Follow Us @farahzu

Sunday, May 20, 2012

Move The Box

1:27 PM 6 Comments
Dari dulu saya ga punya games di hp. Memang ga suka main aja. Kaku banget ya jadi orang? Hehe..

Sampai suatu malam acara saya melihat robot ijo punya kawan, entah mengapa saya jadi terdorong untuk punya dan mainin sebuah game: move the box.

Game ini tampak sederhana, menghabiskan kotak-kotak yang bertumpuk dalam 1, 2, atau 3 langkah. Tapi ternyata selain menstimulasi berpikir strategis, game ini banyak hikmahnya.Saya share satu dulu ya..

Kawan, seringkali kita mengeluh dengan terbatasnya kesempatan yang kita miliki. Lalu berandai, "coba saya punya kesempatan itu..", atau "sayang saya cuma punya ini. Coba kalau..." Nah, dari game ini, saya menyadari ternyata semakin banyak kesempatan atau pilihan yang bisa kita tempuh, maka semakin rumit juga jalan kita mencapai tujuan.

Contohnya begini. Katakanlah kita hanya punya 1 kesempatan, sekali jalan. Kita akan berfokus untuk menemukan kesempatan itu sekali saja. Sekali salah, ulangi sekali lagi. Syukur kalau sekali langsung benar.

Tapi kalau kita dikasih 2 kesempatan atau 2x jalan, selain memikirkan jalan yang benar, kita juga harus memikirkan 'kombinasi' kedua jalan itu agar mengarah pada tujuan yang benar. Mudahnya begini. Kalau kita punya kesempatan 2x jalan, kemungkinannya adalah ab atau ba. Mana yang benar? Kemungkinannya hanya 1:2. Kalau 3 lebih rumit lagi, berarti ada abc, acb, bac,bca,cab,cba. Peluang benar hanya 1:6, Saudara.. semakin kecil. *jadi ingat 3! = 3 x 2 x 1 = 6. ;D

Ini bukan tentang pasrah, Kawan. Semakin tinggi level kita sebagai manusia, tentu saja lebih rumit ujiannya. Tapi ini tentang bersyukur. Ketika baru punya 1fasilitas, syukuri dan optimalkan yang satu itu dulu. Baru meningkatkan kualitas kita. Nanti fasilitas akan mengikuti. Jangan baru-baru sudah mengeluh, yah, cuma satu. Ketika baru dikasih 1, mungkin itu artinya kita baru dianggap sanggup mengelola yang satu itu. Jangan sok bisa deh *lhoh

Kata ustadzah tadi pagi, kesyukuran itu berbanding lurus dengan kadar keimanan. Semakin tinggi imannya, semakin mudah bersyukur ia, semakin mudah ilmu Allah masuk ke dalam kalbunya.

Meski masih punya banyak keterbatasan, tetap semangat optimal yaaa ;)

Bekasi, 20 Mei 2012

Tuesday, May 8, 2012

diserupai, dipanggil-panggil

4:53 PM 2 Comments
Ada yang pernah melihat makhluk halus?

Alhamdulillah saya belum pernah. Tidak, semoga saja. Sama sekali tidak penasaran kok. Hehe..

*Setelah lama menghilang dari jagad per-MP-an, tiba-tiba saya datang dan membahas makhluk halus. Haha..*

Pemicunya, kemarin sore, Pak Bos yang sangat sopan itu memanggil ketika saya lewat, lalu bertanya, “Mbak Farah, selama di Situ Lembang, Mba Farah pernah gabung di barisan mahasiswa ga?”

Jadi, ceritanya, pekan kemarin Direktorat Kemahasiswaan UI bekerja sama dengan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD mengadakan Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa (LKMM) UI 2012, tanggal 25-29 April. Kami bermalam semalam di Pusdikpassus Batujajar, Bandung. Paginya kami menuju Pusdikpassus di Situ Lembang, Bandung Utara. Pesertanya ketua-ketua lembaga mahasiswa se-UI, dan kelompok eksekutif yang terdiri dari Manajer Mahalum, Karyawan Kemahasiswaan, dan Subdit PLK. Saya di kelompok eksekutif. Pernah gabung di kelompok mahasiswa beberapa kali di Batujajar.

Tapi tidak di Situ Lembang.

“Ga pernah Pak”, jawabku.

“Masak sih? Waktu itu saya ingat betul, Mba Farah ada di barisan mahasiswa, sedang melihat ke barisan eksekutif. Lalu saya tanya Mas Arman sambil menunjuk, ‘Mas, itu Mba Farah kan ya?’, Mas Arman Cuma ketawa ‘hehehe’. Di eksekutif yang berjilbab ada berapa?”

“Dua Pak, saya sama Dian aja” “Nah, waktu itu saya nengok juga ke belakang saya, eksekutif, yang berjilbab ada 2 kok”

Eng ing eeeeng!!

Haha.. fyi, kata orang Kopassus-nya, di sana memang angker, apalagi kalau lewat maghrib sampe malam, kalau menghitung barisan, suka lebih 1. Fyi lagi, Pusdikpassus Situ Lembang itu adanya di gunung, dikelilingi pegunungan Burangrang, dan hutan. Hutan yang masih ada harimau kumbang, orang utan, dan babi hutannya. Ada makhluk halusnya juga katanya. Damai-damai makanya, biar ga diganggu :D


Itu satu.

Saya jadi ingat kejadian lebih dari setahun yang lalu, di kantor saya yang lama, di daerah Thamrin. Ini kota.

Di suatu siang Februari 2011, semua karyawan keluar kantor menghadiri sebuah acara. Fyi, ruangan saya itu hanya dipisahkan pintu kaca dengan tangga dan pantry, di lantai 2. Di pantry itu, ada 2 orang OB, yang satu senior, lainnya baru.

Mereka mendengar, “Farah, Farah, Farah…”, suara yang agak pelo, ‘mencari’ saya dari arah ruang kerja saya. OB senior berkata pada juniornya, “Siapa tuh Dan, bilangin gih, mba Farah-nya udah turun”. Ehm. Dia senior ya, berpengalaman. Hehe.. Bisa menebak? Ya, OB junior tidak menemukan siapa-siapa di sana.

Ketika kami pulang, OB junior bercerita pada saya, “Mba, tadi ada yang manggil-manggil…”, dst. Ih wow.. Hhmm.. Oke. Singkat kata, saya memutuskan untuk melupakannya. Ternyata, kabar itu sudah menyebar ke seantero kantor.

“Farah, tadi kamu dipanggil ya?”

“Sama siapa?”, ini beneran nanya, kirain dipanggil bos atau siapa.

“Sama Mbak Han”.

Eeehhh!!

Haha.. Sempat serem juga sih waktu itu…

Tapi prinsip saya begini.

Kita ada, dan mereka pun ada. Masing-masing hidup di alam yang berbeda. Mereka bisa melihat kita, dan kita tidak bisa melihat mereka. Kecuali Di dalam diri kita ada mereka. Jadi selama masih ngaji tiap hari, nyantai aajaa ;)

Dari 2 cerita di atas, yang diganggu bukan saya kan? :D

Monday, February 27, 2012

Kelamaan

9:51 AM 4 Comments
Setelah beberapa waktu lalu saya posting tentang ‘Kebaruan’,
saya nemu tulisan lagi nih yang mudah-mudahan bisa melengkapi tulisan sebelumnya. Hehe.. Meskipun dari kata di judulnya bertolak-belakang (Kebaruan dan Kelamaan), Insya Allah isinya sama-sama positif dan semoga bisa menggerakkan.
Oh iya, ini tulisan seorang kawan, bukan tulisan saya ;) Cekidot.

Kelamaan

Disaksikan lapangan badminton dan satel kok...

Jika Anda penggemar timnas sepakbola Indonesia, pasti sangat gemas rasanya jika melihat seorang Boaz Salosa yang alih-alih menyepak bola malah pamer skill dalam "menggoreng" bola hingga akhirnya malah tersungkur mencium rumput karena ditekel bek lawan. Padahal banyak ruang terbuka untuk membuat gol. Sudah hampir pasti sesudahnya kita akan mendengar teriakan kekecewaan atau makian ala kebun binatang, dari penonton yang duduk di stadion maupun yang duduk (tidak lagi) manis di depan tipi...

.... Bagi pemirsa penikmat sinetron ababil (baca: abege labil), salah satu adegan yg sepertinya menjadi menu wajib adalah di mana seorang cowo ingin nembak cewe yang ia suka...tapi ga jadi padahal momennya udah pas dan bisa jadi cewenya juga suka tapi nunggu tuh cowok untuk berani bilang cinta...dan para remaja labil tersebut bergumam "b*go banget sih tuh cowo!”

.....Satu lagi momen yang mungkin akrab dengan kita (kita? Loe aja kali...) Adalah ketika secara tidak beruntung kita naek angkot yang sopirnya perfeksionis... Angkotnya ngetem dan hanya tersisa satu kursi...sopir pun memainkan gas...maju mundur seakan-akan angkot akan jalan...(Kalo menurut saya inilah salah satu keahlian sopir angkot...yaitu...kemampuan menggantung harapan para penumpang untuk tetap menunggu..sekedar 5 menit lagi yg kadang tanpa sadar menjadi 15 menit). Akhirnya waktu terus berjalan...dan keringat penumpang pun bermulai bercucuran seperti di iklan minuman berionisasi... alhasil alih-alih mendapatkan 1 penumpang si sopir perfeksionis,,,malah kehilangan seorang penumpang yg tanpa basa-basi lagi langsung hengkang dari tempat duduknya...mencari angkot lain yg GPL (ga pake lama).

Tiga ilustrasi di atas..adalah skenario yang membuat gemes, kesel, atau bahkan frustrasi jika ada di dalamnya. Bagaimana tidak ketika kita bisa jadi sangat dekat dengan peluang keberhasilan (apa pun tujuan yang ingin dicapai) akhirnya peluang tersebut malah lenyap karena eksekusi yang tak kunjung menjadi nyata...

Bisa jadi Allah menghadiahi kita dengan banyak sekali peluang keberhasilan tiap harinya...namun alih-alih menyambutnya kita malah lalai mensyukurinya dengan menyempurnakan ikhtiar...

Dan kebayang kan bisa jadi Tuhan sejak lama sudah amat sangat gemes dengan kita yang tak menyambut rencana-Nya untuk menjadikan kita orang besar... Jadi kalo ditanya kepada penulis berapa kali ia mengalami skenario seperti di atas jawabnya adalah ratusan (seperti jawaban seorang anak di iklan wafer tango).

Dan hanya Tuhanlah yang tahu seberapa gemes diri-Nya terhadap penulis... Penulis mendefinisikan fenomena di atas sebagai fenomena "kelamaan"...udah ah jangan kelamaan baca tulisan ini...siapa tahu Tuhan sudah tambah gemes kepada anda karena telah melewatkan satu peluang lagi...seperti kata Nike: just do it! Dan seperti kata Adidas: Impossible is Nothing....ayo jangan kelamaan (jerejebjeb...nusukmodeon).

***

Nah lhoo.. :D

Wednesday, February 15, 2012

Tidak Semua yang Beredar Terang-terangan itu Makanan Halal

12:15 PM 13 Comments
Akhir-akhir ini saya resah. Banyak sekali restoran tanpa sertifikat halal menjamur di mana-mana. Konsumennya, tidak lain banyak pula orang Islam, banyak muslimah berjilbab juga tampak menikmati.

Terlepas dari isu-isu yang digulirkan dalam persaingan usaha, menurut saya tetap sangat aneh kalau ada restoran halal yang tidak merasa perlu mengurus sertifikat halal dari MUI, sedangkan ia mengurus segala keperluan untuk mendapatkan izin BPOM. Ya ngga? Kalau warung-warung pinggir jalan dan usaha kecil, apalagi yang penjualnya kita kenal atau yakini pemahamannya tentang kehalalan, wajar saja, tidak mengurus sertifikat halal dari MUI, tidak pula mengurus izin BPOM. Modal terbatas. Belum ada merk. Tidak ada sumber daya untuk urus itu. Tapi untuk restoran besar yang hampir ada di setiap mall?

