Follow Us @farahzu

Wednesday, October 17, 2012

Makassar Part 2; Anak-anak dan Seliter Bawang Merah

10:05 AM 4 Comments

Lingkungan kontrakan kami cukup ramai dengan anak-anak. Dari balita sampai SD. Kesan saya tentang mereka mirip dengan kesan saya terhadap anak-anak di Depok; supel. Mereka yang mulai menyapa kami, memanggil kami bila berpapasan dari jauh, main-main di teras rumah kami, nanya-nanya sedang melakukan apa dan sama siapa, bahkan bantu nyapuin teras juga pernah. *kerajinan*
Waktu saya dan suami baru tiba Selasa dini hari (9Okt), paginya kami membongkar rumah, bersih-bersih, menata kembali barang-barang. Anak-anak yang baru pulang sekolah itu menghampiri, nempel-nempel di tembok depan, ngeliatin, minta ditanya. Hehe.. Aku bertanya nama, rumahnya di mana, kelas berapa… lalu, “Tante dari mana?” Ada juga waktu suami saya sedang di teras, seorang anak laki-laki menghampiri, “Lagi apa Om?” “Bersihin kipas”, jawab suami. “Sama siapa Kita?”, anak itu bertanya lagi. “Sama istriku”, jawab suamiku. “Mana?”, “Lagi di kamar mandi, ga boleh”, kata suamiku. Hahaha..
Beberapa hari kami di sini, teras kami mulai ramai dengan anak-anak bermain. Apalagi kalau libur, meskipun kami sedang tidak membuka pintu. Mengintip sedikit dari jendela, mereka langsung nyengir, “Tanteeeee!”… Beberapa juga suka main ke dalam rumah. Lucunya, “Ada kue ta?” :D
Naaahh trus uniknya lagi di sini kalau belanja ke pasar kawan… Bingung aja gitu waktu beli bawang, “Berapa bu?” Jawab penjualnya, “Lima ribu setengah liter”. Uuhhmm, saya dan suami sempat melongo sebentar. Bawang? Literan? Oh, ternyata di kasih wadah literan beras, masukin bawangnya padat-padat, sampai penuh wadah itu. Itu namanya bawang setengah liter ^^. Terus lagi, beli telur, ga ngaruh mau beli berapa kilo, dihitungnya perbutir. Kalau telurnya lagi besar-besar ya untung, kalau kecil-kecil? Yap, rugi, karena harganya sama.
Hhmm sekarang tentang makanan. Saya ini maniak bakso. Dan di sini susah nyari bakso,, hiks.. Di ajak suami makan bakso yang paling lumayan dan paling mirip dengan di Jawa, lumayan jauh. Rasa daging baksonya lumayan, tapi tetap saja disesuaikan dengan lidah orang Makassar, pakai buras (semacam lontong bersantan), lalu mi-nya menurut saya agak aneh. Kuning agak kering. Bukan belum matang, tapi memang segitulah matangnya. *Kangen bakso jawa..  
Begitulah, kata Sayyidina ‘Ali ra, jarang bertemu itu menumbuhkan rasa rindu. Mamah, ayah, kakak, aku kangen… hiks..
Suamikuuuuu cepet pulang yaaah ^_^ <3

Monday, October 15, 2012

Makassar Part 1: Pete-Pete dan Universitas Indonesia

12:02 PM 3 Comments


Bismillaahirrahmaanirrahiimm..
Sejak menikah dan pindah domisili ke Makassar, saya punya hobi baru, Saudara. Yes, Makassar, membuat saya punya hobi mandi. Panasnyeeeeuu manteb beneeeeerr… Kalau bukan karena ingin mendampingi suami dalam suka dan duka… *ciyeeeeegueeee :D
Berhubung Pulanu Sulawesi ini cukup jauh dari Jakarta kawan-kawan, sangat dapat dimaklumi banyak sekali perbedaan dan keunikan yang saya temukan di sini. Tulisan ini dibuat sebelum genap 1 pekan saya tinggal di sini (kurang 1 hari sih, hhe), tapi sebenarnya sudah lamaaaa saya ingin share, terutama untuk kawan-kawan yang tidak berdomisili di pulau ini, lebih terutama lagi buat kawan-kawan di Jabodetabek.
Yang pertama ya itu tadi. Di sini panasnya manataapp. Nyengat banget. Ngangkat jemuran aja saya payungan coba. Hehe, mungkin lebay, but it’s true dude! Kalau panasnya agak mendingan, ga pake payung sih, tapi teteeup mesti oles sunblock dulu >,< 
Di sini kendaraan bermotor banyak sekali. Bahkan becak yang di Bekasi masih digowes sama abangnya, di sini lebih banyak bentor, becak motor. Karena itulah, selain panas, di sini juga berdebu. Ada juga angkot. Di sini disebut pete-pete. Kalau di Jawa, rute angkot itu ditandai dengan angka atau kombinasi huruf dan angka, pete-pete rutenya pakai huruf. Pete-pete A, B, C, ….H, I, J…kurang tau deh sampai huruf apa. Tapi ada satu pete-pete yang pakai angka. Pete-pete 05, menuju kampus Universitas Hasanuddin. Lainnya tidak.
Ada lagi yang menarik dari pete-pete. Tarifnya, jauh-dekat Rp3.000,- Hhmm lumayan. Lumayan rugi maksudnya kalau tujuan kita dekat. Tapi kalau tujuan jauh sih nyamaaaann.. Hehe..kayak Trans Jakarta. Trus yaaa yang lebih unik lagi menurut saya, pete-pete ini rutenya customized. Tergantung permintaan penumpang. Makanya, jangan sampai lupa nanya abangnya sebelum naik, melewati tujuan kita atau tidak. Jadi tuh supir pete-pete rela mengambil jalan berputar yang jauh hanya untuk menurunkan satu atau dua penumpang yang request suatu tujuan. Ckckck, hebat, padahal bayarnya ga nambah, tapi mau aja mengorbankan bahan bakar dan waktu untuk mengantar. ^_^
Terus lagi nih, masih tentang pete-pete. Saya jadi ingat saudara saya yang punya angkot. Sehari, dua hari, tiga hari, angkotnya utuh. Hari keempat, radio sudah hilang, dijual sang supir. Ga usah nanya lagi tentang speaker deh. Kalau di sini, beda banget deh. Mereka menyediakan live music yang kebanyakan lagu daerahnya. Bahkan beberapa pete-pete dilengkapi dengan TV layar datar yang gede, memutarkan video klip dan lagu-lagu daerah, ditaruh di tempat penumpang. Subhanallaah, berarti untuk penumpang kan, bukan untuk si supir sendiri? Niat menghibur dan memberi pelayanan ekstra pada penumpang cukup perlu saya kasih jempol ;)

Naaaaah siapa di sini mahasiswa atau lulusan UI? Yeep Universitas Indonesia..
Suatu ketika suami saya pernah ditanya oleh orang Makassar asli, “Kuliah di mana Kita?” (‘kita’ berarti ‘kamu, anda’). Suami saya menjawab, “Di Universitas Indonesia”. Eeeh orang itu malah bertanya lagi, “Oh ada juga Universitas Indonesia di Jawa??”
Hahaaa saya pengen ketawa.. Ternyata di sini ada juga kawan, Universitas Indonesia Timur.
:D
Sekian dulu aaaaah, kapan-kapan sambung lagi.. Semoga segera. Saya rindu nge-blog, huhuu..

