Follow Us @farahzu

Friday, July 19, 2013

Kisah Mairo

9:00 AM 0 Comments

Saya pernah janji di tulisan saya sebelumnya ( Lelong ), untuk menulis masakan ikan mairo yang (konon) sangat mudah dibuat itu. Yah, mudah sih. Tapi kok saya gagal, hiks.. Tapi tenang saja, saya sudah tau sebab kegagalan saya.


Begini. Waktu ke Lelong itu saya membeli 2 jenis ikan, yaitu ikan sunu (kerapu) dan ikan mairo. Sampai rumah, saya cuci lagi ikan yang telah dibersihkan tukang ikan, lalu saya lumuri dengan jeruk nipis yang banyak dan garam, supaya tidak amis. Lalu saya simpan di dalam kulkas. Aman.


Nah, salahnya saya, saya memutuskan untuk memasak ikan sunu lebih dahulu, karena lebih mudah lagi. Goreng tepung. Hehehe.. Barulah 4 hari kemudian saya proses itu si Mairo *gubrag*. Ketika dibuka,  si mairo sudah tergenang air yang berasal dari jeruk nipis dan tubuh mairo itu sendiri. Airnya berwarna abu-abu.


Sebenarnya nurani saya (lebay) sempat mengatakan, buang dulu itu airnya. Tapi entah kenapa saya acuhkan. Saya tuanglah itu semua ke dalam wajan, saya tambahkan air asam, kunyit bubuk, dan garam sesuai resep. Lalu saya aduk-aduk sampai airnya sat (habis).


Jeng jeeeeeeng! Tidak ada masalah dalam rasa. Enak! Alhamdulillaah. Tapi si mairo hanya kami makan sedikit, sisanya, sukses jadi makanan favorit kucing. Mereka super lahap makan mairo pakai nasi. *sampai sini masih jempol ya, walau sudah plus tanda tanya*


Masalahnya adalah, tubuh si mairo hancur, kawan, ya, hancur. Terlalu lama terendam air jeruk. Lalu masalah kedua, ‘air abu-abu’ tadi setelah diberi kunyit dan air asam, berubah jadi hijau. Hijau army. Keren sekali untuk warna baju. Tapi untuk makanan, saya agak ‘geli’ memakannya karena warnanya itu. Seperti warna kotoran apaaaaa gitu. Hahahaha…suami saya bilang, jangan mikir macem-macem! Wkwkwkwkwk… maaf, saya memang terlalu mudah berimajinasi dan melakukan asosiasi.


Esoknya saya ceritakan pada teman di kantor. Dia bilang, ya iyalaaaah maksimal 2 hari mairo itu harus segera dimasak! Oke, catat. Saya berniat beli lagi dan mencoba lagi sih, karena si abang doyan pas makan di rumah temannya. Doi juga mendukung saya untuk mencoba lagi.


Tapi entah bagaimana, di kali kedua dia memberi makan kucing dengan mairo, bisa-bisanya beliau berkata, “Neng, kayaknya mendingan beli mairo deh daripada sarden (buat kucing)”.


Hhhhhh!


:D
Baca Juga: Saya Ga Suka Jualan

Semua Orang Sudah Berdagang

7:16 AM 0 Comments

Nampaknya sekarang ini semua orang sudah mulai berbisnis deh. Yap, berdagang. Saya sangat merasakan perubahan ini pada orang-orang yang saya hubungi dan menghubungi saya via socmed, dan terutama via whatsapp. Saya jadi mulai terpikir untuk beli BB jadinya, buat jualan, haha..

Suatu sore, saya sedang chatting dengan beberapa orang di facebook. Saya bermaksud memprospek calon customer untuk barang dagangan dan jaringan saya. Eeeehh alih-alih dapat prospek, saya malah ditawarin balik untuk beli dagangannya. Hihihihi… Dan ini terjadi beberapa kali loh.

Berikutnya, ceritanya saya habis beli mukena dari seorang kawan via fb juga. Alhamdulillah saya dapat harga reseller. Di saat yang bersamaan, di sebuah grup chat ada yang menawarkan dagangan juga berupa mukena (juga). Saya japri lah kawan saya itu untuk lihat-lihat mukenanya sambil tetap stay tune di grup chat. Dengan menaksir-naksir selera seorang kawan yang nampak tertarik namun masih tapi-tapi dengan motifnya, saya pun menjapri-nya, menawarkan mukena yang saya order sebelumnya (ini ga tau kenapa otak dagang saya tiba-tiba jadi kenceng banget).