Masalahnya, masyarakat kita masih terlena. Saya baru menyadari waktu sedang keluar kantor dan mencari makan untuk pak supir. Saya sudah makan, pak supir belum, kawan saya mau makan lagi #dasar. Kawan saya yang non-muslim, tentu saja tidak masalah mau makan di mana. Dia mengajak ke s*laria. Saya dan pak supir solat dulu. Lalu sambil jalan, saya bilang, “Di KF* (junk food) aja yuk Pak, s*laria kan belum halal”. Nah si bapak kaget, “Hah, masak sih? Kok sudah beredar di mana-mana dan boleh-boleh aja??”

Nah itu dia, kebanyakan kita masih terlena dan belum berhati-hati. Tidak seperti di negara bukan muslim yang secara otomatis kita akan lebih selektif memilih makanan halal; di Indonesia, karena kebanyakan muslim, jadi orang merasanya aman-aman saja. Padahal tidak lho… Hati-hati banyak jebakan!

Kawan-kawan saya juga banyak yang baru menyadari. Saya juga bukannya sudah sadar dari dulu sih. Sering terjebak juga karena kurang hati-hati. Alias kurang concern dengan kehalalan makanan yang saya konsumsi. *sedih.

Hati-hati, selain makanan haram itu akan digodok di neraka (na’udzubillaahi min dzaalik), makanan haram yang dikonsumsi bisa menghambat terkabulnya doa juga lho *saksi.

Pernah dengar cerita tentang istijabahnya doa Sa’d bin Abi Waqqash?

Suatu ketika Rasulullah saw menawari Sa’d untuk beliau doakan. Bahasa kitanya, 'kamu mau kudoakan apa, Sa’d?' Kalau Nabi saw bertanya itu padamu, kamu mau minta apa? Kehidupan yang baik? Keluarga yang menjadi penyejuk mata? Bertetangga dengan beliau di surga?

Nah, cerdasnya Sa’d, ia menjawab, “Doakan aku ya Rasulullaah, agar doa-doaku sendiri mustajabah”. *Keren yah.

Lalu, apa kata Nabi saw.? “Bantulah aku hai Sa’d, dengan memperbaiki makananmu.” Dan Sa’d benar-benar menjadi orang yang selalu diijabah doanya.

Perbaiki makanan yuuuk!

Men are from Mars, Women are from Venus

7:49 AM 2 Comments
women from venus

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Reference
Author:John Gray, Ph.D, (1992, April 2009)
Yang terlintas dalam pikiran saya ketika membaca buku ini, yang pertama tentunya wajah ganteng abang saya, kemudian berturut-turut rekan-rekan pria saya, yang ternyata selama ini telah banyak saya zhalimi. Saya minta maaf T_____T

Maaf saya cerewet, saya tidak tau kalau banyak nasihat itu melukai harga diri pria yang konon katanya sangat penting itu. Saya sungguh kesulitan untuk ‘menerima’ kepribadian mereka apa adanya tanpa berusaha mengubahnya agar sesuai standar saya *kejam sekali ya saya.

Judul yang sangat unik untuk buku ini sangat membantu kita dalam mengingat isi buku ini. Meskipun suatu saat kita lupa isi buku ini, kesadaran bahwa laki-laki (Mars) dan perempuan (Venus) itu memang berbeda dapat membuat kita lebih sabar dan bijak dalam berinteraksi dengan lawan jenis, sehingga sangat membantu meminimalkan perselisihan.

Ya, ternyata ‘dua makhluk’ ini memang banyak bedanya. Ketika menghadapi masalah, laki-laki butuh masuk ke ”gua”nya; sedangkan perempuan, biasalah, bercerita adalah caranya untuk melepaskan ketegangan, bukan untuk mencari solusi.

Bagi laki-laki, memberi saran konkret ketika perempuan curhat adalah sebentuk dukungan, padahal dengan begitu si wanita malah merasa tidak dipahami; karena ia hanya butuh didengarkan.

Bagi perempuan, perhatian adalah sebentuk ekspresi cinta. Tapi bila laki-laki selalu diberi perhatian, ia akan risih. Perhatian-perhatian itu mengecilkan hatinya, karena ia merasa dianggap tidak mampu mengurus dirinya sendiri. Sssst, ini kita-kita aja ya, ternyata laki-laki punya kebutuhan untuk dikagumi lho. Haha, ternyata yah ^_^v

Untuk wanita: jangan cerewet memberi saran kalau tidak diminta!

Siklus emosi pria seperti karet gelang. Saat sudah dekat, ia melemas. Karena itu ia perlu meregang, menjauhkan hubungan sementara, agar ia bisa kembali dengan penuh ‘tenaga’ setelah regang terjauhnya *jadi sakit ih, kebayang keselepet karet :p. Sedangkan perempuan, siklusnya seperti gelombang (transversal, inget ga?) Naik-turun. Ketika turun, ia harus mencapai titik terendah dulu untuk bisa kembali naik lagi.

Jauh di dasar hatinya, pria mempunyai keyakinan keliru bahwa ia tidak cukup baik. Pria punya ketakutan untuk gagal. Semakin besar ia mencintai, semakin besar ketakutan itu. Dan perempuan, keyakinan kelirunya adalah ia tidak cukup layak untuk menerima, maka ia memberi terus-menerus, lalu lelah, memuncak, bisa meledak.

Di buku ini banyak sekali fakta lain tentang pria dan wanita yang saya baru tau hingga akhirnya menyadari kesalahan saya sebelumnya. Juga tips berkomunikasi yang efektif, karena ternyata pendengaran pria itu tidak sama dengan pendengaran wanita. Coba, apa bedanya ‘bisa tolongin saya bawa buku ini ga?’, dengan ‘mau tolongin saya bawa buku ini ga?’. Ternyata efeknya beda banget! Maklum saja, beda bahasa planetnya :D Maka untuk lebih informatif, baca ajaaa.. hehe.. buku penting!

Baca Juga: Populer Itu Penting

Sumber gambar: http://www.bukabuku.com/browses/product/9789796052103/men-are-from-mars-women-are-from-venus.html

Monday, February 13, 2012

Diet Carbo

12:59 PM 19 Comments
*uhuy banget judulnya*

Yaap, dua pekan ini saya coba-coba diet karbo. Bukannya sama sekali ga makan nasi sih.. Tapi saya hanya makan nasi waktu sarapan, karena sarapan adalah makan paling penting di mana energi sangat dibutuhkan untuk beraktivitas.

Bukan karena merasa gemuk sebenarnya. Begini ceritanya. Dari 4 orang di ruangan saya, 2 orang sedang diet. Lalu entah kenapa saya malah iseng dan suka ngeledek, caranya dengan makaaaaaaannn melulu.. Nah! Pas sampai rumah dan nimbang berat badan, o,ow, kualat nih, naik 2kg. hihi..

Tentunya rekan sepakat, jauh lebih mudah mengurangi berat badan ketika masih kelebihan 2kg, daripada nanti ketika sudah lebih 5 atau 10 kg kan? Jadilah saya ikutan temen saya yang diet karbo.

Sarapan makan normal. Siang makan sayur, tempe, atau tahu. Karena di kantor, males misahin duri ikan, jadi tempe tahu ajah. Hehe.. malamnya ga makan, diganjel buah atau bikin agar-agar. Pokoknya variasi gizi ada di sarapan. Pola ini ga sama dengan teman saya itu, tapi masing-masing lah ya..

Oh iya satu lagi. Kalau berangkat, saya biasa motong jalan lewat selasar balairung. Selama program ini, saya sengaja ga motong jalan, melainkan mengambil jalan melingkar yang lebih jauuuuuhhh… tujuannya, apalagi kalau bukan olahraga. Hihi, lumayan, dari kosan ke kantor bisa 25 menit jalan kaki, tiap hari, belum termasuk jalan kaki pas pulangnya :D

Alhamdulillaah, baru 3 hari, pas saya nimbang lagi, kok, udah turun ya 1,5kg? :D udahan ah dietnya. Haha, ini beneran bikin temen saya yang udah lama diet jadi sewot karena dia susah banget mau nurunin berat, sedangkan saya baru 3hari. Haha..

Tapi, udah mulai kebiasaan dan ngerasa enak dengan ga makan nasi. Jadi saya terusin. Bener loh kata orang-orang, perut lebih enak kalau ga makan nasi.

Banyak orang bilang, ‘Orang Indonesia mah belum makan namanya kalau belum makan nasi’. Padahal, nasi / beras kan bukan makanan asli Indonesia lho.. Kita impor bibitnya. Jadi ingat jaman kuliah Psikologi Lingkungan dulu. Makanan pokok asli Indonesia itu sagu, singkong, ubi, jagung. Sudah terberi, pengolahannya mudah dan biaya prosesnya jauuuuuhhh lebih murah daripada beras :D

*iseng

Tuesday, February 7, 2012

hikmah-1

1:38 PM 0 Comments
Bagaimanapun, *lhoh, tiba-tiba kok bagaimana*, di tengah kekalutan dan kegalauan serta kebingungan, aku bersyukur.

Tahukah engkau sahabatku,
Beliau baru saja menyatakan keseriusannya di hadapan keluargaku. Baru beliau sendiri, belum resmi membawa keluarganya.

Nah. Keluargaku langsung bergerak cepat mencari gedung melalui WO yang telah kami percayai. Tentang gedung. Budget. Tanggal. Budget lagi. Baru itu.

Sungguh kita semua telah tahu, sunnah kekasih kita saw. adalah mempercepat pernikahan setelah khitbah. Tapi apa daya ternyata gedung memiliki entahlah, semacam otoritas yang menentukan tanggal pernikahan kita.

Tidak keluar opsi untuk di rumah karena ternyata telah disepakati beliau juga, agar tidak mengurangi hak pemakai jalan *rumahku di pinggir jalan ramai. Tapi tidak juga ada opsi memilih gedung yang lebih sederhana atau terjangkau. Yang terbaik, sebisa mungkin.

Bingung lagi bahkan ketika tanggal sudah tidak bermasalah meskipun jadi lamaaaaa sekali. Biasalah, budget. Tapi kayaknya sih orang tuaku menyanggupi saja untuk porsi lebih besar. Tapi tetap saja tak enak dengan pihak prianya kecuali disepakati nantinya. Ya, aku dikasih pr untuk menanyakan tentang itu pada ayah. Tunggu besok.

Beliau, entah ya, menanggapinya dengan ringan sekali. Menyatakan ini situasi menantang, yang insya Allah tentu akan kita hadapi lagi di masa yang akan datang. Akupun tenang. Lebih lapang. Alhamdulillah.

Lalu pagi.
Pr dari beliau juga untuk mulai menanyakan kakakku tentang rincian budget pernikahannya beberapa waktu lalu. Lalu kulaporkan padanya rinci, via e-mail. Terlihat berat. Lalu apa tanggapannya?

"Wow, informasi yang menarik" dengan emoticon " ^^ "

Lalu menelfon, membicarakan hal itu.

Subhanallaah, Alhamdulillaah, bersyukur sungguh aku dipertemukan dengannya. Dan tentu saja berterima kasih terlalu banyak padamu.. Tenang, sabaaaaaaaarrr, lapaaaaaang, dewasaaaaaa, dan, berwibawa sekali. Bocah-bocah dalam diriku terdiam, menyisakan ruang untuk diri dewasaku.

Bismillaah.