Friday, September 28, 2012

Pernikahan, Tanggal Baik, dan Gedung

2:38 PM 1 Comments
Suatu saat saya berdiskusi dengan seorang akhwat yang akan menikah beberapa bulan lagi. Dia sedang kebingungan mencari gedung untuk akad dan resepsi yang cocok dengan sebuah tanggal.
Keluarga akhwat itu sebenarnya tidak mempersoalkan tentang tanggal pernikahannya. Tapi dari keluarga calon mempelai pria meminta sebuah tanggal untuk pelaksanaan pernikahan, yang katanya tanggal baik. Dan harus tanggal segitu. *fyi, ga sampe 3 bulan lagi.
Si akhwat bingung, karena dia tidak menemukan gedung yang available pada tanggal itu. Maklum saja karena kalau mau di gedung, sekarang ini, harus booking dari jauh-jauh hari (bulan) karena kebanyakan sudah full booked. *curcol*. Kecuali kalau mau adain di rumah, tanggal berapa aja ya ga masalah..
Jadi, tanggal pernikahan bukan lagi ditentukan oleh perhitungan tanggal baik dan tanggal buruk (yang sebenarnya bukan dari ajaran Islam), melainkan oleh availabilitas *bahasa apa ini?* gedung. Catat.
Singkat cerita, keluarga pria tetap keukeuh untuk melaksanakan pernikahan pada tanggal itu. Di lain pihak, keluarga perempuan tidak menyanggupi untuk mengadakan acara pernikahan di rumah. Katanya juga, sudah sulit untuk dikompromikan karena saking keukeuhnya. 
Tapi hasil diskusi kami,
Ya sudah memang tidak perlu dikompromikan *apalagi keyakinannya kuat*. Katakan saja untuk tanggal segitu ga ada gedung. That's all.
Mau apa?
*hihi.. Itung-itung menyebarkan pola pikir rasional juga, bahwa 'perhitungan tanggal baik &buruk itu' tidak menentukan. PR juga ini untuk mempelai dan kita yang berpikiran sama, bahwa rumah tangga juga bisa sukses walaupun waktu menikah tidak pada tanggal "yang ditentukan" tersebut.
Semoga. Insya Allah.
*ditulis sehari sebelum menikah. Mohon doa restunya teman-teman.. :-)

Monday, September 10, 2012

5 to 7

7:44 PM 0 Comments

Syawal 1432H, 5 September 2011. Pagi-pagi karena takut macet, jam 7 sudah
sampai di UI.

K a n t o r  b a r u.  Deg-degan.

Syawal, 1433 H, 7 September 2012. Tumben sampai lewat maghrib masih di
kantor… menunggu si boru, saat terakhir.

Yak, saya resign saudara-saudara. Dikarenakan sebuah sebab yang teramat
mulia (ihiy). Berpamitan dengan kawan-kawan kerja, bapak-bapak, temen-temen
panitia K2N UI 2012 dan CBT UI 2012.

Ini resign yang sangat menyedihkan, Kawan. Aku belajar banyak sekali di
sini.

Kawan, tak ada manusia yang seutuhnya benar. Pasti ada salahnya. Maka,
ketika kau menganggap seseorang buruk, percayalah suatu saat dia bisa
menjadi orang yang sangat baik. BErbaik sangkalah selalu. =)

Tuesday, July 31, 2012

Wong Jogja

8:59 AM 4 Comments
7-13 Juli 2012. Surat tugas Pimnas berbunyi. Bersihnya, 8-12 Juli saya di Yogyakarta. Kota yang tenang, rapi, ramah, lengang, dan, ngebut. Hehe..
Warga Jogja yang kutandain di pikiran, adalah lembuuuuutt sekali. Seperti aku *hueks*. Saking nipunya nih penampakan, sampai dibilang, kamu tuh harusnya jadi putri jogja loh dek. Hihihi.. Ga semua orang laah perlu tau aslinya aku.. :D
Kalau menolong, puoooll. Di Jakarta mungkin hanya ditunjuki arah kalau kita bertanya lokasi toilet, misalnya. Di Jogja, diantar. Padahal sedang mengerjakan hal lain. Dan sebagainya. Tapi pernah juga sih diomelin tukang parkir waktu nanya jalan. Mbok ya kalau nanya tuh turun dulu, matikan mesin motornya, baru tanya... *hhe..kebiasaan di sini.
Secara umum, kondisi lalu lintas lancar.. Lengang.. Tak ada angkot. Semua pakai motor. Ada sih Transjogja, tapi nunggunyaaa laaammaaa.. Bisa setengah jam sendiri. Tapi kok tidak ada yang protes atau mengeluh.. Ckckckck.. Kayaknya mereka punya banyak sekali waktu untuk orang lain. Beda sekali dengan di sini yang kebanyakan individualis. Hihi..
Karena hampir ga ada angkot.. Ya sih jadi lancar. Tapi ke mana-mana jadi rempong. Alhamdulillah kami nyewa motor. Nah yang tidak?
Tapi memang sepenglihatan saya, hampir semua warga Jogja mengendarai motor. Ngebutnya kayaknya lebih parah daripada di Jakarta deh. Tapi rapi. Meski ada becak juga di jalan raya sekalipun. Kayaknya tiap hari ada razia polisi deh. Lalu kata kakak saya yang telah beberapa tahun di Jogja, warga Jogja itu patuh sekali dengan Sultan. Makanya tertib..
Lembut, suka menolong, santun, mengutamakan orang lain, dan mematuhi pemimpin. Begitu.

Thursday, June 14, 2012

kalah gesit

9:40 AM 2 Comments
Sedikit catatan pinggir menjadi bagian dari Kuliah Kerja Nyata (K2N) UI 2012.

12 Juni. Peserta, pendamping lapangan, dan beberapa panitia menginap di kantor. Sekitar 200 orang. Ga usah tanya tentang kamar mandi apalagi kamar tidur ya. Hehe..

Aku memilih pulang ke kosan. Jam 10 dari kantor (padahal biasa udah sleeping beauty jam9). Besoknya, jam 05.10 aku udah di kantor lagi. Cakep sendiri karena satu-satunya yang udah mandi.

Nah. Di pagi buta bada subuh itu aku melangkah dari kosan. Berniat nyari ojek karena kalau jalan kaki dijamin gelap dan seeppiiiiiii... Ojeknya, tak nampak satupun.

Lalu berjalan melewati jalan tikus dan saya tercengang.

Pengemis.

Dia sudah siap dengan 'pakaian dinas'nya, sedang merapikan 'wilayah kekuasaannya' untuk mulai 'bekerja'.

*yang terhormat malah, kalah gesit.

Ini bukan hanya tukang ojek. Saya sendiri malu.

13 juni 2012

Friday, May 25, 2012

apa artinya "SEMANGAT!!"

8:56 AM 13 Comments
Sebagian kita tampak terbiasa mengucapkan kata 'semangat' disertai dengan beberapa tanda seru atau intonasi suara dan ekspresi wajah yang ceria. Kadang sambil mengepalkan tinju di depan dada atau sambil menggenggam tangan kawan untuk seolah-olah menyalurkan tambahan energi.
Kita-kita yang demikian itu biasanya akan benar-benar bangkit atau setidaknya jadi punya keyakinan yang lebih positif dalam memandang hidup atau masalah. Bahwa harapan itu masih ada *eh*. Semangat!!
Tapi saya pernah dibuat gubrak juga oleh seorang kawan tentang semangat-menyemangati ini. Begini ceritanya.
Suatu hari, saya mengetahui kawan saya ini sedang sangat lelah dengan pekerjaannya dan sangat kekurangan waktu istirahatnya. Secara naluriah saya ingin mendukungnya dan berharap sedikit bisa membuatnya lebih baik, lebih semangat. Saya mengatakan, "Semangatt!!"
Jawabnya sambil sayu begini,
"Lagi ga butuh semangat, butuhnya tidur"
*@/#+#-&!!@$@^&^#@%&%^**/@*@-%+@*#/&#:?'!-!??+??!!!*
Saya jadi berpikir (dan berusaha mengabaikan perasaan tertolak). Tidak ada yang 'salah' sebenarnya dengan jawaban kawan saya itu. Tentu saja yang dia butuhkan hanya tidur. Istirahat. Bukan semangat untuk bekerja lagi dan lagi. Dia memang lelah.
Tapi niat dan perilaku kita memberinya semangat pun baik. Hanya saja,  tampaknya kita perlu menelisik lebih dalam ke hati kita.
Adakah kata-kata semangat yang kita berikan pada kawan kita itu tulus untuknya? Atau meluncur begitu saja karena sudah terlalu terbiasa?
Udah si, mau ngomong itu doang. Hehe..