Subhanallah, ternyata dia suka dan jatuhlah pilihannya pada dagangan saya. :D *mintamaapsamayangawalnyajualan*

Singkat kata, selesailah urusan per-mukena-an, barang sudah dikirim, kawan saya sudah transfer. Masih di siang yang sama, kawan saya menawarkan pula barang dagangannya: kue lebaran. Daaaaaann saya beli juga akhirnya! Hahah, yah kalau dihitung-hitung, malah lebih banyak belanja saya ke dia daripada belanja dia ke saya :D (karena beda tipis, itunglah sama, alias impas! Haha..)

Yah, berdagang lah. Jangan takut. Saya juga tadinya ga suka jualan. Suka promosi, tapi ga suka nagihin duit. Hihihi.. Berdaganglah, karena inilah pintu rezeki paling lebar :) Bahkan 9 dari 10 Sahabat yang dijamin masuk surga merupakan pedagang! Business man, business.. hihihii

Saya Ga Suka Jualan

6:26 AM 0 Comments
Serius deh, dulu saya ga suka banget yang namanya jualan. Padahal saya suka promosikan apapun yang saya pakai dan orang-orang kebanyakan ikut beli, tapi saya ga suka banget yang namanya nagihin uang. Gengsi. Hahaha..

Semua bermula saat tahun lalu saya diprospek sebuah produk kesehatan wanita oleh saudara saya. Sebelum diprospek saya memang sudah memakai produk itu karena bagus dan perlu.  Benar-benar diperlukan oleh perempuan. Jadi saya setuju untuk direkrut, karena berniat membantu kaum saya dimana solidaritas perempuan sedunia itu sangat kuat. Hehe..

Mulailah saya menawarkan produk ke saudara dan teman-teman saya yang perempuan, teman saya yang laki-laki untuk istrinya dan adiknya, bapak-bapak untuk anaknya, ke mana-mana deh. Saya sangat pede, karena saya tau betul itu produk bagus dan dibutuhkan. Saat itulah saya, mulai nyaman menagih uang.
Sebenarnya yang saya ikuti itu adalah bisnis MLM, tapi saya yang lagi norak-noraknya jualan, keasikan jual barang dan sama sekali ga serius untuk ngerekrut. Haha, maklum, lagi seru!

Dari situlah, saya banyak belajar. Bagaimana mempromosikan barang pada beragam orang. Ada yang positif menanggapi, ada juga yang tidak. Pantang menyerah, saya memutar otak dan mencari cara supaya target tertarik dan membeli barang saya. Wuaaaahhh ternyata jualan itu seruuuu…bikin pinteeer :)

Mental block saya mulai sirna kawan, mulai pede jualan apapun, dari barang yang penting sampai ga penting sekalipun. Karena banyak juga yang membeli barang untuk koleksi, atau kepengen aja, atau suka aja, atau, untuk ibuku, untuk mertuaku, untuk adikku, untuk suamiku, dll. Udahlah, pokoknya jual dan yang penting barangnya bermanfaat (meski ga penting/urgent/mendesak).

Niatnya bantu orang yang butuh barang kita. Kita ga harus selalu tau di awal loh, siapa-siapa aja yang akan beli barang kita. Kebutuhan orang kan beda-beda, selera orang juga beda-beda. Heehee..

Oia, ada yang minat nambah penghasilan bareng saya? Terbuka kesempatan seluas-luasnya buat yang mau dan punya mimpi bermanfaat buat banyak orang. Japri yaaaa! 

Monday, July 15, 2013

Lelong

7:30 AM 0 Comments
Ramadhan kali ini tentunya spesial sekali buat saya. Tentu saja, ini Ramadhan pertama saya di kampung orang. Dan yang lebih tentu saja, ini Ramadhan pertama saya jadi istri. Alhamdulillaah, doa saya beberapa Ramadhan sebelumnya telah terkabul :)

Jujur saya panik di akhir-akhir Sya'ban. Duh gimana nih sahur.. masak apa nih.. bangun gak ya... Sampai di sore Sya'ban terakhir, saya masih browsing menu-menu sehat (yang tentu saja praktis paling penting, hehe) untuk sahur. Juga tanya-tanya teman-teman di kantor yang sudah menikah; masak apa, bumbunya apa, caranya bagaimana. Tetot. Akhirnya jam 5 sore saya membawa pulang kertas-kertas catatan tentang masakan tadi. 

Selepas maghrib, saya langsung mendorong-dorong suami ke pasar untuk belanja dan stok bahan. Nah, namanya juga udah malem, yang saya dapat tinggal sisanya orang-orang. Lalu pulang, bersih-bersih, shalat isya sampai tarawih sendiri, langsung deh nyiangin sayuran, ngupasin bawang, dll buat sahur. Tensi tinggi deh. hahaha...

Akhir pekan (Sabtu), saya sudah janjian dengan teman kantor yang newlywed juga (sebulan, lebih parah) untuk ke pasar pelelangan ikan laut dekat pantai Losari. Orang biasa menyebutnya Lelong.

