setelah mengigil berjam-jam pasca sadar dari bius total di ruang observasi, gue didorong keluar oleh suster sudah dengan muka biasa dan bisa tersenyum lebar menemui semua keluarga yang khawatir menunggu sejak pagi. Terutama suami yang benar-benar stand by nungguin dari pagi. Orang-orang di ruang tunggu sudah berganti-ganti, dia doang yang ga dipanggil-panggil. Tabah banget kamu, sayang. Trus muka kedua dan yang nampak paling mewek adalah si mamah, emak gue yang cantik dan solihah. Kayaknya agak jegleg gitu dia dengan kekhawatirannya yang memuncak dari siang, trus pas keluar anaknya cengengesan. Trus bibi gue, yang segera menyimpulkan, “Tapi seger tuh mukanya”, sangat membantu buat menenangkan semua orang bahwa I’m okay anyway. Alhamdulillah. Kemudian uwak paling senior meskipun sudah tua dan di kursi roda, dan sodara-sodara yang juga sudah menunggu lama dalam doa... terima kasih banyak...

Suster bilang, “Ibu kayaknya baru boleh minum 2 hari lagi nih bu, soalnya operasinya lama banget. Nanti kalo kering banget bla bla bla bla...”. Iya, okay, kan ada infus. Gue ikhlas. Fyi, standarnya orang abis operasi paling 12-24 jam kemudian baru boleh minum. Sampai ruang perawatan, sebelum pergi suster nyuruh gue untuk latihan banyak gerak biar cepat pulih. Siap. Kemudian gue shalat isya seadanya, dengan badan berasa remuk karena ga bergerak lebih dari 8 jam rasanya. Selama tidur malam itu, gue bolak-balik hadap kanan, telentang, hadap kiri, telentang lagi.

Jam 4 pagi, ada dokter dan suster datang, mau sinc apa sink atau apa gitu, mau dengerin usus gue. Entahlah, mungkin merdu. Haha.. dokter bilang, boleh minum (what?!), setengah jam lagi lapor suster, mual apa engga. Kalau engga udah boleh makan makanan halus. Maa sya Allaah.... bahagia banget dengernya... udah boleh minum ga sampe nunggu berjam-jam. Trus, gue mulai duduk. Jam 6 pagi, kateter dilepas, dan gue disuruh mandi sendiri. Owkayh. Alhamdulillah bok... bisa! Fyi, itu adalah mandi paling surga seumur-umur idup gue..rasanya kayak dibasuh air kehidupan dari khayangan, seggeeeeeerrrr banget! Kayak kembali hidup lagi gue.. Alhamdulillah ya Allaah...

Habis itu makan bubur, terus nonton kartun sambil balas-balasin whatsapp. Terus ternyata di infusan tangan kiri ada darah beku (dimana itu adalah tojosan kedua di tangan kiri karena nadi gue kecil banget, jadi yang pertama gagal). Ditojos lah juga tangan kanan gue, pake infusan buat bayi katanya yang kecil banget :D Praktis gue ga bisa maen handphone lagi T___T Ya udah konsentrasi nonton kartun aja.

Selama di RS hari Jumat itu, gue nyicil qadha shalat zuhur, ashar, dan maghrib yang kemarin gue tinggalkan karena dibius total. Sebelum ini gue sudah sangat sering meng-qadha shalat karena memiliki miom berarti cenderung mengalami banyak kebingungan tentang keluarnya darah. Sering mengira sudah haid sepanjang hari, eh ternyata istihadhah. Jadi meng-qadha shalat yang ditinggalkan. Yang semacam itu lah contohnya. Gue pun sudah lama menemukan hadits tentang qadha shalat ini, bahwa ia adalah boleh dan pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Haditsnya shahih riwayat Bukhari. Nanti kalau sempat in sya Allah postingan ini diedit ya saya tambahin haditsnya. Bukunya ada di rak buku di ruang tamu di bawah. Hehe...punten.

Hhhhmmmm selama masih di RS itu, gue disuntik beberapa obat. Setelah divonis boleh pulang sama dokter sore harinya, udah ga sabar mau lepas infus! Dikasihlah gue obat-obat minum beragam macamnya. Sebagai berikut:
-        - Ostelox; sebagai pereda nyeri. Gua segar bugar sampai obat ini habis, abis itu ngedrop. Baru kerasa sakitnya. Hihihi..
-        - Kalnex; untuk pembekuan darah, menghentikan pendarahan
-        - Cravit; antibiotik
-        - Flagyl Forte; antibiotik, terutama untuk keputihan yang pasti terjadi setelah tindakan
-        - Cyclo-proginova; obat hormon, untuk menormalkan kembali hormon-hormon yang merangsang pembentukan dinding rahim setelah dikerok ama ibu dokter kesayangan.

Yang paling unik dan harus mendapatkan perhatian penuh adalah obat terakhir, tapi kita lanjut di part 2 yaaah.. di sini udah kepanjangan. Hehe... Terima kasih sudah membaca pendahuluan yang panjang ini... :D

#My Thought

Monday, May 29, 2017

Tentang Miom

1:37 PM 0 Comments
Miom atau mioma atau fibroid, adalah tumor jinak yang tumbuh di dalam atau di otot sekitar rahim. Kalau bahasa diagnosis kedokterannya, mioma uteri (uteri=rahim). Nah, apa bedanya dengan kista (kista ovarium)? Dari orang-orang dan cerita yang saya dapat, lebih banyak wanita yang punya kista daripada miom. Tapi lebih banyak juga cerita kista yang tiba-tiba hilang atau menyusut ukurannya, atau membesar tiba-tiba. Sebabnya bisa dari makanan atau terapi herbal dan antioksidan biasanya sih. Bedanya, kalau miom itu bentuknya daging, tumbuhnya di rahim. Kalau kista, bentuknya itu kantung, yang berisi cairan. Biasanya terletak menggantung di ovarium (indung telur) kanan atau kiri.

Kebanyakan mioma bisa menghalangi bertemunya sperma dengan sel telur karena letaknya yang di dalam rahim atau di otot yang menekan dinding rahim. Kalau kista tidak menghalangi pertemuan 2 makhluk Tuhan itu, karena letaknya di luar rahim.

Efek dan gejalanya si miom ini macam-macam. Saya pernah kenalan sama orang di rumah sakit, punya miom sebesar 7cm tanpa gejala apapun. Maaaaak... gue cuman 5cm aja udah na’udzubillah deh rasanya. Bikin trauma. Nah, kalau ada gejala, berikut gejala-gejala yang umum dan yang juga saya alami selama kurang lebih 3 tahun kebelakang:
-nyeri haid berlebihan
-volume darah yang keluar saat haid luar biasa 
-durasi keluarnya darah haid sangat panjang, bisa belasan hari
-sering pendarahan di luar waktu haid (ini khas miom banget)
-sering anemia
-sering konstipasi
-sering berurin (beser)
-nyiksa banget, hehe..

Lokasi tumbuhnya miom ini bisa macam-macam. Seperti gambar di bawah ini.