Wednesday, January 25, 2012

MYELIN, Mobilisasi Intangibles Menjadi Kekuatan Perubahan

8:30 AM 2 Comments
rhenald kasali

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Professional & Technical
Author:Prof. Rhenald Kasali; 2010
Baca buku ini bikin pengen ambil Magister Manajemen / Knowledge Management deh. Hehe.. Beliau salah satu orang paling inspiratif buat saya. Seru kali yaaa jadi mahasiswanya ^_^

Mendengar kata myelin, saya langsung ingat pelajaran biologi bagian susunan sel syaraf. Myelin adalah selaput/membran sel syaraf yang membantu meneruskan informasi. Semakin tebal myelin, semakin cepat dan efektif informasi diteruskan.

Inilah yang dimaksudkan Prof. Rhenald Kasali dalam menjelaskan efek latihan yang terus-menerus (deep practice) yang akan memperkuat muscle memory, memori otot kita, yang selama ini sering kita kesampingkan dari brain memory.

Mudahnya begini. Apabila kita hanya menyimpan informasi di otak berupa pengetahuan, teori-teori, ideal, dan sistem-sistem; ketika butuh, kita perlu ‘memanggil’ dulu informasi itu, baru otak mengolah kemudian mengeluarkan perintah pada organ-organ lain yang terkait untuk bergerak. *iya kalau organ dimaksud cepat responnya. Kalau tidak? :p

Akan lain halnya bila informasi-informasi itu telah tersebar merata di seluruh tubuh –sel syaraf. Saat dibutuhkan, tubuh bisa langsung merespon tanpa menunggu perintah dan kordinasi dari otak dan anggota tubuh lainnya. Tugas pun selesai dengan gemilang :D

Nah. Myelin, muscle memory itu perlu dilatih. Bagi atlet, mungkin latihannya dengan latihan fisik yang sesuai. Namun bagi organisasi atau perusahaan, myelin perlu ditebalkan dengan melatih aset intangibles-nya, yaitu aset-aset berharga yang tak kasat mata seperti nilai-nilai positif organisasi, budaya disiplin, brand image, relationship, budaya intrapreneurship, inovasi, integritas, rela berkorban, dsb.

Buku ini banyak membahas hasil riset yang dilakukan penulis pada perusahaan nasional yang telah berhasil menggunakan intangibles-nya sebagai jembatan kesuksesan mereka. Sebut saja WIKA (PT Wijaya Karya) dan Blue Bird yang telah menjadi angkutan kepercayaan masyarakat. Selain itu Prof. Rhenald juga mengangkat banyak contoh orang dan perusahaan yang telah sukses mengelola intangibles-nya dan berhasil; seperti Susan Boyle, nenek-nenek pemenang Britain Got Talent (idol-nya english), Se Ri Pak (atlet tenis kebanggaan KorSel), Merck, Bank Mandiri, Google, Cadbury, talenta-talenta sepak bola di Brazil, hingga budaya Batik kebanggaan negeri kita.

Banyak hal penting lain yang dibahas buku ini untuk meningkatkan kesuksesan organisasi, seperti Knowledge Management yang diawali dari budaya mencatat, membangun budaya intrapreneurship, hingga mobilisasi intangibles nasional. Sebenarnya ingin sekali saya buat ringkasan karena bahasannya sangat menarik, tapi kok sulit ya menjadikannya ringkas? Hhe.. bacalah. Ini bukan hanya untuk pelaku-pelaku usaha korporasi maupun entrepreneur pemula, tapi menurut saya juga bisa diimplementasikan di manapun bidang kerja anda. Bahkan bagi anda yang bekerja di bidang pendidikan atau boleh juga untuk peningkatan kualitas pribadi anda sendiri.

Buku bagus, 2 jempol d(^o^)b

Baca Juga: Kaderisasi - Missing Link

Sumber Gambar: https://www.goodreads.com/book/show/8524163-myelin

Tidak (Selalu Tidak) Baik Kalau Dipaksakan

8:23 AM 4 Comments
Waktu kecil, kalau saya sedang malas belajar, terkait dengan ke-Maha Mengetahui-nya Allah akan segala bahasa, saya pernah diajarkan sebuah doa, “Allaahumma paksain”. Ya Allah, paksakan kami untuk melakukannya. Hhe..

Tapi orang-orang sering sekali bilang, ‘sesuatu itu bila dipaksakan tidak akan baik hasilnya’.

Tapi sekarang-sekarang ini saya sedang memaksa diri untuk melakukan banyak hal. Alhamdulillah bisa kok. Meski dipaksa.

Jadi?

Mungkin maksudnya ‘tidak akan baik bila dipaksa’, adalah seseorang akan berhasil mencapai tujuannya bukan karena ada orang lain yang memaksanya berusaha. Mungkin orang lain bisa saja menjadi pemicu semangatnya, seperti para motivator dan inspirator atau significant others seperti orang tua atau sahabat. Tapi tetap saja semangat dari luar itu tidak akan cukup konsisten untuk membuatnya terus berusaha sampai berhasil.

Orang-orang lain itu mungkin berhasil membuatnya memaksa dirinya sendiri untuk berubah. Semacam pemicu dari luar. Namun tetap saja, dirinya sendiri yang memaksanya berubah. “…sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…” (QS: Ar-Ra’d: 11)

Jadi, jangan perlakukan diri sendiri dengan manja dan cengeng yah!
Kalau malas, PAKSA! \(^o^)/

*lagi bener*

Thursday, January 19, 2012

Rajin Belajar Malas Ujian

10:19 AM 8 Comments
Ujian itu hanya menurunkan self esteem

“Saya sudah ingin S2 nih. Kepingin banget belajar lagi. Tapi belum kepingin ujiannya.”

Beberapa waktu lalu saya berbincang dengan ukhti-ukhti di kampus. Sejurusan. Lalu ketika saya mengungkapkan hal di atas, mereka serempak sepakat, “Betul, betul, ujian-ujian itu hanya menurunkan self esteem!” Haha, ketemu orang-orang setipe.

Kami senang belajar dan menikmati kuliah-kuliah kami. Mendengarkan dosen, membaca buku, berdiskusi, dan melakukan penelitian. Kami bersyukur bisa kuliah di jurusan itu dan mendapatkan banyak ilmu menarik. Tapi ketika ujian tiba dan hasil-hasil tertera dalam daftar nilai, beberapa mengecewakan.

Ini contoh saja. Saya menyukai mata kuliah Psikologi Klinis. Tapi review nilai selama beberapa semester membuat saya malas menaruh perhatian lebih lagi untuk mata kuliah itu. Karena nilai saya ternyata banyak yang jelek di bidang itu. Soal-soal ujian itu kok ya susah-susah banget, menurunkan self esteem saya yang awalnya bersemangat dan menyukai bidang ilmu tersebut.

Uhm..bisa digetok nih kalau teman saya baca ini. Dan dibilang, “Belajar yang serius makanya!” hehehe..

Jadi ketika tak berapa lama setelah lulus sidang skripsi saya membaca novel Negeri 5 Menara, saya menyesaaaaaalll sekali baru baca. Menyesal telah melewati berbagai ujian selama kuliah tanpa semangat membara seperti kisah Alif dkk di pesantren modernnya.

Ah sebenarnya, apakah ada yang salah dengan sistem ujian? Mungkin saja, karena sistem sekolah kita pun masih banyak sekali kekurangannya.

Jadi ingat tentang sebuah ‘sekolah’ di Jawa sana. Namanya Qaryah Thayyibah (Q-Tha). Sekolah yang tidak mengekang dan memenjara murid-muridnya dengan mempelajari teori-teori yang ada dalam kurikulum, melainkan sekolah yang membebaskan. Apa bakat dan minat anak, ke sanalah mereka dikembangkan. Tidak ada paksaan harus belajar apa atau untuk ujian apa. Hasilnya, peserta didik di sana terampil sejak dini.

*nih tulisan jadi kemana-mana deh. Maaf ya

Kebaruan

8:20 AM 7 Comments
Ibu saya punya sahabat, yang tak lain adalah tetangga kami berjarak 4 rumah. Kalau tiba-tiba ibu saya ‘menghilang’, ya paling ke rumah sahabatnya itu. Sudah tetanggaan, banyak aktivitas bareng, masih juga mereka saling menelfon kalau di rumah. Gak bosen-bosen.

Jadi ingat kata Anis Matta. Sebenarnya wajar saja kalau suami dan istri mengalami kebosanan satu sama lain. Wajar, kalau, keduanya tidak mengalami penambahan kualitas dari hari ke hari. Segitu-gitu aja. Dan itu-itu aja.

Jangankan sahabat atau pasangan, makanan yang paling enak sekalipun akan membosankan kalau dimakan setiap hari kan?

Saya pernah bertanya pada ibu saya, “Mah, Bu (sebut saja) Bunga itu belajar terus ya orangnya?” mengingat tidak ada bosannya ibu saya berinteraksi dengan beliau. Ibu saya tidak menjawab pasti, namun beliau tampak mengiyakan saat membandingkan dengan kawannya yang lain, yang hampir setiap hari menelfon juga (ibuku g4oL cuuuy :D). Katanya, kawan yang lain itu membosankan. Pembicaraannya itu-itu saja. Meski awalnya ibuku merasa dapat banyak hikmah dari cerita-ceritanya, namun karena diulang-ulang terus, jadinya sudah hafal dan bosan. Hhe..

Lain halnya dengan sahabat ibu saya di awal cerita ini. Mereka tidak bosan-bosannya berinteraksi, mengobrol, jalan bareng, atau melakukan aktivitas apapun bersama. Bahan pembicaraan / informasi / ilmu yang mereka bagi tak ada habisnya.

Karena, mereka belajar setiap hari. Bertemu guru yang berbeda untuk ilmu yang berbeda-beda, berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda, membaca dan berlatih ilmu yang berbeda-beda; jadi ada banyak hal baru yang bisa mereka bagi. That’s it. Kebaruan.
Semangat belajar kawan… =)

Wednesday, January 18, 2012

99 Cahaya Di Langit Eropa

7:23 AM 7 Comments
hanum rais

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Travel
Author:Hanum Salsabiela Rais&Rangga Almahendra
Katanya ini novel, tapi menurutku bukan. “Hanya” catatan perjalanan. Perjalanan fisik, mental, dan spiritual tapinya. Canggih. Bahwa jalan-jalan bisa memberi makna yang sangat dalam pada keberimanan kita. Adalah Hanum Salsabiela Rais yang mendampingi suaminya menjalani program studi doktoral di Eropa, menemukan hidayah dan kecintaannya pada Islam yang jauh melekat dibanding sebelumnya.

Buku ini menyenangkan sekali buat saya:

Pertama, ini buku tentang traveling that I love it so much.

Kedua, buku ini tentang menjelajah Eropa where I wanna go there sometime (harusnya sih tahun ini, taappiii… :D). Buku ini menjabarkan fakta-fakta sejarah yang selama ini terkubur dari ekspos media Barat yang tidak objektif.

Ketiga, istimewanya buku ini adalah tentang Jejak Islam di Eropa. Saat peradaban emas umat manusia yang pernah ditorehkan di muka bumi terwujud beberapa ratus tahun yang lalu.

Orang Eropa begitu bangga akan sejarahnya. Saking bangganya, sedikit sekali dari mereka yang masih sudi mengakui bahwa Eropa abad pertengahan adalah zaman kegelapan Eropa yang telah mengalami ameliorasi. Tentang abad pertengahan atau zaman kegelapan Eropa sudah banyak di antara kita yang tahu (asumsi), jadi ya sudahlah yaa. Hehe..

Tahukah Anda bahwa pada awalnya, julukan “The City of Light” bukanlah sebutan untuk kota Paris yang terkenal sebagai kota paling cantik? Dan tahukah Anda bahwa di kain kerudung Bunda Maria (dalam lukisan Ugolino yang asli) tersulam kalimat Tauhid?