Begitu masuk, jeng jeeeeeeng semuanya ikan. Ikan laut. DI sini kayaknya emang ga ada ikan sungai deh. Daaan saya sama sekali buta tentang ikan mentah! Alhasil saya cuma membuntuti kawan saya di belakang sambil tanya-tanya ini ikan apa itu ikan apa. Cuma berbekal tujuan, "Mba Sheren, aku mau beli ikan sunu", akhirnya berjodoh. 

Ikan Sunu


Ikan sunu itu juga saya taunya karena pernah makan di kantor, dan enak. Kalau ga salah nama Jakartanya itu kerapu. Alhamdulillaah, dapat yang besar dan harganya cucok :) Lalu saya beli juga ikan mairo. Ga tau deh mau diapain. Murah soalnya. Hehehe...
   
Ikan Mairo
 Sampai rumah, berbekal ilmu dari Mba Sheren, ikan yang sudah dibersihkan oleh tukang ikan saya bersihkan lagi dengan air lalu saya kasih perasan jeruk nipis yang banyaaaaakk supaya tidak amis. Lalu saya biarkan. Lalu saya keluar rumah, berharap ada tetangga yang bisa kasih nasihat. 

Dari tetangga yang satu dikasih tau kalau sambil dikasih jeruk nipis, sambil dikasih garam juga biar berasa. Baiklah. Dari tetangga yang satu lagi bilang kalau goreng ikan sunu minyaknya harus banyak dan merendam ikannya. Baiklah. Terima kasih, buibu!

Lalu lagi, saya pinjam bb suami untuk bbm-an sama istri temannya tentang cara masak ikan mairo. Haha, ternyata gampang toh. Nanti ya kalau sudah jadi saya share lagi. Insha Allah. :)

Wednesday, June 19, 2013

a d i p u r a p u r a

2:55 PM 0 Comments
Suatu siang di jam istirahat kantor, saya dan suami pulang ke rumah untuk tidur siang sebentar (di Jakarta mana bisaa..hehehe). Fyi, kantor kami ada di jalan yang sama. Lalu ketika di jalan hendak ke kantor kembali, ada iring-iringan panjang di ruas jalan sebelah. Ternyata mereka membawa sebuah piala besar. Adipura. 

Kota Makassar mendapat anugerah Piala Adipura.

Boleh percaya boleh tidak. Masyarakat sini saja menyangsikan kok. Pasalnya menurut saya dan orang-orang juga, kota ini tidak cukup bersih dan rapi untuk mendapat penghargaan itu. Ada yang bilang masalah pengelolaan sampah. O,ow, sungguh, tidak juga.

Saya jadi ingat waktu beberapa tahun lalu Bekasi dinobatkan sebagai kota terkotor bersama 2 kota lainnya di Indonesia (sekarang juga sih, tapi masih lebih bersih kok). Tidak lama, tahun berikutnya Bekasi langsung mendapatkan Adipura. 

Ini bisa saja dikarenakan pemkot menghimbau seluruh warga untuk bersih-bersih dan lebih memperhatikan kebersihan dan kerapihan. Memang sih ada beberapa tempat yang sepengamatan saya lebih baik dibanding sebelumnya. Tapi ada juga desas-desus bahwa hal ini tidak murni. alias nyogok. heehee bahasanya...

Begitu juga dengan Makassar. Desas-desus serupa tentu saja semakin kuat dikarenakan ada bukti nyata; yang ditangkap oleh mata masyarakat sendiri. Serius. Dateng aja sini kalo ga percaya *loh kok jadi nantang*. Atau desas-desus lain juga mengenai pencitraan berhubung ini adalah tahun terakhir walikota sekarang menjabat. 

Ah ndak tau deh. Saya pribadi sih juga ga percaya. Saya lebih percaya ini Piala Adipurapura :D

Friday, June 14, 2013

Berlabuhlah

11:39 AM 0 Comments
Kabar berikutnya, saya (dan suami) saat ini sedang sangat berbahagia, atas berlangsungnya pernikahan sahabat kami. Sahabat kami ini sungguh luar biasa kesabaran, sifat tawakkal, dan keyakinannya pada janjinya Allah. Sahabat kami inilah yang banyak mengajarkan kami dan meyakinkan kami mengenai apa itu tauhid sejatinya. 