MIOMA
(https://hernita80.wordpress.com/2014/12/13/mioma-uteri/)
Kista Ovarium
(http://kistaovarium.org/penyakit-kista/)


Bentuknya juga variasi, ada yang memiliki tangkai, ada yang tidak. Yang memiliki tangkai, konon kalau lagi haid dan tangkainya terputar, rasa sakitnya subhanallah jauh lebih parah dan tak tertahankan lagi. 2-3 kali lipat lah dari nyeri haid orang normal. Bagusnya, mioma yang bertangkai ini mudah diangkat pada saat operasi atau laparoskopi, tinggal dipotong tangkainya, keluarkan, selesai.

Ada juga mioma yang tidak bertangkai, seperti punya saya. Jadi ada banyak bagian dari miomnya yang nempel di otot. Itulah yang membuat operasi saya molor jadi 8 jam. Kalau diiris langsung bagian yang nempel dengan ototnya, bakal banyak pendarahan yang terjadi nantinya, karena luka di dalam otonya banyak. Dokter saya, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang banyak, rela berdiri 8 jam demi mencungkil sedikit demi sedikit si miom sehingga pendarahan yang terjadi tidak terlalu banyak. Sedikit saja. Alhamdulillah. Ah bu dokter, ai laf yuuuu!

Nah sekarang, dari mana sih tumbuhnya miom itu? Kalau pastinya belum ada yang bisa memastikan, dokter-dokter juga sama. Itulah mengapa saya maju-mundur mau operasi. Kalau ga tau sebabnya kan ga bisa menghindarinya tumbuh lagi ya kan.. Namun, hasil dari baca-baca bertahun-tahun sampai saya ga ingat lagi sumbernya, si terduga penyebab miom adalah hormon estrogen yang dihasilkan oleh ovarium.

Nah, oleh karena itu, penderita atau mantan pemilik miom perlu menghindari makanan-makanan pencetus hormon estrogen. Sekilas makanan tersebut baik untuk kebanyakan orang, namun bagi yang punya miom, sangat diduga kuat hormon estrogennya sudah lebih banyak daripada orang normal, sehingga memicu penebalan dinding rahim berlebih yang menjadi cikal bakal tumbuhnya miom. Pantangan makanan ini saya peroleh hasil dari browsing, tanya-tanya dokter Spog, dan petugas rumah sakit.
-     -  Kedelai dan turunannya: tempe, tahu, kecap
-      - Kacang hijau
-      - Ayam negri (karena sudah disuntik hormon estrogen)
-      - Kulit ayam kampung (hhh... makan ayam tanpa kulit...mending ga makan ayam T_T)
-      - Daging merah dan turunannya, termasuk kaldunya T__T
-      - Susu sapi sebaiknya dikurangi
-      - Lemak-lemak seperti lemak daging
-      - Makanan-makanan pemicu kolesterol tinggi seperti kuning telur dll, karena kolesterol adalah bahan pembuatan hormon seks.
-      - Buah durian, lengkeng

Ajiieebb yaaak... Jadi lu makannya apa Far? Yaaahh masih ada nasi, sayur, sama ikan lah. Sama doa. Hahah... disyukuri sajah.. gua ga mau miom tumbuh lagi, trauma dioperasi.


Okey, kiranya segitu dulu aja cerita gue dan sedikit info tentang miom, mudah-mudahan bermanfaat ya..

Update Juli 2018:
Gua pernah curhat sama dokter waktu lagi masa pemulihan pasca operasi, terkait pantangan makanan di atas. Kata beliau, ga usah diet seketat itu, cukup perbanyak saja asupan antioksidannya, seperti buah dan sayur. ALHAMDULILLAAH. 




#pantanganmakanmiom #penyebabmiom #miom #miomauteri #tumorrahim
#My Thought




Sunday, May 28, 2017

Laparoskopi Mioma / Fibroid

4:19 PM 9 Comments
Alhamdulillah, Kamis 18 Mei 2017 saya menjalani operasi laparoskopi untuk mengangkat miom di rahim. Operasi yang rencananya Cuma berlangsung 3 jam, molor jadi 8 jam. Ma sya Allah, kesian dokternya pegel.

Jadi ceritanya miom saya itu lokasinya bukan di dalam rahim, melainkan di dalam otot atas rahim agak kekiri, yang menekan saluran tuba falopi. Bentuknya tidak bertangkai, melainkan melekat cantik di otot tersebut sehingga ga bisa langsung dipotong, harus disayat kecil-kecil baru dikeluarin. Itulah yang bikin prosesnya lamaaaaa  banget. Jam 10-18. Jam 9 malam lewat saya baru keluar ruang operasi menuju kamar perawatan. Itu emak dan uwak gue udah pada mewek aja nungguin operasi ga kelar-kelar dari pagi. Alhamdulillah, wa syukurilah.

Sebenernya sih si miom udah lama ada di rahim saya, kira-kira 2-3 tahun belakangan ini. Kenapa saya ga mau operasi tadinya? Ada beberapa alasan: 1. Beberapa dokter ga tau pasti apa penyebabnya, which is saya juga ga tau apa yang perlu dihindari supaya si miom ga tumbuh lagi. Yes, doi bisa tumbuh lagi meskipun sudah operasi. Ngeri ya?

2. Setiap kontrol, ukurannya doi tetap ga nambah-nambah selama beberapa tahun itu. Barulah setelah saya minum primolut waktu umroh, habis itu pas pulang pendarahan ga berenti-berenti sampe 20 harian. Pas cek ke dokter lagi di mana jarak dari kontrol terakhir hanya 6 bulan, ukuran si miom udah naik dari 4 jadi 5cm. Itu mau ga mau ke dokter karena besoknya mau ke Kalimantan pedalaman yang jauuuuuuuuuhh banget dari bandara. Sebut saja Sangatta, 8 jam naik mobil dari Balikpapan.

3. Saya udah ga tahan sama sakit yang diderita setiap hari-hari haid saya setiap bulan. Sambil nyobain semua herbal yang semua orang bilangin. Herbal, bekam, rukyah mandiri, qadarullah, tetap harus operasi. Ternyata lokasinya emang di dalem otot, jadi wajar kalo ga bisa luruh. 

Nah, sepulang dari Sangatta, saya membulatkan tekad untuk maju operasi. Ke Dokter lagi, bilang mau laparoskopi aja dok. Trus ke bagian pendaftaran, untuk didaftarkan dan dikasih tau biaya dan prosedurnya. Si petugasnya ibu-ibu muda, ketawa ngeliat muka saya tegang banget. Yaiyalah mau operasi! Sedangkan di opname aja gua belom pernah. Alhamdulillah. Akhirnya malah sambil ngobrol dan ternyata dia pernah punya miom dan kanker juga. Malah dapat banyak info dari dia apa saja makanan yang harus dihindari supaya miomnya ga tumbuh lagi, atau kankernya ga nambah ukurannya.