Dan, tahukah Anda bahwa Le Grande Mosquee de Paris (Masjid Agung Paris) pernah menyelamatkan banyak warga Yahudi dari kejaran tentara Nazi Jerman? Atau tentang bangunan-bangunan istimewa di Paris yang dibangun oleh Napoleon sengaja dibangun membentuk 1 garis lurus (Axe Historique) membelah kota Paris, ternyata lurus menghadap kiblat di Makkah?

Atau tahukah Anda, bahwa bunga tulip yang khas Belanda itu bukan bunga asli Belanda, melainkan berasal dari Turki?

Wina, Paris, Cordoba dan Granada, serta Istanbul di Turki. Nyata sekali jejak peradaban emas Islam di sana. Kini estafet itu berada di tangan kita. Kita bisa menjayakan Islam kembali di muka bumi dengan menjadi agen muslim yang baik. Yang menjadi rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya bagi sesama muslim. Yang dengannya berdakwah menyentuh dan menyucikan hati manusia.

Seperti para sahabat radhiyallahu 'anhuma yang melakukan ekspansi di bawah kekhalifahan Islam dahulu, berdakwah dengan tulus, ikhlas karena Allah bukan kekuasaan, memimpin dengan adil, dan melindungi warganya bahkan yang bukan muslim, yang menyerahkan perlindungannya pada pemerintahan Islam. Dengan cara itu justru banyak hati yang terpikat dengan hidayah, karena agen-agen Islam yang total mencerminkan agamanya.

Lagi lagi, perbaiki akhlaq kita. Dan jadilah agen-agen muslim yang baik :)

Depok, 17 Januari 2012

Baca Juga: Ruang-ruang Hati

Sumber Gambar: http://www.bukukita.com/Buku-Novel/Islam/146055-99-Cahaya-di-Langit-Eropa:-Perjalanan-Menapak-Jejak-Islam-di-Eropa.html

Dalam Dekapan Ukhuwah

7:15 AM 2 Comments
salim fillah

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Salim A. Fillah, 2010
Seperti karya Salim lainnya, buku ini sangat sarat dengan cerita dan referensi yang mendukung untuk menambah kenyamanan pembaca. Namun kali ini, saya tidak akan banyak menyarikan isi buku, supaya pada tertarik beli langsung *ngeles :D

Satu hal yang pasti ketika dan setelah membaca buku ini; saya jadi makin memaknai yang namanya persaudaraan dalam iman, ukhuwah Islamiyah. Jadi makin menyayangi saudara-saudari yang selama ini mengiringi langkah, di samping maupun di belahan benua yang lain. Dan saya semakin menyadari, bahwa saya sama sekali belum memberikan apapun pada mereka, yang tadi saya sebut, ‘saya sayangi’.

Yang jelas, selama ini saya masih senang memenangkan pendapat sendiri, atas nama kebenaran, meskipun mungkin agak mengenyampingkan perasaan orang lain. Atas ini saya mohon maaf sebanyak-banyaknya ya Saudara…

Penulis memang lahir dan tumbuh besar di Yogyakarta, daerah yang seperti Jawa Tengah pada umumnya, sangat mengutamakan kenyamanan hati orang lain. Meskipun beberapa kali saya menemukan yang berlebihan, sampai tidak berani menyatakan pendapat walaupun yakin pendapatnya benar.

Sedangkan saya, saya cenderung mengikuti karakter ayah yang dari Jawa Timur, yang cenderung tegas dan terbuka mengemukakan pendapat atau hal-hal yang menurut kami benar.

Tapi kurasa, kedua budaya itu memang ada baik dan kurang baiknya. Maka Islam menyempurnakannya. Tengah-tengah.

Bagaimana menyampaikan kebenaran dengan tetap memperhatikan kenyamanan hati saudara kita. (Ini PR saya dari dulu; suka judes. Hhe)

Yang penting, jangan ada sakit di hati orang-orang yang sebenarnya ingin kita ajak pada kebaikan.

Yang penting, seberapapun kita berbeda watak dan karakter, kemuliaan akhlaq muslim haruslah jadi acuan utama.

Perbaiki akhlaq, Nona. Karena sesungguhnya Rasulmu Muhammad saw diutus untuk menyempurnakan akhlaq. Dan kau mengaku-aku pengikutnya.

Bismillah. Mohon maaf kalau saya banyak salah.. mohon maaf dan mohon ingatkan juga kalau suatu hari di depan saya berbuat kesalahan yang sama juga.

Baca Juga: Suami-suami Jauh dari Istri

Sumber Gambar: http://www.tokobukuikhwan.com/2015/01/buku-dalam-dekapan-ukhuwah.html

Monday, January 2, 2012

Roseto, Penyakit Jantung, dan SIlaturrahim

11:06 AM 4 Comments
malcolm gladwell

Roseto, adalah sebuah kota di Pennsylvania yang namanya diambil dari desa asal penduduknya yang berimigrasi ke Amerika Serikat, dari Italia, sekitar tahun 1882. Kota ini mandiri. Pertanian, perkebunan, dan industri-industri yang mendukung kehidupan mereka didirikan.

Seorang dokter mengungkapkan bahwa dalam 17 tahun karirnya di kota itu, ia jarang sekali menemukan penduduk kota itu yang berusia di bawah 65 tahun yang mengidap penyakit jantung. Fakta ini sangat mengejutkan rekannya sesama dokter, mengingat penyakit jantung dan kolesterol saat itu (pun saat ini) menjadi pembunuh nomor 1 di dunia.

Rekan dokter tersebut membuat sebuah penelitian untuk mengungkap hal tersebut. Dari seluruh penduduk Roseta, sampel darah yang diambil nyaris seluruhnya sehat. Penelitian yang juga melibatkan sosiolog ini juga memperlihatkan fakta bahwa mereka sama sekali tidak melakukan diet, bahkan pola makannya penuh gula, lemak, dan kolesterol. Sebagai gambaran, sebanyak 41% sumber kalori mereka adalah lemak. Mereka memasak dengan lemak babi, membuat pizza yang penuh kolesterol, manisan sebagai camilan setiap hari, sebagiannya perokok berat, sebagian lain mengalami masalah obesitas yang serius. Tidak juga ada kekebalan gen terhadap penyakit. Tidak juga mereka rajin berolah raga.

Dalam kebuntuan, para peneliti ini bersantai dengan berjalan-jalan di kota itu. Aaah, ada sesuatu yang berbeda ternyata. Penduduk Roseto mempunyai kebiasaan saling berkunjung ke tetangga, menyapa dan berbincang-bincang, memasak untuk tetangga mereka, tinggal beberapa generasi di bawah 1 atap, dan mereka menunjukkan sikap sangat hormat kepada orang tua dan kakek nenek. Kesehatan komunitas. Ternyata ini. (Outliers, Rahasia di Balik Sukses, Malcolm Gladwell, 2009)

Menarik. Apalagi ketika saya menemukan ulasan lain. Atau kalau masih bingung, sabar ya, cekidot ;)

Adalah seorang dokter spesialis jantung, yang menemukan fakta bahwa daya tahan terhadap serangan jantung ternyata tidak berhubungan langsung dengan pola makan, gaya hidup, bahkan tekanan yang dialami seseorang dalam kehidupan bermasyarakat.

Justru, orang-orang yang lebih lemah daya tahan jantungnya adalah mereka yang tinggal menyendiri dengan tenteram, mapan, dan nyaris tanpa masalah hidup.

Melalui penelitian rekam detak jantungnya, sang dokter menemukan orang-orang yang aktif dan banyak terhubung dengan sesama manusia dalam sehari mengalami berbagai emosi yang variatif; tertawa, bersemangat, optimis, kecewa, takut, tegang, dan bersedih, juga marah, semuanya sangat emosional, yang disebabkan oleh hubungan sosial bersama keluarga, teman, dan masyarakatnya.

Jantung mereka bekerja lebih keras setiap hari, tapi ternyata itulah yang membuat mereka mempunyai daya tahan jantung yang kuat. Jantung mereka senantiasa ‘berolahraga’ sehingga menjadi kuat dan terlatih. Orang-orang ini tidak perlu khawatir akan terkena serangan jantung suatu hari nanti. Jantung mereka sangat-sangat sehat.

Jadi, untuk meningkatkan daya tahan jantung kita, perbanyaklah hubungan dengan orang lain, rasakan getar-getar emosi bersama mereka, lakukan hal yang variatif dan berbeda dalam hidup, demikian saran sang dokter. (Dalam Dekapan Ukhuwah, Salim A. FIllah, 2010)

Jadi, benar ya sabda Rasul saw., bahwa silaturrahim selain meluaskan rizki, juga memanjangkan umur. Secara eksplisit bahkan. Subhanallaah.

*Allaahumma shalli 'alaa Muhammad

Baca Juga: Myelin; Mobilisasi Intangibles Menjadi Kekuatan Perubahan

Sumber Gambar: http://putrichairina.com/2009/07/23/outliers-rahasia-di-balik-sukses-oleh-malcolm-gladwell/

Thursday, December 29, 2011

Bank Kaum Miskin; Kisah Yunus dan Grameen Bank Memerangi Kemiskinan

7:28 AM 0 Comments
Sumber: https://kertawirama.wordpress.com/2010/02/12/muhammad-yunus-inspirasi-membela-kaum-miskin/

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Business & Investing
Author:Muhammad Yunus
Bank Kaum Miskin; Kisah Yunus dan Grameen Bank Memerangi Kemiskinan
Muhammad Yunus, 2008 (Cetakan ke-4)

Dibeli karena butuh kembalian untuk ongkos pulang, di toko buku (setengah bekas) dekat stasiun Pondok Cina, Depok. Buku ini seolah menyeimbangkan pikiran saya yang mulai kapitalis setelah baca dan terinspirasi buku Rich Dad Poor Dad sebelumnya. Hoho.. kedua buku ini klop banget saling melengkapinya.

Pernah tau tentang Grameen Bank dan Profesor Muhammad Yunus di Bangladesh? Bank yang memberikan kredit kepada kaum miskin, terutama perempuan, tanpa agunan apapun, namun dengan tingkat pengembalian hingga 98%. Dan itu sungguh membantu meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Bandingkan dengan orang-orang kaya yang lebih dipercaya oleh banyak bank dapat mengembalikan pinjaman besarnya, namun malah membawa kabur uangnya ke luar negeri -_-‘

Buku ini mengulasnya dari awal sekali, sejak Pakistan masih satu negara dengan India, lalu merdeka, lalu Bangladesh yang memerdekakan diri dari Pakistan, bagaimana awalnya kredit mikro untuk kaum paling miskin ini berjalan, bagaimana ditentang oleh adat, pemerintah, hingga dunia, bagaimana bertahan, hingga kini telah lebih dari 30 tahun meluas ke banyak negara dan banyak bidang, menguat.

Kepekaan sosial dan panggilan jiwa untuk membantu sesama menjadi dasar dalam perang kemiskinan yang membuat Prof. Yunus mendirikan Grameen Bank. Bahwa ilmu seharusnya dapat dimanfaatkan secara praktis untuk membangun kehidupan manusia. Beliau meyakini sifat dasar manusia yang baik (terutama jujur, amanah, pekerja keras, dan kreatif), dalam hal ini dalam mengembalikan pinjaman. Bahwa orang miskin tidak melulu karena mereka tidak mau usaha . Tidak selalu juga karena tidak punya keterampilan untuk mencari nafkah. Seringkali, yang mutlak mereka butuhkan hanya modal. Prof Yunus pertama sekali menemukan 42 keluarga berada di bawah garis kemiskinan, hanya karena tidak adanya uang sebesar USD 27 (bukan perkeluarga, melainkan USD27 untuk 42 keluarga) saja. ckckckckck...