Sunday, May 20, 2012

kangen

2:28 PM 4 Comments
Apa obat sariawan paling ampuh? Ya..sebut saja namanya *Lboth*L. Peeeerriiiihh banget. Semalam, adalah ketiga kalinya saya 'tersiksa' karena obat 'ampuh' itu. Pertama kalinya benar-benar merasa disiksa oleh kakak saya.

Kedua.. ga tau kenapa saya merasa harus menunggu beliau untuk melakukan itu. Ketiga apa lagi. Sengaja nunggu beliau datang ke rumah.

Sakit sih sakit. Banget. Tapi di sini saya menyadari satu hal. Ternyata itu bentuk ekspresi kangen saya sama kakak.. hihi..

Move The Box

1:27 PM 6 Comments
Dari dulu saya ga punya games di hp. Memang ga suka main aja. Kaku banget ya jadi orang? Hehe..

Sampai suatu malam acara saya melihat robot ijo punya kawan, entah mengapa saya jadi terdorong untuk punya dan mainin sebuah game: move the box.

Game ini tampak sederhana, menghabiskan kotak-kotak yang bertumpuk dalam 1, 2, atau 3 langkah. Tapi ternyata selain menstimulasi berpikir strategis, game ini banyak hikmahnya.Saya share satu dulu ya..

Kawan, seringkali kita mengeluh dengan terbatasnya kesempatan yang kita miliki. Lalu berandai, "coba saya punya kesempatan itu..", atau "sayang saya cuma punya ini. Coba kalau..." Nah, dari game ini, saya menyadari ternyata semakin banyak kesempatan atau pilihan yang bisa kita tempuh, maka semakin rumit juga jalan kita mencapai tujuan.

Contohnya begini. Katakanlah kita hanya punya 1 kesempatan, sekali jalan. Kita akan berfokus untuk menemukan kesempatan itu sekali saja. Sekali salah, ulangi sekali lagi. Syukur kalau sekali langsung benar.

Tapi kalau kita dikasih 2 kesempatan atau 2x jalan, selain memikirkan jalan yang benar, kita juga harus memikirkan 'kombinasi' kedua jalan itu agar mengarah pada tujuan yang benar. Mudahnya begini. Kalau kita punya kesempatan 2x jalan, kemungkinannya adalah ab atau ba. Mana yang benar? Kemungkinannya hanya 1:2. Kalau 3 lebih rumit lagi, berarti ada abc, acb, bac,bca,cab,cba. Peluang benar hanya 1:6, Saudara.. semakin kecil. *jadi ingat 3! = 3 x 2 x 1 = 6. ;D

Ini bukan tentang pasrah, Kawan. Semakin tinggi level kita sebagai manusia, tentu saja lebih rumit ujiannya. Tapi ini tentang bersyukur. Ketika baru punya 1fasilitas, syukuri dan optimalkan yang satu itu dulu. Baru meningkatkan kualitas kita. Nanti fasilitas akan mengikuti. Jangan baru-baru sudah mengeluh, yah, cuma satu. Ketika baru dikasih 1, mungkin itu artinya kita baru dianggap sanggup mengelola yang satu itu. Jangan sok bisa deh *lhoh

Kata ustadzah tadi pagi, kesyukuran itu berbanding lurus dengan kadar keimanan. Semakin tinggi imannya, semakin mudah bersyukur ia, semakin mudah ilmu Allah masuk ke dalam kalbunya.

Meski masih punya banyak keterbatasan, tetap semangat optimal yaaa ;)

Bekasi, 20 Mei 2012

Tuesday, May 8, 2012

diserupai, dipanggil-panggil

4:53 PM 2 Comments
Ada yang pernah melihat makhluk halus?

Alhamdulillah saya belum pernah. Tidak, semoga saja. Sama sekali tidak penasaran kok. Hehe..

*Setelah lama menghilang dari jagad per-MP-an, tiba-tiba saya datang dan membahas makhluk halus. Haha..*

Pemicunya, kemarin sore, Pak Bos yang sangat sopan itu memanggil ketika saya lewat, lalu bertanya, “Mbak Farah, selama di Situ Lembang, Mba Farah pernah gabung di barisan mahasiswa ga?”

Jadi, ceritanya, pekan kemarin Direktorat Kemahasiswaan UI bekerja sama dengan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD mengadakan Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa (LKMM) UI 2012, tanggal 25-29 April. Kami bermalam semalam di Pusdikpassus Batujajar, Bandung. Paginya kami menuju Pusdikpassus di Situ Lembang, Bandung Utara. Pesertanya ketua-ketua lembaga mahasiswa se-UI, dan kelompok eksekutif yang terdiri dari Manajer Mahalum, Karyawan Kemahasiswaan, dan Subdit PLK. Saya di kelompok eksekutif. Pernah gabung di kelompok mahasiswa beberapa kali di Batujajar.

Tapi tidak di Situ Lembang.

“Ga pernah Pak”, jawabku.

“Masak sih? Waktu itu saya ingat betul, Mba Farah ada di barisan mahasiswa, sedang melihat ke barisan eksekutif. Lalu saya tanya Mas Arman sambil menunjuk, ‘Mas, itu Mba Farah kan ya?’, Mas Arman Cuma ketawa ‘hehehe’. Di eksekutif yang berjilbab ada berapa?”

“Dua Pak, saya sama Dian aja” “Nah, waktu itu saya nengok juga ke belakang saya, eksekutif, yang berjilbab ada 2 kok”

Eng ing eeeeng!!

Haha.. fyi, kata orang Kopassus-nya, di sana memang angker, apalagi kalau lewat maghrib sampe malam, kalau menghitung barisan, suka lebih 1. Fyi lagi, Pusdikpassus Situ Lembang itu adanya di gunung, dikelilingi pegunungan Burangrang, dan hutan. Hutan yang masih ada harimau kumbang, orang utan, dan babi hutannya. Ada makhluk halusnya juga katanya. Damai-damai makanya, biar ga diganggu :D


Itu satu.

Saya jadi ingat kejadian lebih dari setahun yang lalu, di kantor saya yang lama, di daerah Thamrin. Ini kota.

Di suatu siang Februari 2011, semua karyawan keluar kantor menghadiri sebuah acara. Fyi, ruangan saya itu hanya dipisahkan pintu kaca dengan tangga dan pantry, di lantai 2. Di pantry itu, ada 2 orang OB, yang satu senior, lainnya baru.

Mereka mendengar, “Farah, Farah, Farah…”, suara yang agak pelo, ‘mencari’ saya dari arah ruang kerja saya. OB senior berkata pada juniornya, “Siapa tuh Dan, bilangin gih, mba Farah-nya udah turun”. Ehm. Dia senior ya, berpengalaman. Hehe.. Bisa menebak? Ya, OB junior tidak menemukan siapa-siapa di sana.