Qadarullah, setelah dagdigdug menjelang jadwal operasi, saya haid. Jadi diundur. 2 minggu. Hahaha.. 2 minggu kemudian, terbaringlah saya di meja operasi RS Hermina Bekasi. Sebelumnya, saya rutin olahraga tiap hari. Biar badan fit dan pemulihannya cepat, jadi ga lama-lama di RS. Mahal kan.. biaya sendiri pula T__T

Tentang apa dan bagaimana laparoskopi itu, googling aja ya. Hehe maap. Dia adalah tindakan medis yang minim luka dengan pemulihan yang cepat. in sya Allah. Enak banget... Kekurangannya apa dong? Lebih mahal pastinya. Haha.. per tahun 2017 di Hermina bayar alatnya doang aja 11 juta. Belum termasuk kamar (sesuai kelas yang dipilih), obat-obatan, visit dokter, paramedis, entahlah.

Selain mahal, persiapannya juga agak lebih rempong kata dokternya. Puasa bubur polos selama 2 hari, pencahar supositoria (via dubur) baik yang beli di apotik maupun disemprot lagi sama suster 5 ampul sebelum operasi. Trus puasa ga makan apapun 6 jam sebelum operasi, dan ga minum apapun 3-4 jam sebelumnya. Lalu minum obat buat buka jalan lahir kalo lo belom pernah melahirkan kayak gue. Itu muleeeesss sampe gue minum ibuprofen lagi buat nyerinya. Hihihi... Ribet ga sih? Ga tau gue, belom pernah ngalamin operasi yang lain. Na’udzubillah, jangan sampe.

Masuk ruang operasi jam setengah 10 pagi, ini itu, kira-kira jam 10 baru masuk ruang operasi. Operasi selesai kira-kira jam 6 sore. Alhamdulillah, malem jam 9 lewat gue keluar ruang operasi, paginya kateter dilepas dan gue disuruh mandi sendiri. Ma sya Allah, rasanya kayak baru hidup lagi gue. Seger banget. Trus berhubung infus juga, gw jadi beser. Qadarullah, si tampon yang menahan darah akhirnya lepas sendiri, dan kata dokter gapapa ga usah pasang lagi. Hamdalah....ganggu banget soalnya di saat beser. 

Siangnya ibu dokter visit, katanya udah boleh pulang! Yeay! Disuruh banyak gerak aja.
So far so good, sampai beberapa hari kemudian, habislah Ostelox si obat pereda nyeri. Cenat cenuuutt rasanya. Sama mual terus. Kata bu dokter wajar karena laparoskopi kan dimasukin gas biar perutnya gembung dan alat bisa masuk.

Seminggu kemudian, gue dipasangain IUD (alat kontrasepsi spiral) supaya rahimnya ga lengket. Kira-kira selama 3 bulan ke depan. Sambil minum pil kb buat normalin hormon-hormon gue. Abis dikerok rahimnya mak. Selama penyembuhan, gue disuruh makan banyak protein (ini bikin kolesterol gue mau ga mau ikut naik kayaknya). Nanti kalo udah sembuh, STOP. Biar ga tumbuh lagi miomnya. Aaamiinn...


Well, apa lagi ya? Udah panjang kayaknya. Udahan aja lah. Mudah-mudahan doa gue dan semua orang yang mendoakan dikabulkan Allah, diberi kesembuhan segera, diberi momongan segera. Aaamiinn... 

Note:
Gue selama kontrol dan tindakan, sama dokter Rizki Isnaeni, SPOg di RS Hermina Bekasi. 


#My Thought

Thursday, January 19, 2017

jangan mau jadi korban; jadilah pengendali dan penentu

10:12 AM 0 Comments
Ada seorang dekat, dia bercerita. Bahwa setelah mendengar seminar dari seorang psikolog, ia jadi menyadari mengapa dirinya seperti saat ini; tidak sabaran dan mudah marah. Bahwa semua kejadian masa kecilnya mendukungnya untuk merasa tertekan dan selalu menjadi korban. Hal ini sebagaimana seorang paedofil juga kebanyakan adalah orang yang menjadi korban kekerasan seksual di masa lalunya. Ini bisa jadi benar, bisa jadi juga tidak benar. Yang menganggapnya benar, mungkin menganut sebuah aliran dalam psikologi yang disebut psikoanalisis.

Saya dalam hal ini menganut aliran lain bernama humanistik. Di mana manusia sebenarnya punya kendali untuk memutuskan akan melakukan apa, dan akan menjadikan dirinya seperti apa. Dalam kasus di atas, sangat mungkin dia mengalami hal penuh intimidasi seperti demikian, namun orang bisa memilih; apakah dia akan membiarkan dirinya terbentuk begitu atau memilih sifat lain yang lebih proper. Benar dia memiliki kecenderungan / bakat untuk menjadi orang yang kasar, tapi kalau dia melatih mengendalikan dirinya, dia bisa menjadi lebih sabar dan lemah lembut. Tidak mudah memang, karena yang mudah ya mengikuti saja bagaimana ia terbentuk dari pengalaman masa lalunya. Bukan malah mengendalikan diri agar bisa berperilaku lebih baik dan mendapat ketenangan dan kebahagiaan hidup meskipun masa lalunya pahit.  

Ya benar, bahwa para pelaku kejahatan seksual kebanyakan merupakan korban kejahatan serupa ketika mereka masih kecil. Tapi tidak bisa dikatakan bahwa semua orang yang mengalami kejahatan seksual di masa kecil akan menjadi paedofil ketika ia dewasa kan? Saya mengenal orang-orang yang menjadi korban ketika kecil, dan sekarang tetap menjadi orang baik –meskipun beberapa tidak ingin menikah karena trauma itu belum hilang. Tapi mereka memilih jadi orang baik. Mereka mengatasi rasa sakit, kecewa, marah, dan malu dengan semakin mendekatkan diri mereka dengan Tuhan dan agama. Dia tau Nabi perilakunya seperti apa, lalu berusaha mengikutinya. Dia berdoa agar diberikan kelembutan hati dan keikhlasan, dan sebagainya.

Demikian juga dengan sifat ga sabaran dan mudah marah. Mau terima jadi korban dengan membiarkan seperti itu, atau menolak jadi korban dan memutuskan memulai hidup baru dengan sifat baru dan kebahagiaan yang baru. Iya, saya tau itu susah, tapi yakinlah Allah ga pernah tidur. Dia mencatat semua usahamu. Kelak Dia akan membalasnya dengan kebaikan yang banyak. In sya Allah.

Baca Juga: Tenang Itu Nikmaaaattt (Belajar Tenang)


Saturday, January 7, 2017

Review Acnes Products untuk Kulit Berjerawat

6:16 AM 0 Comments
Bismillaah, mau nepatin janji kemarin nulis tentang skin care. Hehe..

Baiklah. Petualangan pertama saya sampai di Himalaya Herbals. Katanya sih paraben-free, tapi nyatanya ga semua produknya bebas paraben. Okey. Saya mulai dengan Himalaya Herbals Neem Face Wash & Neem Mask yang untuk jerawat. Hasilnya... yaaaa masih biasa aja 😁 belum yang ngefek banget selama sebulan pemakaian. Tapi masker neem-nya bikin kulit alus bangeeett...sukak!