Bahwa urusan kita hanya berusaha dan berdoa kawan. Bukan wewenang kita menentukan apakah sesuatu itu harus terjadi atau tidak boleh terjadi. Yang harus kita lakukan adalah berusaha maksimal, agar Allah berkenan memberikan apa yang kita minta dengan ridha

Dan beberapa hari lalu akhirnya sahabat kami ini berlabuh pada seorang bidadari. Tidak pernah kami sangka sebelumnya, namun benarlah bahwa kalau kita ikhlas, Allah akan memberikan yang jauh lebih baik daripada yang kita minta. 
Karena pengetahuan kita tentang yang baik dan yang terbaik itu terbatas, kawan. Maka ikhlas lah meminta pada Allah, sambil memantaskan diri untuk menerima hadiah terbaik dari-Nya. :)

Selamat berbahagia, sahabat kami

Tegar Hamzah Asadullah
(dan bidadarinya) Erika Hapsari

Semoga sakinah, mawaddah, wa rahmah, dan berkah Allah melimpahi kalian berdua selamanya. 
Baarakallaahu lakuma, wa baraka 'alaykuma, wa jama'a baynakumaa fii khayr... aamiinn...

*yang turut berbahagia dari selatan Celebes,
(dan yang menunggu dikunjungi pasangan pengantin baru),
Ghozali dan Farah* :D

Memberi Makna

11:28 AM 0 Comments
Saya mau nulis ah. Saya kangen sekali. Tapi saya ga tau mau nulis apa. Maklum sudah lama sekali tidak menulis. Jadi maklum juga kalau mulai tumpul. hehe.. Harus segera di asah kembali.

Jadi begini kawan, saya bercerita saja tentang aktivitas saya sekarang di sini, di Kota Makassar. *daripadaaaa tidak ada yang ditulis, hihihi. 

Alhamdulillah sekarang ini saya sudah tidak mati gaya lagi di sini. Saya sudah bekerja lagi di sebuah perusahaan yang lumayan bagus terutama di kawasan Indonesia Timur. Dan ini kali pertama saya bekerja di bidang HRD, padahal saya sendiri lulusan psikologi. Alhamdulillah HRD-nya di bagian training, di Learning Center Kalla Group, jadi analyst. Ciieee... hahah..

Setelah 6 bulan di rumah saja, jelas saya bahagia sekali menemukan sebuah otonomi pribadi di atas sebuah meja kerja beserta komputer sampai laci dan seluruh isi-isinya. Baru loh terasa, kalau sesuatu yang saya sebut sebagai "otonomi" itu berharga sekali. 

Selain itu semenjak bekerja di sini, saya mulai ikhlas dan nyaman menerima kenyataan bahwa saya sekarang tinggal di kampung orang, dengan adat, budaya, dan bahasa orang yang awalnya sama sekali asing buat saya. Dengan interaksi yang intens dengan rekan-rekan di kantor, saya "mulai mau" mempelajari bahasa setempat dengan dialeknya yang khas, dan sedikit demi sedikit mulai mengubah cara saya bicara menjadi lebih sesuai dengan orang sini. Tapi belum banyak berhasil, hihihi...

Apalagi semenjak ikut Training Induksi Karyawan Baru di kantor, makin nyaman saja saya rasanya dengan kota ini, yang walaupun berantakan tapi bisa dapet adipura (lhoh). Karena menyadari bahwa keberadaan saya di sini mulai memberi makna. Makna bahwa kontribusi apapun dari saya yang kecil ini, merupakan sumbangsih kebaikan yang insha Allah akan terhimpun dalam visi, misi, dan nilai-nilai mulia perusahaan untuk ummat dan bangsa ini. hehehe... ini baaaruuu perusahaan... ;)

Makna. 
Bahwa hidup di dunia hanyalah sekali, maka berbuatlah kebaikan sebanyak-banyaknya. 
Salam Apa Kareba! 
*hehe apa sih gue*

Thursday, April 18, 2013

Kota Kita

2:52 PM 2 Comments

www.makassarkota.go.id

 Dua bulan lalu saya dan suami pulang ke Bekasi. Ambil flight paling pagi dari Makassar, dan flight paling malam dari Jakarta.  Supaya bisa lama ketemu keluarga. Hehehe…


Rasanya saya seperti meluap-luap kala pagi buta itu digenggam tangan oleh suami, di atas taksi yang melaju menuju Bandara Sultan Hasanuddin. Lalu mengharu biru kala bertemu kembali dengan mamah di rumah, berpelukan lamaaaa sekali, sampai ditungguin supir taxi. Belum bayar. Hhe…

Ketika hendak ke Makassar kembali, jujur saya agak merasa terintimidasi saat di mushala Bandara Soekarno Hatta, saya mendengar orang bercakap-cakap dalam bahasa Makassar. Ah, saya akan kembali ke kampung orang lagi. Bukan kota saya yang nyaman.

Tapi entah bagaimana ketika sedikit lagi kami sampai di rumah di Makassar, masih di dalam taxi yang menembus kegelapan malam, tiba-tiba saya menginsafi sesuatu. Bahwa kota ini indah.