Lalu mengapa perempuan? Prof Yunus menemukan bahwa perempuan, kalau punya uang, pasti akan mendahulukan kepentingan anak-anaknya, setelah itu baru kebutuhan rumah tangganya, setelah itu lagi, kalau masih ada, baru untuk dirinya sendiri. Ini sungguh bermakna besar dalam mengentaskan kemiskinan. Kaum miskin, terutama perempuan, selalu membayar pinjamannya dengan disiplin (hal yang sangat tidak diduga sebelumnya). Hal ini dikarenakan mereka tidak ada pilihan untuk tidak jujur. Mereka tidak mau ambil resiko untuk mangkir, dan, mungkin, jadi ‘buronan’ karena tidak bayar hutang.

Dari kisah Grameen ini saya juga menemukan insight (hikmah) tentang kemandirian dan kebulatan tekad untuk mencapai tujuan dan mempelajari bidang-bidang baru. Seorang profesor ekonomi dan beberapa mahasiswa fakultas ekonomi memulai kerja mereka dari bidang pertanian, lalu perikanan, kemudian tekstil, teknologi komunikasi, kesehatan, hingga bahkan kini, sekuritas; tanpa memahami apapun tentang bidang-bidang tersebut sebelumnya. Nothing is impossible, guys! Yang juga penting, bahwa bisnis yang bertujuan sosial ternyata benar-benar bisa berjalan. Yang kita perlukan adalah mendorong tumbuhnya para usahawan sosial dan investor sosial.

Grameen Bank juga mendidik anggotanya untuk resilien; untuk mampu bangkit kembali setelah terpuruk, dalam hal ini karena bencana alam besar yang sering melanda Bangladesh. Sebagai gambaran, dalam setahun Bangladesh bisa ditimpa 4 kali bencana alam. Mereka tidak depresi, melainkan bangkit dan memulai lagi segalanya. Resiliensi yang hebat.

Terakhir, seperti kata rasul saw, ‘khairunnaas, anfa-uhum linnaas’.. sebaik-baik manusia, adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya =)

Semangat berbuat!

Dalam rangka memaksa diri,
Depok, 29 Desember 2011

Baca Juga: Agar Bisa Melapangkan Hati; Harus Pintar-pintar Memilih

Rich Dad Poor Dad

7:12 AM 0 Comments

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Business & Investing
Author:Robert T. Kiyosaki
Rich Dad Poor Dad, Robert T. Kiyosaki, 2011 (Cetakan ke-27)

Pertama kali mendengar dan tertarik membaca buku ini ketika saya kelas 3 SMA, dipromosikan oleh tutor NF saya. Katanya bagus banget. Tapi baru saya temukan sendiri, beli, dan baca, baru sekarang-sekarang ini, sekitar 6 tahun kemudian. Hehe.

Buku ini tentang uang. Tentang apa yang diajarkan orang tua yang kaya kepada anaknya –tentang uang—yang tidak diajarkan oleh orang miskin dan kelas menengah pada anak mereka.

Kebanyakan orang tua (yang tidak kaya) menyuruh anaknya untuk rajin belajar, menjadi yang terpintar di kelas, masuk ke sekolah lanjutan favorit, universitas ternama, agar kelak mendapat pekerjaan yang baik dan menjamin hidup mereka kelak. Pertanyaannya, apakah dengan penghasilan besar seseorang lantas menjadi kaya? Kenyataannya tidak selalu. Saya pribadi menemukan orang-orang yang gajinya besar, tapi yang dinikmatinya tak seberapa, karena habis untuk membayar hutang dan cicilan-cicilan. Mengapa banyak orang yang bekerja keras, tapi tetap saja banyak hutang? Lalu mengapa orang kaya mudah sekali untuk melipatgandakan kekayaan mereka?

Beberapa hal yang bisa disarikan dari buku ini (sekaligus poin-poin yang bisa menarik rasa penasaran, hhe) diantaranya sebagai berikut:

- Orang kaya tidak bekerja untuk uang; uangnya bekerja untuk mereka.
- Orang kaya menambah aset, bukan liabilitas (kewajiban, seperti hutang dan sebagainya). Di sini pentingnya memahami pelajaran akuntansi.
- Orang kaya melek, memiliki kecerdasan finansial, sadar akan apa yang sedang terjadi di dunia, pandai melihat peluang, dan sadar hukum.
- Orang kaya berani mengambil resiko, terutama dalam berinvestasi.
- Orang kaya mengajarkan bisnis sedini mungkin pada anak-anaknya.

Setelah membaca buku ini, saya langsung heboh berkonsultasi dengan kawan yang telah lebih dulu melek finansial dan memulai berinvestasi (gaji kami tidak jauh beda tapi dia sudah punya beberapa reksa dana. Huhu.. ). Lalu konsultasi pada teman yang seorang financial planner, dan bertanya-tanya tentang bisnis kawan yang sedang berkembang, apakah butuh sedikit tambahan modal. Hehe. Tapi karena satu dan lain hal, saya memutuskan belum melakukannya sekarang. *duh.dasar. masih kelas menengah banget. Haha..

Ah ya, saya jadi ingat kata ayah dan kakak saya, orang-orang mah kalau mau sesuatu tapi ga punya uang, cicil. Di keluarga saya, kalau mau sesuatu dan punya uang, beli. Kalau ga punya uang, cicing! *diem aja, hehehe..

NB: meski penting, buku ini cukup kapitalis. Untungnya saya mendapat penyeimbangnya di review setelah ini. Cekidot.

Dalam rangka memaksa diri,
Depok subuh hari,
29 Desember 2011

Baca Juga: Belajar Renang, Belajar Hidup

Sumber Gambar: http://www.arifahwulansari.com/2012/02/resume-buku-rich-dad-poor-dad.html

Tuesday, November 8, 2011

Lo Harus Tetap Pintar

7:15 AM 14 Comments
Kebanyakan fresh graduate mengeluh, ‘Ish, ngapain gw kuliah capek-capek, mahal-mahal, kalo kerjanya cuma disuruh fotokopi, ngefax, ngetik, ga berkembang banget’, hehe..

Satu setengah tahun sebelum saya lulus saya sudah mendengarnya. Setelah saya lulus saya merasakannya. Setahun setelahnya saya masih mendengar curhatan yang sama dari adik kelas.

Ya. Udah deh, anak baru ga usah banyak nuntut dan sok pinter, mungkin itu yang ada dipikiran para senior di dunia kerja. Itu takdir, kalau anda memilih jadi buruh (bukan pengusaha), terimalah, bersabarlah.

Mungkin 8 sampai 12 bulan pertama kerja masih begitu *meskipun itu terasa lama sekali. Sayapun begitu. Meski belum ada setahun kerja. Hoho.. dan saya juga mengeluh. Alhamdulillah saya punya sahabat yang sangat baik dan telah lebih berpengalaman. Suatu malam ketika saya memulai keluhan di whatsapp, dia sedang membaca buku (ini saja sudah menyindir buat saya, memang lagi males baca). Dia bilang,

‘Seperti apapun kerjaan lo Far, lo harus tetep pinter’

Jgerjgeeerr!! Ini kalimat sakti banget buat titik tolak saya. Walaupun saya juga ga ngerasa pinter sih.

Walaupun pekerjaan yang dihadapi sangat teknis, misalnya, kita bisa membuat sebuah sistem yang mungkin bisa menjadikannya lebih efisien, atau membuat strategi agar pekerjaan yang begitu-begitu saja jadi dinamis dan bisa berkembang. Lalu ajukan ke atasan. Soal ide kita dipakai atau tidak, tak masalah. Paling tidak otak kita tetap tajam. Begitu kata sahabat saya.

Juga, membuktikan bahwa kita memang terlalu bisa kalau hanya untuk sekedar fotokopi *eh. Dan, kita akan siap kapanpun ketajaman nalar kita diperlukan. Jadi ga perlu pemanasan lagi. Apalagi sampai mengalami penurunan kualitas diri karena ilmunya lapuk ga nambah-nambah.

Menurut yang pernah saya pelajari di psikologi faal, jalinan syaraf di otak akan saling menyambung bila kita mempelajari satu hal baru, yang akan mempercepat jalannya informasi. Semakin banyak kita belajar, semakin banyak pula yang tersambung. Itulah mengapa orang yang banyak baca dan belajar akan lebih mampu memberi jalan keluar dari suatu masalah a.k.a lebih pintar.

Sebaliknya, ‘jalur-jalur’ yang telah terbentuk itu, kalau tidak terpakai, mereka akan membusuk (decay). Sama saja dengan hilangnya informasi yang pernah kita kumpulkan. Alias lupa. Kalau semakin banyak yang tidak terpakai, semakin banyak yang membusuk, ujung-ujungnya lebih mudah pikun.

Buat strategi. Pertahankan semangat membaca dan belajar! Cari waktu luang, atau paksa diri meluangkan waktu untuk itu. Karena seringkali yang menghambat kita untuk sukses adalah kemalasan kita sendiri. Ya, seringkali kita perlu memaksa diri.

Makasih banyak soob!! =)

Kaderisasi –Missing Link

7:09 AM 2 Comments
Missing Link

Pertama dengar istilah ini adalah ketika membahas tentang teori asal-usul manusia. Tentang itu ya sudah lah ya, sudah masuk dalam kurikulum, ga usah dibahas.

Ada ‘sesuatu’ yang hilang. Sesuatu yang menghubungkan 2 hal besar atau lebih. Sesuatu yang penting. Yang dapat menjembatani 2 fakta atau lebih. Yang dapat menjelaskan bagaimana atau mengapa ada C padahal awalnya hanya A. Sesuatu banget *eh*

Pada suatu siang pada jam istirahat setelah makan, sambil bawa sikat gigi dan pastanya, saya mencolek adik kelas yang datang untuk sebuah keperluan. Akhirnya kami mengobrol cukup panjang. Tentang ‘zaman’ kami. Zaman menjabat, hehe..

Adik ini bercerita utamanya tentang sebuah program kerja yang telah ada sejak 5 kepengurusan sebelumnya. Alhamdulillaah proker ini bisa dibilang sukses di zaman saya. Sang adik terlibat di zaman saya, setelah saya, dan zamannya sekarang. Di zaman setelah saya, sasaran proker ini diubah.

Dan diikuti oleh zamannya sekarang. Dengan berbagai prahara (lebay) yang dialaminya di zamannya, ia bercerita dan kebingungan. Ternyata proker tersebut mengalami banyak penurunan, menyedihkan. Harusnya kan lebih baik dari tahun ke tahun.

Nah. Kuceritakanlah dari awal sejarahnya kenapa proker itu diadakan 5 tahun yang lalu. Intinya bahwa organisasi yang baik perlu kaderisasi yang baik untuk melanjutkan kiprahnya.

Seolah ada bunyi ‘triiingg!!’ di kepalanya, matanya membulat dan, ‘aha!’. Dia berhasil menemukan missing link-nya. Kenapa dulu bisa begitu dan kenapa sekarang hanya begini. Karena alasan mendasar itu tidak tersampaikan dengan baik pada orang-orang yang meneruskannya.

Maka, saya menyimpulkan beberapa hal. Pertama, kaderisasi itu penting. Agar organisasi tetap bisa berjalan dengan baik meskipun orang-orangnya telah berganti. Kedua, harus ada transfer of knowledge yang memadai dan intensif antara pendahulu dengan penerusnya. Agar organisasi bisa mencapai tujuan jangka panjangnya, tidak melulu memulai dari awal setiap kepengurusan berganti.

Ketiga, penerus harus merasa perlu dan harus lebih proaktif meminta transfer ilmu dan pengalaman dari pendahulunya, karena di pundaknyalah amanah itu sekarang. Poin kedua dan ketiga itu sesuai dengan bahasan Knowledge Management di bukunya Prof. Rhenald Kasali (Myelin, 2010). Bagus banget. Baca deh =)

Baca Juga: Myelin, Mobilisasi Intangibles Menjadi Kekuatan Perubahan

Thursday, November 3, 2011

iseng, pemanasan

11:47 AM 3 Comments
Saya lagi jadi bendahara nih.