Terus saya kepikiran untuk coba kangen water; beauty water dan strong acidnya. Pesan sama teman, trus langsung dipake pas sore sampai rumah. Malam mau tidur, disemprot lagi. Pas bangun seneng deh, kulit jadi cerahaaaannn... alhamdulillah cocok.. Kok bisa ya padahal baru 2x semprot gitu 😍 Jadi fix ini treatment semprot ini kudu dilanjutkan!

Terus lagi, waktu lagi "main-main" di toko kosmetik deket rumah, saya iseng bacain ingredients produk-produk face wash di sana, hingga sampailah pada Acnes Face Wash yang pink (Complete White) eh kok sendirian ga ada parabennya. Varian Acnes lainnya masih ada tapi si stiker pink ini ga ada. Dia tuh untuk mencerahkan bekas jerawat. Dan aku beli. Hehehe...


Pas dicoba rutin seminggu, pas lagi di Melak, iiiihhh baguuuss... Ga bikin kulit kering tapi tetep berasa bersih gitu. Trus bekas jerawat juga lumayan memudar loh. Alhamdulillah.

dok: pribadi


Jadilah saya terinspirasi untuk melanjutkan treatmen dengan Acnes. Di Hypermart ada lengkap! Jadi agak kalap gimana dong... Saya beli Acnes Spot Care untuk bekas jerawat, Acnes UV Tint SPF 35 untuk dipakai sebelum foundation dan kalau mau keluar rumah (dari dulu takut matahari anaknya), Acnes Tea Tree Clay Mask, sama Milk Cleanser dan tonernya. Ini yah, tonernya pH balance katanya sih, sama alcohol free. Tapi milk cleansernya mengandung alkohol. Rasanya pengen ketawaaaa 😂😂😂 Ya udahlah.

Udah seminggu lebih ini saya pake treatment Acnes dan semprot Beauty water, hasilnya keceh pemirsa. Jerawat berkurang, bekas jerawat mulai pudar, dan kulit cerah *hepiiiii! Next kayaknya bakal beli lagi kalau habis 😉

Udah ya.. da udah banyak yang review produk skin care mah, jadi saya ga usah lagi. Cukup hasilnya aja di saya bahwa yang ini memuaskan dan yang itu biasa aja. Dan ternyata saya belum tergoda kok beralih jadi beauty blogger. Beluuuumm belum tergodaaa 😊


#Product Review

Friday, January 6, 2017

Cleansing Oil untuk Kulit Berminyak dan Acne Prone

7:03 AM 0 Comments

Ehm. ciiiyeeeee sejak kapan ngomongin produk kecantikan di blog buuuk? Hihihihi... tergoda jadi beauty blogger nih ceritanya.. 😀

Iyes...jadi gini..sedari kecil saya sudah diajari merawat kulit oleh ibu saya. Bayangin aja.. SD kelas 4 udah punya kapas, milk cleanser, &toner sendiri! Keren kan tuan putri satu ini..? haha.. Tapi no make up yah. Baru lah ketika kerja di Kubik di akhir 2014 lalu, di usia 27 tahun, saya harus pake make up dan mulai terbiasa dengan barang-barang itu. Berimbas pada sukanya saya baca-baca artikel tentang make up. Dulu cuma skin care ya, no make up. Tapi ya memang pada dasarnya saya suka sih sama aktivitas per-skin care-an itu..apalagi belanjanya..hahaha...

Suatu hari waktu lagi buka FB, setelah cukup lama anteng ga beli-beli produk skin care setelah punya Galvanic Spa Nuskin, saya baca link artikel tentang cleansing oil. Wah apa tuh? Baru denger... baca-baca-baca, saya tertarik lah dan mulai mencari produk CO yang bakal saya coba. Saya naksir sama Hada Labo Cleansing Oil, tapi mak susahnyaaaa dapetin itu produk. Akhirnya baca-baca lagi, trus pilihan saya jatuh pada minyak kelapa murni. Yes, VCO.

Beneran loh...ajib banget bersihin muka pake vco. Semua kotoran dan sisa make up terangkat bersih tanpa bikin kulit kering (yaiyalah, minyak sist). Tapi ternyata cukup 3 hari aja saya puasnya.. soalnya.. habis itu pipi saya jadi ditumbuhi banyak jerawat.. iihh...kuciwa! Langsung stop.

Habis itu dimulailah petualangan saya selanjutnya untuk membasmi jerawat efek co itu. Pelik ya buk..harusnya tinggal pake galva aja.. tapi ya gimana saya lagi menikmati nih perburuan skin care baru. xixixixixi.. Padahal dulu beli galva sebagai One Stop Skin Solution tapi ternyata bosan juga *plak*.

Okei, karena postingan ini udah cukup panjang, cerita dan review produk-produknya di post selanjutnya aja yah. Doain biar saya komit untuk nulis lanjutannya 😊 maaci...

Baca Juga: Manfaat; Nilai Di Balik Kemakmuran

Monday, October 24, 2016

Belajar Berkata "Iya" (no more ngeyel)

7:30 PM 0 Comments
Naaah.. Hal kedua yang sedang saya latihkan dengan sangat keras (lebay) adalah, belajar berkata "iya".
Beberapa tahun lalu saya pernah menulis di blog tentang belajar berkata "tidak". Isinya ya tentang asertif, tegas menolak apa yang tidak baik, dan menentukan jalan atas kehendak sendiri, bukan hanya mengikuti orang lain. Tapi ternyata saya juga perlu belajar berkata "iya". Menyetujui apa yang orang lain katakan.
Saya ingat, beberapa orang dekat bilang saya itu ngeyel. Tapi saya merasa baik-baik saja dengan itu karena saya punya alasan atas apa yang saya lakukan; yang mungkin orang perlu tau.
Sampai pada suatu saat, ketika seharusnya saran saya diperlukan, orang ybs juga ngeyel, menjawab semua yang saya katakan. Tapi kan, tapi kan...
Hahah, mamam lu far! Orang ngeyel dingeyelin. Dan saya merasa sangat kesal. Sampai akhirnya, "terserah lu dah". Saya akhirnya memutuskan untuk tidak peduli. Ya buat apa, toh kepedulian saya ga akan diterima.
Lepas itu saya berpikir...berpikir...berpikir. Mungkin itu yang dirasakan orang ketika saya ngeyel. Ya ampun, baru nyadar betapa saya bisa begitu menjengkelkan orang yang berniat baik pada saya. Pada orang yang peduli akan saya.
Saya bertekad ga akan ngeyel lagi!
Tapi ternyata susah! Haha. Tapi ya saya sudah memutuskan saya akan BELAJAR. Saya akan menghargai orang lain dengan menerima APAPUN saran dan pendapatnya. Bahkan mungkin pujian dan omelannya untuk saya.
Percaya ga, ternyata ga ngeyel itu bikin kita hemat energi lho. Bikin hati lapang. Bisa jadi itu pantulan dari kebahagiaan hati orang yang menasihati karena nasihatnya diterima. Atau pujiannya diterima tanpa jawaban sok rendah hati yang padahal sih kedengarannya tetap saja, ditolak. Atau, karena kita tidak harus menjelaskan apa yang belum tentu orang lain perlu untuk tau. Betapa banyak orang yang hanya perlu didengarkan, ya ga?
Yuk, belajar lebih menghargai 😊