Indah karena di kota inilah kami belajar hidup. Berdua saja. Tanpa bantuan keluarga atau kerabat. Tidak punya siapa-siapa kecuali satu sama lain. Tanpa punya tempat untuk kabur. Haha. Di sinilah kami belajar bertoleransi, saling memahami, menyelaraskan cita dan rasa, belajar syukur dan sabar bersama. Belajar bertetangga. Belajar berjamaah. =)

Yaaaa kota ini memang panas. Berdebu. Orang-orangnya keras. Pengendara motor dan mobilnya seringkali mengerikan. Tapi udara di sini lebih bersih. Tapi perekonomian masyarakat lebih maju. Tapi kuliner lebih nikmat lho. Hehehe pastinya.

Dan selebihnya, ini kota kita. Kota tempat kita menyemai cinta, menjadikannya warna-warni pelangi.  


Friday, March 22, 2013

Tentang Kota Manado

7:57 AM 0 Comments

Cerita jalan-jalannya sudah saya post ya beberapa waktu lalu. Nah, sekarang saya mau share tulisan tentang Kota Manado-nya itu sendiri.

Gunung Manado Tua
Manado itu indah, sudah pada tau lah ya. Konturnya berbukit-bukit, tidak sedikit tanjakan dan turunan yang curam. Kalau belum mahir mengemudi, mending jangan bawa orang deh.. hehe..

Kebanyakan penduduknya dari suku Minahasa, kulitnya putih-putih, dan mayoritas beragama Kristen. Orang-orang pendatang banyak juga yang Muslim, tinggal di tengah kota.

Orang Manado suka sekali bernyanyi dan berjoget. Hehe..masih ingat Senam Poco-poco? Senam (tarian) itu asalnya dari sini loh.. 'Cuma ngana yang kita sayang...' Di setiap rumah makan yang kami kunjungi, pasti deh ada live music-nya, trus pengunjung bisa request lagu dan menjadi artist on the spot. Terus yah, di mobil yang saya dan suami tumpangi menuju Tomohon, bapak supir menyetel lagu-lagu manado. Ada satu lagu yang 'ear catching' buat kami. Awalnya kami hanya menebak 'ke kiri, ke kiri, ke kiri, ke kiri...' ah masa' sih lagu begitu. Tapi berikutnya ada, 'ke kanan, ke kanan, ke kanan...'. Hahah.. Ternyata itu lagu memang ke kiri dan ke kanan! Begini.
........ sekarang kiri e, nona manis putarlah ke kiri, ke kiri, ke kiri, ke kiri dan ke kiri, ke kiri, ke kiri, ke kiri manise..
Sekarang kanan e, nona manis putarlah ke kanan, ke kanan, ke kanan, ke kanan dan ke kanan, ke kanan, ke kanan, ke kanan manise...
Unik yah. Seketika saya jadi sukaaaaa sekali lagu itu ;) Tinggal tunggu ada gerakannya, jadi deh penerusnya Poco-poco!

Tapi omong-omong soal musik, angkot di Manado juga full music, seperti di Makassar, tapi angkotnya lebih rapi. Dan beberapa angkot kursinya menghadap depan seperti di mobil-mobil travel, atau L300. Hehe.. Katanya nih, calon penumpang yang tidak sesuai dengan musik atau tempat duduknya, ga jadi naik! Menunggu angkot berikutnya. Ckckckckckck, penting banget deeeh... Oh iya, angkot di Makassar kan bayarnya flat, jauh-dekat 3000. Di Manado flat juga, tapi jauh-dekat 2000 saja.. murmeeer..

Kalau alat musik khas Manado apa ya, ada yang tau?
Yap, kolintang. Kolintang ini alat musik dari deretan bambu yang dipukul-pukul. Kolintang dibuat oleh seorang anak laki-laki buta loh.. Jadi ceritanya, anak lelaki itu pergi ke hutan untuk mencari bambu-bambu untuk kayu (bambu) bakar. Tiba-tiba dia tersandung dan bambu-bambu yang dibawanya terjatuh. Naaah saat itulah si anak ini menyadari bahwa bunyi bambu-bambu yang jatuh itu tidaklah sama semua. Maka dengan musical inteligence-nya yang tinggi, anak itu mulai menyusun bambu-bambu hingga menjadilah kolintang seperti sekarang.. Oia, anak lelaki itu sekarang masih hidup loh.. Sudah jadi kakek-kakek tapinya.. hehe.. (sumber: nonton tv beberapa waktu lalu)

Tapi bagaimanapun identiknya kota ini dengan musik, mohon maaf, di Manado tidak ada pengamen! Juga pengemis di pinggir jalan atau di lampu-lampu merah. Gengsi! Dan satu hal, kota ini beerrsiihh sekali. Bagaimana tidak, ternyata petugas kebersihan seperti penyapu jalan di sana bayarannya mahal! 2 juta sebulan, plus-plus. Maksudnya 2juta dan ada tunjangan lain-lain lagi. Waah kereeeen. Kota lain, terutama Jakarta dan sekitarnya bisa banget mencontoh nih.