Memang lompat banget sih dari jurusan psikologi langsung berurusan dengan uang, uang, kuitansi, laporan keuangan, pajak, standar biaya, rancangan anggaran, sampe bolak-balik nelfonin temannya teman si bendahara kantor pajak, konsultasi dengan teman di bagian keuangan, bank… ah tapi sebelumnya sudah pernah juga sih bantu-bantu di kantor yang lama. Hehe..

But I love my job.

Hihihi, bahkan sampe lembur berhari-hari. Remuk sih badan, tapi senang :)

Setiap malam memang lelaaaaaahh sekali. Tapi setiap pagi berhasil berangkat kantor dengan semangat dan keceriaan baru. Alhamdulillaah…

*ini hanya pemanasan… karena akhir-akhir ini sedang banyak kehilangan ide untuk menulis karena ga langsung nulis. Ah ya! Tuh kan nemu lagi idenya. Alhamdulillaah… **apa deh gw

Monday, October 24, 2011

yang single minggiiiiiirrrr

8:19 AM 10 Comments
fyi, Meja makan di rumahku bundar, dengan hanya 4 bangku. Pas sekali untuk keluarga kecil kami; ayah, mamah, kakak, adek. Alhamdulillaah sekarang bertambah 1 kakak ipar. Akhir pekan mereka masih pulang ke rumah kami.

Ba’da subuh sabtu pagi,

Mamah sudah buatkan minuman untuk ayah. Kakak iparku pun telah membuatkan minuman untuk suaminya. Aku? Bikin aja buat sendiri deh *padahal biasanya ngga. Hehe, latah.

Meja makan kini penuh. Ayah, mamah, kakak, kakak.

Aku? Ngaji aja ah *yak, yang single minggiiirrr…

Sungguh ini bukan aku jealous atau merasa posisiku diambil oleh kakak ipar. Aku senang malah akhirnya punya kakak perempuan yang perhatian =) aku hanya menyabarkan diri, mudah-mudahan dengan segera yang tersingkir dari situ adalah aku dan kakak ipar, nimbrung dari bangku lain. Ayah, mamah, kakak, dan adik ipar kakakku. Hehe.. aamiin

Hari mulai terang. Ayah bersiap sepedahan. Mamah ke pasar. Kakak-kakakku mojok lagi ke atas.

Aku? Kali ini nyelak ah,

“Mau sepedahan ya Yah? Sama aku dong!”

:D *yaaak, yang single nemu celah lalu nyelak. Hehe..

*tulisan ga pentiiiiinnggg... hahaha

Thursday, October 13, 2011

Surat untuk Penggunjing

8:31 AM 3 Comments
Kalian menggunjing dan mencerca orang lain seolah kalian adalah manusia terbaik di muka bumi. Yang tidak punya kesalahan, sempurna tanpa kekurangan.

Hey, orang yang baik saja tidak suka bergunjing. Apa lagi orang yang terbaik. Mereka tidak sudi mengotori lisan-lisan mereka dengan itu.

Kalian tau, di mataku kalian tidak lebih baik dari dia yang kalian gunjing dan cercakan. Buatku, orang yang selalu tampak buruk di mata kalian itu, adalah justru lebih baik dari kalian. Untukku, justru kesalahan kalian lebih buruk dan lebih tidak bisa ditoleransi daripada kesalahan dan kekurangannya.

Sadarkah bahwa sangat mungkin kalian lebih hina dari dia, karena dia memakan yang halal, sedang kalian memakan yang haram—bangkai? Dan pahala-pahala yang pernah kalian kumpulkan, orang-orang yang ‘baik’, akan berkurang dan berpindah pada dia yang menurut kalian ‘tidak baik’?

Terima kasih, untuk membuatku tidak ingin ikut campur apa yang kalian gunjingkan. Terima kasih, untuk membuatku lebih hati-hati dari diri-diri kalian sendiri. Dan terima kasih, untuk membuatku bisa berpikir lebih objektif, tanpa mengikuti prasangka. Semoga Allah memberi hidayah-Nya padaku, padanya, dan pada kalian, untuk selalu memperbaiki diri.

Aamiin..


Tuesday, October 11, 2011

Jurnal Masak 1

10:38 AM 3 Comments
Pagi ini aku senaaaaang.. Alhamdulillah tercapai ngekos di kosan yang ada dapur dan fasilitas memasaknya. Masuk dari Ahad, 9 Oktober 2011. Pagi ini, Selasa 11 Oktober 2011, jam 6 setelah nyuci, aku belanja doooonngg.. haha, padahal cuma beli telur 4 butir dan tempe, 1000 rupiah saja. Kecil, tapi lumayan lah untuk sendiri mah.. hey, jangan bilang murah. Mamahku (dan aku) biasa beli tempe yang enak, 2000 gedeeee… Hari sebelumnya juga sudah beli minyak goreng, tepung bumbu, garam, kecap, dan modal beras bawa dari rumah :D

Hanya goreng tempe pakai tepung bumbu (yang udah jadi pula, hehe), aneh rasanya kalau hanya goreng 2-3 potong untuk sendiri. Biasa di rumah untuk berempat atau berlima, jadilah kugoreng 8 potong, lalu di mangkuk yang masih tersisa tepung bumbu, kukocok sebuah telur. Jaaadi deh! Telur dadar dengan bumbu enak yang gedeeee…padahal telurnya 1 doang. Banyakan tepungnya. Hihihi..

Alhamdulillaah dengan modal yang sedikit bisa sedikit ngisi perut temen kosan juga dengan ngemil tempe.. Hehe.. Uuhhm.. padahal ga ada spesialnya sih kalo dipikir-pikir. Toh masaknya biasa banget, di rumah juga biasa gitu. Bahkan menurutku ini belum layak dibilang ‘masak’.

Tapi paling tidak, the boss is me! itu sih intinya. Hahaha..

btwbtw, jangan bilang-bilang kalau aku ngekos lagi yaaaa! ^_^

Sunday, October 2, 2011

ff gombal- tak terhapus di mata

4:28 PM 12 Comments
Suatu sore ketika sedang membersihkan make up.

"Duh yang di mata ga bisa kehapus nih.. jangan-jangan waterproof"

"Apanya yang ga bisa kehapus di mata? Eye shadow? Eye liner?"

"Bayangan dirimu"

;p isseenngg.. dan berhasil buat ayahku nyengir. Hahay!

Saturday, October 1, 2011

ff- geer itu ngarep

4:49 PM 16 Comments
Pulang kantor, kamarku yg terletak di depan sudah penuh dengan bingkisan-bingkisan seserahan. Luthu-luthu dan bikin kepengen. Horreeeyy!!

'eh? Perasaan aku belum nerima pinangan siapapun deh', pikirku geer


'heh, punya gue!', tiba-tiba ada yang jawab di belakang. Si kakak. Hahaha..

Friday, September 30, 2011

tampan tiada tanding

9:30 AM 18 Comments
“Kamuuuuu…. Ini kan adek aku…” bela seorang anak laki-laki ketika teman-teman sebayanya protes lagi. Mereka protes karena mereka hanya ingin bermain dengan anak laki-laki itu, bebas tanpa harus dikintilin adik perempuannya yang cengeng. Tapi begitulah, anak laki-laki itu selalu membawa serta adiknya bermain bersama teman-temannya.

Bahkan, ketika bermain mobil-mobilan atau tembak-tembakan, ia turut mengajak serta adiknya. Sayang sekali. Suatu saat laki-laki kecil itu pernah menggubah lagu dengan polos dan sengajanya,

‘aku punya adik pesek, kuberi nama Farah. Dia suka bermain-main, sambil berlari-lari. Farah! Guk guk guk, kemari, gukgukguk, ayo lari-lari..’ -____-‘’

Sekelumit kisah lucu yang memorinya selalu membuatku tersenyum. Dan sebentar lagi ia akan menggenapkan setengah din-nya. Ahh..aku tidak bisa berkata-kata dan banyak cerita. Tak terasa yaa cepat sekali waktu berlalu.

24 tahun aku membersamaimu, menjadi adik kecil yang lucu tapi juga nyolot, yang suka malas disuruh-suruh, yang lama banget bisanya waktu diajarin naik motor dan mobil, partner berantem, diskusi, juga adik setia yang menghabiskan makanan apa saja yang kau bawakan. Hihi… Sama siapa lagi aku berantem nih?

Sebentar lagi rumah sepi deh.

Mungkin aku akan merindukan keisengan, kesayangan, daaaaaannn…tentunya, kelitikanmu, kak.. yang tak pernah luput setiap kau melewatiku. *berkaca-kaca

Tadinya sebel, tapi sebuah penelitian sederhanaku tentang itu membuat aku rela jadi korban.. ternyata itu bentuk sayang dan perhatian buat aku.

Huhu,, semoga bahagia selalu, dunia dan akhiratmu, bersama kakak iparku ya, abangku yang tampan tiada tanding.

Happy Wedding! Barakallaahu lakuma, wa baraka ‘alaykuma, wa jama’a baynakumaa fii khaiir… aamiin



nb: judul diambil dari status ym seseorang

Thursday, September 29, 2011

Ini Tentang Fungsi, dan (Sedikit) Estetika

10:23 AM 5 Comments
Alkisah, jam tangan saya rusak. Butuh waktu agak lama untuk memperbaikinya, sedangkan saya selalu butuh yang namanya jam tangan, terlebih waktu itu saya masih setia jadi anker *anak kereta. Jadilah sepulang kerja, malam itu saya sengaja turun di stasiun Kranji, untuk beli jam tangan m*nol. Yang penting ada dulu deh, pikir saya waktu itu.

Berdasarkan informasi yang saya dapat, jam m*nol yang bagus itu yang lubangnya ada 11. Di kios pertama ada yang harganya murah (banget), tapi lubangnya hanya 8. Dan memang terlihat asli, murahnya. Hehe.. di kios berikutnya yang lebih besar, akhirnya saya mendapatkan jam tangan m*nol yang berlubang 11, penampilan lumayan, warna saya suka, harga, 20.000 rupiah saja ^^v

“Garansi gak nih Bang?” tanya saya iseng. Udah beli jam 20ribu aja nanya garansi segala.

“Garansi, seminggu,” jawab si abang. Eh.. kaaannn untung nanya :p


Baru saya pakai beberapa detik, eh jamnya mati. Baterenya habis. Haha, jadilah saya dapet jam 20ribu dengan batere baru *baterenya aja udah 10ribu sendiri kali, harganya. Apalagi setelah lebih dari setengah tahun kemudian, jam itu masih berfungsi dengan sangat baik. Alhamdulillaah yaa ^^

Suatu hari, enam bulan berselang, saya sedang menemani teman belanja di mal. Saya sempat tertarik dengan jam tangan ‘beneran’ yang bagus dan modelnya imut buanget. Harga di atas 140rb, ada juga yang 200ribuan. Melingkarkan jam imut itu di tangan saya, aih, bagusnyaaaa… ‘beli ah, beli ah, beli ah,’ pikir saya.

Eehh.. ga sengaja, baju yang menutup tangan saya tersingkap dan memperlihatkan si m*nol setia. Tak perlu 5 detik untuk memutuskan, “Ah, yang 20ribu aja masih jalan” Gak jadi beliiii….!! Dan aku puaaaaaass!! Haha..

Udah, mu cerita doang :D

Eh belum ding.