Buat yang udah ngasih banyak pelajaran buatku, makasiiihh banyak. Luv u 😙!
@mghozali_01 @seruni_violet @muliasm @dewiashuro @wiwiiiq @little.uwais @nurhasanah1001 @fitri4730 @diditprihadhitya
#kalibiru #jogja #indonesia #explorejogja #exploreindonesia #beautifulindonesia #ngeyel #respect



Tenang Itu Nikmaaaaattt (Belajar Tenang)

7:13 PM 0 Comments


Sekira 6 bulan terakhir ini saya lagi banyak mendapatkan insight dan belajar sikap baru. Ada 2 yang terpenting yang mau saya share. Yang pertama tentang ketenangan. Betapa tenang itu bisa sangat membantu dan kehilangannya bisa sangat merepotkan.

Fyi saya orangnya panikan. Saya begitu terobsesi dengan 'waktu'. Saya takut sekali terlambat. Saya takut sekali membuat orang menunggu. Karena saya juga tidak suka menunggu. Hehe.. Nah, obsesi itu yang seringkali membuat saya panik, melakukan tergesa-gesa, apapun dulu aja deh yang ada, daripada orang lain harus menunggu. Atau, daripada telat. Dan sebagainya. Ternyata, berlaku seperti itu sangat tidak bijak.

Saya belajar mengambil kontrol sepenuhnya atas pikiran saya. TENANG farah, TENANG. Saya menarik napas dalam begitu bertemu sebuah stimulus. Entah bagaimana, saya berangsur tenang, lalu memperhatikan hal-hal detail, dan melakukan hal-hal yang perlu. Alhamdulillah beres juga kok. Bahkan lebih bener hasilnya dibanding ketika takut membuat orang menunggu.

Yang paling menyenangkan dari buah sikap tenang bagi saya adalah, saya bisa melakukan hal penting yang menjadi sumber daya bagi orang-orang sekitar; yang luput melakukan itu karena masih panik 😊

Pict: #kalibiru , #kulonprogo , DIY.

Baca Juga: My Edelweiss

Cc: @seruni_violet @muliasm @mghozali_01 @wiwiiiq
#jogja #explorejogja #beautifulindonesia #instanusantara #indonesia


Friday, December 4, 2015

Resto Halal vs Masakan Rumah; Beda Sikon Ya!

5:21 PM 0 Comments

Alhamdulillah akhir-akhir ini kepedulian umat Muslim terhadap kehalalan makanan meningkat, meskipun belum semuanya peduli. Makanan halal itu urgent! Bukan penting lagi. Dan thayyib (baik, sehat) tentu saja.

Tapi sejujurnya saya agak terganggu sih dengan orang-orang yang menurut saya berlebihan dalam menyikapinya. Misal ada isu restoran tertentu mengandung bahan yang haram. Setelah diinvestigasi, lembaga ulama yang berwenang memutuskan hal itu tidak terbukti. Dan menegaskan kembali status kehalalannya. Tapi orang-orang tertentu bersikap, mending ga usah lah, ragu. Iya, menurut saya itu berlebihan. Kan sudah ada lembaga berwenang yang menyatakan kehalalannya. Ditegaskan kembali pula. Kalau menurut saya tanggung jawab kita ya sebatas memastikan ada fatwa halal. Soal apakah ada sesuatu di baliknya, itu bukan tanggung jawab kita. Bukan beban kita lagi. Nah itulah beratnya tanggung jawab lembaga tersebut. Bukan tanggung jawab kita.

Mungkin ada yang ingat cerita sahabat Nabi saw., Umar bin Khattab. Suatu ketika ada orang yang lewat di dekatnya, terkena air tampias dari genting sebuah rumah yang ada orang di atas genting tersebut. Orang itu bertanya, air apa ini yang mengenaiku? Sebelum dijawab, Umar berkata, “Hai pemilik rumah, tidak perlu kau beritahukan kepadanya”. Hal ini menandakan, si orang yang terkena air tersebut juga tidak perlu mencari tau asal air itu. Kecuali mencium baunya, melihat warnanya, meyakinkannya bukan najis, sepanjang itu saja. Maaf ya saya ga cantumin sumbernya, lupa.

Yaaa saya sih menghormati aja sikap orang yang pada akhirnya tetap menjaga dirinya dari hal yang menurut dia syubhat. Kalau belum ada fatwa ulama juga saya ga akan berani kok. Kalau sudah ada fatwa, ya berarti bukan syubhat dong. Tapi sekali lagi terserah, pilihan masing-masing. Asal jangan sampai terjerumus pada mengharamkan yang halal. Itu pilihan kok.

Lalu ada lagi orang-orang yang menyelesaikan isu tersebut (seolah-olah solusi) dengan ‘masakan rumah aja, lebih aman, pasti halalnya’. Kalau menurut saya itu ga nyambung. Berapa banyak sih orang makan di resto setiap waktu makan? Atau hanya kepengen jajan aja? Saya setuju sih masakan rumah memang aman, pasti halal, sehat. Tapi bagi saya dan orang-orang lain yang sering meninggalkan rumah karena hal penting atau pekerjaan, bahkan sampai berhari-hari, apakah mungkin masih bisa makan makanan rumah? Kalau sedang perjalanan, kan kita pasti cari tempat makan pada waktu makan tiba. Ga selalu bisa masak sendiri kan?

Udah. Mau menginfokan situasi dan kondisi lain aja bahwa masakan rumah ga selalu bisa menggantikan masakan restoran. Jadi  jangan buat kami (saya khususnya) merasa rendah diri karena sering makan di luar, sehingga seolah-olah menggampangkan urusan halal-haram. Tidak sama sekali. In sya Allah semoga istiqomah menjaga kehalalan apapun yang masuk ke perut saya dan keluarga.



Sanggup sejauh apa kau melangkah?

4:40 PM 2 Comments

Hasil gambar untuk pelari
sumber: ini
Sanggup sejauh apa kau melangkah? Jawabannya tergantung. Tergantung seberapa tinggi target atau cita-citamu. Orang bilang, gantungkan cita-citamu setinggi langit! Tentu saja biar kita semangat. Tapi banyak juga orang yang bilang, punya keinginan jangan tinggi-tinggi, kalau jatuh sakit. Yang pertama optimis. Yang kedua menyebut dirinya, realistis. Kamu yang mana?

Waktu baru masuk Kalla Group dulu, bos saya bertanya, “Mana yang Kamu pilih, target tinggi tidak tercapai, atau target rendah tercapai?” Saya memilih yang kedua, dengan catatan akan ada target-target lagi setelahnya. Karena tercapainya target pasti membuat kita senang dan termotivasi. Dan sekarang, setelah saya paham, setelah saya melihat simulasinya, dan setelah saya menyaksikan sendiri realitanya di kehidupan, saya tau, saya salah waktu itu.