Orang Makassar punya panggilang Daeng, atau masih biasa juga orang memanggil Mas, Pak, Bu, dan Mbak seperti di Jawa. Kendari punya Tina dan Banggona untuk memanggil. Kalau Manado apa? Manado memanggil laki-laki (muda sampai tua) dengan 'Cowok' dan perempuan (muda sampai tua) dengan 'Cewek'. Supir angkot, teman, sampai atasan. Maaakjaaaang... hihihi..

Hhhmmm tapi bagaimanapun indahnya kota Manado, tetap saja saya belum menemukan kota yang se-kota Makassar, kota paling kota. (Insya Allah akan dibahas lain waktu). Pun Jakarta, Depok, Bandung, Bekasi, Bogor, Tasik, Ciamis, Garut, Tangerang, Yogyakarta, Lampung, Pontianak, Kendari, menurut saya masih kurang kota kalau dibandingin Makassar... hihihi..

Monday, March 11, 2013

Saya Kira Publik Sudah Tahu

7:52 AM 2 Comments
Beberapa waktu lalu saya mengikuti berita wawancara eksklusif dengan Pak Anas Urbaningrum di televisi. Saya tidak akan bahas tentang politik dan semacamnya, tapi saya menemukan sebuah 'cara pintar' untuk menjawab lebih elegan dan menghindari diri kita dari yang namanya 'keceplosan'.

Bagi tokoh publik seperti beliau, tentu saja media dan masyarakat akan heboh begitu ada kasus menimpanya. Beliau tentu saja tahu sebenar-benarnya kejadian yang dipermasalahkan. Apa-apa saja yang sedang terjadi melatarbelakangi kasus'nya'.

Namun beliau juga politisi. Banyak pertimbangn atas segala kata yang keluar. Dia juga tahu betapa orang-orang yang mewawancarainya memiliki kemampuan untuk memainkan kata-kata untuk mendapatkan informasi yang diinginkan.

Maka ketika ia dihadapkan pada pertanyaan langsung yang dapat "menjebak" dirinya di kemudian hari, dia mengatakan, "Saya kira publik sudah tau ya....", atau "Saya kira masyarakat sudah cerdas untuk menilai....". Dan sepanjang saya perhatikan, selepas beliau mengucapkan kalimat sakti itu sang reporter selalu beralih pada pertanyaan lain. Cerdas Pak.

Iya juga ya, kalau dibilang 'publik/masyarakat sudah tau/sudah cerdas' dan reporter masih saja bertanya, bukankah itu artinya dia tidak cerdas? Maka itulah sang reporter selalu menyudahi cecarannya dan beralih pada pertanyaan lain.

Padahal kalau kita bicara persepsi, yaitu tentang bagaimana setiap orang memahami sesuatu, sangatlah personal. Belum tentu pikiran/penilaian/pemahaman seseorang akan sama dengan orang lain, walaupun mengenai hal yang mereka anggap, sudah lazim diketahui. Hehe.. jadi kalau menurut saya, jawaban demikian adalah jawaban cukup cerdas untuk mengalihkan diri dari 'intimidasi' pewawancara, alih-alih hanya karena enggan menjawab hal yang sudah diketahui orang banyak. Namanya juga politisi... :p

Tuesday, March 5, 2013

Seru-seruan Di Manado

4:17 PM 0 Comments
(foto-foto: dokumentasi gabungan; saya&suami, Mas Irham, Pak Mahendra)

Hwah! Alhamdulillaah, akhirnya satu-persatu mimpi saya jadi kenyataan. Saya jadi semakin yakin bahwa sebentar lagi akan ada kesempatan jelajah Raja Ampat. Hehe.. aamiinn..
Yup, weekend kemarin, 1-3Maret 2013, saya dan suami serta teman-temannya di BSM berkesempatan menikmati indahnya Kota Manado. Berbekal tiket seratus ribu ajah sekali jalan, lalu sempat kaget karena akomodasi selama di sana ternyata ga ikutan promo kayak si tiket (ya iyalah buuu!). Tapi asli, puas banget!
Jumat sore dari bandara Hasanudin Makassar, ternyata kami ikut penerbangan perdana Makassar-Manado. Rute baru Air Asia. Dapat pin lalu di foto *penting banget buat mereka..hihihi.



Sampai di bandara Sam Ratulangi kami dijemput oleh teman-teman BSM cab.Manado. Mereka banyak sekali membantu, dari cari hotel, resto, sampai transportasi selama di sana. Terimaaaa kaaasiiihh...