Tau gak kawan, saya tidak menyesal karena tak jadi memiliki jam tangan bagus itu. Sebaliknya, saya malah puasss sekali karena telah berhasil mengalahkan nafsu saya untuk jam itu. Mungkin saya ingin, tapi tidak butuh. Toh model jam m*nol juga bagus kok di tangan saya. Eh, maksud saya, saya kan butuhnya penunjuk waktu. Hehehehe…

Saturday, September 24, 2011

Selamatkan Masa Depan dengan Sentuhan

10:18 PM 15 Comments
Ini cerita lama, sudah sering saya ceritakan. Tapi saya belum cerita pada semua orang *yaiyyalahyaa..
Waktu kuliah semester 5, ada mata kuliah Psikologi Lintas Budaya (mantap ‘kali kan? :D). Saya lupa lagi bahas tentang apa, yang jelas tentang pengaruh ‘sentuhan’ di masa kecil terhadap agresivitas seseorang ketika ia dewasa. *kenapa akhir-akhir ini saya nulisnya tentang psikologi mulu ya?*
Pengaruhnya, anak-anak yang jarang atau tidak cukup mendapat sentuhan (kasih sayang), akan tumbuh menjadi orang yang lebih agresif. *agresif di sini lebih mengarah pada arti ‘menyerang’, akibat sulit mengendalikan emosi.
Hal kecil sekali ya? Hanya sentuhan. Tapi dengan cinta. Jadi hal besar deh :D
Dosen saya yang blasteran Madura-Jerman itu menemukan fenomena menyedihkan di panti asuhan. Dengan sekian banyak anak yang ditampung, petugas yang terbatas, honor kecil pula, hampir dapat dipastikan anak-anak di sana kekurangan ‘sentuhan’.
Idealnya ketika seorang ibu menyusui, ia mendekapkan anaknya pada degup jantungnya dan hangat tubuhnya, sambil menatap mata anaknya. Di sebuah panti asuhan yang dikunjungi ibu dosen itu, ada bayi-bayi berjejer dalam box masing-masing, meminum susu dari botol yang diikatkan ke atasnya (dengan tiang atau kayu atau ke langit-langit). Karena tenaga pengasuhnya tidak cukup memadai untuk memberikan susu satu-persatu. T_______T kasihaaaann…
Tak masalah datang tanpa bawa santunan (apalagi kami masih mahasiswa waktu itu), tidak harus juga dengan perencanaan matang untuk membuat acara atau sesuatu di sana. Cukup datang saja, lalu sentuh mereka dengan sayang, gendong kalau masih kecil, elus-elus, kalian sudah ‘berbuat’ sesuatu untuk masa depan mereka. Meski sedikit, setidaknya mereka pernah merasakan. Demikian saran ibu dosen.
Saya coba. Di panti asuhan yang tidak besar dekat rumah. Ketika datang, anak-anak sedang sekolah. Saya menemukan 4 atau 5 bayi di sana, sedang ‘mengantri’ dimandikan oleh pengasuhnya. Sang pengasuh datang membawa seorang bayi yang sudah mandi, meletakkannya di tempat tidurnya, lantas mengambil bayi lain untuk dimandikan juga.  Begitu. Tanpa ‘rasa’. Udah capek kali ya.. Saya ambil seorang bayi yang telah mandi itu, saya gendong. Ow, ow, tau apa yang saya rasakan?
Dekapan yang sangat erat.
Ya, dari bayi itu. Erat sekali, saya masih ingat. Seketika saya terharu. Saya ajak berkeliling sebentar, saya cium-cium *untung udah wangi :D*, lalu saya mau ambil bayi yang lain. Tapi bayi pertama yang saya gendong itu, seperti mencengkram, tidak mau melepas. Terharu lagi. Mau nangiiiiisssss rasanya…
Udah ah, segitu aja. Mudah-mudahan rekan-rekan bisa menyimpulkannya sendiri. Mari, bantu generasi penerus kita. Sering-sering main ke panti asuhan yuk! ^_^

Friday, September 23, 2011

cerita doa dan pak supir baik hati

2:00 PM 10 Comments
Memang ya, Allah itu Maha Pengabul Doa (Al-Mujiib).

Sebelum naik bis, kemarin pagi aku berdoa, “Ya Allah, semoga di bis aku berhak dapat duduk”. Tapi sampai tol aku sudah lebih siang daripada biasanya, beda 4-5menit. Hampir tidak mungkin aku dapat duduk. Apalagi melihat bisnya datang tepat sebelum belok masuk ke tol. Sudah terlihat dari jauh, sudah ada yang menduduki dashboard bis (pilihan duduk terakhir). Ah, sudahlah. Berdiri juga sudah biasa, tapi semoga ga di pintu berdirinya. Aamiin..

Naik bis, bener kan, berdiri. Alhamdulillah ga di pintu, bis tidak terlalu penuh. Tapi aku orang terakhir yang naik bis, paling keliatan sama supir. Hanya beberapa detik aku berdiri, eh dipanggil sama supirnya, disuruh duduk di bagian dashboard yang lain (yang awalnya kupikir itu tidak boleh diduduki karena akan mengganggu penglihatan supir ke spion). Alhamdulillaah yaa ^_^

Nyaman banget aku duduk, benar-benar terkabul doanya, padahal udah sempet ga ngarep lagi tuh.. padahal, hanya doa kecil saja, sekali saja.. bagaimana dengan doa yang terus diucap berulang kali? Pastilah, Allah tidak mungkin tidak mendengar doa kita, karena Allah Maha Mendengar.:)

Nah.. Tidak seperti biasanya, langsung macet begitu masuk tol. Lima menit kemudian, Pak Supir menoleh lagi ke mba-mba yang berdiri, memanggilnya untuk duduk. Dimana hayoo??

Di lantai depan bis, ia memberikan korannya hari ini sebagai alasnya.

Wihiiiy… alhamdulillaah yaa..
 ***

Sorenya ketika pulang kerja, aku orang terakhir yang dapat tempat duduk di bis dari jalan baru pasar rebo. Aku berdoa supaya tempat duduk itu memang ditakdirkan untukku. Aamiin..

Pemberhentian berikutnya, naik seorang ibu-ibu dengan bawaan ribet dan seorang mba-mba. Yah,, sudahlah.. Baru masukin hape mau ngasih duduk, eh ibu-ibunya udah ga ada. Ternyata udah disuruh duduk di atas koran sama supirnya. Mba-mba itu juga. Dan kutengok, ternyata supir yang tadi pagi!

Subhanallaah.. baik amat ya ntu supir..

Semoga keberkahan selalu menyertaimu, pak supir yang baik hati dan suka menolong ^_^ aamiin

Thursday, September 22, 2011

moving on

8:18 AM 13 Comments
Terlalu banyak ketidakpastian dalam hidup

tapi hidup tetap harus berjalan, kawan.

tetap ada plan a-b-c-d- untuk setiap kemungkinan, yang harus kita buat

tetap ada langkah-langkah yang harus kita usahakan

tetap ada hari dan peristiwa yang harus kita jelang

dan tetap akan ada asa sepanjang kita mengusahakan yg terbaik

karena hidup harus tetap berjalan

mau tidak-mau, suka tidak-suka,

dan karena hidup a k a n terus berjalan

*jangan bersedih yaa..

Tuesday, September 20, 2011

Learned Helplessness

10:12 AM 12 Comments
Kalo gak salah dulu aku pernah nulis tentang learned helplessness. Tapi lupa, beneran pernah atau ngga. *doh..

Keadaan tidak berdaya, pasrah, yang dipelajari, akhirnya menetap jadi sikap dan perilaku. Mungkin karena tak kunjung ada perubahan dari keadaan itu. Yang paling mungkin, adalah karena putus asa. Ya sudah lah ya, usaha gak-usaha miskin-miskin juga, misalnya.

Akhirnya menjamurlah banyak pengemis di kota. Bahkan sudah menjadi sebuah profesi. Mirisnya, yang mengemis itu kebanyakan masih mampu bekerja. Hhhmm.. sayang sekali. Memang rezeki itu sudah ditetapkan, pilihan kitalah mau bagaimana mendapatkannya, dengan cara terhormat atau hanya duduk menengadahkan tangan, merendahkan diri di hadapan manusia.

Nah. Kenapa saya tiba-tiba nulis tentang ini?

Jadi gini, kemarin waktu di angkot pulang kerja, ada seorang laki-laki muda, kumal, kira-kira seusia saya atau lebih muda sedikit. Sehat. Dia masuk ke angkot seperti pengamen, hanya saja, di tangannya kosong, tanpa alat untuk teman ‘bermusik’. Dia mengucap salam, memohon belas kasihan, lalu, ‘saya hanya bisa berdoa, agar anda semua mendapatkan rezeki yang banyak’, dan seterusnya. Saya pikir itu baru intro. Karena beberapa kali saya juga mendapati ‘pengamen’ yang tanpa alat, hanya bernyanyi sambil bertepuk-tepuk tangan. Itu udah minimal banget kayaknya. Memang tidak untuk dinikmati oleh penumpang, tapi minimal (banget), ada yang dilakukan.

O,ow.. Anak muda ini, benar-benar ‘hanya punya’ doa. Selepas kata-kata yang saya pikir ‘intro’ itu, dia langsung menengadahkan tangannya, langsung meminta-minta. Hhhhfff… mau jadi apa… T_______________T

Saya kaget loh. Nih orang kok, ya, bisa-bisanyaaa masih mau hidup tapi malasnya ampun-ampunan.. Gak malu liat rekan-rekan ciliknya di jalanan masih berusaha mengamen, melatih kekompakan, agar ketika meminta, ‘gak minta-minta banget’.

Saya jadi mikir.
Ini cermin loh.
Cermin mental sebagian rakyat kita.
Pendidikankah kurangnya? Pasti.

Padahal saya baru saja berpikir, dengan himbauan penggunaan bbm non-subsidi, pemerintah sudah mulai menggunakan paradigma baru, bahwa masyarakat kita sudah banyak yang terdidik dan memiliki kesadaran, terlepas dari sudah efektif atau belum, paling tidak sudah memulai.

Uhm.. mungkin ini kompleksnya punya rakyat banyak banget. Yang terdidik banyak, yang belum terdidik banyak juga.

Sekarang bisa apa kita?

ADHD

9:20 AM 8 Comments
Aku baru-baru masuk fakultas psikologi waktu ibunya (sepupu iparku) bertanya, “Itu Nabila autis apa gimana ya Dek?”

Aku belum dapat mata kuliah Psikologi Abnormal dll, jadi cuma bisa nyengir waktu dikasih pertanyaan itu. Yang jelas orang tuanya selalu kerepotan karena anaknya (sangat) tidak bisa diam dan sulit dikendalikan. Yang jelas pagar rumah harus selalu terkunci saat ia di rumah. Rentang perhatiannya pendek; ia bertanya tentang suatu benda, lalu pindah ke benda lain sebelum benda pertama selesai dijelaskan. Ia sangat sulit untuk fokus. Kalau mau fokus menonton tv misalnya, ia harus mendekatkan matanya ke layar kaca, sampai hampir menempel.

Ia juga sering membuat rumah berantakan, bahkan setelah dibereskan oleh, adiknya, yang alhamdulillaah, seolah paham dalam keluguannya, bahwa kakaknya berbeda. Adiknya sabaaaar sekali. Suaranya keras. Dan ia hampir selalu berteriak. Dokter tampaknya tidak menjelaskan dengan baik, tapi obatnya tetap mahal.

 Memasuki semester 3 dan mulai belajar psikologi perkembangan, dosenku sekilas menerangkan tentang gangguan-gangguan dalam perkembangan anak. Salah satunya ADHD. Attention Deficit & Hyperactive Disorder. Kurang bisa fokus dan hiperaktif. Yups. Dalam pertemuan keluarga berikutnya aku sudah bisa menjawab, “Bukan autis kok Kak, hanya ADHD, ” sambil kuringkas penjelasan dosen. Hehe.. Seiring waktu dan kesabaran orang tuanya, alhamdulillaah keponakanku itu mulai bisa diajak kompromi untuk diam, atau melakukan hal lain dengan lebih baik. Tidak teriak-teriak, dan tidak terlalu hiperaktif. Meski ia masih tampak berbeda, alhamdulillaah sudah jauh lebih adaptif.