Tetapkan tujuan dan target setinggi-tingginya. Ini akan menjadi energi besar yang mendorong usaha kita dalam mewujudkannya. Kita akan terdorong memanfaatkan semua sumber daya yang kita punya; tenaga, waktu, kesehatan, kecerdasan, finansial, jaringan, fasilitas, dan banyak lagi; atau mencari sumber-sumber dukungan lain yang kita butuhkan untuk mencapai tujuan itu. Sesusah apapun. Semustahil apapun kelihatannya. Kalaupun gagal mencapai bintang-bintang, paling nyangkutnya di lapisan atmosfir atau di awan-awan yang tinggi.

Bandingkan dengan target yang biasa-biasa saja. Karena tujuannya hanya segitu, ya pasti usahanya segitu-gitu saja. Tidak akan sama besaran usaha yang dikeluarkannya dengan usaha orang yang targetnya lebih tinggi. Kata siapa target rendah yang tercapai bikin kita termotivasi? (saya, tapi dulu)

Pada akhirnya, di waktu yang sama, di garis finish yang sama, kita akan lihat pencapaian keduanya. Kualitas diri keduanya. Meskipun target yang tinggi tidak selalu tercapai, tentu capaian yang telah diraih jauh lebih tinggi daripada si target rendah. Karena, usaha yang dikeluarkan juga sudah jauh melampaui si target rendah. Lebih jauh lagi, melampaui yang ga punya target. Ga percaya? Coba aja.


Yuk, bikin target-target terbaik dalam hidup kita! Hidup hanya sekali Saudara, sayang kalau ga maksimal.


inspired by:
Pak Syamril - KG Div. Head
KubikTraining
Business Performance Improvement



Tuesday, November 24, 2015

Giving Feedback with Respect

12:59 PM 0 Comments
Feedback atau umpan balik adalah hal biasa yang kita beri dan terima dari orang lain, seperti rekan kerja, atasan, teman (di dunia nyata maupun jejaring sosial),  pasangan, atau orang tua. Feedback yang saya maksud di sini bisa berisi masukan, kritik, apresiasi, atau sekedar meluruskan informasi. Saya tidak akan membahas tentang apa itu feedback dan bagaimana cara yang tepat dalam memberi dan menerima feedback. Kalau mau tau, ikut aja training Kubik. Hehehe..

Sebagian orang merasa berat menerima feedback, merasa dihakimi, merasa tidak mampu, atau bahkan sakit hati. Atau setidaknya, berusaha menerima feedback yang diberikan meskipun menahan gejolak amarah di dalam dada (maaf mungkin lebay, tapi mungkin juga benar).

Sebagian orang lagi, sangat terbuka menerima feedback. Tidak ada rasa terganggu atau sakit hati, fokus pada konten feedback yang diberikan.

Hati dan perasaan orang beda-beda, Pemirsa. Kita ga bisa nuntut orang mengerti dan menerima feedback kita. Tapi di sisi lain, feedback penting karena kita peduli terhadapnya. Nah, di sinilah pentingnya respek. Kita menghargai orang lain, menghargai kemampuannya, menghargai perasaannya.

Memberikan feedback dengan respek adalah mem-feedback dengan cara si penerima ingin diperlakukan. Kita mendorong orang bertumbuh dengan feedback dari kita tanpa melukai perasaan dan harga dirinya. Apa gunanya kita memberikan masukan untuk kebaikannya, tapi yang dia ingat hanya sakit hatinya, kalau kita tidak menyampaikannya dengan respek? Ada sih gunanya: nambah musuh.

Kita ga bisa nuntut orang utk "kuat" dan lapang dada menerima feedback kita, lantas semua berjalan seperti biasa, tanpa ada hati yg terluka. Lantas kita bilang, jangan dimasukin hati, jangan cengeng, dewasa aja. That's a big no!

Jangan pernah main-main dengan perasaan orang, meskipun itu sahabat atau orang dekat kita. Apalagi feedback yang kita berikan pada mulanya berawal dari niat baik kepedulian pada orang lain. Agar mereka lebih baik. Iya kan? Itu kan niatnya?

Beda soal kalau dari awal memang niatnya menjatuhkan atau mempermalukan. Itu sih..ah sudahlah. Kita semua sudah tau maksudnya.

Baca Juga: Pride and Prejudice - Jane Austen - Review

Monday, October 26, 2015

Tips Mengatasi Nyeri Haid

9:24 AM 0 Comments
Nyeri saat haid tentunya bukan hal aneh bagi kaum hawa. Ada yang sesekali merasakan, ada pula yang rutin mengalaminya. Saya sih menyarankan agar para perempuan mengecek kesehatan reproduksinya dengan yang ahli (dokter), karena meskipun wajar, nyeri haid adakalanya juga bisa mengindikasikan penyakit tertentu. Tulisan ini juga hanya membantu mengatasi gejala, bukan menyembuhkan penyakitnya.
Saya memang bukan seorang yang ahli di bidang ini, tapi saya cukup berpengalaman. Hehehe.. Beberapa cara di bawah juga akan menyebut beberapa merek, silahkan diikuti atau diabaikan saja, terserah.
Ini dia beberapa cara mengatasi nyeri haid:
1. Hindari makanan dan minuman yang mengandung susu, teh, dan kopi
2. Hindari juga makanan dan minuman dingin
3. Minum jamu kunyit. Bisa bikin sendiri, beli di mbak jamu, atau di minimarket merk kiranti atau yang lain. Ini aman dan tanpa pengawet (saya cek yang kiranti)
4. Kalau belum reda juga, minum Kopi Radix Sinergi by HPAI. Meskipun namanya kopi, ini kopi herbal dan satu-satunya yang aman dan bahkan sangat membantu meredakan nyeri haid. Ps: hati-hati banyak yang palsu. Yang asli hanya kemasan plastik, isinya 20sachet seharga Rp150ribu atau Rp120ribu harga member.
5. Kompres perut dengan air hangat cenderung panas. Cara mudah bisa dengan mengisi air hangat ke gelas tupperware lalu tutup, letakkan dan tekan di bagian perut yang sakit.
6. Kalau mau lebih praktis karena mungkin malas atau sedang di perjalanan, bisa tempel koyo (praktis banget!)
7. Cara paling mudah, hehe, sengaja taruh di akhir, adalah minum air hangat, setiap muncul rasa nyeri.
8. Kalau masih nyeri juga, minum obat anti nyeri, dokter saya menyarankan Mefinal. Minum setelah makan. Fyi, obat ini reaksinya lambat, ga langsung hilang melainkan perlu waktu lumayan. Sabar yah..
Demikian, semoga bermanfaat ya. Dan jangan lupa: periksa ke dokter untuk mengetahui apakah nyeri haid yang Anda alami adalah normal atau merupakan indikasi suatu penyakit.