Manado. Ibukota Prov.Sulawesi Utara, terletak di jambulnya Sulawesi. Entah karena weekend, yang jelas tidak seramai Makassar. Kota indah yang kontur tanahnya berbukit-bukit, yang ajaibnya tidak memberi jarak antara gunung dengan laut. Berdekatan. Indah sekali.

Makan malam pertama kami ke rumah makan di pinggir laut. Uuuhhyaaaa tau ga siiiih beneran beniiiing sekali lautnya. Malam-malam gelap saja sudah terlihat ikan-ikan berenang di laut, dari  a t a s.


Eh fotonya ga nyambung. Hehe..
Pagi-pagi, kami bersiap menuju Bunaken!! Salah satu surga bawah laut di Indonesia. Dari dermaga Marina (Manado ya, bukan Ancol), naik kapal 45menit menuju pulau Bunaken. Dari dermaga juga beniiiiiing sekali airnya. Jangan bandingin deh sama Losari.. bikin minder orang Makassar. Hihihi...


Dermaga Marina


di dalam kapal
 Kira-kira 15 menit sebelum sampai, mesin kapal dimatikan, kaca untuk melihat di bawah air dibuka dan diturunkan. Daaaaaaannn....welkaaaaaam to Heaveeeeennn!!!
 Indah banget di bawah lautnya, pemirsa. Karang warna-warni, ikan warna-warni, ah serba warna-warni lah. Jadi ga sabar mau snorkeling...

Oh iya.. ini snorkeling kedua saya. Snorkeling pertama di kep.Seribu, tepatnya di Pulau Pramuka bersama kawan-kawan BEM UI 2009. Kali ini semuanya nampak lebbbiiiihhh indah. Entah karena Bunaken memang lebih indah, tapi bisa juga karena saya pakai softlens. Hehe.. Snorkeling pertama saya ga punya softlens.. sedang kemarin saya pakai soflens waktu nikah 5bulan lalu. Hihihi... Kalau ga pake tuh buram...ya terang saja yaaa... jadi buat rekan-rekan yang punya mata minus tapi mau snorkeling, jangan lupa pakai softlens! Ok? ;)

 Baru menjejakkan kaki di pulau, langsung ditembak sama ibu-ibu yang menyewakan alat snorkeling, 43, 39 (nomor sepatu saya dan suami, untuk fin/kaki katak). Oh iya, paket sewanya 150ribu perorang; snorkel, baju (yang sekalian bisa mengapung), dan fin.

Berkali-kali saya minta ukuran baju lebih besar, karena maklum saja, saya dobel dengan baju panjang. Lalu karena yang dangkal itu karangnya dan tiba-tiba sering ada 'jurang' di bawah lautnya, saya dan kawan-kawan awalnya ga pede, jadilah pakai life jacket lagi.. hihi.. jadi ga keren deh..


Barulah di spot snorkeling kedua, kami mulai pede tanpa life jacket. Karena sebenarnya baju yang kami pakai pun sudah bikin mengambang..haha.. tapi sayang ga sempet di foto. Udah capeeeeek.. 
 Hih. Subhanallaah, indah sekali pemirsa... main-main dengan ikan yang cantik-cantiiiiikk sekali. Warnanya cerah-cerah. Ada yang belang-belang ngejreng, ada juga yang seperti spektrum pelangi. Aaahh indaaahh... Karang-karangnya juga super duper indahnya, warna-warni dengan beragam bentuk. Bahkan ada yang warna ungu (purple lover kayak saya pasti takjub deh) dengan lipatan-lipatan persis seperti otak :D empat jempol deh. Semua dzikir keluar di situ.




Ada tapinya juga nih kawans.. Harus tenang dan jangan panik! Saya sering sekali sedang enak-enaknya 'tengkurap' di air menikmati keindahan di bawah, tiba-tiba arus tenang membawa saya ke pinggir tebing karang, langsung laut biru tua yaaaaaang ga keliatan ujungnya! Huks.. langsung deh lupa kalau bajunya safety, langsung panik, takut tenggelam, lupa nafas dari hidung, ya udah deh langsung batuk-batuk dan Tambah Panik karena yang kehirup bukannya udara melainkan air.. aaassyyiiiinnn..  huwaaahhh... langsung deh, ga berani jauh-jauh dari abang.. eh, kapal.. hahaha...