Ketika kami pulang, OB junior bercerita pada saya, “Mba, tadi ada yang manggil-manggil…”, dst. Ih wow.. Hhmm.. Oke. Singkat kata, saya memutuskan untuk melupakannya. Ternyata, kabar itu sudah menyebar ke seantero kantor.

“Farah, tadi kamu dipanggil ya?”

“Sama siapa?”, ini beneran nanya, kirain dipanggil bos atau siapa.

“Sama Mbak Han”.

Eeehhh!!

Haha.. Sempat serem juga sih waktu itu…

Tapi prinsip saya begini.

Kita ada, dan mereka pun ada. Masing-masing hidup di alam yang berbeda. Mereka bisa melihat kita, dan kita tidak bisa melihat mereka. Kecuali Di dalam diri kita ada mereka. Jadi selama masih ngaji tiap hari, nyantai aajaa ;)

Dari 2 cerita di atas, yang diganggu bukan saya kan? :D

Monday, February 27, 2012

Kelamaan

9:51 AM 4 Comments
Setelah beberapa waktu lalu saya posting tentang ‘Kebaruan’,
saya nemu tulisan lagi nih yang mudah-mudahan bisa melengkapi tulisan sebelumnya. Hehe.. Meskipun dari kata di judulnya bertolak-belakang (Kebaruan dan Kelamaan), Insya Allah isinya sama-sama positif dan semoga bisa menggerakkan.
Oh iya, ini tulisan seorang kawan, bukan tulisan saya ;) Cekidot.

Kelamaan

Disaksikan lapangan badminton dan satel kok...

Jika Anda penggemar timnas sepakbola Indonesia, pasti sangat gemas rasanya jika melihat seorang Boaz Salosa yang alih-alih menyepak bola malah pamer skill dalam "menggoreng" bola hingga akhirnya malah tersungkur mencium rumput karena ditekel bek lawan. Padahal banyak ruang terbuka untuk membuat gol. Sudah hampir pasti sesudahnya kita akan mendengar teriakan kekecewaan atau makian ala kebun binatang, dari penonton yang duduk di stadion maupun yang duduk (tidak lagi) manis di depan tipi...

.... Bagi pemirsa penikmat sinetron ababil (baca: abege labil), salah satu adegan yg sepertinya menjadi menu wajib adalah di mana seorang cowo ingin nembak cewe yang ia suka...tapi ga jadi padahal momennya udah pas dan bisa jadi cewenya juga suka tapi nunggu tuh cowok untuk berani bilang cinta...dan para remaja labil tersebut bergumam "b*go banget sih tuh cowo!”

.....Satu lagi momen yang mungkin akrab dengan kita (kita? Loe aja kali...) Adalah ketika secara tidak beruntung kita naek angkot yang sopirnya perfeksionis... Angkotnya ngetem dan hanya tersisa satu kursi...sopir pun memainkan gas...maju mundur seakan-akan angkot akan jalan...(Kalo menurut saya inilah salah satu keahlian sopir angkot...yaitu...kemampuan menggantung harapan para penumpang untuk tetap menunggu..sekedar 5 menit lagi yg kadang tanpa sadar menjadi 15 menit). Akhirnya waktu terus berjalan...dan keringat penumpang pun bermulai bercucuran seperti di iklan minuman berionisasi... alhasil alih-alih mendapatkan 1 penumpang si sopir perfeksionis,,,malah kehilangan seorang penumpang yg tanpa basa-basi lagi langsung hengkang dari tempat duduknya...mencari angkot lain yg GPL (ga pake lama).

Tiga ilustrasi di atas..adalah skenario yang membuat gemes, kesel, atau bahkan frustrasi jika ada di dalamnya. Bagaimana tidak ketika kita bisa jadi sangat dekat dengan peluang keberhasilan (apa pun tujuan yang ingin dicapai) akhirnya peluang tersebut malah lenyap karena eksekusi yang tak kunjung menjadi nyata...

Bisa jadi Allah menghadiahi kita dengan banyak sekali peluang keberhasilan tiap harinya...namun alih-alih menyambutnya kita malah lalai mensyukurinya dengan menyempurnakan ikhtiar...

Dan kebayang kan bisa jadi Tuhan sejak lama sudah amat sangat gemes dengan kita yang tak menyambut rencana-Nya untuk menjadikan kita orang besar... Jadi kalo ditanya kepada penulis berapa kali ia mengalami skenario seperti di atas jawabnya adalah ratusan (seperti jawaban seorang anak di iklan wafer tango).

Dan hanya Tuhanlah yang tahu seberapa gemes diri-Nya terhadap penulis... Penulis mendefinisikan fenomena di atas sebagai fenomena "kelamaan"...udah ah jangan kelamaan baca tulisan ini...siapa tahu Tuhan sudah tambah gemes kepada anda karena telah melewatkan satu peluang lagi...seperti kata Nike: just do it! Dan seperti kata Adidas: Impossible is Nothing....ayo jangan kelamaan (jerejebjeb...nusukmodeon).

***

Nah lhoo.. :D

Wednesday, February 15, 2012

Tidak Semua yang Beredar Terang-terangan itu Makanan Halal

12:15 PM 13 Comments
Akhir-akhir ini saya resah. Banyak sekali restoran tanpa sertifikat halal menjamur di mana-mana. Konsumennya, tidak lain banyak pula orang Islam, banyak muslimah berjilbab juga tampak menikmati.

Terlepas dari isu-isu yang digulirkan dalam persaingan usaha, menurut saya tetap sangat aneh kalau ada restoran halal yang tidak merasa perlu mengurus sertifikat halal dari MUI, sedangkan ia mengurus segala keperluan untuk mendapatkan izin BPOM. Ya ngga? Kalau warung-warung pinggir jalan dan usaha kecil, apalagi yang penjualnya kita kenal atau yakini pemahamannya tentang kehalalan, wajar saja, tidak mengurus sertifikat halal dari MUI, tidak pula mengurus izin BPOM. Modal terbatas. Belum ada merk. Tidak ada sumber daya untuk urus itu. Tapi untuk restoran besar yang hampir ada di setiap mall?

Masalahnya, masyarakat kita masih terlena. Saya baru menyadari waktu sedang keluar kantor dan mencari makan untuk pak supir. Saya sudah makan, pak supir belum, kawan saya mau makan lagi #dasar. Kawan saya yang non-muslim, tentu saja tidak masalah mau makan di mana. Dia mengajak ke s*laria. Saya dan pak supir solat dulu. Lalu sambil jalan, saya bilang, “Di KF* (junk food) aja yuk Pak, s*laria kan belum halal”. Nah si bapak kaget, “Hah, masak sih? Kok sudah beredar di mana-mana dan boleh-boleh aja??”

Nah itu dia, kebanyakan kita masih terlena dan belum berhati-hati. Tidak seperti di negara bukan muslim yang secara otomatis kita akan lebih selektif memilih makanan halal; di Indonesia, karena kebanyakan muslim, jadi orang merasanya aman-aman saja. Padahal tidak lho… Hati-hati banyak jebakan!

Kawan-kawan saya juga banyak yang baru menyadari. Saya juga bukannya sudah sadar dari dulu sih. Sering terjebak juga karena kurang hati-hati. Alias kurang concern dengan kehalalan makanan yang saya konsumsi. *sedih.

Hati-hati, selain makanan haram itu akan digodok di neraka (na’udzubillaahi min dzaalik), makanan haram yang dikonsumsi bisa menghambat terkabulnya doa juga lho *saksi.

Pernah dengar cerita tentang istijabahnya doa Sa’d bin Abi Waqqash?

Suatu ketika Rasulullah saw menawari Sa’d untuk beliau doakan. Bahasa kitanya, 'kamu mau kudoakan apa, Sa’d?' Kalau Nabi saw bertanya itu padamu, kamu mau minta apa? Kehidupan yang baik? Keluarga yang menjadi penyejuk mata? Bertetangga dengan beliau di surga?