Update 2018: 
Kopi Radix sekarang sudah bukan produknya HPAI lagi ya.. Kalau ga salah nama produknya sekarang Kopi Radix Pak Haji
HPAI sekarang produk kopi herbal sendiri, yang bisa membantu salah satunya untuk mengatasi nyeri haid, di antaranya ada Kopi 7 Elemen dan HPAI Coffee
Selain itu kopi-kopi herbal lain seperti Kopi RDX yang kemasannya kotak merah, juga bisa diminum untuk mengurangi nyeri haid in sya Allah. yang terakhir ini paling murah, harga bisa setengahnya. Tapi yang saya rasakan sih sama membantunya dengan kopi herbal yang lain. 


Tuesday, September 29, 2015

Dendeng Balado Basah (Recipe)

9:10 AM 0 Comments

Mungkin karena foto merah cabai yang berminyak itu membangkitkan selera siapapun, qadarullah postingan saya di facebook beranak komentar nagih resep. With my pleasure sista, tapi maaf nih, saya tidak menyertakan jumlah bahan dan bumbu yang digunakan. Tanpa diukur soalnya. So, kira-kira aja lah ya.. emak-emak biasanya jago nih soal ini. Hehehe.. Oh ya sebelum menyesal (??) saya informasikan bahwa proses untuk memasak dendeng balado ini cukup boros gas yaaa...

Dendeng Balado (basah)

Bahan:
Daging sapi tanpa lemak
Air untuk merebus daging
Minyak untuk menggoreng

Bumbu:
Cabai merah keriting (sebanyak selera pedas anda)
Cabai merah besar (4-5 buah, untuk rasa sedap saja bukan untuk pedas)
Bawang merah
Garam
2 iris jeruk nipis

Cara memasak:
1. Rebus daging dengan air yang kira-kira kalau hampir sat, dagingnya sudah empuk. Sampai hampir sat dan menyisakan sedikit kaldu.
Sambil menunggu, siapkan bumbu.
2. Rebus cabai merah keriting, cabai merah besar, dan bawang merah sampai matang. Kalau kurang matang, kelak dendengnya tak tahan basi.
3. Setelah direbus, haluskan cabai merah keriting dengan garam, sampai halus.
4. Setelah halus, campurkan dengan cabai merah besar dan bawang merah, asal dihancurkan saja jangan sampai halus.
5. Menunggu (seringkali sangat membosankan *ebiet mode: ON)
6. Bila daging sudah empuk dan kaldunya hampir sat sisa sedikit, angkat dan potong daging tipis-tipis dan lebar.
7. Tambahkan garam secukupnya pada kaldu yang tinggal sedikit tersebut.
8. Tumbuk-tumbuk (pakai cobek) daging yang sudah diiris tipis dan lebar sampai pipih (tapi pelan-pelan jangan sampai hancur), lalu masukkan pada kaldu yang sudah diberi garam. Aduk-aduk.
9. Tumis bumbu yang sudah disiapkan tadi, PLUS masukkan sisa kaldu bergaram tersebut dalam tumisan bumbu. Hhhhmmmmmm ini yang paling bikin maknyusss...
Ah ya supaya agak seger, kasih perasan jeruk nipis. 
      10.   Setelah matang, secara terpisah goreng daging yang sudah dipipihkan dalam minyak panas dan api sedang, sampai kering. Tiriskan.
      11.   Campurkan daging yang sudah digoreng kering dengan bumbu yang sudah matang. Tidak perlu pakai api lagi.
      12.   Selesai!

This is it!




Mudah kan? Iya mudah. Boros gas kan? Iya boros banget untuk nunggu kaldunya hampir sat. Tapi in sya Allah akan terbayar dengan wajah-wajah penuh kepuasan anggota keluarga yang menyantapnya. Hehehehe... selamat mencobaaaa...

Monday, September 28, 2015

Cut Nyak Dien; Sebuah Novel Epik Perang Aceh

3:58 PM 0 Comments
Judul                  : Cut Nyak Dien; Sebuah Novel Epik Perang Aceh
Penulis               : Sayf Muhammad Isa
Penerbit Qanita
Cetakan I, April 2015
Jumlah halaman : 789 halaman


perang aceh


Saya suka sekali membaca sejarah berbingkai cerita seperti buku ini. Bahwa belajar sejarah bukanlah menghafal nama-nama dan tanggal-tanggal. Belajar sejarah adalah mengambil spirit perjuangan di masa lalu untuk dikobarkan kembali di masa kini. Dengan bentuk yang berbeda, silahkan. Tapi bisa juga sama. Karena Jas Merah kata Bung Karno. Jangan sekali-sekali melupakan sejarah, karena sejarah selalu berulang. Lihat saja.

Jujur awalnya saya berharap novel ini mengisahkan perjuangan pahlawan kita Cut Nyak Dien sebagai tokoh utama. Yang konon perlawanannya tidak sesimpel dan sesederhana seperti digambarkan buku-buku sejarah di sekolah. Tapi ternyata cerita tentang beliau hanya pelengkap di buku ini, sedikit-sedikit. Tapi buku ini tetap recommended buat dibaca. Banget.

Latar utama cerita ini adalah Perang Sabil di Aceh, yang dimaksudkan sebagai perang fi sabilillah (berjuang di jalan Allah) untuk mengusir kaum kaphe Belanda yang hendak menjajah dan menghancurkan negeri Islam, yakni Kesultanan Aceh. Digambarkan betapa Khilafah Islamiyah di Turki saat itu telah digerogoti oleh Barat dan Liberalisme, sehingga menolak memberikan bantuan untuk negeri Islam yang notabene ada di bawah perlindungannya, dengan mengemukakan alasan yang memalukan: Aceh adalah negeri yang jauh dari Turki. Hhmmfftt!

Buku ini benar-benar mengobarkan semangat juang di dada pembacanya. Bahwa pertahanan terbaik adalah tetap melawan. Meskipun musuh lebih kuat. Persenjataannya jauh lebih canggih. Jumlah pasukan terlatih lebih banyak. Dan tak boleh ada celah sedikitpun untuk merasa lemah, karena kemudian yang ada hanyalah menyerah, dan kalah. Tak boleh pula ada celah sekecil apapun untuk berdamai dengan pihak yang telah jelas ingin menjajah kita. Karena kalaupun mereka berjanji, janji itu tak ada nilainya, tak bisa dipercaya karena dengan mudahnya mereka langgar. Lagipula apa artinya hidup dengan kehinaan, tanpa kehormatan?

Majulah, karena janji Allah itu pasti. Lawan, karena mereka yang syahid itu tidak mati; mereka hidup di sisi Tuhannya dengan mendapatkan rezeki. Karena hanya ada 2 pilihan: hidup mulia atau mati syahid. Ya ampun... hidup di dunia cuma 1,5jam hitungan akhirat!