Entah kenapa ya, aku merasa anak ini senang ‘menggelendot’ di lenganku. Menceritakan apa saja. Suatu waktu ia bilang mau menyetor hafalan An-Naba’-nya. Tidak selesai, karena di tengah malah nyambung ke surat lain yang mirip. Hihi.. Berikutnya melapor kalau ia mulai suka menulis diary.

Pertemuan berikutnya bilang ‘aku kangen deh sama Kakak, kok Kakak ga ke kampung sih kemarin?’. Hhmm… meski agak beda, cuma dia yang ekspresif tentang perasaan gini. *jadi enak. Selanjutnya bertanya nomor hp dan memiscall nomorku, minta di save. *fyi, baru saja naik kelas 6 anaknya, tapi mohon jangan bandingkan dengan kelas 6 –ku atau kamu dulu.

Waktu pertemuan keluarga besar di rumah terkait persiapan pernikahan kakakku, dia dan keponakan-keponakanku seumurnya yang lain, dan aku, berkumpul di kamarku. Dia bertanya, “Kakak, kakak kapan nikahnya?” Kujawab, doain aja yaaa.. Dia bilang iya. Ehh..nyeletuklah seorang sepupunya yang lebih kecil, “Ngga ah, aku ga mau doain..” Haha, bukan masalah, tinggal bilang, “Eh, ntar kalo aku udah punya suami kan THR-nya dobel”. ‘Aaaahh!! Iya iya aku doaiiinn…’ hahahaha… bocaaaahhh -____-‘’ *intermezzo yak*

Dia masih nempel waktu aku menambahkan nomornya ke kontak hp. Lalu kuketik namanya dengan sedikit pelesetan, nabilcuy. Dia kaget (dan membuatku kaget juga tapi tetep bisa ngeles), tapi sebelum dia protes, aku bilang, ‘ini panggilan sayang aku buat kamu’. Tau ga apa reaksinya? Dia langsung melonjak senang.

Ooh.. terlepas aku memang sering menambahkan panggilan nama teman dengan ‘cuy’, juga terlepas dari aku yang memang suka gombal, aku jadi makin sayang beneran sama anak ini.

                                                                                  Keluarga Besar, 19 September 2011

Tuesday, August 16, 2011

tentang foto

3:47 PM 12 Comments
Kita, manusia modern, sangat diuntungkan dengan adanya teknologi yang menghasilkan ‘foto’. Mulai dari hitam putih sampai foto profesional.
 Bahwa foto bisa mengabadikan sebuah suasana, bahkan yang kelak menyejarah. Awalnya seperti itu. Semakin ke sini, makin banyak orang yang narsis karena suka sekali mengambil foto dirinya. Sebenarnya untuk yang ini saya agak bingung. Padahal orangnya itu-tu aja, mukanya juga begitu-begitu saja, dan tidak dalam suasana khusus. Tapi dipotret sebegitu sering dan banyaknya. Ckckckck.. ah, bicara begini bukan berarti saya tidak pernah ya.. hehe..
 Nah. Akhir-akhir ini saya seriiiing sekali menemukan foto wajah yang tidak sesuai dengan aslinya. Kebanyakan sih, bagusan fotonya *ups. Terutama pas foto yang sering dipakai orang waktu melamar pekerjaan. Owh, mungkin sekarang semakin banyak editing dalam pencetakan foto. Maka dari foto, saya tidak bisa yakin dengan penampilan seseorang. Jangan langsung percaya!
 Uhm... kecuali sih. Kecuali foto seseorang yang diambil spontan (bukan dengan ekspresi tertentu yang diatur), dalam sebuah suasana, di mana foto tersebut tidak hanya berfokus pada seseorang, melainkan juga suasananya. Gampangnya, bukan foto diri.
 CMIIW

*kerjaan menjelang resign

Monday, July 11, 2011

Ini - Itu, Keterbatasan Kata Kita

10:17 AM 6 Comments
‘Kalau yang itu, sudah di-ini-in?’
Entah mungkin baru akhir-akhir ini aku menyadari tentang begitu banyaknya orang yang memakai kata ‘ini’ dan ‘itu’ untuk menggantikan sebuah kata yang dimaksudnya. Ininya, apa tuh namanya, diituin.. haha.. suka lucu dengernya.
Untuk pertanyaan seperti di atas, aku jawab saja, ‘iya, itunya sudah di-ini-in’. Kalau sudah begitu, baru deh lawan bicara saya sadar dan menertawakan pertanyaannya sendiri.
Dulu waktu masih kuliah semester 1 (inget banget masih diospek pake jaket kuning tiap hari), di mata kuliah filsafat umum kalau tidak salah, saya disadarkan oleh dosen saya. Waktu itu kami sedang berdiskusi di kelas. Ketika saya merasa kesulitan menemukan kata-kata yang pas untuk menjelaskan maksud saya, saya mengatakan, “Ya gitu deh...”. Dosen saya bertanya, “Gitu deh-nya tuh apa?”, saya nyengir dan kembali menjawab, “Ya gitu deh Mas”, lalu melanjutkan dalam hati, ‘Masak ga ngerti sih?’ Tapi dosen saya itu bertanya yang sama lagi, “Ya gitu deh tuh apa maksudnya?”. Baru deh saya mulai merangkai kembali kata-kata, dan merampungkan penjelasan dengan kata-kata yang seharusnya. Berhasil! :D
Kata senior saya, “Iya, karena persepsi orang belum tentu sama lho...” Saya, “Oooo....” Iya juga sih... padahal saya biasa menggunakan ‘Ya gitu deh’ kalau menjelaskan sejak dulu. Berpikir semua orang paham maksud saya sebelum saya jelaskan. *bagaimana bisa??!
Banyak yang beralasan, lawan bicara kita kan sudah paham maksud kita. Masa sih? Belum tentu lho. Walaupun kita berbicara konteks yang sama, bisa saja persepsi kita dengan lawan bicara kita berbeda.
Terang saja, latar belakang kita berbeda, pengalaman-pengalaman kita berbeda, buku-buku dan berita yang kita baca berbeda, sifat kita berbeda, dan cara pandang kita terhadap sesuatu juga berbeda-beda. Memakai asumsi lawan bicara kita paham, hhmm,,, ya,, mungkin bisa tepat, tapi sangat mungkin juga meleset. Karena, salah persepsi.
Kedua (mana pertamanya?), kebiasaan menyederhanakan kata-kata hanya dalam kata ‘ini’ dan kata ‘itu’, dapat membuat kosa kata yang kita miliki jadi berkurang keaktifannya lho karena jarang digunakan... Kalau ditambah dengan serbuan kosa kata asing dan bahasa gaul, bisa tambah parah lah...
*Semangat berbahasa yang benar!*

Friday, July 8, 2011

Kursi Lipat

2:24 PM 18 Comments
*Curhat anker (anak kereta)*

Bete deh sama para pengguna kursi lipat di KRL. Baik express (waktu masih ada), commuter, ekonomi...
Sungguh bikin sempit, karena jelas-jelas mengurangi space untuk penumpang yang berdiri. Menghalangi orang lewat juga. Ckckckck.. pernah di suatu pagi, saya naik KRL di gerbong khusus wanita. Tapi di samping dan belakang saya ada laki-laki, sekitar 7 orang jumlahnya. 
Wajar ketika petugas kereta mempersilahkan bapak-bapak itu masuk dulu ke gerbong wanita karena terbatasnya waktu, dengan asumsi seharusnya mereka bisa bergeser ke gerbong depan walaupun kereta sudah jalan dan pintu sudah tertutup. Tapi tidak. Mereka tetap di gerbong itu sampai perjalanan hampir usai karena tidak bisa lewat. Bukan karena terlalu penuh orangnya. Melainkan karena banyak sekali pengguna kursi lipat di situ.
Penggunanya, tidak semua sudah tua. Bahkan seumur dengan saya atau lebih muda dari saya, yang notabene masih kuat berdiri *pegal-pegal dikit gapapa lah, toh masih muda.
Selain itu, kalaupun penggunanya orang-orang yang telah berumur, ini kan menunjukkan betapa empati orang-orang di sini sudah sangat menipis. Tidak peduli ada orang tua di depannya, orang yang sakit sampai pucat, bahkan ibu hamil, masih ada juga yang membiarkannya berdiri sambil pura-pura tidur (kecuali kalau sudah ditegur petugas). Masalahnya sekarang jumlah ibu hamil yang naik kereta jauh lebih banyak dari bangku prioritas yang tersedia di setiap gerbong. Hhhff...
Seorang bumil pernah bercerita pada saya. Dia dibiarkan berdiri oleh bapak-bapak di depannya yang duduk. Dia hanya mengelus perutnya dan berbisik pada anaknya, “Kuat ya Dek”. Sampai akhirnya datang lah petugas memeriksa tiket. Mendapati ibu itu berdiri, ia menegur bapak-bapak tadi. Barulah si bapak mempersilahkan ibu itu duduk. Si ibu yang gengsi, bilang, “Ga papa, silahkan Bapak saja”, sambil meneruskan dalam hati, “mungkin Bapak yang pengapuran..”
Yang saya sayangkan pada ibu itu, ‘kenapa cuma dalam hati Buuuuu....?!’ -___________-‘’
Sebenarnya sudah dilarang, tapi untuk tingkat kesadaran yang masih sangat tidak merata, gambar larangan di dinding-dinding gerbong dan suara petugas dari speaker kereta, a tidak mempan. Bahkan semakin menjamur. 
Kesempatan sering mampir pada saya untuk turut menikmati kursi lipat itu. Berkali-kali disarankan untuk memakai saja kursi yang dibawa seseorang, karena orang itu sudah dapat duduk. Katanya, ‘sayang kalau ga dipake, udah dibawa’ =__=’’. Tadi pagi saja, sudah ada 2 orang yang menawarkannya pada saya. Alhamdulillah masih kuat dan sedang sehat untuk berdiri. Malu juga sama diri.
Ya Allaah.. semoga aku istiqamah.

Friday, July 1, 2011

Manusia... Suka Belibet... -_-‘

11:49 AM 10 Comments
Putri, “Ibund, pakai AC kan supaya dingin. Sudah dingin, kenapa mesti pakai selimut tebal lagi? Kenapa tidak dimatikan saja AC-nya?”
Ibund, nyengir...
Tibalah saatnya rezeki datang untuk Putri, kamarnya juga dipasang AC. Tak luput ia sertakan bed cover bunga-bunga, tebal dan hangat. Supaya tak dingin dipijak, sebagian lantai dilengkapinya dengan karpet bongkar-pasang warna-warni.
Ibund, “Puut, karpetmu tuh bikin repot deh (kalo lagi disapu/dipel). Ga usah pake karpet itu lah..”
Putri, “Kalau gak pake dingin, Ibund..”
Ibund, “Ya gak usah pake AC kalo gitu”
Putri, “..............................”, lalu seperti Ibundnya dulu, nyengir. :D
Sebenarnya Putri menemukan sebuah kenikmatan baru dari semua yang dia lakukan itu: Justru nikmatnya ada pada hangat dalam kedinginan sekitarnya.
Seperti kita, yang terlebih merasakan nikmatnya hembusan angin dalam kegerahan dan keringat.
Nikmatnya makan juga saat lapar, terlebih saat sangat lapar, daripada saat kita kenyang.
Pun baru merasakan nikmatnya kelapangan, setelah dilanda kesempitan.
Baru mensyukuri sehat, setelah merasakan sakit. *telaaaattt!
Seperti pelangi ya Putri, datangnya setelah hujan...
*Putri, “Tapi hujan dan pelangi sama-sama menyenangkan kok...”
Allah memang paling tau..
Makanya kita tidak boleh sok tau.. Apalagi sampai menyalahkan takdir Allah. Atau merutuki nasib.
Termasuk juga berputus asa. Tidak boleh!
“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Al-Baqarah: 216, lagi-lagi ayat ini... co cwiitt..

*Putri, “Dasar ya manusia, suka belibet deh.” >.<