Nah, cerdasnya Sa’d, ia menjawab, “Doakan aku ya Rasulullaah, agar doa-doaku sendiri mustajabah”. *Keren yah.

Lalu, apa kata Nabi saw.? “Bantulah aku hai Sa’d, dengan memperbaiki makananmu.” Dan Sa’d benar-benar menjadi orang yang selalu diijabah doanya.

Perbaiki makanan yuuuk!

Men are from Mars, Women are from Venus

7:49 AM 2 Comments
women from venus

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Reference
Author:John Gray, Ph.D, (1992, April 2009)
Yang terlintas dalam pikiran saya ketika membaca buku ini, yang pertama tentunya wajah ganteng abang saya, kemudian berturut-turut rekan-rekan pria saya, yang ternyata selama ini telah banyak saya zhalimi. Saya minta maaf T_____T

Maaf saya cerewet, saya tidak tau kalau banyak nasihat itu melukai harga diri pria yang konon katanya sangat penting itu. Saya sungguh kesulitan untuk ‘menerima’ kepribadian mereka apa adanya tanpa berusaha mengubahnya agar sesuai standar saya *kejam sekali ya saya.

Judul yang sangat unik untuk buku ini sangat membantu kita dalam mengingat isi buku ini. Meskipun suatu saat kita lupa isi buku ini, kesadaran bahwa laki-laki (Mars) dan perempuan (Venus) itu memang berbeda dapat membuat kita lebih sabar dan bijak dalam berinteraksi dengan lawan jenis, sehingga sangat membantu meminimalkan perselisihan.

Ya, ternyata ‘dua makhluk’ ini memang banyak bedanya. Ketika menghadapi masalah, laki-laki butuh masuk ke ”gua”nya; sedangkan perempuan, biasalah, bercerita adalah caranya untuk melepaskan ketegangan, bukan untuk mencari solusi.

Bagi laki-laki, memberi saran konkret ketika perempuan curhat adalah sebentuk dukungan, padahal dengan begitu si wanita malah merasa tidak dipahami; karena ia hanya butuh didengarkan.

Bagi perempuan, perhatian adalah sebentuk ekspresi cinta. Tapi bila laki-laki selalu diberi perhatian, ia akan risih. Perhatian-perhatian itu mengecilkan hatinya, karena ia merasa dianggap tidak mampu mengurus dirinya sendiri. Sssst, ini kita-kita aja ya, ternyata laki-laki punya kebutuhan untuk dikagumi lho. Haha, ternyata yah ^_^v

Untuk wanita: jangan cerewet memberi saran kalau tidak diminta!

Siklus emosi pria seperti karet gelang. Saat sudah dekat, ia melemas. Karena itu ia perlu meregang, menjauhkan hubungan sementara, agar ia bisa kembali dengan penuh ‘tenaga’ setelah regang terjauhnya *jadi sakit ih, kebayang keselepet karet :p. Sedangkan perempuan, siklusnya seperti gelombang (transversal, inget ga?) Naik-turun. Ketika turun, ia harus mencapai titik terendah dulu untuk bisa kembali naik lagi.

Jauh di dasar hatinya, pria mempunyai keyakinan keliru bahwa ia tidak cukup baik. Pria punya ketakutan untuk gagal. Semakin besar ia mencintai, semakin besar ketakutan itu. Dan perempuan, keyakinan kelirunya adalah ia tidak cukup layak untuk menerima, maka ia memberi terus-menerus, lalu lelah, memuncak, bisa meledak.

Di buku ini banyak sekali fakta lain tentang pria dan wanita yang saya baru tau hingga akhirnya menyadari kesalahan saya sebelumnya. Juga tips berkomunikasi yang efektif, karena ternyata pendengaran pria itu tidak sama dengan pendengaran wanita. Coba, apa bedanya ‘bisa tolongin saya bawa buku ini ga?’, dengan ‘mau tolongin saya bawa buku ini ga?’. Ternyata efeknya beda banget! Maklum saja, beda bahasa planetnya :D Maka untuk lebih informatif, baca ajaaa.. hehe.. buku penting!

Baca Juga: Populer Itu Penting

Sumber gambar: http://www.bukabuku.com/browses/product/9789796052103/men-are-from-mars-women-are-from-venus.html

Monday, February 13, 2012

Diet Carbo

12:59 PM 19 Comments
*uhuy banget judulnya*

Yaap, dua pekan ini saya coba-coba diet karbo. Bukannya sama sekali ga makan nasi sih.. Tapi saya hanya makan nasi waktu sarapan, karena sarapan adalah makan paling penting di mana energi sangat dibutuhkan untuk beraktivitas.

Bukan karena merasa gemuk sebenarnya. Begini ceritanya. Dari 4 orang di ruangan saya, 2 orang sedang diet. Lalu entah kenapa saya malah iseng dan suka ngeledek, caranya dengan makaaaaaaannn melulu.. Nah! Pas sampai rumah dan nimbang berat badan, o,ow, kualat nih, naik 2kg. hihi..

Tentunya rekan sepakat, jauh lebih mudah mengurangi berat badan ketika masih kelebihan 2kg, daripada nanti ketika sudah lebih 5 atau 10 kg kan? Jadilah saya ikutan temen saya yang diet karbo.

Sarapan makan normal. Siang makan sayur, tempe, atau tahu. Karena di kantor, males misahin duri ikan, jadi tempe tahu ajah. Hehe.. malamnya ga makan, diganjel buah atau bikin agar-agar. Pokoknya variasi gizi ada di sarapan. Pola ini ga sama dengan teman saya itu, tapi masing-masing lah ya..

Oh iya satu lagi. Kalau berangkat, saya biasa motong jalan lewat selasar balairung. Selama program ini, saya sengaja ga motong jalan, melainkan mengambil jalan melingkar yang lebih jauuuuuhhh… tujuannya, apalagi kalau bukan olahraga. Hihi, lumayan, dari kosan ke kantor bisa 25 menit jalan kaki, tiap hari, belum termasuk jalan kaki pas pulangnya :D

Alhamdulillaah, baru 3 hari, pas saya nimbang lagi, kok, udah turun ya 1,5kg? :D udahan ah dietnya. Haha, ini beneran bikin temen saya yang udah lama diet jadi sewot karena dia susah banget mau nurunin berat, sedangkan saya baru 3hari. Haha..

Tapi, udah mulai kebiasaan dan ngerasa enak dengan ga makan nasi. Jadi saya terusin. Bener loh kata orang-orang, perut lebih enak kalau ga makan nasi.

Banyak orang bilang, ‘Orang Indonesia mah belum makan namanya kalau belum makan nasi’. Padahal, nasi / beras kan bukan makanan asli Indonesia lho.. Kita impor bibitnya. Jadi ingat jaman kuliah Psikologi Lingkungan dulu. Makanan pokok asli Indonesia itu sagu, singkong, ubi, jagung. Sudah terberi, pengolahannya mudah dan biaya prosesnya jauuuuuhhh lebih murah daripada beras :D

*iseng

Tuesday, February 7, 2012

hikmah-1

1:38 PM 0 Comments
Bagaimanapun, *lhoh, tiba-tiba kok bagaimana*, di tengah kekalutan dan kegalauan serta kebingungan, aku bersyukur.

Tahukah engkau sahabatku,
Beliau baru saja menyatakan keseriusannya di hadapan keluargaku. Baru beliau sendiri, belum resmi membawa keluarganya.

Nah. Keluargaku langsung bergerak cepat mencari gedung melalui WO yang telah kami percayai. Tentang gedung. Budget. Tanggal. Budget lagi. Baru itu.