Singkat cerita, kami kembali ke pulau untuk bilas, ganti baju, dan makan siang. Waw, airnya payau, dan untuk mandi harus bayar 10ribu. Ngantri pula.. sayang sekali infrastrukturnya kurang mendukung. Anyway, puas banget kok! Lalu kami kembali ke kapal, menuju pulau besar Sulawesi kembali. Di kapal semua tidur kecapekan, kecuali Pak Bos yang iseng sekali mengambil foto kami-kami yang tidur... ati-ati mangap! Heheh..

pemandangan dari arah Pulau Bunaken

Kami baru sanggup keluar hotel lagi ba'da maghrib untuk makan malam. Tempatnya indaaaaah... dan makanannya enak.. Dari sana kita bisa melihat kota Manado dari atas, karena malam, jadi yaaa sky dining deeehh... manteeeebb!


Lalu ke tempat oleh-oleh khas Manado, Merciful Building.

saya gak ngerti ini kenapa fotonya tiduran :D
Lalu tidur. Zzzzzzzzz...

Besok paginya, lepas sarapan, kami yang sudah check out 'sarapan kedua' dengan Tinutuan, bubur manado. Masih cukup. Tenang saja *dasarr.. Next destination: Tomohon. 


Oh iya, hari Minggu Manado hampir seperti kota mati. Mayoritas penduduknya yang kristen hanya beribadah hari itu, lalu entah hilang ke mana. Mungkin di dalam rumah. Jadi jalan menuju Tomohon yang naik-turun belak-belok seperti di Puncak, Bogor, lancar jaya. Kamu disuguhkan pemandangan indah Gunung Lokon yang meletus beberapa waktu lalu, dan senantiasa berasap sampai sekarang.
Pemberhentian pertama, makam pahlawan kita, Tuanku Imam Bonjol. Nama asli beliau adalah Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin. Beliau diasingkan di sini, di gunung dan hutan, sampai wafatnya. 
gerbang situs makam

60meter di bawah (capek sekali waktu naiknya lagi) ada batu tempat shalat Tuanku Imam Bonjol yang sudah direlokasi. Tadinya batu itu di tengah sungai, lalu banjir ketika tahun 2006, batu itu terbawa dan menghantam pabrik miras di sebelahnya (hah. Bagus sekali kau batu!). Lalu direlokasi ke tempat sebelahnya. Tempatnya beerrssiiihh deh, ada yang jaga dan bersihkan.
anak tangga ke bawah menuju tempat ibadah
dari pintu tempat ibadah menghadap keluar, di sebelah kiri  sungai ini ada pabrik miras(fotonya tidur)
 
 

sebagai perbandingan ukuran batu, itu ada orang (bukan saya) di atasnya
Menurut saya, itu batu tempat shalat biasa loh.. makamnya pun makam orang muslim biasa, tapi entah kenapa di deskripsinya selalu menyertakan kata 'keramat' seperti makam keramat atau batu keramat. Yaelah..

Kami berpikir-pikir sepanjang perjalanan. Subhanallaah ya, jauh sekali beliau diasingkan. Sudah itu, kenapa juga penjajah Belanda mesti repot mengasingkan tawanan ke tempat-tempat jauh? Yah..mungkin mereka masih punya hati untuk membiarkan tawanannya hidup. Tapi kemungkinan ini benar-benar husnuzhan yah.. kayaknya sih ga sebaik itu juga tujuannya...


Pemberhentian selanjutnya di Pagoda Ular Putih, sebuah vihara. Entah pose patung-patungnya memang lucu, atau teman-teman BSM yang terlalu ngocol, hah, singkatnya beginilah foto-fotonya...






di belakang duo narsis ini adalah Gunung Lokon yang atasnya masih berkabut
pagoda. btw, langitnya keren yah! masya Allaah


Next: Danau Linau. Iiiiiinnndddaaaaahhh banget sodara, udah kayak surga! Maasya Allaah... Semakin kena sinar matahari, makin bergradasi warnanya. Inilah dia danau 3 warna. Sayang waktu kami ke sana sedang mendung. Tapi tetap merupakan tafakkur alam yang luar biasa. Oia, tiket masuknya 25rb seorang, dapat teh/kopi dengan kue dua biji.




Ketika kembali, beberapa dari kami membeli ikan cakalang fufu (asap) dan oleh-oleh di Merciful Building (lagi). Beli klappertaart, semacam kue khas manado dari telur, kelapa, kismis, dan diberi toping, lalu dikukus atau dipanggang. 

Lalu kami beristirahat di BSM kantor cabang Manado, sambil menunggu sunset di belakang kantor. Nah kan, udah laut lagi...di sini dekat sekali memang gunung dengan laut ;)

Daaaahh...kami harus buru-buru karena kalau tidak ketinggalan pesawat. Benar saja, kami hampir telat hingga koper-koper tak bisa lagi masuk bagasi. Saya dan suami sih nyantai aja, cuma bawa ransel masing-masing dan satu tas jinjing ;)


Sampai jumpa Manado, welcome Monday in Makassar.. Very nice holiday with BSM family... alhamdulillaah