*istighfar*

Salah satu insight lain yang sangat penting dari buku ini juga, adalah bahwa sejatinya kita tak memiliki apapun. Istri/suami kita bukan milik kita. Anak dan orang tua kita juga bukan milik kita. Rumah, harta benda, apapun, semua bukan milik kita, hanya titipan Allah. Karena kita tak memiliki apapun, maka kita tak akan kehilangan apapun. Betul kan?


Baca Juga: Manajemen Teller - Jangan Ribet Sama Jodoh!


Pride and Prejudice - Jane Austen - Review

3:19 PM 0 Comments

Judul                  : Pride and Prejudice 
Penulis               : Jane Austen 
Penerbit Qanita, Edisi kedua, cetakan ke-3, Juli 2015
Jumlah halaman : 585 halaman


jane austen

Pertama baca judulnya waktu jalan-jalan ke toko buku, kok kayak akrab sekali ya? Ada kok di mata kuliah tertentu yang (tentu saja) saya lupa. Selang 2 hari saya bertemu senior dalam sebuah perjalanan kerja ke Kalimantan, dan dia memecahkan teka-teki itu: matkul Psikologi Sosial! Oh iyaaaa namanya aja ‘prejudice’ ya >.<

Roman ini sudah berumur lebih dari 150 tahun tapi konon katanya masih melegenda. Mbah Jane Austen menggunakan latar sosial kaum menengah dan kelas atas di Inggris pada abad ke-19. Dalam roman ini dipaparkan betapa kebanggaan sebagai anggota kelas atas yang dimiliki oleh beberapa tokoh sangat membatasi bagaimana mereka berperilaku dan memandang orang lain yang ‘setara’ dan bagaimana memandang dan berinteraksi dengan orang lain yang ‘lebih rendah’ dari kelas sosial mereka. Itulah ‘pride’; kebanggaan akan darah biru yang mengaliri nadi segelintir orang. Dan bagaimana orang-orang di kelas lebih rendah memandang mereka dengan penuh kekaguman dan sepenuh pengharapan untuk mendapatkan kaum lelakinya sebagai menantu mereka.

Tapi kala itu tidak semua kaum bangsawan terpelajar, apalagi kaum wanitanya. Namun tetap ada segelintir pemuda dan pemudi terpelajar dari kedua golongan tersebut. Yang cara pandangnya melewati batas warna darah yang mengaliri nadi manusia karena takdir menggariskannya demikian. Kaum terpelajar dari kelas rendah tetap percaya dengan dirinya sendiri. Mereka tidak rendah diri dengan bangsawan manapun yang ditemuinya karena memandang mereka setara dengan dirinya. Dan nampaklah bahwa kecerdasan memang memiliki pesonanya sendiri.
*ouch, kenapa saya suka sekali dg kata-kata itu*

Setiap memori tentang latar belakang, lingkungan tempat tinggal, teman-teman, tetangga, saudara, dan semua orang yang kita bergaul dengannya, akan berkumpul menjadi semacam ringkasan di dalam otak yang biasanya kita jadikan dasar untuk menilai perilaku seseorang. Yang belum terjadi sekalipun. Bahkan, belum tentu benar. Itulah prejudice, prasangka. Dan kerennya, roman ini benar-benar memutarbalikkan segala prasangka yang dimiliki oleh semua tokohnya. Yes. S e m u a ! Menjelang akhir, satu-persatu semua orang dihadapkan pada pembuktian bahwa prasangkanya selama ini salah total. Sama sekali. Iya sih, ini fiksi, tapi Mrs. Jane benar-benar ingin menunjukkan bahwa prasangka apapun terhadap siapapun, tidak layak dijadikan dasar untuk menilai.


Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa...” (QS: Al Hujurat: 12)


Main-main ke Tambang Batu Bara

10:52 AM 0 Comments
It's a very late post


Dalam sebuah rekor training terpanjang tanpa jeda (12 hari), di hari ke-13 kami diajak visit tambang. Semata-mata agar lebih memahami realita para peserta training yang kami fasilitasi. Wah. Ini pengalaman pertama buat saya. Kami naik bis sarana yang sudah disiapkan. Pertama kami menuju safety office. Untuk diberikan induksi (pengenalan) daerah tambang berikut apa saja yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Kami datang sudah mengenakan APD (Alat Perlindungan Diri) standar visitor, mencakup rompi reflektor, helmet, dan safety shoes. Di sana ditambah lagi dengan kacamata, terutama untuk teman-teman yang tidak berkacamata.


Supir bus kami memasang bendera yang lebih tinggi lagi daripada sebelumnya ketika masih di jalur hauling (transportasi barang tambang) pada saat akan memasuki area tambang. Terang saja, itu alat tambang masya Allah besssaaaaarrrr banget. Harus pasang bendera tinggi-tinggi supaya terlihat.

Perhentian pertama kami di workshop (bengkel) tempat para mekanik dan level-level di atasnya bekerja. Kami bertemu lagi dengan banyak peserta training kami di hari sebelumnya. Hehehe. Tetep jaim dong yah jangan sampai nampak noraknya. Hihihi.


WS PHE 2 (Plant Heavy Equipment)
PC 4000, "alat keruk" raksasa
da aku mah apa atuh...cuma butiran debu yang tak terlihat...
all team kubik lagi katasis
saya dan HD (Huge Definition). Ah, setinggi bannya saja tak sampai..hheheh

Puas dari workshop, kami menuju sebuah tempat untuk melihat proses blasting tepat pada pukul 12.00 WITA. Wuuiiddiiihhh masya Allaah itu tambang gede banget. Fyi ini memang tambang batu bara terbesar di Asia Tenggara. Alat-alat yang kami lihat sebelumnya di workshop begitu raksasanya, terlihat seperti titik dari tempat ini. Ya Allah.

liat ga tuh titik kuning? itu alat raksasa yang tadi kami foto-fotooooo... apa?? ga keliatan???
waiting for blasting

Blasting. Sudah sejauh itu saja bumi rasanya masih bergetar. Sedikit sih. Kata suami di site yang lain yang lebih kecil, setiap blasting pasti getarannya terasa sampai ke ruang pelatihan.

Naaahh di sini kami bertemu dengan seorang Section Head yang jadi idola kami para fasil cewek. Tanya kenapa. Bukan karena ganteng, seriously. Karena dia pinter baaaangeeeeddd! Kami bertekad mau foto bareng beliau tapi pada malu. Minta tolonglah kami sama Mas Aan (orang HC) untuk fotoin. Awalnya foto semuanya yang ada di sana. Setelah itu, “Pak maaf, boleh sama Pak Himawan aja?” >.< thanx mas aan! Hahaha kacaww...

atas: all team; bawah: HFC. orang PAMAnya ga akan nyangka deh kalo doi dapet fans club

Habis itu selesai, kami pamit pulang. Fyi saat itu bulan puasa. Tambang panasnya subhanallah. Udah pada lemes. Hihi.. Pada kesempatan selanjutnya ke Tanjung, saya bawa cadar dong untuk melindungi wajah dari sengatan matahari yang mantabh seqalih. Eh taunya ga tambang visit lagi hahahaha ciaaaann...

Alhamdulillaah.. pengalaman baru lagi.. Love my job!