Sungguh kita semua telah tahu, sunnah kekasih kita saw. adalah mempercepat pernikahan setelah khitbah. Tapi apa daya ternyata gedung memiliki entahlah, semacam otoritas yang menentukan tanggal pernikahan kita.

Tidak keluar opsi untuk di rumah karena ternyata telah disepakati beliau juga, agar tidak mengurangi hak pemakai jalan *rumahku di pinggir jalan ramai. Tapi tidak juga ada opsi memilih gedung yang lebih sederhana atau terjangkau. Yang terbaik, sebisa mungkin.

Bingung lagi bahkan ketika tanggal sudah tidak bermasalah meskipun jadi lamaaaaa sekali. Biasalah, budget. Tapi kayaknya sih orang tuaku menyanggupi saja untuk porsi lebih besar. Tapi tetap saja tak enak dengan pihak prianya kecuali disepakati nantinya. Ya, aku dikasih pr untuk menanyakan tentang itu pada ayah. Tunggu besok.

Beliau, entah ya, menanggapinya dengan ringan sekali. Menyatakan ini situasi menantang, yang insya Allah tentu akan kita hadapi lagi di masa yang akan datang. Akupun tenang. Lebih lapang. Alhamdulillah.

Lalu pagi.
Pr dari beliau juga untuk mulai menanyakan kakakku tentang rincian budget pernikahannya beberapa waktu lalu. Lalu kulaporkan padanya rinci, via e-mail. Terlihat berat. Lalu apa tanggapannya?

"Wow, informasi yang menarik" dengan emoticon " ^^ "

Lalu menelfon, membicarakan hal itu.

Subhanallaah, Alhamdulillaah, bersyukur sungguh aku dipertemukan dengannya. Dan tentu saja berterima kasih terlalu banyak padamu.. Tenang, sabaaaaaaaarrr, lapaaaaaang, dewasaaaaaa, dan, berwibawa sekali. Bocah-bocah dalam diriku terdiam, menyisakan ruang untuk diri dewasaku.

Bismillaah.

Wednesday, January 25, 2012

MYELIN, Mobilisasi Intangibles Menjadi Kekuatan Perubahan

8:30 AM 2 Comments
rhenald kasali

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Professional & Technical
Author:Prof. Rhenald Kasali; 2010
Baca buku ini bikin pengen ambil Magister Manajemen / Knowledge Management deh. Hehe.. Beliau salah satu orang paling inspiratif buat saya. Seru kali yaaa jadi mahasiswanya ^_^

Mendengar kata myelin, saya langsung ingat pelajaran biologi bagian susunan sel syaraf. Myelin adalah selaput/membran sel syaraf yang membantu meneruskan informasi. Semakin tebal myelin, semakin cepat dan efektif informasi diteruskan.

Inilah yang dimaksudkan Prof. Rhenald Kasali dalam menjelaskan efek latihan yang terus-menerus (deep practice) yang akan memperkuat muscle memory, memori otot kita, yang selama ini sering kita kesampingkan dari brain memory.

Mudahnya begini. Apabila kita hanya menyimpan informasi di otak berupa pengetahuan, teori-teori, ideal, dan sistem-sistem; ketika butuh, kita perlu ‘memanggil’ dulu informasi itu, baru otak mengolah kemudian mengeluarkan perintah pada organ-organ lain yang terkait untuk bergerak. *iya kalau organ dimaksud cepat responnya. Kalau tidak? :p

Akan lain halnya bila informasi-informasi itu telah tersebar merata di seluruh tubuh –sel syaraf. Saat dibutuhkan, tubuh bisa langsung merespon tanpa menunggu perintah dan kordinasi dari otak dan anggota tubuh lainnya. Tugas pun selesai dengan gemilang :D

Nah. Myelin, muscle memory itu perlu dilatih. Bagi atlet, mungkin latihannya dengan latihan fisik yang sesuai. Namun bagi organisasi atau perusahaan, myelin perlu ditebalkan dengan melatih aset intangibles-nya, yaitu aset-aset berharga yang tak kasat mata seperti nilai-nilai positif organisasi, budaya disiplin, brand image, relationship, budaya intrapreneurship, inovasi, integritas, rela berkorban, dsb.

Buku ini banyak membahas hasil riset yang dilakukan penulis pada perusahaan nasional yang telah berhasil menggunakan intangibles-nya sebagai jembatan kesuksesan mereka. Sebut saja WIKA (PT Wijaya Karya) dan Blue Bird yang telah menjadi angkutan kepercayaan masyarakat. Selain itu Prof. Rhenald juga mengangkat banyak contoh orang dan perusahaan yang telah sukses mengelola intangibles-nya dan berhasil; seperti Susan Boyle, nenek-nenek pemenang Britain Got Talent (idol-nya english), Se Ri Pak (atlet tenis kebanggaan KorSel), Merck, Bank Mandiri, Google, Cadbury, talenta-talenta sepak bola di Brazil, hingga budaya Batik kebanggaan negeri kita.

Banyak hal penting lain yang dibahas buku ini untuk meningkatkan kesuksesan organisasi, seperti Knowledge Management yang diawali dari budaya mencatat, membangun budaya intrapreneurship, hingga mobilisasi intangibles nasional. Sebenarnya ingin sekali saya buat ringkasan karena bahasannya sangat menarik, tapi kok sulit ya menjadikannya ringkas? Hhe.. bacalah. Ini bukan hanya untuk pelaku-pelaku usaha korporasi maupun entrepreneur pemula, tapi menurut saya juga bisa diimplementasikan di manapun bidang kerja anda. Bahkan bagi anda yang bekerja di bidang pendidikan atau boleh juga untuk peningkatan kualitas pribadi anda sendiri.

Buku bagus, 2 jempol d(^o^)b

Baca Juga: Kaderisasi - Missing Link

Sumber Gambar: https://www.goodreads.com/book/show/8524163-myelin

Tidak (Selalu Tidak) Baik Kalau Dipaksakan

8:23 AM 4 Comments
Waktu kecil, kalau saya sedang malas belajar, terkait dengan ke-Maha Mengetahui-nya Allah akan segala bahasa, saya pernah diajarkan sebuah doa, “Allaahumma paksain”. Ya Allah, paksakan kami untuk melakukannya. Hhe..

Tapi orang-orang sering sekali bilang, ‘sesuatu itu bila dipaksakan tidak akan baik hasilnya’.

Tapi sekarang-sekarang ini saya sedang memaksa diri untuk melakukan banyak hal. Alhamdulillah bisa kok. Meski dipaksa.

Jadi?

Mungkin maksudnya ‘tidak akan baik bila dipaksa’, adalah seseorang akan berhasil mencapai tujuannya bukan karena ada orang lain yang memaksanya berusaha. Mungkin orang lain bisa saja menjadi pemicu semangatnya, seperti para motivator dan inspirator atau significant others seperti orang tua atau sahabat. Tapi tetap saja semangat dari luar itu tidak akan cukup konsisten untuk membuatnya terus berusaha sampai berhasil.

Orang-orang lain itu mungkin berhasil membuatnya memaksa dirinya sendiri untuk berubah. Semacam pemicu dari luar. Namun tetap saja, dirinya sendiri yang memaksanya berubah. “…sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…” (QS: Ar-Ra’d: 11)

Jadi, jangan perlakukan diri sendiri dengan manja dan cengeng yah!
Kalau malas, PAKSA! \(^o^)/

*lagi bener*

Thursday, January 19, 2012

Rajin Belajar Malas Ujian

10:19 AM 8 Comments
Ujian itu hanya menurunkan self esteem

“Saya sudah ingin S2 nih. Kepingin banget belajar lagi. Tapi belum kepingin ujiannya.”

Beberapa waktu lalu saya berbincang dengan ukhti-ukhti di kampus. Sejurusan. Lalu ketika saya mengungkapkan hal di atas, mereka serempak sepakat, “Betul, betul, ujian-ujian itu hanya menurunkan self esteem!” Haha, ketemu orang-orang setipe.

Kami senang belajar dan menikmati kuliah-kuliah kami. Mendengarkan dosen, membaca buku, berdiskusi, dan melakukan penelitian. Kami bersyukur bisa kuliah di jurusan itu dan mendapatkan banyak ilmu menarik. Tapi ketika ujian tiba dan hasil-hasil tertera dalam daftar nilai, beberapa mengecewakan.

Ini contoh saja. Saya menyukai mata kuliah Psikologi Klinis. Tapi review nilai selama beberapa semester membuat saya malas menaruh perhatian lebih lagi untuk mata kuliah itu. Karena nilai saya ternyata banyak yang jelek di bidang itu. Soal-soal ujian itu kok ya susah-susah banget, menurunkan self esteem saya yang awalnya bersemangat dan menyukai bidang ilmu tersebut.

Uhm..bisa digetok nih kalau teman saya baca ini. Dan dibilang, “Belajar yang serius makanya!” hehehe..

Jadi ketika tak berapa lama setelah lulus sidang skripsi saya membaca novel Negeri 5 Menara, saya menyesaaaaaalll sekali baru baca. Menyesal telah melewati berbagai ujian selama kuliah tanpa semangat membara seperti kisah Alif dkk di pesantren modernnya.

Ah sebenarnya, apakah ada yang salah dengan sistem ujian? Mungkin saja, karena sistem sekolah kita pun masih banyak sekali kekurangannya.

Jadi ingat tentang sebuah ‘sekolah’ di Jawa sana. Namanya Qaryah Thayyibah (Q-Tha). Sekolah yang tidak mengekang dan memenjara murid-muridnya dengan mempelajari teori-teori yang ada dalam kurikulum, melainkan sekolah yang membebaskan. Apa bakat dan minat anak, ke sanalah mereka dikembangkan. Tidak ada paksaan harus belajar apa atau untuk ujian apa. Hasilnya, peserta didik di sana terampil sejak dini.

*nih tulisan jadi kemana-mana deh. Maaf ya

Kebaruan

8:20 AM 7 Comments
Ibu saya punya sahabat, yang tak lain adalah tetangga kami berjarak 4 rumah. Kalau tiba-tiba ibu saya ‘menghilang’, ya paling ke rumah sahabatnya itu. Sudah tetanggaan, banyak aktivitas bareng, masih juga mereka saling menelfon kalau di rumah. Gak bosen-bosen.

Jadi ingat kata Anis Matta. Sebenarnya wajar saja kalau suami dan istri mengalami kebosanan satu sama lain. Wajar, kalau, keduanya tidak mengalami penambahan kualitas dari hari ke hari. Segitu-gitu aja. Dan itu-itu aja.

Jangankan sahabat atau pasangan, makanan yang paling enak sekalipun akan membosankan kalau dimakan setiap hari kan?

Saya pernah bertanya pada ibu saya, “Mah, Bu (sebut saja) Bunga itu belajar terus ya orangnya?” mengingat tidak ada bosannya ibu saya berinteraksi dengan beliau. Ibu saya tidak menjawab pasti, namun beliau tampak mengiyakan saat membandingkan dengan kawannya yang lain, yang hampir setiap hari menelfon juga (ibuku g4oL cuuuy :D). Katanya, kawan yang lain itu membosankan. Pembicaraannya itu-itu saja. Meski awalnya ibuku merasa dapat banyak hikmah dari cerita-ceritanya, namun karena diulang-ulang terus, jadinya sudah hafal dan bosan. Hhe..

Lain halnya dengan sahabat ibu saya di awal cerita ini. Mereka tidak bosan-bosannya berinteraksi, mengobrol, jalan bareng, atau melakukan aktivitas apapun bersama. Bahan pembicaraan / informasi / ilmu yang mereka bagi tak ada habisnya.

Karena, mereka belajar setiap hari. Bertemu guru yang berbeda untuk ilmu yang berbeda-beda, berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda, membaca dan berlatih ilmu yang berbeda-beda; jadi ada banyak hal baru yang bisa mereka bagi. That’s it. Kebaruan.
Semangat belajar kawan… =)

Wednesday, January 18, 2012

99 Cahaya Di Langit Eropa

7:23 AM 7 Comments
hanum rais

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Travel
Author:Hanum Salsabiela Rais&Rangga Almahendra
Katanya ini novel, tapi menurutku bukan. “Hanya” catatan perjalanan. Perjalanan fisik, mental, dan spiritual tapinya. Canggih. Bahwa jalan-jalan bisa memberi makna yang sangat dalam pada keberimanan kita. Adalah Hanum Salsabiela Rais yang mendampingi suaminya menjalani program studi doktoral di Eropa, menemukan hidayah dan kecintaannya pada Islam yang jauh melekat dibanding sebelumnya.

Buku ini menyenangkan sekali buat saya:

Pertama, ini buku tentang traveling that I love it so much.

Kedua, buku ini tentang menjelajah Eropa where I wanna go there sometime (harusnya sih tahun ini, taappiii… :D). Buku ini menjabarkan fakta-fakta sejarah yang selama ini terkubur dari ekspos media Barat yang tidak objektif.

Ketiga, istimewanya buku ini adalah tentang Jejak Islam di Eropa. Saat peradaban emas umat manusia yang pernah ditorehkan di muka bumi terwujud beberapa ratus tahun yang lalu.

Orang Eropa begitu bangga akan sejarahnya. Saking bangganya, sedikit sekali dari mereka yang masih sudi mengakui bahwa Eropa abad pertengahan adalah zaman kegelapan Eropa yang telah mengalami ameliorasi. Tentang abad pertengahan atau zaman kegelapan Eropa sudah banyak di antara kita yang tahu (asumsi), jadi ya sudahlah yaa. Hehe..

Tahukah Anda bahwa pada awalnya, julukan “The City of Light” bukanlah sebutan untuk kota Paris yang terkenal sebagai kota paling cantik? Dan tahukah Anda bahwa di kain kerudung Bunda Maria (dalam lukisan Ugolino yang asli) tersulam kalimat Tauhid?

Dan, tahukah Anda bahwa Le Grande Mosquee de Paris (Masjid Agung Paris) pernah menyelamatkan banyak warga Yahudi dari kejaran tentara Nazi Jerman? Atau tentang bangunan-bangunan istimewa di Paris yang dibangun oleh Napoleon sengaja dibangun membentuk 1 garis lurus (Axe Historique) membelah kota Paris, ternyata lurus menghadap kiblat di Makkah?

Atau tahukah Anda, bahwa bunga tulip yang khas Belanda itu bukan bunga asli Belanda, melainkan berasal dari Turki?

Wina, Paris, Cordoba dan Granada, serta Istanbul di Turki. Nyata sekali jejak peradaban emas Islam di sana. Kini estafet itu berada di tangan kita. Kita bisa menjayakan Islam kembali di muka bumi dengan menjadi agen muslim yang baik. Yang menjadi rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya bagi sesama muslim. Yang dengannya berdakwah menyentuh dan menyucikan hati manusia.

Seperti para sahabat radhiyallahu 'anhuma yang melakukan ekspansi di bawah kekhalifahan Islam dahulu, berdakwah dengan tulus, ikhlas karena Allah bukan kekuasaan, memimpin dengan adil, dan melindungi warganya bahkan yang bukan muslim, yang menyerahkan perlindungannya pada pemerintahan Islam. Dengan cara itu justru banyak hati yang terpikat dengan hidayah, karena agen-agen Islam yang total mencerminkan agamanya.

Lagi lagi, perbaiki akhlaq kita. Dan jadilah agen-agen muslim yang baik :)

Depok, 17 Januari 2012

Baca Juga: Ruang-ruang Hati

Sumber Gambar: http://www.bukukita.com/Buku-Novel/Islam/146055-99-Cahaya-di-Langit-Eropa:-Perjalanan-Menapak-Jejak-Islam-di-Eropa.html

Dalam Dekapan Ukhuwah

7:15 AM 2 Comments
salim fillah

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Salim A. Fillah, 2010
Seperti karya Salim lainnya, buku ini sangat sarat dengan cerita dan referensi yang mendukung untuk menambah kenyamanan pembaca. Namun kali ini, saya tidak akan banyak menyarikan isi buku, supaya pada tertarik beli langsung *ngeles :D

Satu hal yang pasti ketika dan setelah membaca buku ini; saya jadi makin memaknai yang namanya persaudaraan dalam iman, ukhuwah Islamiyah. Jadi makin menyayangi saudara-saudari yang selama ini mengiringi langkah, di samping maupun di belahan benua yang lain. Dan saya semakin menyadari, bahwa saya sama sekali belum memberikan apapun pada mereka, yang tadi saya sebut, ‘saya sayangi’.

Yang jelas, selama ini saya masih senang memenangkan pendapat sendiri, atas nama kebenaran, meskipun mungkin agak mengenyampingkan perasaan orang lain. Atas ini saya mohon maaf sebanyak-banyaknya ya Saudara…

Penulis memang lahir dan tumbuh besar di Yogyakarta, daerah yang seperti Jawa Tengah pada umumnya, sangat mengutamakan kenyamanan hati orang lain. Meskipun beberapa kali saya menemukan yang berlebihan, sampai tidak berani menyatakan pendapat walaupun yakin pendapatnya benar.

Sedangkan saya, saya cenderung mengikuti karakter ayah yang dari Jawa Timur, yang cenderung tegas dan terbuka mengemukakan pendapat atau hal-hal yang menurut kami benar.

Tapi kurasa, kedua budaya itu memang ada baik dan kurang baiknya. Maka Islam menyempurnakannya. Tengah-tengah.

Bagaimana menyampaikan kebenaran dengan tetap memperhatikan kenyamanan hati saudara kita. (Ini PR saya dari dulu; suka judes. Hhe)

Yang penting, jangan ada sakit di hati orang-orang yang sebenarnya ingin kita ajak pada kebaikan.

Yang penting, seberapapun kita berbeda watak dan karakter, kemuliaan akhlaq muslim haruslah jadi acuan utama.

Perbaiki akhlaq, Nona. Karena sesungguhnya Rasulmu Muhammad saw diutus untuk menyempurnakan akhlaq. Dan kau mengaku-aku pengikutnya.

Bismillah. Mohon maaf kalau saya banyak salah.. mohon maaf dan mohon ingatkan juga kalau suatu hari di depan saya berbuat kesalahan yang sama juga.

Baca Juga: Suami-suami Jauh dari Istri

Sumber Gambar: http://www.tokobukuikhwan.com/2015/01/buku-dalam-dekapan-ukhuwah.html

Monday, January 2, 2012

Roseto, Penyakit Jantung, dan SIlaturrahim

11:06 AM 4 Comments
malcolm gladwell

Roseto, adalah sebuah kota di Pennsylvania yang namanya diambil dari desa asal penduduknya yang berimigrasi ke Amerika Serikat, dari Italia, sekitar tahun 1882. Kota ini mandiri. Pertanian, perkebunan, dan industri-industri yang mendukung kehidupan mereka didirikan.

Seorang dokter mengungkapkan bahwa dalam 17 tahun karirnya di kota itu, ia jarang sekali menemukan penduduk kota itu yang berusia di bawah 65 tahun yang mengidap penyakit jantung. Fakta ini sangat mengejutkan rekannya sesama dokter, mengingat penyakit jantung dan kolesterol saat itu (pun saat ini) menjadi pembunuh nomor 1 di dunia.

Rekan dokter tersebut membuat sebuah penelitian untuk mengungkap hal tersebut. Dari seluruh penduduk Roseta, sampel darah yang diambil nyaris seluruhnya sehat. Penelitian yang juga melibatkan sosiolog ini juga memperlihatkan fakta bahwa mereka sama sekali tidak melakukan diet, bahkan pola makannya penuh gula, lemak, dan kolesterol. Sebagai gambaran, sebanyak 41% sumber kalori mereka adalah lemak. Mereka memasak dengan lemak babi, membuat pizza yang penuh kolesterol, manisan sebagai camilan setiap hari, sebagiannya perokok berat, sebagian lain mengalami masalah obesitas yang serius. Tidak juga ada kekebalan gen terhadap penyakit. Tidak juga mereka rajin berolah raga.

Dalam kebuntuan, para peneliti ini bersantai dengan berjalan-jalan di kota itu. Aaah, ada sesuatu yang berbeda ternyata. Penduduk Roseto mempunyai kebiasaan saling berkunjung ke tetangga, menyapa dan berbincang-bincang, memasak untuk tetangga mereka, tinggal beberapa generasi di bawah 1 atap, dan mereka menunjukkan sikap sangat hormat kepada orang tua dan kakek nenek. Kesehatan komunitas. Ternyata ini. (Outliers, Rahasia di Balik Sukses, Malcolm Gladwell, 2009)

Menarik. Apalagi ketika saya menemukan ulasan lain. Atau kalau masih bingung, sabar ya, cekidot ;)

Adalah seorang dokter spesialis jantung, yang menemukan fakta bahwa daya tahan terhadap serangan jantung ternyata tidak berhubungan langsung dengan pola makan, gaya hidup, bahkan tekanan yang dialami seseorang dalam kehidupan bermasyarakat.

Justru, orang-orang yang lebih lemah daya tahan jantungnya adalah mereka yang tinggal menyendiri dengan tenteram, mapan, dan nyaris tanpa masalah hidup.

Melalui penelitian rekam detak jantungnya, sang dokter menemukan orang-orang yang aktif dan banyak terhubung dengan sesama manusia dalam sehari mengalami berbagai emosi yang variatif; tertawa, bersemangat, optimis, kecewa, takut, tegang, dan bersedih, juga marah, semuanya sangat emosional, yang disebabkan oleh hubungan sosial bersama keluarga, teman, dan masyarakatnya.

Jantung mereka bekerja lebih keras setiap hari, tapi ternyata itulah yang membuat mereka mempunyai daya tahan jantung yang kuat. Jantung mereka senantiasa ‘berolahraga’ sehingga menjadi kuat dan terlatih. Orang-orang ini tidak perlu khawatir akan terkena serangan jantung suatu hari nanti. Jantung mereka sangat-sangat sehat.

Jadi, untuk meningkatkan daya tahan jantung kita, perbanyaklah hubungan dengan orang lain, rasakan getar-getar emosi bersama mereka, lakukan hal yang variatif dan berbeda dalam hidup, demikian saran sang dokter. (Dalam Dekapan Ukhuwah, Salim A. FIllah, 2010)

Jadi, benar ya sabda Rasul saw., bahwa silaturrahim selain meluaskan rizki, juga memanjangkan umur. Secara eksplisit bahkan. Subhanallaah.

*Allaahumma shalli 'alaa Muhammad

Baca Juga: Myelin; Mobilisasi Intangibles Menjadi Kekuatan Perubahan

Sumber Gambar: http://putrichairina.com/2009/07/23/outliers-rahasia-di-balik-sukses-oleh-malcolm-gladwell/